naruto : masashi kishimoto

highschool dxd : ichie ishibumi

WARNING : typo, ooc, bahasa tidak baku, amburadul, gaje, alur gak jelas,. strong!naru, not godlike, crimson naru.

author baru dan masih amatir, jadi mohon bimbingan dari author senior? ゚ルマ

AN : saya buat alurnya sedikit acakan, jadi mohon para readers bisa memakluminya ya!

maaf ya kalau ceritanya ancur, karena saya udah lama gak nulis, jujur saya udah agak kaku dalam membuat cerita. kalau chapter ini tidak sesuai harapan para reader.

Chapter 8

Pegunungan himalaya

Seorang pria berjubah hitam polos tengah berlari sekuat tenaga berusaha menerjangan badai salju yang menghalagi langkah kakinya. Wajahnya tidak bisa di kenali dikarenakan ada tudung yang menghalanginya. Di pelukan pria itu nampak seorang bayi bersurai merah yang terbungkus selimut tebal berwarna putih tengah tertidur sangat nyenyak seperti tidak terganggu dengan hawa dingin yang menerjang mereka.

'Aku tidak tahu apa yang di pikirkan Rizevim sialan itu? tapi lihatlah dia hanya seorang bayi yang belum tahu apa-apa! kenapa Rizevim bangsat itu menginginkan nyawa anak ini'? Pria yang merupakan seorang iblis itu membatin.

Iblia itu tetap berusaha mempercepar larinya tak menghiraukan badai salju yang semakin lama semakin keras. Sebab dibandingkan kondisinya ada yang lebih penting dari itu.

'Maafkan aku bayi kecil, sekali lagi maafkan aku karena telah memisahkan mu dari orang tuamu, tapi aku tidak punya pilihan lain, karena hanya inilah caranya agar bisa menyelamatkan mu' batin iblis itu sembari menatap sendu bayi yang berada di gendongannya.

Tiba-tiba langkah pria itu terhenti saat di depannya muncul portal hitam, hingga mengeluarkan seorang pria, bertelanjang dada, dengan sebuah selempang bermotif totol tolol kombinasi warna coklat dan hitam yang melingkari bagian pingganya sampai sebatas lutut. Pria yang berusia dewasa itu juga tampak memegang tongkat setinggi badannya. Di tengah dahinya ada satu kelopak mata yang terlihat sedang tertutup.

Sang iblis yang melihat sosok di depannya sangat terkejut kemudian menggertakan rahangnya kuat kuat. Merasa situasi seperti tak berpihak padanya.

'Sial, kenapa harus bertemu dewa Shiva di saat seperti ini?, kalau melawannya pun percuma, aku pasti tidak akan menang' batinnya berspekulai.

"Apa yang membuat seorang iblis dari fraksi injil datang kemari?" Shiva bertanya dengan nada datar,

"Maafkan aku Shiva-dono karena masuk dalam wilayahmu, tapi aku tidak ada maksud apa-apa selain menyelamatkan bayi ini" balas iblis itu.

Shiva mengangkat sebelah alisnya 'untuk ukuran seorang bayi iblis, anak itu memiliki tekanan aura yang tidak wajar' batin Shiva menatap serius bayi yang ada di gendongan nya. Dirinya merasakan bayi yang ada di gendongan pria iblis itu memiliki aura yang luar biasa besar dan juga kelam. Tidak masuk akal, pikirnya.

"Kau adalah iblis yang penuh dengan sifat buruk, kau pikir aku semudah itu percaya dengan omonganmu?" Shiva berujar dingin, dan mulai menyebarkan aura dewa, membuat iblis yang berada di depannya mengeluarkan keringat dingin.

"a-aku bersumpah atas namaku kalau aku mengatakan yang sebenarnya" balas Iblis itu dengan nada yang terbata, dia mengeratkan pelukannya pada bayi yang berada dalam gendongannya.

"Lantas Apa yang membuatmu menyelamatkan bayi itu? kuharap alasanmu masuk akal, kalau tidak kau akan langsung ku habisi karena selain kau telah masuk dalam wilayahku tanpa ijin, kau juga telah menculik seorang anak dari orang tuanya"

"Sebenarnya aku memang di perintahkan oleh tuanku untuk menculik anak ini Shiva-dono, tapi aku justru menghianatinya, karena kalau anak ini sampai di tangan tuanku maka anak ini akan langsung di bunuh..." Jelasnya sambil menatap bayi yang dalam gendongannya sendu, kemudian melanjutkan"... Meski aku iblis yang memang dasarnya pusat dari segala dosa, namun aku mengatakan yang sebenarnya Shiva-sama, dan kau boleh membunuhku kalau kau tidak percaya, tapi sebelum itu tolong bawalah anak ini, dia tidak berdosa. Karena aku yakin tuanku tidak menginginkan nyawa anak ini, melainkan anak ini akan membawa perubahan besar pada dunia suatu saat nanti" jelas Iblis itu serius.

Shiva tidak merasakan iblis itu berbohong, dari tatapannya Iblis ini berkata dengan sungguh-sungguh.

"Jadi begitu ya.. baiklah, aku akan membawa anak itu, tapi siapakah orang tua dari bayi itu, karena suatu saat pasti aku akan mengembalikannya pada orang tuanya?" Tanya sang dewa kehancuran membuat iblis dewasa.

"Terima kasih Shiva-dono atas kemurahan hati anda aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa? Dan orang tua dari anak ini adalah Lucius Gremory dan Venelana Bael" jelas iblis itu.

'Hm, jadi anak ini adalah keturunan dari Gremory dan Bael ya?' Batin Shiva

"Kau memiliki sifat yang sangat mulia bertolak belakang dengan dirimu yang seorang iblis, kurasa itu saja sudah cukup, kau tidak perlu membalasnya!" Jelas Shiva tersenyum kecil. Merasa tersentuh akan perbuatan iblis di depannya.

"Sekali lagi terima kasih Shiva-sama.. Tapi aku merasa, aku sudah tak punya banyak waktu lagi" jelas si iblis terdengar dari suaranya seperti menahan rasa sakit.

Yah, dia memang berhasil kabur dari kejaran keluarga Gremory, tapi setelah itu dia harus kembali lagi berjuang untuk kabur dari kejaran Rizevim karena telah menghianatinya dengan membawa kabur anak itu, dalam usaha pelarian dirinya bukan berarti dirinya tidak mendapatkan luka, karena sebelum sampai di tempat ini, dia sempat bertarung dengan iblis suruhan Rizevim yang jelas bukan iblis sembarangan. Beruntung di saat-saat terakhirnya, dia sempat menciptakan lingkaran sihir.

Meski saat ini sedang malam hari, tapi berkat dirinya seorang dewa yang memiliki penglihatan super. Shiva bisa melihat jelas ada tetesan darah yang terus saja mengalir dari jubah yang dikenakan Iblis tersebut, cukup menandakan kalau iblis itu sudah melalui pertarungan demi menyelamatkan anak tersebut.

