Previous
KRIUK
"Hahaha..." Luhan ketawa keras karena mendengar perut suaminya berbunyi untuk diminta makan sedangkan Sehun menggaruk tengkuknya karena malu dengan perutnya yang berbunyi dengan nyaring
"Ayo makan, tapi sudah dingin" Luhan memakai bajunya setelah membersihkan dirinya dengan tissue yang tersedia diruangan tersebut dan begitu juga dengan Sehun yang memakai pakaiannya seperti biasanya setelah membersihkan sisa spermanya yang masih menempel dipenisnya
"Hm, kalau makanan dingin itu tidak masalah asal makan berdua denganmu"
"Mulai gombalnya lagi" Luhan mencibir namun apa yang dikatakan suaminya benar bahwa makanan apapun bisa dimakan tapi harus berdua
"Ayo Lu" Sehun dan Luhan dari kamar pribadinya dan mulai makan siang bersama walaupun jadwal makan siang sudah terlewatkan dan mereka gunakan untuk malam pertama yang tertunda namun mereka enjoy dan menikmati segalanya
..
..
..
#Sukinanda - #I-Love-You
..
..
..
Main Cast : HunHan
Other Cast : Bermunculan sesuai dengan cerita
..
..
..
Setelah makan siang bersama Luhan pulang kerumah mereka dan menyiapkan makan malam untuk sang suami, ya setelah kejadian tadi siang dirinya memang mengalami kesusahan berjalan dan itu wajar bagi seorang istri yang baru saja melakukan malam pertamanya namun hatinya merasa sangat semangat untuk melayani suaminya bukan hanya diatas ranjang tetapi dalam urusan rumah tangga.
Malam harinya Sehun datang dan langsung memasuki rumah mereka menuju dapur karena istrinya masih sibuk memasak sehingga tidak menyadari kedatangannya, melihat hal itu membuatnya langsung melingkarkan tangan diperut Luhan secara diam – diam.
"YAK!" Luhan menjerit karena terkejut seseorang memeluknya begitu saja dan cukup erat dari belakang
"Jangan berteriak Lu" Sehun bukannya melepaskan peluakannya justru semakin erat memeluk istrinya dan meletakkan dagunya diatas bahu Luhan hingga Luhan bisa merasakan nafas Sehun
Menyadari bahwa sang pelaku yang memeluknya secara tiba – tiba adalah Sehun membuat Luhan melanjutkan pekerjaanya untuk mengaduk supnya yang tinggal sedikit lagi sehingga mereka bisa makan bersama.
"Sehun, kau mandi dulu biar kita bisa makan malam" Luhan memberitahu Sehun walaupun cukup deg degan karena nafas Sehun menerpa lehernya
"Hm, baiklah" Sehun melepaskan pelukannya dan beranjak kekamar untuk mandi, sepuluh menit kemudian Sehun keluar dari kamar dengan keadaan segar dibaluti baju santai rumahan yang membuat Sehun semakin mempesona
"Ayo makan" Luhan mengambilkan nasi untuk suaminya yang porsinya lebih banyak daripada miliknya, walaupun ini bukan hal pertama kali dia lakukan pada Sehun namun rasanya hari ini adalah bagaikan hari pertama dirinya sah sebagai istri
"Hm, masakanmu sangat enak Lu" Sehun makan dengan lahap karena masakan Luhan sangat enak, dan bersyukur memiliki istri seperti Luhan yang selalu bisa memanjakan perutnya dengan makanan sehat namun lezat
"Makannya hati – hati, awas tersedak" Luhan cukup takut jika Sehunnya tersedak karena makan dengan lahap bagaikan belum makan selama sebulan
Luhan melanjutkan makan malamnya bersama Sehun hingga mereka selesai makan malam dan pindah keruang tamu untuk menonton bersama, posisi Luhan saat ini adalah tiduran dipaha sang suami yang sibuk memperhatikan televisi yang sedang menyiarkan berita terbaru.
