Note; seperti sebelum ini. Chapter ini memiliki cut scene mature yang tidak sesuai di baca oleh reader di bawah umur. Untuk membaca full chapter sila lawat wattpad dengan dengan nama account Kazu_Yuuki95. Versi lengkap novel ini tersedia di sana.

Selepas pertemuan mereka yang terjadi pagi itu Toshiro mengajak Hinata untuk bertemu denganya di taman bunga di mana lokasi tempat date pertama mereka berlangsung.

Kini loceng di sekolahnya berbunyi menandakan waktu sekolah telah tamat. Hinata terburu-buru mengemas meja dan menyimpan semua buku nota dan alat tulisnya dalam beg sekolahnya. Dia lekas keluar kelas dan berlari turun tangga dalam tergesa-gesa, tidak sabar untuk bertemu dengan Toshiro.

Jeritan Sakura memanggilnya menghentikan lariannya. Hinata berpusing ke belakang, melihat rakan baiknya melihatnya dengan kening dinaik sebelah dan berdiri sambil bercekak pinggang.

"Kamu hendak ke mana, Hinata-Chan?"Sakura mengutarakan soalan. Pelik dia melihat Hinata banyak mengelamun selepas berjumpa dengan pelajar junior di sekolah mereka. Tidak lupa juga situasi bertambah pelik apabila dia terpandang Hinata berlari keluar kelas dalam tergesa-gesa. Tidak pernah dia melihat Hinata berkelakuan sebegitu rupa. Sebab itu dia mula sangsi dengan rakan baiknya itu.

'Mungkin dia ada date dengan pelajar junior itu kot?'Sakura membuat andaian sendiri.

"Um...ada sesuatu yang perlu saya kerjakan...Um...saya dalam tergesa-gesa. Jadi kita jumpa esok hari"Hinata lantas membungkuk hormat pada rakannya lalu beredar meninggalkan rakannya yang terpinga-pinga.

"Kenapa Sakura?"Sasuke bertanya. Dia muncul di belakang Sakura dengan Naruto berlari menghampiri mereka berdua.

"Hinata-Chan. Saya rasa dia ada date lah"ujar Sakura dengan mata bersinar-sinar.

"Ha?!Dengan budak yang dia suka ke?"komen Naruto. Kalau tidak silap Hinata pernah menolak cintanya kerana gadis itu mengatakan dia menyukai lelaki lain. Mungkin lelaki itu kot. Tapi siapa ye? Kenapa dia rasa macam terlupakan sesuatu ye?Sesuatu atau seseorang yang membuatnya merasa tidak berpuas hati.

"Jom skodeng mereka"ajak Sakura. Matanya masih tidak lepas melihat sosok tubuh Hinata berlari tergesa-gesa keluar dari pagar sekolah, melintasi jalan raya menuju ke kota Karakura.

"Hm...boleh gak. Jom"Naruto bersetuju.

"Sasuke-kun?"

"Hn(Ok)"

"Orait jom!"

"Sorry Toshiro-kun. Saya lambat. Kamu sudah lama tunggu?"tanya Hinata dalam keadaan tercungap-cungap. Sesak nafas selepas lari tidak henti.

"Tidak lama. Aku pun baru tiba"balas Toshiro sambil merenung mata lavender Hinata. Perbuatannya itu membuat gadis yang ditenungnya menjadi gugup.

"Um..."

"Hinata, duduk"arahnya selepas melihat gadis itu hanya berdiri di hadapannya, menekur lantai.

"Hai!"Hinata langsung duduk di kerusi kayu, di samping Toshiro.

Setelah agak lama berdiam, Toshiro membuka mulutnya. "Hinata aku minta maaf..." "Toshiro-kun maafkan saya!..."Siapa sangka Hinata juga meluahkan isi hatinya serentak dengan kapten genit itu.

Toshiro dan Hinata saling berpandangan. Suasana berubah jeda sekejab.

Sehinggalah...

"Bffff...hahahhaa!"Kesunyian di antara mereka berdua diganti dengan gelak ketawa yang keluar dari mulut Toshiro yang terlihat OOC. Hinata tergamam melihat laki itu.

"Toshiro-kun?"Hinata bingung melihat Toshiro ketawa tiba-tiba. Hatinya berkocak hebat kerana pertama kali dia melihat Toshiro ketawa.