'Jadi iblis ini sebelumnya sudah bertarung, lukanya kelihatannya sangat parah, aku tidak percaya dia bisa menahan kesakitan selama ini' batin Shiva.

"Kalau begitu ikut aku, aku akan menolongmu, jika masih sempat nyawamu masih bisa di selamatkan" tawar Shiva

"Uuuhh.., terima kasih Shiva-dono atas tawaran anda, tapi itu tidak perlu.. Karena aku rasa ini sepadan dengan perbuatanku yang telah menjauhkan seorang anak dari orang tuanya" balas Iblis itu jatuh berlutut, sebelah tangannya di gunakan untuk menopang tubuhnya.

"Baiklah kalau itu yang kau mau, tapi siapa Namamu, karena suatu saat akan ceritakan pada anak itu siapa yang telah menyelamatkannya?" Tanya Shiva.

"Enrico, Enrico Lucifuge itu lah namaku, dan tolong katakan permohonan maafku pada anak ini jika dia sudah dewasa nanti" balas iblis itu yang ternyata bernama Enrico Lucifuge sambil menyerahkan bayi tersebut kepada Shiva.

Setelah memindah tangankan bayi itu pada Shiva tubuh Enrico pun seketika jatuh terlentang, dia sudah mencapai batas akibat dari luka yang dia tahan selama ini. Tepat saat sebelum dirinya melebur jadi cahaya, sayapnya yang pada dasarnya hitam sekelam malam berubah menjadi seputih awan. Iblis itupun mati dengan membawa kebaikan dalam dirinya.

"Kau iblis yang baik, semoga jiwa mu tenang Erinco!..." Ujar Shiva menatap datar cahaya terakhir dari leburan iblis bernama Enrico itu sebelum akhirnya menghilang. "... Bayi yang malang, di usianya yang masih sangat muda, dia harus terpisah dari orang tuanya" Shiva bermonolog, sembari menatap bayi yang kini tertidur pulas dalam gendongannya itu sendu.

Sang dewa kehancuran beserta bayi yang berada dalam gendongannya pun menghilang dari tempat itu.

...

Masa sekarang

"A-apa yang baru saja kau katakan sensei?" Tanya Naruto terkejut, mencoba bertanya sekali lagi untuk memastikan.

"Iblis merah itu adalah saudara mu Naruto, sekaligus wanita itu juga merupakan ibu kandungmu" jujur Shiva serius sambil menunjuk Shirzech dan Venelana bergantian. Tidak ada keraguan sama sekali dalam setiap kata yang di ucapkan sang Dewa. dan Naruto tahu itu, hanya saja Naruto belum bisa menerima fakta ini.

"Se-sensei kau tidak lagi bercanda kan?" Tatapan Naruto kosong. Harap-harap Sang guru lagi mengerjainya supaya dirinya mengurungkan niatnya untuk membunuh mereka.

"Tidak Naruto, aku mengatakan yang sebenarnya, hanya saja aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan rahasia ini padamu" tambah Shiva.

Deg

"Sensei jika yang kau nyatakan benar aku telah melakukan kesalahan yang tidak bisa di maafkan..." Naruto menatap kedua telapak tangannya dengan tatapan kosong miliknya kemudian melanjutkan "... Karena aku berusaha membunuh saudara ku sendiri"

Tak beda jauh dengan Naruto, Venelana pun sama shoknya ketika mendengar pengakuan Shiva sehingga tanpa di sadarinya aura destruction yang membungkus tangannya pun menguap. Mata yang sebelumnya Menyiratkan kemurkaan kini digantikan dengan mata yang menyiratkan sedih, rindu, dan bahagia semua nya tergambar jelas dalam raut wajah Venelana. Ternyata feeling nya selama ini benar, meskipun datang dengan situasi yang buruk tapi anaknya telah kembali padanya, anak pertama yang dirindukannya datang padanya.

"VENELANA HENTIKAN!"

Bersamaan dengan itu Lucius akhirnya mencapai Venelana mencoba menahannya dengan memegang pergelangan tangan sang istri, tapi langsung di tepis olehnya.

Tanpa menoleh ke arah sang suami lambat laun Venelana mulai melangkah ke arah Naruto yang masih terlihat terdiam. Air mata kerinduan menguncur dari matanya, tangan sebelahnya terulur berusaha menggapai wajah Naruto. Semua yang menyaksikan pun tidak ada yang mencoba menahan Venelana.

"Anakku? Apakah kau benar anakku?" Racau Venelana terdengar serak sambil mengelus pipi Naruto yang masih terdiam kaku.

Namun tak lama Naruto seketika tersadar dari pikirannya kemudian memundurkan langkah kakinya sehingga membuat sentuhan tangan Venelana terpisah dari wajahnya.

"I-ini terlalu mendadak, aku tidak bisa menerimanya, kau bukan ibuku, dia juga bukan saudara ku, dan kalian bukan lah keluarga ku..." Racau Naruto lirih dengan tatapan yang sulit di artikan sambil berusaha menjauh dari Venelana "...maaf, tapi aku harus pergi"

Dan benar saja Muncul lingkaran sihir merah khas keluarga Gremory di bawah kaki Naruto, hal itu membuat semua pasang mata kecuali sang dewa untuk kesekian kalinya melebarkan mata mereka yang justru semakin memperkuat fakta bahwa Naruto memang anak dari Venelana yang telah lama hilang.

Tapi seketika Venelana tersadar dari kekagetannya ketika merasakan firasat buruk jika dengan muncul nya lingkaran sihir itu justru akan memisahkannya kembali dia dan anaknya.

"TUNGGUUUUU"

Sriing

Dan benar saja Naruto langsung menghilang dari tempat itu tanpa mendengarkan terlebih dahulu teriakan panik Venelana.

bruuk.

Kepergian Naruto membuat Venelana jatuh terduduk hingga membawa dampak besar bagi dirinya. Tatapannya kosong, batinnya terguncang, karena untuk yang kedua kalinya dia kehilangan anak nya lagi. Dalam pikirnnya mungkin Naruto pergi di sebabkan olehnya yang tadi sempat menyerang serta mencaci Naruto.

"Venelana apa kau baik-baik saja?" Tanya Lucius khawatir sembari menyamakan badannya dengan sang istri.

"Dia telah pergi Lucius-kun, anakku kembali meninggalkanku! Ini semua karena ulahku yang tadi menyerang dan memakinya, aku memang ibu yang buruk!" Racau Venelana lirih tanpa menatap sang suami.

Greep

Mendengar racauan sang istri membuat Lucius langsung memeluk guna menenangkannya.

"Tenang Venelana, mungkin anak kita belum bisa menerimanya, makanya dia pergi, biarkan dia menenangkan diri nya dulu!" Lucius berusaha menangkan sang istri.

