Disclaimer:Naruto dan High School DxD bukan punya saya, saya hanya meminjam/menggunakan karakter dari dua seri tersebut. keduanya milik pengarang masing-masing. Naruto milikMasashi Kishimotodan High School DxD milikIchiei Ishibumi.

"Bicara" Human

'Batin' Human

Jutsu/Sihir/Efek

"Bicara"Monster

'Batin'Monster

"Bicara' Another

Chapter 16:Awal tragedi

Pagi hari, di sebuah kamar terlihat seorang pemuda berambut pirang cerah dengan wajah yang memiliki tiga pasang garis di pipinya, pemuda tersebut perlahan mulai membuka matanya yang terpejam hingga menampakkan mata biru indahnya yang tersembunyi dibalik kelopak matanya, pemuda tersebut perlahan bangun dari posisi tidurnya dan mendudukkan dirinya dipinggir kasur tempat tidurnya.

Dia terdiam sesaat memperhatikan sekitar, lalu sebuah ingatan beberapa hari sebelumnya terlintas dikepalanya.

"Sudah tiga hari ya..." pemuda tersebut bergumam pelan dengan ekspresi sedih diwajahnya saat mengingat kejadian yang membuatnya kembali sendirian.

"Sudahlah Naruto, berhenti memikirkan itu, ada hal lain yang lebih penting yang harus kau pikirkan." ucap pemuda tersebut sambil menepuk-nepuk pipinya untuk mengusir pikiran yang terlintas dikepalanya tadi.

Perlahan dia bangkit berdiri dan berjalan kearah pintu keluar dari kamarnya itu, dia melihat ruangan itu, ruangan terakhir dia melihat kedua naga betina itu sebelum pergi meninggalkannya sendirian. Itu salahnya, yang mengatakan sesuatu yang terdengar menyakitkan untuk didengar oleh naga betina berambut merah itu, dia menghela nafas ketika bayangan naga betina yang dia beri nama Sara itu terlihat tersenyum kearahnya tepat disofa panjang itu.

"Sara..." gumam Naruto pelan, dia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran yang selalu membuatnya merasa sakit didadanya itu.

Naruto kembali menghela nafas sebelum dia mulai berjalan menuju kearah sebuah pintu yang mengarah ke bagian belakang rumahnya.

"Lebih baik aku mandi dulu, lalu mencari informasi mengenai masalah yang sedang terjadi dikota ini." ucap Naruto sambil mengingat pertarungan antara seorang pendeta gila dengan pemuda iblis dari kelompok Gremory semalam.

Setelah selesai mandi dan memakai seragam Akademi Kuoh, Naruto sarapan ramen instan miliknya yang masih tersisa, lalu dia keluar dari rumahnya sambil membawa tas sekolahnya.

'Sepertinya, aku akan kembali masuk sekolah kah?' batin Naruto yang sudah mengunci pintu rumahnya, Naruto sudah melepas penghalang dan kabut ilusi yang dia gunakan untuk menyembunyikan aktivitas di rumahnya karena sudah tidak diperlukan lagi, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan di rumahnya karena Sara maupun Ophis sudah tidak tinggal bersamanya sejak tiga hari yang lalu.

Naruto merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah surat dari sana, surat itu adalah surat dari pihak Akademi yang menyuruhnya untuk masuk kembali ke sekolah.

'Aku tidak akan terkejut jika aku akan dihukum berat karena tidak masuk sekolah cukup lama tanpa izin sama sekali.' batin Naruto yang mulai melangkah meninggalkan rumahnya.

Didalam perjalanannya, Naruto terus berpikir bagaimana caranya dia bisa mendapatkan informasi mengenai musuh misterius itu, dia benar-benar tidak bisa menemukan informasi apapun mengenai musuh misterius yang mengalahkan Sara dan Ophis waktu itu, seakan musuh misterius itu bukan berasal dari bumi...

'Tunggu, sejak awal memang mustahil untuk menemukan informasi mengenai mereka, karena mereka bukan dari bumi, mungkin.' batin Naruto yang berhenti berjalan saat pikiran itu terlintas dikepalanya.

'Terlebih lagi... mereka memiliki chakra.' Naruto terdiam dengan ekspresi terkejut saat dia baru menyadari bahwa musuh misterius itu memiliki chakra, kenapa dia baru menyadari hal itu sekarang? apa karena dia sudah terbiasa dengan sihir? karena itulah dia jadi tidak menyadari perbedaan antara chakra dan sihir waktu itu?

'Sialan! sepertinya aku memang harus berlatih lagi.' batin Naruto kesal, bisa-bisanya dia melupakan perbedaan chakra dan sihir, padahal kedua energi itu sangat berbeda auranya, Naruto mengepalkan kedua tangannya ketika dia menyadari hal kecil yang seharusnya bisa dengan mudah dia rasakan.

Naruto menghela nafas untuk menenangkan dirinya yang emosi terhadap dirinya sendiri, karena bisa-bisanya dia melupakan aura dari energi yang selama ini dia gunakan itu.

'Aku harus memperhatikan perbedaan itu lain kali.' batin Naruto yang sudah mulai tenang, dia jadi emosi setelah tersadar akan fakta yang seharusnya bisa dia rasakan dengan mudah perbedaan antara kedua energi itu. Didunia ini, tidak, dijaman sekarang ini semua mahluk hidup menggunakan energi sihir sebagai pengganti chakra yang tidak mereka miliki, hanya manusia dan Youkai yang memiliki chakra, meski chakra yang dimiliki manusia sangat kecil dan hanya cukup untuk menopang kehidupan mereka, sedangkan Youkai, chakra mereka masih seperti chakra manusia pada jaman Shinobi dulu namun chakra mereka sudah terkontaminasi dengan energi sihir karena itulah cara menggunakannya jadi berbeda.

Setelah berpikir tentang Youkai, Naruto terdiam saat sebuah pertanyaan terlintas dikepalanya.

'Hewan Kuchiyose masuk ke jenis Youkai atau apa?' batin Naruto dengan nada bingung, Naruto menggelengkan kepalanya pelan untuk mengusir pikiran itu, lalu dia melanjutkan jalannya.

