Halo, selamat sore guys...

Ada yang nunggu?

Terimakasih jika masih sudi menunggu... Terimakasih juga untuk yang sudah memberikan dukungan...

Semoga semuanya diberikan nikmat sehat dan segala urusannya dipermudah...

Warning : Typo, gaje, rancu, dedek emes jangan mampir dulu, yang lagi sibuk(ujian, belajar, latihan, kerja) jangan baca dulu.

.

.

.

HAPPY READING

.

.


.

.

.

Kyaaaaaaaaaa

"HINATA!"

.

.

.

Sakura merasa pinggangnya panas. Tim medis sejak tadi masih berada disekitar kamar untuk memantau keadaannya. Sakura tidak menyangka jika kandungannya akan selemah ini. Perutnya beberapa kali kontraksi ringan. Bahkan saat Sasuke menggendongnya dari kolam, sempat terlihat rembesan darah pada gaunnya. Meski ternyata hanya pendarahan ringan, seisi istana ribut seketika.

Jelas saja, saat itu Sakura dan Hinata ada didepan umum, berdekatan tepat dipinggir kolam. Jika yang semua orang tahu harem bunga sangat akur, tidak bagi anggota inti istana. Terutama bagi Hinata—selir kesayangan Sasuke dan Sakura yang sejak awal seorang permaisuri. Lebih tepatnya, fraksi Sakura tidak akan terima jika ia lengser. Dan jatuhnya Sakura ke kolam tepat dihadapan Hinata akan membuat mereka murka.

Hinata akan dituduh mengancam bayi permaisuri. Hukum harem tidak akan melewatkan begitu saja sekalipun Sasuke ikut campur. Bahkan keluarga terhormat sekelas Hyuga belum cukup untuk menghadapi ibu suri dan Haruno.

Dalam tidurnya, Sakura masih bisa mendengar suara sayup-sayup dalam kamarnya, mungkin Tsunade dan seseorang yang baru saja datang—Sasuke.

"Bagaimana dengan Permaisuri?"

"Beliau baru saja tertidur, Baginda. Tidak apa-apa. Darah tadi memang pendarahan ringan, tapi jangan disepelekan."

"Baik, kau boleh pergi, biarkan para perawat berjaga di area luar."

"Baik. Kalau begitu saya permisi, Baginda."

Sasuke menghampiri Sakura yang sedang tertidur. Tidak pulas, tapi dia tahu Sakura ingin beristirahat tanpa gangguan. Ia mengelus perut Sakura hati-hati. Sangat lembut, seolah bayinya akan kembali terguncang jika ditekan sedikit saja. Bayinya dengan Sakura dalam bahaya sekali lagi.

"Ayah tahu kau kuat. Kau mungkin sedang lemas saat ini. Tidurlah! Tapi hanya sementara." Sasuke bergumam didepan perut istrinya. Sedikitnya, ia merasa lega anaknya masih bisa bertahan.

Perlahan kernyitan Sakura berkurang, terganti dengan tidur pulas. Sasuke mengecup singkat keningnya.

Kemudian berdiri untuk pergi ke Kastil Lavender. Sejak tadi ia bolak balik untuk melihat keadaan kedua istrinya. Tidak seperti Sakura, Hinata jauh lebih memprihatinkan biarpun tidak terluka sama sekali. Sebenarnya, ada apa ini?

Hinata kekeh mengaku tidak mendorong Sakura, sedangkan dirinya berada tepat saat itu untuk menjemput Sakura dan Hinata. Mau dikatakan salah lihat pun, nyatanya semua orang disekitar juga menjadi saksi.

Ibunya bahkan sudah akan memasukannya ke penjara bawah tanah tanpa sidang lagi. Jika saja dirinya dan fraksi Hinata tidak mencegah dengan mempertimbangkan kehamilannya.

