Pena mahalnya sibuk menari diatas lembaran-lembaran berkas yang kini memenuhi mejanya. Belum lagi sebuah tablet keluaran terbaru yang selalu menampilkan update naik turunnya nilai saham beberapa perusahan yang dimilikinya melalui graphic line yang kerap kali berubah setiap harinya. Jam baru menunjukkan pukul 9.30 ketika sebuah ketukan mengalihkan atensinya pada pintu bercat hitam di hadapannya. Sang sekretaris muncul, berjalan sesopan mungkin kearahnya, kemudian membungkuk ketika dirinya telah berjarak kurang lebih 3 langkah dari meja tuannya.

"Maaf tuan Park, ada tuan dan nyonya Oh di depan. Mereka ingin bertemu dengan anda."

Chanyeol yang kembali mengerjakan berkasnya setelah mengetahui sang sekretaris memasuki ruangannya, seketika menghentikan goresan penanya. Smirk muncul pada belah bibirnya. Ia lantas mengalihkan perhatiannya dari tumpukan berkas di hadapannya pada sang sekretaris.

"Tuan Oh?"

"Iya tuan, beserta sang istri."

Chanyeol tersenyum, "Baiklah suruh mereka masuk."

"Baik, tuan." Sang sekretaris membungkuk lantas undur diri dari hadapan tuannya. Namun, baru beberapa langkah pijakannya dipaksa berhenti oleh Park Chanyeol, ia pun berbalik kembali membungkukkan badan pada pemilik perusahaan tempatnya bernaung.

"Iya, tuan?

"Sediakan minuman untuk tamu kita, dan untuk semua jadwalku pagi ini pindahkan setelah makan siang karena aku rasa perbincangan kami akan cukup memakan waktu."

"Baik, tuan. Ada lagi?"

"Cukup, kau bisa kembali."

"Permisi tuan." Membungkuk sekilas lantas melangkah meninggalkan ruangan CEO CYworld tersebut.

Park Chanyeol melepaskan pena dalam genggamannya, punggungnya ia rebahkan pada sandaran kursi, terkekeh sekilas sambil memijat pangkal hidungnya.

Akhirnya menyerah juga, eh?


"Jadi, ada kepentingan apa hingga kau mengajak istrimu ini pergi menemuiku, Oh Sehun?"

Pandangannya setia jatuh pada pasangan Oh yang duduk berdampingan dihadapannya. Bila diperhatikan wajah keduanya nampak lelah, entahlah. Namun dari gesture tubuh yang diperlihatkan istri Oh Sehun sepertinya dia tidak yakin dengan pertemuan ini. Chanyeol dapat menangkap kegelisahan dalam gerik kecil wanita dua puluh tahunan tersebut.

"Kami ingin melakukan negosiasi." Dengan wajah kaku Oh Sehun nampak seperti menantang Park Chanyeol. Tegas.

"Negosiasi?" Alis Chanyeol mengernyit.

Sehun mengangguk, "Hmm, tentang keinginanmu yang sempat kutolak."

"Ooh, ada apa? Kalian ingin menolaknya lagi secara official, begitu?" Chanyeol terkekeh, "Lupakan, lagi pula aku juga sudah melupakan keinginanku untuk memiliki bayi dari rahim istrimu." Nada sedikit acuh keluar dari mulut Park Chanyeol.

"Kami akan memberikan bayi untukkmu."

Ucapan tegas Oh Sehun seketika menyita atensi Chanyeol pada pasangan tesebut.

"Tapi dengan syarat." Oh Sehun melanjutkan.

Chanyeol menghela nafas kasar, memijat pangkal hidungnya sembari menyandarkan punggung pada sandaran kursi miliknya.

"Kau berjanji akan memenuhinya?" ragu Sehun.

Chanyeol menjatuhkan atensinya pada kedua pasangan Oh tersebut. "Tergantung, kalian katakan apa yang menjadi syarat kalian baru aku akan mempertimbangkan akan memenuhinya atau tidak."

Kali ini nafas kasar dihela oleh Oh Sehun. Ia memandang Baekhyun yang setia menundukkan kepala disampingnya. Tangannya mencoba meraih tangan sang istri. Mengalihkan atensi sang istri dari ujung sepatu kepada dirinya, dan berhasil. Baekhyun memandangnya. Ia pun berusaha memberikan senyum terbaik untuk menguatkan sang istri, sebelum atensinya kembali pada pemilik CYWorld di hadapannya.

"Kami akan memberikan bayi padamu, tapi kau harus setuju menjalani proses bayi tabung dengan istriku. Aku hanya meminjamkan rahimnya, bukan tubuhnya untuk kau tiduri."