"Hikss... Kau tidak perlu menghiburku Lucius-kun, hikksss... Anak kita pergi karena diriku kan? Hikss.. Aku menyerangnya dan memarahinya hikksss, mana mungkin dia mau menerima ku sebagai ibunya" Venelana kembali meracau tidak jelas sambil berusaha melepas rangkulan Lucius tapi tidak bisa karena sang suami semakin mengeratkan pelukannya. pikirnnya saat ini sangat tidak stabil, mungkin dikarenakan kerinduan pada sang anak yang sudah tak bisa di tahan makanya perspektifnya menerka yang tidak-tidak.

"Benar kata suami mu Venelana-san, Naruto pergi bukan karena dirimu! Melainkan saat ini Naruto perlu waktu untuk memproses semuanya, karena ini terlalu mendadak baginya!" Ujar Shiva menyanggah tuduhan Venelana pada dirinya sendiri.

"Be-benarkah? Naruto tidak akan pergi dari ku? Apakah anakku akan kembali?" Venelana bertanya ragu sambil berdiri di depan Shiva. Dan entah sejak kapan pelukan sang suami telah terlepas.

"Benar, kau tenang saja aku! Aku sangat mengenal sifat Naruto, dia adalah pemuda yang baik, dia tidak mungkin meninggalkan keluarganya apalagi ibu kandungnya sendiri" respon Shiva. Venelana sedikit demi sedikit mulai lega mendengarnya tapi di sisi lain dirinya juga merasa sedih karena justru orang lain lah yang lebih mengenal Naruto bukan dirinya.

"Ka-kalau begitu bi-bisakah aku mengetahui di mana Es... Naruto tinggal Shiva-dono, karena aku ingin sekali menemuinya?" Tanya Venelana ragu, rasa senangnya tidak bisa di bendung sehingga hampir saja dia menyebut nama asli Naruto.

"Sabar dulu Venelana! Saat ini kita biarkan Naruto menenangkan diri dulu! Nanti kalau situasi sudah sedikit memungkinkan, kita bisa menemuinya. Bukan dirimu saja yang ingin bertemu, aku sebagai ayahnya juga sangat ingin menemuinya!" Ujar Lucius.

"Ta-tapi a-aku sangat ingin bertemu anak kita Lucius-kun!"

"Tenang saja Venelana-san, secepatnya kalian pasti akan bertemu Naruto, karena setelah ini aku akan menemuinya dan menjelaskan semuanya..." Tambah Shiva kemudian melanjutkan "... Dan di banding hal itu sebaiknya kalian lebih mengkhawatirkan Shirzech dan ketiga Maou lainnya karena sepertinya kondisi mereka lebih butuh pertolongan!" jelas Shiva

Venelana dan Lucius pun akhirnya bisa bernafas lega mendengarnya, dan benar kata Shiva meskipun bertemu dengan anak pertama mereka adalah hal yang penting, tapi di sisi lain keadaan anak kedua mereka juga tak kalah penting.

"Baiklah, kurasa itu sudau cukup, kalau begitu aku akan pergi mengingat aku akan menemui Naruto" Shiva bersiap akan pergi tapi Lucius keburu menahannya, sepertinya ada hal yang ingin di tanyakannya.

"Maaf Shiva-dono!, tapi kenapa kau bisa tau Naruto itu anak kita? Apakah kau tau siapa dalang di balik penculikan anakku waktu itu?" Tanya Lucius di barengi anggukan sang istri

"Umm, aku akan menjelaskan semua rasa penasaran kalian nanti setelah situasinya terkendali! Dan kuharap kau bisa sedikit bersabar!" Jawab Shiva.

"Baiklah, aku mengerti! Terima kasih Shiva-dono, dan aku sangat berharap padamu"

Shiva hanya meresponnya dengan anggukan dan kemudian menghilang.

...

Sriing.

Naruto langsung terduduk di sebuah bukit padang rumput hijau nan luas setelah keluar dari lingkaran sihir miliknya. dirinya menatap kedua telapak tangannya dengan tatapan sulit di mengerti, pemandangan indah dari atas bukit pun seolah tak bisa menutupi perasaan yang dia rasakan saat ini. karena fakta yang baru saja dia terima sungguh mengguncang jiwanya.

'i-ini bohong kan? tidak mungkin mereka adalah keluarga ku! tapi kenapa diriku yang justru mengatakan yang sebaliknya' batin Naruto frustasi sembari mengacak-acak rambutnya.

sring.

tap tap tap

"ternyata kau di sini Naruto-kun!"

di belakang Naruto tercipta lingkaran sihir dan mememuntahkan seorang wanita bersurai ungu sepunggung yang di hiasi kalung emas cantik melingkari ujung kepalanya serta. mengenakan busana khas dewi mitologi hindu yang senada dengan rambutnya. (lihat aja Parvati Fate/grand order).

Naruto yang mendengarnya pun refleks menengok sedikit tapi tak mengubah posisinya.

"Kaa-san, kenapa kau tahu aku ada disini?" tanya Naruto heran.

Parvati istri dari dewa Shiva atau sensei dari Naruto tidak merespon pertanyaan Naruto. lebih dari itu dia bisa melihat saat ini kondisi Naruto nampak berantakan. apalagi dia juga bisa melihat meskipun raut wajah Naruto menunjukan kebingungan namun samar-samar dia bisa melihat Naruto terlihat murung, seakan sesuatu baru saja terjadi padanya.

Parvati mendudukan dirinya di rumput samping Naruto.

"kau sudah cukup lama tidak berkunjung ke mari sejak kau memutuskan untuk berkelana beberapa tahun lalu! aku tahu kau sudah dewasa Naruto tapi tetap saja kau itu sudah ku anggap anakku sendiri, jadi beberapa saat lalu aku merasakan aura mu di sekita sini, aku langsung kemari! lagipula aku juga merindukanmu!..." Parvati menjelaskan Niatnya datang kemari. "... dan juga kau terlihat murung! apa yang sedang mengganggu pikiranmu Nak?"

Naruto terlihat terdiam sebentar.

"sebelum aku menjawab pertanyaan mu! apa kau bisa menjawab pertanyaanku dulu Kaa-san?! karena ini juga menyangkut dengan yang sedang kupikirkan saat ini" Naruto berkata tanpa melihat ke arah Parvati.

dan Parvati tiba-tiba saja merasakan firasat kurang enak yang akan di tanyakan Naruto.

"tentu!"

"apa kau mengetahui kenapa aku bisa terpisah dari keluarga kandungku Kaa-san? dan bagaimana caranya kalian bisa menemukanku?" Naruto bertanya dengan nada serius tapi wajahnya sedikit menunjukan kesedihan.

Parvati seketika terkaget dengan pertanyaan putra angkatnya. diantara banyaknya pertanyaan kenapa harus ini.

'kurasa ini waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya'

"kenapa kau ingin mengetahuinya Naruto-kun?"

Naruto kembali mengarahkan pandangannya jauh kedepan surai merahnya berkibar akibat tiupan angin. dari atas bukit dia bisa melihat di bawah sana ada seekor domba dewasa yang tengah berusaha melindungi anaknya dari serangan kumpulan serigala.

