"Eh,itu Hinata!"

"Culik aja apa, ya?"

"Ide bagus!"

Hinata menoleh ketika mendengar suara familiar memanggil namanya. Bokuto berlari merangsek ke arahnya dan mengangkatnya ke udara, lalu memutar-mutarnya seakan-akan Hinata adalah bocah TK. Perbuatan tiba-tiba itu membuat Hinata refleks menjerit panik, takut tiba-tiba ia dibanting jatuh. Pandangannya berkunang-kunang saat Bokuto dengan santai menurunkannya. Wajah ketakutannya justru menjadi hiburan orang-orang lain yang datang bersama Bokuto. Begitu penglihatannya pulih, Hinata berlari menghampiri Akaashi dan memeluknya erat-erat sambil bersembunyi di balik punggung mentor alto-nya dengan tangan gemetar dan mata berkaca-kaca.

"Muka paniknya lucu parah!" Atsumu dengan suara tertawa ala lengkingan rubahnya masih terpingkal-pingkal. "Bokkun tega banget!"

"Gendong anak orang kayak gendong anak kucing!" Kuroo juga masih tertawa jahat.

"Habis dia kecil banget, nggak kayak anak SMA!" Oikawa menyahut sambil mengelap airmata di sudut matanya. Ia bahkan tertawa sampai menangis.

"Kalau aku yang digituin juga, aku pasti teriak." ujar Yachi muram.

"Yacchan mau digendong juga?" Lev yang selalu gagal baca situasi menarik tangan Yachi. "Sakussan, ayo bantu aku!"

"Jangan macam-macam, bocah tidak berakhlak!" Yaku datang dan menendang tulang kering Lev sampai pemuda blasteran jangkung itu mengaduh kesakitan dengan dramatis. "Bokkun juga, sini! Jangan kasih contoh yang nggak baik sama anak kelas 1!"

"GYAAA! AMPUN BUNDA, AMPUUUN!"

Adegan Yaku dan Bokuto kejar-kejaran di pekarangan depan sekolah menjadi bahan tontonan anak-anak lain, tapi tampaknya para anggota mukre yang lain tidak peduli. Akaashi membantu menenangkan Hinata dan meminta maaf atas nama Bokuto dan kejahilannya tadi. Hinata hanya mengangguk kaku.

"Chibi-chan, ikut kita makan, yuk!" ajak Oikawa. "Yacchan sama Lev juga ikut!"

Hinata melihat gerombolan anak mukre yang bergabung dengannya. Ada Akaashi, Sakusa, Oikawa, Lev, Yachi, Atsumu, Kuroo, dan juga Yaku dan Bokuto yang akhirnya berhenti kejar-kejaran. Bokuto habis kena hukuman dari bunda Yaku karena berani menjahili Hinata.

"Eh? Nggak semuanya ikut?" tanya Hinata lagi.

"Anak kelas 3 kebanyakan sedang proses talent scouting." Kuroo menjelaskan. "Mereka banyak yang tidak bisa ikut. Jadwalku minggu ini sudah beres."

"Oh, iya. Kuroo-san nggak latihan waktu itu." Hinata mengangguk. "Kenapa Bokuto-san, Yaku-san dan Oikawa-san bisa ikut?"

Bokuto melicinkan kemejanya yang tadi dijambak Yaku saat adegan kejar-kejaran-lalu-cubit-tendang-jitak. "Talent scouting-ku besok."

"Aku lusa." timpal Oikawa.

"Bunda?" tanya Lev tiba-tiba sambil menoleh pada Yaku.

"Heh, talent scouting kok ngantri? Kayak orang susah." Yaku mengibaskan rambutnya dan berpose sombong.

"Iya, he'eh. Iya..." Kuroo membuat nada bicaranya seperti terpaksa memaklumi. Ia menyembah-nyembah bet merah berbordir yang dikaitkan di lengan seragam Yaku dengan kancing khusus. "The power of red armband."

"Dengan kekuatan orang dalam, aku diterima di Jurusan Teknik Industri EJP!" timpal Oikawa dengan maksud sarkasme.

Hinata menatap Akaashi dan Sakusa yang dinilainya agak lebih waras dari senpai yang lain. "Aku nggak ngerti, Akaashi-san."

"Jadi, di sekolah kita kalau kau jadi anggota OSIS, kau akan sedikit istimewa." jelas Akaashi. "Karena OSIS adalah pengurus kegiatan sekolah, biasanya mereka didahulukan dalam kegiatan akademik seperti kuis harian dan UTS. Keuntungan terbesarnya, pada saat kelas 3 namamu akan didahulukan untuk kegiatan talent scouting."

"Jadi bunda udah dapet tempat mau kuliah dimana?!" tanya Lev penuh semangat.

"Hohoho, tentu saja~~" Yaku yang semakin besar kepala tertawa hiperbolik.

"Karena namamu keluar duluan, hasilnya juga bisa keluar lebih cepat..." Yachi merenung. "Keren juga, ya..."

"Tapi pada saat sekolah mengadakan festival olahraga, festival budaya, wisuda, tahun ajaran baru, ospek anak kelas 1 dan hari ulang tahun sekolah, kau bakalan kerja rodi." imbuh Sakusa muram.

"Dinikmati saja hari-hari terakhir jabatanmu, Oni-senpai..." Atsumu menepuk dada. "Kayaknya armband merah itu lebih cocok aku yang pakai. Aku sudah siap menggantikanmu kapan saja!"

"Atsumu-san mau jadi ketua OSIS?" tanya Hinata polos.

"Nggak mungkin." Oikawa mencibir. "Kalau kau jadi ketua OSIS, siapa yang jadi ketua mukre tahun depan?"

"Kan masih ada Omi-omi!" jawabnya tanpa dosa.

"Mana bisa bendahara merangkap ketua, bodoh." sembur Sakusa.

"Bermimpilah sekenyangmu, Atcchan." Akaashi tertawa rendah seperti penjahat dalam serial anime. "Kalau aku yang maju jadi ketua OSIS, kau harus jadi ketua mukre, ya."

"Akaashi-san mau maju jadi ketua OSIS?!" Yachi, Lev dan Hinata berteriak bersamaan.

Akaashi mengangguk. "Semua anak kelas 2 sudah diminta mengajukan form bagi yang berminat. Aku bahkan baru tahu kalau rubah licik ini mencalonkan diri."

"Jadinya kinky banget nggak sih, kalau Akaashi yang jadi ketua OSIS?" Kuroo menyeringai jahil. "Apalagi kalau dia nanti bermode galak kayak Yaku juga?"

"Mukanya lebih judes dari Yaku-san. Jangan-jangan ospek tahun depan anak-anak kelas 1 malah dipecut lagi sama dia." Atsumu menyeletuk.