"Sorry, Hinata"Masih dengan senyuman, Toshiro menyeka air mata yang bertakung di kelopak matanya dengan jarinya.

"Kamu tahu, aku betul-betul minta maaf pada kamu, Hinata"ujar Toshiro seraya mengalih pandangan pada taman bunga.

Hinata menoleh melihat Toshiro.di sebelahnya. "Kenapa pula Toshiro-kun berkata begitu?Sepatutnya saya yang perlu minta maaf sebab telah melukai hati kamu"

"Semua ini takkan terjadi kalau aku berterus terang dengan kamu Hinata. Gara-gara aku hubungan kita goyah"ucap Toshiro. Riak wajahnya terlihat menyesali atas perbuatannya itu. Senyum pahit terukir di wajahnya.

"Saya sudah lama maafkan kamu, Toshiro-kun, lagipun hubungan kita goyah kerana ego saya tinggi. Sekiranya saya maafkan awak hari itu semuanya takkan terjadi dan kita takkan berpisah. Jadi, saya juga bersalah, Toshiro-kun. Sudi tak awak maafkan saya juga, Toshiro-kun?" Hinata menarik wajah Toshiro supaya bertatapan mata dengannya. Senyuman lembut termeteri di wajah apabila dapat melihat laki itu sekali lagi selepas kepergiannya dalam hidupnya.

Toshiro mengalih perhatiannya menghadap taman yang terlihat indah dengan pelbagai jenis bunga yang bermekaran di sekitar tempat mereka duduki. Pancaran matanya mulai meredup seketika. Genggaman tangannya diperketatkan.

"Hinata...aku dah lama memafkan kamu...dan Hinata, terima kasih sebab sudi memaafkan aku..."ucap Toshiro pelan.

"T-tak apa-apa, Toshiro-kun. Saya tidak kisah. Saya sungguh menyesali perbuatan saya ketika itu..."balas Hinata seraya jantungnya mula berkocak laju, sekilas matanya melirik ke sampingnya melihat jejaka pujaan hatinya yang telah lama tidak muncul dalam hidupnya. Sedetik hatinya terhenti saat Toshiro memaling wajahnya ke arahnya, wajah penuh kesedihan dan keterpaksaan terlihat jelas di wajah kapten genit itu.

"Hinata..."gumam Toshiro pelan. Entah kenapa ketika mendengar suara itu membuat seluruh tubuh Hinata menegang. Dia dapat merasakan sesuatu perihal yang buruk bakal terjadi tetapi dia tidak tahu apa.

"A-da apa Toshiro-kun?"Hinata menjawab. Pantas dia membuang firasat tidak baik nya jauh dari fikirannya.

"Aku rasa ada baiknya kita tidak berjumpa lagi...Ini unt..."ucapan Toshiro terpotong sebaik Hinata tiba-tiba bangkit dari kerusi dan berdiri di hadapannya dengan wajah yang mula berkaca-kaca.

"Kamu bencikan saya ke, Toshiro-kun?Sebab itu ke kamu berpura-pura melupakan saya bulan lalu?"soal Hinata. Suaranya bergetar saat menanyakan soalan itu. Air mata jatuh berguguran dari kelopak matanya, mengalir ke permukaan pipinya dan jatuh ke tanah. Pandangannya terlihat kosong saat dia menatap datar Toshiro yang duduk di bangku taman, di hadapannya.

Toshiro melebarkan matanya, terkejut mendengar kalimat yang keluar dari gadis itu. Toshiro lekas berdiri dan menghampiri gadis itu. Dia mencengkam erat bahu gadis berambut lavender itu dengan kuat. Dia mendongak, matanya menatap tajam wajah gadis yang dicintainya.

"Mana mungkin aku membencikan kamu, Hinata!" teriaknya, rasa amarah mula berkobar-kobar di dalam hatinya. Berani betul gadis itu menuduhnya yang bukan-bukan.

"T-tapi...kamu...sob...tidak mahu kita berjumpa lagi...jadi...sob...jadi saya mengira kamu bencikan saya, Toshiro-kun"Hinata mula teresak menangis. Dia jatuh terduduk ke tanah. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menghadang Toshiro melihatnya.