'Itu tidak penting untuk aku pikirkan sekarang.' batin Naruto yang kembali berjalan untuk menuju ke Akademi Kuoh, menuju tempat dimana dia akan dihukum...

Skip

Siang hari, lebih tepatnya saat jam istirahat, Naruto terlihat berlari mengelilingi lapangan sepak bola dengan wajah yang terlihat sangat kelelahan. Dia juga terlihat ingin jatuh beberapa kali karena kakinya sudah mulai tidak kuat lagi untuk berlari dan menopang tubuhnya, dia sudah berlari selama berjam-jam dilapangan itu, dia tidak ikut pelajaran pertama karena ketika dia masuk ke halaman Akademi, sialnya dia malah ketemu sang ketua OSIS yang sedang berbicara dengan dua orang berjubah putih didekat gerbang masuk Akademi, hal itulah yang membuat dia langsung terkena hukuman mematikan untuk kebanyakan orang yang bersekolah di Akademi Kuoh itu.

Berlari mengelilingi lapangan sepak bola sekolah yang luasnya hampir menyamai lapangan sepak bola sungguhan sampai jam pelajaran pertama selesai?, sampai saat ini hanya Naruto yang mampu bertahan menerima hukuman itu dari sang ketua OSIS Akademi Kuoh itu. Bukan hanya itu saja hukuman yang Naruto dapatkan, dia juga harus mengejar ketertinggalan pelajaran selama beberapa hari saat dia tidak masuk sekolah, Naruto hanya bisa menerima semua itu dengan wajah yang menunjukkan kepasrahan terhadap nasib sialnya hari ini.

Dipinggir lapangan banyak sekali siswa-siswi yang menyaksikan Naruto yang dihukum dengan ekspresi yang menunjukkan rasa kasihan dan kengerian diwajahnya, mereka juga terlihat ada yang membayangkan diri mereka dihukum seperti Naruto dan bergidik ngeri saat memikirkan itu.

Di antara banyaknya siswa-siswi yang menyaksikan Naruto berlari di lapangan sepak bola itu, terlihat Issei sedang menatap prihatin terhadap Naruto, bukan cuma dia saja yang menatap Naruto dengan tatapan prihatin, Matsuda dan Motohama juga menunjukkan rasa kasihan kepada Naruto.

'Kenapa Naruto bisa bertahan dari hukuman Seito-Kaichou selama itu?' batin Issei penasaran, dia yang seorang iblis saja tidak dapat bertahan berlari mengelilingi lapangan sepak bola itu selama beberapa putaran, sedangkan temannya itu mampu bertahan berlari mengelilingi lapangan itu sampai jam pelajaran pertama selesai, bahkan temannya itu masih berlari meski seharusnya hukumannya sudah selesai beberapa menit yang lalu saat jam pelajaran pertama selesai. Sebenarnya, seberapa banyak stamina temannya itu?, kenapa dia bisa berlari mengelilingi lapangan sepak bola itu selama beberapa jam?, atau lebih tepatnya, seberapa lemah dirinya sampai kalah dari seorang manusia yang tidak punya kekuatan?, Issei mengepalkan tangannya memikirkan betapa lemahnya dia saat ini, Naruto saja yang seorang manusia mampu berlari selama itu, sedangkan dirinya bahkan belum sampai setengah jam dia sudah kelelahan.

Issei menatap Naruto dengan ekspresi serius diwajahnya.

'Kenapa Naruto masih berlari?, seharusnya hukumannya sudah selesai.' batin Issei sambil menatap Naruto yang masih memaksa kakinya untuk berlari meski sudah terlihat sangat kelelahan.

Issei terdiam saat tanpa sengaja dia melihat wajah Naruto menunjukkan tekad yang kuat, dia tidak tahu kenapa Naruto menunjukkan wajah penuh tekad seperti itu?, bahkan dia saja masih belum mengetahui apapun tentang temannya itu, yang bergabung ke Akademi Kuoh belum sampai satu bulan yang lalu. Issei terus menatap Naruto dengan pikiran yang melayang kemana-mana, memikirkan siapa sebenarnya Naruto?, kenapa Naruto seakan menganggap hukuman itu sebagai latihan?, dia tidak tahu, mungkin dia harus menanyakan hal itu langsung kepada teman pirang nya itu nanti.

Naruto perlahan mulai berlari pelan, semakin pelan hingga akhirnya dia ambruk dengan nafas memburu, namun kesadarannya masih dapat dia pertahankan.

'Aku... setidaknya harus sambil berlatih... agar aku semakin kuat... Sara... maafkan aku...' perlahan Naruto mulai memejamkan matanya pertanda dia sudah tidak sanggup lagi mempertahankan kesadarannya karena dia telah kehabisan banyak stamina dan chakra nya.

Di gedung Akademi, terlihat gadis berambut hitam sebahu dan memakai kacamata yang membingkai mata violet indahnya, sedang menatap kearah lapangan sepak bola dengan wajah datar, lebih tepatnya kearah tubuh seorang pemuda berambut pirang yang saat ini sedang di gotong oleh Issei dan teman-temannya untuk dibawa ke ruang kesehatan sekolah. Sona Sitri, itulah nama gadis itu, dia adalah ketua OSIS di Akademi Kuoh dan tentunya dia adalah seorang iblis.

Sona terlihat menatap Naruto dengan ekspresi datar diwajahnya, namun tersirat ketertarikan disorot matanya saat melihat kearah Naruto saat ini.

'Uzumaki Naruto kah?' batin Sona sambil menatap Naruto dengan senyum tipis yang tidak terlihat.

'Pemuda yang menarik.'

Skip

Naruto perlahan membuka matanya dan hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit berwarna putih dari sebuah ruangan, Naruto bangun dari posisi berbaring nya dan mengedarkan pandangannya ke sekitar dengan ekspresi bingung.