Chanyeol terkekeh, makin lama makin keras. "Oh Sehun, Oh Sehun, kenapa kau lucu sekali sih?" Chanyeol menghentikan tawanya, berdehem sekilas sembari membetulkan posisi duduknya. "Kau pikir berapa banyak uang yang sudah kukeluarkan untuk mendapatkan saham peruhasaanmu itu? Kau pikir kolegamu menjual sahammu dengan harga murah? Aku bahkan membelinya 2 hingga 3 kali lipat dari harga kau menjualnya Oh Sehun, dan kini kau memintaku untuk melakukan bayi tabung?"

"Aku bahkan kehilangan perusahaanku karena mu, hyung." Nafas Sehun mulai memburu, pertanda emosi mulai tersulut dalam dirinya. Baekhyun yang melihatnya segera menggenggam balik tangan Sehun, berharap emosi sang suami sedikit mereda.

"Oh ya? Bukankah kau yang berkata akan mengabulkan permintaanku saat kau 3 kali kalah bermain malam itu?" Chanyeol tertawa sinis.

"Permintaanmu gila, kau menginginkan istriku."

"Aku menginginkan seorang anak, Sehun. Dan karena kau tak mampu memberikannya sebagai ganti kuambil alih saja perusahaanmu sebagai jaminan."

"Jaminan?" alis Sehun berkerut mendengarnya.

Chanyeol tekekeh. "Ku jelaskan padamu Oh Sehun, aku sama sekali tak berniat mengambil perusahaanmu, aku hanya meminjamnya sebagai jaminan bahwa kau akan memberikan bayi padaku. Dan sekarang kau menginginkanku melakukan bayi tabung? Kau Bercanda? Aku tak ingin mengeluarkan banyak biaya lagi hanya untuk seorang bayi" Chanyeol mendengus. "Belum lagi reputasi perusahaanku yang pasti akan turun jika media tahu aku melakukan bayi tabung dengan istrimu pula, seseorang yang perusahaannya sedang aku akusisi saat ini."

"Kita bisa melakukannya dengan dokter kepercayaan keluargaku." Sehun masih berusaha membujuk.

Smirk muncul di belah bibirnya, "Tidak ada yang bisa dipercaya di dunia ini, Sehun."

Sehun terdiam, telapak tangannya kembali menggenggam kuat.

Baekhyun yang melihatnya merasa kasihan pada sang suami. Ia pun memberanikan diri menatap CEO CYWorld tersebut, lembut. Berharap dengan tatapannya Park Chanyeol dapat luluh dan memuluskan keinginan mereka.

"Tuan Park, maaf sebelumnya saya menyela pembicaraan anda dengan suami saya. Namun saya pikir kita bisa melakukan proses bayi tabung ini di daerah yang jauh dari pemberitaan—"

"Dan aku kembali kemari dengan seorang anak dalam gendonganku setelah lama menghilang? Lantas berita apa lagi yang akan muncul setelahnya? Hmm?"

Pandangan Baekhyun meliar, ia berpikir keras. "Tuan Park, bagai--"

"Sudahlah Baekhyun, bagaimanapun kita menyembunyikannya media pasti akan tau cepat atau lambat. Dan aku tak ingin reputasi perusahaanku hancur hanya gara-gara hal sepele seperti ini." Chanyeol menghela nafas, "Bukankah pembuahan alami lebih sedikit memiliki resiko ketimbang bayi tabung, aku masih bisa mengurus perusahaanku dan kehamilanmu nanti biar suamimu yang menjaganya. Setelah bayinya lahir aku akan memberitahu media bahwa itu bayiku dan Kyungsoo. Aku akan membuat cerita bahwa istriku harus bedrest selama masa kehamilannya. Mudah bukan?"

"Aku tidak setuju." Tatapan tajam Sehun hunuskan untuk lelaki hadapannya.

Menghela nafas, Chanyeol pun menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Terserah kau, semakin lama kita menundanya perusahaanmu akan semakin mengalami penurunan karena pimpinannya sering mangkir dari rapat direksi."

Sehun mendesis, "Sialan."

" Watch your word, Oh Sehun."

Sehun mendengus, lantas beranjak dari duduknya sambil menggenggam tangan sang istri. "Ayo pulang." Nadanya tegas.

Baekhyun pun segera ikut beranjak. Berusaha mensejajarkan langkahnya dengan sang suami yang kini terlihat sangat emosi. Tinggal beberapa langkah lagi menuju pintu besar hitam itu hingga suara Park Chanyeol kembali menggema dalam rungu keduanya.

