Yahalllooo ^^ hehehe

Selamat membaca!

Sorry for typo-


[Chapter Sebelumnya...]

"Luhan menghilang, hyung…" Jongin mewakili kedua orang yang tengah putus asa tersebut.

"Menghilang?! Apa maksudnya?" pekik Baekhyun.

"Hiks… maafkan aku, Baek…" pelukkan Kyungsoo pada Baekhyun semakin erat.

"Aku akan mencari sekali lagi!" Ucap Sehun, setelah berkali-kali tidak tersambung pada Luhan.

Jongin menahan bahu Sehun. "Sehun-ah! Kita sudah mencari ke segala tempat! Jangan gegabah, sebentar lagi malam–"

Sehun menghempas tangan Jongin. "Maka itu, hyung! Kita harus mencari sebelum gelap!" bentaknya.

"Tenanglah! Dinginkan kepala kalian! Benar sebentar lagi gelap, jadi kita harus cepat mencari, tapi Sehun-ah kita pelu memikirkan kemungkinan tempat Luhan pergi! Kita harus tenang!" Chanyeol melerai kedua pria yang lebih muda darinya itu.

"Seharusnya aku tak meninggalkan Luhan…" gumam Kyungsoo.

Baekhyun mengusap punggung Kyungsoo lembut, "bisa kau jelaskan pada kami, Kyungi-ya?"

Setelah Kyungsoo menceritakan semuanya, Chanyeol pun mengusulkan untuk bertanya pada para pelayan. Luhan tidak tahu daerah ini, jadi tidak mungkin ia pergi tanpa bertanya.

"Ah… Nona Luhan tadi terlihat lesu. Jadi saya mengusulkan untuk pergi ke taman di seberang danau." Itulah kesaksian pelayan.

"Aku sudah mencarinya tapi tidak ada…" gumam Sehun, "…benar! Aku belum mencari keseluruhannya karena Kyungsoo-ssi dan Jongin hyung menghubungiku!"

"Kalau begitu Sehun-ah, kau cari ke sana. Aku dan Baekhyun akan mencari bersamamu tapi di bagian yang berbeda. Dan kalian, Kyungsoo-ssi, Jongin-ah! Tetap di villa! Kalian sedang tidak dalam kondisi baik!" Perintah Chanyeol.


.

.

The 2nd Meeting

Chapter 9

.

.

Sehun segera berlari ke luar villa, disusul oleh pasangan Chanyeol-Baekhyun. Seperti rencana, mereka mencari ke dekat danau. Sehun langsung segera menuju arah taman, sedangkan pasangan itu mencari di sekitar danau.

Sudah mengenal tempat ini dengan baik, Sehun segera melesat memasuki jalan yang menuju ke taman. Jalan itu tidak begitu terang, kanan-kirinya dipenuhi pepohonan, meski begitu Sehun terus berlari sambil berharap Luhan tidak tersesat atau semacamnya. Terus berlari semakin dalam, cahaya matahari juga semakin menipis, Sehun menghiraukan napasnya yang seperti akan habis. 'Aku mohon, kau harus baik-baik saja, Lu…' gumam Sehun dalam hati.

Sebuah cahaya telihat bagaikan pintu keluar. Pria itu berhenti mendadak saat pandangannya kini cukup terkejut dengan sinar jingga yang langit sore biaskan. Ia menyipitkan matanya, mencari dengan fokus setiap sudut taman. Tidak ada siapapun di sana, sepi, seperti biasa.

"Luhann!" teriak Sehun ketika merasa pernapasannya baik-baik saja. "Luhann!" Sehun berlari ke sisi taman, mencari di antara pepohonan yang menjulang. "Luhannn!" Suara gemerisik di belakangnya membuat Sehun dengan cepat membalikkan tubuh.

"Se-Sehun? Apa yang kau lakukan di sini?" itu adalah kalimat pertama yang Sehun dengar dari wanita yang sudah membuat satu villa panik.

Melihat wanita yang dicarinya baik-baik saja, Sehun merasa kakinya seperti kehilangan energi. Ia bersandar pada pohon, napasnya mulai terasa berat. Kedua orang tersebut masih terdiam di tempat yang sama. Setelah menenangkan dirinya, Sehun mulai bersuara, "Bukankah seharusnya aku yang bertanya?" suaranya terdengar dingin luar biasa. Meski begitu, Luhan masih bisa menangkap sesuatu yang tidak biasa dari tatapan Sehun. Pria itu menatapnya penuh khawatir. "…apa yang kau lakukan di sini?!"