"karena aku baru saja bertarung melawan Yondai Maou yang mana satu di antaranya adalah saudara ku sendiri. aku tidak tahu benar atau hanya kebetulan saja! tapi sebelum aku berhasil membunuh nya Sensei datang menghentikannya dan mengatakan yang sebenarnya!..." jelas Naruto. semakin membuat mata sang dewi terbelalak "... jadi kumohon padamu Kaa-san untuk menjelaskan semuanya padaku, kenapa aku bisa terpisah dari keluargaku!"

Parvati menghela nafas sesaat, mencoba mengumpulkan semua keberaniannya. kemudian menjelaskan semuanya (malas ngetik, lihat aja di atas. hehe).

"... awalnya aku berpikir untuk memulangkan mu kepada orang tuamu Naruto-kun, karena keluargamu pasti saat itu tengah mencari dan sangat mencemaskan mu Naruto! apalagi waktu itu kau mungkin saja baru berumur beberapa hari yang jelas sangat membutuhkan asi dari ibumu! tapi Senseimu melarangku, dia berpendapat seandainya kau di pulangkan! justru akan membuat pengorbanan iblis yang membawamu itu sia-sia! sebab pasti majikan nya cepat atau lambat akan kembali memburumu. akhirnya daripada aku mengembalikanmu pada orang tuamu yang justru akan membahayakan nyawamu, jadi aku memutuskan untuk merawatmu Naruto-kun! hingga kau remaja dan memutuskan untuk pergi berkenalana! sebenarnya saat itu aku tidak setuju dengan keputusan mu Naruto-kun, karena aku sangat menyayangimu dan sudah menganggap mu anak kandungku sendiri! tapi Senseimu mengatakan padaku untuk membiarkanmu mencari jati dirimu! Senseimu meyakini akan lebih baik jika kau mengetahui kebenaran ini dengan sendirinya Naruto-kun!" jelas Parvati sembari menatap lembut ke arah iris saphire Naruto.

tatapan khas seorang ibu memancar dari kedua bola mata Parvati. sempat khawatir ketika melihat ekspresi terkejut Naruto. mungkin saja setelah ini Naruto akan membenci nya karena selama ini telah merahasikan dari nya. meskipun hati nya akan sakit jika di benci oleh salah satu orang yang dia sayangi, tapi kebenaran harus tetap harus dia utarakan.

apapun resikonya dia akan menerima konsekuensi tersebut, karena memang sedari awal dia bersalah. pikirnya.

"maafkan Kaa-san Naruto-kun, karena dari awal tidak jujur padamu! mungkin saja jika Kaa-san mengatakan rahasia ini sebelumnya. mungkin situasi nya akan berbeda, dimana kau dan keluargamu akan di pertemukan dengan situasi yang lebih baik. sekali lagi maafkan Kaa-san Naruto, Kaa-san lah yang bersalah atas semua ini"

Naruto tidak tahu harus berekspresi seperti apa lagi mendengar pengakuan ibu angkatnya. dia melihat ibunya saat ini tengah menundukan kepalanya. Naruto juga merasa ibunya tengah menahan tangis terdengar dari suara nya yang bergetar.

meskipun Naruto merasa agak kecewa dengan alasan ibunya. namun Naruto tidak sampai hati mau membenci orang yang telah susah merawatnya selama ini. yah, walaupun bukan orang tua kandungnya tapi dia tidak berbohong jika dia juga menyayangi mereka.

"sudahlah Kaa-san aku mengerti alasanmu! aku tidak sekejam itu sampai akan menyalahkan dan membenci kalian atas masalah ini! karena kalianlah yang telah membesarkanku selama ini! hanya saja aku sedikit kecewa dengan keputusan kalian! tapi selain itu aku tidak menyalahkan kalian kok! jadi cukup jangan menyalahkan dirimu Kaa-san..." Naruto tersenyum lima jari mencoba menengkan sang ibu angkatnya.

Parvati mengangkat kepalanya, dan benar saja kedua mata Parvati terlihat memerah disertai air mata yang menggenang di kelopak matanya.

tapi wajah Naruto kembali murung. "... hanya saja aku bingung bagaimana cara untuk menemui mereka Kaa-san! setelah semua apa yang telah aku lakukan. kupikir mereka tidak akan menerimaku!"

Parvati yang melihat kesedihan Naruto menarik kepala Naruto kedalam pelukannya. kini keadaan berganti Parvati yang justru menenangkan Naruto.

dia tahu, meskipun Naruto kuat hampir setara dengan suaminya. tapi di dalam itu putranya memiliki hati yang sensitif jika menyangkut keluarganya. dia yang merawat dan membesarkan Naruto sedari bayi jelas mengenal sifat luar dalam dari putranya itu.

"tidak Naruto-kun, kau salah! mereka pasti akan menerima dan memaafkanmu! kau pikir orang tua macam apa yang tidak akan mengakui anak mereka, sebesar apapun kesalahanmu pasti selalu ada kesempatan dari orang tua kepada anaknya. dan apa kau lupa aku juga seorang ibu, jadi aku tahu apa yang di rasakan ibumu Naruto-kun! apa kau tidak kasihan pada ibumu yang saat ini tengah sedih memikirkan dirimu Naruto-kun!, jadi aku sangat berharap jika kau mau menemui mereka Naruto!" Parvati berkata lembut sembari mengelus surai anaknya.

"entahlah Kaa-san! aku hanya perlu waktu sebelum aku menemui mereka! jujur saat ini aku masih takut" Naruto terlihat masih nyaman dalam posisi nya.

...

seminggu kemudian.

Underworld

kreek.

"tidak biasanya kau datang keruanganku Ajuka! apa ada sesuatu?" Shirzech bertanya dari balik kursi kebesaran nya.

Ajuka berjalan tenang ke arah Shirzech setelah dia menutup kembali pintu ruangan sahabatnya, lalu duduk di salah satu sofa tunggal yang berada di sudut ruangan tersebut.

"sudah beberapa kali aku mengetuk pintu namun tidak ada sahutan dari mu, makanya aku masuk saja!.." Ajuka bisa melihat Shirzech menghela nafas sesaat, dari gelagatnya sepertinya Shirzech sedang memikirkan sesuatu "...sebenarnya apa kau pikirkan Shirzech, akhir-akhir ini aku melihat kau semakin murung dari hari-kehari?"

Shirzech sekali lagi menghela nafas gusar. dia memutar kursinya dan menatap bangunan-bangunan kota lilith yang berada di bahanya dari balik kaca ruangannya.

"entahlah Ajuka, aku hanya tidak menyangka saja jika kedua orang tuaku merahasiakan semua ini dari ku"

"hm, jika aku jadi kau, pasti aku juga akan sama sepertimu sekarang, siapa juga yang menyangka jika selama ini kau punya saudara selain Rias, apalagi rahasia ini baru di ketahui setelah sekian lama tersimpan rapi..." Ajuka merespon kemudian melanjutkan "...tapi kedua orang tuamu pasti memiliki alasan yang cukup kuat dengan semua ini! entahlah, namun aku yakin keputusan orang tuamu sudah benar"

Shirzech sekali lagi menghela nafas gusar lalu kembali memutar kursinya hingga kembali mengarah ke temannya.

