ROYALTY

by Gyoulight

.

.

.

.

A CHANBAEK FANFICTION

GENRE: Romance, Drama (?)

RATING: T (?)

.

.

.

.


Chanyeol masih menatap seragam kerja Baekhyun dalam genggamannya. Pakaian itu ajaibnya baru saja diantar oleh penatu bersama pakaiannya yang lain. Sebersit pikiran tentang hari itu sesuka hati datang menghantam. Menembaknya begitu dalam, yang anehnya ia tetap memikirkan hal itu sampai besok. Padahal ia tidak asing melakukannya dengan orang lain, lalu melupakannya begitu cepat. Tapi kali ini, entah, terasa berbeda saja dari sebelumnya.

Dan ia mulai berpikir tentang kondisi orientasinya. Apa karena ia orang yang 'menyimpang', atau karena perkataannya yang benar─malam itu mengatakan bahwa ia tertarik pada Baekhyun? Memikirkan hal acak seperti orang bodoh kini membuatnya sadar telah melupakan setumpuk dokumen di atas meja. Lupa tenggelam pada sofa yang menunggu dengan kepala penuh, sambil memikirkan batasan rencana perjalanan bisnis. Seharusnya demikian.

Sungguh malang. Sudah nyaris sebulan Chanyeol menghadapi pekerjaan yang tidak kunjung selesai. Harus bolak-balik menuju kantor pusat demi rapat. Sampai menjelajahi kapalnya yang tertidur di pelabuhan. Itu cukup melelahkan bagi Chanyeol. Dan ia ingin segera menyelesaikan ini seperti harapan Junmyeon. Tapi sekali lagi, semua ini tidaklah semudah pemikirannya─sementara ia tidak bisa menunggu.

Hendak turun menemukan pesanan makan siang, Chanyeol kini memasukkan pakaiannya ke dalam lemari. Tidak terkecuali dengan pakaian Baekhyun. Sayang sekali, ia jadi teringat kembali dengan pemuda itu. Kesadaran Chanyeol yang tertidur tiba-tiba saja terbamgun, sampai repot untuk berpikir jika hari itu ia cukup keterlaluan. Terlalu cepat memutuskan sesuatu. Hingga Baekhyun mungkin tidak akan mau menatapnya lagi mulai sekarang.

Tapi sungguh, untuk apa meributkan hal yang tidak perlu, sementara ia harus pulang? Tidak ada ketertarikan yang berujung jatuh cinta dalam kamus Chanyeol. Tentu dari pada pening dengan pemikiran tidak sampai pada titiknya, ia seharusnya meladeni suara-suara yang bisa dibuat oleh semua orang di depan pintu. Ini soal ketukan pintunya, tentu itu jauh lebih penting.

Chanyeol tidak buru-buru ketika meraih gagang pintu. Membuka kuncinya dengan segera karena ia seharusnya sudah menemukan layanan pesan antar dan menerima menu makan siang. Tetapi yang mengejutkan, malah Baekhyun yang lebih dahulu berdiri di depan pintu. Lengkap dengan raut dingin yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

"Aku ingin mengambil seragam kerjaku," ujarnya tepat pada intinya. Tidak ingin membuang waktu dengan percuma. Dan tentu ini sangat mengejutkan bagi Chanyeol. Baginya, pemuda itu masih punya nyali untuk bertemu dengannya. Ini bahkan menjadi sangat menarik. Akan sangat menguntungkan jika Chanyeol mau memutar kembali rencana dan konsep dengan tepat.

Menemukan keterdiamannya, pemuda itu pun mencoba memanggilnya. "Chanyeol?"

"Kau bisa ambil di dalam," balas Chanyeol akhirnya membuka pintu. Mempersilahkan Baekhyun masuk seperti tamu yang harus ia jamu. "Aku terkejut kau datang, sementara aku tidak bisa melihatmu di restoran pagi ini. Kau sakit?"

Sudut-sudut sipit itu diketahui Chanyeol sudah membuat sudut tajam. Entah dia gila atau memang bajingan, menurutnya Baekhyun terlihat lebih misterius dibandingkan dengan wajah lucunya. Jika marah, ada ribuan kilau dari wajah itu. Semakin membuat si pemuda bercahaya, semakin membuatnya terpana tanpa alasan.

"Kau masih bisa berbicara begini padaku?" Kalimatnya penuh ketus. Ada nada dingin dalam pertanyaan itu. Chanyeol sendiri sampai urung memasuki kamar, sebab lebih tertarik melihat percikan amarah dari ujung mata bulan sabit itu. Bukan binar-binar menyenangkan seperti pertama kali mereka bertemu. Jadi lain kali, ia mungkin bisa membuat sosok itu marah untuk bersenang-senang.