Luhan terlonjak, jantungnya berdebar, merasa terintimidasi. "Sehun…"

Sehun mendesah sambil menengadahkan kepalanya, ia mengusap rambutnya yang terasa basah karena keringat. "Bisakah kau berhenti membuat khawatir?" tanyanya. "Kau pergi tanpa bilang pada siapapun dan benar-benar membuat kami panik, kau tahu?"

Seperti tersadar, Luhan mengingat bahwa ia sedang bersama Kyungsoo tadi. Ia terlalu asik di taman sampai-sampai lupa mengabari. Ia melihat ponselnya, sudah lowbatt.

Sehun memincing melihat ponsel di tangan Luhan, "kau membawa ponselmu? Kenapa tidak mengangkat panggilanku?!"

"I-itu… ponsleku dalam mode silent dan… saat ini lowbatt…" jawab Luhan takut-takut sambil mengangkat ponselnya, memberitahu bahwa itu benar-benar mati. Selama berbicara dengan Sehun, Luhan sama sekali tidak menatap pria itu. Hal itu membuat Sehun tidak berhenti menatap Luhan sampai wanita itu melihatnya.

"Ma-maaf membuat kalian khawatir, sepertinya aku harus kembali dan meminta maaf pada yang lain." Ucap Luhan lalu melangkah melewati Sehun. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat sebuah tangan menahannya. Posisi mereka kini saling membelakangi.

"Mencoba menghindariku? Lagi?" tanya Sehun. Nada suaranya masih terdengar dingin, Luhan benar-benar tidak tahan dengan itu dan juga tidak tahu harus apa yang harus dikatakan. Apa benar ia masih ingin menghindari Sehun? Jika kenyataannya adalah saat ini ada rasa bahagia di hatinya saat melihat Sehun mencarinya.

"Lu… bisa hentikan ini?"

Pertanyaan Sehun kali ini membuat Luhan mengerutkan dahi. "A-apa maksud–" Tubuh Luhan ditarik mundur hingga wanita itu kembali kehadapan Sehun. Tidak, bukan hanya ke hadapan, melainkan ke dekapan pria yang masih dicintainya itu.

"Syukurlah kau baik-baik saja… kau benar-benar membuatku takut. Aku pikir terjadi sesuatu padamu." Bisik Sehun sambil mendekap erat Luhan.

Tidak dipungkiri Luhan sedikit terkejut mendengarnya langsung dari Sehun. Otaknya sedang memikirkan apakah yang didengarnya salah atau tidak. Semakin lama, pelukan Sehun terasa begitu hangat. Sikap dingin yang biasa pria itu salurkan tidak lagi begitu dirasakan oleh Luhan. Tangan Luhan terangkat perlahan, ia hendak membalas pelukan pria itu, tetapi entah kenapa tangannya tidak bergerak begitu lancar. Tangannya kembali terkulai. "Aku hanya berjalan-jalan, jangan berlebihan, Sehun…" kalimat itu begitu saja meluncur dari mulut Luhan.

Dekapan Sehun pelahan melonggar, pria itu memegang kedua bahu Luhan. "Apa sikapku berlebihan bagimu? Aku hanya…" Sehun menghela napasnya. "…tidak, lupakan." Tatapannya menyiratkan kekecewaan. "Sebentar lagi gelap, lebih baik kita kembali. Aku akan membeitahu yang lain bahwa kau baik-baik saja." Setelah mengatakannya, Sehun membelakangi Luhan dan segera menghubungi yang lainnya.

'Apa yang sudah aku lakukan? Disaat dia menunjukkan kepeduliannya, kenapa kau malah bersikap tidak peduli, Luhan. Apa maksudmu sebenarnya?!' maki Luhan dalam hatinya. Ia memandang punggung tegap Sehun dan mendapati sebagian baju pria itu basah akibat keringat. 'Apa ia terus-terusan mencariku?' Luhan mengulurkan tangannya hendak menyentuh baju Sehun, tapi tiba-tiba pria itu bebalik, membuat Luhan mengembalikan tangannya dengan cepat.

"Ayo kembali…" ucap Sehun, nadanya masih terdengar dingin.

"Hm…" angguk Luhan. Ia membiarkan Sehun jalan terlebih dahulu. Ia meremas tangannya sendiri sembari memerhatikan Sehun yang ada di hadapannya. Perasaan aneh menyerangnya, seperti ada yang menimpa dadanya, rasanya terlalu sesak. Langkah Sehun mulai melambat, Luhan juga ikut melambatkan langkahnya, khawatir ia akan sampai di samping pria itu.

Dari posisinya, Sehun tahu bahwa Luhan sedang menjaga jarak darinya. Sepertinya lebih baik ia tetap pura-pura saja, pikirnya, tapi entah kenapa tubuhnya tiba-tiba berjongkok dan mulai membenarkan tali sepatunya yang sebenarnya masih baik-baik saja.

