Tie me Up 8
Bnha by Horikoshi Kohei
Original Story by Viziela
Rated M/Romance/Hurt/Ntr
WARNING : mengandung konten seksual yang ekplisit
"Lalu karena aku merasa kesal dengan Yuki, Yuko atau siapa lah namanya itu. Aku memasukkan bangkai tikus di dalam loker sekolahnya. Salah sendiri ia menuduhku genit terhadap Dabi padahal kami hanya teman." Merasa tidak mendapat respon dari sepupunya, Toga melirik ke samping. Dan benar saja Bakugou ternyata tengah melamun. Sama sekali tidak mendengarkan ocehannya. Kening mulus gadis itu segera berkerut kesal.
"Hei Bakugou Katsuki."
Bakugou sedikit terkejut mendengar teriakan Toga. Lalu sepersekian detik berikutnya ia memandangi sepupunya dengan kesal.
"Kenapa kau berteriak di telingaku hah?"
"Salah sendiri kau melamun seperti itu. Sama sekali tidak mendengar curhatanku."
Bakugou mendecak bangkit berdiri dari kursi bus karena tepat pada saat itu bus yang mereka naiki sudah sampai di halte yang dekat dengan sekolah mereka. Setiap pagi Bakugou selalu berangkat sekolah bersama Toga dengan menaiki bus umum.
Toga ikut mendecakkan lidahnya mengikuti Bakugou yang keluar dari bus.
Ia tentu sadar sepupunya itu sering bertingkah aneh. Entah keberapa kalinya Bakugou tidak pulang seharian. Dan muncul di pagi hari untuk berangkat sekolah. Toga tahu Bakugou tidak menginap di rumah kedua sohibnya, Kirishima atau pun Kaminari. Karena sudah berjanji, Toga mau tidak mau mengarang alasan kepada bibi Mitsuki kalau Bakugou mungkin saja menginap di rumah temannya. Tapi tentu saja ia merasa sangat penasaran.
Sebenarnya apa yang dilakukan sepupunya belakangan ini? Bakugou bahkan sering melamun atau diam-diam menelpon seseorang di tengah malam. Itu hal langka yang baru pertama kali ia lihat dari seorang Bakugou Katsuki.
Toga memandangi punggung tegap Bakugou yang terus melangkah memasuki gerbang sekolah mereka. Kepala pemuda itu sedikit tertunduk lagi-lagi seperti orang yang melamun.
Ia ingin tahu sebenarnya apa atau siapa yang bisa membuat sepupunya yang keras kepala itu menjadi seperti itu?
.
Bakugou mengerutkan keningnya melihat Nejire Hado guru sejarah di kelas XII memasuki kelas mereka. Bukan hanya dirinya yang merasa heran hampir seluruh teman sekelasnya terkejut melihat Nejire sensei menyapa sekelas dan tersenyum manis.
Bukankah jam pertama hari ini adalah Uraraka yang mengganti Nemuri sensei untuk sementara. Sedangkan Nejire Hado tidak mengajar di kelas XI.
"Ah ... maaf. Kalian pasti merasa heran kenapa aku memasuki kelas kalian." Nejire terkekeh menyadari keheranan yang terjadi di kelas mereka. "Hari ini aku akan yang mengajar pelajaran sejarah kalian. Ochako eum ... maksudku Uraraka-san libur selama dua atau tiga hari. Ia ada urusan mendesak."
Bakugou menggigit bibirnya mendengar penjelasan Nejire. Ia ingin bertanya tapi ia menahan dirinya. Urusan yang seperti apa? Bakugou merasa sangat penasaran. Di dalam hati ia merasa kecewa, kenapa Uraraka tidak mengabarinya kalau ia tidak bisa mengajar hari ini? Akan tetapi Bakugou segera menepis rasa kecewa itu.
Mereka tidak punya hubungan kan.
"Ok ... sekarang tenang semuanya dan kita mulai belajar." Nejire bertepuk tangan agar suara kelas menjadi hening kembali.
Bakugou mengeluarkan bukunya dengan malas. Ia ingin tahu keadaan Uraraka.
Bakugou benar-benar merasa tidak tenang. Pikirannya terbagi tidak terfokus dengan apapun yang berada di sekelilingnya. Bayangan Uraraka berkelebat dalam benaknya dan hatinya bertanya-tanya bagaimana keadaan Uraraka sekarang ini?
Ia sadar tidak seharusnya ia ikut campur dengan urusan gadis itu. Sewajarnya ia bersikap tidak peduli seperti yang biasa ia lakukan. Tapi ia tidak bisa. Ia tahu Uraraka pasti baik-baik saja. Sialnya ia tidak bisa merasa tenang.
Terlebih saat ia menyadari sesuatu mungkinkah ... Midoriya kini berada di sisi gadis itu? Menemani Uraraka.
"Bro ... apa yang kau lakukan?"
Bakugou mengerjapkan kedua matanya cepat memandangi telapak tangannya yang ditahan oleh Kirishima. Dalam genggaman tangannya terdapat sekotak jus dan ia tanpa sadar meremas kencang jus itu, memuncratkan isinya. Kaminari melompat heboh seragamnya menjadi bernoda jus jeruk karena Bakugou.
"Ah maaf." Bakugou mengambil tisu di atas meja untuk mengelap tangannya.
