*Note : Inspired from Ardhito Pramono's song (Here We Go Again / Fanboi).
Rate : M
Genre : psychological-thriller
Pairing : Near/Mello & Matt/Mello
Warning GS, chara death, and tragic ending!
Eh jinjja gomene ya kalau ada yang aneh atau kelewat atau typo atau ada yang miss. Aing gak baca ulang. Males 11k words. Pardon me.
8. Fall in Love Again
Mello terbangun dengan suara pintu rumahnya yang diketuk berulang kali. Kesadarannya kembali terkumpul, ia benar-benar tidak bisa beristirahat dengan baik setelah semalaman pulang dari bandara dan membereskan barang-barangnya ke dalam kardus. Mello bangkit berdiri, berjalan ke arah lemari pakaiannya. Memilih salah satu dress vintage lengan panjang berwarna coklat.
Ia bercermin sebentar, mengikat kain panjang yang menjutai di lehernya menjadi sebuah pita, kemudian bergegas turun ke bawah dan membukakan pintu untjk tamunya.
"Ya? Selamat siang." Mello tersenyum simpul saat melihat seorang pria Jepang berseragam pengantar makanan berdiri di depan pintu rumahnya.
Pria itu nampak sedikit tergagap, kemudian menggaruk tengkuknya. "Maaf, Nona. Apakah Anda kenal dengan rumah nomor tiga puluh dua?"
Alis Mello saling bertautan, meletakkan satu tangannya di pinggangnya. "Sudah menekan belnya?"
Matsuda mengangguk ragu. "Sepertinya tidak ada orang di rumah. Tapi, lima belas menit yang lalu pemilik rumahnya memesan makanan." Kantong plastik yang berada di tangannya di angkat.
"Eum." Mello berpikir sejenak. "Mari saya temani." Ia melangkah keluar, menutup pintu rumahnya, dan berjalan ke arah pagar rumahnya diikuti Matsuda yang memgekorinya dari belakang.
Hanya berjarak satu rumah kosong, ia kembali masuk lagi mengantarkan pengantar makanan ini ke rumah tetangganya. Mello membuka pagar putih kecil, memasuki pekarangan minimalis. Ada berbagai jenis bunga yang ditanam di pot dan diletakkan berjajar di belakang pagar kayu, satu kotak pos di sebelah pintu pagar, dan alat pemotong rumput.
Rumahnya tampak indah dan sepi. Seperti tidak ada kehidupan. Tidak pernah ada yang melihat pemilik rumah ini keluar dari rumahnya dalam durasi yang lama atau terkadang orang itu keluar rumah hanya sekedar menyirami tanaman. Aktivitasnya tidak pernah terlihat di publik. Sampai-sampai semua orang di perumahan itu menganggap rumah itu kosong atau sang pemilik telah meninggal dibunuh.
Pernah suatu saat ada tetangga yang menelpon polisi untuk mengecek apakah pemilik rumah itu masih hidup. Pada saat polisi menggerebek rumah itu, pemilik rumah itu tampak sehat dan dalam keadaan baik. Beliau hanya menjelaskan jika dirinya sibuk dengan pekerjaan yang berkutat dengan laptop dan mengurus rumahnya. Cukup masuk akal.
Tidak ada yang pernah berbincang dengan pemilik rumah nomor tiga puluh dua itu, terkecuali Mello. Segala mengenai pekerjaan, kebiasaan, dan isi rumah itu hanya Mello yang tahu. Entah sudah berapa puluh kali orang yang berprofesi sebagai kantor pos, pengantar makanan, penagih biaya air, dan listrik selalu datang ke rumah Mello hanya untuk menemui sang pemilik rumah misterius itu.
Dan Mello adalah satu-satunya tetangga yang berbincang dengannya, masuk ke dalam rumahnya, dan makan bersama. Pria itu cukup tertutup dengan sekitarnya dan tidak suka bersosialisasi.
Mello menaiki tiga anak tangga yang mengantarnya ke depan pintu rumah, kemudian menekan belnya satu kali. Menunggu sekitar sepuluh detik, ditemani Matsuda di belakangnya.
Dua kali. Mello menunggu.
Tiga kali.
Empat kali.
Lima kali.
Tidak ada tanda-tanda bahwa ada seseorang di dalam. Sepuluh menit mereka berdiam diri menunggu di depan rumah. Mello menghela panjang, selalu seperti ini. Ia melirik ke arah Matsuda yang berulangkali melihat ke arah jam tangannya, kedua kakinya bergerak gelisah.
"Sepertinya ini akan sangat lama. Kau bisa meningalkannya padaku."
Matsuda mengangkat kepalanya dengan cepat, kedua matanya berbinar terang, senyuman jenakan tercetak di bibirnya. "Terimakasih, Nona! Saya sangat buru-buru!" Mello menerima kantong plastik besar berisi makanan itu.
Pria ceroboh itu berkali-kali membungkukkan badannya sembari melepaskan topinya lalu berlari cepat menuju motornya. Jika ia terlambat semenit saja, maka gajinya bulan ini akan dipotong setengah. Ia tidak boleh membuat bosnya marah. Hidup dan cintanya dipertaruhkan.
Mello menatap motor Matsuda yang melesat cepat membelah jalan perumahan Wammy. Setelah Matsuda menghilang dari pandangannya, lantas Mello berbalik untuk memberikan makanan ini ke tetangganya.
Tepat saat Mello membalikkan badannya, pintu rumah itu terbuka menampilkan sesosok pria berusia sekitar dua puluh lima dengan pakaian serba putih dan wajah pucat yang menyapanya di depan pintu. Rambutnya ikalnya terlihat memanjang hingga mencapai telinganya.
Mello terlonjak kaget, kemudian tersenyum canggung. "Hai," sapanya dengan suara sangat kecil, melambaikan tangannya.
Pria itu tersenyum tipis saat Mello mengangkat kantong plastik putih itu hingga menutupi setengah wajahnya. "Pesananmu," lanjut Mello.
"Ah, iya." Jari-jari panjangnya bergerak menyisir rambut ikalnya ke belakang tanpa berniat mengambil makanannya.
"Kenapa kau sangat lama, Near?" Mello mengangkat satu alisnya ke atas.
"Saya ada di dalam tadi. Tidak mendengar jika ada tamu datang."
"Di perpustakaan lagi?"
"Ya. Bel di belakang tidak berfungsi dengan baik. Beruntung saya keluar untuk mengambil ponsel saya yang tertinggal di ruang tamu lalu saya mendengar suara motor dan mengintip lewat jendela." Near menjelaskan, satu jarinya memainkan rambut putihnya. "Ternyata Mello datang," katanya mengakhiri penjelasannya sambil tersenyum.
Mendengar itu, Mello tertawa kecil. "Karena si pengantar makanan itu terlihat terburu-buru, jadi aku yang menggantikannya."
"Bagus."
Mello mengerjapkan matanya bingung, kemudian tersadar saat Near menatapnya intens. "Oh! Maaf aku sangat tidak peka!" Mello segera menyerahkan kantong plastik yang ia bawa sejak tadi.
Near tampak terkejut selama beberapa detik, lalu terdiam menatap tangan Mello. Matanya memandangi sesuatu berkilau yang melingkar di jari manis Mello. Dahinya berkerut samar, kedua alisnya saling menukik tajam, tidak begitu ingat dengan aksesoris yang digunakan oleh tetangganya.
Mello bingung melihat reaksi Near yang justru tidak segera mengambil makanannya dan malah menatap tangannya.
"Kau baik?" tanya Mello membuyarkan pikiran Near.
Dengan gerakan kaku, Near menerima kantung plastik itu lalu berdiam mematung dengan ekspresi kosong.
Mello melirik kanan-kiri, kemudian tersenyum lagi. "Kalau begitu aku akan-"
"Ayo kita makan bersama."
"Eh? Apa?" Mello tidak mampu menutupi keterjutannya mendengar penawaran Near yang tiba-tiba.
"Saya memesan banyak makanan."
"Maaf. Tapi, aku sudah makan-"
Lagi-lagi Near memotong ucapannya untuk menawarinya untuk mampir dengan sedikit paksaan.
"Saya baru saja membeli lima anak anjing maltese dan tidak yakin bisa memberi makan mereka."
Bibir Mello yang terkatup rapat kemudian terbuka sedikit lebar. "Oh-"
"Mereka mengacaukan barang-barang saya. Mello bisa membantu saya?" Near bertanya dengan nada memohon dan terdengar sangat berharap. Mello tidak bisa menolaknya jika seperti ini.
Kedua sudut bibir Near terangkat tinggi membentuk lengkungan lebar. Tangan pucatnya terulur ke depan, disertai tubuhnya yang sedikit membungkuk. Tanpa sedikit merasa ragu, Mello menerima uluran tangan Near dan berjalan masuk.
Samar-samar terdengar suara gongongan anjing yang kian mendekat ke arahnya. Anak-anak anjing berbulu coklat itu berlari ke arah Mello.
"Mereka campuran?" Mello berjongkok untuk menyentuh kepala anak-anak anjing itu. Merasakan jilatan mereka yang menggelitik kulit tangannya.
Near ikut berjongkok di sebelah Mello, mengambil pergelangan tangan Mello dan mengarahkannya ke salah satu anak anjing berbulu putih dan hitam di bagian kedua telinganya. "Husky and maltese mix."
"Ahh, so cute!" Mello menggigit bibirnya gemas, anak anjing itu hanya seukuran telapak tangannya, duduk manis dengan kepalanya yang dimiringkan ke samping. "Aku tidak tahu kalau orang sepertimu juga menyukai anjing."
"Saya menyukai sesuatu yang tidak menyakiti saya, Mello."
"Ah, benar." Mello tersenyum lalu mengangguk. "Kapan kau membeli mereka?"
"Bulan lalu." Near bangkit berdiri, melirik Mello yang menatapnya dengan pandangan penuh tanya. "Mello suka dessert?"
Mello ikut berdiri, mengikuti Near menuju dapurnya. Di belakangnya anak-anak anjing itu mengikutinya sambil menggonggong. Near mengatakkan bahwa mereka mengacaukan barang-barangnya di perpustakaan, Mello sempat menawarkan bantuan dan ditolak cepat.
Gadis itu memilih untuk tidak memaksa dan menurut. Mello sangat menyukai dekorasi rumah Near yang terkesan rapi meskipun banyak barang, tempatnya sangat nyaman untuk ditempati sendirian. Banyak bunga yang dimasukkan ke botol kaca berisi air dan diletakkan di tengah meja makan dan jendela.
Matanya menatap ke sekeliling ruangan dapur itu. Entah sudah berapa kali Mello menginjakkan kakinya masuk ke rumah Near dan selalu saja ada sesuatu yang berbeda. Near menarik satu kursi kayu, melemparkan senyum ramah.
"Thanks," Mello berbisik pelan dan duduk di meja makan. Menunggu Near menyiapkan makanan yang dibelinya tadi. "Kau selalu... mendekorasi ulang ruanganmu, Near?" Mello menyatukan kedua tangannya di atas meja, menelisik setiap detail rumah Near.
Pigura berisi lukisan dan foto pemandangan terpajang di dinding. Hampir semua foto yanh terpajang adalah hutan, danau, laut, pantai, hujan, dan padang rumput. Yang paling menarik perhatiannya adalah semuanya terlihat gloomy, entah langit yang gelap dan mendung mendominasi. Dan Mello suka, terlihat begitu menenangkan hatinya.