Saat ini pun, Sasuke harus ekstra ketat menjaga kediaman Hinata dengan orangnya sendiri. Jika tidak, bukan tidak mungkin fraksi Sakura akan berbuat nekat atas keputusan sepihaknya. Biar dia sendiri yang mengatur hukuman untuk istri-istrinya.

.

.

.

.

.

"Saya bersumpah, Baginda. Permaisuri menceburkan diri untuk memfitnah saya." Tangan Hinata gemetar karena tuduhan yang mengarah padanya.

Sasuke berdiri dengan membelakangi Hinata yang berada ditengah ranjang. Pandangannya lurus keluar jendela yang menampilkan pemandangan taman lavender.

"Apa—Anda juga masih tidak percaya?" Mukanya sembab, dan hatinya belum juga bisa tenang. Apalagi Sasuke yang tidak menunjukkan memberi sedikit kepercayaan.

Hinata menempelkan wajahnya dengan lutut. Percuma. Sasuke datang tepat saat Sakura masuk kolam. Sakura tepat didepannya sedangkan Sasuke datang dari arah belakang. Sialnya lagi, saat itu tangannya sedang menunjuk ke arah Sakura.

"Apa yang akan terjadi?" Hinata berkata lirih. Dia ketakutan. Dia tidak suka dikucilkan.

"Baginda, setidaknya katakan sesuatu!" Hinata putus asa. Ia tidak tahu apa yang Sasuke pikirkan. Dan ia tidak tahu akan seperti apa nasibnya ke depan.

Sasuke mengambil nafas lelah, ia tidak punya keputusan untuk saat ini. Ia tidak mungkin tega menghukum Hinata, tapi tak enak hati pada Sakura. Ia mencintai Hinata, tapi lebih menyayangi Sakura. Ketika dihadapkan dengan pilihan seperti ini, ia buntu. Dia melihat Hinata mendorong Sakura. Sekuat tenaga Hinata mengatakan difitnah, ingatan terakhirnya tetap tertuju pada teriakan Sakura yang tercebur.

Sasuke berbalik. Menghampiri Hinata yang kuyu. Jauh dari kebiasaan yang selalu tampil cantik dan menyenangkannya. Tubuhnya seolah layu karena ketakutan. Ia memang tak percaya wanita sepolos Hinata bisa melakukan hal tercela, ah itu jika saja pikirannya tidak kembali pada Sakura.

Sasuke memeluk Hinata lembut. Memberi ketenangan dalam pelukannya. Ia belum bisa menentukan tapi bayinya dengan Hinata juga tidak boleh stress karena kondisi ibunya. Ia tidak akan suka jika pada akhirnya semua tidak dalam jalurnya.

"Aku melihatmu. Sebesar apapun kau membantah, aku melihatmu. Namun, aku tidak suka kau menangis. Jadi, jangan dipikirkan. Aku akan sangat marah jika bayi kita juga celaka. Tidurlah!"

Hinata tidak terima, tapi nada tegas Sasuke sedang tidak ingin dibantah. Ia hanya membalas pelukan Sasuke tak kalah erat. Perutnya bersentuhan dengan perut Sasuke. Dia hanya bisa menangis meminta perlindungan. Dan Hinata tahu Sasuke tidak akan membiarkan begitu saja.

Keadaan Sakura sudah lebih baik setelah istirahat semalaman. Kali ini, Sasuke tidak memaksa menjaga dirinya. Itu lebih baik. Namun, sebagai gantinya justru pria itu datang di sore seperti ini.

Seharian penuh Sakura bosan karena tidak diperbolehkan untuk menyentuh pekerjaannya. Mood-nya sangat jelek, lebih kacau lagi ketika melihat gelagat Sasuke. Ditambah sepertinya dia datang memang punya maksud.

"Salam, Baginda!" Sakura menunduk singkat sebagai formalitas. Ia sudah akan berdiri sebelumnya, namun tidak jadi karena Sasuke memberi kode untuk tidak melakukannya.

"Bagaimana keadaan, Permaisuri?" Sasuke duduk ditepi ranjang bersebelahan dengan Sakura.