"ya kuharap itu benar Ajuka, tapi kenapa pertemuan itu harus di awali dengan pertempuran!, jika begini aku justru merasa bersalah pada saudaraku itu, apalagi para dewan sepakat menjadikan saudaraku buronan rank sss, bahkan statusnya sekarang di samakan dengan golongan Maou old Satan, dan aku tidak tahu harus menjelaskan bagaimana pada ibu dan ayaku nanti! aku hanya tidak ingin mereka sedih Ajuka" balas Shirzech frustasi.

pasca pertarungan Naruto dan Yondai Maou, beberapa hari kemudian setelah Shirzech pulih dari luka-luka mereka. Shirzech dan ketiga rekan Maounya harus di sibukan dengan rapat yang selenggarakan oleh para dewan iblis, rapat dadakan perihal penyerangan Naruto di Underworld hingga membuat Yondai Maou terluka parah.

para dewan iblis sepakat menjadikan Naruto buronan kelas sss yang mana status Naruto setara dengan golongan Maou old Satan. Bukan tanpa alasan, karena Naruto di anggap aib sekaligus penghianat bagi bangsa iblis itu sendiri. para dewan pikir, bangsa iblis tidak ada yang mengengetahui keberadaan Naruto selama ini ialah karena Naruto sendiri yang tidak ingin menunjukan eksitensinya. apalagi pas kemunculannya, Naruto malah menyerang Yondai Maou hanya karena membela Buronan kelas ss.

sedangkan Shirzech yang sudah mengetahui Naruto adalah Saudara kembarnya dari Lucius dan Venelana berusaha memberi pembelaan pada saudaranya. Shirzech memberi argumen yang berbeda, dia menjelaskan semuanya kepada para dewan, jika Saudaranya di culik oleh oleh orang yang tidak di ketahui sejak dari bayi. dan mungkin saja selama ini Naruto tidak di ketahui karena Naruto sendiri tidak tahu akak keberadaan keluarganya di Underworld.

Argumen Shirzech tersebut justru semakin di ragukan oleh para dewan. mereka menganggap pernyataan Shirzech tidak mendasar, karena jika memang Naruto tidak mengetahui keberadaan keluarga dan kaumnya, kenapa waktu itu Naruto bisa datang ke Underworld, dan pada saat itu juga Naruto datang bersama Gubernur malaikat jatuh yang sudah jelas adalah musuh bangsa iblis, itu sudah membuktikan jika Naruto membenci kaumnya sendiri hingga harus bergabung dengan fraksi lain. dan dengan alasan itu sudah cukup menjatuhkan Shirzech beserta argumennya. karena Shirzech bukan hanya kekurangan suara tapi juga alasannya sungguh tidak masuk akal bagi para dewan.

sedangkan Shirzech yang tidak punya argumen lagi, awalnya sudah mulai percaya dengan spekulasi para dewan yang menurutnya lebih masuk akal. tapi pada akhirnya kembali meragukan hal itu, karena entah kenapa sebagian besar dirinya justru mengatakan jika Naruto saudaranya tidak mungkin menghianati kaumnya terlebih keluarganya sendiri. yah meskipun dirinya tidak mengetahui sifat saudaranya itu seperti apa. hanya saja dia sangat meyakini filingnya, bukannya saudara kembar memiliki ikatan batin yang kuat.

hal itu lah yang membuat nya frustasi akhir-akhir ini. karena dia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan kepada kedua orang tuanya jika anak mereka telah di jadikan buronan oleh para dewan tanpa menyakiti hati mereka. hey, orang tua mana yang akan setuju jika anak mereka di cap sebagai penjahat.

"hah, kenapa susah sekali menyatukan keluargaku? apalagi hari ini kami akan bertemu denganya! bahkan ibuku dari tadi pagi sangat tidak sabar sampai-sampai menyuruh ayahku dan aku untuk tidak bekerja hari ini. aku tidak ingin mengacaukan semuanya, beri aku solusi Ajuka!" Shirzech meremas rambutnya menggukan kedua tangan.

"menurutku kau tidak perlu menghawatirkan hal itu Shirzech!"

"apa maksudmu? kau menyuruhku untuk tidak mengkhawatirkan hal ini, jangan bercanda! kau hanya tidak berada di posisiku saat ini Ajuka" bantah Shirzech nada sarkas terdengar di akhir kalimatnya.

"yah, justru karena kau panik, kau malah tidak bisa berpikir jernih Shirzech"

Shirzech mengangkat sebelah alisnya.

"maksudmu?" tanya Shirzech bingung.

"maksudku, apa kau tidak ingat beberapa waktu lalu saat pertarungan yang kita lakukan dengan saudaramu itu, tepatnya di saat kita hampir terbunuh waktu itu jika saja tidak di hentikan oleh seseorang! kalau kau masih ingat jelas kau tau siapa sosok itu kan?"

"Shiva-dono kan? tapi apa hubungan nya dengan masalah ini? kau lagi tidak sedang memikirkan untuk menjadikan dia tersangka juga kan!"

Ajuka menghela nafas sesaat, tiba-tiba merasa pening dengan pemikiran sahabatnya.

"tentu saja tidak bodoh!"

"terus, maksudmu?"

"hah, menurutku kau tidak perlu memikirkannya! karena meskipun waktu itu kondisi kita hampir sekarat tapi aku yakin kau masih bisa mendengar jika saudaramu memanggil Shiva-dono dengan sebutan sensei kan! tentu saja selain itu juga mau apa Shiva-dono repot-repot menghentikan saudaramu jika mereka berdua tidak memiliki hubungan yang cukup akrab. jadi kesimpulannya meskipun Saudaramu itu di jadikan Buronan paling berbahaya sekalipun tidak akan berpengaruh padanya sebab aku yakin pasti saudaramu itu merupakan bagian dari fraksi hindu saat ini dilihat dari hubungan keduanya! dan fraksi iblis jelas akan berpikir matang-matang untuk memburunya jika tidak mau bermasalah dengan fraksi hindu!, dan ingatlah meskipun kaum kita lebih banyak tidak menutup kemungkinan kita akan menang dari fraksi Hindu yang mana 2 dewa di didalamnya menduduki peringkat 3 dan 4 di dunia ini sebagai makluk terkuat!, ya bisa saja kita tetap bersikukuh memburu saudara mu jika kita sudah siap menanggung resikonya..." jelas Ajuka panjang lebar. "... apalagi ditambah dengan kekuatan yang dimiliki saudara mu itu, aku tidak menyangka ada iblis yang memiliki kekuatan sebesar itu hingga hampir menghilangkan nyawa kita, membayangkannya aku jadi sedikit takut!" lanjut Ajuka sedikit menggigil ketakutan ketika mengingat kejadian beberapa hari lalu.