Near mengambil dua pisau dan sendok, mengelap permukaannya dengan kain. "Agar tidak bosan," jawabnya.
Mello mengangguk mendengarnya. "Apa kau tidak merasa kesepian tinggal sendirian di sini? Tidak bermaksud mengundang saudara atau teman kemari?" Mello bertanya dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan pria albino itu.
Jari-jari panjang Near bergerak pelan membuka apfelstrudel, makanan manis berbahan dasar terigu dan apel itu, memotongnya menjadi delapan bagian dan memindahkannya ke atas piring. "Saya lebih nyaman tinggal sendirian atau mungkin... berdua." Near melirik Mello lewat ekor matanya yang tengah duduk manis di meja makannya.
Mello menyisir helaian rambut pirangnya ke bawah. "Kalau begitu, kau bisa mencari pasangan untuk tinggal berdua di sini."
"Dengan kedatangan Mello setiap minggu sudah lebih dari cukup." Near menoleh lewat bahunya, tersenyum.
Mello hanya tersenyum mendengarnya. Baginya tidak masalah datang berkunjung kemari, apalagi di rumah ia sendirian. Hanya saja terkadang ia merasa aneh melihat Near tersenyum.
Seperti ada sesuatu yang disimpannya selama ini. Mello tidak berani bertanya lebih dalam lagi. Sebagai pendatang baru di perumahan Wammy, Mello harus memberikan kesan yang baik kepada tetangganya. Ia tidak ingin diusir dari perumahan itu. Matt sangat menyukai tempat tinggal yang sepi seperti ini.
"Bagaimana kabar Mello?"
Segera pikirannya tersadar saat Near meletakkan satu gelas air di sudut mejanya. "Hum?" Mello merasakan bulu-bulu anjing itu menggelitik kakinya. Mello mengambil salah satu anak anjing berwarna coklat dan meletakkannya di pangkuannya.
"Saya tidak melihat Mello keluar rumah selama dua minggu dan rumah itu... sepertinya kosong. Melli pergi ke mana?'
"Oh, waktu itu..." Mello mencoba berpikir dan teringat akan peristiwa penting yang baru saja ia lakukan. "Aku dan Matt melangsungkan pertunangan di-"
Sret!
Suara pisau yang beradu dengan permukaan tananan kayu berisikan potongan buah-buah tropis itu membuat Mello refleks menghentikkan ucapannya. Anak anjing yang berada di pangkuannya langsung melompat pergi diikuti oleh saudaranya. Terjadi ketegangan yang mencekik lehernya, matanya menatap punggung lebar Near yang terdiam mematung selama beberapa saat sebelum akhirnya terdengar suara helaan pelan dari bibir Near.
"Maaf, tangan saya terpeleset. Tolong lanjutkan yang tadi." Near kembali melanjutkan kegiatannya memotong strawberry menjadi bentuk dadu-dadu kecil. Ritme hentakkan pisau di tangan Near terdengar lebih tajam dan kasar.
Mello sempat merasa ragu, namun ditepisnya perasaannya jauh-jauh. "Kami melaksanakan pesta pertunangannya di Rusia. Yah, Matt sangat ingin pesta pertunangan dan pernikahan kami nantinya diadakan di sana. Maaf karena aku tidak mengundangmu, Near."
"Kapan?" Nada suaranya terdengar dingin.
Mello terdiam. "Eum... tanggal dua puluh kalau tidak salah ingat. Maaf Near, kami tidak mengundangmu." Mello merasa tidak enak sekaligus bersalah karena tidak mengundang Near dan tetangganya yang lain. "Bukannya aku tidak ingin mengundangmu, tapi Matt ingin pesta pertunangan kami hanya dihadiri oleh keluarga terdekat. Kalau kau mau aku membawakan souvenir dari sana, aku akan membawakannya untuk mu."
"Bukankah Mello ragu dengan Matt?" Tangan Near berhenti bergerak, seolah menunggu penjelasan Mello.
"Uhm..." Mello menelan salivanya, meremat kedua tangannya sedikit gugup. Entah hanya perasaannya atau bagaimana, namun Near terdengar seperti marah padanya. "Ya, aku sempat ragu dengan Matt karena-"
"Selingkuh?" Near melanjutkan membuat Mello menggeleng cepat meskipun Near tidak melihatnya langsung.
"Ku kira seperti itu. Kau tahu kan, Matt memang tipikal orang yang suka menggoda perempuan, tapi dia sangat setia."
Alis Near berkerut samar, tampak tidak setuju dengan pernyataan Mello barusan. "Tidak ada alasan bagi seorang pria untuk melirik wanita lain jika mencintai pasangannya."
"Tapi ternyata yang bulan lalu itu adalah sepupu Matt dari Jepang." Saat itu, Mello sempat bertengkar hebat dengan Matt karena tidak sengaja melihat sebuah postingan di instagram Matt yang memposting fotonya dengan Misa.
Keduanya bahkan sempat hampir putus dan membuat Mello mengusir Matt. Semua pertengkaran itu disaksikan oleh tetangga. Kemudian, esok paginya, Near datang berkunjung dengan membawakan makanan dan buah.
Dari situ Mello berawal bercerita dengan Near tentang masalahnya. Dari situ Near menjadi lebih dekat dengan Mello.
"Kenapa secepat ini?" Suara Near samar terdengar parau.
Mello menundukkan kepalanya membuat wajahnya tertutupi oleh rambut pirangnya. Senyum manisnya mengembang malu-malu, satu tangannya bergerak turun mengusap perut ratanya. "Karena... aku sedang hamil."
PRANG!
Near menjatuhkan pisau dan piring ke lantai menimbulkan suara mengejutkan. Gadis itu merasakan napasnya tercekat, mencekik tenggorokannya melihat pecahan kaca piring itu berserakan di bawah kaki Near.
"Near...? Kau baik-baik saja?" Mello bangkit berdiri menimbulkan decitan pelan.
"JANGAN MENDEKAT!" Near berteriak lantang, satu tangannya bergerak ke belakang untuk menyuruh Mello tetap diam di tempat.
Wajah pucatnya tertunduk dalam, menyembunyikan ekspresi lain yang tersembunyi. Rahangnya mengeras, satu tangannya meremat gagang pisau besar hingga buku jarinya memutih.
Mello terdiam mematung tanpa berani bergerak sedikit pun. Untuk pertama kalinya Mello melihat Near semarah ini dan berteriak padanya.
Keheningan yang mencekam berlangsung selama hampir dua menit. Mello sendiri tidak berani membuat pergerakan apapun, ia sangat takut. Near menarik dan menghembuskan napasnya perlahan selama beberapa kali, menetralkan emosinya yang tidak terkontrol.
Setelahnya tangan Near melepaskan pisau yang ia genggam itu, menggerakkan kedua tangannya mengusap wajahnya pelan. "Maaf, sepertinya saya tidak dalam keadaan yang sehat. Saya harap Mello mengerti."
Near berbalik, menampilkan senyuman tipis di wajahnya. Mello melangkah mundur saat Near berjalan mendekat ke arahnya, meraih tangannya. Mello ingin memberontak, namun diurungkan ketika Near membawanya ke pintu keluar.
Near memutar knop pintunya lalu menariknya ke dalam, sedikit mendorong Mello keluar. "Tolong... biarkan saya beristirahat. Jangan datang besok." Sebisa mungkin, Near memaksakan senyuman hangat di wajahnya sebelum menutup pintu rumahnya sedikit keras.
Mello hanya bisa diam mematung mencerna apa yang barusan terjadi. Dia tidak pernah melihat ekspresi wajah Near yang menunjukkan luka dan kecewa. Sempat terbesit dipikirannya bahwa tetangganya menyimpan perasaan untuknya. Saat awal pindah, Mello sering melihat Near berdiri di depan jendela dan tengah melihat ke arahnya.
Mello pikir itu hanya kebetulan dan kejadian itu berulang setiap hari. Mello menceritakannya pada Matt, meminta pendapat jika memang ia melakukan tindakan yang mengganggu. Lalu, keesokan paginya, saat mereka berdua datang untuk menemui Near, pria itu tidak muncul dan tidak membukakan pintu. Matt berasumsi bahwa Near sedang pergi dan memutuskan untuk mengabaikannya.
Namun, Mello memilih untuk tetap mendatangi rumah Near saat Matt berangkat bertugas sebagai anggota kepolisian. Mello datang berkunjung di siang hari, membawakan makanan, dan tanpa diduga Near membukakan pintu. Mello pikir dia harus menunggu selama berjam-jam lagi. Setelah berbincang sebentar, ternyata Near ingin mengundang Mello ke rumahnya, namun merasa malu.
Mulai sejak saat itu keanehan lain mulai terjadi. Seperti tukang pos, pengirim makanan, atau yang lain ketika datang ke rumah Near, pria itu sama sekali tidak membukakan pintu. Seolah rumah itu tidak dihuni oleh seorang pun. Beberapa tetangga yang lain mencoba membantu para petugas itu dan hasilnya nihil. Ketika Mello menawarkan diri untuk menggantikan mereka, tanpa membutuhkan waktu yang lama pintu rumah itu terbuka lebar. Ya, seperti itu.
Mello pikir itu wajar karena Near sangat susah bersosialisasi dan hanya merasa nyaman ketika berteman dengannya. Karena hanya ia satu-satunya teman yang dimiliki oleh Near.
-xXx-
Mello berjalan mondar mandir di ruang tamu. Sesekali matanya melirik ke arah bingkisan buah di dekat meja TV. Satu minggu sejak kejadian itu telah berlalu. Semuanya tampak normal. Normal dalam artian tidak ada orang yang meminta tolong kepadanya untuk mengantarkan barang/makanan ke rumah Near.
Selain itu, Mello juga tidak melihat Near berdiri di jendela untuk mengintipnya. Gorden coklat menutup rapat setiap celah jendela kaca rumah Near. Sekali Mello pernah diam-diam masuk ke pekarangan rumah Near dan mencoba mengintip dari luar, namun ia tidak bisa melihat apapun.
Sedikit banyak Mello merasa khawatir dengan tetangganya. Terakhir kali mereka bertemu semuanya tidak baik-baik saja. Ia takut jika terjadi sesuatu pada temannya. Maka, Mello memutuskan untuk datang berkunjung sekaligus meminta maaf.
Mello melirik ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Matt jarang datang berkunjung karena tugas pria itu menuntutnya untuk selalu berada di kantor polisi, terjaga setiap saat jika ada yang membutuhkan mereka. Matt bilang jika nanti setelah mereka menikah, ia akan keluar dari pekerjaannya dan mencari pekerjaan baru. Saat ini ia fokus untuk mengumpulkan uang.
Mello memejamkan matanya erat-erat, keputusannya sudah bulat. Ia akan mencoba mendatangi Near. Kemungkinan diusir atau dimaki adalah konsekuensi yang harus ia tanggung nanti. Sekarang, ia harus memastikan bahwa tetangga terdekatnya itu masih hidup.
Akhirnya, Mello memberanikan diri untuk mendatangi rumah Near. Tangannya meremas ujung dress-nya, berusaha menekan rasa gugupnya sebelum mengetuk dua kali pintu rumah Near. Dahinya berkerut serius, tidak biasanya Near mengabaikannya selama ini.
Mello kembali mencoba menekan bel, terdengar suara bel berbunyi dari dalam. Disusul suara gonggongan anak anjing. Mello kembali menekan belnya, perasaannya tiba-tiba menjadi kalut. Ia khawatir jika terjadi sesuatu pada Near.