"Dia baik-baik saja."

Sasuke terdiam, ia tahu siapa yang dimaksud 'dia' karena mata emerald itu bergulir ke arah perutnya sendiri.

Setelah mengikuti arah pandang Sakura, Sasuke mendongak menatap permaisurinya. "Sepertinya ibunya juga sudah sehat."

"Begitulah." Sakura mengalihkan pandangan. 'Apanya yang ibunya?'

"Aku ingin kejujuranmu! Apakah Permaisuri benar-benar didorong?" Sasuke menatap Sakura lekat. Membaca gesture yang akan ditampilkan istri sahnya.

"Apa yang Anda lihat?" Sakura masih menolak menghadap Sasuke yang sedang menghakimi.

"Apakah kamu bersumpah?" Bibir Sasuke terasa getir, ia sudah tahu jawabannya.

"Aku bersumpah."

Sasuke menunduk, untuk apa Sakura bermain-main dengan kebohongan? Dia semakin dibingungkan. Jadi, Hinata tidak bersalah, tapi Sakura pelakunya.

"Tega sekali dirimu." Sasuke berkata lirih.

"Tindakanmu sangat membahayakan—"

"Bayi bungsu Anda?" Potong Sakura cepat. Memang tidak sopan, tapi Sakura tidak tahan. Dia tahu, pada akhirnya Sasuke tahu tujuannya.

Sasuke menggeleng. "Bahkan dirimu sendiri."

"Aku bukan orang lemah yang tidak bisa berenang."

"Ya!" Bentak Sasuke spontan. "Bukan kamu, tapi bayiku, puas!"

Sakura bergeming. Tidak menyangka pria kaku dan dingin yang dulu memvonis tak akan memberinya keturunan, begitu peduli pada bayi yang tumbuh dirahimnya.

"Hargai sedikit saja keberadaannya!"

Sakura menolak. Tentu saja. Tidak akan ada yang baik-baik saja ketika ia tidak tahu apa jenis kelaminnya. Anak ini harus menjadi perempuan jika ingin perhatiannya.

"Kau pikir, kau cerdas? Aku tidak bisa dibohongi." Tekan Sasuke tegas.

Sakura berbalik memandang Sasuke dingin. "Lantas, apa? Mengatakan pada publik jika saya memfitnah Selir Agung? Silakan! Jika Anda perlu saksi, saya dengan senang hati akan maju."

"Kau mengancamku?"

Sakura mengernyit bingung. "Untuk?"

"Belum selesai masalah sidangmu, kau kembali berulah, memfitnah orang lain tidak lebih baik dari membunuh. Hukumanmu seharusnya berlipat ganda." Mata Sasuke memerah. Dia sakit hati. Sakura benar-benar menyerangnya secara halus. "Dan itu masih diluar kenyataan bahwa kau punya aib menjijikan."

Sakura mengepalkan tangannya kuat. 'Aku sudah kebal. Aku sudah kebal.'

"Kau pikir, pemberontakan kecilmu ini bisa menggoyahkanku?" Sasuke menggeleng. "Tidak, Sakura." 'Kau akan semakin ku cekal.' "Kau gagal lagi."

"Lihat! Siapa disini yang justru mengancam?" Sakura membuang nafas karena terpancing emosi.

"Dan. Kenapa kau memilih Hinata sebagai target?" Sasuke mulai merasa khawatir Sakura akan hilang kontrol. Dengan kondisi bayinya yang mungkin akan stress.

"Dia pantas." Sakura menjawab tegas.

"Jangan mengucilkan orang lain seperti itu! Apalagi hanya karena dia dibawa langsung oleh diriku." Sasuke kesal bukan main.

"Apakah hanya saya, Baginda?" Sakura menyorot Sasuke lebih tajam.

"Baiklah. Tidak hanya dirimu. Karin dan Ino juga yang selalu memberikan tatapan sinis. Ibu Suri bahkan berani mengganggu kandungannya. Itu semua karena kamu!" Tuding Sasuke. "Mereka pikir, kau layak untuk jadi penopang? Tidak, kau bahkan tidak selayak itu."