"Sehun, ada yang ingin kusampaikan padamu" Luhan merasa ini adalah waktu yang bisa digunakannya untuk berbicara santai dengan Sehun ya walaupun yang ingin disampaikannya tidak bisa diterima banyakan orang dengan santai
"Apa Lu?" Sehun mengalihkan perhatiannya dari televisi dan menatap Luhan yang memandangnya dengan tatapan takut dan merasa bersalah
"Nghh... Aku bingung menjelaskannya dari mana" Luhan memang tidak tahu harus memulainya dari mana untuk berbicara tetapi hal ini sangat penting untuknya dan sang suami menyangkut masa depan pernikahan mereka
"Katakan saja, kau tidak perlu takut atau grogi begitu" Sehun mengelus kepala Luhan agar memberikan kekuatan sedikit sehingga tidak ketakutan padanya saat berbicara
"Aku merasa sebaiknya kita tidak usah dulu memiliki anak Sehun"
Sehun menghentikan elusan yang dia berikan dikepala Luhan karena terkejut dengan apa yang dikatakan Luhan, dirinya tidak marah namun masih terkejut dan butuh penjelasan yang tepat agar semuanya tidak bingung seperti ini. Melihat Sehun yang terdiam dan menampilkan ekspresi tidak bersahabat membuat Luhan ketakutan dan langsung bangun dari pangkuan Sehun dan menggengam tangan Sehun dengan takut.
"Aku bukan tidak berniat memiliki anak darimu atau spermamu Sehun, tapi kurasa ini terlalu cepat untuk memiliki anak. Kita baru saja merasakan kebahagiaan hari ini karena aku sudah mencintaimu sepenuh hati dan menerimamu dengan sepenuh hati, aku ingin kita mengambil setahun untuk bersama tanpa anak dulu karena kita tidak ada masa pacaran layaknya orang lain. Kumohon mengerti lahh, jika masalah anak nanti setelah setahun aku siap memberikan anak padamu sebanyak yang kau mau"
Sehun mendengar semua penjelasan Luhan, dan dirinya tersadar bahwa apa yang dikatakan istrinya benar. Mereka mengalami masa sulit yang cukup berkepanjangan dan tadi merupakan moment bahagianya bersama sang istri walaupun mereka sudah menikah beberapa hari yang lalu, dirinya juga ingin bermanja – manjaan dengan sang istri tanpa anak layaknya pacaran.
"Hm, aku mengerti. Aku juga masih ingin bermanja – manjaan padamu" Sehun membawa Luhan kedalam pelukannya dan mencium kening Luhan karena dirinya setuju dengan permintaan Luhan
"Kau tidak marah?" Luhan bertanya karena banyakan suami akan langsung menghajar istrinya karena mendengar hal seperti yang baru saja diucapkannya
"Tentu saja tidak, aku harus menangung semuanya Lu"
"Hei, sudah tidak perlu diungkit masa lalu kita yang kelam" Luhan membingkai rahang Sehun dengan tangannya karena tidak ingin sang suami terluka dengan mengingat masa lalu mereka
"Aku tidak akan sedih karena itu Lu, karena yang sekarang sudah berubah dan kau sudah mencintaiku dengan sepenuh hatimu dan itu membuatku sangat senang" Sehun mencium bibir Luhan berulang – ulang sebagai rasa terima kasihnya karena sudah mencintainya dengan tulus
"Hm, kalau urusan anak nanti kuserahkan padamu sebagai sang Appa untuk menentukannya" Luhan senang karena suaminya juga setuju dengan permintaannya, wajar saja dirinya juga ingin dimanjakan oleh kekasihnya tetapi sekarang berubah menjadi sang suami
"Bagaimana kalau aku meminta enam belas anak darimu?" tanya Sehun dengan menggoda istrinya, mendengar hal itu membuat Luhan melebarkan bola matanya dan memukul dada Sehun cukup keras
"Kau gila, kau kira aku kucing apa" Luhan berusaha untuk lepas dari pelukan suaminya namun usahanya sia – sia karena badan Sehun sangat besar dan berotot
"Hahaha... Iya – iya, aku cuma bercanda Lu"
"Tidak lucu" Luhan mencebikkan bibirnya karena kesal digoda seperti itu
Setelah itu mereka beranjak kedalam kamar untuk tidur bersama, malam ini Luhan ingin habiskan degan memeluk suaminya yang tercinta dan jika urusan ranjang bisa dilakukan besok – besoknya dan kalau perlu mereka melakukannya didalam kamar pribadi Sehun dikantor seperti tadi siang.