Lima menit berlalu. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan seseorang berada di rumah. Mello sempat berpikir bahwa mungkin Near sedang pergi keluar.
Ponsel Mello bergetar pelan di dalam genggamannya, ia melihat nama calon suaminya muncul di layar. Ibu jarinya bergerak menggeser ikon berwarna hijau sebelum menempelkan ke telinganya. "Ya, halo?"
"Maaf, sepertinya aku tidak bisa pulang lagi malam ini."
Mello menaikkan kedua alisnya dengan kecewa. Padahal, hari ini Matt beerjanji akan pulang setelah menyelesaikan urusannya di kantor. "Apakah pekerjaanmu belum selesai, Matt? Kau tidak bisa meninggalkannya?"
"Tidak bisa, Mello."
"Sekali saja?" Mello mendengus pelan. "Kita sudah tidak bertemu selama hampir tiga minggu, Matt." Sejak hari pesta pertunangannya diadakan, sehari setelahnya Matt harus kembali terbang ke Inggris untuk kembali menangani sebuah kasus hilangnya orang.
"Mungkin aku bisa pulang besok, ya?"
Mello terdiam. Matt selalu saja berkata seperti itu. Tidak bisa menemaninya di masa hamil mudanya. Mereka hanya bertemu saat malam, kemudian Matt harus pergi dini hari. Hal itu yang membuat mereka selalu bertengkar. Mello yang sangat cemburu dan Matt yang kelewat santai.
Kedengarannya bukan masalah besar, namun Matt kerap dekat dengan wanita lain. Mungkin bukan bermaksud untuk selingkuh dan Mello mempersalahkan kebiasaannta yang terlalu ramah dengan wanita.
"Mello? Are you still there, honey?"
"Mhmm..."
"Jangan merajuk, ya? Aku sangat merindukan kalian. Aku pasti akan meminta cuti untuk menemani mu."
"Kau selalu berkata seperti itu." Mello menggeleng pelan, berusaha memahami kondisi tunangannya yang bekerja sebagai polisi, mengingat posisinya yang sangat dibutuhkan. "Uhm, tidak perlu sampai cuti. Aku baik-baik saja di sini."
"Aku juga ingin melihat morning sickness mu."
"Apa?!" Mello sedikit menaikkan nada suaranya. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran Matt yang sekonyol itu. "Kau hanya ingin melihat ku muntah-muntah setiap hari?!"
Matt tertawa keras di sebrang telpon, menepuk-nepuk kedua tangannya. "Just kidding. Don't take it too serious, babe."
"It's not even funny, Matt! Now, go back to your desk, sheriff."
Sekali lagi pria itu tertawa menanggapi perkataan Mello yang membuat gadis itu semakin kesal.
"Alright, m'lady. Omong-omong, kau sedang apa?"
Mello melirik ke belakang, memastikan bahwa Near tidak tiba-tiba membuka pintu dan menunggunya lama. "Aku sedang berkunjung ke rumah-" ucapan Mello terpotong saat mendengar suara knop pintu diputar dan ditarik, menampilkan sesosok pria pucat tinggi berpakaian polos berdiri di balik pintu, menyembunyikan wajahnya.
Mello terdiam saat melihat sepasang iris abu-abu menatapnya tajam, kemudian memperhatikkan suasana rumah tetangganya yang terasa sunyi dan gelap, meskipun terdengar suara gonggongan anjing.
"Hai, Near." Mello buru-buru mematikan ponselnya secara sepihak dan menampilkan sebuah senyuman ramah. "Eum... aku datang untuk membawakan mu... ini." Mello mengangkat keranjang besar berisi berbagai jenis buah-buahan. "Buah," tambahnya lagi.
Near tidak bereaksi sama sekali. Tetap terdiam di tempatnya tanpa berkedip, menatap Mello lamat-lamat. Merasa ditatap seperti itu membuat Mello tidak nyaman, terlebih ia tidak bisa melihat keseluruhan ekspresi wajah Near. Apakah marah atau merang terganggu?
"Err... maaf sepertinya aku mengganggu mu, ya? Aku akan pula-"
Tiba-tiba tangan Near terulur menahan pergelangan Mello dan menariknya masuk ke dalam. Mello tampak terkejut, namun Near mengabaikannya dan menutup pintu rumahnya.
"Saya tidak merasa terganggu." Near berucap datar kemudian mengambil keranjang yang dibawa oleh Mello. "Terimakasih atas perhatiannya." Near tersenyum.
"Ah... iya." Mello mengangguk patah-patah, menatap sekeliling rumah Near yang tampak berbeda jauh dari yang sebelumnya. Terakhir kali ia datang saat makan bersama, rumah Near tampak lebih terang dan cerah. Sekarang, semua jendela ditutup rapat dengan gorden, banyak lukisan milik Akira Sukaka ditempel di seluruh dinding.
"Kau mendekorasi lagi seluruh ruangan mu, Near?" Mello menelisik wajah Near yang tidak mengeluarkan eskpresi apapun dan hanya melirik ke arahnya.
Near masuk ke dapurnya untuk meletakkan buah-buahan yang diberikan oleh Mello. Terdengar suara kran air wastafel menyala. Mello berjalan masuk ke dapur Near, mengintip apa yang dilakukan oleh pria itu.
Near berdiri memunggungi Mello, mencuci seluruh buah yang diberikan olehnya, lalu diletakkan di atas piring besar. Entah, Mello tidak berani melangkah lebih dekat dan hanya mengintip dari luar.
Seperti ada yang berbeda dengan Near. "Kenapa Mello datang?"
Pertanyaan itu diutarakan seperti sebuah sindiran. Mello mengerutkan keningnya dalam-dalam, memperhatikan Near yang memasukkan buah-buahan itu ke dalam kulkas lalu berbalik menatapnya, menunggu jawaban darinya.
Mello tidak dapat mencerna maksud dari perkataan Near. Apakah itu artinya menyuruhnya pulang atau tidak usah berkunjung lagi.
"Aku memang mengganggu waktu mu, ya?"
Near menggeleng, menyenderkan bahunya ke pintu kulkas. "Kenapa datang? Saya hanya ingin tahu alasan Mello. Tidak mungkin karena hanya mau memberikan buah, kan?" Terselip sebuah harapan di dalam lontaran kalimatnya.
Mello membasahi bibirnya yang terasa kering sebelum berucap, "aku khawatir pada mu dan baru memberanikan diri datang kemari hari ini."
"Apa?" Near mencondongkan kepalanya ke depan, kedua alisnya saling bertautan.
"Itu, aku sebenarnya sangat ingin datang sehari setelahnya tapi ku pikir kau-"
"Bukan itu. Yang pertama," sela Near dengan cepat.
Mello mengerjapkan matanya lambat, memproses kalimat desakkan Near barusan. "Oh... karena aku khawatir?" Mello menaikkan kedua alisnya tidak yakin jika kalimat itu yang ingkn didengar oleh Near.
Benar. Itu adalah kalimat yang ingin Near dengar lagi, lagi, dan lagi.
"Mengkhawatirkan saya?" Near tersenyum puas, perasaan berat yang membebani pikirannya sejak tiga hari yang lalu.
Near mengadahkan wajahnya ke atas, memejamkan kedua matanya merasakan rasa senang yang mulai mengisi perasaannya. Kedua sudut bibirnya terangkat tinggi, ia mengeluarkan bienenstich atau bee sting cake yang merupakan dessert yang memiliki tiga lapisan adonan dengan tekstur berbeda. Lapisan pertama merupakan hefeteig atau kue ragi manis lalu ditumpuk dengan custard vanila bertekstur lembut di atasnya. Sesuai dengan namanya yang berarti kue madu, pada lapisan teratas terdapat siraman madu berpadu taburan kacang almond.
"Please, have a seat." Near menunjuk salah satu kursi yang berada di sebrangnya dengannya. "Temani saya makan dan mengobrol."
Mello melangkah mendekat, menarik kursi kayu di hadapannya dan duduk tanpa mengalihkan tatapannya dari Near. Seperti ada sesuatu yang salah dengan tetangganya dan Mello berniat untuk membantunya.
"Kau baik-baik saja, Near?"
Near memindahkan empat potong makanan manis itu ke piring Mello, meletakkan garpu dan pisau di sebelahnya. "Ya, saya sangat baik sekarang," Near berkata dengan lengkungan di bibirnya.
Aktivitasnya terhenti sejenak, kedua tangannya tak lagi berkutat pada piringnya, tubuh jakungnya berdiri di depan kursi, sedikit mencondongkan tubuhnya untuk menilai penampilan Mello hari ini. Iris abu-abu Near bergerak menelisik seperti sebuah mesin foto.
Ia begitu menyukai bagaimana dress berwarna biru itu memiliki bentuk square neck, memamerkan leher jenjang Mello dan collarbone. Liontin berbentuk hati melingkari lehernya, menjuntai dengan indah ke bawah. Bagian tali di lengan bajunya menggantung di sikunya. Pakaian itu terlihat sangat sempurna memperlihatkan setiap lekuk tubuh Mello. Near memperhatikan satu per satu kancing dress Mello hingga berhenti di bagian perut, bibirnya terus bergerak pelan tanpa suara. Sikunya dengan sengaja bergerak menyenggol garpunya hingga terjatuh ke lantai.
Mello terlonjak dalam lamunan kecilnya, ia berniat untuk membantu Near mengambilkan, namun gerakan tangan pria itu membuatnya terdiam di posisinya. Satu tangan kiri Near menyangga di tepi meja, menahan bobot tubuhnya saat membungkuk ke bawah. Lalu, matanya bergerak cepat untuk melihat rok di atas lutut yang tidak menutupi sepasang kaki putih jenjang itu. Dan high heels pendek berwarna putih, Near ingin menjangkaunya.
Pikiran aneh itu segera ia tepis jauh-jauh. Ia tidak ingin membuat tetangganya lari terbirit-birit keluar dari rumahnya dan memanggil polisi atas dasar pelecehan seksual. Near kembali menegakkan badannya, melemparkan senyuman tipis saat Mello menatapnya.
"Kau menikmatinya?" Near menyukainya, mereka terlihat seperti sepasang suami-istri. Duduk berhadapan di meja makan, menyatap makan siang bersama dan mengobrol kecil.
Mello mengangguk beberapa kali sambil mengunyah makanannya. Mereka melanjutkan makan siang mereka tanpa obrolan banyak. Meskipun Mello bukan tipe orang pendiam seperti Near, namun ia bisa menyesuaikan dirinya di setiap kondisi di sekitarnya.
Ia tidak tahu, setelah menumpang makan dan membantu Near mencuci piring kotor, apakah ia akan langsung pulang? Di rumah ia sendirian. Tidak ada kegiatan apapun. Matt sendiri berjanji akan menemaninya di akhir pekan dan membawanya pergi piknik bersama. Itu pun jika Matt tidak ingkar lagi.
Sebenarnya, Mello tidak suka ketika sendirian di rumah. Ia lebih suka bersosialisasi dengan orang lain. Mello merasa sedikit tidak enak datang ke tetangga lain yang rata-rata adalah lansia atau sibuk mengurus anggota keluarga yang banyak. Mungkin kehadirannya bisa mengganggu mereka.
Mello menggenggam pergelangan tangannya di belakang punggungnya, berjalan menyusuri lorong rumah Near. Melihat-lihat setiap pajangan antik yang penuh dengan nilai seni. Mello begitu menikmati kegiatan observasinya. Menurutnya, Near sangat rapi dan sopan.