Tidak sadar bahwa Sehun sedang berhenti, Luhan terus berjalan dan menyadari bahwa ia baru saja sampai di samping Sehun. Ketika hendak kembali melangkah, saat ini langkahnya dan Sehun sudah berdampingan. Luhan mulai kembali memelankan langkahnya, sebelum ia benar-benar di belakang Sehun, pria itu mengatakan sesuatu.

"Cepatlah, hari mulai gelap, atu kita benar-benar tersasar."

Mau tak mau Luhan kembali menyejajarkan langkahnya dengan Sehun. Mereka kembali dalam diam dan kesunyian senja yang mencekam.

Sesampainya di villa, keempat orang yang menunggu di ruang tamu menyambut Luhan dan Sehun. Baekhyun dan Kyungsoo langsung histeris dan memeluk sahabat mereka. Bahkan Kyungsoo kembali menangis dan terus meminta maaf. Ditengah kehisterisan itu, mata Luhan mengikuti sosok Sehun yang menjauh dari mereka. Pria itu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hal itu membuat air mata Luhan hampir tak tertahan. Ia menyembunyikan wajahnya ke pelukan kedua sahabatnya.

"Maafkan aku membuat kalian khawatir…" ucap Luhan bergetar.

"Syukurlah, yang penting kau baik-baik saja." Ucap Chanyeol.

"Lebih baik kalian ke kamar dan istirahat," itu Jongin yang mengusulkan.

.

.

Malam harinya, Luhan turun dari kamarnya. Sejak tadi, ia terus merasa gelisah karena terus mengingat sikap Sehun padanya. Ia berhenti di dasar tangga lalu memandang ke arah kamar Sehun berada. Setelah menghela napasnya, ia melangkahkan kakinya ke halaman belakang, ia tetarik dengan sinar rembulan yang begitu terang.

"Hei! Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" seseorang tiba-tiba mengejutkannya. Luhan menoleh dan mendapati Jongin berdiri di sebelahnya.

"Oh, Jongin-ssi–"

"–panggil aku oppa." sela pria itu.

Luhan melirik Jongin dengan aneh, "kau pasti bercanda, kan?" Jongin hanya tertawa menanggapinya.

"Tidak berniat untuk sakit, kan?" Jongin memakaikan jaketnya pada Luhan, lalu ia sendiri duduk di lantai sambil memandangi langit.

Luhan awalnya terkejut, tapi ia memilih untuk tidak memikirkannya. Lalu ia ikut duduk di samping Jongin. Lagi-lagi ia menghela napasnya.

"Bertengkar lagi?" tanya Jongin tiba-tiba.

"Hah?"

"Kau dan Sehun… aku lihat kalian tidak saling tegur, padahal Sehun yang menemukanmu."

Luhan baru tahu jika Jongin suka mengamati diam-diam. "Jangan sok tahu!" balas Luhan.

Jongin tetawa, "tentu saja aku tahu! Kalian ini kenapa tidak saling jujur saja."

"Sehun… sebenarnya mengatakan sesuatu padaku. Ia bilang ingin kembali padaku…" ucap Luhan.

Jongin membulatkan matanya, "wow! Kau serius?"

"Kenapa malah kau yang tekejut?"

"Tentu saja! Aku tidak pernah membayangkan Sehun akan mengatakan hal seperti itu. Ia bukan orang yang dengan mudah mengutaran perasaannya. Jika sampai ia mengatakan itu, ia benar-benar serius padamu. Lalu jawabanmu?"

Luhan memainkan jari-jarinya asal, ia tidak yakin apa harus mengatakannya pada pria yang belum lama ia kenal.

"Ah, maaf… aku terlalu ikut campur ya? Kau tidak perlu mengatakannya–"

"–tidak! Ma-maksudku… aku juga tidak begitu bisa mengutarakan perasaanku pada pria. Aku anggap ini sebagai latihanku, jadi…" Luhan menatap Jongin sungguh-sungguh.

"Ppfft! Astaga Luhan…" tawa Jongin menggelegar di kesunyian malam, "…kau ini kenapa polos sekali. Tentu saja mengutarakan perasaan ke padaku itu lebih mudah daripada ke pria yang kau cintai. Kau takut setiap kata-katamu menyakitinya atau kau takut mengenai responnya?"

Luhan melengoskan wajahnya, "ya sudah! Aku tidak mau berbicara!" ucapnya sambil menyedekapkan kedua tangannya di dada.

"Hei, hei, hei… kau marah?" tanya Jongin masih dalam mode gelinya.

"Siapa peduli!" kesal Luhan.