"Setelah semua ini kau bahkan tidak mengatakan maaf," sambungnya.

Chanyeol sadar benar jika ia adalah pria berengsek, bajingan atau semacamnya yang Baekhyun pikirkan. Dan ia masih bisa menyeringai akan semua itu. Melipat lengannya di dada seperti bajingan sungguhan. Tidak cukup berbeda dengan ia memperlakukan seseorang yang ia pilih di klub malam.

"Apa salah jika aku menyukai seseorang?"

Pemuda itu ingin tercengang. Bibir mungilnya bergerak, hendak mengatakan sesuatu yang keras. Namun kata, "Kau bajingan," baru saja meluncur dari sana, tanpa perasaan pula. Namun dikatai demikian rasanya menyenangkan bagi Chanyeol. Ia pun tidak paham mengapa sesuatu yang menyangkut Baekhyun tidak pernah gagal menarik perhatiannya. Selalu berkesan, dan juga menyisakan garis menantang yang tajam.

"Aku tahu, adikku juga mengatakan hal yang sama seperti itu." Chanyeol kembali melanjutkan langkahnya. Bukan pergi ke kamarnya untuk membuka lemari─mencarikan seragam Baekhyun yang tertinggal, lebih tepatnya menuju dapur dimana ia mengambil sebuah gelas untuk diisi. Siapa tahu Baekhyun tidak menolak jamuannya.

"Dimana seragamku?"

Chanyeol mulai mengisi dua gelasnya dengan isian botol jus jar. Mencicipi salah satunya, sebelum menyayangkan Baekhyun yang seakan sudah menolak suguhannya. "Kau bisa ambil di lemari."

Dengan cepat kaki pemuda itu mendekat padanya. Meletakkan kantung berisi pakaian─yang sejak kunjungan mereka di Vienna sempat ia pinjamkan─ke atas meja. Beberapa detik ia menyaksikan wajah manis itu kesal, sebelum akhirnya hilang mencari letak kamarnya.

Chanyeol akui jika Baekhyun begitu superior untuk mengontrol emosinya. Alih-alih ia bisa tersenyum seperti orang gila, kadang pula menjadi Chanyeol yang berada di luar kendali. Jadi ia pantas terkesan, entah ia harus berterima kasih pada siapa untuk sebuah karya yang satu ini.

Tak ingin berlama-lama, ia beralih pada daun pintu kamarnya sendiri, menunggu sosok yang ditunggunya itu keluar dengan hasil memuaskan. Namun tidak seperti yang diharapkan, pemuda itu terlalu lama berada di dalam sana.

Maka ia memutuskan untuk beranjak, segera menyusul ke dalam dengan langkah panjang. Dari daun pintu ia bisa melihat bagaimana Baekhyun cukup kesulitan menggapai rak teratas lemarinya. Kaki kecilnya berjinjit, susah payah tangannya dijinjing untuk menarik benda incaran. Pun Chanyeol mendekat pada punggungnya. Menggapai benda yang Baekhyun inginkan─dengan mudah dan menurunkannya sepi.

Seperti dugaan, Baekhyun terkejut akan itu. Si pemuda berakhir bisu, tidak bisa berbalik untuk pergi menjauh. Hanya bisa mematung disana sampai Chanyeol memutuskan untuk pergi. Namun dibandingkan dengan itu, Chanyeol lebih senang mendekat. Ia mungkin tengah menikmati bagaimana getaran-getaran tak terdifinisikan miliknya itu berteriak menginginkan Baekhyun menatapnya. Menggenapi sebuah rasa yang semalam sempat hilang begitu saja.

"Kali ini kau tidak bisa menatapku?"

Lucu, ketika wajah itu semakin menunduk di hadapannya. Chanyeol sendiri puas karena Baekhyun tidak juga berpindah dari sana. Helaian rambutnya yang coklat menjuntai, menghalangi wajahnya dari sorot yang menelisik. Indah, bagaimana Chanyeol menggambarkan profil Baekhyun dari dekat. Sialnya, ia baru mengetahui itu sekarang.

"Kenapa kau begitu membingungkan?" tanya Baekhyun murni ingin tahu. Kepolosan si pemuda mengantarnya pada jurang-jurang akhir dari impian untuk menyetir lokomotif yang ia ingin Baekhyun berada di dalamnya. Kemana tujuannya tidak terpikirkan, hanya tersetir otomatis, terserah pada bentang rel. Sebab Chanyeol bukan masinis dalam stasiunnya sendiri. Dia tidak cukup berdaya jika mengungkap masalah hati.

