Dance of Love
Karya : Miyuki Kobayashi
Re-Write : JAS
.
.
.
.
.
Selamat Membaca Semoga Suka
.
.
.
.
.
Dance Of Love
Disclaimer : Miyuki Kobayashi, Pt Elex Media Komputindo.
Rate : T (For Teen)
Genre : Romance, Friend Ship, Family
Warning : Typo's
.
Bab 6 : Jasmine Tea
Berbeda dengan Tokyo, suasana malam hari di Karuizawa sangat indah. Udaranya bersih. Bintang tampak dekat dari bumi, berkelip keemasan. Udara malam yang dingin membuat ujung hidungku terasa kaku.
"Tomoya, jangan Cuma makam daging. Yang lainnya juga dimakan, dong!" seru Tatsuya.
"Kakak cerewet, deh!" seru Tomoya.
"Mebae, dagingnya dimakan! Biar kamu sehat!" kata Tatsuya.
"Aduh, aku nggak suka daging!" jawabku.
"Ai, kamu numpahin saus di rokmu," ujar Tatsuya.
"Oh, tidak!"
Ai berteriak, lalu kami berempat tertawa-tawa.
Kami makan barberkyu dengan gembira di halaman berumput. Bahan-bahannya kami beli di supermarket terdekat.
"Kayak lagi kemping sekolah saja, ya!"
Setelah makan malam, kami minum kopi di beranda. Entah kenapa, Tomoya dan Ai tampak gelisah.
"Eeng… aku dan Ai mau jalan-jalan sebentar. Di sekitar sini saja. Tidak lama, kok!" Dengan malu-malu, Tomoya menggandeng Ai keluar.
Kini tinggal aku dan Tatsuya berduan. Sejak awal Tomoya dan Ai pasti ingin berduaan. Tapi, aku cemas juga berduaan dengan Tatsuya. Jantungku berdebar-debar. Berduaan dengan seorang cowok! Oh, ini pertama kalinya dalam hidupku. Berani sekali aku kabur dengan cowok.
"Hiii… dingin! Cuaca di sini dingin betul, ya. Padahal kan baru bulan September," kata Tatsuya sambil mengelus-elus bahunya.
"Enaknya minum teh hangat, nih!"
"Kita bikin teh, yuk!"
Kutuang jasmine tea panas ke dalam cangkir dan membawanya ke beranda. Sambil memandang bintang, kami berdua menghirup uap teh yang masih mengepul. Teh panas memang dapat menghangatkan tubuh.
"Hmm, enak!" kata Tatsuya.
"Jasmine tea memang enak!"
"Aku suka vila ini."
"Oh, ya?!"
"Mebae, kamu menari balet, dong! Aku pingin liat keahlianmu."
"Eh! Apaan sih, kok tiba-tiba!? Masa aku menari di sini?!"
"Kenapa nggak?"
"Nggak ah, malu!"
"Ayolah. Aku juga mau ikut nari, deh," Tatsuya berdiri.
"Memangnya kamu bisa?" kataku sambil tertawa tak percaya.
"Yah, aku memang nggak bisa. Makanya ajarin dong dasar-dasarnya!"
"Ha… ha… ha..., kamu pasti nggak bisa!"
"Kenapa?"
"Badanmu lentur nggak?"
"Kurasa biasa saja!"
"Pertama-tama kamu harus menguasai Gerakan dasarnya. Angkat pinggang, perut, dan tulang rusuk. Lalu ratakan punggung, seperti ini!" kataku sambil memberi contoh.
"Seperti ini?" Tatsuya menirukan Gerakan yang kuajarkan.
"Ya, begitu. Angkat dagu, pandangan lurus ke depan!"
"Ya!"
"Lalu, kedua kaki dari arah pinggang dibuka ke arah luar, 180 derajat."
"Wah!" seru Tatsuya.
"Rentangkan kedua kakimu menadi garis lurus. Memang sih sulit kalau baru pertama kali mencoba."
"Aduh! Aduh!" Tatsuya berseru kesakitan.
"Jaringan ikat tulang sendimu pasti mengencang, makanya sakit."
"Kalau yang begini aku nggak bisa," Tatsuya akhirnya menyerah.
"Guruku selalu bilang, balet itu perlu usaha keras, ketekunan, dan waktu yang lama. Kalau ingin mahir, kita harus berlatih setiap hari."
"Berlatih seperti ini setiap hari?"
"Iya, bahkan balerina-balerina yang terkenal pun harus berlatih dasar-dasar balet setiap hari. Aku juga harus berusaha keras agar bisa menjadi primadona."
"Hebat! Aku nggak tahu tentang balet. Aku hanya tahu Danau Angsa Putih. Kamu ingin menari sebagai angsa putih?"
"Ya, manjadi Odet dalam Danau Angsa Putih merupakan impianku. Memakai mahkota dan sayap yang bisa dikepakkan, lalu berputar-putar seperti ini," aku memberi contoh.
"Hari itu kamu juga menari seperti itu!" Wajahku memerah mendengar kata-katanya.
"Dulu aku kaget lho waktu ada leotard."
Author Side : Sy kembali ngakak mengingat adegan leotard, sunggguh pertemuan memalukan dan sangat di luar digaan wkwk.
"Sudahlah! Jangan diingat-ingat lagi, dong!"
"Mana bisa lupa?!"
"Tega, deh!"
"Bukan, bukan begitu! Waktu itu, sebenarnya aku sedang asyik memperhatikan kamu."
Author Side : Ternyata oh ternyata dia sedangggg…..
"Apa?"
"Dari sudut jalan, kamu tampak bersinar seperti bintang, Mebae."
Deg! Dadaku berdebar kencang. Bersinar seperti bintang?
.
.
.
.
.
Bersambung