"Pecut aku dengan sepenuh cinta, Akaashi-senpai~~" Kuroo menyahut dengan nada mendesah manja.

"Apalagi kalau baris komando, kan ketua OSIS yang harus lari paling depan..." Kuroo menambahkan. "Nanti anak-anak cowok pada semangat ambil barisan paling depan. Lihat pemandangan. Bumi gonjang-ganjing, oppai Akaashi-senpai memberontak minta keluar dari kancing!"

"Oyaaa..." Bokuto membalas dengan nada khasnya yang terdengar begitu...umm...entahlah. Terdengar seperti karakter licik tukang bikin onar yang selalu ada di serial dorama. Akaashi cuma bisa geleng-geleng kepala dengan wajah lelah, seakan sudah muak dengan segala bercandaan tidak senonoh soal bentuk tubuhnya yang aduhai.

"Heh, dasar cowok-cowok nggak ada adat! Bisa-bisanya bercanda jorok di depan kouhai cewek!" omel Oikawa sambil mencubit Bokuto dan Atsumu. Kuroo dapat ekstra tendangan melintir ala gerakan taekwondo di pinggang dari Yaku.

"Jadi kalian mau makan kemana?" Sakusa menyela bercandaan tidak senonoh soal Akaashi.

"Bebas, sih. Aku laper, jadi mana aja oke." jawab Bokuto santai.

"Sama." jawab Kuroo, Lev dan Oikawa bersamaan.

"Anak kelas 1-nya gimana?" tanya Sakusa.

"Aku nggak bisa makan udang!" Yachi berseru. "Mana aja asal nggak makan udang, aku oke."

Sakusa menoleh, lalu menggumam pelan tidak jelas sampai akhirnya ia memisahkan diri dari gerombolan. Akaashi dan Atsumu ikut pergi, disusul Bokuto yang merengek tidak mau ditinggal. Hinata menunggu bersama Kuroo, Oikawa, Lev, Yaku dan Yachi.

"Kemana mereka?" tanya Lev.

"Ambil kendaraan." jawab Oikawa singkat. "Mereka bertiga bawa kendaraan ke sekolah."

Tak lama, sebuah sedan hitam metalik nan mewah meluncur dengan anggun dan berhenti beberapa meter di dekat gerbang sekolah. Akaashi datang bersama Bokuto mengendarai motor sport putih gahar, disusul Atsumu dengan motor kopling merah-hitam dan wajah tertutup helm full face.

"Kenapa Bokuto-san yang dibonceng?" Hinata cuma bisa sweatdrop melihat tingkah si ketua mukre.

"Mana bisa dia bawa motor." Oikawa mendecih halus sambil membuka pintu mobil Sakusa. "Let's go."

Mobil Sakusa merupakan tipe city car dengan satu banjar jok belakang. Setelah ditata sedemikian rupa, Lev terpaksa duduk di depan. Oikawa, Yachi dan Yaku duduk di belakang. Kuroo dan Hinata saling berpandangan, berpikir bagaimana caranya bisa memuat mereka berdua dengan ruang sesempit itu.

"Hora, Lev! Bangkunya jangan mundur-mundur banget!" Oikawa mulai mengomel. "Aku kejepit, nih!"

"Sempit tahu, Oikawa-paisen!" Lev balas mengeluh. "Tempat makannya jauh, nggak? Kalo cuma sebentar sih nggak masalah, kan?"

"Lumayan." jawab Sakusa. "Masih muat satu orang lagi. Yang nggak kebagian jok naik motornya Miya."

"Shoyo aku bonceng aja, sini!" Atsumu membuka kaca helmnya dan sontak menawarkan.

"Heh, nggak ada otak! Cewek pake rok pendek begitu mau kau suruh ngangkang-ngangkang naik motor?" omel Yaku. "Kuroo, turun sana. Biar Hinata yang naik mobilnya Omi."

"Nggak mau." Kuroo mengeluh sambil melangkah masuk dan duduk tanpa rasa bersalah pada sisa ruang di jok belakang mobil Sakusa. "Myaa-tsum bawa motornya sembarangan. Kalau nggak muat bunda aku pangku aja, ya?"

Menyadari bahwa Sakusa menggeram rendah seraya melempar tatapan benci lewat pantulan kaca spion padanya begitu mendengar candaan tersebut, Kuroo berseru pada Lev.

"Lev, turun gih." Kuroo memilih menggunakan alasan senioritas kali ini karena tak ingin pergi naik motor. "Masa senpai yang harus ngalah?"

"Nggak mau, udah pewe!" Lev mengencangkan sabuk pengamannya.

"Daijobu. Aku bakalan naik motor aja." jawab Hinata diplomatis.

"Nggak, nggak. Nanti rokmu kelihatan kemana-mana! Ini yang cowok-cowok pada nggak mau ngalah, heran..." omel Yaku.

"Buruan, elah! Mau pergi makan aja drama! Laper, tau!" omel Bokuto dari motor sebelah.

"Daijobu." Hinata mengulum senyum, berusaha meyakinkan Yaku bahwa pergi naik motor dengan rok seragam bukanlah perkara besar.

"Atsumu, jangan ngebut bawanya, ya!" Yaku mengecam.

"Siap, bunda!" balas Atsumu. "Tenang aja. Aku akan menjaga Shoyo dengan nyawaku!"

"Aaaaaawww..." Lev, Kuroo, Yaku dan Yachi yang mendengar kalimat itu menggumam kagum.

"Uwwu banget sih Tsum-tsum..." Bokuto menimpali.

"Bisa aja jebakan gombalnya, dasar gayung WC umum." Sakusa menutup kaca jendela mobilnya dan meluncur pergi, disusul Akaashi-Bokuto.

Hinata menghampiri Atsumu dan tersenyum sopan. Ia menginjak pedal belakang dan susah payah memanjat naik ke jok penumpang dan memperbaiki posisi duduknya yang sedikit menukik agar lebih aman dan nyaman.

"Udah?" tanya Atsumu.

Hinata mengangguk. Atsumu mulai meraungkan gas perlahan dan meluncur pergi menyusul anak-anak lain.


Harusnya Hinata lebih memperhatikan ucapan Yaku. Dan juga alasan Kuroo begitu bersikeras tidak ingin dibonceng Atsumu.

Pemuda berambut undercut semiran ini bukan pengendara motor yang tenang. Ia senang ngebut, sering ngerem dadakan, sering membuat belokan dan maneuver nekad seakan-akan dirinya adalah pembalap motoGP. Hinata yang belum pernah dibonceng dengan motor kopling sebelumnya dibuat ngeri setengah mati. Pasalnya, jok penumpang motor kopling tidak senyaman dan se-stabil motor matic atau vespa. Pergerakan oleng sedikit saja sensasinya sudah seperti mau jomplang. Dan bukannya merasa bersalah, cowok bermarga Miya itu malah tertawa lepas seakan segala tindakan sembrononya itu sangat menyenangkan. Apanya yang dijaga pakai nyawa? Begitu rutuk Hinata dalam hati. Kalau saja Hinata tidak ingat Atsumu adalah kakak kelasnya, ia pasti sudah menempeleng kepala Atsumu sejak tadi.