Chanyeol tidak punya pilihan saat menjauhkan seragam yang dicari pemiliknya itu. Mencegah Baekhyun merampasnya ketika ia lengah. Karena jujur, sebenarnya Chanyeol merasa betah menahan pemuda itu di sisinya. Ia merasa jauh lebih baik jika berdekatan dengan Baekhyun.

"Hal-hal gila selalu muncul di kepala pria ketika dia menyukai seseorang. Kau bisa menyebutnya─kekacauan."

Kalimat itu lalu berhasil membuat Baekhyun mendongak menatapnya. Gerakan kakinya tengah berusaha berbalik mundur, tapi Chanyeol dan lemari yang menghalanginya tidak juga mau berpindah dari posisi.

Chanyeol kembali menatap pada wajah itu. Hanya ingin menatap iris Baekhyun yang gemetar takut. Pura-pura tuli jika jantung pemuda itu sudah berdegup begitu keras, karena Chanyeol telah berhasil mendengarnya sendiri. "Kau pikir kita sama karena aku memiliki istri?"

Sosok itu terdiam. Meresapi kalimatnya dengan susah payah. Namun Chanyeol senang dengan keterkejutan pemuda itu. Membuatnya tertarik untuk melancarkan banyak serangan lain dikemudian hari, yang kemudian akan lebih menguntungkannya.

Apa memungkinkan baginya mengacaukan Baekhyun?

"Suatu hari akan kubuat kau mengerti," bisik Chanyeol merdu. Menyerahkan seragam itu pada Baekhyun. Lalu menikmati bagaimana si pemuda berambut coklat terdiam mengambil miliknya.

Tiba pada Baekhyun yang mendorong tubuh Chanyeol untuk segera menyingkir. Nyaris tangan yang terkepal itu melayangkan tinju yang sama seperti kemarin. Tapi bagi Chanyeol mau mendapatkan tinju itu sekali lagi pun tidak masalah. Tidak akan membuatnya jera. Tidak akan membuatnya mundur selangkahpun.

e)(o

Baekhyun berakhir frustasi dengan perubahan sikap Chanyeol yang semakin membingungkan. Setelah ia kembali ke restoran, ia segera memarkir sepedahnya di luar. Melenggang panjang-panjang ke dalam ruang ganti lalu membuka satu persatu kancing kemeja. Ia kemudian bertanya resah. Memikirkan perubahan drastis pria itu, yang demi Tuhan, bukan seperti Park Chanyeol yang ia kenal tidak lama ini. Semua pergerakan pria itu seperti sengaja mengujinya. Membingungkan dirinya, lantas menyangkutkan ragu jika pria itu serius menyukainya.

Selain itu Baekhyun mengaku telah menjalani hidup dengan baik. Segala kenormalan hidup sudah ia telan mentah-mentah. Namun diperlakukan begitu membuatnya tidak takut. Malah dirinya tidak merasa jijik sedikitpun. Atau mungkin otaknya telah tercuci? Merubahnya sedemikian mudah, hingga Jantungnya sendiri berdegup aneh sejak semalam. Wajahnya berubah panas tiap kali mengingat kejadian hari itu. Untuk apa ia mengingat hal buruk seperti ini?

Tak berhenti mengutuki diri, Baekhyun lalu melempar kasar kemejanya ke dalam loker. Berhasil menutup pintu kecil itu lalu meninju permukaannya kuat. "Sial!" umpatnya kesal.

Memasang sisa kancing seragamnya, ia pun bergegas keluar. Berniat mengembalikan luaran seragam milik Wendy karena miliknya telah kembali. Namun di luar ia bertemu dengan Kris, berbincang akrab dengan Wendy sambil menunggu kopinya diantar.

"Kau sudah kembali?" Wendy menjadi orang pertama yang bertanya. Gadis itu menerima luaran seragamnya dengan senang hati. Memasangnya dengan cepat sebelum pelanggan datang meributkan masalah tagihan yang harus dibayar.

Kris masih menatapnya sepi, memeriksa pergerakannya seperti seorang profiler. Entah apa yang dipikirkan Kris, hingga mereka merenggang begini. "Kau baik-baik saja?"

Dan Baekhyun menyesal karena pernah membentak Kris kemarin. Walaupun ia pernah membentak Kris berulang kali, Baekhyun pikir yang terakhir terlalu serius untuk dianggap bercanda. "Kemarin, aku minta maaf." Baekhyun menyesal.