Shirzech terkejut mendengar penjelasan dari ajuka.

"hmm, kenapa aku tidak memikirkannya ya? kau benar Ajuka aku juga mulai percaya dengan hal itu. pasti saudaraku itu sekarang bagian dari Fraksi hindu! dan kenapa hal ini tidak aku jadikan senjata saja untuk membalas tuntutan para dewan sialan itu!, pasti para dewan itu akan menarik tuntutan mereka, tentu saja para dewan, tidak, tentu kita bangsa iblis akan berpikir puluhan kali jika ingin berperang dengan fraksi sekuat fraksi Hindu..." raut wajah Shirzech mulai menunjukan kelegaan yang luar biasa, tapi kemudian tubuhnya seketik menggigil "... iya, entah dari mana dia mendapat kekuatan sedasyat itu, sungguh power of destruction nya bahkan jauh melebihi milikku"

"sekali lagi, kepanikan lah yang membuat akal mu tidak berjalan Shirzech!" ujar Ajuka sarkatis berhasil memunculkan kedutan di dahi Shirzech.

twitch

"apa maksudmu hah? kau menganggap aku tidak bisa berpikir?" tanya Shirzech emosi.

Ajuka menghela nafas sesaat.

"apa lagi. tapi lupakan itu bukannya kau ada janji dengan keluargamu untuk bertemu saudara mu Shirzech! kuharap kau tidak membuat orang tuamu menunggu terlebih ibumu!"

Shirzech terkejut dan melihat jam tangannya yang menunjukan sedikit lagi jam 12.

"aku lupa. maaf Ajuka! kurasa sampai disini saja pertemuan kita, aku tidak ingin mendapat omelan Kaa-san!"

Shirzech tanpa menyelesaikan dokumennya langsung menghilang dengan lingkaran sihirnya. Ajuka pun kembali menghela nafas sesaat melihat kecerobohan sahabatnya.

"hah, dia tidak pernah berubah! semoga saja saudaranya tidak seperti dia!"

...

sedangkan di rumah Naruto nampak sang empunya tengah makan di sofa panjang ruang tamu rumahnya sembari menikmati ramen dengan pandangan mengarah ke tv di depannya. Kuroka yang telah kembali seperti sedia kala terlihat juga sedang menyantap ramen buatan nya di samping Naruto.

ting ting ting.

"biar aku saja Kuroka! kau siapkan saja minuman untuk tamu kita!" Naruto menahan Kuroka ketika mau berdiri menyambut tamu yang menekan bel rumahnya.

Kuroka mengangguk kemudian melangkahkan kakinya ke dapur mengikuti perintah Naruto tak lupa membawa cup ramen miliknya yang belum sempat di habiskan.

sedangkan Naruto setelah meletakan ramennya di meja, Naruto langsung berjalan berlawanan dengan Kuroka, melangkah ke arah pintu masuk.

"ya tunggu sebentar..."

kreek

"iya, siap..."

pluuk

Naruto tidak sempat menyelesaikan pertanyaannya seketika terkejut karena seseorang langsung memeluk erat dirinya.

"hikss.. akhirnya setelah sekian lama Kaa-san bisa bertemu dengan mu nak! hikss. sungguh Kaa-san sangat merindukanmu!" Venelana terisak bahagia tengah memeluk Naruto anaknya. bahkan air matanya sampai membasahi baju Naruto saking banyaknya. tidak ada yang bisa menggambarkan betapa bahagianya Venelana saat ini.

"Ka-kaa-san!"

akibat tidak bertemu bertahun-tahun membuat Naruto tidak tahu tahu harus merespom dengan apa. akibatnya cuma kata 'kaa-san' lah yang keluar dari mulutnya. namun tidak bisa di pungkiri jika hati nya merasakan kehangatan yang belum pernah dia rasakan selama ini. lambat laun tanpa sadar tangannya ikut terangkat hingga membalas pelukan ibunya.

sedangkan Lucius, Shirzech, Grayfia serta Rias yang berdiri di belakang Venelana hanya bisa tersenyum bahagia melihat adegan di depan mata mereka. tidak menyangka dengan takdir tuhan yang kembali menyatukan keluarga mereka.

terlebih Lucius meskipun dia juga sangat ingin memeluk putra pertamanya. namun dia lebih mengurungkan niatnya karena dia tahu, dibanding keinginannya itu, kerinduan istrinya lebih besar. bahkan dia tidak bisa menahan air mata bahagia yang mulai menetes dari kedua matanya.

"errr, maaf mengganggu, tapi bisakah Onii-sama membiarkan kita masuk dulu, malu di lihat orang-orang soalnya"

Rias dengan sifatnya langsung merusak suasana. yang secara otomatis langsung mendapat tatapan tajam dari Lucius dan Shirzech. Rias hanya membalas tatapan itu dengan mata yang menyiratkan 'apa aku melakukan sesuatu'

benar sih apa yang di katakan Rias, buktinya setiap orang yang melewati depan rumah Naruto menatap ke arah mereka dengan tatapan aneh. tapi lihat situasi nya juga dong. dasar Rias.

Naruto langsung tersadar, dan mencoba melepaskan pelukan sang bunda secara perlahan. tapi semakin Naruto mencoba melepaskannya, pelukan Venelana justru semakin menguat. seolah Venelana berpikir jika pelukan ini terlepas Putranya akan kembali meninggalkannya.

"ano, Kaa-san bisakah kau melepaskan dulu pelukanmu! kau membuat kita jadi bahan tontonan!" Naruto berkata ragu-ragu plus canggung. entah kenapa di depan rumah Naruto orang-orang pejalan kaki justru menghentikan langkah mereka dan lebih memilih menoton adegan drama di depan mereka.

Lucius, Shirzech, Grayfia, serta Rias kembali Sweatdroop setelah mendengar perkataan Naruto.

'tidak berbeda jauh dengan Ria-tan/ku'

Venelana meskipun enggang, tapi dia pada akhirnya mau melepaskan pelukannya dari Naruto. wajahnya sedikit menunjukan kekecewaan.

Namun Naruto bisa melihat jelas raut wajah ibunya itu.

"tenang saja! Kaa-san bisa memelukku jika sudah sampai di dalam!" kata Naruto tersenyum lima jari sampai kedua matanya tertutup.

senyuman Naruto memberi dampak yang cukup besar bagi Rias dan Grayfia. keduanya seakan terhipnotis akan senyuman menawan milik Naruto.

'aku tidak menyangka jika Nii-sama ku memiliki senyuman yang sangat menawan''batin Rias

senyumannya sangat indah" batin Grayfia

meskipun Naruto dan Shirzech kembar identik. namun tidak semua bentuk fisik mereka sama. meski hanya beberapa tapi tetap ada perbedaan di antara kedua kakak beradik itu. secara garis besar, Sirzech memiliki Iris Blue green sedangkan Naruto Biru saphire dan dari segi senyuman, Shirzech turunan dari sang ayah sedangkan Naruto memiliki senyuman dari Venelana sang ibu. sehingga membuat siapa saja wanita yang melihat senyuman Naruto akan terpesona, di tambah lagi Naruto seakan memiliki kharisma serta aura yang begitu kuat memancar dari tubuhnya. tidak melebih-lebihkan tapi itulah kenyataannya.