"Apa aku ada diruang kesehatan?" tanya Naruto entah pada siapa, Naruto menghela nafas lalu beranjak dari sana berniat untuk keluar dari ruangan tersebut, namun ketika dia ingin membuka pintu, pintu itu terbuka lebih dulu sebelum dia membukanya dan menampilkan sosok Sona Sitri yang terlihat membawa sesuatu.

Naruto terdiam menatap gadis ketua OSIS tersebut dengan ekspresi terkejut.

"Ka-kaichou?" ucap Naruto dengan nada terkejut melihat siapa yang berdiri dihadapannya saat ini.

Sona membenarkan letak kacamatanya yang sedikit merosot, lalu dia menatap Naruto dengan wajah datarnya.

"Uzumaki-kun, bisa ikut aku sebentar?" tanya Sona datar, sambil menatap mata biru Naruto.

"A-ah ya tentu." ucap Naruto sambil menatap Sona dengan wajah bingung, apa dia akan dihukum lagi oleh gadis iblis itu?, Naruto hanya bisa menghela nafas saat melihat Sona sudah berbalik dan berjalan mendahuluinya.

Didalam perjalanan Naruto hanya bisa diam mengikuti Sona tanpa memiliki niatan untuk memulai pembicaraan, dia melihat ternyata hari sudah sore yang artinya sekolah sudah selesai saat ini, pada akhirnya dia hanya datang untuk dihukum kesekolah ini, apa sebaiknya dia tidak masuk saja hari ini?, Naruto menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran tidak penting itu.

Selagi Naruto sibuk dengan pikirannya, dia tidak menyadari bahwa Sona memperhatikan perilakunya itu, yang dimana, dimata Sona Naruto terlihat seperti orang yang punya banyak masalah saat ini, Sona membenarkan letak kacamatanya yang merosot lalu mulai angkat bicara.

"Uzumaki-kun, apa kau punya masalah keluarga saat ini?" tanya Sona datar, Naruto yang mendengar pertanyaan Sona hanya menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak Kaichou, aku hanya memikirkan sesuatu yang tidak penting hehe." ucap Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Begitu."

"Ano... Kaichou, sebenarnya kau ingin mengajakku kemana?" tanya Naruto bingung, karena dari tadi rasanya mereka belum sampai juga ketempat tujuan mereka.

"Ke ruang OSIS." jawab Sona singkat dan jelas, Naruto terdiam saat mendengar jawaban dari Sona itu.

'Oi! jangan bilang masih ada hukuman lain selain mengerjakan soal-soal itu?!' batin Naruto berteriak, saat mendengar tempat tujuan mereka saat ini.

"A-ano.. k-kenapa Kaichou mengajakku ke ruang OSIS? apa hukumanku masih kurang?" tanya Naruto yang terlihat panik, dia sudah terlalu lelah untuk berurusan dengan yang namanya soal pelajaran sekolah, dia bahkan baru saja bangun dari pingsannya tadi.

"Tidak, kau tidak akan mendapatkan hukuman apapun diruang OSIS, mungkin kau hanya perlu mengerjakan bebe-" Sona berhenti berjalan dan bicara saat Naruto sudah berlari dengan cepat kearah gerbang sekolah hingga meninggalkan efek debu dibelakangnya, sambil berteriak mengatakan dia tidak ingin berurusan dengan pelajaran sekolah saat ini.

Sona membenarkan letak kacamatanya sambil tersenyum tipis.

"Padahal aku ingin minta maaf karena memberi hukuman yang berlebihan, sekaligus..." ucap Sona pelan sambil melihat kearah tangannya yang memegang sebuah bidak catur.

Skip

Naruto terlihat berjalan dengan langkah gontai dijalanan untuk menuju kerumahnya, dia sedang tidak bersemangat untuk melakukan apapun saat ini, dia terlalu lelah untuk hanya sekedar memikirkan hal lain, yang dia pikirkan saat ini hanya pulang dan beristirahat dikamarnya sampai besok.

"Sial, sepertinya masalah akan semakin merepotkan nanti." gumam Naruto pelan, sambil mengingat benda apa yang dipegang oleh iblis Sitri itu.

"Bidak catur? Untuk apa itu?" gumam Naruto bertanya-tanya, kenapa iblis Sitri itu membawa sebuah bidak catur ditangannya? Naruto menghela nafas lelah setelah itu, dia tidak ingin memikirkan hal itu sekarang, dia hanya harus pulang dan tidur itu saja yang harus dia lakukan sekarang tidak perlu memikirkan hal lain karena dia sudah terlalu lelah untuk memikirkan apapun.

Saat dalam perjalanan, dia melihat Vali seperti menunggu seseorang, dia melihat Vali bersandar pada tiang lampu di depannya dan saat Vali melihat dirinya dia berjalan menghampirinya.

"Vali?" ucap Naruto heran, kenapa Vali seperti sengaja menunggunya lewat? entahlah mungkin Vali ada urusan dengannya.

Vali berdiri tepat dua meter darinya lalu berkata.

"Naruto berhati-hatilah, Albion merasa gelisah akan sesuatu dan itu adalah pertama kalinya Albion merasa seperti itu." ucap Vali sambil menatap Naruto serius, bagi Vali Naruto sudah cukup untuk dia sebut teman, meski sebenarnya dia ingin sekali bertarung dengan kekuatan penuh melawan Naruto, namun untuk saat ini ada hal lain yang lebih penting daripada bertarung.

"Kau menungguku hanya untuk memberitahu hal itu, Vali?" tanya Naruto heran, tidak biasanya Vali akan memberi peringatan seperti ini kepada seseorang, setahunya Vali hanya suka bertarung dengan seseorang yang kuat dan tidak terlalu peduli dengan sesuatu yang lain.

"Setidaknya aku sudah memperingatkan mu tentang apa yang dirasakan oleh Albion, kalau begitu sampai jumpa, Naruto." ucap Vali yang berjalan menjauh dari Naruto.

Naruto menatap kepergian Vali dengan wajah bingung.

'Sepertinya, naga lebih sensitif dari pada manusia dalam beberapa hal.' batin Naruto sambil melanjutkan langkahnya.