Sakura tersenyum miring." Jadi, intinya, Baginda?"

"Sial! Kau menjebakku!" Sasuke memutar tubuh dari Sakura, menutup mukanya beberapa kali.

"Katakan jika yang kemarin adalah kecelakaan!"

Sakura lagi lagi tersenyum mencemooh. "Hanya dua pilihan, Baginda. Saya bersaksi sebagai korban atau sebagai penjahat. Diluar itu, bukan area saya."

"Permaisuri!" Bentak Sasuke tajam.

"Anda yang buta atau bagaimana? Anda bilang Selir Agung dikucilkan? Karena apa dan siapa? Saya? Lucu sekali." Sakura membuang muka. Inilah yang membuatnya tak menyukai berdekatan dengan Sasuke. Melelahkan.

"Kau!" Kecam Sasuke kelu.

Sasuke membuang muka kasar. Kepalanya berdenyut nyeri. Entah kata apa lagi yang akan memengaruhi Sakura. Sayangnya, seolah Sakura tidak perduli dengan semua ancamannya, hingga dirinya sendiri lah yang merasa kalah telak.

Sakura dan Sasuke hanya saling diam bahkan ketika malam datang. Sasuke sibuk dengan pekerjaannya yang dibawa dan Sakura yang hanya berguling diranjang dengan novel ditangannya.

Bahkan, ketika makan malam datang pun, keduanya hanya makan dengan tenang hingga selesai tanpa lagi membuka suara.

Salahkan rasa benci Sakura yang semakin bercokol kuat terhadap Sasuke. Dan Sasuke yang ternyata harus menelan kecewa yang amat mendalam, tapi masih tak ingin melepaskan Sakura begitu saja. Hubungan satu arah seperti ini memang sudah berlaku sejak kedok Sakura terbongkar.

Sasuke memilih kembali berkutat pada pekerjaannya disalah satu meja yang berada ditengah ruangan.

Begitu pun dengan Sakura yang tidak perlu repot-repot mencairkan suasana kaku diantara mereka. Ia kembali berbaring, karena hari ini masih harus bedrest. Membaca novel sambil bersantai sangat menyenangkan.

Sasuke mengambil novel ditangan Sakura ketika malam semakin larut. Meletakkan di meja nakas agar Sakura mudah menemukannya.

Namun, bukan itu yang membuat Sakura panik. Sasuke tanpa tendeng aling mengunci tubuhnya. Mengecup perpotongan lehernya yang ia rasa sangat sensitif.

"Ba—baginda—"

Sakura berusaha menjauhkan mulut dingin Sasuke. Tidak, sekali pun tubuhnya merespon, ia tidak mau melakukan kewajibannya sebagai permaisuri raja.

"Sa—ya...ah...tidak terima penghinaan ini?" Sakura tidak bermaksud mendesah, tapi ia memang sulit mengendalikan gerakan Sasuke yang liar.

"Penghinaan?" Sasuke bertindak semakin kasar. Gaun tidur putih Sakura dirobek paksa. "Kau bahkan mengkhianatiku." Dan seiring ingatan tentang ciuman Gaara dan Sakura, Sasuke kalap.

Plakkk

Sasuke memandang dingin Sakura. Tanpa emosi. Tamparan seperti ini tidak memengaruhinya. Terlalu lemah.

Tubuh Sakura sudah telanjang bulat, ketika tangan mungilnya memang sejak awal ingin menampar Sasuke. Jadi, ia tidak menyia-nyiakan waktu ketika ada kesempatan.

Sasuke mengambil tangan berdosa itu dengan lembut. Menahan keduanya menggunakan satu tangan kekarnya diatas kepala. Sakura salah jika Sasuke akan seperti tersadar dengan pemberontakannya. Tidak. Kali ini dia tidak merasa simpati.

"Baginda!" Teriak Sakura tidak terima.