Jongin mengusak kepala Luhan dengan lembut, hingga membuat wanita itu menoleh padanya. "Katakan semua yang kau rasakan. Jangan khawatir tentang itu, aku akan menjaminnya."

Luhan menunduk, membiarkan Jongin terus mengusap kepalanya. "Aku takut Sehun berubah… bagaimana jika hubungan kami sama saja seperti sebelumnya?"

Jongin betopang dagu sambil menatap Luhan, ia tersenyum, "siapa yang tahu dengan itu? Tapi Luhan, berjuanglah sekali lagi… berjuanglah untuk perasaanmu yang sekarang. Aku yakin Sehun sudah menyadari perasaannya, tapi ia tak bisa mengutarakannya. Mengerti maksudku?"

Luhan mengerjapkan matanya, Jongin terkekeh melihat Luhan yang begitu imut dimatanya saat ini. "Jika aku bisa, aku akan memilih jatuh cinta padamu, Luhan." Ucapan Jongin membuat Luhan membulatkan matanya. "…jujur saja, kau adalah tipeku. Kau begitu manis dan penurut, tapi sayangnya kau tidak akan cocok dengan pria sepertiku. Kau malah akan terus terluka karena aku suka melirik wanita lain. Itu artinya, kau belum bisa membuatku bepaling dari yang lain."

Luhan tertawa mengejek, "astaga… kau sadar diri sekali, tapi begitu percaya diri."

"…aku memang suka menggoda banyak wanita, aku akui, tapi setidaknya aku selalu berharap ada seseorang yang membuatku hanya bisa menggoda satu wanita saja. Aku yakin, setiap orang akan menyimpang, ke arah lebih baik maksudku, dari jalan biasanya jika ia menemukan sesuatu yang lebih baik dan berharga baginya." Lanjut Jongin.

"Jadi Luhan, jika kau mau berjuang untuk dirimu, kau akan mendapatkannya. Tapi, ingat, jika kau merasa sudah terlalu lelah, maka kau harus melepaskannya. Carilah pria yang bisa membalas perjuanganmu."

Luhan merenungi ucapan Jongin. Jika dipikirkan, itu benar, ia terlalu mudah menyerah. Tapi, apa masih ada kesempatan baginya? Melihat sikap Sehun tadi saja sudah membuat Luhan sedikit ciut. "Terima kasih…" ucap Luhan.

"Merasa kata-kataku keren?" kekeh Jongin.

Luhan tersenyum, "kau menyebalkan. Yah, tapi setidaknya itu membuatku sedikit sadar. Kenapa kau tiba-tiba berkata begitu?" akhirnya Luhan menanyakan hal yang membuatnya penasaran.

"Rahasia…" lagi-lagi Jongin menggoda Luhan.

"Ya!"

Mata Jongin membulat, "ya! Kau berani berkata begitu padaku?"

Luhan menatap Jongin takut-takut, "w-waeyo?"

Jongin lantas mencubit pipi Luhan gemas, "setidaknya kau tidak terlalu formal denganku."

Luhan menepis tangan Jongin, kemudian ia berdiri. "Kau menyebalkan!" Jongin terkekeh lalu ia menoleh ketika Luhan memanggilnya. "…terima kasih, setidaknya aku merasa memiliki kakak laki-laki yang bisa mendengarkan ceritaku."

"Kalau begitu panggil aku, oppa."

"Shiro!" Luhan menjulurkan lidahnya lalu bergegas kembali ke dalam.

Saat baru melangkah ke dalam, Luhan dikejutkan dengan Sehun yang ada di hadapannya. Wajah pria itu begitu dingin dan tidak terbaca. Luhan mendadak membeku ditempatnya, entah karena pengaruh dinginnya aura Sehun atau alasan yang lain. "Se-Sehun…"

"Apa yang kau lakukan tengah malam begini?" tanya Sehun dingin.

'Apa dia melihatku bersama Jongin-ssi?' Luhan menoleh ke luar, memastikan apakah Jongin masih di sana.

"Wae? Takut pertemuanmu tengah malam dengan Jongin hyung kuketahui?" tanya Sehun lagi, tatapannya benar-benar menusuk.

Jantung Luhan berdebar begitu cepat, ia sampai kesulitan mengatur napasnya. Tubuhnya mendadak dingin ditambah tepaan dinginnya malam. "Sehun, k-kau salah paham. A-aku… k-kami tidak melakukan apapun. D-dia hanya…" Luhan menundukkan kepalanya, rasanya seluruh kekuatannya sudah menguap. Ia benar-benar takut dengan pemikiran Sehun saat ini.