Tempat makan yang mereka tuju merupakan rumah makan yang terbilang besar dan sangat ramai. Harum masakan menguar kuat ketika mereka melangkah masuk. Daftar harga tertera di papan besar yang dipaku ke tembok. Kisaran harganya 300 sampai 850 yen. Terbilang murah, begitu Hinata melirik meja lain. Makanan yang dihidangkan warung ini tampaknya enak. Atsumu menepuk pundak Hinata dan mengajaknya menghampiri meja panjang dimana anak-anak lain sudah ada disana.

"Mau makan apa?" tanya Oikawa.

"Yang biasa." jawab Atsumu. Ia mempersilahkan Hinata masuk duluan ke area bangku panjang yang mereka tempati supaya Atsumu bisa duduk di pinggir. "Sayang, mau makan apa?"

"Hah?" Hinata terperangah bingung sekaligus salah tingkah karena tiba-tiba dipanggil sayang. "Ah...mmm..."

"Dih, belum lama kenal udah 'sayang-sayang' aja." Cibir Oikawa.

"Tooru-paisen jangan cemburu gitu, dong. Iri ya, nggak pernah 'Tsumu panggil sayang?"

"Hih. Nggak butuh juga dipanggil sayang sama biawak rawa macam kau." balas Oikawa.

"Buset, ganteng begini dibilang biawak rawa!" Atsumu menyeru sewot. "Bunda, Tsumu di-bully! Tooru-paisen kurang perhatian tuh, makanya sok-sok godain 'Tsumu."

"Udahlah, Atsumu. Nggak usah berlagak jantan." timpal Yaku pedas. "Cowok beneran tuh mulutnya nggak julid!"

"Tuh, kan. Kalau Omi yang julid bunda pasti belain. Coba kalau aku..." Atsumu memasang muka merajuk palsu. "'Tsumu lagi,' Tsumu melulu, 'Tsumu terus yang tersakiti."

"Lebay elah, dasar raja drama!" Sembur Sakusa, Yaku, Akaashi dan Oikawa bersamaan. Bokuto malah tertawa lepas seakan menjahili Atsumu sampai wajahnya kusut begitu merupakan hiburan kelas atas.

"Ah, anak kelas 1 nggak ada bahan buat diledek, sih." Oikawa mengeluh. "Nggak asyik."

"Ada, kali." sahut Yaku. "Itu, siapa yang bongsor dan jambulnya kuning?"

"Koganegawa?" jawab Hinata, Lev dan Yachi bersamaan.

"Eh, kenapa dia nggak diajak?" tanya Bokuto.

"Udah." Lev menukas. "Tapi dia nggak mau ikut karena Sakunami nggak ikut. Dia keukeuh mau nganterin Sakunami pulang."

"Saku-chan udah nggak pake kruk, kan?" tanya Hinata.

Lev menggeleng. "Jalannya masih pincang dan masih nggak bisa ikut kelas olahraga. Kata dia, ada dua kali jadwal terapi lagi."

"Kenapa emang itu anak?" tanya Atsumu setengah acuh.

"Pergelangan kakinya terkilir." jawab Lev.

"Terus, si jambul kuning itu yang nganterin dia pulang?" tebak Oikawa. "Mereka pacaran, ya?"

"Aminin aja dulu." jawab Hinata. "Kayaknya Kogane naksir Saku-chan, sih. Saku-chan juga responnya oke."

"Lucu banget tau kalau mereka pacaran..." Yachi menggoyangkan kedua kepalan tangannya menahan gemas.

"Yacchan punya pacar, nggak?" tanya Oikawa dengan nada menggoda.

"Punya." jawab Yachi santai. "Beda sekolah, tapi."

Lalu Yachi habis diinterogasi oleh anak-anak kelas 2 dan 3 perihal pengakuannya soal pacar yang ada di sekolah lain. Namanya Yamaguchi Tadashi, dan terlihat seperti cowok normal baik-baik kalau dari postingan foto mereka berdua di instagram Yachi. Lev dilongkap secara sengaja oleh Yaku, dan Oikawa berpendapat dengan gamblang kalau bocah petakilan macam Lev mana kepikiran soal pacar-pacaran.

"Kalau chibi-chan?" Oikawa melirik Hinata. Ia berseru senang saat pesanannya tiba.

"Tooru-paisen nggak tahu kalau Shoyo udah punya pacar?" tanya Atsumu.

"Kau tahu memangnya?" tanya Bokuto polos.

Atsumu menyisir poninya dengan pose gagah ke belakang dan mengulurkan tangannya dengan bangga. "Kenalin, calonnya Shoyo."

"Hih?!" Hinata berjengit. "Calon apaan?"

"Ih, kamu kok gitu, sayang?" Atsumu memelas. "Kan kemarin kita udah kirim blanko ke pencatatan sipil. Papa-mamaku udah ngelunasin biaya catering kondangan kita nanti, lho."

"Tsum-tsum pede banget, anjir." Bokuto menyeletuk di sela kunyahan nikmat santapannya. "Padahal Hinata belum tentu mau sama yang jamet banyak tingkah kayak dia."

"Kan dia cuma bilang calon, Bokuto-san. Bisa jadi calon apa saja." Akaashi menanggapi dengan santai sambil mengaduk-aduk serbuk cabai ke dalam ramen pesanannya. "Misalkan, calon mantan."

"PFFT!"

"BUWAHAHAHAHAHAHAHA!"

Tawa membuncah di meja itu, dan Atsumu menjadi satu-satunya yang tidak tertawa atas penuturan Akaashi. Bahkan Sakusa yang terlihat angker saja cuma bisa menunduk dengan bahu berguncang-guncang.

"Ngenes banget, ngakak!" Oikawa berseru histeris di sela tawanya yang tak bisa terkendali. "Calon mantan nggak, tuh!? Belum jadian malah langsung udahan itu gimanaaaa!?"

"Akaashi-san lucu, ya!" Lev menanggapi. Tawanya heboh sampai menggebrak-gebrak pelan meja makan mereka.

"Heh, Omi-san! Kalau ketawa tuh ada suaranya!" Hinata menegur Sakusa yang masih bergolak-golak seakan tidak bisa tertawa lepas.

"Ehem...ehehe..." hanya deheman singkat beriring senyuman tipis dan kekehan lirih yang terlihat ketika Sakusa menurunkan tangannya dari mulut ketika ia tertawa. Ia mengulurkan gelasnya yang kosong pada Bokuto yang paling dekat dengan teko teh. "Bokuto-san, tolong minum, dong."