Kaminari mendecak kencang ingin memprotes tapi Kirishima segera berusaha menenangkan temannya itu.
"Kau dari tadi melamun. Apa kau mendengar rencana kita nanti malam?"
Bakugou menyipitkan kedua matanya. "Rencana apa?"
Kaminari menepuk keningnya dengan gaya dramatis. Ia menatap Bakugou jengkel. "Nanti malam kita ke rumah Ashido. Ada pesta. Apa kau lupa kalau si gadis pinky hari ini berulang tahun?"
"Ah benar juga."
Karena terlalu sibuk bersama Uraraka, Bakugou sampai melupakan tanggal yang cukup penting untuk teman-temannya.
Ashido Mina adalah pacarnya Kirishima. Mereka berbeda kelas. Ia adalah gadis atletis dan penuh semangat. Menjadi ketua klub cherleader. Terkadang mereka menghabiskan waktu istirahat bersama. Tapi Mina lebih sering menghabiskan waktu di sekolah bersama teman-temannya.
"Aku belum menyiapkan kado."
"Padahal aku sudah mengingatkanmu beberapa hari yang lalu." Kirishima berkata. Ingin ia mengatakan kepada Bakugou belakangan ini ia tahu Bakugou sering melamun. Temannya ini memang masih sering berkumpul bersama dirinya dan Kaminari. Tapi ia sadar pikiran pemuda itu mengembara entah kemana.
"Buatkan saja kue kering untuknya. Kau ingat bukan? Ashido selalu suka biskuit buatanmu." Kaminari memberi usul.
'Biskuit ya?'
Bakugou tidak keberatan dengan ide Kaminari. Toh ia sendiri sedang merasa malas untuk pergi ke mall. Akan tetapi ia kembali teringat dengan Uraraka.
Gadis itu juga ... sangat suka dengan kudapan manis yang dibuatnya. Semenjak mereka mulai menjalin kesepakatan itu Bakugou menjadi lebih sering membuatkan sesuatu untuk Uraraka.
Bakugou meneguk ludahnya.
Sial. Ia ingin sekali menghubungi gadis itu.
"Ayahmu sudah tidur?"
Uraraka menutup pintu kamar dengan perlahan dan ia mengangguk pelan kepada Midoriya.
"Terimakasih karena kau menemaniku ke sini."
"Tidak apa-apa. Lagipula aku khawatir terhadapmu kau tadi pagi terlihat panik sekali. Jadi aku tidak bisa membiarkanmu melakukan perjalanan sendirian."
Uraraka mengangguk malu mendengar penuturan Midoriya. Tadi pagi ia mendapat kabar dari ibunya kalau ayahnya lagi-lagi ambruk dan jatuh sakit. Uraraka yang terlalu panik tanpa sadar menelpon Midoriya padahal ia berencana menelpon Tsuyu untuk meminta izin tidak mengajar hari ini. Midoriya yang mendengar kabar itu menawarkan diri untuk menemaninya pulang.
"Kau jadi meninggalkan pekerjaanmu karena aku."
"Tenang saja. Aku sudah memberitahu Melissa."
Uraraka terpaksa tersenyum mendengar nama itu keluar begitu saja dari bibir Midoriya.
"Tapi maaf. Walaupun besok hari minggu, besok pagi aku harus kembali ke Tokyo."
'Karena pekerjaan? Yah kau terlalu sibuk aku tidak memaksamu. Setidaknya aku harus bersyukur karena kau menyempatkan diri untuk mengantarku pulang,' batin Uraraka berkata. Tidak menyuarakannya sedikitpun.
"Tidak apa-apa. Aku mungkin masih di sini dua tiga hari lagi. Aku nanti akan pulang sendiri."
Midoriya mengangguk pelan. Lalu keheningan tidak nyaman terjadi di antara mereka. Uraraka tidak tahu harus membicarakan apalagi kepada Midoriya. Sejak kapan ia menjadi merasa tidak nyaman kalau berdiaman seperti ini bersama Midoriya? Padahal dulu baik sedang mengobrol atau berdiam diri kalau ia berada di sisi Midoriya ia selalu merasa nyaman.
"Ochako-chan. Bisa kau bantu ibu sebentar?"
"Oh aku harus ke dapur dulu untuk membantu ibu."
Midoriya kembali mengangguk. Menatap punggung kecil Uraraka yang menjauh. Saat gadis itu sudah tidak ada lagi dalam pandangannya ia mengamati layar ponselnya.
Melihat panggilan tidak terjawab yang masuk berkali-kali ke dalam ponsel miliknya sendiri.
Ia menghela napas.
Pesta ulangtahun Ashido Mina diadakan di gudang belakang rumah gadis itu. Yang sudah dibersihkan dan di hias untuk menambah suasana meriah dalam pesta. Mina adalah gadis yang supel, memiliki banyak teman karena karakternya yang asyik jadi Bakugou tidak heran dengan ramainya pesta itu saat ia tiba bersama Toga.
Toga juga di undang. Dan sepupunya itu sempat mengomelinya, mereka menjadi terlambat datang karena Bakugou membuatkan biskuit untuk Ashido terlebih dahulu.
"Bakugou kau datang. Kupikir kau berangkat bersama Kirishima dan yang lainnya." Ashido menyambut kedatangan pemuda pirang itu.