Malam telah tiba, Naruto terlihat sedang tiduran disofa ruang tamunya sambil memikirkan sesuatu, wajah berhiaskan tiga pasang garis tipis itu terlihat menunjukkan keseriusan disana, seakan apa yang dia pikirkan sangatlah rumit dan membutuhkan kemampuan otak yang cerdas untuk memahaminya. Naruto menghela nafas saat dia tidak memahami apa yang sedang dia pikirkan saat ini.

"Haah~ Bagaimana caranya aku mempelajari Fuuinjutsu yang ditinggalkan Tou-san?" gumam Naruto sambil memejamkan matanya berharap sebuah ide muncul di otaknya.

Saat Naruto sedang fokus dengan pikirannya sendiri, sebuah suara terdengar dikepalanya dan suara itu membuatnya sedikit terkejut.

'Ddraig?' tanya Naruto heran, kenapa naga merah yang bersemayam didalam Sacred Gear milik Issei itu menghubunginya? apa ada yang ingin naga itu sampaikan padanya? dia akan tahu habis ini karena naga itu kembali berbicara.

"Naruto, apa kau sedang mencari sesuatu?"Naruto terdiam sebentar saat mendengar pertanyaan Ddraig lalu menjawabnya.

'Ya, aku sedang mencari informasi mengenai musuhku, memangnya ada apa Ddraig?' tanya Naruto heran, kenapa Ddraig bertanya seperti itu?

"Aku tidak tahu kau menyadarinya atau tidak, tapi saat ini aku sedang gelisah akan sesuatu yang tidak aku ketahui, jadi Berhati-hatilah Naruto."Naruto menaikkan sebelah alisnya heran, tadi sepulang sekolah Vali memperingatinya akan apa yang dirasakan oleh Albion yang merupakan Rival dari Ddraig dan sekarang Ddraig yang memperingatinya, sebenarnya apa yang akan terjadi di kota Kuoh ini?

'Jadi maksudmu akan terjadi sesuatu dikota kuoh ini, Ddraig?' tanya Naruto serius.

"Aku tidak tahu, tapi rasa gelisah ini sepertinya berasal dari bahaya yang cukup besar, kami bangsa naga tidak pernah merasa gelisah kecuali akan ada bahaya besar yang akan segera datang."ucap Ddraig menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini.

Naruto terdiam mendengar ucapan Ddraig, jika memang benar begitu, maka dia harus berhati-hati mulai sekarang, dia tidak boleh lengah sedikitpun.

'Terima kasih sudah memperingatkanku Ddraig, jika apa yang kau katakan itu benar, aku harus hati-hati mulai sekarang.' ucap Naruto serius sambil memandang langit-langit ruang tamunya yang berwarna abu-abu.

"Tidak masalah Naruto, lagi pula kita ini berteman."Naruto tersenyum mendengar ucapan Ddraig. Ya, mereka sudah berteman sejak awal pertemuan mereka waktu itu, jadi wajar jika mereka saling memperingatkan satu sama lain bukan?

'Ya, kau benar Ddraig.' ucap Naruto sambil tersenyum, Naruto memejamkan matanya sejenak sambil berpikir.

'Hei Ddraig,'

"Hm, ada apa Naruto?"

'Jika Issei berada dalam bahaya, kau bisa membantunya bukan?'

"Tentu saja, dia adalah rekanku yang sudah ditakdirkan untuk bertarung bersama."Naruto tersenyum mendengarnya.

'Kalau begitu, pandulah Issei untuk menjadi kuat, agar suatu saat nanti dia tidak menyesal karena tidak mampu melindungi seseorang yang berharga baginya.' ucap Naruto dengan nada sedikit sedih, ingatan masa lalunya kembali teringat olehnya, pada saat kematian Neji yang melindunginya di perang Shinobi ke 4 dulu.

"Sepertinya kau pernah mengalami sesuatu yang pahit ya, Naruto."Naruto tersenyum kecut mendengar perkataan Ddraig tersebut, selama hidupnya dulu dia selalu menderita bukan hanya sekali atau dua kali, tapi sudah lebih dari puluhan bahkan mungkin ratusan kali? entahlah, dia sudah lupa berapa kali dia menderita dan menangis dalam hidupnya dulu, terakhir kali dia menangis adalah saat berpisah dengan Edo Tensei ayahnya di akhir Perang Besar Shinobi ke 4 dulu.

Naruto menghela nafas saat mengingat kejadian itu, dia rindu ayahnya, dia rindu ibunya, seharusnya dia sekarang sudah bersama mereka dialam sana, tapi takdir berkata lain, dia masih belum boleh menemui mereka karena dia memiliki tugas lain yang harus dia lakukan didunia ini, dan tugasnya masih sama seperti dulu hanya saja kali ini sedikit berbeda, kalau dulu dia melakukannya secara tidak sengaja karena demi impiannya untuk menjadi seorang Hokage yang lebih kuat dari Hokage pendahulunya, namun sekarang dia melakukannya Karena memang dia harus melakukannya, bukan karena impiannya yang sudah mati itu, sekarang dia membutuhkan impian yang baru agar tekadnya masih terus berkobar untuk mewujudkan impian barunya itu.

'Ya begitulah, Ddraig.' ucap Naruto setelah dia terdiam cukup lama.

"Yah, sepertinya kita sudahi saja pembicaraan ini Naruto, dan ingat jangan lupakan kata-kataku tadi."dengan itu Ddraig memutus telepatinya dengan Naruto. Naruto tersenyum mendengar ucapan Ddraig tersebut.

"Terima kasih, Ddraig. Aku tidak akan melupakannya." gumam Naruto sambil tersenyum.

Skip

Sekali lagi Naruto hanya dapat menghela nafas pasrah, dia menatap tumpukan buku pelajaran di meja tempat duduknya, dia adalah satu-satunya yang tersisa di kelasnya karena semua murid dikelasnya sudah pada keluar ke kantin atau ketempat apapun yang mereka inginkan asalkan masih dilingkungan Akademi.