Hinata terdiam seketika. Sakusa terkenal judesnya bukan main. Mana pernah ia melihat si bendahara mukre tertawa, tersenyum saja boro-boro. Jahat memang, kalau tadi alasannya tersenyum adalah karena menjahili Atsumu. Tapi siapa yang sangka kalau Sakusa Kiyoomi yang ketus itu kalau tersenyum ternyata sangat...sangat...ehm. Hinata memilih membuang muka sambil menggaruk tengkuk, salah tingkah sendiri karena senyuman Sakusa terlihat begitu lembut dan indah.

"Psst, Hinata..." bisik Yachi sambil mendekat. "Sakusa-san kalau senyum ganteng banget, ya..."

Hinata mengangguk pelan.

"Udah mah kaya, tinggi, ganteng...kayaknya dia anak pintar, sih. Aku pernah lihat ia mengoreksi PR fisikanya Futakuchi-senpai waktu latihan mukre." imbuh Yachi.

"Damage-nya nggak ngotak, kalau kata Kenma-san." Hinata mengangguk lagi.

"Heh? Hinata main sama Kenma-san juga?" tanya Yachi terkejut mendengar kedekatan Hinata dengan para senpai.

"Aku nggak sengaja dengar dia pernah ngomong begitu." Bisik Hinata.

"Deketin aja." Yachi mengedip genit.

Hinata membelalak, mengucapkan 'Udah gila, apa?' dengan gerakan bibir tanpa suara.

"Sakusa-san, punya pacar, nggak?" tanya Yachi gamblang tanpa mempedulikan kode dari Hinata.

"Wooii!" Oikawa, Bokuto, Akaashi dan Atsumu menyahut bersamaan.

Sakusa tampak kaget mendekat pertanyaan dari si adik kelas. Hinata dan anak-anak kelas satu lain tampak berharap dengan jawaban Sakusa. Namun si pemuda berambut hitam bergelombang itu cuma menatap gelas tehnya dan merenung lama.

"Aku...memang punya seseorang yang kusuka." jawabnya jujur. "Tapi aku nggak tahu apakah orang itu suka padaku juga atau tidak."

"Apakah Sakusa-san sudah mencoba bilang?" tanya Hinata.

Sakusa cuma menggedikan pundaknya. "Kupikir orang yang kusuka belum siap punya hubungan. Jadi, aku akan menunggunya saja."

Hinata dan Yachi saling bertatapan.

"Memangnya nggak sakit apa, jatuh cinta sendirian?" tanya Hinata sedih.

"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya..." Sakusa terdiam, lalu kembali menggedikkan bahunya. "Yaudah lah, ya."

Jawaban yang begitu mengambang. Melihat kepribadian Sakusa yang begitu tertutup dan ia bisa berkata seperti itu, mungkin ia benar-benar sangat mencintai orang yang dia sebutkan tadi. Orang macam apa yang Sakusa sukai dan seperti apa Sakusa memandang orang itu?

Jatuh cinta sendirian.

Hinata tiba-tiba teringat Patrick-nya. Hoshiumi memang merespon sikapnya dengan baik. Tapi, Hinata selalu dilanda keraguan. Ia takut, seperti takut orang-orang tahu dan meledeki mereka berdua. Ia takut Hoshiumi menjauhinya karena hal itu. Ia takut sikapnya sebenarnya membuat Hoshiumi tidak nyaman, namun pemuda mungil itu diam-diam enggan bilang karena tak ingin menyakiti Hinata.

Hoshiumi adalah pemuda yang sangat istimewa bagi Hinata. Ia manis, imut, dan bisa terlihat keren sekaligus. Pribadinya riang dan hangat. Sejauh ini sifatnya sangat positif, meski sekali dua kali ia marah kecil karena habis di-bully pada saat latihan mukre. Tetapi ia tidak pernah tersinggung atau murka. Ada saja tingkahnya yang membuat Hinata semakin suka. Seperti saat pipinya memerah kala Hinata memohon kepadanya untuk mengajarinya lagu once upon a December lewat metode hearing-tuning. Bagaimana ekspresi senang yang tidak bisa disembunyikannya kala Hinata memanggilnya Patrick karena berkaitan dengan kanji marga Hoshiumi. Bagaimana ia tidak sadar kelepasan mengirim pesan kalau Hoshiumi tidak ingin memperkenalkan Hinata pada kawan-kawan akrabnya karena tidak ingin Hinata ditaksir salah satu dari mereka.

Ia suka. Tapi di satu sisi, ia takut. Ia ingin bersama Hoshiumi terus-menerus. Tapi di satu sisi ia juga tidak ingin selalu bersamanya karena merasa takut membebani. Hinata ingin terus menyanyi bersama Hoshiumi, tapi ia takut tidak bisa setara dengannya. Hoshiumi pernah bilang secara tersirat kalau dia belum punya pacar. Tapi pemuda mungil berambut putih itu belum memberikan kemajuan pergerakan dalam hubungan mereka. Hinata ingin sekali mengungkapkan perasaannya, tapi di sisi lain ia takut Hoshiumi mungkin belum siap punya hubungan cinta.

Semakin suka, semakin banyak ketakutan yang datang menghantui.

Apa itu juga bisa dikatakan jatuh cinta sendirian?


"Hari ini, kita akan belajar teknik vokal yang lebih advanced—"

"Semi-san!" Koganegawa mengangkat tangan. "Ada anak kelas 1 yang nggak lulus, nggak?"

Semi menarik nafas pendek, berusaha memperpanjang batas kesabaran karena penjelasannya dipotong tanpa permisi. Yaku yang kebetulan berdiri di dekat Koganegawa mencubit lengannya keras-keras.

"Jangan memotong pembicaraan Semi-san! Dan jangan mengajukan pertanyaan kalau tidak diminta!" omelnya tanpa belas kasihan.

"IYA, AMPUN BUNDA! AMPUN, BUNDA! KOGANE SALAH! SUMIMASEN!" Koganegawa berteriak kesakitan.

Semi berdehem dan mengangguk pada Yaku sebagai ucapan terima kasih atas tindak pendisiplinan dari sang wakil ketua mukre.

"Vibrato." ujar Semi sambil menulis di papan tulis besar-besar. "Anak-anak kelas 1, kalian harus tahu betapa cempreng suara kalian begitu nyanyi tanpa bantuan para senpai. Nggak ada dimensi. Nggak ada stabilitas. Nggak ada karakter suara yang cukup untuk menghidupkan lagu. Karena, kalian semua kekurangan apa itu yang namanya vibrato. Apa itu vibrato?"

Semi kemudian menggambar satu garis lurus dan gelombang naik turun yang tidak terlalu jauh dari garis lurus tersebut.