..
..
..
Siang harinya Luhan kembali memasuki Oh Corporation untuk makan bersama sang suami setelah diantar oleh supir pribadi suaminya yang selalu on time menjemputnya dan itu adalah rekomendasinya pada sang suami agar membawakan makan siang dari rumah, dirinya sudah memasak banyak karena kebiasan suaminya adalah makan banyak dan tidak peduli dengan situasi dimana dirinya makan.
CLECK
Luhan mematung didepan pintu ruangan suaminya melihat sang suami
"Kenapa kau memecatnya? Apa kau tahu bahwa mencari seketaris sangat susah untuk dipercaya" suara Jin terdengar marah dan dingin sambil menatap sang adik yang memasang wajah malas karena dirinya tidak ingin mencari ribut dengan sang Hyung
"..."
"Kenapa kau hanya diam Sehun, apa kau sudah bisu?"
"Jin Oppa, jangan marahi Sehun. Aku yang memecat seketarisnya bukan Sehun"
Luhan masuk kedalam ruangan Sehun dengan perasaan bersalah karena dirinya sang suami menjadi korban kemarahan sang Hyung suaminya. Setelah meletakkan rantangnya ditempat biasa, Luhan mendekati Sehun dan merentangkan kedua tangannya seolah melindungi Sehun jika Jin ingin memukulnya.
"Kenapa kau memecatnya Lu?" Jin bertanya dengan nada biasa dan sangat berbeda ketika berbicara dengan Sehun yang terkesan dingin dan menakutkan
"Aku tidak suka melihatnya Oppa, bayangkan saja seorang seketaris menggoda atasannya. Apakah ini perusahaan untuk bekerja atau sebagai tempat pelacur dimana mereka menggoda lawan jenisnya"
Luhan menjawab dengan lantang karena menurutnya tindakan yang dilakukannya sangat tepat, dan jika dibiarkan maka akan banyak orang seperti Hyomin yang kerja denga baju ketat serta melakukan hal tidak terpuji untuk menggoda atasannya dan untung saja suaminya tidak mudah terangsang dengan hal begituan.
Jin dan Sehun jelas terkejut mendengar nada marah Luhan yang tidak suka dengan seketaris Sehun yang bernama Hyomin, ya mereka harus mengakui kalau Luhan ada benarnya karena perusahaan mereka bukan tempat begituan.
"Tapi..." Jin ingin membantah perkataan Luhan yang benar tapi ada efek negatif dan positif yang timbul akibat pemecatan Hyomin secara mendadak, jadwal Sehun dipegang oleh seorang seketaris dan sekarang Sehun tidak bisa bekerja dengan baik jika seketarisnya tidak ada
"Jika hanya masalah mencari pengganti seorang seketaris kurasa aku bisa mengisinya" Luhan memotong pembicaran Jin yang pastinya tetap ingin mempertahankan seketaris tersebut
"Kau yakin?" Jin bertanya sedangkan Sehun sudah menggeleng – gelengkan kepalanya karena tidak bisa menerima hal itu
"Hm, aku sangat yakin. Dan juga menjadi seorang seketaris bukan hal buruk karena aku akan tahu semua jadwal suamiku terutama jika kami memiliki kerjaan diluar kota akan membuat kami senang karena akan selalu bersama"
Itu salah satu yang Luhan pikirkan jika menjadi seketaris suaminya, dirinya bisa mengetahui jadwal suaminya yang padat dan bisa bersama Sehun jika suaminya harus memiliki pekerjaan diluar kota atau diluar negeri serta bisa melakukan sex dimana saja selagi mereka menginginkannya.
"Baiklah jika itu kemauanmu sendiri Lu, besok kau bisa mulai bekerja dan seketarisku yang akan langsung turun tangan untuk mengajarimu"
Setelah mengatakan hal itu Jin keluar dari ruangan Sehun dengan wajah senang karena dirinya tidak akan sibuk memikirkan seketaris Sehun yang kosong, dengan adanya Luhan membuat Jin percaya bahwa adik iparnya bisa membimbing Sehun untuk menjadi lebih baik dalam mengambil keputusan dan bersabar dalam menghadapi masalah.
