Chapter 7

Bau obat-obatan menusuk hidung Halilintar. Suasana tenang di rumah sakit tidak membuat rasa khawatirnya menurun. "Kau gila Hali! Hampir saja jantungku berhenti melihatmu lari seperti itu. Seharusnya kamu memberitahuku bukannya langsung melempar tasmu yang berat," teguran yang keluar dari mulut Ocho tidak ia dengarkan.

Merasa diabaikan, Ocho menghela napas. Laki-laki berambut pirang itu memilih diam. Apapun yang ia katakan tidak akan didengar Halilintar dan kata-kata penenang tidak akan mempan. Diam merupakan pilihan terbaik daripada menguras energi dan otak untuk mencari kalimat penghibur.

"Ah!" Ocho yang memutuskan untuk diam teringat sesuatu. "Aku tadi menelepon Gempa tapi dia langsung menutupnya setelah aku bilang kamu dan Blaze ada di rumah sakit," kata laki-laki tersebut.

Halilintar tersentak, rasa khawatirnya bertambah. "Ocho... kau...!" itu kalimat peringatan. Halilintar sudah hampir seminggu tidak pulang ke rumah dan dia tidak bilang pergi kemana pada siapapun. Termasuk Ocho yang membantunya di beberapa hal.

"Apa? Aku tidak mengatakan apapun yang salah kan? Wajar kalau aku bilang pada adikmu kan?" semburan pertanyaan untuk membela diri dari siswa yang menjabat Ketua Osis. Halilintar mendengus. Laki-laki itu bangkit dari duduknya, dia harus pergi dari sini sebelum—

"Ocho!"

Halilintar terlambat, ini salah Ocho karena memberitahu Gempa tanpa bilang padanya. BoBoiboy pertama itu memilih untuk tinggal sebentar meskipun dia sedang tidak ingin bertemu dengan adik-adiknya.

"Kak Halilintar! Kenapa Kakak nggak beritahu kemana Kakak pergi? Kami khawatir... Tok Aba juga khawatir. Kakak tidak apa-apa? Apa ada yang sakit? Kakak makan teratur? Dimana Kakak tinggal sekarang? Di rumah Ocho?" Gempa langsung menyerang Halilintar dengan pertanyaan. Halilintar seketika menyesal tidak memilih untuk pergi tadi.

Halilintar diam. Dia membiarkan adiknya itu mengeluarkan semua uneg-unegnya. "Blaze dimana? Kenapa kalian bisa sampai kecelakaan? Kakak terluka?" Gempa kembali menyerbu kakaknya dengan pertanyaan. Terkadang Halilintar heran dengan Gempa. Apa di pikirannya itu hanya terisi daftar pertanyaan? Apa yang Gempa katakan selalu membuatnya mau tidak mau harus berbicara.

"Stop, stop! Aku tahu kamu khawatir... tapi tidak dengan menyembur daftar pertanyaan seperti itu. Blaze ada di dalam, Dokter masih memeriksanya. Halilintar tadi menyelamatkan Blaze yang hampir tertabrak truk saat menyeberang jalan," Ocho menjawab beberapa pertanyaan Gempa.

"Lalu? Dimana Si Supir truk itu? Harusnya dia bertanggung jawab."

Ocho menggaruk belakang kepalanya, "sebenarnya bukan salah Si Supir truk tapi salah Blaze. Dia menyeberang saat lampunya hijau," jawab laki-laki pirang itu.

Gempa menghela napas. Blaze pasti tidak melihat lampu lalu lintas yang sudah berganti warna. Dia juga yakin kalau Blaze melamun di jalan karena memikirkan masalah mencuri kunci jawaban. Kalau saja Blaze mau mendengarkannya tiga hari yang lalu pasti tidak akan terjadi hal seperti ini. Seharusnya Gempa lebih bebal dengan teriakan Blaze yang menyuruhnya terus pergi sehingga dia bisa memberitahu bahwa masalahnya telah selesai.