"Secara teori, vibrato adalah getaran yang terjadi dari dua pitch yang berbeda yang terjadi selama terus menerus; dan jenis variasi pitch tersebut terjadi akibat perubahan tekanan suara dari diafragma dan pita suara. Perubahan pitch tersebut tidak cukup besar sampai merubah not fundamental, tetapi kita membawa pitch tersebut untuk bergerak naik turun disekitar titik tengah." Semi kemudian duduk di kursi pemain piano dan memainkan satu nada acak. "Hinata, coba nyanyikan bait pertama lagu the sound of music. Satu, dua, tiga, empat, satu..."

Semi memainkan sedikit intro dari lagu tersebut. Hinata mendengarkannya baik-baik dan menyanyikan bait yang diminta.

"[My day in the hills has come to an end, I know]."

Semi kemudian memainkan nada yang sama. "Hoshiumi, di bait dan not yang sama. Satu, dua, tiga, empat, satu..."

"[My day in the hills has come to an end, I know]."

Semi tersenyum kecil. "Terdengar dimana perbedaannya?"

Kageyama mengangkat tangannya. "Lebih berbobot suaranya."

Lev ikut menyahut. "Seperti bergaung-gaung gitu suaranya."

"Terdengar lebih nyaman." Shibayama menjawab juga. "Maksudku, pembawaan lagunya terdengar lebih nyaman. Bukan berarti Hinata menyanyi dengan jelek."

"Nggak, Hinata menyanyikannya dengan not yang benar. Hanya saja, bukan dengan pitch yang baik." Semi menegaskan. "Vibrato berperan besar dalam memberikan vocal freedom. Vibrato membuat suara menjadi elegan. Vibrato menambah elemen dalam lagu dan menambah emosi dalam suara penyanyi. Kalau kita bicara soal musik pop apalagi hip-hop, vibrato nggak terlalu dibutuhkan. Tetapi soal paduan suara klasik, broadway, RnB, opera dan pagelaran musik klasik lain, kalian sangat-sangat butuh vibrato."

"Bukankah vibrato itu sesuatu yang keluar dengan sendirinya, seperti setelah latihan tekun suara kita akan punya vibrato?" tanya Sakunami dengan polosnya.

"Very good question!" Semi berseru. "Kebanyakan vocal coach nggak banyak bahas soal ini karena vibrato adalah hal yang terjadi secara alamiah sebagai akibat dari kebiasaan vokal dasar yang baik, seperti breath support, singing stance, tone dan lainnya. Vibrato lebih seperti ayunan golf—setiap orang akan memiliki cara yang berbeda-beda, tergantung mana yang paling nyaman dan terbaik untuk mereka. Namun hal ini bukan berarti vibrato adalah sesuatu yang terjadi secara ajaib. Vibrato adalah sesuatu yang bisa dipelajari, dikendalikan kapanpun saat dibutuhkan. Sampai sini paham?"

"Hai!" Jawab mereka semua serempak.

"Latihan. Latihan. Latihan. Aku tidak akan bosan mengingatkan bahwa latihan adalah kunci agar suara kalian bisa berkembang menjadi lebih baik. Pita suara adalah serangkaian otot dan jaringan sendi lunak, yang bisa dikendalikan dan dilatih selayaknya otot lain dalam tubuh kita. Ada 3 latihan yang bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan vibrato dalam suara kalian. Dibutuhkan vocal dexterity—dimana semakin lincah pita suara kalian dalam merenggang dan menegang, semakin fleksibel pula jangkauan nada dan jenis suara yang bisa kalian nyanyikan." Semi mendentingkan serangkaian nada. "Latihan untuk menambah vocal dexterity di daerah pita suara. [Mi-Mi-Mi-i-i-i-i-Mi-Mi]. Untuk yang cowok, nada dasarnya di E3, [Mi-Mi-Mi-i-i-i-i-Mi-Mi. Untuk yang cewek, nada dasarnya di C4, [Mi-Mi-i-i-i-i-Mi-Mi]. Singing stance, please! Satu, dua, tiga, empat, satu!"

"[Mi-Mi-Mi-i-i-i-i-Mi-Mi]."

Rangkaian nada lucu itu perlahan-lahan bergeser naik, lalu bergeser turun. Bergeser naik lagi seperti awal namun dengan tempo yang lebih cepat, begitu pula saat bergeser turun. Lambat laun cepat sekali sampai bibir Hinata terasa terserempet. Semi melambatkan kembali tempo permainan nadanya ke semula sebelum kembali dipercepat dan diperlambat, dinaik dan turunkan. Lama kelamaan, Hinata mulai merasa bagian sisi lehernya menegang. Begitu ia membuka mulut, ada perasaan lenting pelan di sekitar sisi dagunya. Namun, bagaimana ia menyanyikan nada [Mi-Mi-Mi-i-i-i-i-Mi-Mi] itu mulai terasa nyaman. Ia merasakan gema di kerongkongannya.

Takut-takut, Hinata melirik Hoshiumi yang berjarak dua orang dari tempatnya berdiri. Pemuda bernetra giok itu menoleh. Hinata hanya melemparkan ekspresi bertanya dan Hoshiumi tersenyum membentuk lingkaran dengan telunjuk dan jempol tangan kanannya—isyarat kalau semuanya oke. Hinata mengangguk kecil, sedikit merasa tenang.

"Yang kedua, adalah latihan untuk membuka diafragma. Fungsinya, meningkatkan vocal dexterity dari daerah diafragma." Semi kemudian memainkan satu nada secara statis. "[hi-hi-hi-hi-hi-hi-hi-hi-hi-hiiiiiii]. Nyanyinya, secara staccato. Pitch yang kalian nyanyikan dalam staccato secara otomatis me-reartikulasi pergerakan pita suara, dan juga memberikan tarikan tenaga dari diafragma. Dan reartikulasi ini, jika bisa kalian kendalikan dalam gerakan yang cepat, memudahkan kalian memiliki kendali penuh dalam produksi vibrato. Singing stance, please! Satu, dua, tiga, empat, satu. [Hi-hi-hi-hi-hi-hi-hi-hi-hi-hiiiiiii]."

Latihan ini lebih sulit dari yang pertama. Hinata, Tsukishima dan Shibayama habis tertawa terpingkal-pingkal bagaimana Koganegawa menyanyikan staccato sampai hidungnya kembang kempis. Bahkan para senpai yang lain juga tidak bisa menahan tawa. Semi menghantamkan jari-jarinya ke tuts piano dengan geram, menciptakan bunyi sumbang menakutkan yang membuat Atsumu refleks berjongkok sambil memegangi kedua telinganya.

"Singing stance, please." Ujarnya dingin. "Satu, dua, tiga, empat, satu."

"[Hi-hi-hi-hi-hi-hi-hi-hi-hi-hiiiiiii]."

"GYAHAHAHAHAHAHAA!"