Naruto berada dikelasnya seorang diri karena dia disuruh mengejar ketertinggalan pelajaran selama dia tidak masuk beberapa hari sebelumnya. Yah, mau bagaimana lagi, dia fokus berlatih selama dia tidak masuk sekolah, kalau bukan karena kepergian Sara mungkin dia akan tetap tidak masuk sekolah, pada akhirnya dia merasa kesepian karena itulah dia kembali masuk sekolah.

Naruto mengalihkan pandangannya keluar jendela, dia melihat kearah langit cerah tanpa awan disana, Naruto menghela nafas sekali lagi, entah sudah yang keberapa kali dia menghela nafas hari ini, dia kembali mengingat perkataan Ddraig semalam.

"Firasat ku mengatakan di Akademi Kuoh ini akan terjadi sesuatu dalam waktu dekat ini." gumam Naruto pelan, dia lalu kembali menatap tumpukan buku di mejanya.

'Aku harus menyelesaikan ini, sepulang sekolah nanti aku akan pergi menemui Azazel, mungkin dia tahu sesuatu.' batin Naruto serius, Azazel selama ini ada di kota Kuoh untuk mengamati Issei dari dekat, mungkin malaikat jatuh mesum itu juga ingin memastikan sesuatu selain mengamati perkembangan Sacred Gear milik Issei itu.

'Semoga saja hanya firasat ku saja.' batin Naruto sambil kembali mempelajari buku yang ada di mejanya.

"Tertawalah selagi bisa, tersenyumlah selagi sempat, karena kau tidak akan tahu kapan kau akan mati.'

Sekolah sudah usai beberapa menit yang lalu, Naruto saat ini sedang membereskan peralatan belajarnya dan dia akan langsung pergi untuk menemui Azazel setelah itu, dia ingin memastikan sesuatu yang mungkin hanya fraksi Azazel yang tahu, namun saat dia akan membuka pintu kelasnya pintu itu sudah terbuka lebih dulu dan memperlihatkan Sona Sitri yang sedang memperbaiki posisi kacamata yang dia pakai.

"Kaichou?" ucap Naruto heran, kenapa ketua OSIS itu datang ke kelasnya? jangan bilang dia ingin memberinya hukuman tambahan? tidak! tidak! dia tidak ingin menerima hukuman tambahan apapun, tidak untuk saat ini!

Naruto terlihat panik dan berkeringat saat memikirkan hukuman tambahan yang mungkin gadis berkacamata itu berikan padanya, dia tidak ingin mendapatkan hukuman tambahan apapun termasuk menambah musuhnya yang bernama buku pelajaran, tidak, dia tidak ingin itu.

Sona menatap wajah Naruto dengan datar, kenapa pemuda pirang itu terlihat panik? apa mungkin pemuda itu masih menganggap bahwa dia akan diberi hukuman lagi? Sona membenarkan letak kacamatanya dan angkat bicara.

"Uzumaki-kun, kenapa kau terlihat gugup? apa kau berbuat ulah lagi?" tanya Sona dengan nada datar dan menatap tajam Naruto. Naruto yang ditanyai seperti itu langsung menggeleng cepat.

"T-Tidak Kaichou, aku tidak melakukan apapun!" ucap Naruto sedikit gugup saat ditatap tajam oleh gadis berkacamata itu.

"Jadi, kenapa kau terlihat gugup begitu saat melihatku? apa aku begitu menakutkan, Uzumaki-kun?" Naruto menggeleng cepat saat Sona kembali bertanya.

"Aku hanya sedikit terkejut saja, tidak biasanya Kaichou datang ke kelasku?" tanya Naruto.

"Apa tidak boleh aku mengecek apa masih ada siswa di dalam kelas ini, Uzumaki-kun?" tanya Sona datar, Naruto menggeleng pelan.

"Bukan seperti itu maksudku, hanya saja..." Naruto tidak menyelesaikan ucapannya saat Sona memotong ucapannya itu.

"Aku mengerti, Uzumaki-kun. Tenang saja selama kau tidak membuat ulah atau membolos sekolah lagi, kau tidak akan mendapatkan hukuman apapun, jadi jangan membolos lagi kalau kau tidak ingin dihukum, mengerti?" ucap Sona tegas, Naruto terdiam mencoba mencerna apa yang Sona katakan barusan, setelah paham apa yang dimaksud oleh gadis itu Naruto menghela nafas lega.

"Aku pikir kau datang ke sini karena hukumanku masih kurang Kaichou." ucap Naruto lemah, sepertinya dia sudah berburuk sangka pada gadis itu, tapi apa boleh buat gadis itu juga sudah terkenal tegas dan tidak kenal ampun dalam memberikan hukuman terhadap siswa yang membolos sekolah.

"Jadi kau hanya sedang melakukan pengecekan saat ini, Kaichou?" tanya Naruto penasaran, dia tidak pernah tahu jika ketua OSIS itu juga melakukan pengecekan terhadap tiap kelas dan memastikan para murid sudah pulang semua atau tidak.

"Sudah tugasku untuk memastikan semua murid sudah pulang saat sekolah usai, karena sudah menjadi aturan wajib disekolah ini." ucap Sona menjawab pertanyaan Naruto, sebenarnya aturan itu dibuat karena Akademi Kuoh ini adalah pusat perkumpulan para iblis, jika masih ada murid yang berada dilingkungan sekolah saat sekolah usai mereka khawatir akan menjadi masalah jika ada manusia biasa yang tahu eksistensi mahluk supranatural seperti dirinya, karena itulah dia akan selalu memastikan bahwa semua murid ataupun guru langsung pulang saat sekolah usai.

"Begitu ya, yah.. aku juga sudah selesai dan akan segera pulang ini." ucap Naruto sambil menunjukkan tas sekolahnya yang dia pegang ditangan kirinya. Sona melihat hal itu dan mengangguk mengerti.

"Kalau begitu segeralah pulang, Uzumaki-kun." ucap Sona sambil membenarkan letak kacamatanya dan berbalik untuk pergi, tapi sebelum dia pergi dia mengatakan pada Naruto untuk datang ke ruang OSIS besok ada yang ingin dia bicarakan.

Naruto hanya diam menatap kepergian gadis iblis itu dengan wajah bingung.