"Ya maaf kami terlambat. Selamat ulang tahun."
Ashido tersenyum cerah menerima kotak kado yang diberikan oleh Bakugou dan Toga. Ia lalu menuntun mereka berdua untuk bergabung bersama Kirishima, Kaminari dan Mineta.
"Ramai sekali. Ia mengundang berapa orang?" tanya Bakugou. Ashido sudah pergi untuk menghampiri tamu-tamu yang lain.
"Tiga puluh orang. Aku sudah membujuknya untuk hanya mengundang orang-orang dekat." Kirishima menjawab. Ia menawarkan minum untuk Bakugou.
"Tch tidak ada alkohol," dengkus Kaminari.
"Kau mau polisi menangkap kita?" balas Bakugou. "Ini bukan pesta tertutup. Kita tidak tahu teman yang di undang Ashido seperti apa. Bisa-bisa ada yang melapor polisi kalau ada yang membawa alkohol."
"Yah sudah lama sekali kita tidak mengadakan pesta tertutup untuk minum ya." Kirishima terkekeh. "Terakhir kali kita hampir saja ketahuan."
Toga yang mendengar pembicaraan mereka melirik ke arah Bakugou. "Kau sudah minum alkohol?"
"Ya, kenapa? Apa kau mau melaporkannya kepada ibu?"
"Tidak. Asalkan kau membelikan novel thriller yang pernah kuceritakan kepadamu tempo hari."
"Dasar tukang peras." Bakugou mendecak.
Tapi rasa jengkelnya terhadap Toga menjadi larut begitu saja saat Kaminari menawarkan untuk bermain Uno. Satu persatu teman-teman Ashido makin banyak yang berdatangan dan akhirnya mencapai jumlah undangan pesta gadis itu.
Bakugou berusaha menghibur dirinya dengan pesta itu. Meskipun ia masih memikirkan Uraraka. Ia belum bisa merasa tenang karena sedari tadi ia tidak bisa menghubungi gadis itu.
"Hei Bakugou." Di tengah permainannya bersama teman-temannya yang mulai kacau karena Kaminari sibuk menggoda gadis-gadis di pesta seorang gadis berambut karamel mengambil tempat di sebelahnya. Toga pergi entah kemana menyisakan ruang kosong di sebelah Bakugou.
"Oh hei Camie." Bakugou menjawab acuh.
"Camie ... kau juga datang di pesta ini." Kaminari yang mata keranjang mulai bertingkah berlebihan untuk menarik perhatian gadis berambut karamel itu.
"Tentu saja. Aku dulu mantan ketua cherleader, ingat?"
Camie Utshushimi. Gadis cantik bertubuh seksi setahun lebih tua dari mereka, atau dengan kata lain gadis itu kakak kelasnya. Berkat Camie lah Ashido sekarang bisa menjabat menjadi ketua klub cherleader. Murid-murid kelas tiga dilarang untuk tidak terlalu sibuk dalam kegiatan klub dan tidak diperbolehkan menjabat apapun agar mereka bisa fokus belajar untuk ujian. Saat di kelas dua dulu Camie sangat dekat dengan Ashido. Tidak heran gadis itu juga di undang ke pesta ini.
"Kenapa kau di sini? Tidak bergabung dengan teman-temanmu?" tanya Bakugou datar meneguk cola miliknya.
"Uh ... kau dingin sekali. Aku hanya ingin menyapa." Camie terkekeh menyentuh dagu Bakugou dengan gerakan menggoda. Gadis itu menjilat bibirnya sekilas. "Sudah lama sekali bukan kita tidak berdekatan seperti ini? Kau makin terlihat seksi dan tampan."
Bakugou mengerutkan keningnya. "Apa maumu?"
"Tidak ada. Hanya saja kalau kau mau bermain-main denganku sebelum aku fokus dengan ujian, ranjang di sebelahku selalu kosong untukmu."
"Bagaimana dengan kalau aku saja?" Kaminari dan Mineta serempak menawarkan.
Camie terkekeh menarik jemarinya dari dagu Bakugou. Melirik jahil ke kedua temannya si pemuda berambut pirang. "Kalian cari gadis lain saja."
Bakugou mendengkus kencang tatkala Camie pergi menjauh. Ia berusaha mengabaikan pandangan iri dari Kaminari dan Mineta.
"Bakubro terkadang aku heran. Kalian akrab sekali tapi kenapa kalian tidak berpacaran saja?" Kirishima yang sedari tadi diam mulai angkat bicara. "Kau juga dulu sering tidur dengannya bukan?"
Bakugou menghela napas mau tidak mau mengingat apa yang terjadi di antara ia dan Camie. Di antara semua wanita yang menjadi teman seksnya Camie lah yang paling lama bersama Bakugou. Gadis itu memang menyenangkan, Bakugou akui itu. Sekaligus teman curhat yang nyaman. Ada beberapa hal yang tidak bisa Bakugou ceritakan kepada Kirishima dan akhirnya berujung membuat ia menceritakan masalahnya kepada Camie. Mungkin karena gadis itu adalah seniornya oleh karena itu Bakugou sedikit lebih terbuka kepada Camie. Bakugou tak tahu. Yang jelas ia tidak pernah memiliki perasaan apapun kepada Camie.
Semenjak mereka naik kelas. Bakugou sudah jarang mengontak gadis itu lagi.