Lagi-lagi, fokus latihan pecah. Kali ini Hinata, Lev, Tsukishima, Atsumu, Futakuchi, Bokuto dan Kenma yang gagal menahan tawa. Penyebabnya masih wajah tegang Koganegawa yang hidungnya kembang kempis tak karuan saat menyanyikan nada dalam staccato. Semi mendengus kesal.

"Yang ketawa, TURUN!"

Hinata terhenyak kaget mendengar bagaimana Semi berteriak. Bukan, bukan suara teriak merdu seperti saat sang pengajar mukre menginterupsi ujiannya dalam lagu Famous Last Words. Tapi teriakan penuh kemurkaan yang bahkan sanggup membuat semua anak tertunduk ketakutan. Anak-anak kelas 2 dan 3 yang paham dengan instruksi Semi langsung membungkuk dengan dagu nyaris melekat ke dada. Kedua tangan menyentuh ujung sepatu.

"Anak kelas satunya, tolong ikutin para senpai." ujar Oikawa memberi tahu. "Lanjutkan latihannya seperti biasa. Jangan berdiri sampai Semi-san bilang naik."

Meski tidak mengerti hukuman macam apa yang diberikan Semi. Wajah Atsumu dan Bokuto sudah terlihat kesal begitu mereka mempraktekkan pose tersebut. Tsukishima melepas kacamatanya sebelum menunduk.

"Singing stance, please." Semi kembali menaikkan nada latihannya satu not. "Satu, dua, tiga, empat, satu."

"[Hi-hi-hi-hi-hi-hi-hi-hi-hi-hiiiiiii]."

Hei, hei. Tunggu...

Begitu menyanyikan nada dengan pose seperti ini, kepalanya terasa berdentum-dentum. Telinganya pengang. Suaranya jadi sulit keluar, dan Hinata berusaha memperkeras suaranya namun tidak terdengar banyak perubahan. Sensasi kesemutan perlahan-lahan menggelitik belakang lututnya, lalu naik ke panggul, pinggang dan punggungnya, kemudian berkumpul di lehernya. Semi mulai menaikkan satu not lagi dalam nada latihan mereka, namun belum ada perintah naik. Hinata melirik kanan-kirinya. Kenma sudah mulai gemetaran. Lev mulai menyanyi dengan mata terpejam erat. Para senpai yang lain masih bisa bernyanyi normal. Begitu notnya naik lagi, wajah Bokuto memerah seperti kepiting rebus. Futakuchi menggemelutrukkan rahangnya seakan berusaha melemaskan otot-otot di bawah dagunya. Hinata mulai merasa pandangannya berkunang-kunang. Semakin ia bertahan dengan posisi ini, sakit kepala dan beragam rasa tak nyaman di tubuh mulai semakin nyata. Gravitasi seakan menarik semua darahnya sampai ke ubun-ubun, membuat tubuhnya terasa berat dan...

BRUK!

Begitu mengerjapkan mata, Hinata melihat garis-garis ubin lantai di sisi wajahnya. Samar-samar ia melihat dua buah tangan menjangkaunya, dan satu tangan kecil bergerak mendongakkan kepalanya, menahan dagunya dengan lembut. Begitu pandangannya kembali pulih, Hinata melihat Sugawara dan Hoshiumi berada di sisi tubuhnya masing-masing. Tampaknya dua orang itu adalah yang berusaha menjangkau Hinata agar tidak tumbang.

"Lemaskan pundakmu, sunshine." Hoshiumi dengan begitu halus dan pelan memberikan instruksi. "Hitung sampai 30 dalam hati, ya."

Hinata tidak bisa menjawab. Sugawara hanya membantu Hinata untuk duduk berselunjur dengan kaki rapat dan lurus. Hoshiumi kemudian menurunkan dagu Hinata perlahan dan memutar kepalanya ke kanan dengan 30 hitungan, dan ke kiri 30 hitungan lagi.

"Naik!" Titah Semi.

Yaku mengoperkan sebotol air pada Hoshiumi. Ia membukanya dan menyodorkannya ke bibir Hinata.

"Minum pelan-pelan, ya." ujarnya sambil menuntun Hinata untuk minum air putih.

Atsumu, Bokuto menegakkan badan mereka pelan-pelan sekali Futakuchi masih membungkuk memijat tengkuknya sebelum berdiri dengan hati-hati. Kenma menggapai-gapai meja dan duduk bersandar sembarangan, sementara Lev langsung tersungkur jatuh kembali saat berhasil berdiri. Tsukishima sempoyongan ketika beusaha naik, dan dengan panik menjambak lengan Sakunami yang tak cukup kuat menopangnya. Beruntung, Sakusa dan Kageyama sempat menangkapnya sebelum gadis pirang jangkung itu terjerembab jatuh. Oikawa dan Yaku menjadi tim siaga membantu siapa saja yang babak belur atas hukuman Semi.

"Kalian semua, terutama anak kelas 1. Tolong dengar baik-baik." Yaku berseru. "Posisi yang tadi kalian lakukan untuk hukuman, namanya sikap tobat. Untuk hari ini, semua anak kelas 1 yang jatuh masih kami tolong. Untuk seterusnya, jangan harap kami berbaik hati! Lihat para senpai kalian! Mereka semua bangun sendiri!"

"Kenapa diperlakukan hukuman seperti itu?" tanya Yachi bingung.

"Hukuman sikap tobat adalah cara paling efektif mendisiplinkan penyanyi paduan suara. Peringatan paling keras untuk tidak membuang waktu dan tenaga untuk hal yang tidak perlu saat kalian latihan." jelas Kita dengan tenang.

Hinata tidak terlalu mendengarkan penjelasan Kita. Ia minum dengan kalap sampai tersedak. Batuk-batuk kecil, serta sepercik air masuk ke hidungnya. Sisanya tumpah ke dagu dan kemejanya. Hoshiumi dengan lembut menyeka mulut dan dagu Hinata dengan tangan kosong.

"Kan dibilang pelan-pelan minumnya..." ucapnya memperingatkan, namun nadanya sehalus beledu. "Udah nggak pusing?"

Hinata mengangguk pelan. "Gomenne, Patrick. Aku jadi nyusahin. Aku nggak bermaksud mengacaukan latihan."

"Daijobu." Hoshiumi mengulum senyum. "Salah dalam belajar itu normal. Tetapi tidak fokus dalam latihan itu adalah perbuatan yang tidak sopan. Kita tidak boleh menyia-nyiakan usahamu, waktu Semi-san dan durasi latihan kita."

Mendengar nasehat Hoshiumi yang dituturkan dengan begitu tenang malah membuat Hinata merasa tertampar. Ia menunduk malu dan menggosok matanya dengan kasar. Ia berusaha menahan tangis. Entah kenapa, ia merasa kesal dengan dirinya sendiri.