BLAM
"Kenapa kau menerimanya Lu, Jin Hyung adalah orang yang tidak suka ingkar janji" Sehun frustasi karena istrinya mengiyakan semuanya
"Sudah lahh, lagian menjadi seketaris suami sendiri tidak buruk. Aku tahu semua jadwalmu, aku akan ikut jika harus ada pekerjaan diluar kota, dan yang terpenting kita selalu bersama Sehun"
Luhan duduk dipangkuan Sehun dan memeluk leher Sehun untuk berbisik "Serta kita bisa melakukan sex dimana saja dan kapan kau mau sayang" Luhan menjilat leher Sehun dengan sensual untuk menggoda suaminya
"Nghh.. Baiklah, tapi kumohon sekarang aku sangat lapar Lu dan jangan menggodaku"
Sehun terima saja penawaran Luhan karena dirinya juga lelaki normal yang haus akan sex, tetapi jika flashback dirinya yang menuruti semua permintaan maaf itu memang murni dari hatinya untuk mendapatkan maaf dari Luhan secara alami bukan paksaan.
"Ayo makan siang" Luhan turun dari pangkuan suaminya dan mengajak sang suami untuk makan siang, dan urusan ranjang bisa mereka lakukan nanti malam saja
Sehun merasa hari – harinya tidak akan bosan walaupun sudah memiliki banyak kerjaan, tapi dengan kehadiran Luhan sebagai seketarisnya membuatnya senang dan bisa selalu bersama pujaan hatinya.
..
..
..
Malam harinya setelah makan malam bersama dengan nikmat, Sehun masuk kedalam kamar setelah selesai mengurus pekerjaannya yang mendadak karena baru saja dikirimkan oleh seketaris Hyungnya.
CLECK
"Lu.." Sehun membeku didepan pintu karena terkejut dengan apa yang dilihat dimana istrinya duduk diatas sofa yang tersedia didalam kamar mereka dengan gaya sensual
"Hai sayang, masuk saja" Luhan mengarahkan tangannya kearah Sehun dan mengayunkan tangannya seolah menarik aura Sehun agar mendekatinya, Sehun refleks berjalan mendekati istrinya setelah menutup pintu kamar dan berdiri didepan istrinya yang sangat sexy dan menggoda
Melihat suaminya sudah berdiri didepannya, Luhan langsung membalikkan keadaan dengan suaminya yang tadinya berdiri menjadi duduk dengan terpaksa akibat didorong dengan keras olehnya.
Sehun masih terkejut dengan semuanya dan tidak menyadari jika dirinya sudah terduduk disofa dengan terpaksa, namun dirinya hanya diam dan menyaksikan apa yang akan dilakukan Luhan selanjutnya padanya.
Dengan santainya Luhan menundukkan wajahnya hingga menyentuh selangkangan sang suami, Sehun yang melihat hal tersebut hanya diam dan sulit bernafas karena Luhan sangat nakal dan dirinya baru mengetahui hal tersebut setelah berteman dan menyukainya beberapa tahun yang lalu.
Luhan menggesek – gesekkan wajahnya diselangkangan suaminya yang sudah sedikit menggembung hingga penis sang suami menegang sempurna dibalik celana suaminya.
Setelah penis yang akan jadi objek mainannya malam ini menegang dengan sempurna, Luhan langsung melepas celana Sehun beserta celana dalamnya dengan bantuan sang suami yang mempermudahkannya untuk melepaskan benda yang menggangu pemandangannya untuk melihat sang targetnya malam ini.
Luhan memengang penis suaminya dengan lembut dan kemudian memasukkannya kedalam mulutnya dan menjilat kepala penis suaminya dengan rakus seperti yang ditontonnya tadi siang setelah pulang dari kantor sang suami. Bukan dirinya haus belaian sehingga menonton video begituan tapi dirinya hanya ingin tahu cara memanjakan suami diatas ranjang seperti tekadnya untuk mencintai Sehun sehingga semuanya harus dilakukan dengan baik termasuk urusan ranjang agar kata orang suaminya terpuaskan dan tidak mencari pelampiasan pada orang lain walaupun dirinya sangat tahu dan jelas jika suaminya tidak akan mudah tergoda apalagi penis suaminya tidak akan bangun hanya karena digoda oleh orang lain.