"Kau tahu sendiri bukan? Aku tidak tertarik menjalin hubungan serius."
"Hmm ..." Kirishima menggaruk dagunya memandangi Bakugou tak percaya. "Baiklah kalau kau tidak menyukai Camie. Lalu apa kau sedang menyukai seseorang?"
Bakugou menatap Kirishima berusaha menjaga ekspresinya dengan menaikkan kedua alisnya. "Tidak. Sudah kubilang bukan? Aku tidak pernah tertarik untuk menjalin hubungan serius."
Kirishima mengangguk-angguk pelan. Berpura-pura mengerti dan tidak ingin membahasnya lagi. Padahal kenyataannya ia merasa sangat penasaran sekali. Ia sering melihat Bakugou melamun sendiri seperti sedang memikirkan seseorang.
"Maaf. Aku ke belakang dulu."
"Eum baiklah."
Kirishima mengangguk ringkas membiarkan Bakugou yang pergi dari meja yang dikelilingi oleh kelompoknya.
Bakugou keluar dari gudang tempat pesta Mina di adakan untuk menghindari kebisingan. Ia duduk di kursi kayu panjang yang berada di luar gudang. Menghela napas dan mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Senyuman tersungging di bibirnya menemukan pesan ringkas yang dikirimkan Uraraka untuknya.
'Kenapa kau menelponku?'
Menolak untuk membalas pesan gadis itu, Bakugou lebih memilih untuk menelponnya. Ia ingin mendengarkan suara Uraraka.
Bakugou menggerakkan kakinya dengan gelisah. Menunggu gadis itu mengangkat telpon darinya selalu terasa mendebarkan.
"Hallo."
Sial! Bakugou sangat merindukan gadis ini.
"Kenapa kau tidak masuk hari ini?" Bakugou tidak berniat membalas sapaan Uraraka. Ia lebih memilih untuk bertanya. "Padahal aku sudah sangat menunggu di ajar olehmu."
Di seberang sana Uraraka menghela napas, menggelengkan kepalanya. Sudah terbiasa dengan sikap Bakugou yang tidak tahu sopan santun. "Aku lagi ada urusan. Aku yakin Nejire-san sudah memberitahu hal ini saat menggantikanku."
"Ya. Tapi urusan yang bagaimana? Aku tadi menyempatkan diri ke apartemenmu dan apartemenmu kosong. Aku bahkan menunggu di sana hampir satu jam lamanya. Apa itu berarti kau tidak pulang?"
Itu benar. Andai ia tidak punya janji untuk ikut merayakan ulang tahun Mina. Ia mungkin akan lebih lama menunggu di depan apartemen gadis itu. Karena ini juga ia jadi terlambat datang ke pesta.
"Astaga Bakugou. Kenapa kau sampai menunggu di sana?"
"Karena kau tidak mengangkat telponku. Seharusnya kau memberitahuku Uraraka."
Uraraka memijat pelipisnya perlahan. Benar-benar tidak habis pikir dengan segala tindakan yang dilakukan pemuda ini.
"Baiklah. Sepertinya aku harus memberitahumu. Aku pulang ke rumahku. Di luar kota. Ayahku jatuh sakit." Uraraka tahu ia tidak bisa untuk tidak memberitahu alasan yang sebenarnya kepada Bakugou. Pemuda ini sangat keras kepala dan selalu berusaha untuk tahu masalahnya.
"Ah ..." Bakugou tertegun sejenak. Tidak mengira jawaban seperti itulah yang dimiliki gadis itu. "Maaf," gumam Bakugou.
"Tidak perlu meminta maaf. Lagipula keadaan ayahku sekarang sudah baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu." Bakugou menjilat bibirnya sejenak. "Lalu ... kapan kau pulang?"
"Dua atau tiga hari lagi. Mungkin."
"Oh." Bakugou kecewa. Padahal ia berharap gadis itu akan pulang besok. Tapi ia tidak mau mengeluarkan rasa kecewanya. Rasanya sangat egois kalau ia menyuruh gadis itu pulang cepat ketika ayahnya sakit.
"Omong-omong kau sedang apa? Kenapa disana terdengar berisik sekali?"
"Ada pacar temanku yang ulangtahun. Ramai sekali di sini. Dia mengundang banyak murid ke pesta ini." Tanpa sadar Bakugou menceritakan keadaan pesta itu lebih terperinci. Ia hanya ingin bisa berbincang bersama gadis itu lebih lama lagi.
"Kedengarannya menyenangkan," komentar Uraraka. "Lalu seharusnya kau menikmati pesta itu bukan? Kau bisa menelponku lain kali."
"Jangan tutup telponnya," balas Bakugou cepat. Bukan ini yang ia harapkan. Ia hanya ingin bercerita, memiliki waktu lebih lama lagi bersama Uraraka. "Aku masih ingin mengobrol denganmu."
"Tapi kau sedang berpesta Bakugou. Aku tidak mau mengganggumu. Kau bisa menelponku lain kali."
Bakugou mendecak kencang. Seharusnya ia tidak memberitahu mengenai pesta Ashido kepada Uraraka.
"Uraraka-san. Kau tidak beristirahat?"
Uraraka nyaris melompat kaget. Ia menoleh mendapati Midoriya yang menyembulkan kepalanya keluar dari pintu menuju teras rumahnya.
