Summary:
Pada pertempuran akhir PDS 4, Naruto dan Sasuke gugur akibat terkena jutsu Tomogoroshi no Haikotsu milik Kaguya. Masa depan dunia shinobi kini berada di tangan Kakashi, Sakura dan Obito selaku penyintas manusia hidup satu-satunya dari Mugen Tsukuyomi.
Sebelumnya:
"B-Bijuu," gumam lemas sang rambut perak sebelum kehilangan kesadaran.
"Obito! Mereka.."
"Deg!"
Dan disaat itulah Obito merasa kesadarannya ditarik paksa dari dalam tubuhnya, membuat seruan panik Sakura menjadi hal terakhir yang dapat ia dengar sebelum menutup mata.
"Sialan!" umpat sang Haruno setelah melihat gelembung-gelembung chakra korosif merah familiar mulai menyelimuti kedua sosok pria di hadapannya.
Meski sang Haruno sadar sebenarnya tidak ada jaminan orang Konoha akan membantu mereka setelah kejadian beberapa waktu lalu, tak ada pilihan lain lagi sebab Sakura tak mau mengambil resiko pergi ke desa shinobi lain dengan kondisi sosial-politik yang belum ia ketahui di dimensi ini.
"Uhh.. sialan." gerutunya lagi sembari memikirkan opsi solusi terbaik bagi kondisi kedua pria Jinchuuriki di hadapannya itu.
.-~[•••••]~-.
"Rewind"
Story by ShapeShifter365
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rating: T
(13+)
Genre: Adventure
Warning: Possible Multi Pairing (F/M & M/M)
[Not Harem]
Don't Like, Don't Read
Enjoy,
"Bla." : ucapan.
"Bla." : pikiran/onomatopoeia.
"Bla, bla." : ucapan & penekanan kata/onomatopoeia.
Chapter 9
[Lokasi ledakan chakra, beberapa jam sebelumnya]
"Senpai," panggil seorang anbu bertopeng beruang pada sang kapten yang masih tampak berusaha menganalisa lokasi tersebut dengan doujutsu miliknya.
"Ya?" balasnya sembari memikirkan mengapa ada anbu dari desa -dan bukan bagian regunya pula- mendatangi dirinya.
"Anda dipanggil oleh Hokage-sama," jawab sang anbu beruang.
"Ah, baiklah. Terima kasih," ucapnya kemudian yang dibalas anggukan singkat dari sosok di hadapannya.
Setelah memberi tahu anggotanya, sang kapten pun beranjak dari lokasi tersebut meninggalkan sang anbu topeng beruang yang kini menjadi ketua sementara tim penyelidikan tersebut.
•••
"Tsunade-sama," ucap hormat sang kapten setelah tiba di ruangan tertinggi pada gedung pusat administrasi Konoha bercat merah dengan lambang kanji 'api' khasnya.
"Kitsune, maaf mengganggu penyelidikanmu, tapi aku tak dapat menemukan orang lain yang lebih kupercaya dan cocok untuk mengemban misi ini dibanding dirimu."
Sang 'Kitsune' tetap dalam posisi bertumpu pada sebelah lutut tanpa menyela sedikitpun.
"Misi barumu adalah mencari Namikaze Minato dan membawanya kemari. Tim barrier sempat mendeteksi chakranya melewati penghalang terluar desa meski dirinya sedang tidak memiliki misi dan juga belum mendapat izin keluar desa. Tim sensor juga mendeteksi chakra Minato mengarah ke sisi barat laut," terang sang Senju pada anbu tersebut.
"Hai, Hokage-sama."
"Kau bisa pergi sekarang, Shunshin no Kitsune."
Ucapan tersebut menjadi tanda bagi sang anbu untuk memulai misi barunya.
"Kuharap ini tak berkaitan dengan kejadian ledakan chakra itu," batin sang Senju mulai khawatir.
Departemen pertahanan Konoha memang biasanya tak seketat ini hingga setiap orang perlu memiliki izin keluar-masuk desa maupun menginformasikan hal-hal kecil langsung ke Hokage, namun setelah ledakan chakra beberapa jam lalu maka setiap informasi akan dinilai sangat berharga dalam menemukan pencerahan terhadap peristiwa barusan.