Ujung high heels Mello membentur anak tangga pertama, membuatnya refleks mencengkram pegangan pada tangga. Ia hampir saja mempermalukan dirinya di depan tetangganya. Oh, memalukan jika ia sampai terjatuh dengan wajah mendarat terlebih dulu.
Dengan sangat hati-hati, Mello menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Dibandingkan dengan lantai satu, di lantai ini ada tiga ruangan tertutup dan cenderung terlihat sepi karena tidak ada lukisan yang menempel di dinding.
Mello melihat-lihat ke sekelilingnya. Kemudian, ia melirik ke bawah, mencari keberadaan Near yang tiba-tiba hilang dari penglihatannya. Aura yang ada di lantai atas ini terasa berbeda dengan yang di bawah. Seperti ada sesuatu yang menekannya dari luar.
Mello mengitari lantai itu, lalu berhenti tepat di salah satu kamar yang sepertinya adalah kamar Near. Ia tidak begitu yakin mana ruangan milik Near karena semua lintu memiliki warna yang sama. Perasaan ragunya dikalahkan oleh rasa penasarannya.
Ujung jari Mello bersentuhan dengan dinginnya knop pintu berwarna putih, membuatnya merasa merinding. Saat ia akan memutar pintu itu, tiba-tiba Near muncul di belakangnya dan menahan tangannya. Mello memekik terkejut, tubuhnya ditarik menjauh dari ruangan itu.
"Maaf, tapi kau sangat menganggetkanku. Apa aku terlalu lancang?" Mello dengan jantungnya yang terus berdebar-debar kencang tidak dapat mengontrol deru napasnya. Ia memandang takut-takut wajah dingin Near yang tidak bereaksi apapun dan terus membawanya menuruni anak tangga.
Near melepaskan tangan Mello saat mereka sampai di bawah, kemudian berbalik untuk menghadap lawan bicaranya. "Maaf menganggetkanmu. Tapi, jangan pergi ke atas tanpa seizin saya. Mengerti, Mello?"
Mello refleks berjalan mundur melihat Near memajukkan tubuhnya mendekat. "Maafkan aku. Maaf. Ku pikir kau pergi ke mana dan tidak melihatmu di bawah. Jadi, aku mencoba untuk membuka satu per satu ruangan di atas karena... aku penasaran." Mello mulai menundukkan kepalanya.
"Did I fear you?" Near melihat Mello tersentak saat ia menyentuh sisi wajahnya.
Buru-buru Mello menggeleng. "Aku hanya... takut membuatmu marah. Maaf, aku lancang sekali."
"Tidak apa. Lagipula, saya belum sempat untuk membersihkan ruangan itu."
"Gudang?"
"Bukan, bukan. Itu kamar saya. Sangat berantakan dan... sedikit berdebu."
"Ahhh... aku mengerti." Mello tersenyum tipis.
Near memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, kemudian tersenyum. "Saya tidak ingin membahayakan kandungan Mello."
Sedetik kemudian bibir Mello merekah lebar sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Kapan-kapan saya akan membawa Mello masuk." Near mengusap kedua tangan pucatnya sebelum mengulurkan tangannya untuk diraih oleh Mello dan membawanya berjalan keluar.
Near menuntunnya dengan baik sampai di depan rumahnya. "Mello tidak keberatan, kan? Datang ke rumah saya jika ingin. Kalau bisa setiap hari tidak apa. Apakah memberatkan kondisi Mello?"
Mello segera mengikuti arah pandang Near ke perutnya yang rata lalu menggeleng cepat. "Tidak. Lagipula, aku sendirian di rumah dan Matt jarang pulang. Aku akan merasa senang jika bisa datang berkunjung."
"Baguslah," kata Near senang.
"Lain kali, datanglah ke rumah kami."
Mello memberikan kata kepemilikan kami yang merujuk pada dirinya dan calon suaminya.
Seperti dugaan awalnya, Near akan berkata seperti ini. "Maaf, saya sangat tidak terbiasa pergi ke rumah orang." Near menggosok hidungnya, lalu melonggarkan kemejanya. "Saya merasa sedikit tidak nyaman melakukannya."
"Baiklah, aku mengerti." Mello mengangguk pelan, menundukkan kepalanya sambil tersenyum manis, memperhatikan kedua kakinya. "Kalau begitu, aku akan pulang. Sampai jumpa... besok, mungkin?" Mello mengedikkan bahunya, menunjukkan deretan gigi rapinya.
"See you very soon." Near melambaikan tangannya ke arah Mello saat gadis itu berjalan menuju pagar rumahnya.
Near masuk ke dalam rumahnya, menutup lintu rumahnya dengan keadaan bahagia yang hampir membuatnya meledak. Tangannya menyentuh dada kirinya, merasakan debaran cepat yang mendobrak lapisan tulangnya. Bibirnya mencetak sebuah senyuman lebar.
Near hendak melangkahkan kakinya menjauh, namun samar-samar ia mendengar suara kendaraan berhenti tak jauh dari rumahnya. Ia kemudian mengintip dari balik gorden jendela, terlihat sebuah mobil tua berwarna merah berhenti tepat di depan rumah Mello.
Alisnya menukik tidak senang saat melihat seorang pria berseragam polisi keluar dari mobil. Disusul Mello yang keluar dari rumah dan berlari senang menghampiri Matt. Dilihatnya, Mello melompat dan membuat Matt hampir kehilangan keseimbangan.
Mereka saling berpelukan erat, melepaskan kerinduan yang terpendam, kemudian menyalurkan kebahagian mereka dengan ciuman. Jari pucatnya bergerak menyentuh bibirnya sendiri, ia melihat mereka berdua berjalan masuk sambil bergandengan tangan.
Near meremat dada kirinya yang tak lagi berdetak cepat seperti tadi. Perasaannya tiba-tiba berubah menjadi sangat buruk. Ia berlari ke dapur secepat kilat, membuka satu per satu laci dapurnya, mengambil kotak obat dan menelan lima pil sekaligus tanpa mendorongnya dengan air.
Tubuh jakungnya merosot ke lantai dengan napas terengah-engah. Near mulai memejamkan matanya, kerutan di dahinya mulai mengendur. Bibirnya meracau tidak jelas hingga akhirnya ia tertidur.
-xXx-
Matt membuka pesan email yang berisikan biodata korban hilang dikirimkan ke padanya. Seorang wanita tua yang berprofesi sebagai psikiater dinyatakan hilang satu tahun yang lalu. Sebagian data pasien yang pernah ditangani oleh psikiater itu dihilangkan lagi. Yang pasti pelakunya memiliki kelainan jiwa dan sangat manipulatif.
Matt mendengus kesal, pelaku kejahatan ini sangat membuatnya tertekan. Jika ia tidak dapat mengungkapkan pelakunya dalam kurun waktu tiga bilan lagi, maka ia akan ditugaskan ke distrik lain. Tidak mendapatkan jatah libur.
"Sial!" umpat Matt. Padahal ia ingin sekali memperbaiki kerenggangan hubungannya dengan Mello sebelum menikah nanti.
Matt berhenti mengumpat ketika melihat Mello datang membawakan sepiring roti panggang dan segelas susu pada Matt yang sedang berkutat dengan laptopnya. Rokoknya yang baru saja menyala langsung dibuang ke luar jendela begitu melihat kehadiran Mello.
"Kenapa masih belum berhenti merokok?" Mello meletakkan roti panggang dan segelas susu di depan laptop Matt, kemudian duduk bersebrangan.
Matt seketika mengalihkan pandangannya dari berkas kasusnya yang menumpuk. "Yeah? Aku sedang berusaha untuk berhenti."
Mello memangku dagunya, tatapannya terlihat lelah mendengar ucapan Matt. "Kau selalu berkata seperti itu, Matt. Sejak tahun lalu kalau kau lupa."
Pria berambut merah itu meringis pelan, mengusap tengkuknya pelan. "Sangat susah untuk lepas dari rokok. Aku terkadang merasa tertekan dan stress saat menjalankan tugasku."
"Berusahalah untuk menguranginya."
"Ya, aku memang menguranginya."
"Dan jangan lakukan itu di rumah." Mello melemparkan tatapan sangat tajam pada Matt. "Di sini ada kehidupan yang harus ku jaga."
Matt mengerti saat Mello mengusap perutnya. Ada keinginan untuk berhenti karena selain membahayakan kesehatan dua orang di dalam hidupnya, ia juga tidak ingin mati muda. Hanya saja, akhir-akhir ini ia rentan mengalami stress.
"Aku akan mencobanya."
"Kau selalu mengatakan hal yang sama." Mello memutar bola matanya sarkas, membuang wajahnya ke arah lain.
Polisi muda itu menghela berat, tangannya merogoh saku celanan training hitamnya, menarik sekotak rokok mahalnya beserta pemantiknya. "Hei," panggil Matt lembut.
Mello masih kekeuh untuk tidak membiarkan dirinya menjadi lunak karena sikap romantis Matt.
"Look at me, Mello." Matt menarik satu tangan Mello, membawanya ke dalam genggamannya. "Kau bisa menyita semya rokokku."
Sedikit, Mello melirik sinis tanpa menarik tangannya menjauh.
"Aku bersumpah hanya membawa satu." Matt jujur, ia membeli satu kotak rokok untuk ia gunakan satu minggu. Dulu lebih parah, satu kotak untuk dua hari.
"Kalau kau sakit aku tidak akan mau mengurusmu."
"Iya..."
"Bahkan kalau kau mati aku tidak akan mau datang ke pemakanmanmu!" Mello berseru kesal.
"Okay."
Mello mengatupkan bibirnya kesal. "Aku akan menikah lagi!"
"Aku akan menghantui suamimu sampai ia depresi." Matt bergurau, ia tertawa pelan sambil mengusap punggung tangan Mello dengan perlahan.
Mello mendengus geli, menggigit bibir bawahnya saat Matt menggigit ujung roti bakar sambil mengangkat satu alisnya ke atas dengan menggoda.
"Oh, you are such a good seducer!"
"I am." Matt tersenyum miring, mengunyah roti bakar di dalam mulutnya. "Kemarilah." Tangan kiri Matt berayun pelan di udara, mengisyaratkan Mello untuk pindah di sebelahnya
Mello menurut, ia berdiri dan duduk di sebelah Matt. Memperhatikan dokumen yang berserakan menutupi keypad laptop. "Oh kasus orang hilang?" Mello membaca salah satu judul yang tertulis dalam bahasa Portugis.
"Ya, korbannya adalah seorang gadis bernama Caitlyn Johanson berumur dua puluh tahun. Ia dinyatakan menghilang selama dua tahun. Entah bagaimana keadaan gadis itu."
"Mungkinkah ia dibawa ke tempat protistusi?"
Matt menyeruput susu hangat di dalam cup kecil. Terdengar suara dentingan kaca ketika berbenturan dengan meja kayu, Matt memijit kepalanya.
"Tidak ada jejak yang tertinggal. Kau yakin gadis ini tidak kabur dari rumah?"
"Menurut keluarga dan teman-temannya, Caitlyn adalah gadis yang ceria, baik, dan energik. Tidak pernah memendam masalahnya sendiri, ia selalu bercerita pada keluarganya."
"Siapa tahu ada yang ia pendam."
"Menurutmu begitu?" Matt mengusap surai pirang Mello dengan sayang, mengecup kepala tunangannya.