"Iya. Sebentar lagi. Aku sedang mengangkat telpon dari temanku."
Midoriya mengangguk mengerti. "Tidak usah lama-lama. Kau harus cepat beristirahat."
Uraraka menghela napas lega. Tatkala pintu teras rumahnya kembali menutup di susul dengan suara langkah kaki Midoriya yang semakin menjauh. Uraraka lalu berjalan melewati teras rumahnya, berdiri di dekat pagar rumah agar tidak ada yang bisa mendengar pembicaraannya di telpon.
"Kau bersama pacarmu?"
Uraraka mengerutkan keningnya tepat saat ia menjawab kembali telpon Bakugou. Pemuda itu melontarkan pertanyaan. Suaranya terdengar dalam dan mengancam.
"Ya. Ia mengantarku pulang ke rumah."
"Dan ia menginap di rumahmu?"
"Mau bagaimana lagi? Mana mungkin aku menyuruh pacarku sendiri pulang ke Tokyo di larut malam seperti ini bukan?"
Uraraka meneguk ludahnya. Tanpa sadar menyebutkan status Midoriya kepada Bakugou. Midoriya memang pacarnya kan? Tapi kenapa ia merasa tidak nyaman sendiri menyebutkannya di depan Bakugou.
"Kau benar." Bakugou bergumam pelan. "Maaf karena sudah mengganggumu. Pacarmu benar. Kau harus cepat beristirahat."
Uraraka membuka kedua belah bibirnya. Hendak mencegah Bakugou untuk mengakhiri telpon mereka. Tapi terlambat pemuda itu sudah menutupnya.
Uraraka menggigit bibirnya kencang memandangi layar ponselnya dengan pandangan kosong. Kenapa ia harus merasa bersalah seperti ini?
Lalu ia juga merasa kesal.
Perasaan kesal yang tidak ia mengerti muncul begitu saja saat ia mendengar cerita Bakugou mengenai keadaan pesta yang ia datangi.
Itu pesta untuk remaja seusia Bakugou. Pesta yang berisi anak-anak muda yang bebas, seperti Bakugou. Pesta yang mungkin didatangi banyak gadis cantik dan seksi dari sekolahnya. Pesta yang memungkinkan adanya seks di antara beberapa remaja yang mungkin tertarik satu sama lain.
Pesta yang memungkinkan adanya beberapa gadis yang mungkin menggoda Bakugou Katsuki. Karena ... bukankah remaja berambut pirang itu memiliki fisik dan paras yang menggoda?
Uraraka menarik napas panjang berusaha menghentikan gemuruh di dalam hatinya.
Kenapa ia berpikir macam-macam seperti itu?
Bakugou terpikat dengan remaja seusianya bukankah itu bagus?
.
'Bakubro, kau baik-baik saja? Kenapa kau mendadak ingin pulang cepat?'
Bakugou membantingkan tubuhnya di atas kasur. Membaca pesan yang dikirim Kirishima dua puluh menit yang lalu. Bakugou pikir teman-temannya tidak akan merasa heran kalau ia pulang cepat dari pesta Ashido.
Ternyata tidak.
Kirishima dengan perhatiannya yang tidak Bakugou harapkan untuk saat ini malah bertanya.
'Aku sudah mengantuk. Aku mau tidur. Dan berhentilah menggangguku.'
Bakugou mendecih. Kalau sudah seperti ini Kirishima tidak akan bertanya-tanya lagi kan?
Ia hanya ingin cepat beristirahat.
Melupakan seluruh pembicaraannya dengan Uraraka di telpon. Berusaha melupakan fakta bahwa Midoriya Izuku berada di rumah gadis itu
Dua hari kemudian pada selasa malam, Uraraka baru sampai ke Tokyo menaiki shinkansen. Lagi-lagi ia tidak bisa masuk mengajar hari ini. Ia merasa sangat bersyukur karena kepala sekolah mengizinkannya.
Tepat saat ia keluar dari kereta ia menemukan Midoriya berada di stasiun itu melambaikan tangan ke arahnya.
"Seharusnya kau tidak usah menjemputku." Uraraka merasa tidak enak ketika Midoriya membantunya menarik koper kecil miliknya.
"Tidak apa-apa. Kebetulan sore ini aku senggang. Jadi aku bisa menyambut kepulanganmu." Midoriya menggamit tangan mungil Uraraka membawa gadis itu ke mobilnya yang terparkir rapi. "Nanti malam aku ada pekerjaan. Jadi hanya sore ini lah aku bisa menemuimu."
"Terimakasih karena sudah meluangkan waktumu,"komentar Uraraka berusaha terdengar ceria.
Midoriya mengangguk pelan. Tanpa berbasa-basi ia segera mengendarai mobilnya tepat ketika Uraraka sudah masuk ke dalam mobil.
Uraraka menghela napas, melambaikan tanyannya ke mobil Midoriya yang semakin menjauh. Setelah mengantarnya sampai di depan apartemen, menolak tawaran Uraraka untuk sekedar mampir sebentar.
Seperti biasa.
Midoriya selalu terlarut dengan pekerjaannya yang tidak begitu Uraraka mengerti. Begitu sibukkah sampai sulit meluangkan waktu untuk pacarnya sendiri?
