NCT belong to SM Entertainment
•
•
•
•
•
•
The Forest of Destiny
written by : salka rakes
•
•
•
•
•
•
Happy reading and enjoy!
•
•
•
•
•
•
Malam itu adalah puncaknya. Apa yang sosok itu takutkan benar-benar terjadi. Kekuatannya tak lagi berefek apapun pada gadisnya yang semakin lama kehilangan hawa kehidupan.
Hampir semua kekuatan yang telah diberikannya pada gadis itu telah kembali pada sosok itu.
Dan ia berdiri di sana dengan wujud aslinya menatap gadisnya yang tertidur lelap di bawah selimut. Tangannya terulur untuk menyibak helai merah jambu yang menutupi wajah cantik Nananya.
Ia mendudukkan dirinya di samping sang gadis dan mencium lembut bibir ranum gadis itu. Melumatnya pelan dan menyalurkan rasa rindu dan cintanya melalui ciuman. Berharap jika gadisnya akan mengingat dirinya kembali. Dan mau menerima takdirnya untuk menjadi pendamping hidupnya selamanya.
"Aku mencintaimu, Nana. Kembalilah padaku"
•
•
•
•
•
•
Pagi buta Jeff telah kembali ke rumah tua neneknya di dekat hutan setelah bermimpi buruk semalam.
Ia bermimpi jika ia kembali kehilangan adiknya untuk yang kedua kalinya. Nananya tidur di bawah selimut pink kesayangannya dan tak pernah lagi terbangun dari tidurnya untuk selamanya.
Jeff terbangun dan langsung terisak hebat setelah itu. Kekasihnya terus memeluknya agar prianya tenang. Saling berbagi kehangatan di bawah selimut yang menutupi tubuh telanjang keduanya.
Setelah beberapa saat berlalu, kekasihnya menyuruh Jeff untuk kembali ke rumah tua itu untuk melihat keadaan si bungsu yang telah dianggapnya seperti adik sendiri. Dan Jeff kembali ke rumah tua itu meski jam baru menunjukkan pukul 3 dini hari. Meninggalkan segala pekerjaannya demi sang adik.
Selama perjalanan Jeff terus menelpon adiknya berkali-kali. Tapi tak ada satupun panggilan yang terjawab. Dan itu membuat Jeff menangis sepanjang jalan.
Saat ia tiba di rumah tua neneknya, hal pertama yang ia lakukan adalah mengguncang tubuh adiknya dengan kencang membuat Nana akhirnya terbangun dan membuka kedua matanya.
Jeff tak bisa menahan kelegaannya pada saat itu. Ia menarik tubuh lemas si bungsu untuk mencium bibir ranum itu. Melumat bibirnya kasar sebagai pelampiasan rasa senangnya.
"Brengsek! Menjauh dariku, Jeffrey Jung"
"Tidak mau!"
Jeff memeluk adiknya dengan erat. Ia masih menangis sesenggukkan dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher si bungsu. Membuat gadis itu luluh dan menatapnya iba dan bingung menjadi satu.
"Jadi pada akhirnya kau mengalami gangguan dengan menyukai adik kandungmu sendiri?"
"Brengsek sialan! Membayangkannya saja membuatku muntah"
"Lalu kenapa kau melumat bibirku, Jung brengsek?"
"Diam! Kau juga Jung kalau kau lupa"
Nana mengalah dan memilih untuk menepuk punggung lebar kakaknya pelan. Seumur hidup di dalam memorinya, baru kali ini ia melihat Jeff kehilangan kendali dirinya hingga menangis. Si sulung terkenal dengan sifatnya yang tenang. Ia selalu pandai untuk mengatur emosinya agar tak keluar secara berlebihan.
Tapi entah kenapa pagi ini si sulung kehilangan pengendalian dirinya.
"Jadi, katakan padaku apa yang membuatmu menangis? Apa Bubu meninggalkanmu dan memilih pria lain yang lebih tampan?"
"Sialan, Na! Aku tidak hanya menangis jika itu benar terjadi. Aku akan mati"
"Ewh.. You're so whipped"
Jeff menggerutu pelan di ceruk lehernya. Sedangkan Nana tertawa pelan karena berhasil menggoda kakak laki-lakinya.
"Be quiet don't cry"
"Shut up, Na!"
Nana tertawa kencang kali ini hingga bahunya bergetar hebat membuat Jeff melepas pelukannya dan menatap adiknya tajam. Sedangkan yang ditatap masih terus tertawa sembari memegangi perutnya. Bahkan air matanya mengalir di sudut matanya.
"Aku melihatmu mati semalam. Jadi berhenti tertawa, sialan!"
Dan detik itu juga tawanya berhenti. Tergantikan dengan senyum manis saat menatap punggung Jeff yang berjalan keluar dari kamarnya.
"Aku tahu, Jeff", lirihnya setelah Jeff menghilang di balik pintu.
Nana lah yang lebih tahu soal hal itu. Ia menyadari jika seharusnya ia mati semalam. Ia bahkan melihat tubuhnya sendiri yang telah tak bernyawa dengan mata kepalanya sendiri. Tapi seperti mendapat kekuatan lebih yang entah darimana asalnya ia kembali hidup setelah mendapat ciuman dari sosok rupawan yang entah siapa namun terasa begitu familiar di ingatannya.
Rambutnya pirang dan matanya sehitam jelaga. Pahatan hidung dan rahangnya begitu sempurna membuatnya terlihat begitu rupawan bagai titisan dewa yunani. Bibirnya merah semerah darah. Dan kulitnya begitu putih cenderung pucat membuatnya semakin kontras.
Dan Nana dibuat semakin terpesona oleh sosok rupawan itu karena sebuah simbol cross yang berada di bawah mata kanan sosok rupawan itu.