"Entahlah, aku hanya tidak begitu yakin. Apalagi... gadis ini dinyatakan bunuh diri? Jangan bilang teman-temanmu mulai menyerah dengan kasus ini. Kenapa mereka tidak berusaha mencari ke orang-orang yang pernah berhubungan dengan gadis ini. Coba saja lacak ponselnya."
"Hei, tidak perlu ikut berpikir berat seperti itu, okay? You need a lot of rest."
"Pasti berat untukmu, ya?"
"Tidak apa. Aku punya semangat di sini." Matt menarik tengkuk Mello, lalu menempelkan bibir mereka sebelum ia melumat lembut bibir Mello.
Satu tangannya bergerak bebas mengusap pinggang ramping Mello, membuat tubuh kecil itu bergerak tidak nyaman.
"Matt slow down." Mello menurunkan tangan Matt dari dalam gaun tidurnya.
"I'm sorry." Matt terlihat sangat kacau. "Kalau saja aku bisa menangkap pelaku kejahatannya dalam kurun satu bulan. FBI juga tidak bisa membantu banyak."
Mello hanya diam dan memperhatikan ocehan yang menjadi beban mental dan pikiran Matt selama ini.
"Aku tidak tahu apa-apa tentang tugas ini! Maksudku pada awalnya ini adalah tugas anak ketua polisi, Light Yagami, kau tahu?"
"Mhmm."
"Dia bilang ingin pindah kasus hanya karena Misa pindah ke luar kota untuk masalah pekerjaannya. Sangat tidak masuk akal! Mereka mengijinkan Light lepas tanggung jawab dan melimpahkannya pada kami."
Mello mengusap-usap punggung lebar Matt.
"Aku akan menjadi sangat sibuk."
"Tidak apa." Mello bergelayut manja. "Kita bisa saling berkabar."
"Tapi, aku tidak bisa menemani masa hamilmu setiap saat. Seharusnya aku ada bersamamu paling tidak seminggu dua kali. Mereka terus memaksaku untuk mencari dokter Hana dan Caitlyn. Ya Tuhan."
"Dua korban?" Mello mengintip untuk melihat foto korban tersebut. Satunya seoranf gadis muda dan seorang wanita tua.
"Iya, Light bilang pelakunya sama. Hanya laporan itu yang diberikan padaku. Hah." Matt menghela lelah. "Setidaknya rekanku yang bernama Aizawa itu banyak membantu."
"Apa ada yang bisa ku bantu? Kau terlihat sangat lelah."
Matt tersenyum tipis, menarik pinggang ramping Mello, lalu berbisik pelan. "Can Daddy meet the baby tonight?"
"You..." Mello menutup wajahnya yang memerah malu melihat Matt tersenyum miring.
Mello terkesiap saat tubuhnya tiba-tiba diangkat dan dibawa ke kamar. Setidaknya, Matt masih memiliki cara untuk meredam stressnya.
-xXx-
Lima bulan berlalu. Mulai terlihat perubahan yang menonjol di tubuh Mello. Perutnya kini membesar bulat di balik dress-nya, terlihat Matt selalu membantunya ketika berjalan.
Near melihat bagaimana mereka berdua tertawa lepas. Saling berciuman dan bermesraan di luar. Menghabiskan waktu berdua dengan melakukan piknik kecil di depan rumah mereka, memakan makanan buatan Mello.
Bahkan hari ini, Mello terlihat sangat cantik. Dengan balutan dress panjang dan bagian dada yang rendah memperlihatkan belahan dadanya yang sintal. Rambut pirangnya berjatuhan di atas bahunya. Perutnya terlihat bulat dan besar. Sesekali, Matt akan mengusap perut besar itu, mendaratkan ciuman, lalu menempelkan telinganya. Mereka tertawa bersama lagi.
Tidak seperti bulan-bulan lalu, Matt sering datang berkunjung bahkan sampai menginap. Menghabiskan waktu berdua di sore hari. Dulunya Mello akan sering datang berkunjung ke rumahnya, setiap hari. Sekarang, dua minggu sekali dan itu pun datang bersama dengan Matt.
Near tidak nyaman melihat kemesraan mereka. Hari ini, seperti biasa yang ia lakukan, mengamati Mello dan mengabaikan eksistensi Matt di sana. Near segera mengarahkan kamera polaroidnya ke jendela untuk mengambil beberapa gambar Mello.
Ia memeriksa hasil potretnya, kemudian terdengar suara bel rumahnya ditekan. Pria itu kembali mengintip dan melihat sepasang suami istri itu berdiri di depan rumahnya dengan membawa sesuatu.
Near buru-buru merapikan tatanan rambut dan pakaiannya. Ia langsung berjalan cepat menuju pintu rumahnya dan menyapa mereka berdua.
"Hai," sapa Mello sambil tersenyum.
"Hai." Near membalas senyuman itu.
"Senang bertemu dengan Anda." Kini, giliran Matt berkata sambil mengulurkan tangannya. Terlihat ketidaktertarikan tersirat di pandangan Near untuk berjabat tangan dan pada akhirnya ia membalas jabatan Matt.
"Likewise," ucap Near singkat, menarik tangannya kembali.
"Ini pertama kalinya kita bertemu, kan? Saya dengar." Matt memberi jeda untuk memeluk bahu Mello menempel ke sisi tubuhnya. "Anda sering menemani Mello saat sendirian."
"Ya, Mello sering datang kemari."
"Terimakasih karena telah menemaninya. Anda pasti tahu saya adalah seorang polisi dan sedang sangat sibuk sehingga tidak dapat menemaninya."
"Saya tidak keberatan untuk menggantikan posisi Anda."
"Sebagai teman," Matt mengoreksi.
Near tersenyum lebar, lalu memiringkan kepalanya. "Tentu saja. Sebagai teman."
Tangan Matt bergerak mengusap punggung Mello.
"Kalian pasti memiliki topik yang searah. Mello sedikit susah berbincang dengan orang lain."
Mello menoleh pada Matt. "Near orang yang sangat pintar dan berpengetahuan luas. Dia bahkan meminjamkanku beberapa buku sains miliknya."
"Wow. Itu menakjubkan."
"Oh." Seolah tersadar akan tujuannya kemari, Mello segera menyerahkan kotak berisi muffin. "Sebagai perayaan lima bulan kandunganku."
Near segera menerima kotak putih itu, matanya tertuju lurus pada perut besar Mello. Ekspresinya terlihat datar dan cenderung tidak memiliki emosi, namun ia memaksakan untuk tersenyum. "Dia terlihat sehat."
Mello tersenyum senang sambil mengusap perutnya. "Pertumbuhannya sangat baik. Dokter menyarankanku untuk mendengarkan lagu klasik."
"Saya bisa memainkan lagu-lagu klasik dengan piano."
"Oh? Kau bisa?" Mello membelalakan matanya terkejut.
"Ya, Mello bisa datang ke rumah saya." Near berbicara dan melupakan Matt yang mendengar percakapan mereka.
"Kalau begitu kapan-kapan kami bisa datang, kan?" Matt bertanya dan membuat alis Near menurun tidak suka.
Bibirnya terkatup rapat-rapat, sebelum berkata dengan sangat pelan. "Maaf, bulan ini saya sangat sibuk dengan seminar online universitas."
"Sayang sekali. Kami ingin mengundangmu untuk makan bersama." Matt meraih pinggang istrinya.
"Near adalah seorang psikiater, ia sangat sibuk hampir setiap hari."
"Kalau begitu kau akan mengganggunya jika datang setiap hari?"
"Tidak." Near menyela cepat membuat Matt dan Mello langsung menatapnya sedikit kaget. "Tidak mengganggu sama sekali. Saya menyisihkan waktu saya untuk bekerja di malam hari atau tergantung Mello datang."
"Untung saja." Mello melingkarkan tangannya di sekitar lengan Matt. "Kalau begitu kita pulang dulu, ya?" Ia mengadahkan kepalanya menatap wajah Matt.
"Okay, kau pasti kelelahan."
Mereka pamit pulang dan berjalan keluar dari halaman rumah Near sambil bergandengan tangan.
Pengganggu.
-xXx-
Jika Matt sedang pergi bertugas yang memgharuskannya berangkat ke distrik lain selama beberapa hari bahkan minggu, maka itulah kesempatan Near. Mello akan datang lagi. Ia sama sekali tidak ingin datang ke tempat Mello. Akan banyak hal yang membuat emosinya tidak terkendali.
Seperti hari ini, Mello datang setelah berjalan-jalan ke pantai dengan Matt
Pria berdarah Rusia itu mengantarkan calon istrinya ke rumah Near. Dengan senang hati pria itu menyambutnya dengan hangat. Memberikan kudapan manis dan memperlakukannya dengan cara yang romantis.
Setiap saat, Near selalu berdoa jika hubungan Matt dan Mello semakin memburuk. Ia ingin melihat mereka saling berteriak satu sama lain. Tidak seperti malam itu di mana Matt dan Mello bercinta. Near melihat mereka di balik jendela, menatap bayangan mereka di balik gorden. Bagaimana Matt menanggalkan pakaian Mello, menyentuh tubuhnya, dan memberikan tanda kepemilikan di sana.
Near ingin sekali menghancurkan kepala polisi muda itu. Malam itu, Near harus kembali mengamuk seperti orang gila, memecahkan botol-botol kaca, kaca, dan barang-barangnya. Hingga menewaskan anak anjingnya dengan menggorok lehernya hingga putus.
"Mereka mati karena keracunan makanan." Near berkata demikian saat Mello menanyakan anak-anak anjingnyanya sekarang hanya satu.
Wajah Mello berubah menjadi sendu. "Kasian sekali. Sudah membawanya ke dokter?"
"Ya. Saya memanggil seorang dokter hewan kemari dan dokter itu berkata bahwa ada cacing yang menginfeksi saluran pencernaan mereka."
Wajah Mello berubah sendu, ia kemudian bangkit berdiri dari kasur Near dan merebahkan tubuhnya perlahan di sebuah sofa yang terletak di sebelah lemari besar.
Mello memutar tubuh hati-hati, menempelkan telapak kakinya di dinding dan membiarkan rambutnya menggantung di atas lantai sembari mengusap perutnya. "Lemari yang ini untuk apa?" Ditatapnya Near yang sedang duduk di kursi goyang yang diletakkan di sebelah kasurnya.
Pria itu duduk dengan raut datar, namun kedua tangannya bergerak sedikit gelisah di atas pahanya. Matanya menatap lurus-lurus Mello yang sedang bersenandung.
"Tempat buku-buku."
Mello memperhatikan bagaimana kedua kaki Near bergoyang resah. "Kau baik-baik saja?"
"Ya," jawab Near cepat. "Seperti yang kau lihat, rak bukuku sudah sangat penuh. Jadi, aku menyimpannya di lemari."
"Buku apa di dalamnya?"
"Sejenis novel terjemahan."
"Boleh aku melihatnya?" Mello bangkit berdiri dari tidurnya, namun Near segera beranjak menghampirinya dan menahan lengannya.
"Saya baru ingat jika memiliki novel yang Mello inginkan waktu itu."
"Anna's World?"
"Yes." Near mengajak Mello berjalan menuju rak buku besarnya. Pria itu menoleh ke belakang, memastikan bahwa Mello masih berada di belakangnya. Near mengambil salah satu novel tipis yang memiliki cover berwarna hijau dengan seorang gadis kecil di tengah.
Mello menerima buku itu dengan raut berbinar. "Aku sangat ingin membaca novel ringan."
"Filsafat."
"Di mana kau membelinya?"
