Ikan-ikan besar di tangan dilemparkannya pada kumpulan ninja yang sedang asyik pesta membakar kelinci. Sasuke geram dan emosi menatap Shinobi Konoha dengan mata berkilat marah. Dadanya naik turun dan sesekali mengembuskan napas, berusaha meredam amarah. Ketiga temannya tak bisa berbuat apa-apa dan hanya melirik iba terhadap Sasuke. Murka pun meledak disertai suara lantang membahana. "Kalian telah menantang perang terhadap mereka dan aku tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membantu kalian!"

"Kau ini bicara apa, Sasuke? Dan ... wow, ikan! Lihat teman-teman, pahlawan kita ternyata mencarikan ikan untuk kita. Hebat sekali, ya. Pura-pura baik padahal ada maksud tertentu. Cih! Memuakkan!"

"Lagian, ya, Sai. Tidak sopan sekali cara memberikan ikan dilempar begitu saja. Memangnya kita ini binatang, hah!" Kiba pun ikut mengompori temannya. Segala kebaikan Sasuke yang pernah diterima saat membantu Choji melewati ribuan kelinci, seakan tertiup angin, hilang begitu saja.

Mata jelaga berkedip-kedip, menyapu liquid emosi yang berusaha ditahannya. Sasuke sempat melihat sekilas kepada satu-satunya teman akademi yang tak ikut dalam pesta makan kelinci panggang. Ia mengamati kembali tingkah para ninja yang abai dan melanjutkan pesta pora.

Dua pasang mata saling pandang dipenuhi binar kekecewaan. Sasuke menatap tanpa kedip dari tempatnya berdiri ke gadis sulung Hyuuga yang sedang memperhatikannya. Maaf, Sasuke. Aku tak bisa mencegah mereka. Hati seolah mendengar, Uchiha terakhir mengangguk kecil.

Kraaak!

Seluruh Shinobi terperanjat. Batu-batu di mulut gua berjatuhan dari langit gua sehingga menimbulkan guncangan. Mereka panik mencari apa pun untuk pegangan. Sasuke refleks melompat ke bibir gua dan ia pun terkejut melihat burung-burung raksasa marah seolah ingin mengubur penghuni yang ada di dalam gua.

"Munduuur! Kita diserang!" Sasuke memberi aba-aba supaya didengar oleh seluruh ninja Konoha.

"Sasuke! Ada apa ini?" Partner wanita di tim Taka menghampirinya masih dengan ikan-ikan di tangan. Sasuke segera merampas dan spontan melemparkan sebagian pada burung yang kepalanya telah masuk ke dalam gua.

Para Shinobi bergegas menuju mulut gua bagian belakang yang menghadap ke taman. Panik dan takut membuat mereka kalang kabut.

"Naruto! Lakukan sesuatu!"

"Tapi, Guru! Bagaimana jika gua ini runtuh?"

"Lekaslah, Naruto! Bantulah Sasuke!"

Kakashi sendiri sedang menggendong sahabatnya mencari tempat yang aman. Melirik sekilas ke gurunya, Naruto segera lompat ke tempat Sasuke dan berdiri di sampingnya.

"Aku tak bisa menolak ajakan mereka!"

"Tak ada waktu membicarakan itu, Dobe! Kita harus mengalihkan perhatian burung-burung ini! Karin dan juga kalian, pergilah! Bantu mereka, jangan sampai gua belakang jadi sasaran! Naruto! Kita harus keluar dari gua!Ikan ini kujadikan umpan!"

Sasuke lompat mencari celah di antara sayap burung, Naruto segera mengikuti. Meskipun susah payah, akhirnya mereka berdua mencapai luar gua. Ternyata hanya beberapa burung saja yang menyerang, sudah lebih dari cukup untuk memorak-porandakan gua.

"Naruto! Tangkap!"

"Ups! Wooooiii burung besar! Jangan mentang-mentang kau memiliki tubuh raksasa seenaknya menyerang yang lebih kecil!"

"Bodoh! Kau alihkan dia menjauh dari mulut gua dengan ikan itu, Dobe! Aku akan mengalihkan yang lain!"

Sepasang sahabat berhasil menghalau burung-burung raksasa menjauh dari gua. Para Shinobi bernapas lega, menjatuhkan diri di lantai dingin sambil melenguh.

"Sekarang kalian tahu sendiri maksud Sasuke melarang memakan kelinci itu, kan?"

"Hah! Hinata! Benar kata Ino, kau ini sekarang aneh. Sedikit-sedikit membela Sasuke. Atau jangan-jangan kau mulai menyukainya?!"

Menopang badan ke belakang dengan kedua siku tangan, Kiba mencibir dan menatap tak suka pada rekan perempuan satu timnya. Hinata abai dan lebih memilih menolong ninja lain yang sempat tertimpa runtuhan batu gua. "Tenten, kau tak apa?"

"Aku baik-baik saja. Maaf karena aku salah telah melanggar apa yang diminta Sasuke."