"Pilihanmu hanya 2, Sehun-ah. Berikan aku bayi secara normal dan kau menndapatkan kembali perusahanmu atau tidak memberiku bayi dan kau kehilangan satu-satunya warisan ayahmu." Smirk lagi-lagi muncul pada belah bibirnya. "Pikirkan baik-baik, Oh Sehun."

"Sialan." Sehun mendesis, melanjutkan langkah hingga benar-benar mencapai pintu hitam. Ia lantas membukanya kasar dan kembali menutupnya tak kalah kasar. Pelampiasan emosi atas semua perkataan Park Chanyeol yang telah ia dengar.

Chanyeol yang melihatnya hanya terkekeh diatas kursi kerjanya, menggoyang-goyangkan kursinya sejenak untuk menikmati euphoria yang baru saja terjadi dalam dirinya. Tawanya berhenti dan smirk lagi-lagi nampak di wajah tampannya.

Bukankah Park Chanyeol selalu mendapatkan apa yang diinginkannya? Bagaimana pun caranya Park Chanyeol pasti akan mendapatkannya.


Hening. Perjalanan pulang dari kantor pusat CYWorld ini begitu hening menurut Baekhyun. Hanya satu dua kali terdengar Sehun menghela nafas berat. Hingga tanpa sadar mobil yang mereka tumpangi telah sampai di pelataran rumah.

"Kau turunlah, aku akan ke kantor. Jangan tunggu aku pulang nanti malam. Tidurlah dulu." Tanpa menoleh Sehun berpesan pada sang istri. Wajah kakunya tetap bertahan sejak ia keluar dari gedung CYWorld tadi.

Baekhyun menghela nafas, dialihkan perhatiannya pada sang suami yang masih setia berada di balik kemudi. Tangannya bergerak menggapai tangan sang suami yang berada pada tuas persneling, membuat atensi seorang Oh Sehun sedikit teralihkan pada wajah istrinya.

"Kau baik?" tatapan khawatir Baekhyun lemparkan pada sang suami.

Hening, tidak ada jawaban. Oh Sehun hanya menatap manik bening sang istri yang selalu menjadi favoritnya. Tangan yang digenggam Baekhyun pun bergerak, melepas genggaman sang istri lantas menuju wajah mungilnya. Mengusap lembut penuh perasaan hingga belah bibir keduanya berhasil bertemu dalam satu tarikan nafas. Oh Sehun mencium sang istri. Tidak ada lumatan gairah, hanya penyampaian rasa kalut yang terlalu dalam menghadapi masalah mereka saat ini. Tak berapa lama ciuman keduanya terlepas, saling membuka mata lantas menyelami obsidian masing-masing hingga sebuah senyuman penenang hadir pada labium Oh Sehun. Tangan Sehun yang setia berada wajah Baekhyun kembali mengusap wajah tersebut lembut.

"Turunlah, aku baik-baik saja." Senyuman yang menenangkan tak luntur sedikitpun dari wajah Oh Sehun.

Manik Baekhyun meliar, mencari kebohongan dalam obsidian sang suami. Dan yang ia temukan adalah kebohongan. Oh Sehun tidak baik-baik saja. Baekhyun memejamkan mata, lantas menghela nafas kasar. Maniknya membuka bersamaan dengan sebuah dekapan yang ia berikan pada sang suami. Baekhyun menepuk dan mengusap punggung sang suami berharap dengan perlakuannya saat ini bisa sedikit menghilangkan kekalutan dalam diri Sehun.

"Aku tau kau tak baik-baik saja, Oppa. Jangan larikan kalutmu pada alkohol. Pulanglah dan aku akan memberikanmu pelukan sepanjang malam, hmm?"

Sehun yang setia bersembunyi di ceruk leher sang istri sejak pelukan itu terjadi hanya mengguman sebagai tanggapan dari perkataan sang istri.

"Dan sekarang waktunya kau melepaskan pelukanmu, kau harus ke kantor, Tuan Oh." Baekhyun menepuk pelan lengan sang suami untuk melepaskan pulukannya.

Mendengus, Oh Sehun lantas melepas pelukan sang istri. Wajahnya mengerucut lucu karena acara "menghirup aroma Baekhyun" harus berakhir secepat ini. Baekhyun yang melihatnya hanya terkekeh. Wajahnya mendekat lantas membubuhkan sebuah kecupan pada pipi sang suami.

"Bekalmu, agar kau menghilangkan wajah cemberutmu." Baekhyun tersenyum lucu melihat ekspresi Sehun yang kaget dengan kecupannya. Ia pun menggunakan kesempatan itu untuk keluar dari mobil yang mereka tumpangi, berlari kecil hingga mencapai teras rumahnya.