Near menyisir rambut ikalnya ke belakang, mencuri lirikan pada Mello yang mengadahkan kepalanya untuk menatapnya. "Kau bisa datang untuk meminjamnya kapan pun."
"Kau baik sekali." Buku itu dibawa ke pelukannya.
"Nevermind."
Mello tersenyum senang. "Hum? Apa itu?"
Near mengikuti arah pandang Mello yang menunjuk pada sebuah amplop putih berisikan surat yang menyumbul keluar di antara celah buku. Sepertinya ikut tertarik ketika Near menaril keluar novelnya.
Tanpa ijin, Mello menarik surat ini, namun segera direbut oleh Near dengan raut tidak suka.
Mello terkejut. "Eh, apa itu? Sepertinya aku melihat logo rumah sakit?"
Near mengembalikan surat itu ke dalam rak bukunya dan menutupinya dengan buku-buku lainnya. "Surat diagnosa kejiwaan."
"Siapa?"
"Pasienku."
"Oh... aku hampir lupa kalau kau seorang dokter."
"Ya."
Mello merasa seperti Near mulai mendingin dan menghalangi pandangannya dari rak bukunya seolah ia tidak boleh melihatnya.
"Tidak kau berikan?"
"Dia sudah meninggal," jawab Near cepat.
Mello menutup mulutnya terkejut.
"Bunuh diri," lanjutnya ketika melihat Mello ingin bertanya, namun terlihat sangat terkejut.
Sore itu, percakapan mereka harus terhenti karena tiba-tiba Matt datang menjemput Mello. Matt mengatakan ia akan membawa Mello ke dokter kandungan. Pertemuan mereka terlalu singkat, Near tidak suka.
Pengganggu.
Bahkan, ketika keduanya sedang berduaan di halaman rerumputan rumah mereka. Duduk di atas karpet berwarna kuning. Menikmati permainan konsol Matt di PSP, mengusap rambut merah tebal itu yang direbahkan di atas pangkuan Mello.
"Dua minggu lagi adalah hari ulang tahunku. Apakah kau bisa menemaniku? Matt tidak bisa pulang hari itu. Aku terlihat menyedihkan." Mello berkata seperti itu sembari tertawa pelan.
Kedua sudut bibir Near terangkat ke atas, hatinya menghangat melihat iris biru Mello ketika pandangan mereka saling bertemu. "Tentu saja. Tapi, apakah bisa Mello saja yang datang ke rumah saya?"
"Oh, bisa." Mello mengangguk antusias seperti anak anjing, menggemaskan.
"Saya akan menyiapkan sesuatu untuk Mello."
Hari itu, tidak ada yang lebih membuatnya merasa senang selama hidupnya.
Mello membutuhkannya.
-xXx-
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Near selalu menandai kalendernya dan menghitung tanggal yang ia nantikan. Hari di mana akhirnya akan menghabiskan malamnya berdua dengan perempuan yang ia cintai.
Akhir-akhir ini Matt terlihat jarang datang dan Mello juga tidak sering berkunjung karena ia terlihat kelelahan dengan perutnya yang besar. Namun, Mello berjanji akan datang malam ini.
Near berdiri di depan cermin besar di dekat ruang tamu, menata kemeja putihnya yang sedikit kusut. Tangannya menyisir surai abu-abunya dengan gerakan perlahan. Lidahnya menyapu permukaan bibirnya yang kering.
Selang beberapa menit, terdengar bel rumahnya berbunyi. Near segera menyambar jas hitamnya dan berlari ke arah pintu. Ia membuka pintu rumahnya dan tersenyum lebar menyapa kehadiran Mello.
Jantungnya mulai berdetak tidak normal hingga membuat pipinya bersemu merah. Mello sedang tersenyum dengan riasan tipis menghiasi wajah cantiknya. Rambut pendeknya dibiarkan tergerai membingkai wajahnya dengan sebuah pita besar berwarna hitam. Sleeveless dress di atas lutut berwarna hitam dengan corak bunga memperlihatkan lekuk tubuh Mello. Dilihatnya garis bagian leher yang rendah memamerkan lekukan dadanya yang dihiasi liontin berwarna merah.
Mello berdandan untuknya. Melebihi definisi sempurna bagi dirinya.
"You came." Near membuka pintu rumahnya lebar-lebar, menggeser tubuh jakungnya untuk memberi Mello ruang.
"Yes."
"Happy birthday!"
"Thank you." Mello tersenyum manis lalu berjalan mengikuti Near dari belakang. Suara lagu Jazz menyapa pendengarannya saat ia melangkah masuk ke dapur. Dilihatnya dapur Near didekorasi dengan pita dan balon di setiap ujung ruangan.
Mello tidak habis pikir jika Near mendekorasi dinding rumahnya lagi untuknya. Ia terbebani, setidaknya wajah Near tidak menunjukkan bahwa ia keberatan.
Tatapan Mello berpindah pada sebuah kue coklat di meja makan dengan banyak lilin di atasnya. Near menarik kursi untuk Mello dan menyuruhnya duduk.
"Sebenarnya kau tidak perlu repot-repot seperti ini." Mello memperhatikan Near yang membawa pisau plastik di tangannya dan menyerahkannya kepada Mello.
"Karena saya yang menyuruh Mello datang kemari. Padahal hari ini adalah hari ulang tahun Mello." Near duduk berhadapan, memangku dagunya sembari tersenyum memperhatikan liontin berbentuk hati menghiasi leher jenjang Mello.
Mello tersenyum tipis, menyelipkan rambutnya yang terjatuh sebelum memotong kuenya. "Karena kau tidak terbiasa datang ke rumah orang lain."
"Bagaimana dengan Matt?" Near membantu Mello mengambil potongan kue itu.
"Matt mengirimkan sebuket bunga besar dan liontin ini." Mello menyentuh liontin yang berada di lehernya, semburat merah menghiasi wajahnya. "Matt juga menghubungiku lewat skype tengah malam tadi."
Near mengangguk samar, ia menerima potongan kue pertama. Bibirnya melengkung ke atas, lalu menikmati bersama kue coklat bertabur potongan raspberry kering.
"Kuenya sangat enak. Kau membuatnya sendiri?" Mello terkejut saat memasukkan satu sendok kue coklat itu ke dalam mulutnya.
"Ya. Saya melihatnya dari youtube."
"Kau sangat mengaggumkan," puji Mello.
"Bagaimana dengan Matt? Apa ia bisa masak?"
"Matt... eum... Matt lumayan bisa memasak. Tapi, ia tidak bisa membuat kue. Sangat payah." Mello tertawa pelan mengingaf Matt yang pernah membuat kue kering hingga gosong dan membuat dapur mereka hampir terbakar.
Near meneguk gelas kaca berisi wine, ia tidak memberikan alkohol pada Mello. Gelas milik Mello telah diisi air mineral.
"Saya juga telah menyiapkan hadiah untuk Mello." Near tersenyum sembari memperhatikan Mello yang sedang mengelap bibirnya.
"Oh? Benarkah?" Kedua matanya terlihat berbinar senang.
"Ya. Hadiahnya ada di atas. Mello harus mencarinya sendiri. Ada di dalam sebuah kotak berwarna merah dengan pita emas." Near beranjak berdiri dan mengambil piring miliknya dan Mello. "Saya akan memberi makan anak anjing saya." Near mengambil anak anjingnya yang dilrtakkan di dalam kardus dan membawanya ke genggamannya.
Mello tersenyum tipis. "Boleh aku ke atas?"
"Oh, silakan. Tapi, hati-hati. Jangan sampai terjatuh." Near mengingatkan.
"Terimakasih." Mello lalu beranjak dari meja makan dan berjalan menuju lantai dua. Ia tidak tahu kalau Near sampai menyiapkan hadiah untuknya. Entah bagaimana Mello harus membalas semua kebaikannya.
Tangannya terus mengusap-usap perutnya setiap merasakan tendangan kecil di dalam perutnya. Ia merasakan bayinya bergerak sangat aktif hari ini. Mungkin karena mengetahui bahwa Ibunya berulang tahun.
Mello menaiki anak tangga dengan sangat hati-hati. Kemudian, ia memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada yang berbeda ketika terakhir kali ia datang. Mello mulai membuka sayu per satu laci di dekat tangga. Saat tidak menemukan apapun, Mello memilih untuk membuka ruangan di lantai itu.
Ia sedikit ragu untuk memasuki kamar Near. Setahunya, ruangan yang kain kosong dan dikunci. Jadi, ia memilih untuk masuk ke kamar Near. Dilihatnya kamarnya terasa lebih kelam tanpa cahaya. Mello meraba-raba tembok di sampingnya dan menekan saklarnya.
Saat lampu mulai menyala, Mello melangkah perlahan, dan melihat kotak merah di atas tumpukan buku. Mello segera mengambilnya dan membuka kotak itu. Ia terkesiap saat melihat gelang emas dengan batu permata kecil di tengahnya. Ada secari kertas di dalamnya bertuliskan 'For Mello'.
"Oh my God." Mello mengambil gelang itu dan memakainya. "So beautiful." Ia menggigit bibir bawahnya terharu.
Mello membawa kotak merah itu. Sepertinya besok ia harus memberikan Near sesuatu sebagai tanda terimakasihnya. Ia memilih untuk melihat-lihat kolesi buku Near lagi. Terakhir kali ia meminjam novel filsafat yang belum sempat ia kembalikan.
Koleksi buku Near sangat menarik dan semuanya terbaru. Mello menarik salah satu novel romansa terjemahan dan tidak sengaja melihat sebuah surat yang ia lihat beberapa hari yang lalu. Surat yang Near sembunyikan darinya dan sekarang diletakkan di atas tumpukan buku seolah sengaja untuk menunjukkan padanya.
Mello ingat, Near terlihat marah sekaligus gugup saat Mello memegang surat itu. Seperti ada yang disembunyikan.
Mello menoleh sesaat ke belakang dan memastikan bahwa Near masih berkutat di dapur memberi makan anak anjingnya.
Surat itu dibalikkan ke depan dan terlihat stempel nama seorang dokter dengan logo rumah sakit di pojok kanan. Mello mengernyit heran, Near pernah mengatakan bahwa surat ini adalah hasil pemeriksaan kejiwaan milik pasiennya yang telah meninggal. Namun, yang tertulis justru bukan nama Near sebagai dokter.
Kedua tangan Mello mulai membuka isi surat itu dengan sedikit gemetar. Ia mengetahui bahwa Near telah berbohong kepadanya. Apakah selama ini semua yang dikatakan olehnya hanya kebohongan? Selama ini Near bukanlah dokter?
Dibukanya lipatan surat panjang itu dan membaca satu per satu deretan kalimat yang tercetak di sana yang membuat jantungnya berdetak kencang.
Nama : Nate River
Umur : 23 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Kewarganegaraan : Asutralia
Agama : -
Pendidikan : -
Status : Belum menikah
Pekerjaan : -
Mello membuka mulutnya tidak percaya. Ia meraba-raba kantung dress-nya dan tersadar bahwa ia meletakkan ponselnya di meja makan. Mello kembali membaca isi selanjutnya.
Laporan hasil pemeriksaan :
1. Keluhan umum
- Pasien mengalami gangguan tidur sejak lima tahun lalu dan harus mengonsumsi obat-obatan untuk membuatnya tertidur.
- Pasien mengalami perubahan mood yang tidak signifikan setiap saat. Pasien mengalami kesulitan mengatur emosinya ketika marah dan akan merasa tenang ketika merusak barang bahkan menyakiti orang.
- Pasien tidak suka bersosialisasi dengan orang lain.