"Semua orang tak luput dari salah, tapi hanya sedikit yang mau mengakuinya." Sulung Hyuuga melirik sebal ke rekan satu tim yang masih menatapnya.

Di sudut ruang gua minim cahaya, Tsunade dan Orochimaru duduk berimpit dengan napas naik-turun. Sang Hokage tampak murung serta merasa menyesal.

"Apakah keputusan yang kuambil ini salah, Orochimaru. Andai waktu itu aku tanda tangani perjanji--"

"Tidak! Kau tidak salah, justru keputusanmu sangat tepat."

"Tapi kau lihat sendiri, membawanya kemari justru akan membuat mereka menderita."

"Tidak. Mereka penyintas, pasti kuat."

"Berapa mereka yang tersisa?

"M ... mungkin sekitar dua ratus hingga tiga ratus, entahlah." Orochimaru memperbaiki posisi duduknya. Ia menatap para Shinobi yang sedang mengurusi diri masing-masing.

"Apakah kau ini benar-benar telah berubah, Orochimaru?"

"Aku tidak tahu, Tsunade. Namun, yang kupikirkan saat ini, kita tinggal bersama dan bertahan hidup."

"Ya, tentu saja. Tapi jika kau memiliki kepentingan tersendiri, aku mohon padamu, janganlah sekarang. Lakukan sesukamu jika Konoha sudah berhasil kita rebut. Bagaimanapun, Konoha tempat kelahiranmu, bukan?"

"Aku janji kepadamu, akan membantu merebut Konoha kembali. Toh memusuhi mereka tidak seru dibanding bermusuhan denganmu."

"Sialan, kau. Ternyata kau bisa bercanda juga. Aku pikir terobsesi Uchiha akan mengubah sifatmu seperti mereka." Tsunade sedikit meledek mantan teman satu timnya ketika masih muda. Namun, hatinya kembali gelisah memikirkan masa depan para ninja yang kini bersamanya terjebak di dalam gua. "Huh, tapi berapa lama kita akan bisa merebut Konoha kembali? Dan apakah bisa dengan jumlah yang hanya sebegini?"

"Hei, kau lupa aku ini siapa? Aku bisa melipat gandakan pasukan walaupun butuh waktu bertahun-tahun."

"Aaah ... karena itu, mulailah dari sekarang. Bukankah tadi sudah kukatakan, kita tidak tahuberapa lama akan bertahan seperti ini? Bekal makanan juga menipis. Hah, anak itu kenapa tak berpikir panjang saat membuka portal."

"Tsunade, kau jangan pesimis. Mereka yang selamat ini adalah orang-orang hebat. Dengan bekerja sama pasti akan menemukan cara makan atau membuat makanan sendiri."

Beberapa ninja mendengar percakapan antara Tsunade dan Orochimaru. Mereka terharu juga tergugah hatinya untuk urun pikir terhadap pimpinan.

"Aku melihat tanah di belakang gua cukup subur, kita bisa berkebun di sana juga banyak buah liar, tetapi aman untuk dimakan.

"Tuan Akamichi, terima kasih sudah survei ke sana." Kepala lemah Hokage menoleh ke ayah dari Choji. Hatinya tulus terharu dengan usulan Tuan Akamichi.

"Aku suka tempat ini karena banyak serangga kejam, aku bisa memanfaatkannya sebagai senjata!"

Tsunade, Orochimaru, juga lainnya yang mendengar perkataan Shino ternganga dan bergidik ngeri karena mereka memang melihat binatang-binatang aneh baik di dalam gua maupun di kebun belakang bahkan di luar gua.

"Ouw! Terima kasih, Shino. Kau penakluk binatang menggelikan itu jadi kami tak perlu khawatir." Hokage mengembuskan napas kelegaan. Memosisikan duduk, ia menatap ke stalaktit yang meneteskan air. "Baiklah. Aku menjadi semangat karena kalian. Sekarang, kita adalah keluarga besar. Kita harus bersatu dan pasti kita bisa merebut Konoha kembali."

"Bagaimana dengan Sasuke? Kalau memang dia tak memiliki maksud terselubung, seharusnya dia bertanggung jawab. Bukankah dia kenal dan bisa berkomunikasi dengan burung penghuni pulau ini? Mengapa dia tidak bisa memintakan kelinci-kelinci itu dan sekarang justru menjebak kita di dalam gua seperti ini. Sampai kapan kita akan dikurung di sini, Godaime? Jika keluar saja tak bisa, bagaimana kita bisa kembali ke Konoha?"

Perkataan lantang Shikamaru menyentakkan Shinobi Konoha. Para ninja menghentikan kegiatan dan saling berpandangan. Benar yang dikatakannya, kenyataan kini mereka terjebak di dalam gua dan tidak bisa berpikir untuk bisa keluar dari sana.

"Sasuke pasti bisa membawa kita keluar dari sini!"