Ia lalu masuk ke dalam apartemen. Menarik koper mungil yang ia bawa. Apartemennya hanya terdiri dari tiga lantai sehingga tidak ada lift. Ia tinggal di lantai dua. Dan untunglah apartemen itu memiliki tangga datar untuk lewatnya troli sehingga Uraraka hanya tinggal menarik koper saat menaiki tangga itu.
'aku belum terlalu lelah. Apa sebaiknya aku menonton film dulu setelah mandi?' batin Uraraka ketika ia berada di depan kamar apartemen miliknya. Ia merogoh saku mengeluarkan kunci.
'Selamat datang kembali di kehidupan Tokyoku yang sibuk.' Ia membuka pintu, masuk ke dalam sembari menyalakan lampu dan membawa koper.
'Brak!'
Uraraka terkejut tepat saat ia hendak menutup pintu kembali seseorang merangsek masuk ke dalam apartemennya. Membanting pintu menutup, dan mendorongnya ke dinding. Dengan gerakan tak sabar orang itu mengunci pintu apartemen.
"B-baku ... ngh."
Uraraka nyaris tersedak tatkala Bakugou menciumnya menolak untuk mendengar protes yang akan ia keluarkan. Sepasang tangan besar pemuda itu menangkup kedua pipinya kencang, membuat Uraraka sama sekali tidak bisa menoleh untuk menghindari ciuman itu.
Sekuat tenaga Uraraka berusaha melepaskan dirinya dari ciuman itu. Ia meletakkan kedua telapak tangan mungilnya ke dada bidang Bakugou, lalu mendorongnya.
"Hah .. hah ... hah ..."
Napas Bakugou terengah, manik crimson-nya menatap dalam ke gadis berambut cokelat yang balas menatapnya dengan kesal.
"Kau benar-benar tidak sopan. Masuk tanpa izin dan menyerangku."
"Aku dari tadi berusaha menghubungimu karena aku tahu kau pulang hari ini. Tapi kau tidak membalasnya."
Uraraka tertegun mendengar perkataan Bakugou. Getaran dari ponselnya selama perjalanannya pulang ke apartemen ternyata telpon dari Bakugou. Ia mengabaikan telpon itu karena sepanjang perjalanan Midoriya mengajaknya mengobrol.
Bakugou tersenyum kecut. Ia tahu kenapa Uraraka tidak mengangkat telpon darinya. Ia melihat semuanya dari lantai dua, dimana Midoriya mengantar gadis ini pulang.
"Tapi tidak seharusnya kau menyerangku seenaknya."
"Tch ... diamlah. Aku sekarang benar-benar ingin memakanmu."
Uraraka memekik tatkala tangan kanan Bakugou mencengkram erat kedua pergelangan tangannya. Menekan kedua tangannya di dinding tepat di atas kepala Uraraka. Lalu tangan kirinya yang bebas mencengkram dagu Uraraka kembali membuat gadis itu tidak bisa menolehkan kepalanya.
Bakugou mencium bibirnya, melumatnya dengan lebih agresif saat gadis itu mengerang rendah. Suara yang sangat ia rindukan.
Uraraka menggerakkan kakinya masih berusaha membebaskan dirinya dari ciuman Bakugou yang brutal. Tapi Bakugou dengan cekatan meletakkan lututnya di antara kedua kaki gadis itu. Menekan gadis itu agar posisinya sedikit terangkat menggunakan lututnya. Tidak sulit bagi Bakugou berkat tubuh Uraraka yang mungil
Bakugou menyeringai menyadari desahan tertahan yang dikeluarkan Uraraka berkat tekanan yang ia berikan di selangkangannya. Ia terus menghisap lidah Uraraka, berusaha mengekplorasi mulut gadis itu dengan menggunakan lidahnya. Tanpa sadar Uraraka sedikit membalas, gairah yang di salurkan Bakugou perlahan ikut menyeretnya.
"Sial! Kau tidak tahu? Betapa aku merindukanmu," desis Bakugou saat ia melepaskan ciumannya akibat oksigen mereka yang semakin menipis. "Kau harus tahu. Wajahmu yang sekarang akibat ciuman itu benar-benar membuatku ingin memakanmu."
"Aku baru saja pulang. Tubuhku kotor sekali. Aku perlu mandi." Uraraka berkata dengan pipi merona malu saat ia ingat tubuhnya terasa lengket akibat keringat. Sama sekali tidak menolak hasrat Bakugou.
"Jangan sekarang. Aku ingin menidurimu di dinding ini."
"Tidak. Aku merasa malu sendiri karena tubuhku penuh keringat."
Bakugou mendecak karena Uraraka terus berusaha melepaskan dirinya. "Baiklah kalau itu maumu."
Uraraka melotot kaget tatkala lengan kekar Bakugou menggendongnya dengan mudah. Membawanya ke kamar mandi apartemennya, dan masuk ke bilik shower.
"Butuh waktu untuk mengisi bath tube. Lebih baik menggunakan shower." Bakugou memutar keran shower. Air turun dengan derasnya di atas kepala mereka membuat pakaian yang masih menempel di tubuh menjadi basah.
"Bakugou. Apa-apaan ini?"
"Bercinta di kamar mandi. Kita tidak pernah melakukannya."