Sehun tersadar, ia kemudian mengalihkan pandangannya pada sang istri yang kini berada di teras rumahnya. Kaca mobilnya ia turunkan, tersenyum sangat manis yang dibalas tak kalah manis pula oleh sang istri.

"Aku berangkat." Senyuman masih tak luntur dari wajahnya. Menlambaikan tangan lantas menjalankan kemudinya keluar dari pelataran rumahnya.

"Hmmm, hati-hati." Baekhyun balas melambaikan tangannya, senyum masih setia terpatri pada wajah ayunya. Mengantarkan mobil sang suami menghilang di depan rumah. Menghembuskan nafas kasar, Baekhun lantas menurunkan tangan serta melenyapkan senyumnya. Pandangannya kosong menatap kepergian sang suami. Hingga satu pertanyaan muncul dalam benaknya.

Kita akan baik-baik saja, kan? Oh Sehun?


Dentuman musik mengalun keras dari seorang disc jockey yang setia memainkan instrumennya di sudut ruangan. Beberapa orang nampak tengah asik menari, larut dalam alunan irama yang DJ tersebut mainkan. Beberapa lagi sibuk dengan jalang dan minuman yang berada di hadapan mereka. Namun, lain halnya dengan pria bersurai legam yang kini tengah menikmati sebotol Smirnoff di hadapannya, gelas demi gelas. Oh Sehun, pria itu kini tengah tidak mengindahkan perkataan sang istri untuk tidak mendekati alkohol saat pikirannya kalut. Pria itu terlalu kalut hingga tak tahu lagi akan mencari pelarian kemana, selain vodka yang kini berada dalam genggamannya. Belum terlalu malam, dan Sehun telah berjanji pada dirinya sendiri akan pulang setelah menghabiskan botol kedua Smirnoff di hadapannya. Setidaknya satu janjinya pada Baekhyun untuk tak pulang malam bisa tertepati.

"Oh Sehun?"

Kepalanya yang telah sedikit berat menoleh kearah si pemanggil. Menyipit sebentar, memastikan bahwa yang dia lihat memang sosok yang telah lama menghilang dari hidupnya.

"Xi Luhan? Kau disini?"

Gadis bernama Xi Luhan tersebut mengangguk lantas tersenyum manis. Langkahnya anggun menghampiri Sehun dan duduk pada kursi tinggi tepat di sebelah Sehun.

"Oh? Jangan katakan kau lupa padaku." Matanya menyipit, tanda dia berpura-pura kesal pada Sehun."

Sehun terkekeh, "Bukan begitu, hanya saja sedikit tak menyangka kau berada disini. Di depanku, saat ini."

Luhan tersenyum menanggapi ocehan Sehun. "Bagaimana kabarmu, Oh Sehun?" memperhatikan wajah Sehun dari samping sambil menopang kepalanya.

Sehun mengendikkan bahu, "Begitulah, bisnisku tak berjalan baik akhir-akhir ini. Kau bagaimana? Kenapa tak datang dihari pernikahanku?" Sehun menoleh, menatap sepasang manik indah yang sedari tadi asik menatapnya.

Luhan menghela nafas, "Baba menyuruhku pulang, dia ingin aku membantu mengembangkan bisnisnya kala itu." Luhan tersenyum diakhir kalimatnya. Mana mungkin aku menghadiri pernikahan orang yang aku cintai, Oh Sehun.

"Oh iya? Lalu sekarang bagaimana bisnis ayahmu?"

Luhan menegakkan badannya, membenarkan posisi duduknya menghadap meja bar dan meminta segelas Sparkling Pomegranate Cocktail pada pelayan. "Kami sedang mencoba peruntungan membangun sebuah hotel and resort di Norway."

Sehun mengangguk, kepalanya ia tolehkan lagi ke depan, pada jajaran vodka di belakang meja bar. Hening, terlalu canggung bagi mereka untuk memulai percakapan setelah sekian lama lost contact. Hingga suara pelayan yang meletakkan pesanan Luhan membuyarkan lamunan keduanya.

"Hmmm.. Sehun-ah."

Yang dipanggil hanya menoleh sebagai jawaban

"Aku mendengar kabar bahwa perusahaanmu diakusisi. Apa benar."

Sehun tersenyum miris, menenggak sisa Smirnoff dalam gelasnya lantas mengangguk. Membenarkan ucapan Luhan.

"Kenapa."

"Kalah bermain?" Sehun mengendikkan bahu.

"Kau main mempertaruhkan perusahaanmu?"