Toshiro mengeluh panjang. Dia berlutut agar sejajar di hadapan gadis itu. Tangan yang menekup wajah ditarik secara halus hingga terlihat wajah sayu gadis itu. Matanya mula memerah kerana menangis.

"Hinata, bukannya aku bencikan kamu, aku sangat sayangkan kamu Hinata tetapi ada larangan yang harus aku patuhi salah satunya ialah bercinta dengan gadis manusia seperti kamu"Toshiro berterus terang. Dia sudah tidak mampu menyembunyikan lagi rahsianya.

"Gadis manusia seperti saya?Apa kamu bukan manusia, Toshiro-kun?"Hinata menatap Toshiro dengan rasa bingung. 'Bukan manusia?Jadi dia apa?'

"Ya aku bukan manusia. Aku..."Toshiro terdiam seketika. "Aku shinigami"

Mata Hinata membuntang. Shinigami?'Biar betul!Toshiro-kun bercanda padanya ke apa?!'getus hati Hinata. Terasa sukar untuk dipercaya kata-kata yang baru didengarinya tadi.

"Aku tak bercanda Hinata. Aku serius"ucap Toshiro seraya menjawab segala kekeliruan yang melanda dalam dirinya.

"Betul-betul?"Tanpa sedar Hinata berundur beberapa tapak ke belakang. Perbuatannya itu membuat Toshiro bagai disambar petir. Apakah Hinata tidak akan menerimanya hanya kerana dia seorang Shinigami?Kalau itu terjadi nampaknya dia terpaksa menghilangkan ingatan gadis itu mengenainya.

"Kamu takut pada aku, Hinata?"soal Toshiro. Anak mata hijau turquoise bertemu lavender.

Mata Hinata melebar luas. 'Takut pada Toshiro-kun?'Mustahil dia takut pada Toshiro sedangkan melihatnya sekarang pun sudah cukup membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Kalau dibiar lama-lama boleh terloncat keluar jantungnya karang.

Perlahan Hinata menegup ludahnya, mengumpul keberanian untuk menjawab soalan Toshiro. Wajah Toshiro ditatap intern. "Saya tidak takut pada kamu"Hinata menjawab dengan jujur. Mukanya sedikit merona kerana baru tersedar Toshiro telah mengungkapkan kata 'sayang' padanya tadi.

Toshiro tersenyum lembut. Dia bangkit dari berlutut depan gadis yang menjadi dambaan hatinya. Huluran tangan dihulur pada Hinata, membantu gadis itu bangun.

"Kalau begitu, tidak peduli sejauh banyak rintangan yang akan mendatang aku takkan melepaskan kamu, Hinata. Kamu dengar itu?"ucap Toshiro seraya mengusap air mata pada wajah putih mulus Hinata.

"H-Hai"Hinata mengangguk pelan. Wajahnya masih memerah menerima pernyataan cinta daripada pemuda yang disukainya.

Toshiro tersenyum tulus. Dia menarik lengan gadis yang menjadi dambaan hatinya kemudian membawanya masuk ke dalam pelukan nya. "Aku benar-benar jatuh cinta dengan kamu, Hinata. Cinta sangat-sangat"

"H-hai...saya...juga"asap sudah mula keluar dari kedua belah telinga gadis itu apabila rasa malu menguasai dirinya.

Dengan sayang Toshiro mengucup lembut dahi Hinata, kemudian kedua kelopak matanya, batang hidungnya yang ramping dan kecil itu. Tidak lupa juga bibirnya yang ranum bak buah delima merupakan bonus besar baginya.

"Hinata?"Toshiro pelik. Selepas dikucup lama bibir itu dia langsung tidak menerima tindak balas dari pemiliknya.

Toshiro lekas melepaskan ciuman walau terasa berat untuk melakukannya. Setelah diperhati rupa-rupanya Hinata telah lama pengsan dalam pelukannya. Sebutir sweatdrop sebesar biji jagung bertapak dibelakang kepala Toshiro.

Lantas Toshiro menggeleng kepalanya. Dia menggendong Hinata bridal style untuk membawanya kembali ke rumah gadis itu.