"Yuk, latihan lagi." Hoshiumi mengulurkan kedua tanganya pada Hinata yang masih terduduk. "Setelah dihukum, harus makin semangat latihannya ya, sunshine!"

Hinata meraih kedua tangan ramping yang kecil itu. Telapak tangan Hoshiumi hanya sekitar seperempat kali lebih panjang dari miliknya. Kedua tangan itu menariknya sampai berdiri dan Hinata memaksa dirinya untuk tersenyum. Hoshiumi mengguncangkan kedua tangan Hinata agar lengannya lebih rileks, dan menawarkan tos dua tangan. Hinata menyambutnya dan kali ini ia bisa mengulas senyum yang lebih tulus, merasa sedikit lega atas perlakuan pemuda bernetra giok itu.

"Gitu, dong." katanya dengan senyum merekah. "Itu baru sunshine-ku!"

"Singin stance, please!" Semi kembali berseru, dengan tepukan tangan peringatan.

Anak-anak mukre langsung berhamburan kembali ke barisan masing-masing. Latihan dimulai lagi dari awal. Dari nada untuk bernyanyi [Mi-Mi-Mi-i-i-i-i-Mi-Mi] dan [Hi-hi-hi-hi-hi-hi-hi-hi-hi-hiiiiiii]. Hinata sudah tidak tertawa melihat ekspresi muka Koganegawa. Ia bisa menyanyi dengan lebih fokus karena pikirannya terdistraksi dengan hal lain.

Hoshiumi bilang apa, tadi?

Itu baru Sunshine-ku...

Tiga kata sakti yang cukup membuat Hinata pasti tidak bisa tidur malam ini.


"Ayo kita buat latihan kita makin seru!"

Semi menyeringai lebar. Bokuto mengeluarkan sebuah selongsong kaleng bekas biskuit yang di dalamnya berisi stik eskrim aneka warna. Ia mengocok-ngocok kaleng tersebut dan meminta setiap anak mengambil satu. Sugawara berdiri di depan papan tulis dengan tabel besar yang membagi semua anak menjadi 6 kelompok beranggotakan 4 orang.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang adalah quartet game, yakni grup 4 orang yang menyanyikan 1 lagu. Peraturannya mudah, kalian akan dikasih 1 lagu yang grup kalian harus re-aransemen. Tidak boleh pakai instrumen, tidak boleh beatbox. Cuma boleh acapella dan paduan suara. Fungsinya, untuk mengembangkan karakter suara kalian, mempertajam insting kalian dalam hearing dan tuning, serta mengasah kreativitas." tutur Semi.

"Hai, Semi-san!" Jawab mereka semua serempak.

"Siapa yang dapat stik nomor 1?"

Sugawara menoleh, dan mencatat tangan-tangan yang teracung mengulurkan stik nomor 1. Iwaizumi, Yachi, Daichi dan Akaashi.

"Nomor 2?"

Pemegang stik nomor 2 yakni Futakuchi, Sakunami, Koganegawa dan Shibayama.

"Nomor 3?"

Yang mendapat stik nomor 3 adalah Lev, Kenma, Kuroo dan Yaku.

"Nomor 4?"

"Hih, angka sial!" rutuk Oikawa begitu melihat tangan Atsumu teracung.

"Mau pindah tim aja!" rengek Atsumu.

"Heh, nggak boleh!" omel Semi. "Memang nggak kasihan sama rekan setimmu yang lain?"

"Tahu, bukannya kasihan!" Bokuto ikut mengompori karena ia juga mendapat stik nomor 4. "Shirabu nggak merasa sial dapat nomor 4, kan?"

"Mana aja sebenernya sama, Bokuto-san." jawab Shirabu sambil mengembalikan stik yang didapatnya ke kaleng undian.

"Nomor 5?"

Hinata mengacungkan stiknya dengan penuh semangat. Ushijima dan Sakusa tampak senang berada dalam satu tim. Kageyama yang tidak tahu harus berbuat apa cuma menggedikkan bahu.

"Berarti sisanya nomor 6, ya." Semi menyimpulkan begitu Sugawara menuliskan sisa nama yang belum tertera.

"Curang! Kita-senpai sama Suga sekelompok!" Bokuto mulai mengomel.

"Aku mau sekelompok sama Shoyooooo!" Atsumu merengek-rengek sebal.

"Bokuto, Atsumu! Diam, ah! Ushiwaka sama Shirabu aja nggak ngambek karena tidak sekelompok." Iwaizumi mulai menggerutu mendengar rengekan kedua orang tersebut.

"Sekelompok ini nggak selamanya, kan?" tanya Tsukishima begitu Hoshiumi dan Kita mulai pindah duduk di sebelahnya.

Kedua senpai bernetra eksotik itu cuma menggeleng singkat.

Melihat urutan nama di papan tulis dan wajah mendung Yaku, Sakusa mengangkat tangan. "Semi-san, timnya nggak balance."

Semi menoleh, merenungkan susunan tim yang baru saja dituliskan.

"Iwaizumi. Akaashi. Sawamura. Yachi. Bass-bass-alto-sopran. Futakuchi-Sakunami-Shibayama-Koganegawa. Tenor-sopran-mezzo-bass. Haiba-Kozume-Yaku-Kuroo. Tenor-sopran-mezzo-bass baritone. Bokuto-Oikawa-Shirabu-Miya. Countertenor-sopran-sopran-tenor. Hinata-Sakusa-Ushijima-Kageyama. Alto-tenor-tenor-bass." Lalu ia berhenti di kolom tersebut. "...waduh..."

"Semi-san! Pertanyaan!" Shibayama mengangkat tangan. "Kalau range-nya SATB, suara-suara nanggung kayak bass-baritone, mezzo sama countertenor masuk kemana?"

"Hmmmm..." Semi menggaruk kepalanya. "Kalian yang paling tahu batas kalian masing-masing. Kuambil contoh anak kelas 3-nya, Ushijima itu bisa masuk ke bass-baritone karena bisa menembak range rendah tenor dalam beberapa lagu, tapi karena dia bisa menjangkau nada paling rendah bass dengan akurat, jadi dia ditempatkan di bass. Kita dan Kuroo sebetulnya bisa ditempatkan di tenor, mereka menjangkau nada menengah hingga tingginya tenor dengan sempurna. Tetapi, timbre suara Kita terlalu gelap dan tebal untuk tenor sementara tipe suara Kuroo terlalu sturdy untuk ditempatkan tenor. Dalam beberapa kasus, tenor butuh produksi suara yang tipis dengan pitch yang tinggi, dimana mereka berdua tidak bisa menjangkaunya tanpa mengakibatkan perubahan signifikan pada range natural mereka. Untuk kasusnya anak countertenor, kembali lagi ke kenyamanan suara mereka. Bokuto lebih nyaman di rentang tenor sampai mezzo nada bawah. Sementara Hoshiumi bahkan cuma bisa menjangkau nada alto dan sopran. Waktu anak kelas 1-nya belum datang, Miya dan Yaku bahkan pindah ke alto untuk membantu. Selama not dan pitch-nya setara, karakter suara bisa dikesampingkan."