- Pasien memiliki sifat yang cenderung obsesif terhadap sesuatu.
2. Hasil pemeriksaan
- Pasien cenderung melakukan duping delight yang... manipulatif dan...
Sisa tulisan di selanjutnya dan di bawahnya dicoret-coret dengan tinta hitam dan membuat tulisnanya tidak terbaca. Mello menyipitkan matanya untuk membaca tulisan yang terhalang oleh tinta.
Diagnosa kejiwaan pasien :
Syndrome de Clerambault/Erotomania
Pseudologia fantastica
Sociopath
Keterangan :
Erotomania adalah kelainan di mana seseorang meyakini bahwa orang lain jatuh cinta padanya. Pseudologia fantastica adalah kebiasaan berbohong yang kompulsif. Sosiopat adalah kondisi seseorang yang memiliki gangguan kepribadian antisosial.
Mello terlihat sangat shock setelah membaca isi surat itu. Selama ini Near berbohong padanya jika ia adalah seorang psikiater dan seniman. Selama ini yang dikatakan Near ia sibuk dengan seminar online universitas adalah kebohongan belaka. Ia mengaku sebagai orang lain. Dan Mello melihat nama dokter yang tanda tangan di surat itu. Nama yang sama dengan dokter yang hilang. Dokter Hana.
Matt juga bercerita bahwa ada beberapa berkas pasien yang hilang dan Near salah satunya.
Mello buru-buru memasukan kembali surat itu ke tempat asalnya dan berjalan menjauh. Ia tidak mungkin membawa surat itu bersamanya, terlalu beresiko.
Saat ia melewati sebuah lemari besar yang sangat ingin Mello buka dan selalu dihalangi oleh Near. Mello menduga bahwa di dalamnya ada sebuah mayat atau sesuatu yang mengerikan. Jika benar, maka semua dugaannya benar dan pelaku pembunuhan itu telah ditemukan.
Mello berusaha meraih gagang lemari itu dengan tangannya yang bergetar hebat. Dengan sekuat tenaga, ia membuka lemari itu yang seketika membuat matanya terbelalak lebar. Sebuah mayat wanita tua berambut hitam dengan posisi menggantung di leher dan mata terbuka yang dimasukkan ke dalam plastik. Wajahnya masih utuh dan kulitnya terlihat membiru. Mayat itu menggunakan jas dokter lengkap dengan name tag yang masih menempel. Hana Robertson.
Mello hampir terjatuh ke belakang. Ia menutup mulutnya rapat-rapat dan segera menutup lemari itu. Ia harus segera menghubungi Matt dan keluar dari rumah pembunuh gila ini.
Mello merasakan tubuhnya bergetar ketakutan dan dipenuhi keringat dingin. Ia berusaha menenangkan dirinya untuk tidak terlihat mencurigakan. Ia tidak ingin Near menangkapnya dan melakukan hal yang buruk. Mello mengatur napasnya berulang kali sambil memejamkan matanya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali turun ke bawah. Jika tidak, Near bisa menyusulnya.
Kedua kakinya bergetar hebat saat menuruni tangga dan melangkah perlahan ke arah dapur. Di sana, ia melihat Near bersender pada pintu kulkas, melipat kedua tangannya sambil tersenyum memperhatikan anak anjingnya makan dengan lahap.
"You've found it." Near berkata tiba-tiba, membuat Mello terkejut setengah mati.
Kemudian, ia buru-buru tersadar dengan gelang yang berada di tangannya. "Y-yeah... I've found... your present!"
Near mengangkat kepalanya tanpa melunturkan senyumannya membuat Mello menahan napasnya. "You like it?"
"Yes! It's... so beautiful. Thank... you, Near." Mello meremat ujung gaunnya untuk menetralisir rasa gugupnya. Tenggorokannya terasa tercekik dan membuatnya kesusahan bernapas.
Near tidak langsung membalas ucapan Mello dan berjalan ke meja makan, mengambil segelas teh. Mello tersentak mundur saat Near berjalan menghampirinya.
"Roiboos tea. Sangat baik untuk ibu hamil karena tidak mengandung kafein dan banyak mengandung antioksidan."
Mello menelan ludahnya gugup, ia berusaha untuk menutupi ketegangannya. Mello melirik ke arah ponselnya yang masih tergeletak di meja. Ia ingin sekali menolaknya dan berlari pergi. Namun, dengan kondisi hamil, Mello tidak dapat berlari cepat, Near pasti akan menangkapnya.
Jika ia menolak, maka Near akan memgetahui alasannya. Mello berniat meminumnya dengan cepat dan segera pergi dari rumah itu.
Near memejamkan matanya perlahan membiarkan Mello meminum teh itu dua kali teguk dan meletakkannya kembali ke meja. Mello berniat untuk tidak menelannya, namun Near mengajaknya berbicara.
"Bagaimana rasanya?"
Mau tak mau Mello menelannya. "Enak," ucapnya. "Eum... sepertinya aku harus segera pulang. Aku merasa... sedikit kelelahan berjalan dengan high heels. I'm sorry that I can't help you clean the dishes." Mello tersenyum kecil, meremat jemarinya yang mulai berkeringat dingin. Ia berharap Near tidak akan menahannya lebih lama lagi.
"Tidak apa. Pulang dan beristirahatlah." Near berkata.
Mello tersenyum lega mendengarnya. "Thank you. I'll come again... tommorow morning."
"My pleasure." Near mengangguk lembut lalu mengambil sisa piring dan gelas-gelas yang berserakan di meja. Sisa potongan kue ulang tahun bertuliskan nama Mello pun dimasukkan ke dalam kulkas.
Mello menatap punggung Near sejenak, tak membuang waktu lama lagi ia segera mengambil ponselnya, merematnya erat dan berbalik. Ia akan menghubungi Matt setelah ini atau pergi ke kantor polisi terdekat untuk mengamankan dirinya.
Ketika ia akan melangkah keluar, Mello merasakan rasa sakit yang luar biasa di perutnya. Seperti ditusuk-tusuk oleh bilah besi yang tajam. Sesuatu yang dingin mengalir cepat keluar dari selangkangannya, membasahi lantai dengan cairan seperti lendir bercampir darah. Ponsel yang berada di genggamannya pun jatuh meluncur di lantai bersamaan dengan tubuhnya yang merosot ke lantai. Kedua kakinya tidak dapat menopang tubuhnya akibat rasa sakit yang teramat sangat.
Mello mengerang kesakitan, ia segera membuka kakinya lebar-lebar, ia merasa seperti akan melahirkan, darah segar mengalir deras membasahi dress putihnya. Mello merasakan sesuatu yang salah dengan bayinya, masih ada waktu empat bulan lagi untuk melahirkan. Tidak mungkin ia melahirkan prematur.
Keringat dingin membasahi tubuhnya, Mello mengejan kesakitan, seperti ada yang membelah rahimnya dari dalam.
"OH GOD!" Mello menjerit kuat, rasa sakit yang berada di perutnya terasa semakin meningkat. Ia merasakan bayinya memaksa keluar dan merobek vaginanya.
"JEHOVAHHHH! AKHHH!"
Mello berusaha mengambil ponselnya yang tergeletak di dekat kakinya, tangan kirinya berusaha menggapainya sedangkan tangan satunya meremat gaunnya.
"H..elp... me..."
Near menatap Mello tanpa ekspresi. Ia sama sekali tidak berkutik atau panik melihat genangan darah keluar dari selangkangan Mello. Pun ia tidak bereaksi apapun mendengar jeritan Mello yang terdengar mengerikan. Mello berusaha mengatur napasnya, wajahnya memerah, terlihat tonjolan urat di sekitar lehernya ketika ia berteriak dan memejamkan matanya.
Near melangkah perlahan, meninggalkan cucian piringnya. Ia berjongkok untuk memungut ponsel Mello. Dengan susah payah, Mello menyeret tubuhnya dan menempelkan punggungnya yang basah oleh keringat ke dinding.
"A...ambulance... pl...please..." Air matanya mulai berjatuhan menuruni wajahnya, ia tidak ingin kehilangan bayinya. "Arghhhh! JESUS CHRIST!" Ia berulangkali hampir kehilangan kesadarannya, namun rasa sakit terus meningkat seiring waktu.
Near berjongkok di hadapan Mello, begitu menikmati perjuangan seorang Ibu. "I knew you liked me too, Mello."
Fokusnya mulai terpecahkan oleh rasa sakitnya. Kerongkongannya terasa sangat kering. "Enghhh! N...Near... call... am..bulance... plea..se... help... my baby..."
Kepala Mello terbentur oleh tembok saat berusaha mengejan. Dada naik turun dengan sangat cepat, ia tidak pernah menyangka jika hal buruk ini akan terjadi.
Near menyeringai lebar, lalu mengotak-atik ponsel Mello dan melalukan panggilan video dengan seseorang. Near sengaja menjauhkan ponsel itu dan membisukan suaranya. Terdengar nada sambungan selama beberapa detik sebelum akhirnya muncul wajah Matt di layar ponsel.
"Oh...? Hei, Near...?" Matt tampak kebingungan melihat wajah Near yang muncul di layar ponselnya.
Mello berusaha mengatur ritme napasnya, ia menggigit punggung tangannya sendiri hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"How's you guys doin'? How is the party? Where is Mello?"
Seringain Near tiba-tiba melebar. "Oh, I gotta show you something incridible."
Near membalikan kamera depan menjadi kamera belakang. Wajah Matt terlihat sangat shock melihat keadaan Mello bersimbah darah sembari berteriak kesakitan.
"MELLO! WHAT THE FUCK IS HAPPENING?!"
"M... Matt! Matt! Help me!" Mello merasakan kepala bayinya mendesak keluar dari vaginanya. "AAAHHH! MY BABY!"
"THE FUCK! NEAR! WHAT THE FUCK ARE YOU DOING TO MELLO?!" Matt berteriak murka, tanpa menunggu lagi ia dengan cepat ia berlari keluar menuju parkiran. "AIZAWA! COME WITH ME!"
Near tertawa terbahak-bahak melihat wajah memerah panik Matt di layar. Ia melihat polisi muda itu memasuki mobil dan menatapnya dengan sangat tajam. Kemudian, Near bangkit berdiri, berjalan ke laci dapurnya dan mengeluarkan sebuah botol obat, ia mengarahkan kamera ponsel Mello ke obat tersebut.
"Saya hanya memasukkan misoprostol ke dalam tehnya. Sepertinya dosisnya terlalu tinggi." Near menunjukkan merk obat itu dan seketika membuat Matt naik pitam.
"BAJINGANNN! KEPARATTT! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ISTRIKU?!"
"Padahal Mello hanya meminumnya sedikit dan ternyata obatnya bekerja dengan sangat baik. Berjalan sesuai dengan rencana. I knew she'd found it tonight."
"AKAN KU BUNUH KAU, BEDEBAH! AKAN KU BUNUH JIKA TERJADI SESUATU PADA MEREKA!" Matt melajukkan mobil polisinya dengan sangat cepat, membelah jalanan yang padat oleh kendaraan.
Near tertawa lagi, berjalan mendekat ke Mello yang dipenuhi genangan darah. "Sebenarnya jika memanggil ambulan dengan cepat, Mello tidak akan keguguran. Tapi-" Near berjongkok sambil merendahkan kepalanya ke arah vagina Melo . "Kepala bayinya sudah terlanjur keluar. Tidak akan sempat memanggil ambulan."