Sehun melangkah maju, aura dinginnya semakin terasa oleh Luhan seiring minipisnya jarak mereka. Luhan mengangkat kepalanya, mendongak, menatap pria itu dengan keberanian yang sudah ia kumpulkan. "De-dengarkan aku… jangan salah paham. D-dia hanya menghiburku karena–"

'Astaga! Apa yang kau ucapkan Luhan! Menghibur?!' maki Luhan saat menyadari ia salah menjelaskannya.

"Wae?" tanya Sehun, matanya benar-benar seperti akan menusuk Luhan saat ini juga. "Kenapa aku tidak boleh salah paham?"

"I-itu…"

"Katakan Luhan, kenapa aku tidak boleh salah paham?"

Luhan panik, rangkaian kata di kepalanya sangat rumit, ia tidak bisa mengungkapkannya. "A-aku tidak mau kau salah paham! Ka-karena… aku tidak bisa… ya, aku tidak bisa."

Sehun semakin mendekatkan diri pada Luhan hingga wanita itu beringsut mundur. "Wae?"

Luhan menarik napasnya, ia memejamkan matanya. "Aku mencintaimu Oh Sehun! Kau tidak boleh salah paham! A-aku…" sebelum melanjutkannya, tubuh Luhan sudah terlebih dahulu ditarik oleh Sehun. Pria itu dengan cepat meraih bibir Luhan.

Luhan membulatkan matanya, dan hendak menarik dirinya, tapi Sehun lebih kuat menahannya. Pria itu menggerakkan bibirnya untuk bisa meraih bibir Luhan lebih dalam. Setelah beberapa saat, Sehun menarik dirinya, tapi tidak terlalu jauh. Luhan masih bisa merasakan napas Sehun yang menyapa kulitnya. "Benarkah?" tanya Sehun. Suaraya tidak sedingin tadi, tapi wajahnya tidak bereaksi apapun.

Luhan menggigit bibirnya, jantungnya sudah berdebar tak karuan. Ia merasa kakinya sudah tidak ada tenaga. Sehun membuatnya begitu terkejut sekaligus malu. Ditengah kebingungannya, ia mengingat perkataan Jongin yang memintanya untuk berjuang sekali lagi. Tangan Luhan meremas baju yang Sehun kenakan, "hm…" ia menganggukkan kepalanya sebagai respon.

Pria itu menarik Luhan ke dekapannya hingga Luhan bisa mendengar debar jantung Sehun yang sama kacaunya dengannya. "Kau mendengarnya?" tanya Sehun.

"Hm?" Luhan mengangguk, "a-apa ini karenaku?"

Sehun semakin mendekap Luhan erat, "kau pikir karena siapa…" balasnya. Luhan diam-diam tersenyum dan membalas pelukan Sehun, ia suka mendengar debar jantung mereka yang saling berpacu. Ada sensasi menyenangkan tumbuh di dadanya.

Cukup lama keduanya di posisi yang sama, sampai Sehun merenggangkan pelukan mereka. Sehun menatap Luhan dengan raut yang tidak bisa diartikan. "W-wae?" tanya Luhan.

"Sudah malam, sebaiknya kau kembali ke kamar." Ucap Sehun. Luhan mengangguk meski dalam hatinya belum rela untuk berpisah dengan Sehun. Tapi ia tidak tahu cara mengatakannya. Sehun mengusap lembut kepala Luhan, "kembalilah…"

"Se-Sehun…" Luhan menahan baju Sehun hingga pria itu kembali berbalik padanya. "Aku belum mau kembali…" Sehun terlihat bingung, lalu pria itu tiba-tiba saja menggandeng Luhan dan membawanya pergi.

Di sinilah mereka sekarang, kamar Sehun, yang membuat Luhan bertanya-tanya. "Ke-kenapa kemari?"

Sehun melangkah ke ranjangnya, "karena kau belum mau kembali, jadi aku membawamu kemari. Aku sudah mengantuk dan aku tidak mau kau berkeliaran di luar sendirian." Jawaban Sehun sontak membuat Luhan mengerutkan dahinya tidak mengerti.

'Lalu… apa yang harus aku lakukan di sini?!' pekik Luhan dalam hati.

"Kenapa masih di sana?" tanya Sehun dengan mata yang terpejam.

"Ke-kenapa?"

"Kau yakin mau berdiri di sana? Sampai kapan?" Sehun membuka matanya, menoleh pada Luhan yang benar masih di depan pintu.

"A-aku kembali saja ke kamar…" ucap Luhan akhirnya, rasanya begitu canggung. Ketika Luhan hendak membuka pintu, Sehun memanggilnya, membuat pergerakkannya terhenti. Saat ia ingin berbalik, ia mendapati Sehun sudah ada di belakangnya. Pria itu lalu memeluk Luhan. "Sehun…"

"Tidak usah kembali…"

"Hah?"