"Sou ka..." Shibayama mengangguk.

"Meskipun timnya nggak balance, itu merupakan tugas kalian untuk membuat ketidak-seimbangan itu terdengar indah. Lagunya kutentukan, ya. Batasnya sampai akhir bulan depan. Karena, mulai minggu depan aku bakalan sibuk dengan satu-dua proyek kuliahku." lanjut Semi lagi.

"Apa boleh kami latihan pergrup dalam pertemuan selanjutnya sampai hari ujian kuartet tiba?" tanya Oikawa.

"Boleh." jawab Semi singkat.

Anak-anak mukre mulai berkumpul sesuai grupnya. Hinata menjadi satu-satunya cewek di grup kuartetnya. Ushijima mencatat masing-masing lagu yang didesainkan Semi dan meminta bantuan Kageyama mencarikan liriknya. Hinata menyimak sekilas, melihat Sakusa malah menghampiri Yaku dan meraih tangannya.

"Hei, nggak apa-apa?" tanyanya pelan, nyaris berbisik.

Yaku cuma tertawa pelan. "Omi nggak perlu mengkhawatirkan apapun. Ushiwaka kan teman baikmu. Kageyama muridmu. Hinata mungkin tidak familiar denganmu. Tapi kurasa kalian akan baik-baik saja."

"Bukan soal aku. Tapi tentangmu." Sakusa membalas. "Kau yakin bisa sekelompok sama dia?"

"Omi-kun, Ushiwaka melambai padamu, tuh!" Kuroo menepuk pundak Sakusa dan menunjuk Ushijima yang betulan melambai padanya.

Sakusa mendesis. Ia menepis tangan Kuroo dengan kasar dan berjalan meninggalkan ruang musik begitu saja. Hinata dengan polosnya berlari mengejar Sakusa yang tampak enggan diajak berdiskusi soal lagu untuk kuartet mereka.

"Omi-san mau kemana?!" serunya.

"Aku mau ke toilet." Sakusa berbalik dan mendecih ketus. "Nggak usah ikut!"

Hinata memberengut mendengar penuturan judes Sakusa. Ia kembali lagi dengan wajah kecewa. Melihat Kageyama mencoret-coret kertas catatan Ushijima dan mencoba-coba nada membuat Hinata sedikit banyak mulai tertarik. Dimana ia belajar soal ini? Oh, dia dulu anak paduan suara. Apa dia juga sudah tahu cara mengaransemen lagu?

"Kau alto, kan? Aku akan buat nadanya lebih mudah. Jangan fals, ya." ujar Kageyama gamblang.

"Nggak akan!" Hinata menyembur. "Ushijima-san, kenapa sih Omi-san judes banget? Padahal tadi sebelum nyamperin kelompoknya bunda kayaknya baik-baik aja."

Ushijima melirik kelompok Yaku, dan kembali memperhatikan apa yang ditulis Kageyama. Hinata mencolek-colek ujung dagu Kageyama yang malah dibalas cubitan menyiksa di pipi gembil Hinata.

"Aduh, sakit!"

"Jangan ngurusin kelompok orang, bokke." omelnya.

"Habis aku penasaran. Sampai Omi-san komplain lho, tadi. Terus nyamperin bunda." Hinata mengusap pipinya. "Cubitanmu sakit banget, kagebaka!"

"Kali aja Sakusa-san khawatir Lev bakal bikin Yaku-san ngamuk lagi. Lev kan nggak bisa diam." jawab Kageyama asal. "Naa, Ushijima-san?"

Ushijima menggeleng pelan. "Sebenernya karena Kuroo."

"Heh?" Hinata dan Kageyama melongo.

"Kenapa?" Hinata refleks bertanya.

"Kuroo itu mantan pacarnya Yaku." jawab Ushijima. "Hubungan mereka nggak pernah baik-baik saja semenjak putus, kurasa."

Perkataan Ushijima membuat Hinata merenung.

Sakusa yang selalu menunggu orang yang disukainya. Ia tidak menyebutkan siapa orangnya, tetapi perbuatannya tadi memberikan Hinata kesimpulan kalau Yaku mungkin saja orang yang disukai Sakusa.

Kuroo dan Yaku yang pernah pacaran dan mungkin saja masih bersitegang sampai sekarang.

Lalu perkataan Atsumu dulu sekali soal Sugawara dan Yaku yang pernah dibujuk Kita untuk kembali lagi ke Werewolf Heartsting karena Oikawa?

Apa semua itu berkaitan?


BANGSAT (Bacotan ngegas tapi santuy dari author)

HUWAAAAAAA akhirnya oh akhirnya aku bisa update kilat lagiii ulalalaaa aku syenaaaanggg! Seperti yang sudah kalian tunggu-tunggu, HINATA HAREM SUPREMACY! Duh sejujurnya author bingung mau jodohin Hinata ama siapa. Ama Hoshiumi udah gemes-gemes ala anak SMA gitu. Kalo ama Tsumu author seneng bikin karakter Tsumu yang ngejamet godain Hinata mulu. MARI KITA BUAT FANFIC DRAMA CINTA INI LEBIH SERU DENGAN DUA KANDIDAT TAMBAHAN HAHAHAHAHAHA. Kira-kira sia yang bakal bikin Hinata tertarik lagi yaaaa?

Ehm, soal Oikawa dan Yaku dan anggota mukre lain akan mendapat porsi drama yang tepat. Tunggu aja tanggal mainnya. Tapi ingat, di dunia ini nggak ada manusia yang baik banget dan bangsat banget. Siapa-siapa yang kalian pikir baik bisa aja jahat dan vice versa. Aku cuma nyaranin jangan terlalu benci aja sama satu karakter takutnya nyesel lho nanti HAHAHAHAHAHA. UDAH DIKASIH WARNING DARI AWAL KALO FANFIC INI BAKALAN BIKIN GEMES DAN BAPER BERKEPANJANGAN!

Nggak semua chapter dikasih lagu memang. Ini kan bukan series film india atau disney yang dikit-dikit nyanyi, walaupun temanya paduan suara.

Makasih yang udah mau baca fanfic gajelas ini, ya. Semoga kalian tetap mau support karya-karya author ditengah pandemik dan kesibukan kerja author yang udah kayak tahu bulat-apa-apa dadak mendadak huft.

YOSH, mari kita sudahi saja bacotan ini. Fave, follow, sama review jangan lupa? Oh, udah? Yaudah, kalau gitu sampai ketemu di chapter selanjutnya. Stay safe stay healthy, see you muach muach!