"Sasuke lagi, Sasuke lagi! Kau ini kenapa, Hinata?!" Gemeletuk gigi sangat kuat terdengar. Sai sangat geram hingga mendelik pada Kunoichi termuda. "Siapa yang percaya padanya, hah?! Dia sengaja menjebak kita di sini dan kau masih percaya padanya?"

"Dia tidak menjebak--"

"Sudahlah, Hinata! Kami tak ingin membahas dan melibatkan anak itu! Biarlah kami berpikir sendiri untuk keluar dari sini dan merebut Konoha kembali!"

Pemilik mata berwarna hijau bening memperhatikan Hinata tanpa berkedip lalu menghampirinya. "Apa yang membuatmu percaya dengan Sasuke, Hinata?"

"Sakura ... a-a-aku. Tidak seperti yang mereka katakan. Kau lihat sendiri, Naruto saja percaya pa-da-nya, jadi ... mengapa aku ... maksudku ..."

"Hahaha ... tentu saja. Teman-teman, dia percaya pada Sasuke karena Naruto. Hahaha ..." Hati Sakura merasa lega mendapat jawaban kemelut perasaan karena terpengaruh perkataan Ino. "Hinata, dengar, ya. Aku lebih tahu Sasuke dibanding Naruto. Dia itu susah ditebak. Sekalipun ... aku menyukainya, tapi yang dikatakan Shikamaru ada benarnya. Kita tidak boleh percaya padanya sepenuhnya."

Di saat Sakura mencerocos, ia dan lainnya tak menyadari orang yang dibicarakan sudah ada di belakang mereka menatap tanpa ekspresi. Hinata menoleh dan akhirnya para ninja melihat Sasuke dan Naruto berdiri mematung.

"Oooh ... haaiii ..." Naruto berusaha mengurai kecanggungan, menyapa lalu membanggakan hasil kerjanya bersama Sasuke. "Kami berhasil mengusir burung-burung itu sangat jauh dan kami juga sudah membuang sisa-sisa kelinci hingga tak berbekas yang menimbulkan indra penciuman mereka bereaksi untuk datang kemari lagi. Hehehe ..."

"Kenapa dibuaaaaang? Sayang sekali, Narutoooo! Kita bisa memanipulasinya dengan bau ikan bakar. Benar apa tidak, Teman-teman?"

"Ya, kau benar, Choji! Kasihan Sai yang sudah susah payah mencarikan kelinci untuk kita, malah dibuang begitu saja!"

Kiba dan Choji seakan tak rela makanannya hilang begitu yang lain tampak menyesal. Naruto melirik sahabat lalu mengambil sisa ikan yang tergeletak di batu. "Hei, aku ingin memanggangnya! Siapa mau?!"

Mengabaikan para Nakama dan juga ninja lain, Sasuke berjalan menjauh lalu duduk di batu. Teman tim Taka menghampiri dan turut menggelesot di lantai batu yang kering. "Mereka membencimu, Sasuke. Mereka tak mempercayaimu."

"Bahkan mereka menuduhmu ingin berbuat jahat pada mereka. Benar, kan, Suegetsu?" Gadis berkacamata memosisikan duduk lebih rapat pada Sasuke. "Kita mendengar sendiri mereka marah padamu."

"Dari dulu mereka tak menyukaiku."

"Tapi para gadis itu menyukaimu!"

Dug!

"Kau ini tak berubah, Karin! Barbar!"

Dug!

Sasuke mendesah sangat kuat sehingga kedua temannya yang selalu bertengkar berhenti lalu menatapnya. Karin Uzumaki sengaja menyenggol pria yang disukainya dengan malu-malu, tetapi bungsu Uchiha tak memberi respons apa pun dan menganggap hal yang biasa.

"Sasuke! Seharusnya setelah perang itu kita pergi saja dan tak usah mengikuti mereka! Akhirnya seperti ini, kan? Menyusahkan saja!"

"Diam kau, Gigi Hiu! Kau pikir kita bisa pergi ke mana, hah!" Selalu menjadi penjilat bagi Sasuke, Karin memarahi Suegetsu. Namun rasa penasaran tak bisa dibendung. "Mengapa kau ikut dengan mereka, Sasuke? Bukankah tadi kau mengatakan mereka dari dulu tak menyukaimu?"

"Naruto adalah teman baikku."

"Hah, begitu, ya? Lalu kau menganggap kami ini apa?" Rasa cemburu membuatnya mencebik. Suegetsu ingin meleleh menjadi air.

"Naruto berbeda. Dia adalah aku, aku adalah dia."

"Kau ini ngomong apa? Aku benar-benar meleleh!"

"Namun, ada satu hal yang membuatku ingin kembali ke Konoha. Aku tertarik pada perubahan seseorang."

Ketiga teman Sasuke spontan mengerutkan alis. Dalam pikiran mereka mulai menebak-nebak orang yang dimaksudkan oleh si Uchiha terakhir.

Tbc ...

21/ 09/ 20