Bakugou berlutut di hadapan Uraraka menarik celana yang dikenakan gadis itu. Uraraka mendesah, menyandarkan punggungnya ke kaca pembatas shower merasakan tangan kasar Bakugou mengusap bagian bawah tubuhnya. Menjilat dan menghisapnya. Kepala Uraraka menengadah ke atas merasakan serbuan kenikmatan yang ia rindukan menyerang selangkangan. Jemari mungilnya meremas rambut pirang Bakugou tatkala lidah pemuda itu semakin masuk ke dalam.
"Damn. You feel so good sensei." Bakugou menghisap kencang, telunjuknya menjentik klitoris gadis itu membuat Uraraka berjengit kaget. Ia meletakkan salah satu paha gadis itu di atas bahunya."Kau ingin aku berhenti?"
Uraraka menggeleng, menekan kepala Bakugou agar tetap pada tempatnya. "Tidak. Kumohon lanjutkan. A ...ah Bakugou." Ia menyebut nama Bakugou tanpa malu-malu saat Bakugou memasukkan kedua jari ke dalam keintimannya. Lidah pemuda itu masih berada di sana, menjilat cairan yang dikeluarkan gadis itu. Tangan kirinya yang bebas meraba bagian atas tubuh Uraraka, meremas payudara gadis itu yang masih terbungkus kemeja.
Uraraka menggigit bibir. Tubuhnya gemetar hebat. Andai salah satu kakinya tidak ditahan oleh bahu Bakugou, ia mungkin sudah jatuh. Susah payah ia berusaha membuka kancing kemeja dan bra yang ia kenakan agar tangan Bakugou bisa leluasa menjelajahi tubuhnya.
"Shit!"
Uraraka merengek kecewa karena Bakugou menarik jemarinya keluar dari keintiman Uraraka. Padahal ia belum mencapai orgasme yang diinginkan. Pemuda itu bangkit berdiri.
"Aku sudah tidak tahan lagi." Bakugou mendesah membuka kaus yang ia kenakan. "Balikkan tubuhmu."
Uraraka menurut. Bakugou menurunkan celananya. Menyentuh kejantanannya sendiri dan mengusapkan kepala kejantanannya ke keintiman Uraraka.
"B-bakugou ..." Uraraka mengerang frustasi karena Bakugou tidak memasuki tubuhnya. Ia menoleh menatap Bakugou kesal dari balik bahunya.
"Kau benar-benar tidak sabaran." Bakugou terkekeh merasa senang karena Uraraka lagi-lagi menikmati seks dengannya. "You want that? Want me to fill you up, sensei?" tanya Bakugou menggoda.
"Fuck yes. Please."
Bakugou menyeringai melihat wajah frustasi Uraraka karena keinginan atas tubuhnya terasa sangat menyenangkan.
"How badly do you wanna cum?"
"So bad."
Uraraka memekik tatkala Bakugou memasukkan kejantanannya sekaligus tanpa peringatan sedikitpun. Bakugou mendesah kencang dan tanpa mempedulikan protes Uraraka ia segera memaju mundurkan pinggulnya secepat mungkin.
Sial!
Tubuh gadis ini sanggup membuatnya mabuk sendiri. Bakugou tak tahu seberapa besar keinginannya untuk menyetubuhi gadis ini kembali. Uraraka hanya pergi selama tiga hari tapi kenapa ia merasa sangat hampa?
"So good, gooddamn pretty. Take all of me in that sweet little pussy."
Bakugou menggeram, melayangkan tamparan ke pantat gadis itu yang membuat Uraraka tersentak kaget. Ia lalu menggulung rambut gadis itu, menariknya ke belakang dengan tarikan lembut membuat kepala Uraraka sedikit mendongak ke atas. Uraraka memejamkan kedua matanya kencang agar air shower yang mengalir dari atas tidak masuk ke dalam matanya.
"B-bakugou. Ngh ah ... ini terlalu banyak. A-aku tidak bisa." Uraraka mengoceh tidak jelas saat tangan kanan Bakugou menggosok klitorisnya bersamaan dengan terjangan kejantanan pemuda itu yang tidak melambat sedikit pun.
"Ada apa denganmu? Bukankah kau suka seks kasar seperti ini?" Bakugou terkekeh sama sekali tidak memelankan gerakannya.
"Oh fuck." Uraraka mengumpat merasakan tamparan Bakugou di pantatnya, lagi. Setelah perjalanan jauh ia hanya ingin duduk santai dan beristirahat sebelum tidur. Jelas saja ia merasa terlalu lelah untuk menghadapi seks kasar dari Bakugou.
"Walau pun kau sedang lelah kau tetap menyukainya bukan?" Bakugou berbisik menjilat telinga gadis itu.
Uraraka hanya menggeram, tidak menjawab. Bakugou benar. Bagaimana pun juga ia selalu menyukai pelayanan pemuda itu yang diberikan untuknya.
Bakugou mendesah kencang merasakan kewanitaan gadis itu semakin meremas kejantanannya. "You want to cum for me now, don't you sensei?"bisik Bakugou. Ia sudah sangat hapal dengan reaksi tubuh gadis itu.
Uraraka mengangguk pelan. "B-bakugou." Tapi ia segera merengek saat Bakugou menghentikan gerakannya, menghentikan rangsangan yang diberikan. Sehingga puncak orgasme yang hampir datang menjadi tertunda, menyiksa Uraraka.