'Apa yang ingin Kaichou bicarakan denganku?' batin Naruto heran sekaligus penasaran, Naruto menggelengkan kepalanya pelan.

'Bukan waktunya memikirkan itu, aku harus segera ketempat Azazel.' Naruto kemudian keluar dan menutup pintu kelasnya itu, tujuannya saat ini adalah tempat biasa Azazel memancing, Azazel memiliki dua tempat favorit untuk memancing jika Azazel tidak ada di lokasi pertama maka dia mungkin ada dilokasi kedua nya, dia harus mencarinya nanti.

Skip

Jam 18:04 PM.

Naruto saat ini tengah duduk memancing menemani Azazel, dia baru saja sampai ketempat Azazel karena tadi saat dia pulang dari sekolahnya, dia bertemu dengan Issei dan temannya, mereka seperti sedang mencari seseorang jadi dia sempat membantu Issei sampai dia menemukan orang yang mereka cari itu yang merupakan dua orang berjubah yang dia lihat kemarin saat dia bertemu dengan ketua OSIS dan wakilnya didekat gerbang Akademi Kuoh.

Saat dia melihat dua orang berjubah itu, ada satu pertanyaan yang muncul dipikirannya saat itu, kenapa utusan gereja ada dikota Kuoh? terlebih lagi mereka membawa pedang suci bersama mereka, Naruto sempat memberi peringatan kepada Ddraig saat itu untuk melindungi Issei dari bahaya yang mungkin akan dialami oleh Issei nanti.

Setelah Issei menemukan kedua orang itu, Issei menyuruh dirinya pergi dari sana dan tentunya tidak lupa berterima kasih padanya, dia tahu kenapa Issei menyuruhnya pergi saat itu, itu karena Issei hanya mengenal dirinya sebagai manusia biasa yang tidak tahu akan keberadaan mahluk supranatural.

Kembali ke saat ini, kini Naruto sedang menarik pancingnya saat ada ikan yang memakan umpan miliknya, dia sudah dapat beberapa ikan sejak dia memancing beberapa menit yang lalu, sedangkan Azazel hanya bisa menghela nafas jengkel terhadap Naruto karena sejak Naruto ikut memancing entah kenapa umpan miliknya malah tidak pernah dimakan ikan.

"Oi Naruto! bisakah kau tidak usah ikut memancing? kau membuatku tidak dapat ikan kau tahu." ucap Azazel dengan nada jengkel, Naruto hanya menghela nafas mendengar ucapan Azazel.

"Itu bukan salahku Azazel, kau saja yang kurang beruntung hari ini." ucap Naruto, Azazel hanya mengumpat kesal, dia tidak tahu harus melakukan apa kalau begini, meskipun dia tetap memancing disitu, pada akhirnya tidak akan ada ikan yang memakan umpan miliknya jika pemuda pirang itu juga memancing disitu.

Azazel menghela nafas, namun kemudian dia melirik kesamping kanannya saat dia merasakan kehadiran seseorang yang dia kenal.

"Yo... apa kau datang untuk menyapa pria yang sedang kesal ini, Vali?" ucap Azazel, Naruto yang mendengar ucapan Azazel hanya menghela nafas, lalu dia menatap Vali yang baru datang itu.

"Sepertinya kita perlu bicara serius, Azazel." ucap Vali, Azazel terlihat mengangkat sebelah alisnya heran.

"Apa terjadi sesuatu, Vali?" tanya Azazel heran, Naruto terdiam sebentar sebelum dia ikut berbicara.

"Sepertinya memang ada yang perlu dibicarakan dengan serius saat ini, Azazel." ucap Naruto, Vali menatap kearah langit yang sudah menggelap sepenuhnya, angin menggoyangkan rambutnya dengan lembut lalu Vali berkata.

"Kokabiel sudah kembali ke kota ini, Azazel." ucap Vali, Azazel terdiam mendengar ucapan Vali, dia tahu cepat atau lambat Kokabiel akan kembali ke kota ini, karena kota ini adalah tempat yang paling cocok untuk memulai rencana Kokabiel yang dia ketahui ingin memulai Great War kedua.

"Jadi begitu kah." ucap Azazel sambil menatap Vali.

"Kokabiel?" tanya Naruto penasaran, apa itu nama malaikat jatuh yang dulu pernah dia lihat itu? apa dia pernah mendengar nama itu sebelumnya? kenapa rasanya dia pernah mendengar nama itu, entahlah dia sudah lupa dengan itu, salahkan segel rumit Fuuinjutsu klan Uzumaki yang membuat kepalanya sering sakit karena dipaksa berpikir terlalu keras untuk memahami segel itu.

"Dia adalah salah satu petinggi fraksi malaikat jatuh, dia memang telah menghilang cukup lama, bukankah kau pernah melihatnya, Naruto?" ucap Azazel diakhiri pertanyaan memastikan bahwa Naruto masih mengingatnya atau tidak.

"Ya aku pernah membicarakan itu denganmu sebelumnya." ucap Naruto, dia masih ingat malaikat jatuh itu, tapi kenapa baru sekarang kejadian itu dibahas? apa maksudnya dengan Kokabiel yang sudah kembali ke kota ini? firasatnya menjadi tidak enak saat ini.

"Sekarang Kokabiel sudah kembali ke kota ini, mungkin dia akan memulai rencananya tidak lama lagi." ucap Azazel sambil menatap Vali, Vali yang mengerti maksud Azazel hanya menghela nafas.

"Aku sedang sibuk saat ini, Azazel, kau minta tolong saja pada Naruto." ucap Vali yang kemudian mengaktifkan Sacred Gear miliknya dan bersiap untuk terbang.

Azazel menghela nafas mendengar ucapan Vali, lalu dia menatap Naruto, apa dia minta tolong pada pemuda pirang ini saja untuk mengurus Kokabiel? dia rasa itu akan sulit, mungkin.

"Tapi jika aku ada waktu, aku bisa mengurusnya Azazel." setelah mengatakan itu Vali terbang tinggi dan melesat kearah timur dari tempat mereka saat ini.