•••
Setelah keluar dari Gedung Hokage, sang Kitsune tak membuang waktu untuk segera menuju ke arah barat laut.
Sang anbu tak lupa juga menunjukkan surat izin keluar desa dari sang Hokage kepada penjaga gerbang yang kini dilengkapi dengan sepasang anbu di masing-masing sisinya tersebut.
Kitsune pun akhirnya meninggalkan Konoha.
"Dimana kemungkinan lokasi yang Minato-san tuju?" pikir sang anbu bermonolog.
Saat melompati dahan-dahan pohon tinggi di hadapannya, Kitsune teringat satu hal yang mungkin dapat menjadi alasan kepergian sang Namikaze.
Jembatan Kanabi.
Bagaimana bisa dirinya lupa?
Hari ini tepat peringatan 23 tahun Konoha menang dalam peperangan melawan Iwa, hari saat tim 7 sukses menghancurkan jembatan Kanabi dan hari ketika sang Jounin pembimbing berhasil membantai ratusan shinobi Iwa dalam sekejab mata.
Namun hari ini, 23 tahun silam juga merupakan hari dimana para anggota tim 7 beserta seorang Uchiha lainnya berduka meski seluruh warga Konoha bersuka-cita.
Hari dimana seorang Uchiha Obito menghembuskan nafas terakhirnya.
"Huh.." Kitsune tampak menghela nafasnya sejenak sebelum mempercepat langkahnya menuju satu titik yang mungkin menjadi tempat dirinya bisa menemukan sang Yellow Flash.
•••
"Ahh, itu dia.." batin Kitsune saat lokasi yang ia tuju sudah hampir di depan mata.
Berhenti di sebuah dahan pohon yang cukup tinggi, Kitsune segera merapal beberapa segel tangan singat untuk menekan chakranya sebab sang Hokage sebelumnya juga memerintahkan dirinya untuk diam-diam menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.
Karena itulah hal terakhir yang boleh terjadi adalah dirinya tertangkap basah sedang memata-matai seorang Namikaze Minato.
Setelah merasa keberadaannya sudah cukup disamarkan, Kitsune segera menuju ke titik bersejarah beberapa puluh meter di depannya tersebut.
•••
"Mereka?!" batin sang anbu terkejut setelah mengetahui identitas ketiga sosok familiar -namun asing sekaligus- yang sedang menghadap seorang Namikaze Minato.
"Apa yang mereka lakukan di sini?"
Sang Kitsune mulai dapat mendengar suara samar dari percakapan sosok-sosok di hadapannya.
"Kita sudah cukup banyak melanggar aturan-aturan konyol tersebut," ucap sang pria berambut putih.
"…"
"Aturan?" tanya Minato yang tampak bingung.
"Yeah. Kita baru saja memberi tahu identitas asli kita. Aku ragu jika disambut oleh satu peleton Anbu beserta sang Hokage sendiri tergolong 'meminimalisir kontak.' Kini juga tidak mungkin kita menangani Madara dan klan Uchiha."
Sebutan Uchiha Madara cukup untuk membuat kecurigaan sang Kitsune semakin meningkat.
"Menangani klan Uchiha? Lalu untuk apa mereka meminimalisir kontak?"
"Tunggu sebentar. Madara maksudmu Uchiha Madara? Lalu ada apa dengan klan Uchiha?" tanya Minato.
"Minato-san tampak curiga, dan kunai di tangan kanannya membuat dirinya tampak kontra dengan orang-orang itu," pikir sang anbu yang rupanya juga berbagi kecurigaan yang sama dengan sang Namikaze.
Sembari memikirkan hal tersebut, Kitsune tetap mendengarkan dalam diam dari balik bayangan.
"Saat itu kami terlalu fokus mencari- uhh.. pria bertopeng," ucap seorang gadis berambut pink yang tampak familiar bagi sang anbu.
"Pria bertopeng?"
Seketika itu pikiran Kitsune segera kembali ke tragedi beberapa bulan silam, dimana sebuah jutsu aneh dari sosok bertopeng tersebut cukup untuk meratakan separuh lebih kawasan Konoha.
"Apakah mereka saling berkaitan?"
Sayangnya sang anbu memiliki pemahaman pria bertopeng yang berbeda (Menma) dengan para shinobi di depannya (Obito).