...

disinilah mereka berada, di ruangan tempat Naruto dan Kuroka manikmati ramen sebelumnya. dimana Naruto duduk di sofa panjang yang dia gunakan tadi dengan Venana di sampingnya yang masih terlihat tidak mau pisah darinya. Lucius juga duduk di samping Naruto sehingga Naruto saat ini duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya. Rias dan Grayfia duduk di sofa tunggal saling berhadapan, sedangkan Sirzech duduk di depan Naruto.

"lihat kau sudah besar nak, kau telah jadi pria yang tampan! maafkan Kaa-san yang tidak bisa melihat tumbuh kembang mu!"

"tidak usah minta maaf Kaa-san. ini semua bukan salah kalian!..." Naruto mencoba menghibur Venelana yang dari tadi terus saja menyalahkan dirinya. kemudian berdiri "...seharusnya aku yang minta maaf padamu Shirzech, karena aku waktu itu hampir saja mencelakaimu" lanjut Naruto sembari membungkuk.

Shirzech terlihat gelagapan mendapat maaf dari Naruto.

"tidak usah dipikirkan Nii-sama! kau hanya tidak mengetahuinya! lagipula aku juga sudah melupakannya..." Shirzech merespon dengan senyuman "...tapi justru akulah yang harus disalahkan karena tidak bisa membebaskan mu dari tuntutan yang di jatuhkan para dewan iblis"

Lucius dan Venelana terkejut.

"maksudmu Sirzech?"

"yah, para dewan telah menyepakati bahwa Nii-sama dijadikan tersangka utama dalam kejadian beberapa waktu lalu, dan status nya di samakan dengan golongan Maou old Satan, aku sempat menolak vonis itu dengan mengatakan yang sebenarnya, tapi argumen ku malah digunakan untuk menyerangku, para dewan berpendapat jika Nii-sama adalah penghianat yang tidak ingin menjadi bagian dari Fraksi Iblis sehingga membela seorang Buronan!, meskipun aku membantahnya tapi selain karena aku kalah suara argumenku juga tidak cukup kuat!"

Lucius dan Venelana terlihat sangat sedih mendengarnya. kenapa di saat keluarga mereka telah di persatukan kembali, ada saja masalah yang akan menghalanginya.

Naruto yang melihat kesedihan diwajah keluarganya, menghela nafas sesaat kemudian tersenyum.

"aku tak masalah dengan itu!..." semua mata memandang bingung ke arah Naruto "...yah, selama untuk melindungi keluarga ku aku tidak perduli walapun seluruh dunia memburuku..."

"...Kuroka keluarlah, kau tidak perlu bersembunyi seperti itu, keluargaku tidak akan menyakitimu!" sambung Naruto sedikit berteriak memanggil Kuroka yang tengah bersembunyi dibalik tembok dapur rumahnya.

dengan ragu-ragu Kuroka menampakan tubuhnya dari balik tembok, wajahnya terlihat sangat takut ketika keluarga Gremory terkecuali Naruto memandang dirinya datar. tapi melihat senyuman Naruto yang terlihat menenangkan Kuroka memberanikan dirinya untuk melangkah sambil membawa nampan.

Rias dan Grayfia yang terlihat seperti gelagat ingin menyerang, langsung di beri isyarat oleh sang Ayah agar mengurungkan niatnya, hingga di beri anggukan keduanya.

"kenapa kau lama sekali Kuroka? kasian tamu kita kalau dibiarkan menunggu tanpa hidangan!" Naruto masih dengan senyum menawan miliknya sedikit bercanda, karena dia merasa suasana sedikit memanas. kedua pipi Kuroka sedikit merona.

"ma-maaf Naruto-kun, silahkan di nikmati tuan-Nyonya!" Kuroka menaruh minuman dan sepiring cemilan itu di mejah tengah-tengah mereka, lalu berbalik berdiri di belakang Naruto.

"Nii-sama, apa tidak apa-apa dia ada sini?" tanya Rias melihat Kuroka dengan tatapan menyelidik.

Naruto masih dengan senyuman nya merespon gelengan pada adik perempuannya. Rias pun kembali merona dibuatnya.

'apaan ini? aku tidak mungkin menyukai kakakku sendirikan? tapi kenapa senyumannya sangat indah?' batin Rias malu-malu. tidak mengerti apa yang dia rasakan, beruntung tidak ada yang menyadarinya.

"tidak apa-apa Imouto!"

"tapi dia telah membunuh majikannya sendiri Naruto-kun! Kaa-san takut jika hal yang sama terjadi padamu! Kaa-san tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada Kaa-san jika kehilanganmu untuk kedua kalinya" Venelana menimpali, kecemasan tersirat jelas dari wajahnya. Kuroka terlihat menunduk mendengarnya, dia merasa tengah di pojokan saat ini.

"um, kau tidak perlu khawatir Kaa-san, Kuroka tidak mungkin melakukan hal itu padaku! lagipula aku tidak merasakan ancaman darinya, lagipula dia terpaksa melakukan hal itu karena berusaha melindungi adiknya.." Naruto menatap sekilas Kuroka "...aku juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisinya"

Kuroka mengangkat kepalanya, relung hatinya tak dapat dia pungkiri merasakan kehangatan yang luar biasa menyenagkan karena mendapat pembelaan dari Naruto.

'Naruto-kun, aku merasa telah jatuh cinta lagi padamu, terima kasih Naruto-kun' Kuroka terharu.

"tapi tetap saja Kaa-san khawatir padamu! oleh karena itu Kaa-san telah memutuskan mulai saat ini akan tinggal bersamamu di rumah ini!"

semuanya langsung terkejut mendengarnya.

"Venelana apa maksudmu? kau sedang tidak lagi bercanda kan?" tanya Lucius.

"aku tidak bercanda anata! kau harus nya mengerti dengan persaanku! selama ini aku telah kehilangan kita, aku tidak ada diposisinya saat dia berada dalan kesulitan! jadi aku memutuskan mulai saat ini aku akan tinggal bersamanya!" Venelana dengan nada mutlaknya tidak ingin di bantah.

"aku mengerti perasaan mu Venelana, karena aku juga adalah seorang ayah! tapi untuk tinggal di dunia manusia, itu adalah keputusan yang sulit! tentu kau tidak ingin terjadi kehebongan di Underworld kan?, lagipula kita bisa sering mengunjungi anak kita tanpa perlu tinggal di sini" Lucius berusaha mencoba merubah keputusan istrinya.

Venelana menggeleng cepat.