"Hmm? Bukankah kau ingin lambat?" Bakugou memaju mundurkan tubuhnya dengan perlahan.
Brengsek! Pemuda ini memang suka sekali mempermainkannya.
"Please, let me cum." Uraraka memohon. Mengajukan protes juga percuma karena Bakugou akan semakin bersemangat untuk menggodanya.
Sudut bibir Bakugou terangkat. "Sebut namaku."
Uraraka meneguk ludahnya. "Please Katsuki. Fuck me harder. And let me cum."
"Kau terlihat sangat seksi kalau memohon seperti itu." Lalu Bakugou menerjang Uraraka tanpa ampun kembali. Ia melingkarkan kedua lengannya di tubuh Uraraka, menyandarkan dada telanjangnya ke punggung gadis itu. Menggerakkan pinggulnya secepat mungkin sedangkan lidahnya menari di atas leher jenjang gadis itu.
Uraraka merintih kedua tangannya bertopang di kaca bilik pembatas shower. Berusaha menahan dirinya sendiri agar tidak ambruk akibat serangan Bakugou. Hanya suara air mengalir serta umpatan kasar Bakugou yang terdengar dari dalam kamar mandi.
"Ochako!" Bakugou menggeram menyemprotkan seluruh cairannya ke dalam kewanitaan gadis itu setelah beberapa detik Uraraka mengalami orgasme.
Uraraka menoleh, memandangi Bakugou dari balik bahunya. Wajahnya merah padam dan Bakugou tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium Uraraka.
"Kau tidak memakai kondom," keluh Uraraka saat ciuman mereka terlepas.
"Sial, aku lupa." Bakugou membalas tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Tch. Untung saja aku memiliki obat untuk mencegah kehamilan."
"Kalau begitu kita aman bukan?"
Uraraka mengerutkan keningnya saat Bakugou membalikkan tubuhnya membuat mereka berhadap-hadapan. Dan untuk pertama kalinya selama sesi bercinta mereka tadi, Uraraka baru bisa melihat tubuh telanjang Bakugou yang basah karena air.
"B-bakugou, h-hentikan." Uraraka memekik ketika Bakugou menggendong tubuh mungilnya dengan mudah. Punggung Uraraka bersandar di dinding, dan ia bergidik merasakan kejantanan pemuda itu menyentuh perutnya.
"Ssh satu ronde lagi. Lalu kita mandi." Bakugou mengecup bibir gadis itu untuk menenangkannya. Uraraka mendecak, ia hanya bisa pasrah.
.
Bakugou keluar dari kamar Uraraka dengan kaus abu-abu yang dikeluarkan Uraraka dari lemari. Semenjak ia sering mendatangi apartemen gadis berambut cokelat itu, Bakugou meninggalkan beberapa potong pakaian di sana. Dan Uraraka menyimpan pakaian itu di balik tumpukan bajunya untuk menyembunyikan jejak Bakugou.
Ia menghampiri Uraraka yang duduk malas di sofa, menyalakan televisi. Semangkuk besar popcorn berada di pangkuan.
"Bukannya kau tadi merengek ingin beristirahat?" tanya Bakugou, mengambil tempat disebelah Uraraka.
"Aku belum mengantuk dan sekarang aku juga sedang beristirahat." Uraraka mengambil beberapa butir popcorn dan memasukkannya ke dalam mulut mungilnya. "Omong-omong aku punya pertanyaan untukmu."
"Apa itu?" Jemarinya memainkan rambut Uraraka.
"Kenapa kau bisa berada di depan apartemenku?"
Gerakan tangan Bakugou terhenti sejenak. Lalu ia mendekatkan diri mengecup puncak kepala gadis itu. "Aku menunggumu."
"Apa sepulang sekolah kau langsung kemari? Menungguku?" Uraraka bertanya hati-hati. Saat masuk ke dalam apartemen dan menyerangnya Bakugou mengenakan seragam sekolah. Ransel pemuda itu sekarang di letakkan begitu saja di atas sofa.
"Ya."
Uraraka mendecak. Ia menyingkirkan tangan Bakugou dari helaian rambutnya. Kini ia menatap dalam ke manik crimson pemuda itu.
"Kenapa kau melakukan tindakan bodoh seperti itu? Kau menungguku sampai malam seperti ini? Kau berbohong saat kau bilang tahu aku pulang hari ini. Aku tidak memberitahu siapa pun mengenai kepulanganku selain terhadap Izuku-kun." Uraraka menelan ludahnya, menatap Bakugou dengan pandangan menuntut. "Kau tidak menunggu di apartemenku sedari kemarin bukan?"
"Ya. Aku juga kemarin menunggu di depan apartemenmu."
Uraraka membelalakkan kedua matanya. Ia memandangi Bakugou dengan pandangan marah sekaligus bertanya-tanya. "Kenapa kau suka sekali bertindak bodoh seperti ini? Kau lebih baik menghabiskan waktu bersama teman-temanmu daripada menungguku."
"Aku sudah mencoba melakukannya. Tapi aku tidak bisa. Aku merasa tidak tenang selalu terpikir olehmu." Bakugou balas menatap Uraraka lekat. "Aku mencintaimu."
"Ap-apa?"
"Kubilang aku mencintaimu. Aku tidak peduli dengan status kita. Aku serius mencintaimu, Uraraka Ochako."
_TBC_