Meski demikian, Kitsune tentu masih penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik peristiwa serangan tersebut, sebab bahkan sang Hokage sendiri tidak mau membagi sepenuhnya apa yang beliau ketahui pada siapapun.
Dirinya pernah mendengar rumor kalau -entah bagaimana- keluarga Namikaze memiliki keterkaitan dengan kejadian tersebut, dengan absennya Menma pada malam itu membuat kecurigaan orang-orang, setidaknya di kalangan anbu semakin meningkat.
"Aku harap dia mendapat balasan yang setimpal setelah mengendalikan Menma untuk menghancurkan Konoha."
"…"
Well..
Ucapan Minato barusan sukses membuat kecurigaan Kitsune -beserta setidaknya sebagian besar shinobi Konoha- terkonfirmasi kebenarannya.
Menambah catatan daftar kecurigaan di benaknya, Kitsune tetap dengan seksama mencuri dengar percakapan mereka.
"Menma?" tanya seorang berambut silver kemudian.
"Ah, iya. Menma; putraku. Di dimensi kalian ia bernama Naruto, bukan?" balas Minato yang mendapat anggukan singkat dari ketiga sosok di hadapannya.
"Naruto? Dimensi kalian?"
Sang Kitsune hampir saja akan meloncat keluar dari persembunyiannya saat si pria berambut putih mengaktifkan Sharingan di mata kirinya.
"Maaf, sen- Namikaze-san," ucap orang itu tampak mencurigakan dengan gestur 'penghapus ingatan' khas Uchiha yang sangat familiar bagi Kitsune.
Untungnya lawan mereka adalah seorang Namikaze Minato; shinobi yang mendapat julukan Yellow Flash akibat kecepatannya yang tak tertandingi, sehingga sang anbu dapat sedikit menurunkan rasa ingin melompat keluar untuk menintervensi mereka.
Seperti dugaan Kitsune, Minato telah berada di belakang sang pria berambut putih dengan kunai cabang tiga tergenggam erat pada masing-masing tangannya secepat kedipan mata.
Namun ucapan sang Namikaze tepat setelahnya cukup untuk membuat Kitsune terbelalak sempurna.
"Tidak akan semudah itu, Obito." ucap Minato dengan seringaian di bibirnya.
Boom!
"Obito... Uchiha?" batin ragu sang anbu sembari memerhatikan fisiologi pria di dekapan(?) sang Namikaze.
"Tidak mungkin! Obito telah dinyatakan gugur puluhan tahun lalu. Lagipula sejak kapan seorang Uchiha memiliki rambut putih?" lanjutnya dalam hati yang masih tak mau memercayai apa yang barusan ia dengar.
"Heh, kau bahkan masih kalah cepat dengan adikmu." Perkataan Minato selanjutnya tentu sukses memecah konsentrasi setiap individu di tempat itu. Kitsune termasuk di dalamnya.
"A-apa?"
"Shunshin no Shisui. Kau mengenalnya kan?" jawab sang Namikaze tanpa sedikitpun merenggangkan kewaspadaannya.
"Shunshin no Shisui.." ulang sang anbu dalam hati yang kini benar-benar merasa terkejut bercampur curiga dan tak percaya.
"Kau bercanda?" pertanyaan dengan intonasi yang lebih tergolong sebagai pernyataan terucap dari mulut pria yang Minato anggap sebagai 'Obito' itu.
"Bagaimana bisa?" tanya sang rambut perak tak kalah terkejutnya dengan Kitsune.
"Melihat dari gestur kalian, kuduga Obito tidak memiliki adik di dimensi kalian." Merupakan perkataan terakhir Minato yang dapat sang anbu dengar sebelum mulai tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
"Obito… nii-san?" batinnya yang tak lagi kuat menahan beban tubuhnya.
Kitsune kini berusaha menjaga keseimbangan dengan bersandar pada batang pohon di sisinya.
•••
Pemikirannya terpecah saat merasakan denyutan nyeri pada sebelah matanya.
"Ugh,"
Saat Kitsune tersadar dari lamunannya, para shinobi tadi sudah tak terlihat sejauh dirinya memandang, menyisakan seorang Namikaze Minato yang kepalanya tertunduk mencurigakan sembari berdiri kaku beberapa meter dari pohon tempat sang anbu bersandar.