Paha kirinya ditahan tubuh Sasuke, sedang kaki kanannya diangkat diatas bahu Sasuke. Pinggangnya diganjal bantal tinggi. Lengkap sudah penderitaannya. Sasuke semakin mudah memainkan areanya yang paling sensitif. Dan pria itu tak cukup hanya bermain di satu tempat. Membuat tubuhnya semakin menggelinjang hebat.

Sasuke tahu Sakura menahan desahannya, namun ia pun tak akan menyerah. Sadar atau tidak, justru desahan tertahan itu yang membuatnya semakin bersemangat. Anggap saja ini adalah hukuman karena membuatnya geram. Pekerjaannya semakin bertambah. Dan ia butuh melepas stress.

Sakura mengatur nafasnya yang tersengal kala Sasuke melepaskannya setelah orgasme yang entah sudah ke berapa kali datang. Sialnya, ia sadar bahwa ini baru awal. Tatapan sayunya melihat Sasuke yang cepat-cepat melepas semua setelannya. Sialnya lagi, ia lemas tak bisa melarikan diri. Oh, lebih tepatnya tubuhnya masih merasa kurang lengkap.

Sasuke menatap Sakura yang tak berdaya tapi masih berusaha berontak. Tentu saja tidak mungkin.

Sasuke kembali menindih Sakura. Menciumnya dengan kasar. Beruntungnya, gairah Sakura pun sudah naik. Seberapa besar pun logikanya membenci, kebutuhan batinnya lebih mendesak.

"Kau tidak bisa lari, Permaisuri!"

Sakura kesal, karena detik kalimat itu terucap, mulutnya kembali dibungkam, kedua kakinya diangkat untuk melingkari tubuh Sasuke, bersamaan dengan sesuatu yang menerobos masuk mendobrak vaginanya.

Otaknya semakin tak terkendali. Keduanya tangannya reflek meremas rambut hingga menyusuri punggung Sasuke sebagai pegangan diwaktu tertentu. Jangan lupakan tangan liar Sasuke yang menggerayanginya. Ditambah gerakan naik turun yang semakin dalam dan cepat.

Sakura mengerang, meminta kesempatan untuk bernafas sejenak. Dan Sasuke benar-benar hanya memberinya waktu dua detik. Sakura sudah seperti menjadi ikan koi yang mangap-mangap.

Dan entah sudah berapa kali mengalami orgasme, Sasuke baru bisa mengalami hal serupa. Sakura mendengar Sasuke mendesah berat, bahkan mata hitamnya menatap dirinya lurus seolah menikmati pelepasan sperma yang seketika menghangatkan rahimnya. Jangan tanyakan kondisinya yang mungkin sangat berantakan. Siapa perduli, Sakura lelah dan ingin menganggap malam ini hanya sebuah mimpi belaka.

Namun, semua hanya dalam pikiran Sakura. Nyatanya tak hanya cukup satu ronde, Sasuke melakukannya berkali-kali.

Sasuke menatap Sakura yang tertidur pulas karena pertempuran mereka beberapa saat lalu. Dia tahu Sakura akan sangat terluka jika melakukan hal seperti ini. Apalagi tanpa persetujuannya. Lagi pula, percintaan yang mana yang sesuai kemauan kedua belah pihak?

Sasuke tertawa miris. Dialah yang memaksa. Dan malam panjang mereka hanya berdasarkan keinginan satu pihaknya.

Lagi. Dia menghukum Sakura dengan cara menghinanya seperti ini. Harga diri Sakura. Itu seimbang, bukan? Salahnya sendiri.

Bahkan jika tidak ingat Sakura mengandung, Sasuke bisa lebih kasar. Tak perduli Sakura akan merasa kelelahan seperti sekarang ini, dia akan tetap melakukannya lagi dan lagi hingga dirinya yang lelah sendiri. Sakura harus berterima kasih pada bayinya untuk simpatinya.

"Saya lelah, jika sesuatu terjadi pada bayi Anda, jangan salahkan saya!"