"Di sini saja… temani aku," entah kenapa Luhan merasa tidak bisa membantah Sehun. Meski rasanya masih cukup canggung, tapi ia mengakui masih ingin bersama Sehun lebih lama.

Akhirnya, Luhan mengiyakan permintaan Sehun. Mereka kini tidur di tempat yang sama. Sehun sudah menutup matanya entah sejak kapan, tapi Luhan tidak tahu apakah pria itu sudah tidur atau belum. Sejak tadi Luhan hanya bergerak tak nyaman di tempatnya. Ia menanyakan sebenarnya apa yang terjadi. Benarkah hubungan mereka kembali, semudah ini?

Ditengah kesibukkannya berpikir, sebuah tangan melingkar di tubuhnya. Segera Luhan melirik ke belakang, sejak kapan Sehun sudah berada di belakangnya? Pikirnya. "Sampai kapan kau bergerak-gerak? Aku tidak bisa tidur, aku lelah, kau tahu?" bisik Sehun. Ia mendekap Luhan erat agar wanita itu tak lagi bisa bergerak.

"Se-Sehun… chankanman…" Luhan berusaha melepas tangan Sehun darinya, tapi pria itu malah semakin mengeratkannya.

"Tidurlah, kau tidak lelah setelah membuat orang khawatir?" guma Sehun. Luhan pun akhirnya berhenti memberontak, ia membiarkan Sehun mendekapnya. Ia mencoba merasakan dekapan yang ia rindukan.

"Terima kasih karena masih mencintaiku…" setelah mengucapkan itu, tak ada lagi suara Sehun yang terdengar. Luhan juga hanya diam, dalam hati ia bersyukur bahwa masih berani untuk berjuang sekali lagi.

Beberapa menit berlalu, sepertinya Sehun sudah tertidur karena Luhan bisa mendengar deru napas teratur dari si pria. Sebenarnya, mudah saja bagi Luhan untuk melepaskan tangan Sehun darinya, tapi ia membiarkannya. Hingga tak berapa lama, Luhan ikut menyusul Sehun ke alam mimpi.

.

.

Kim Jongin… ah, ya, sebenarnya pria itu menghilang ke mana? Ternyata Jongin memutuskan untuk pergi ke dekat kolam renang setelah menyadari Sehun mucul. Ia bukannya tidak mau membantu Luhan menjelaskan situasinya, hanya saja ia percaya pria yang lebih muda darinya itu tidak akan berpikir yang macam-macam. Jadi, ia putuskan saja untuk dua orang itu berbicara. Setelah beberapa lama memejamkan mata ditemani hembusan angin malam, tubuhnya pun mulai kedinginan. Ingatkan bahwa jaketnya ia berikan pada Luhan? Ia pun memutuskan untuk kembali.

Tanpa disangka, Jongin berpapasan dengan Kyungsoo di dekat tangga. Keduanya tiba-tiba saja serempak menghentikan langkah mereka. Keduanya saling bertatapan dengan cahaya yang terbatas tanpa tahu maksud dari tatapan mereka. Tidak ada yang mengeluarkan suara untuk beberapa lama, Jongin pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Saat baru melewati Kyungsoo, wanita itu bersuara.

"Apa yang kau ingin lakukan pada sahabatku?" tanya Kyungsoo dingin.

Refleks Jongin menghentikan langkahnya, 'apa ini? ada orang lain lagi yang melihat pertemuannya dan Luhan yang tak disengaja?' pikirnya.

"Jangan ganggu Luhan. Sepertinya kau memang suka sekali menggoda banyak wanita ya, Jongin-ssi?"

Jongin melangkah mundur hingga bisa menatap wajah Kyungsoo. "Sepertinya kau selalu berpikiran negatif padaku, Nona. Kau melihat kami sapai mana? Saat memberikan jaketku? Mengusap kepala sahabatmu? Mencubit pipinya? Atau–"

Dengan tiba-tiba Kyungsoo menarik kerah Jongin, "Kau benar-benar berengsek!" Tanpa sadar Kyungsoo mengangkat tangannya hendak menampar pria di hadapannya, tapi dengan cepat Jongin menahannya.

Pria itu meremas pergelangan tangan Kyungsoo lalu menarik wanita itu lebih mendekat padanya. Kini wajah mereka benar-benar dekat hingga tatapan keduanya bisa terlihat jelas. Jongin cukup terkejut ketika mendapati tatapan wanita di hadapannya begitu terlihat terluka, bahkan matanya terlihat berkaca-kaca, meski tidak begitu ketara. "K-kau…" Pria itu kehilangan kata-katanya.