"Aku terbiasa dengan kalian yang sering membentakku," ujarnya ringan. Lengkap dengan senyumnya yang selalu lembut. Kris mungkin bisa menjadi sangat tampan dengan senyum itu. Namun kali ini terasa berbeda, Baekhyun merasa jika pria tinggi itu tengah berbohong soal emosi. Sebab Kris tidak tersenyum dengan matanya. Ia tahu jika Kris bukan orang yang mudah percaya.

Lalu tiba pada Wendy yang menemukan keganjilan di antara mereka. Seperti diberi tanggung jawab, gadis itu selalu harus menjadi penengah untuk memperbaiki hubungan buruk Baekhyun dengan Kris. "Kalian bertengkar?"

"Seperti biasa. Dia tidak suka aku masuk ke apartemennya." Kris segera menyembunyikan rahasianya dengan baik. Tawa renyahnya sudah berkelana di depan Wendy, hampir membuat semua ini menjadi kentara, karena gadis itu sudah mulai menaruh tanda tanya.

"Aku akan mengganti kode apartemenku hari ini," putus Baekhyun mengambil note yang dititipnya di meja Wendy. Ingin segera membantu sebelum Kris mulai menginterogasi lebih jauh soal insiden mereka hari itu. "Dan aku akan memberikan kodenya padamu. Hanya padamu."

"Oke," jawab Wendy riang. Merasa bangga luar biasa karena bisa menang dari Kris.

"Tidakkah kau mulai jahat padaku? Aku merahasiakan banyak hal untukmu dari Wendy." Kris mengekorinya. Tidak perduli dirinya mondar-mandir memindahkan piring kotor ke tempat cuci beberapa kali. Terlebih mendekati pelanggan untuk menerima pesanan. Kris benar-benar ingin mengganggunya.

"Baek, bicara denganku. Aku akan pergi ke Italia minggu depan."

Baekhyun pura-pura memasang wajah sinis. Terlalu terbiasa dengan Kris yang cerewet. Wendy saja sudah ingin terkikik di meja kasir karena puas melihatnya diganggu sedemikian rupa. "Lupakan, kau pasti akan tetap membeli ayam."

"Kita harus bicara," cegah pria itu pasang badan di pintu. Menghalanginya keluar dari tempat cuci. Sampai-sampai Baekhyun sadar jika Kris bisa seraksasa itu untuk menutupi seluruh celah pintu.

"Kalau soal kemarin aku menolak." Tentu saja Baekhyun akan menolak. Bagaimana mungkin ia berbicara soal Chanyeol yang menciumnya pada Kris? Tidak memungkinkan baginya, karena selain memalukan ia juga tidak enak hati jika Kris salah paham tentang Chanyeol, lalu membuat suasana menjadi semakin runyam. Jadi biarkan ini menjadi urusannya.

"Kenapa?"

Mendengar pertanyaan sesederhana itu, Baekhyun melipat lengannya di dada. Baru terpikirkan di kepalanya soal Kris yang terlalu mengurusi hidupnya. Ia bahkan begitu heran dengan dirinya sendiri, sejak kapan pula hidupnya jadi bergantung pada Kris?

"Aku selalu terbuka padamu, Kris. Tapi kau tidak."

Kris terdiam sebentar, seakan benar menyelami perkataannya. Namun pria itu masih menepis fakta soal ia yang terlalu mengurusi hidupnya. Pria itu memang tidak perduli, sekalipun ia dianggap salah oleh kebanyakan orang.

"Baek, aku selalu mengkhawatirkanmu. Kau tahu, kan?" Dan Kris selalu punya alasan. Hampir dua tahun mereka saling mengenal, mungkinkah wajar jika Kris berlebihan padanya?

Namun menatap manik yang sendu itu membuat Baekhyun luluh. Sebuah kelemahannya kalau Kris sudah memohon baik-baik. Ia jadi tidak enak, apalagi peran Kris yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri. Ada banyak hutang budi yang belum Baekhyun bayar pada pria itu.

"Lain kali saja, okay? Aku berjanji akan menceritakannya padamu jika aku sudah siap." Dan Kris memaksa untuk paham. Setuju untuk kembali duduk di kursinya. Menikmati kopi dengan setumpuk pekerjaan. Ia pun jadi tidak bertanya lagi jika Baekhyun sudah berbicara.

e)(o

Chanyeol membawa beberapa map masuk ke dalam mobilnya. Menghabiskan jarak dua kilometer setiap hari adalah yang paling melelahkan baginya. El Port Vell adalah dimana pria itu habiskan hari. Terkadang ia harus mengunjungi kantor pusat di pelantara Distrik Montjuic untuk rapat. Dan bukan hari yang menyenangkan karena kali ini ia harus kembali ke penginapan untuk mengambil sesuatu.