"selama aku bisa selalu dekat dengan anakku, aku tidak perduli dengan itu! dan kalau kau tidak setuju, kau bisa pergi Lucius-kun, tapi biarkan aku tetap di sini!"

"Tou-san benar Kaa-san! aku tidak perlu menghawatirkanku! aku akan baik-baik saja di sini! lagipula saat ini aku adalah buronan bagi bangsa iblis! aku tidak ingin kalian terlibat dalam masalahku!" Naruto mencoba membatu sang ayah.

Venelana terlihat sangat sedih mendengar perkataan Naruto, Venelana merasa seolah Naruto tidak ingin tinggal bersamanya. mungkin saja anaknya itu masih marah padanya karena beberapa hari lalu dia sempat menyerang dan memaki Naruto.

sedangkan Sirzech yang melihat kesedihan terpampang jelas di wajah ibunya ingin mengambil inisiatif.

"biarkan Kaa-sama tinggak di sini Tou-san, Nii-san, tenang saja biar masalah di Underworld aku yang akan mengurus semuanya, kali ini aku tidak akan mengecewakan kalian!" Sirzech berkata. Shirzech merasa dia perlu memperbaiki hubungan keluarganya.

"benarkah! terima kasih Sirzech-kun!" Venelana berujar, mendapat anggukan dari Sirzech.

tak lama muncul lingkaran sihir di samping mereka dan memuntahkan Shiva sang sensei Naruto. semua pun menengok.

"areee! ternyata kalian sudah datang duluan!"

"Shiva-dono/Sensei!"

Shiva kemudian mengambil tempat duduk di samping Shirzech, Kuroka kembali kedapur untuk menyiapkan minuman untuk Shiva.

"baiklah, sebelum aku menjelaskan semuanya! aku ingin mengatakan padamu Sirzech, kalau para dewan iblis tetap bersikukuh memburu Naruto! maka bersiaplah karena kalian telah mengibarkan bendera perang dengn mitologi Hindu! Naruto bukan hanya bagian dari kami! tapi juga Naruto adalah keluarga kami. yang berarti Naruto sudah bukan bagian dari bangsa iblis!" Shiva berkata datar.

Gleek

benar kan apa yang di prediksikan!. tapi dari mana Shiva bisa mengetahui hal ini. bukannya informasi ini belum sampai padanya.

"kau tidak usah bingung seperti itu Shirzech! aku sudah hidup lebih lama dari kalian semua yang ada di sini! jadi walaupun hanya mengandalkan instingku! aku sudah tahu jika Naruto cepat atau lambat pasti akan dijadikn Buronan oleh kalian!"

'sungguh kemampuan seorang Dewa terlebih Shiva-dono memang tidak bisa di remehkan' batin Shirzech.

"baiklah, aku akan berusaha meyakinkan Para dewan agar mau menghapus status tersebut. lagipula dia adalah Nii-samaku!" Sirzech merespon. kali ini dia telah berjanji pada dirinya akan membebaskan Onii-samanya dari tuntutan.

pada akhirnya Shiva mulai menjelaskan semuanya pada mereka, dari A hingga Z tidak ada yang terlewatkan. yang ternyata terkuak lah fakta baru jika yang menculik Naruto waktu itu adalah ayah dari Grayfia sendiri, dengan perintah yang di beri langsung oleh Rizevim yang waktu itu masih menjabat sebagai Lucifer.

Grayfia merasa bersalah, karena ayahnya ikut andil dalam masalah tersebut. tapi Shiva meyakinkannya jika mendiang Ayahnya tidak harus di salahkan atas penculikan Naruto, justru karena pengorbanan Ayahnya lah Naruto masih hidup sampai sekarang. jadi secara tidak langsung keluarga Gremory berhutang nyawa pada Grayfia.

justru yang harus di salahkan ialah Rizevim, karena dialah dalang dari semua ini.

tanpa di sadari yang lain, muncul dendam yang sangat besar dalam diri Grayfia. Rizevim harus bertanggung jawab atas kematian Ayahnya. yah, dia harus membayarnya.

...

sementara itu di tempar lain.

"Cao cao, bagaimana apakah semua pasukan kita sudah siap? tanya seorang pria yang duduk di sebuah singgasana.

"pasukan semua sudah siap Indra-dono, tinggal menunggu komando dari anda kita akan bersiap menyerang Kyoto!" Cao Cao menjawab sambil berlutut hormat pada Indra atau Sakra.

"hahahaha, kau memang bisa di andalkan Cao Cao. baiklah sebulan dari sekarang kita akan menyerang Kyoto" balas Indra di beri anggukan Cao Cao, kemudian saat Cao Cao akan pergi Indra kembali menahannya.

"ingat Cao cao, kalau kau bertemu seorang iblis berambut merah yang mirip Lucifer masa kini, sebisa mungkin menjauhlah, tapi kalau terpaksa bertemu jangan katakan rencana kita dan bersikaplah seolah kau tidak mengenalku!" Sakra berkata serius.

"emang ada apa dengan orang itu Indra-dono? kalau dia mengganggu rencana kita, kan tinggal di bunuh saja.." Cao cao bingung "... lagipula kenapa kau tidak ingin dia mengetahui jika kau dan aku saling mengenal?"

"kau tidak akan mampu mengalahkannya Cao cao sekalipun kau dan semua anggotamu bersama-sama melawannya, bahkan dia!.." ujar Indra kemudian menghela nafas gusar dan membatin 'lagipula dia pasti akan menghajarku jika tahu aku akan menyerang kyoto'

Cao cao terkejut sekaligus heran. Indra tuannya yang menduduki peringkat 4 s.

"sudah, sudah, kau tidak perlu tahu siapa itu Cao cao, yang perlu kau lakukan hanyalah mengikuti apa yang aku perintahkan, menegerti?!" lanjut Indra. Cao cao mengangguk mengerti. tidak ingin bertanya lagi, lagi pula cepat atau lambat dia akan mengetahuinya.

tbc


sori kalo chapter ini terlihat di paksakan. soalnya saya buatnya ngebut di hari minggu kemarin. maaf juga atas keterlambatan saya. soalnya saya juga ada kesibukan lain di dunia nyata.dan maksih untuk masukan dari kalian semua, itu sangat membantu, yah meskipun ada beberapa flame yang kurang baik dari sebagian reader. tapi saya anggap itu juga masukan yang sangat bermanfaat.untuk penyampaian bahasanya, maaf kalo kurang dimengerti. soalnya di daerah saya, saya tidak menggunakan bahasa indonesia baku sebagai bahasa sehari-hari saya.untuk chapter ini Naruto telah bersatu dengan keluarganya. ets, naruto juga masih punya keluarga lain lagi dari golorongan manusia. tenang aja keluarga Naruto itu aku buat tidak punya kekuatan, alias manusia tulen. dan akan muncul nanti.Naruto juga sampai tamat cerita ini tidak akan bergabung dengan bangsa iblis.sekian itu aja.

dan untuk pair. tidak ada incest antara naruto dan ibunya ya

see you next Chapter