"Aku membenci pria sepertimu. Jangan ganggu Luhan! Jangan ganggu siapapun yang dekat denganku! Aku tidak mau mereka merasakan apa yang pernah aku rasakan!" desis Kyungsoo.

Jongin menyadarinya, wanita ini seperti sedang melihat masa lalunya. Persis seperti yang Luhan pernah ceritakan padanya. Meninggalkan segala keangkuhannya, Jongin perlahan meraih tangan Kyungsoo yang masih mencengkramnya lalu mengenggamnya. Kyungsoo mulai melonggarkan cengkramannya. "Aku tidak mengganggunya, Kyungsoo-ssi. Aku hanya berbicara padanya mengenai Sehun. Aku tidak berniat menggoda atau mempermainkannya. Bahkan aku merasa tidak memiliki gairah lagi untuk menggoda wanita lain…."

Kyungsoo menatap mata pria di hadapannya, mencoba mencari apakah kata-katanya adalah sebuah kebohongan. Sayangnya, Kyungsoo benar-benar tidak mendapatkan kebohongan di sana. 'Kenapa? Kenapa harus begini! Biasanya kau akan selalu bercanda dan meremehkan banyak hal! Kenapa kau harus memperlihatkan tatapan seperti ini?!' teriak Kyungsoo dalam hati. Sebenarnya, ia melihat Jongin dan Luhan sejak keduanya bertemu, Kyungsoo tahu itu tidak sengaja, ia hanya meperhatikan dari jauh dan berakhir pergi setelah Luhan menyusul Jongin yang duduk di teras. Entah kenapa ia merasakan hal aneh yang menyesakkan di dadanya, ditambah baying-bayang pria berengsek yang selalu mempermainkan wanita. Ia melihatnya pada Jongin dan membuat emosinya kacau. Tapi, apa yang harus ia lakukan jika mendapati perkataan jujur dari pria ini?

"…kau memang sesuatu, Do Kyungsoo-ssi. Kau mendapatkanku…" ucap Jongin. Kemudian Jongin melangkah pergi setelah menepuk lembut kepala Kyungsoo. "Ah, satu lagi… jangan khawatir jika Luhan tidak di kamarnya, mungkin saja ia bersama Sehun. Aku melihat mereka bertemu." Ucapnya lalu kembali melangkah pergi.

Kyungsoo menundukkan kepalanya, ia meremas pakaian di dadanya. Perasaannya tiba-tiba saja merasa lega, entah kenapa dan juga masih begitu menyesakkan.

.

.

Pada hari ini, tepat sudah seminggu keenamnya berlibur bersama. Siapa sangka, awalnya mereka tidak saling kenal dan hanya karena dua orang yang memiliki masa lalu bersama membuat takdir masa lalu yang lainnya ikut terkuak. Mereka juga telah merangkai kenangan baru yang membuat mereka semakin akrab dalam berbagai definisi.

Pasangan Chanyeol dan Baekhyun misalnya, tentu mereka masih romantis dan hangat-hangatnya. Saat ini Chanyeol sedang membawakan koper kekasihnya ke lantai 1, sedangkan wanita mungil itu mengikuti prianya sambil membawa dua papper bag di tangannya. "Masih ada yang perlu di bawa?" tanya Chanyeol.

Baekhyun menggeleng, "ani... Ini yang terakhir."

Mau ke mana mereka? Tentu saja mereka akan kembali ke Korea hari ini. Waktu bermain sudah habis dan saatnya kembali ke dunia sibuk mereka. Berbeda dengan pasangan Chanyeol dan Baekhyun, saat ini Luhan sedang membawa kopernya turun dengan hati-hati, lalu dimana prianya itu? Ah... ternyata Sehun sedang sibuk dengan tabletnya di sofa sampai-sampai ia tak sadar seseorang mungkin butuh bantuannya.

"Luhan, butuh bantuan?" tidak, itu bukan suara Sehun, melainkan Jongin yang sedang bersiaga di bawah.

"Ah, tidak perlu... aku bisa–" tolak Luhan.

Jongin menghiraukan jawaban Luhan dan bergegas membantu wanita itu. "Kemarikan..." ia langsung mengambil alih koper Luhan. Sehun dari tempatnya sempat melirik ke arah Luhan, lalu ia kembali berkutat dengan tablet-nya.

"Gomawoyo Jongin-ssi." Ucap Luhan saat kopernya dengan selamat mendarat di lantai satu.