Sasuke mencemooh perkataan Sakura di ronde terakhir. Jika sudah tersudutkan, baru wanita ini mengakui ada nyawa yang harus dilindungi. Walaupun—'bayi Anda'—sangat malang sekali bayi bungsunya ini. Tidak diakui ibunya bahkan sebelum dilahirkan.

Sasuke mengusap perut Sakura dengan sayang. Dia memang pria brengsek. Punya banyak wanita. Tapi Sasuke tidak pura-pura jika ia sangat menyayangi anak-anaknya.

Terakhir Sasuke mengecup kening Sakura, membenahi selimut mereka, ikut menyusul ke alam mimpi sambil memeluk pinggangnya.

Sakura sudah terbangun sejak subuh. Namun tak bisa beranjak sedikit pun. Lebih tepatnya ia bingung bagaimana harus bertindak.

Sasuke masih tidur memeluknya, tapi itu juga bukan masalah intinya. Dia bisa saja menghempaskan paksa tangan itu sejak tadi. Namun, bagaimana cara melepaskan milik Sasuke yang masih tertinggal didalam rahimnya? Bergerak sedikit saja, Sakura yakin burung Sasuke akan bangun dan minta nina bobokan kembali. Oh, tidak. Dia sudah kalah semalam, tidak untuk pagi ini.

"Bergerak lebih intens lagi, aku tidak yakin dia akan melepaskanmu."

Sakura menegang. Menatap wajah Sasuke yang masih betah menutup mata. Dan dia semakin tegang ketika sesuatu yang bertamu dirahimnya perlahan mengeras. 'Oh, Lord'

Sakura mendorong kuat dada bidang Sasuke, berniat menjauhkan diri secepat mungkin yang ia bisa. Terlanjur bangun, maka kabur saja sebelum sepenuhnya minta dipuaskan.

Sasuke menangkap lengan atas Sakura, mendekapnya agar tidak bisa meloloskan diri.

"Sudah ku peringatkan, Permaisuri. Ah—dia benar-benar sudah bangun." Sasuke menunduk untuk melihat penyatuan mereka yang masih tertanam dalam. Seringainya semakin lebar.

"Aku akan memaafkan yang semalam, tidak lagi!" Peringat Sakura tegas.

"Aku tidak akan pernah meminta maaf untuk ini, karena memang kewajibanmu." Sasuke mencemooh.

Sasuke mengangkat tubuh Sakura untuk duduk di atas tubuhnya. Masih dalam posisi menyatu. Dia tersenyum senang karena melihat Sakura melotot karena kaget. Tangan mungil istrinya menempel tepat pada dada bidangnya. Membuat gairah semakin naik.

"Ronde pagi, Permaisuri."

Tanpa sadar, kepalan tangan Sakura memukul dada Sasuke cukup keras. Membuatnya mengaduh sakit. Meski begitu, tidak berlangsung lama, karena gairah lebih kuat daripada pukulan Sakura.

Sakura merasa pening, saat Sasuke membantunya menaik turunkan pinggulnya. Matanya berkunang-kunang dengan gerakan semu benda-benda dalam pandangannya.

"Baginda, berhenti!"

Sasuke tak mendengarkan. Sudah biasa dengan pemberontakan Sakura, bahkan ketika mereka mengalami kenikmatan bersama.

"Baginda!"

Hoek...hoek...hoek

Sasuke berhenti, Sakura menutup mulutnya dengan keduanya tangan, segera membebaskan diri tanpa perlawanan lagi.

Sasuke khawatir karena muka Sakura memerah menahan mual, segera mengikuti Sakura yang berlari ke arah kamar mandi. Beruntung muntahannya tidak sampai keluar sebelum sampai ke pembuangan.

Sakura merasa tengkuknya lebih nyaman dengan pijatan-pijatan ringan dari Sasuke. Meski mualnya belum benar-benar reda.