Ia pun mendapatkan sebuah note kecil di depan pintu. Seharian tidak berada di kamar dan tidak menggunakan ponsel tentu menjadi pertanyaan pemilik penginapan. Maka Chanyeol membuka pintu lalu menarik laci nakasnya. Sambil menggenggam ponsel, ia berlarian keluar. Menemui seseorang di lobi depan untuk sedikit urusan.

Seorang pria, yang tak lain merupakan seorang pengelola penginapan memberinya kertas tagihan pembayaran. Chanyeol sampai menepuk kening mengingat ia belum juga mengurus administrasi. Padahal sudah lebih dari tiga minggu ia disini. Buru-buru Chanyeol menghubungi Junmyeon dan meminta maaf untuk yang satu ini.

Sambil mengendarai mobilnya jauh, ia menyempatkan diri untuk melewati restoran kecil dimana Baekhyun bekerja. Hendak buru-buru kembali, namun pukul tiga membuatnya teringat jadwal makan siang yang harus ia patuhi. Chanyeol tidak ingin lambungnya bermasalah dan memutuskan untuk memesan makanan untuk dibawa. Baru membuka seatbeltnya, fokusnya terbagi dengan sosok Baekhyun yang mengangkut dua plastik sampah di pintu belakang restoran.

Sudut bangunan yang sempit membuat jarak pandang Chanyeol sedikit pudar. Baekhyun masih sibuk memilah sampah pada bak-bak besar di dekat tiang listrik. Tidak ada yang menarik sebenarnya dari apa yang dilakukan pemuda itu. Penampilan masih kusut, belum bersiap untuk makan siang, padahal sebentar lagi waktu siestas dimulai.

Mengabaikan kondisi perutnya, Chanyeol berakhir diam di dalam mobilnya. Tidak turun meski sudah mematikan mesin. Ia lebih tertarik menatap dari jauh sosok adiknya dari jendela. Entah, apa yang tengah ia lakukan? Ia terus bertanya, mengapa pula ia menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak penting─seperti menonton seseorang membuang sampah? Dimana letak menariknya?

Tapi sungguh di mata Chanyeol, Baekhyun seolah mengubah semua kegiatan bodohnya menjadi lebih menarik. Membawanya nyaman untuk ditatap meski tidak menyadari kehadirannya. Terlebih ketika pemuda itu menyeka keringat, atau iseng menyugar surainya yang coklat, Chanyeol dibuat terpaku penuh drama.

Sayangnya, semua keajaiban itu hanya terjadi dalam beberapa detik, sampai Baekhyun kembali masuk ke dalam pintu belakang tanpa tahu dirinya diperhatikan. Sementara Chanyeol menemukan sesuatu yang asing di ujung sana. Sebuah bayangan hitam di ujung lorong belakang tidak salah mengindikasikan sosok asing. Seorang pria bertopi baru saja menghilang perlahan dari balik tembok. Terlihat menyadari kehadirannya lebih baik dari pada Baekhyun.

Alis Chanyeol pun mengerut. Lelah berpikir soal siapa pria itu. Gerak-geriknya seperti mencurigakan. Sosoknya tinggi, bahkan terlalu hitam untuk memadukan penampilan, lebih mirip pria misterius. Ia kemudian teringat dengan kasus kriminal di sekitar restoran yang sering Baekhyun ingatkan padanya. Mungkin si pelaku, atau hanya orang iseng, Chanyeol tidak mau banyak berpikir. Asal tidak mengganggu, ia tidak akan perduli.

Chanyeol lalu berakhir dengan menatap ponselnya. Mengutuk sekali lagi soal email yang datang menghitung mundur. Waktu rapat semakin meneror dan Chanyeol tidak punya waktu untuk sekedar makan siang. Kemudian dengan berat hati ia kembali memasang seatbeltnya. Menghidupkan mesin mobil untuk segera menghabiskan sisa jalan.

e)(o

Hari demi hari berlalu. Namun tidak ada yang berubah dalam hidup Baekhyun. Ia masih tetap mengayuh sepedahnya ke restoran, mencatat puluhan pesanan, memindahkan nampan berisi hidangan ke atas meja pelanggan, lalu berakhir pulang pukul 3 siang. Saat weekend ia bisa kembali ke restoran pukul 8. Menghabiskan malam di dalam sana karena pengunjung mulai membludak.