Mata hijau turquoise nya sempat melirik ke arah semak berdekatan dengan kerusi kayu tempat yang diduduki nya tadi. Senyuman sinis muncul di wajahnya. Perlahan dan tidak terlihat dia menggunakan kekuatan spiritual nya yang disebarkan ke tangannya kemudian mengibasnya dengan laju ke arah semak itu.

Sebuah angin kencang muncul dan menghala ke arah tempat yang dituju. Suara jeritan kedengaran di taman bunga itu memuaskan hati kapten genit itu.

'Ambik kau nak sangat mengendap orang...rasakan lah sibuk mengintai orang'


~Hinata~

Hinata membaringkan tubuh di hujung katil dan membiarkan rambutnya terurai hingga ke bawah, hampir mengenai permaidani. Entah kenapa, Hinata gemar berbuat begitu. Itulah tabiat yang tercipta sejak dia di sekolah menengah tatkala dia mula menyimpan rambut panjang.

Mata Hinata terkebil-kebil memandang siling. Peristiwa yang berlaku seminggu yang lalu di mana sang kapten genit itu muncul dalam hidupnya kembali menyemarakkan hari-harinya yang kelam. Sejak saat itu mereka berdua telah selamat menjadi pasangan kekasih. Bibir Hinata mengukir senyuman indah apabila terbayangkan wajah Toshiro yang menciumnya dekat taman bunga tempoh hari. Tanpa sedar ibu jarinya menyentuh bibirnya yang telah kehilangan suci itu. Walaubagaimanapun Hinata tidak kisah sekiranya orang yang menciumnya adalah Toshiro.

Rasanya bagai baru semalam peristiwa mereka berbaik terjadi. Tapi seminggu telah berlalu dan hubungannya dengan Toshiro juga semakin rapat. Bagai belangkas, tidak terpisah. Setiap tempat yang Hinata pergi pasti Toshiro ada. Mengingatkan itu membuat hati Hinata terasa berbunga bunga.

Hinata tersipu malu. 'Ah~indahnya hidup berpasangan...'

Terlalu leka dalam fikirannya Hinata terlupa bahwa hari ini dia dan Toshiro akan dating untuk pertama kali dalam perhubungan mereka. Hinata tersentak apabila telefon bimbitnya berdering kerana bunyi penggera. Gadis itu melihat jam di layar skrin telefonnya yang tertera pukul 12 tengah hari.

'Alamak!Lagi tiga puluh minit masa janji untuk bertemu!'Hinata bergegas turun dari katilnya dan terus mencari dress yang ringkas namun menarik dalam almari bajunya. Setelah menjumpai dress yang dia berkenan Hinata terus menyarung dress itu pada tubuhnya yang langsing kemudian dia menuju ke depan cermin dalam biliknya. Melihat pantulan wajahnya dibalik cermin itu.

Bedak kompak diatas meja segera dicapai. Penutup itu dibuka dengan kasar. Lalu, dia menepek bedak itu ke mukanya. Selesai menepek bedak di mukanya Hinata mengambil gincu merah dan mencalit sedikit gincu itu bibirnya agar terlihat lebih menyerlah wajahnya. Selepas semuanya rapi dia menyembur minyak wangi di tubuhnya agar dapat menutup bau keringat yang melekat di tubuhnya gara-gara tidak sempat mandi siang disebabkan terlalu sibuk mengelamun di siang hari.

Selesai bersolek Hinata melihat pantulan wajahnya dicermin. Cantik, pujinya. Hinata berhasrat untuk terlihat cantik dihadapan Toshiro. Mana tahu mereka akan *ehem ehem* itu. Memikirkan itu wajah Hinata terus semerah ketam. 'Wahh!Sejak aku jadi pervert ni?!'

Hinata lekas menggelengkan kepalanya, cuba menghapuskan fikiran kotor yang tiba-tiba menerjah masuk dalam fikirannya.

Dengan bersemangat gadis itu terus keluar dari biliknya. Beg sandangnya dicapai dan dia bergegas turun ke lantai bawah menuju ke ruang tamu yang merupakan pintu utama dalam mansion Hyuga.