"Lebih baik?" Sasuke bertanya saat Sakura sedang membersihkan mulutnya.

Sakura hanya menjawab dengan mengangguk ringan.

"Aku akan mengambil minum sebentar."

Sakura menatap lemas pada kepergian Sasuke. Setelah memastikan benar-benar keluar, Sakura berlari ke arah pintu dan mengunci dengan rapat. Dia tahu, Sasuke langsung menyadari tindakannya, karena tak lama kemudian suara gedoran pintu menggema.

"Buka pintunya, Permaisuri!" Teriak Sasuke tajam.

Sakura menggeleng tegas. Walaupun tahu tak akan dilihat oleh lawannya.

"Cepat. Buka!" Sasuke semakin berang.

"Pergilah, Baginda!" Teriak Sakura tak kalah kencang.

"Buka! Atau ku dobrak?" Ayolah, Sasuke tidak sesabar itu, apalagi ketika hasratnya belum mencapai klimaks.

"Tidak mau!" Sakura menatap pintu.

"Kau membuatku marah, Sakura!"

"Terserah! Saya tidak perduli. Pergi saja sana!"

"Sakura! Hitungan ketiga atau ku dobrak?"

"Coba saja, atau saya akan loncat-loncat dilantai licin!"

"Ya, ampun." Teriak Sasuke gemas. "Jangan bercanda! Cepat buka! Kau akan kedinginan karena sedang telanjang."

"Saya tidak akan keluar sebelum Anda pergi."

"Sakura! Aku tidak main-main. Kau tidak akan suka akhirnya jika terus membantah."

Terdengar beberapa suara seperti akan mendobrak pintu. Sakura panik.

"Saya benar-benar akan loncat-loncat jika Anda tidak berhenti. Aku tidak bercanda."

Namun, Sasuke tetap tak berhenti. Sakura panik.

"Baik. Satu, dua, ti—"

"Oke! Tapi, tolong cepat keluar! Kamu bisa mati kedinginan."

"Tidak selama Anda masih disini."

"Baik, aku keluar." Sasuke menjauhi pintu kamar mandi dengan mood yang jelek.

Sunyi. Sakura perlahan mendekati daun pintu, menempelkan telinganya disana. Terdengar bunyi pintu kamar yang dibuka, tak lama kemudian pintu ditutup kembali.

"Anda pikir, saya bodoh untuk tidak menyadari kehadiran Anda."

Sasuke menggeram jengkel dengan sikap Sakura yang menurutnya kekanak-kanakan. Dia masih diam, berpikir mungkin saja Sakura menggertak.

"Baik. Saya akan tetap disini hingga Anda benar-benar pergi."

Benar saja, Sasuke sudah menunggu hampir sepuluh menit dan tidak ada tanda-tanda Sakura akan keluar.

"Sial!" Umpat Sasuke kesal. Mendekati pintu kamar mandi setelah memakai jubahnya.

"Aku akan ingat penghinaan ini, Permaisuri. Aku pergi. Aku tidak akan memaafkanmu jika bayiku disana kenapa-kenapa."

Selanjutnya Sasuke pergi dengan kesal. Bahkan setiap orang yang tak sengaja berpapasan dengannya terkena imbas. Oh, ayolah tidak mungkin ia datang ke istana tiga selirnya pagi-pagi begini. Terlebih, dia datang untuk meminta pelepasan. Bisa dicap apa dirinya.

Sakura mendesah lega. Hawa keberadaan Sasuke disekitarnya telah pergi. Ia membuka pintu kamar mandi untuk mengunci pintu kamarnya. Hari ini, dia akan kembali izin istirahat. Mungkin libur kerja sehari lagi tidak masalah.

.

.


.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Gimana? Masih yakin suka baca 'My Heart, My King'? Tidak pilih 'Reborn, My Lord' atau 'Dunia Shinobi' aja? ️

.

.

Suka Sakura atau Sasuke yang dimana?

.

.

Jangan lupa klik tombol dibawah, ya... Vote and comment...

See u next time