"Naruto..." saat Azazel ingin meminta tolong pada Naruto, sebuah lingkaran sihir malaikat jatuh kecil muncul ditelinga kirinya dan wajah Azazel menjadi terlihat senang.

Naruto yang melihat itu menaikkan sebelah alisnya heran.

"Tidak jadi Naruto, aku ada urusan di Grigori, tapi mungkin aku akan menemuimu jika Vali tidak bisa dimintai tolong nanti." ucap Azazel sambil menciptakan lingkaran sihir malaikat jatuh dan pergi untuk kembali ke Grigori.

Setelah kepergian Azazel, Naruto masih belum beranjak dari sana, dia menatap langit dengan ekspresi rumit.

"Sepertinya malam ini akan ada badai..." gumam Naruto pelan, badai yang dia maksud adalah badai yang tidak dapat dipahami oleh manusia biasa.

Skip

Jam 19:34 PM. Grigori.

Di sebuah bangunan yang terdapat tulisan Ruang Penelitian diatas pintu masuknya, terlihat Azazel dan beberapa orang dengan pakaian seperti seorang ilmuwan berwarna putih sedang memperhatikan sebuah objek berbentuk tombak kecil berwarna kuning dan terdapat sebuah permata ungu dipangkalnya.

"Bagaimana Azazel-sama, apa bentuknya kurang bagus?" Azazel menyeringai mendengar pertanyaan dari salah satu ilmuwan yang dia tugaskan untuk meneliti sesuatu itu.

"Tidak, itu cukup menarik. Apa itu sudah bisa menggunakan kekuatan terlarang nya?" tanya Azazel sambil terus memperhatikan objek tersebut.

"Untuk saat ini hanya membutuhkan sedikit penyesuaian dengan diri anda Azazel-sama, berikutnya hanya melakukan sedikit sentuhan terakhir dan anda sudah bisa memakainya, meski mungkin akan membutuhkan pengembangan lebih lanjut lagi." ucap Ilmuwan kedua yang berdiri disamping Ilmuwan pertama.

"Selain dari itu anda juga harus menyesuaikan bentuk zirah nya karena ini bukan ciptaan Tuhan yang dimana zirah dari benda ini dapat sesuai dengan sendirinya terhadap pemiliknya." ucap Ilmuwan pertama, menjelaskan tentang kekurangan dari objek tersebut.

Azazel memasang pose berpikir, lalu dia mengambil objek itu dan mengamatinya dengan teliti.

"Begitu kah... Aku harap ini cepat selesai karena aku ingin segera mencobanya." ucap Azazel menyeringai, dia sudah tidak sabar untuk mencoba benda hasil penelitiannya dan para bawahannya itu.

"Kerja bagus, terus kembangkan tombak ini." ucap Azazel menyeringai.

"Ha'i, Azazel-sama!" Ilmuwan pertama dan kedua mengangguk kompak, lalu dari arah pintu datang seseorang, Azazel dan kedua Ilmuwan itu berbalik untuk menatap siapa yang datang.

"Shemhazai, ada apa?" tanya Azazel pada seseorang yang baru datang tersebut, Shemhazai menghela nafas sejenak sebelum berbicara.

"Azazel, kita mendapatkan surat balasan dari mereka." ucap Shemhazai serius, Azazel yang mengerti apa yang dimaksud oleh Shemhazai menyeringai senang.

"Jadi mereka sudah membalas surat yang aku kirim kepada mereka... Baiklah ayo kita lihat apa jawaban dari mereka," ucap Azazel membuat Shemhazai mengangguk kecil, lalu Azazel menoleh kearah kedua Ilmuwan tadi.

"Lanjutkan pekerjaan kalian, aku ada urusan lain yang sangat penting." ucap Azazel, kedua ilmuwan itu mengangguk pertanda mengerti.

"Ha'i, Azazel-sama!" setelah menerima respon dari kedua ilmuwan itu, Azazel dan Shemhazai pergi meninggalkan bangunan tempat penelitian tersebut.

Skip

Jam 20:10 PM.

Terlihat Azazel bersama dengan para petinggi malaikat jatuh yang lainnya sedang berkumpul di sebuah ruangan, yang sepertinya ruangan tersebut adalah ruangan Azazel biasa mengerjakan berkas-berkas yang dia benci itu.

Mereka terlihat duduk disofa yang ada diruangan tersebut kecuali Azazel yang duduk dikursi kerjanya. Saat ini Azazel sedang membaca sebuah surat balasan dari apa yang telah dia kirim ke fraksi malaikat dan iblis 4 hari sebelumnya.

"Jadi bagaimana jawaban mereka, Azazel?" Azazel terlihat menyeringai saat mendengar pertanyaan dari malaikat jatuh barusan.

"Mereka setuju untuk mengadakan pertemuan antara ketiga fraksi, namun mereka masih belum menentukan jawaban mereka terhadap pembentukan aliansi yang kita ajukan, Shemhazai." ucap Azazel menjawab pertanyaan Shemhazai barusan.

"Sepertinya akan cukup sulit untuk mengajak fraksi malaikat membentuk aliansi kah," ucap Shemhazai menjeda ucapannya, lalu dia melihat ketempat biasanya salah satu dari mereka duduk disana, namun kali ini malaikat jatuh yang dia maksud tidak ada disana.

"Kokabiel sepertinya membuat ulah didunia manusia." lanjut Shemhazai sambil menatap Azazel.

"Ya aku tahu itu, Shemhazai, dan sepertinya dia mencuri pecahan Excalibur yang disimpan pihak Gereja di Vatikan." ucap Azazel sambil menghela nafas.

"Apa yang direncanakan Kokabiel dengan pecahan Excalibur itu?" Shemhazai menoleh kearah pria yang barusan berbicara.

"Kemungkinan dia ingin memulai kembali Great War kedua dengan memancing pihak surga turun ke dunia manusia." ucap Shemhazai menjawab pertanyaan pria tersebut.

"Dan lokasi yang tepat untuk memulai rencananya itu," ucapan Shemhazai terhenti karena Azazel memotong ucapannya itu.