Hinata tercungap-cungap tak cukup nafas kerana berlari kencang dari stasion bas ke tempat janji temunya dengan Toshiro di mall. Pada saat itu dia dapat melihat Toshiro berdiri bersandar pada tiang masuk gedung mall itu dengan wajah malas. Wajahnya yang tampak tak acuh namun masih maintain cool itu telah mengundang banyak mata yang memandangnya terutamanya pengunjung mall itu yang terdiri daripada kaum gadis muda yang terlihat seusianya. Pengunjung tetap yang kebanyakan terdiri daripada gadis remaja dan dewasa hanya melihatnya sekilas kemudian berlalu pergi ke tempat tujuan mereka walau mulut mereka laju memuji kekacakan Toshiro walau dia masih anak kecil.

Hinata datang mendekat ke arah kekasih genitnya itu dan berdiri di belakangnya buat waktu yang lama sehingga Toshiro merasa penat menunggunya dan berpaling ke belakang melihat gadis itu yang masih mematung. Dia mula bersuara. "Hinata, sampai bila kamu mahu berdiri di belakang aku?"

"?!"Hinata tersipu malu tertangkap basah oleh Toshiro walau dia tidak berbuat perkara yang tak senonoh.

"Ah...um...saya cuma malu..."ujar Hinata sambil menunduk memandang lantai dan tangannya sibuk bermain dengan jari jemarinya itu. Ia merupakan salah satu tabiatnya sejak kecil lagi.

Toshiro mengeluh pelan. Dia menghulur tangannya buat Hinata. Hinata yang perasan akan tangan Toshiro yang dihulur hanya khas terhadapnya merasa malu. Dia dengan hati berdebar mengabungkan kedua tangan mereka menjadi satu. Toshiro tersenyum terhadap Hinata.

"Mari kita jalan-jalan"ajak Toshiro seraya mempereratkan gengaman tangannya dengan Hinata. Hinata mengangguk setuju.

Dan bermulalah janji temu mereka yang pertama kali yang penuh dengan romantis yang hanya dituju buat Hinata seorang. Dalam janji temu mereka Toshiro membawa Hinata berkunjung ke dalam setiap kedai baju wanita, kemudian menuju ke game center di lantai atas pula. Mereka menikmati permainan games di sana hingga petang, berkunjung ke kafe dan menikmati baca buku novel percuma di kedai buku. Pada tepat pukul empat petang mereka berjalan bersebelahan masuk ke dalam panggung wayang menonton filem bergenre romantis. Ketika menonton aksi pameran utama yang bercumbu Toshiro tidak dapat menahan diri untuk mencium Hinata. Dengan sepantas kilat Toshiro menarik Hinata keluar dari panggung dan membawa gadis itu menuju ke restroom terdekat.

Toshiro membawa gadis itu masuk ke dalam salah satu tandas yang terdapat dalam restroom itu. Dia melabuhkan punggungnya atas penutup mangkuk tandas yang tersedia dalam tandas itu lalu tangannya laju menarik tubuh Hinata masuk ke dalam pelukannya, membuat gadis itu duduk atas ribanya. Jari jemarinya menangkap leher belakang kepala Hinata lalu menariknya mendekat dengan wajahnya sehingga bibir mereka saling menempel. Hinata yang terlalu terkejut mempersenangkan lagi kerja Toshiro untuk mencumbunya.

Chu~

Bibir mereka saling menempel. Toshiro mengeluarkan lidahnya dan menjilat bawah bibir Hinata. Apabila tidak mendapat respons yang diharapkan Toshiro mengigit lembut bibir bahagian milik gadis itu. Hinata yang terkejut membuka separuh mulutnya. Dia terjerit kecil namun tidak kedengaran di telinga pengunjung dalam tandas.

Toshiro menggunakan kesempatan emas ini dengan memasukkan lidah kenyalnya ke dalam mulut gadis itu. Mata Hinata membulat. Dia cuba menolak tubuh Toshiro menjauh darinya namun kekuatan Toshiro lebih kuat darinya walaupun penampilan hanya lah anak laki-laki biasa.

Tubuh Hinata terasa memanas dan melemah. Tangannya yang tadi diguna untuk menolak tubuh Toshiro menjauh darinya kini dia dengan malu-malu mengalungkan lengannya dileher Toshiro. Tidak lama kemudian, Hinata mula terbiasa dengan permainan lidah Toshiro. Dengan berhati-hati gadis itu membalas ciuman Toshiro. Dia sedaya upaya cuba membuang rasa malunya itu. Tidak mahu ia menjadi penghalang dalam hubungan mereka nanti.