Dan Baekhyun mulai terbiasa dengan kehidupan malam di Barcelona. Meski malam di Spanyol cukup singkat, orang-orang selalu senang menghabiskan malam. Tidak perduli di bar, restoran, atau tempat-tempat hiburan lainnya. Mereka berpesta sampai lupa jika pagi yang panjang bisa kembali kapan saja.

Pun hujan sering mengguyur di beberapa waktu. Beruntung tidak sederas kemarin. Mereka seperti penjaga orang-orang yang tenggelam dalam minuman. Melindungi si pembuka botol, membiarkan mereka menyesap malam seperti tidak masalah kalau tidak bisa pulang. Ya, seperti pemandangan yang Baekhyun lihat dari luar jendela bar seberang restorannya kini.

Baekhyun jadi penasaran bagaimana rasanya tenggelam dalam minuman. Melupakan dunia paginya yang terus diganggu Chanyeol, atau untuk ia hilangkan semua kata-katanya malam itu. Tentang pria itu dan segala perlakuan tidak menyenangkannya, tidak bisakah Baekhyun dibuat lupa sehari saja?

Sesaat ia menyaksikan sebuah mobil mendekat. Tidak begitu familiar, tapi menyangkutkan sedikit ingatannya pada Chanyeol. Jongdae lalu keluar dari pintu resto, menyambut kekasihnya di dalam sana dengan tawa riang. Mungkin Baekhyun ingin berterima kasih karena pacar lelaki Jongdae menawarkan mereka tumpangan. Keduanya baik, bahkan ketika malam dimana Baekhyun mengetuk pintu mereka saat hujan─setelah menangisi seluruh perlakuan Chanyeol padanya, mereka selalu menempatkannya di tempat yang nyaman. Jongdae minjamkannya pakaian, dan tidak bertanya mengapa ia bisa menangis kehujanan. Tapi ia lebih ingin berterima kasih karena dibuyarkan lamunannya soal Chanyeol kini. Sesederhana itu.

Setelah Jongdae dan kekasihnya pergi, tersisa dirinya dengan Wendy yang berjongkok di depan pintu restoran. Sepedah miliknya pun belum sempat ia bawa ke bengkel. Gadis berambut pendek itu sempat merengut karena mendengarnya menolak tumpangan Minseok. Mereka kelaparan, tidak baik lagi kalau kehujanan di pertengahan malam. Jadi gadis itu mengutuk Baekhyun diam-diam sebagai teman yang baik.

"Sekarang aku akan berharap bisa punya mobil mahal," ujar Wendy lesu. Memandangi tiap rintik hujan yang jatuh ke tanah. Seolah dirinya berharap hujan-hujan itu akan menggumpal dan memiliki kekuatan magis untuk berubah menjadi benda yang lebih berguna saat hujan. Limousine misalnya.

Mendengar itu membuat Baekhyun semakin menelisik ke dalam jendela bar di seberang sana. Tapi tidak benar-benar menyaksikan tawa halayak ramai yang menikmati musik, hanya mengingat bagaimana Wendy pernah bercerita bahwa gadis itu kabur ke Eropa karena orang tuanya yang bercerai. "Kalau kau kembali, ayahmu mungkin bisa membelikanmu mobil."

Wendy berdecih. Semakin memeluk lututnya. "Sekalipun dia memberiku pulau, aku tidak mau kembali," jawabnya ketus. "Tidak akan menyenangkan jika ayahku tidak ada di rumah."

Benar.

Lucunya Baekhyun malah membenarkan. Padahal ia tidak punya orang tua. Hidup sebatang kara setelah neneknya meninggal. Mungkin perkara sepi membuatnya terbiasa dengan ketidakhadiran orang tua. Namun jauh dari itu, sebenarnya ia memiliki perasaan asing dalam hatinya. Seperti ingin bertanya siapa orang tuanya sesekali, atau penasaran mengapa ia bisa ditelantarkan sendirian disini.

"Apa masuk ke dalam sana menyenangkan?"

Wendy segera menatap kemana manik Baekhyun berlarian. "Harga minumannya mahal. Aku pernah masuk dan ditendang karena tidak bisa membayar." Gadis itu lalu menyuarakan sumpah serapahnya pada bar di seberang sana. Rambut pirangnya saja sampai kusut karena ia terlalu banyak mengutuk.

"Ngomong-ngomong, kau ingin belajar minum?"