Mello meraba ke bawah dan merasakan kepala bayinya yang masih berumur enam bulan dilapisi lendir merah. Mello terus berusaha mendorong bayinya keluar, tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengeluarkan bayinya.
"PEMBUNUHH! AKU AKAN MENGHABISIMU!"
Near menonaktifkan panggilan video. "Sampai nanti kalau begitu. Saya sudah menyiapkan dua hadiah untuk Anda, officer."
Near mematikan panggilan itu, lalu naik ke kamarnya untuk mengambil selimut. Kesadaran Mello kian menipis, pandangannya mulai memburam. Tubuhnya mulai mati rasa, pandangannya memburam, dan telinganya berdengung keras. Samar-samar, ia melihat siluet Near berada di hadapannya membawa selimut, pria itu menahan kedua kaki Mello yang mulai melemah.
Near mengecup kening Mello sekilas. "Let me help you."
-xXx-
Matt datang setelah dihadapkan kemacetan selama hampir satu jam. Ia mengambil senjata apinya dan langsung melompat keluar dari mobilnya diikuti dua anak buahnya. Matt melompati pagar rumah Near, ia melihat rumah itu gelap. Dengan amarah dan rasa takut yang memuncak, Matt mendobrak pintu rumah Near.
Ia menerobos masuk dan menemukan semua lampu di rumah itu mati. Ia berusaha menghidupkan lampunya, namun sepertinya telah diputus dari depan. Matt terus melanjutkan jalannya dengan flashlight kecil yang diletakkan di bawah senjatanya.
Bau anyir tercium dari dapur dan betapa terkejutnya saat ia menginjak genangan darah. Tempat di mana Mello berada. Kemudian, ia melihat selimut putih yang diletakkan di bawah meja makan.
Matt menariknya dan membuka selimut itu. Saat itu juga dunianya terasa berhenti saat melihat janin berumur lima setengah bulan dibungkus dalam keadaan telah tidak bernyawa. Seketika Matt berlari cepat sambil berteriak memanggil nama istrinya.
"MELLO! MELLO! WHERE ARE YOU?!"
Matt memeriksa satu per satu ruangan di rumah Near dan tidak menemukan Mello di mana pun. Bahkan Near juga tidak ada. Mereka seperti lenyap ditelan bumi. Kemudian, dari lantai atas terdengar suara teriakan Aizawa yang mengatakan bahwa ada mayat seorang perempuan menggantung di lemari.
Dan benar saja, mayat itu adalah dokter Hana yang telag membiru. Matt jatuh terduduk, ia tidak dapat menemukan Mello di mana-mana. Ia hanya menemukan ponselnya yang tergeletak di atas meja. Pikirannya hancur, ia tidak dapat berpikir jernih.
"Aku tidak bisa menemukan Mello di mana-mana..." Matt mulai meracau tidak jelas.
"Sir! Are you alright?!" Aizawa menepuk pundak Matt yang terduduk dengan tatapan kosong.
"He took my wife... that bastard... he is a killer..." Matt menjambak rambutnya dengan sangat kasar. "AKU BAHKAN MEMBIARKAN MELLO PERGI KE RUMAH PEMBUNUH!" Matt mencengkram kerah Aizawa membuat polisi baru itu ketakutan.
"FUCK! FUCK!" Matt memukul-mukul dinding hingga membiat buku jarinya lecet. "I WILL KILL HIM! I WILL KILL THAT BASTARD!"
"Mello..." Tubuh Matt jatuh merosot ke lantai, kedua tangannya menjambak frustasi rambutnya. Ia teringat kilasan waktu saat ia bertengkar hebat dengan Mello. Bahkan, ia belum sempat meminta maaf.
Matt mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, kedua matanya memancarkan kilatan penuh kebencian dan dendam. Di dalam dirinya ia bersumpah akan menyeret Near ke tiang gantung. Membuatnya membayar atas dosa-dosanya.
Ia harus segera menyelamatkan Mello dari pria sakit jiwa itu. Bagaimana pun caranya.
-xXx-
Mello terbangun merasakan perutnya bagian bawahnya terasa sakit dan perih. Mello mengernyit perlahan untuk membiasakan cahaya terang yang menusuk matanya. Tubuhnya terasa mati rasa, semula hanya bisa menggerakan jari-jari tangannya. Kemudian, ia mulai mendengar suara besi saling beradu, telinganya sedikit berdengung.
Mello mengerjapkan matanya berulangkali hingga pandangannya mulai terlihat jelas. Ia mulai merasa kedinginan, dengan tenaga yang sedikit terkumpul ia melihat tubuhnya hanya ditutupi oleh kain kecil yang melingkar di dadanya.
Mello melihat siluet seorang pria berambut gelap memakai jas dokter tengah memunggunginya. Ia melihat perutnya yang telah rata. "Ba..yiku..."
Seketika, orang itu langsung berbalik dan menghampiri meja operasi. "Oh, you're awake." Orang itu menyapa dengan senyuman lebar dan sepasang mata merah mengerikan.
"Di... mana aku?" Mello menatap ke sekeliling, ia tidak dapat bangkit berdiri.
Pria itu mengabaikan pertanyaannya. "He is right, you just look like a Barbie. Those beautiful bright blue eyes and pink lips. You look so gorgeous, darling."
"Kau bukan dokter?" Mello merasakan alarm waspada di dalam kepalanya.
"Aku baru saja membersihkan rahimmu. Kau keguguran dan bayimu meninggal karena dosis misoprostol yang terlalu tinggi."
Mello merasakan air matanya menetes lagi. "Kalian... membunuhnya..." Ia menatap tidak percaya wajah pucat dokter mengerikan itu yang tersenyum lebar.
"Bukan aku. Well, aku tidak peduli sebenarnya. Karena sebentar lagi, kau akan dioperasi lagi."
Bulu kuduk tubuhnya mulai meremang ketika jari kurus itu menyentuh lengannya. Mello tidak dapat memberontak, seluruh tubuhnya mati rasa.
Dokter itu menyeringai lebar, mendekatkan wajah mengerikannya. "Kau tidak akan bisa melawan."
"Siapa bilang kau boleh menyentuhnya, Beyond?"
Dokter bernama Beyond itu menoleh ke belakang dan menemukan Near berdiri di ambang pintu dengan raut tidak suka.
"Oh, you're back."
Near berjalan masuk dan mendekati Mello, menyentuh tangan yang dingin itu.
"Kau tidak memperbolehkanku mengoperasinya?"
"No." Near menarik sebuah kursi plastik dan duduk di sebelah meja operasi.
"Wow. Don't you like corpse anymore?"
Near tersenyum tipis. "Untuk pertama kalinya, saya menyukai mata yang hidup."
Mello menatap tidak percaya dua orang di hadapannya. "Di mana aku?! Apa yang kau lakukan?!" Ingatannya terputar saat ia mengalami pendarahan hebat dan membuatnya terpaksa melahirkan di umur kandungannya yang masih muda. "Kau... pembunuh.."
"Ironis sekali..." Beyond berdecak pelan. "Kita sedang berada di sebuah tempat yang jauh dari perkotaan." Beyond merapikan kembali alat-alat bedahnya.
Near meremat jari-jari Mello, mencium punggung tangannya, mengabaikan tatapan benci yang dilayangkan. Ia ingin sekali berteriak dan memukul wajah Near, kenapa ia melakukan hal sejahat ini?
Tiba-tiba perhatian Mello teralih pada seorang perempuan muda cantik berdiri di depan pintu ruang operasi dengan tatapan kosong, kemudian gadis itu berjalan mondar-mandir tanpa arah.
Near mengikuti arah pandang Mello dan menemukan Caitlyn duduk di sofa depan.
"Itu adalah Caitlyn Johanson. Yang dicari oleh polisi sampai saat ini. Dia masih hidup dan baik-baik saja." Near menyembunyikan helaian rambut emas Mello di belakanh telinganya, membuat gadis itu merinding.
"Lepas..kan aku...!" Mello mulai menangis lagi, terlebih Near menciumi lehernya.
"Saya harap Mello tidak mencoba-coba untuk berani kabur dari sini. Karena kalau tidak," Near menyeringai, mendekatkan wajahnya pada telinga Mello, mengirimkan ketakutan luar biasa pada dirinya. "Saya akan membiarkan Beyond melakukan lobotomi pada Mello seperti yang dilakukannya pada Caitlyn. Mengerti?"
Near menutupnya dengan melumat dalam bibir Mello.
Lobotomi. Operasi yang dilakukan dengan cara merusak jaringan otak dalam lobus prefrontal yang letaknya di bagian depan yang dapat membuat orang tersebut tidak dapat merasakan apapun dan akan hidup seperti mayat hidup dengan tatapan kosong.
"Let's make a new family."
Malam itu, Near bercerita mengenai Caitlyn Johnson yang berselingkuh darinya. Gadis itu tertangkap basah saat sedang tidur dengan seorang pria di hotel. Bukan hanya sekali, namun berulang kali hingga Caitlyn hamil dan Near menyeretnya ke Beyond, seorang dokter bedah yang sakit jiwa.
Beyond menggugurkan kandungannya. Caitlyn dikurung di dalam kandang anjing selama dua tahun. Gadis itu menolak makan hingga membuat tubuhnya kurus kering dan berencana untuk bunuh diri.
Maka dari itu, Near menyuruh Beyond melakukan operasi lobotomi yang menyakitkan bagi Caitlyn, membuatnya pingsan dengan kejut listrik dan memasukan benda tajam lewat rongga matanya untuk melakukan operasi yang tidak manusiawi. Sekarang, Caitlyn tidak melawan sama sekali dan tidak menolak untuk makan.
"Oh my dear, you look even so beautiful with blood all over your face. Let's get married and we'll be a family."
Malam itu, setelah perbincangannya dengan Near selesai. Near menunjukkan sesuatu yang mengerikan. Memperlihatkan sebuah rekaman cctv dari layar laptopnya, cctv yang terhubung dengan rumahnya.
Di sana, Mello melihat Matt dan Aizawa datang. Perlahan, matanya mulai memanas dan menjatuhkan air matanya. Hingga kemudian, terlihat Beyond berdiri di belakang Matt dan Aizawa yang tengah berusaha menurunkan jasad dokter Hana.
Dan kemudian, Beyond melepaskan peluru shotgun tepat di kepala Aizawa hingga isi kepalanya pecah.
Mello terjatuh dari kursinya tidak sadarkan diri, bahkan tidak sanggup ketika melihat Matt tewas dengan mengenaskan.
Near mengangkat tubuh Mello yang terjatuh di lantai. "I knew you liked me too, Mello."
FIN.
Words :
Duping delight : like he believes he is fooling others then he got temporary jolt of happiness from it. Hem, jadi dia tersenyum waktu mengungkapkan kebohongan. Entah ya apakah memang identik sambil memiringkan kepalanya, tapi waktu aku lihat video ini yang di mulai di menit 11:31 pas dia bilang "i love roses"
Sebenernya endingnya mau dibuat tragis, Mello mati. Soalnya di lirik lagunya Ardhito di akhir itu :
I'm just a fan, living my fantasy
Fall in love with the girl I can't see
Maafkan ya kalau ada yang salah krn aku bkn anak psikolog dan lagi mode males cari jurnal
Sezuzurnya aku gak tau ngetik apaan. Karena... aku butuh pelampiasan stress. I know it's fucking weird but i dont care. Forgive me for the weirdness of this story.
I'll be a little bit busy this semester and the upcoming semester. Please have a seat while waiting for my further update^^ there's something important to do first!