"Nghh... Lu..." Sehun tidak menyangka karena kemampuan Luhan dan mengoral penisnya menjadi meningkat dibandingkan dengan pertama kali dirinya menerima service dari Luhan tepatnya malam pertama yang tertunda
Luhan tidak menghiraukan suaminya dan fokus pada penis yang sudah menjadi benda favoritnya sejak kemarin, dengan perlahan – lahan Luhan mengarahkan tangannya dan meremas peler suaminya yang menganggur.
"LU..." Sehun merasa kenikmatan yang bercampur dengan ngilu karena testisnya diremas cukup kuat oleh Luhan, walaupun ngilu namun rasa nikmatnya jauh lebih besar sehingga dirinya menginginkan lebih dari sentuhan tersebut
Luhan melepaskan penis dari dalam mulutnya dengan cepat kemudian mengibas dagunya yang penuh dengan liurnya yang sudah bercampur dengan percum suaminya.
CUP!
Luhan mengecup gemas dengan lembut penis Sehun yang masih menegang dengan sempurna tersebut dan tangannya yang menganggur digunakan untuk menjelajahi tubuh suaminya yang sangat sexy dan berotot walaupun tidak seperti John Cena sang pegulat dari wwe.
"AH..." Sehun tidak tahan karena putingnya menjadi objek mainan Luhan setelah selangkangannya, namun jika dirinya menghentikan Luhan bisa – bisa dirinya tidak akan diberikan service seperti ini lagi. Tentu saja dirinya senang baru pulang kerja dengan rasa lelah dan stres yang masih menyerangnya sudah disuguhkan dengan pemandangan yang wow serta service yang memuaskan
Merasa lelah dengan mulutnya yang terus memberikan blowjow, Luhan mengganti tugasnya dengan tangannya yang bekerja untuk memompa penis suaminya dimulai dari tempo lambat dan bertambah cepat hingga terbiasa dengan mengocok penis besar suaminya.
"AKH... LU AKU MAU KELUAR" Sehun memberitahu akan hal itu sebelum Luhan kesal karena semburan spermanya berantakan
Mendengar hal itu membuat Luhan langsung memasukkan penis Sehun dengan cepat kedalam mulutnya dan memberikan sedikit blowjow agar suaminya orgasme didalam mulutnya, dirinya sangat merindukan sperma suaminya yang sangat enak dan gurih.
"AKH!" Sehun tidak tahan lagi dan terpaksa menyemburkan spermanya didalam mulut Luhan, dirinya tidak ingin Luhan menjadi jorok karena memakan spermanya sendiri. Karena dirinya tidak yakin bahwa spermanya steril untuk dikonsumsi karena dirinya sama sekali belum pernah mencobanya dan setahunya bahwa spermanya berfungsi hanya untuk membuat anak itu saja yang dirinya tahu
"Lezat!" Luhan bergumam dan menghabiskan sperma yang masih bersisa ditenggorokannya, selain ingin memberikan service pada suaminya dirinya juga ingin minum sperma suaminya yang dirinya ketahui dari internet bahwa sperma itu enak dan gurih
"Hah? Apa tidak salah?" Sehun terkejut karena dirinya menyangka jika Luhan akan merengek manja dan marah – marah karena spermanya tidak enak tapi semuanya diluar perkiraannya
"Iya, aku belajar dari internet yang mengatakan jika sperma itu gurih dan lezat. Kau mau mencobanya?"