Baekhyun memiringkan kepalanya. Akhir-akhir ini ia selalu mencari ide untuk melenyapkan Chanyeol dari hidupnya. Mencari cara agar pria itu tidak lagi datang ke restoran, tidak mencarinya atau sesuatu yang lebih kuat dari pada itu. "Mungkin aku harus mencari─pacar?"

Lantas Wendy tertawa keras mendengar jawabannya. Gadis itu sampai memukul-mukul pintu saking bersemangat untuk kacau menertawakannya. "Brian, kau terlalu polos untuk memacari seorang gadis. Lihatlah, semua gadis di dunia ini menyukai pria jahat." Telunjuk kecilnya lalu mengarah pada jendela bar. Menunjuk salah satu gadis di pangkuan prianya itu sambil tertawa. "Akan sangat sulit menyukai orang baik seperti dirimu. Aku saja tidak tertarik."

Baekhyun menggeleng kesal mendengarnya. Terlebih saat mendapati cat kuku Wendy yang sudah penuh dengan warna hitam. Dipikirnya pun pria baik mana yang akan tertarik dengan gadis berantakan. Sebab dunia ini cukup egois, manusia selalu punya pandangan yang subjektif. Mau gadis atau pria keren manapun, selalu saja merasa salah dengan pilihannya.

Namun kebetulan, pemandangan bar memuakkan di seberang sana tertutupi oleh mobil yang berhenti tepat di depan mereka. Baekhyun pun merasa beruntung, tidak perlu menutup mata ketika banyak orang di dalam bar sana beradu kemesraan yang tidak pantas.

"Jadi pria jahat mana yang kau kencani sekarang?" Baekhyun bertanya karena sempat melirik desain mobil yang merapat. Mungkin saja Wendy tengah berkencan dengan pria Eropa lagi seperti saat itu. Sehingga pacar gadis itu datang seperti seorang pangeran berkuda putih. Siap mengantar pujaannya pulang tanpa basah kehujanan.

Namun Wendy berakhir bingung. Beranjak berdiri ingin memastikan siapa si pengendara mobil hitam. "Aku tidak punya pacar lagi setelah mengenal kalian."

Lalu siapa?

Sesaat pintu terbuka. Ada sebuah payung yang mekar keluar dari sana. Baekhyun sampai lelah berpikir siapa pria tinggi dengan pakaian mahalnya ini. Tidak terkecuali dengan Wendy yang sudah menebak salah kalau pria itu adalah Kris.

"Oh, pelanggan nomor satu!" seru Wendy kemudian. Dan ini berakhir tidak menyenangkan kalau benar.

Pria tinggi itu datang dengan payung hitamnya. Masih dengan setelan rapi, khas pulang dari kantor. Tubuh tingginya lalu tidak sungkan berdiri di bawah hujan, menawarkan tumpangan dengan baik hati dan sedikit gentleman.

"Kalian butuh tumpangan."

Itu bukan pertanyaan. Baekhyun pikir Chanyeol harusnya bertanya terlebih dahulu soal ia yang butuh tumpangan atau tidak. Bagaimana mungkin pria itu bisa berdiri angkuh menawarkannya tumpangan setelah semua hal buruk terjadi? Ia saja hampir tidak memiliki muka.

"Tidak. Kami tidak sedang butuh tumpangan," tolak Baekhyun.

"Aku butuh," jawab Wendy mengoreksi kata 'kami' yang digunakan temannya. Baekhyun sendiri menoleh kesal pada gadis itu. Hendak melotot tajam pada kebodohan Wendy, tapi Chanyeol sudah ingin mengatakan sesuatu lagi.

"Masuklah," tuturnya sok baik.

Wendy sudah ingin turun. Ingin cepat-cepat masuk mobil lalu berandai menggapai bantal empuknya di apartemen. Tapi buru-buru Baekhyun menahan lengannya. Menarik gadis pirang itu untuk mencegahnya pergi tanpa dirinya. "Tidak, kami bisa jalan kaki. Lagi pula hujannya tidak begitu deras."

Dan Chanyeol hanya bisa mematung, menatapnya kosong saat ia menarik Wendy pergi, turun ke jalan. Langkah mereka kemudian bercampur dengan air kotor di jalanan. Hujan semakin deras, baju mereka dengan cepat basah kuyup. Wendy pun tidak berhenti berkomentar soal dirinya.

"Idiot! Kau tahu hujannya deras. Kita bisa sakit," gerutunya kesal. Tidak mau menjadi yang paling dirugikan saat ini.