Jongin hanya mengangguk, lalu matanya kembali melihat seorang wanita yang sepertinya tak butuh bantuan karena dengan mudah wanita itu mengangkat kopernya. "Kemarikan..." ia lagi-lagi mengambil alih koper yang terasa tidak terlalu berat itu dan mendaratkannya selamat sampai lantai satu.

Kyungsoo hanya bisa mendengus melihat tingkah pria yang menurutnya merepotkan itu. "Aku tidak minta bantuanmu." Ucapnya setelah menyusul Jongin.

Jongin tersenyum miring, "aku juga tidak menagih apapun padamu." Setelah itu ia kembali pada kopernya.

"Ayo, kita sudah dijemput." Ucap Sehun yang sudah bisa meninggalkan urusan dengan tablet-nya. Ia bangkit dari sofa, sedangkan itu Luhan hanya menatap Sehun yang sedang mengambil kopernya. Dalam hati sebenarnya Luhan sangat ingin Sehun menaruh perhatian padanya seperti yang Chanyeol lakukan pada Baekhyun, tapi... 'yah sudahlah...' hanya itu yang bisa Luhan pasrahkan.

Saat Chanyeol sibuk membantu Baekhyun dan Jongin yang juga sedang sibuk berdebat kecil dengan Kyungsoo, tiba-tiba Sehun datang mendorong kopernya ke dekat Luhan. Luhan menatap Sehun dengan bingung, pria itu berdiri tepat di hadapan Luhan. Tangan pria itu melepaskan kopernya, lalu mengambil alih koper yang Luhan pegang. "Kau bawa saja punyaku. Aku hanya membawa sedikit pakaian." Ucap Sehun tiba-tiba yang membuat Luhan hampir saja tersenyum bahagia.

"Aku bisa–" Sebelum Luhan bisa menahan kopernya, Sehun sudah lebih dahulu membawa koper berat dan satu bawaan Luhan lainnya. Kemudian dengan santai Sehun membawa barang Luhan menuju mobil. Diam-diam Luhan tersenyum kecil lalu mendorong koper Sehun yang benar-benar ringan. "Apa saja yang dia bawa?" gumam Luhan. Ia benar-benar bergumam hanya untuk berbasa-basi pada dirinya, padahal Luhan sudah tahu bahwa pria itu hanya akan membawa 3 kaus dan 2 jeans serta 2 stel pakaian formal jika diperlukan. Sudah jelas Luhan mengingat kebiasaan Sehun.

Dengan ini, liburan mereka pun berakhir. Kejadian-kejadian tak terduga terus membuat hubungan mereka semakin dekat. Tak disangka juga mereka telah memperjelas tali takdir mereka yang sebelumnya pudar, samar, bahkan tak terlihat. Chanyeol-Baekhyun, pasangan ini berakhir dengan bahagia sebagai sepasang kekasih. Sehun-Luhan, mereka juga sudah mulai kembali dekat dengan mengungkapkan perasaan mereka. Bagaimana dengan Status mereka? Itu bisa dibahas lebih lanjut, yang terpenting mereka sudah menyelesaikan persoalan perasaan mereka. Lalu… Jongin-Kyungsoo? Mereka sepertinya sudah mulai membuka hati. Masa lalu yang menghantui mereka memang akan terus muncul, tapi kini keduanya memiliki keinginan untuk beranjak dari masa lalu itu.

.

.

END

(untuk kisah mereka di Hawaii)

.

.

To be continued-

(untuk kisah mereka di Korea?)

.

.


Haihaiii... maapin ya karena update terlalu lama :( jadi tuh aku baru sembuh, kamarin sempet kena gejala tifus makanya gak bisa lanjutin ceritanya. Omong" masih pada nungguin kaaann? Hihi. Nah, kisah di Hawaii mereka sudah berakhir nih, gimana-gimana? Masih tertarik melihat kisah mereka di Korea setelah ini? Kalau mau, aku masih lanjut nihh ^^ hehehe. Jangan lupa tulis di kolom review yaap. Gamsahamnida...

..

Balasan review

#Dan: Luhan gak aku apa"in kok, takut ditebas Sehun hihi. Makasi semangatnya! ^^

#nanima999: Nyebelin ya memang, hmm perlu di kempesin kepalanya biar gak besar kepala kkkk. Lulu sudah baik" aja ^^ hehe

#xxizy: ih, jangan doain Luhan diculik gee wkwkk. Luhan baik" aja kok, tuh hehehe. Jongin kan emg rajanya merayu wkwk. Luv u tuuu :*

#chan22: fiiuh~ dah ketemu Luhannya hihi ^^

..

Oke, aku tunggu keinginan kalian lanjut atau gaknya yaa hahaha. Sampai jumpa lagi ^^

Gamsahamnida

*loveforHUNHAN yeayy!