Hinata membalas ciuman Toshiro dengan bermain,menggerakkan lidahnya dengan lidah Toshiro. Tindakannya itu membuat Toshiro terangsang. Seluar jeans nya yang sebelumnya rata di celah selengkangnya kini terbentuk menjadi tenda. Adik kecilnya telah terjaga dan bersedia untuk berkhidmat.

Selama ciuman panas itu berlangsung tangan kiri Toshiro mengusap lembut pipi mulus gadis itu kemudian bergerak ke belakang kepalanya dengan mengelus rambut panjang gadis itu yang terurai di balik jari jemarinya itu, membelainya dengan lembut.

Tidak berpuas dengan itu Toshiro

memposisikan tangan bebasnya di bawah tubuh Hinata, terutama di bagian bawah payudara besar gadis itu.

"Hngh..."Hinata mengerang lembut. Nafasnya tercungap-cungap. Pipinya merona merah. Malu. Toshiro yang melihat itu merasa puas. Tangan nakal Toshiro laju masuk ke dalam baju dress Hinata. Bahagian celana dalam berenda yang dipakai gadis itu terlihat di mata Toshiro.

Toshiro tersenyum nakal. Dia melepaskan ciumannya. Saliva yang meleleh keluar di tepi bibir jatuh ke dagu gadis itu dijilatnya.

"Hinata, nampaknya kamu sudah bersedia dengan awal ye?"soal Toshiro sambil matanya melihat celana dalam bewarna unggu berenda yang dikenakan Hinata sepadan dengan warna baju dalam berenda yang dipakainya itu.

Wajah Hinata memerah namun dia tidak menidakkan apa yang dikatakan Toshiro tadi. Dia mengaku dalam hatinya bahwa dia berubah sedikit pervert semenjak bertemu dengan Toshiro.

"Kamu terlihat seksi, Hinata" bisik Toshiro disebelah telinga Hinata sementara tangannya yang terkurung dalam baju dalam gadis itu sibuk meremas payudara besar Hinata yang memantul-mantul setiap kali diremasnya.

"Nghh... hyah~"Hinata cuba menyembunyikan suaranya dengan menekup mulutnya namun Toshiro mengalihkan tangannya dari mulutnya.

"Jangan sembunyikan suara merdu kamu, Hinata. Aku nak dengar semuanya. Suara kamu, erengan kamu yang seksi itu membuat aku semakin berahi"Toshiro mengucup lembut kelopak mata Hinata kemudian hidungnya dan turun ke bibirnya. Ciuman panas kembali terjadi sekali lagi. Toshiro melepas baju dress yang dipakai Hinata lalu dilempar ke lantai tidak jauh dari mereka. Yang kini tersisa di tubuh Hinata adalah pakaian dalamnya yang terlihat seksi di mata Toshiro.

Toshiro menarik baju dalam warna unggu itu lepas dari tubuh Hinata hingga yang tersisa hanyalah bra nya sahaja. Toshiro menurunkan wajahnya ke leher Hinata, menjilat dan menggigit kecil leher jenjang itu hingga membuat Hinata memekik merasakan geli, tubuhnya menggeliat berusaha melakukan penolakan. Tapi hal yang dilakukan Hinata adalah hal yang salah besar karena gerakannya malah membuat sesuatu di bawah perut Toshiro bergesekan memberi sensasi nikmat bagi kapten genit itu.

Sebagai laki-laki normal tentu saja Toshiro yang sejak dari tadi sudah terbakar nafsu saat menikmati bibir mungil nan sexy Hinata menjadi semakin panas karena helah polos yang dilakukan Hinata itu tadi. Geram hanya menikmati bagian leher dan tengkuk Hinata, Toshiro menurunkan tangan kanannya yang sedari tadi bebas mulai meremas payudara kenyal milik Hinata yang masih terbungkus bra hitam dengan kait di bagian belakangnya.

Apabila merasakan betapa penuhnya bagian itu dalam genggaman tangannya Toshiro memuji dalam hati ukuran Hinata yang bukan calang-calang gadis sekolah boleh memperolehi cup bersaiz D. Hinata merasakan malu dan nikmat saat bagian payudara nya diremas oleh tangan Toshiro, lelaki yang dia cintai.