Pakaian gadis itu lalu dengan cepat berganti menjadi trasparan. Sampai pada Baekhyun yang berakhir menyesal soal itu. Dengan cepat ia melepas jaketnya lalu memakaikannya pada Wendy. Segera ia mencari sisi atap untuk mengurangi rinai hujan yang jatuh.

"Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa kau seperti ini. Terutama pada pelanggan nomor satu," ocehan Wendy terus terngiang di telinganya. Ia pun kini percaya bagaimana Kris kerap risih dengan kehadiran gadis itu di beberapa waktu.

"Jadi dia benar-benar menyukaimu?"

Baekhyun terdiam. Tidak bisa menjawab soal itu. Ia bahkan tidak yakin, sangat tidak yakin soal ini.

"Kau merasa─jijik?"

Mengenai ini Baekhyun yakin jawabannya tidak, tentu bukan seperti itu.

Setelah melihat Wendy berhasil memasang jaketnya, ia pun kembali mengajak gadis itu pergi. Berjalan di bawah hujan seperti anak-anak lupa membawa payung. Sesekali meoleh ke belakang, dimana mobil Chanyeol masih berada disana.

"Kau harus membantuku," mohonnya kemudian.

Wendy menyernyit tak paham. Namun perlahan temannya itu mulai menyadari betul kemana rasa risaunya berlarian. Terlebih ketika dirinya menatap ke belakang sekali lagi. "Kau mau aku membantu apa?"

Baekhyun bisa bersumpah, ia ragu. Tidak tahu mengapa ia ragu soal ini. "Jadi pacarku─"

Wendy berakhir melotot. "What?!"

"Sekarang─" Baekhyun semakin yakin ketika mobil Chanyeol menyala. Sementara Wendy terus memutar kepalanya. Berpikir lebih keras menghadapi keanehan atau kegilaan dirinya di kepala.

"kau harus membantuku sekarang."

Wendy masih tercengang. Sekali lagi gadis itu menatapnya heran luar biasa. "Kau pasti sudah gila!"

Baekhyun kini mendapati mobil Chanyeol bergerak mendekat. Lampu mobilnya habis menyinari tiap rinai hujan yang mengguyur deras. Ia pun jadi tidak punya pilihan, ia harus mencoba beberapa ide yang terlintas di pikirannya. Paling tidak, hal ini akan membuktikan bahwa ia masihlah Baekhyun yang hidup dengan benar.

"Kenapa kau takut sekali pada pelanggan nomor satu? Ada apa sebenarnya?" Wendy kembali mengoceh. Menghempas lengannya dengan keras. Sangat tidak tahu kondisi. Namun tanpa berpikir Baekhyun kembali menarik lengan temannya itu. Membawa tubuhnya mendekat pada posisi yang canggung.

"A-apa yang akan kau lakukan?!" Wendy tidak berhenti meracau.

"Kumohon diamlah," pesan terakhir Baekhyun lalu menarik rahang gadis itu. Menggapai bibir Wendy yang sialnya adalah temannya sendiri. Persetan soal apapun resikonya. Ia akan menerima segala konsekuensinya nanti. Terserah apakah Wendy akan membunuhnya setelah ini atau ia tidak akan mendapatkan makan malam seumur hidup. Yang jelas ia harus bisa memastikan jika Chanyeol menyaksikan hal ini.

Perlahan mobil itu terdengar melewatinya. Sorot lampu mobil sempat menyorotnya terang. Lantas segalanya terasa berputar begitu cepat, seakan tidak ada sesuatu yang berarti. Setelah Baekhyun yakin mobil itu menjauh, ia kemudian melepaskan Wendy yang diserang syok. Tertahan gadis itu mati ingin memaki dirinya.

Sampai sebuah tamparan mendarat di pipinya. Keras sekali. "Fuck, berengsek, Brian! Kau menciumku, bajingan!"

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Aku muncul sekalian nungguin Overpass Baekhyun. Jadi agak buru-buru.

Dan maaf ingin meluruskan sedikit. Terkait chap 8, mungkin ada yang salah paham. Insiden kedebag-kedebug di meja #kalianpastikonek #akupercaya XD itu gak lebih dari cuman Baek kelempar terus dikiss. Mengenai luka punggung, itu masih luka Baek pas insiden penyerangan/? Di chap 7. Lukanya Baek belum sembuh, ditambah pas Baekhyun lari dia jatuh di lantai (tangga darurat). So, punggung Baek semakin memprihatinkan bukan karena diapa-apain/? Chanyeol ya, hehe

Oke, sekian. Thank you untuk semua review yang masuk. Aku seneng karena masih ada yang nungguin Royalty.

Bye bye