"Setidaknya aku mendapat informasi berguna. Kemampuan Jikkugan Ninjutsu dari Mangekyo Sharingan? Menarik, sangat menarik." Minato terdengar bermonolog.
Kitsune terpaksa menahan nafasnya saat melihat sebuah seringaian tampak di bibir sang Namikaze yang tatapannya kini tepat mengarah pada dahan pohon tempatnya bersandar sebelum turut lenyap dalam kilatan kuning khas Hiraishin.
"..."
"Shit!" umpat sang anbu beberapa saat kemudian menyadari kalau keberadaannya telah diketahui.
"Sekarang apa?" gumam Kitsune yang memikirkan opsi-opsi yang tersedia.
"Pilihan pertama tentu segera kembali ke Konoha dan memberi tahu semua ini pada Tsunade-sama. Alternatifnya aku bisa menggunakan 'jutsu itu' untuk sekedar memeriksa kalau mereka tidak melarikan diri 'kesana.'
Sembari memfokuskan dirinya, Kitsune mempertimbangkan kedua pilihan tersebut.
"Yeah.. kuharap Hokage-sama dapat menungguku memutar jalur sejenak," putus sang anbu sepihak sebelum tubuhnya perlahan mulai lenyap dalam sebuah pusaran khas 'jutsu itu.'
•••
[Konoha]
"Sriing!"
Bunyi desingan khas hiraishin menjadi pertanda munculnya seorang pria kuning yang dikenal luas sebagai sang Yellow Flash di sebuaah bangunan di sisi timur desa Konoha.
"Sekarang apa?" batin Minato sembari mondar-mandir di dalam kediamannya.
Kini ia harus mengatur strategi agar hanya orang tertentu yang mendapat informasi yang sesuai. Dirinya tentu tak ingin informasi berharga semacam ini jatuh ke tangan yang salah.
Saat sang Namikaze sibuk dalam pemikirannya, terdengar ketukan dari balik pintu masuk rumahnya.
"Tok," "tok,"
Tidak merasakan hawa keberadaan maupun chakra dari sumber suara membuat kewaspadaan Minato meningkat.
"Sudah pasti bukan Kushina atau Menma," pikirnya.
Setelah memastikan tiap segel pengaman tetap aktif di tempatnya, Minato perlahan-lahan mendekati pintu masuk dengan sebelah tangan menggenggam kunai cabang tiga khasnya,
"Cklek"
"Kau.."
Minato sudah memiliki dugaan 'siapa' tentunya, namun ia tetap saja sedikit terkejut saat mendapati seorang anbu bertopeng putih polos berada di pintu masuk kediamannya.
"root," batinnya semakin meningkatkan kewaspadaan.
"Minato-san," sapa sang anbu berbasa-basi dengan nada tanpa emosinya.
"Ada apa?" tanya sang Namikaze yang sukses menyembunyikan raut kecurigaan bercampur waspada di balik wajah datarnya.
"Anda dipanggil ke markas," jawab sang anbu yang hanya mendapat anggukan singkat dari Minato sebelum beranjak dari tempat tersebut.
TBC
Author's Note
Halo minna~
Bagaimana kabar kalian? Semoga baik-baik saja.
Bagaimana pendapat kalian dengan chapter ini? Membingungkan kah? Atau terlalu pendek? Hehe
Oiya, saat chapter-chapter awal dulu author pernah berkata kalau fic ini akan terdiri atas 12 chapter, namum dikarenakan sedikit perubahan pada alur cerita maka fanfic "Rewind" ini akan memiliki jumlah chapter yang lebih banyak lagi.
Bagaimana tidak? Hingga chapter 9 dan cerita ini masih dalam bagian peralihan dari 'orientasi' menuju 'komplikasi.' Bahkan siapa antagonisnya saja belum terungkap jelas, so.. yeah.
Terima kasih atas setiap komentar yang kalian tulis sehingga membuat author tetap semangat dalam menulis chapter-chapter selanjutnya.
Jangan lupa untuk #StaySafe dalam masa new normal saat ini, okay?
Oke, cukup sekian. Sampai jumpa pada chapter selanjutnya.
As always, arigato gozaimashita~
Author,
16 Oktober 2020
*Nantikan update chapter selanjutnya pada hari Jumat mendatang.*