"Akademi Kuoh." ucap Azazel memotong ucapan Shemhazai yang membuat Shemhazai menghela nafas pasrah.

Pria yang tadi bertanya itu terdiam dengan berbagai pikiran.

"Bukankah itu tempat anakmu bersekolah, Baraqiel?" tanya Azazel saat melihat ekspresi Baraqiel yang sepertinya terkejut dengan ucapannya tadi.

Baraqiel menghela nafas lalu menatap Azazel.

"Iya, tapi dia sepertinya masih membenciku." ucap Baraqiel dengan nada bersalah dalam suaranya.

"Aku yakin anakmu akan mengerti suatu saat nanti, Baraqiel." ucap Azazel sambil menatap temannya itu.

Saat mereka sedang berbicara satu sama lain, seseorang mendobrak pintu ruangan tersebut dan masuk dengan tergesa-gesa.

"Sahariel, ada apa denganmu?" tanya Shemhazai heran terhadap seseorang yang baru datang tersebut.

Seseorang yang baru datang tersebut terlihat sangat kelelahan seperti habis berlari selama berjam-jam tanpa henti.

"Hah.. hah... hah~ Azazel, Shemhazai, Baraqiel! ini gawat!" ucap Sahariel dengan nafas terengah-engah.

"Tenangkan dirimu dan bicaralah yang jelas, Sahariel." ucap Azazel dengan wajah yang menunjukkan keseriusan.

Yang lain mengangguk menyetujui perkataan Azazel barusan.

"Gawat Azazel! Kokabiel menyerang Akademi Kuoh!" ucap Sahariel dengan nada panik.

Azazel terdiam saat mendengar informasi yang disampaikan Sahariel barusan.

"Kalau begini ceritanya, rencana pembentukan aliansi tidak akan terjadi, yang ada Great War kedua akan meletus." ucap Shemhazai terkejut dengan berita yang baru disampaikan salah satu temannya itu.

"Kita harus menghentikan rencana Kokabiel sebelum terlambat, Azazel." ucap Shemhazai serius sambil menatap Azazel yang sepertinya sedang berpikir serius mengenai sesuatu.

"Azazel, biar aku yang pergi untuk menghentikan rencana bodoh Kokabiel itu." ucap Baraqiel sambil berdiri dengan wajah serius.

Azazel menoleh menatap Baraqiel lalu dia berkata.

"Kota Kuoh adalah wilayah iblis, jika kita asal masuk kesana itu bisa memperburuk keadaan, Baraqiel." ucap Azazel serius.

Azazel terlihat menghela nafas mengenai situasi saat ini, dia berharap Sirzech tidak akan turun tangan untuk menghabisi Kokabiel, meski Kokabiel terlihat seperti maniak gila, dia tetap salah satu petinggi malaikat jatuh yang menjadi kekuatan malaikat jatuh dimasa lalu.

"Aku akan memikirkan sebuah cara nanti, lebih baik kita awasi dulu situasi nya." ucap Azazel serius.

Baraqiel telihat mengepalkan tangannya dengan kuat saat mendengar perkataan Azazel.

"Aku tahu kau khawatir dengan anakmu, Baraqiel, tapi pikirkan lagi dampak yang akan terjadi jika kita ikut campur terhadap wilayah iblis secara langsung." ucap Azazel serius, lalu dia berdiri dari kursinya.

"Aku akan mencoba berbicara dengan seseorang untuk meminta bantuannya, sekalian aku yang akan menyusup langsung ke kota Kuoh karena aku sudah terbiasa menyusup ke kota itu." ucap Azazel serius sambil menatap Baraqiel.

"Shemhazai, tolong sampaikan pada Sirzech untuk tidak langsung bertindak saat dia mendapatkan kabar dari adiknya, bilang padanya aku yang akan bertanggung jawab jika adiknya kenapa-napa saat serangan Kokabiel." ucap Azazel serius lalu dia pergi dengan lingkaran sihir malaikat jatuh.

Shemhazai terlihat menghela nafas mendengar perintah Azazel barusan.

"Dasar, apanya yang bertanggung jawab, dia hanya membahayakan dirinya sendiri." gumam Shemhazai dengan nada pasrah akan perkataan pemimpin tertinggi malaikat jatuh itu.

"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu Azazel, Shemhazai?" tanya Sahariel serius.

Shemhazai melihat kearah Sahariel dan berkata.

"Kita hanya perlu memastikan fraksi iblis tidak tahu akan serangan itu, kecuali Sirzech karena Azazel menyuruhku mengirim pesan kepadanya mengenai hal ini." ucap Shemhazai serius, lalu dia mengalihkan pandangannya kearah Baraqiel.

"Percayalah pada kekuatan anakmu, Baraqiel, Kokabiel mungkin bukan tandingannya, tapi dia pasti bisa bertahan dari serangan Kokabiel, lagi pula Azazel sudah pergi untuk mencegah Kokabiel membunuh adik dari kedua raja iblis Lucifer dan Leviathan saat ini." ucap Shemhazai dengan nada serius.

Baraqiel tidak mengatakan apapun, dia hanya berjalan pergi meninggalkan ruangan itu dengan wajah datar.

"Sahariel, bisakah kau mengawasi fraksi iblis? pastikan mereka tidak tahu apapun mengenai serangan Kokabiel dikota Kuoh saat ini." ucap Shemhazai serius.

"Tentu saja, demi memastikan tidak terjadi Great War kedua apapun akan aku lakukan." ucap Sahariel serius.

"Kalau begitu aku akan pergi sekarang, Shemhazai." ucap Sahariel yang langsung pergi dengan lingkaran sihir malaikat jatuh setelah dia mengatakan itu.

Melihat semua petinggi malaikat jatuh sudah pergi dari ruangan tersebut, Shemhazai menghela nafas sebelum dia mulai menulis surat dengan pesan yang telah diperintahkan oleh Azazel.

'Semoga Iblis merah itu bisa memahami maksud surat ini.' batin Shemhazai saat dia menulis surat yang akan dikirim ke wilayah iblis, lebih tepatnya kepada Sirzechs Lucifer.

To Be Continue