"Aku tidak pernah mempertaruhkan barang-barang peninggalan ayahku, Luhan."

"Lantas kenapa perusahaanmu yang diambil?"

Sehun menghela nafas, "Ada alasan yang tidak bisa kuceritakan padamu. Yang pasti kini perusahaanku sedang diakusisi oleh CYWorld."

Luhan mengangguk paham. Hening terjadi lagi. Keduanya kini sama-sama menenggak minuman di hadapan mereka.

"Sehun-ah."

"Hmm?" kali ini hanya bergumam tanpa menoleh kearah sang sahabat.

"Bagaimana jika kita bekerja sama?"

"Bekerja sama?" Kepalanya menoleh mentap Luhan, lantas kedua alisnya nampak mengerut tak paham.

Luhan menolehkan kepalanya kearah Sehun, mengangguk disertai senyum teduh dan menenangkan. Khas Luhan. "Kau tau, proyek hotel and resort di Norwey yang kuceritakan padamu? Saat ini masih dalam tahap pelelangan, dan hingga saat ini masih belum ada yang cocok untuk mengerjakannya. Jika kau mau kau bisa mengerjakannya, dengan bayaran 10% sahammu dari CYWorld."

Sehun menimbang, tawaran yang cukup menarik baginya. "Berapa lama estimasi waktu yang arsitekmu keluarkan?"

"Sekitar 3 hingga 4 tahun. Namun kurasa dengan otakmu, kau mampu mengerjakannya dalam kurun waktu 3 hingga 3,5 tahun."

Sehun mengerutkan keningnya, rautnya mengatakan bahwa ia bingung saat ini. Ia butuh berbicara pada Baekhyun saat ini.

"Luhan-ah, bisakah kau beri aku waktu? Aku harus berbicara dengan Baekhyun dulu tentang masalah ini."

"Suami takut istri, eh?" Luhan tersenyum mengejek.

"Bukan begitu, tapi kurasa aku harus memberitahu Baekhyun dahulu sebagai bentuk aku menghargainya sebagai pasanganku."

Luhan tersenyum. Inilah yang membuatnya jatuh pada Sehun. Ia selalu menghormati wanita, siapapun itu. Beruntungnya wanita yang kini berstatus sebagai istrinya.

Tegukan terakhir Smirnoff telah masuk dalam lambungnya. Dua botol telah kosong olehnya sendiri. Melirik jam pada pergelangan tangannya, pukul 21.45. Belum terlalu larut, saatnya ia pulang. Pandangannya beralih pada gadis yang masih duduk di sampingnya. Termenung menatap gelas setengah penuh dihadapannya. Tanpa diduga senyuman tipis muncul di sudut bibirnya.

"Luhan-ah, kurasa aku harus pulang."

Luhan terkejut, lastas menoleh kearah Sehun. "Oh? Bukankah masih terlalu sore?" matanya mengerjap lucu.

Sehun terkekeh, "Benar masih sore, namun aku sudah janji pada istriku untuk tidak pulang larut hari ini."

Luhan mengangguk mengerti. Melihat Sehun yang beranjak dari duduknya, ia pun turut beranjak, ingin mengantar kepergian Sehun walau dari bangkunya.

"Kalau begitu, aku pamit dulu."

"Hmm, sampai jumpa. Hati-hati" tangannya melambai mengantar kepergian Sehun. Namun, baru beberapa langkah Luhan Kembali memanggil pria itu.

"Tentang kerja sama itu, bila kau menyetujuinya tolong katakan segera. Agar kami bisa take down pengumuman lelangnya dari web kami. Nomorku tak pernah berubah, Sehun. Kau bisa menghubungiku disana."

"Okay, terima kasih Luhan. Akan aku beri keputusan secepatnya. Aku pamit." Senyumnya terkembang sebelum ia berbalik lantas menghilang diantara banyak orang yang kini tengah menari malam itu.

Luhan membalas senyuman Sehun sembari melambaikan tangan. Setelah sosok Oh Sehun menghilang senyumannya berubah menjadi smirk. Tangannya bersendekap lantas mendudukkan pantat indahnya pada kursi bar. Kembali memesan vodka kali ini dengan kadar alkohol lebih tinggi. Menengguk sisa minumannya, lantas terkekeh sekilas sambil memainkan jarinya pada bibir gelasnya. Smirknya kembali muncul ketika sebuah rencana terlintas dalam benaknya.

Jika yang lalu aku kalah karena kau yang menjebaknya, kali ini kupastikan dia yang akan kalah karena aku yang akan menjebakmu. Bagaimana pun kau adalah takdirku, Oh Sehun.

To Be Continued..