"Kau belajar dari internet?" Sehun membulatkan matanya karena dugaannya tepat, tidak mungkin Luhan bisa semahir ini jika tidak belajar dari internet atau majalah dewasa yang akan memberikan banyak gambar untuk permainan sex seperti yang baru saja dipraktekkan Luhan padanya
"Hm, apa kau suka?" Luhan mengangguk antusias dan berharap Sehun menyukainya karena dirinya sudah belajar dengan susah payah dengan permen tangkai yang dibelinya sebagai contoh penis yang akan dipuaskannya
"Aku suka, tapi aku lebih menyukai Luhan apa adanya" Sehun tersenyum teduh pada istrinya, sedangkan Luhan semakin terdiam karena tidak bisa mengatakan apa – apa setelah mendengar jawaban sang suami. Dari pertama perjodohan ini, Sehun selalu mengatakan terserah pada Luhan, tunggu Luhan yang menyerahkan keperawanannya sendiri jika sudah bisa membalas cinta suaminya, dan sekarang Luhan yang apa adanya lebih menarik dimatanya walaupun Luhan apa adanya kurang tahu banyak tentang sex
"Hiks..." Luhan tanpa sadar menitikan air matanya karena sudah banyak menyusahkan suami tampannya, dan merutuk dirinya yang seharusnya dari awal perjodohan mendapat suami seperti Sehun yang baik dan tidak menuntut apapun padanya yang sangat egois dan bodoh
Sehun terkejut karena istrinya menjadi terisak dan menitikkan air matanya, dirinya merutuk mulutnya yang justru meminta Luhan menjadi dirinya sendiri dimana ketika istrinya sudah banyak belajar dari internet untuk memuaskannya.
"Hei, aku minta maaf jika aku salah bicara" membawa Luhan kedalam pelukannya adalah langkah yang tepat karena dirinya sangat sangat tidak suka melihat Luhannya menangis apalagi karena dirinya
Gelengan kepala adalah respon pertama Luhan walaupun masih terisak didalam pelukan suaminya, namun rasanya isakan Luhan semakin kuat beserta air mata yang semakin deras turun.
"Aduh Lu.. Jangan menangis. Nanti dikira aku memukulmu pula"
Luhan memeluk suaminya dengan sangat erat karena tidak bisa mengucapkan rasa syukur yang sangat besar pada suaminya.
"Kenapa jadi manja gini eoh?" Sehun mengusap sayang bahu dan punggung Luhan yang masih bergetar akibat menangis didalam pelukannya
"Sehun"
"Hm, ada apa sayang?"
"Terima kasih"
"Untuk?" Sehun bingung karena seharusnya dirinya yang berterima kasih karena Luhan sudah memberikan service padanya secara gratis tanpa diminta, dirinya memang laki – laki normal yang sangat bernafsu tetapi dirinya adalah tipe yang tidak bisa memaksakan kehendaknya pada pasangannya
"Terima kasih sudah sabar mau menunggu Luhan yang bodoh dan keras kepala ini menjadi Luhan yang dulu. Aku merasa seperti wanita bodoh yang mencampakkan suami tampannya, jika saja aku mengajukan cerai mungkin banyak janda kembang dan janda lapuk yang akan memintamu untuk menjadi pasangan mereka"
Sehun sadar kenapa Luhannya menangis seperti tadi, dirinya juga senang jika Luhan yang dulu sudah kembali tapi melihat Luhan sedih bukan hal yang disukainya.
"Hei aku tetap akan memilihmu. Maka dari itu kita harus saling percaya satu sama lain Lu"
"Ngh.. Apakah kau ingin lanjut ke sesi berikutnya?" Luhan mendorong dada Sehun sehingga pelukan mereka terlepaskan begitu saja dan memandang suaminya dengan intens
"Tidak perlu sebaiknya kita istirahat saja Lu, karena besok adalah hari pertama untukmu bekerja dan aku tidak mau kau kelelahan" Sehun membawa Luhan kedalam gendongannya dan meletakkan istrinya dengan pelan – pelan diranjang serta dirinya ikut berbaring disamping istrinya
"Malam Hun" Luhan mencium bibir suaminya dengan penuh cinta
"Malam juga Lu, semoga mimpi yang indah" Sehun membalas ciuman Luhan dengan cintanya yang tidak pernah pudar walaupun Luhan lama menyadari akan cintanya
"Untuk apa mimpi indah jika yang ingin kumimpikan ada disampingku." Luhan memejamkan matanya dan membalas ucapan Luhan hanya dalam hati saja
~TBC~