Dan jika firasatnya benar, maka ia harus segera meminta maaf pada kakak laki-lakinya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki.
"Maafkan aku"
•
•
•
•
•
•
Mereka saling berpelukan di atas kasur kebesaran milik Jeff. Nana menjadikan lengan besar itu sebagai bantalnya sedangkan Jeff melingkarkan tangan itu di bahu si bungsu. Sesekali mencium pelipis sang adik sembari memeriksa email masuk dari ponselnya.
Mereka telah berbaikan dan akur kembali setelah lagi-lagi bertengkar karena tak ada yang mau mencuci piring usai makan malam.
Yang pada akhirnya keduanya mencuci piring bersama dan berakhir dengan Nana yang menangis karena matanya kemasukan air sabun yang dicipratkan oleh Jeff dengan sengaja ke arahnya.
Dan mereka saling membalas hingga genangan air sabun berada dimana-mana. Dan berakhir Jeff yang membereskan sisa kekacauan mereka karena adiknya lagi-lagi menangis setelah terjatuh di atas lantai yang licin. Membuatnya terpaksa mengganti gaun tidurnya dengan yang baru.
"Jeffie.."
"Hmm?"
"Apa kau berencana menikahi Bubu?"
"Tentu saja aku akan! Pertanyaanmu terdengar konyol sekali kau tahu?"
"Apa kalian berencana memiliki anak suatu saat nanti?"
Jeff memicingkan matanya ke arah si bungsu yang memainkan sebelah tangannya di atas dadanya yang terbalut piama satin berwarna dongker. Ponselnya ia letakkan di atas nakas samping tempat tidur agar ia bisa menaruh atensi penuh pada adiknya itu.
"Entahlah. Kenapa?"
"Bisakah kalian memberi namaku pada anak kalian jika yang terlahir nanti adalah perempuan?"
DEG
Jeff mematung di tempat. Jantungnya berdetak tak teratur saat mendengar ucapan adiknya itu.
Ada apa dengannya?
Kenapa firasatnya memburuk setelah mendengar permintaan si bungsu itu?
"Na, jangan membuatku takut! Ada apa denganmu?!"
Si bungsu hanya tertawa melihat raut ketakutan hinggap di wajah rupawan sang kakak. Dan Nana menusukkan jari telunjuknya ke pipi bulat Jeff dimana biasanya dimpel manis milik pria itu muncul di sana.
"Memang aku kenapa? Aku kan hanya bertanya"
Gadis itu mencebikkan bibirnya ke depan sedangkan Jeff hanya memutar bola matanya ke atas. Jengah dengan kelakuan adiknya yang sok imut meski sebenarnya dalam hati ia mengakui jika adiknya itu memang membuatnya gemas.
"Jadi kau akan menikah tahun ini?"
"Tergantung. Jika semuanya berjalan lancar. Maka jawabannya adalah iya"
"Baguslah. Aku senang mendengarnya"
Senyum manis tersungging di bibir ranum milik Nana. Matanya berbinar bahagia saat mendengar apa yang dikatakan oleh Jeff.
"Tapi itu terjadi jika semuanya memang berjalan lancar. Kau paham maksudku kan?"
Ia paham betul dengan apa yang dikatakan Jeff. Selama dalang utama dari pembantaian malam berdarah itu masih bebas berkeliaran di sana. Jeff harus membatasi gerak-geriknya. Ia tak bisa bergerak dengan leluasa dalam melakukan apa pun yang ia mau.
Dan Nana merasa bersalah karena hal itu.
"Siapa pun orangnya, mereka akan ku pastikan untuk mendapat ganjarannya. Kau bisa hidup dengan tenang setelah itu, Jeff. Percaya padaku"
Ketakutan Jeff semakin menjadi. Tangannya gemetar saat merengkuh tubuh dingin adiknya ke dalam dekapannya yang hangat. Ada yang berbeda dari percakapan mereka malam ini.
Dan Jeff bisa merasakannya dengan jelas.
"Bubu wanita yang luar biasa, Jeff. Dia cantik dan multitalenta. Sejenak saja kau melepaskan pandanganmu, aku yakin akan ada banyak pria yang merebutnya darimu"
"Diamlah kau dan mulut terkutukmu itu, sialan!"
"Aku serius, Jeffie! Sejujurnya kau tak sebanding jika harus disandingkan dengan si bintang terkenal itu"
"Na, diam atau aku akan melemparmu ke tengah hutan sekarang juga"
Nana tertawa setelah berhasil membuat kakaknya kesal. Satu-satunya hal yang membuatnya merasa terhibur dan jauh dari rasa sepi di hidupnya yang sekarang adalah menggoda kakaknya.
"Tapi aku percaya di luar sana tak ada yang mencintai Bubu sebesar kau mencintai wanitamu itu"
"Itu baru benar"
Keduanya terkekeh pelan dan saling menyamankan diri di pelukan masing-masing. Nana benar-benar kedinginan sekarang, dan pelukan Jeff di bawah selimut berhasil menghalau hawa dingin yang semakin menjadi.
"Jeffie, aku menyayangimu"
Jeff menangis tanpa suara mendengarnya. Deru nafas Nana mulai teratur yang itu artinya si bungsu telah jatuh terlelap dalam peraduannya. Dan si sulung masih terus saja menangis karena ketakutan itu semakin menjadi. Ia takut jika ia ikut terlelap nanti, adiknya akan pergi meninggalkannya.
Namun seberapa keraspun ia mencoba untuk terjaga sepanjang malam. Pada akhirnya ia jatuh terlelap begitu saja sembari memeluk adiknya erat. Tanpa menyadari apa yang akan ia hadapi nanti.
•
•
•
•
•
•
TBC
•
•
•
•
•
•
Kes, 161020