"Mmpnhh!"

Toshiro dengan intens memainkan payudara nya. Hinata sering menyentuh bagian itu saat mandi atau bila-bila masa senggang, tapi dia tidak pernah membuat gerakan yang membuatnya merasakan sensasi seperti saat ini. Sungguh dia merasa malu.

Toshiro semakin berani memainkan dada Hinata, sekarang tangannya dengan lincah membuka kait bra yang berada di belakang tubuh Hinata yang tentunya menyukarkan dia untuk mencabutnya. Namun dengan usaha gigih Toshiro dia berjaya menanggalkan pengait yang menghubungkan bra itu hingga membuat dua bukit kenyal itu menyembul erotis tepat di hadapan matanya sehingga membuat Toshiro terkejut karena ukuran dan bentuk payudara Hinata yang indah ditambah lagi dengan wajahnya sampai memerah entah karena malu membuat Toshiro bertambah kagum dan nafsunya juga bertambah liar.

Puas memandangi dada montok Hinata, Toshiro mulai menjilat dada sebelah kanan Hinata, bagian ujung yang sudah mengeras sejak tadi memberikan sensasi aneh pada lidah sang kapten genit itu yang sedang beradu dengan puting pink itu.

"Ahn... Toshi...Toshiro-kun...ngghh..."Hinata mendesah dalam nikmat apabila diperlakukan sebegitu rupa oleh Toshiro.

Sekuat apa pun Hinata menahannya, pada akhirnya gadis manis itu akhirnya menyerah pada rasa nikmat yang tak mampu lagi di tahannya. Toshiro tersenyum nakal saat dia berhasil membuat Hinata mendesah erotis. Dengan bersemangat dan kerana nafsunya yang sudah memuncak Toshiro melakukan hal yang lebih liar pada payudara sexy Hinata. Dia menghisap, menggigit, meremas bahkan memicit puting itu dengan kasar.

Toshiro benar-benar menyukai dada Hinata. Seperti anak kecil yang mendapat mainan baru, dia terusan menghisap puting pink itu seolah menunggu susu keluar dari putingnya.

Puas dengan meremas dada Hinata tangan kanan Toshiro mulai menjelajahi tubuh Hinata ke bawah, menyentuh perut, ke bawah hingga paha putih bersih Hinata.

Hinata tidak sedar berapa lama dia harus bertahan, jemari yang lentik milik Toshiro yang menyentuh segenap inci tubuhnya, milik lelaki itu yang bersatu dengan tubuhnya. Perasaan ini, terasa sukar untuk diekpresi dan di lupakan...Buat pertama kali dalam hidup, Hinata Hyuga akhirnya merasa hidupnya sempurna ditemani dengan kehadiran seorang insan yang menjadi pelengkap hidupnya dan lelaki itu adalah Hitsugaya Toshiro.

Hinata memejamkan mata, terasa letih dan mengantuk selepas mengalami pengalaman pertamanya. Kepalanya dilentok pada bahu Toshiro sebelum dia mula beransur masuk ke alam mimpi, membiarkan Toshiro memeluk tubuhnya dengan erat dan penuh sayang.

Dengan nafas yang tercungap-cungap Toshiro mengangkat Hinata masuk ke dalam pelukan nya sementara dia melabuhkan punggungnya atas mangkuk tandas. Sungguh dia merasa sengal satu badan selepas melakukan aktiviti berat itu.

Toshiro mengeluh nafas lega. Dia melirik Hinata dalam pelukannya. Toshiro tersenyum. Dia mengucup dahinya kemudian hidungnya lalu yang terakhir bibir mugil gadis itu pula.

Kemudian, Toshiro menempel dahi mereka seraya memejamkan matanya. Dengan nafas yang berat mata yang mula mengantuk Toshiro membiarkan tubuhnya berehat sekejap. Mata hijau turqouise nya memandang wajah gadis itu dengan lembut. Dia memeluk erat gadis itu dalam pelukan nya. Dengan sayang dia mengucup lagi bibir gadis itu hingga dia merasa puas dan bibir gadis itu mula membengkak kerana diciumnya.

"Hinata... aku cinta kamu sangat-sangat...aku janji takkan meninggalkan kamu lagi..."