Keheningan menghampiri mereka bertiga. Sampai pintu tempat Blaze diperiksa terbuka. "Siapa keluarga BoBoiBoy Blaze di sini?" tanya Dokter setelah menutup pintu tersebut dengan pelan.

"Ka—"

"Kami berempat keluarganya Dok," jawaban Halilintar terpotong dengan suara lain. BoBoiBoy pertama itu menoleh ke arah Gempa datang tadi. Di sana ada Taufan dan Ice berjalan menghampiri tempat Halilintar dan Ocho. "Kalian berempat?" tanya Dokter heran. Dokter itu menatap Ocho.

"Ah! Saya teman mereka..." kata Ocho menjawab pertanyaan tak terucap dari Dokter.

"Adik saya... bagaimana?" tanya Halilintar membuat sang Dokter sadar. "Ah iya... dia baik-baik saja. Untungnya tidak ada luka yang serius, hanya lecet-lecet," jelas Dokter.

Keempat BoBoiBoy itu menghela napas lega. "Syukurlah... tadi dia sempat pingsan, kukira karena kepalanya terbentur sesuatu," kata Ocho.

"Ah, itu bukan karena kepalanya terbentur tapi karena stres yang menumpuk," Dokter kembali menjelaskan. BoBoiBoy bersaudara dan Ocho hanya diam, mereka tahu alasan kenapa Blaze mendapatkan begitu banyak stres tanpa bertanya kepada Dokter.

"Apa wali atau orang tua kalian ada di sini? Saya mau membahas masalah administrasi..."

"Wali sibuk. Saya urus biaya administrasi," kata Halilintar cepat. Dia ingin segera pergi menjauhi adik-adiknya. Belum lagi nanti Gempa kembali melayangkan beribu pertanyaan.

"Aku akan menemani—"

"Kau. Di sini. Sama Ocho," potong Halilintar memutus niat Gempa.

"Kakak gak apa-apa?" tanya Ice tiba-tiba dengan wajah mengantuknya. Halilintar hanya menjawab dengan anggukan.

"Kalau begitu ikuti saya," kata Dokter sambil memimpin jalan menuntun Halilintar.

Ocho bersama BoBoiBoy bersaudara yang tersisa menatap punggung Halilintar yang tertutupi dengan baju lusuh. "Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau kita masuk menemui Blaze? Kita harus melihat keadaannya," Taufan memecahkan keheningan dengan senyum cerianya.

Taufan, Gempa dan Ice masuk ke ruangan Blaze menyisakan Ocho yang masih menatap arah Halilintar pergi tadi. "Aku yakin tadi mendengar bunyi tulang patah. Apa benar dia baik-baik saja?"


The Truth © LiTFa

BoBoiBoy © Animonsta Studios/Monsta

Language: Bahasa Indonesia

Rating: T+

Genre: Family, Mystery

Warning: AU, Typo(s), No Power, No Alien, No Robot, No Pairing, drama about family and friendship, press "back" if you don't like this story.


5 hari yang lalu, saat hujan turun sangat deras. Gopal baru saja mandi setelah menyelesaikan serangkaian tugasnya sebagai polisi. Dirinya berpikir ingin membuat secangkir kopi untuk menghangatkan diri. Maka dari itu, Gopal mengambil teko untuk memasak air. Ketika laki-laki yang tak kunjung menikah itu mau menyalakan api dari kompornya, bel apartemennya berbunyi. Bel itu dibunyikan tanpa ada unsur kesabaran di dalamnya dan itu cukup membuat Gopal kesal.

"Tsk, iya iya sebentar! Siapa sih malam-malam yang memencet bel rumah ora...ng..." Gopal berhenti menggerutu ketika mengetahui siapa yang mengunjungi apartemennya.

"Oh, ternyata kamu Halilintar," Gopal menghela napas melihat Halilintar dalam keadaan basah kuyup. "Kenapa kamu..."

"Kak, ngomelnya berhenti dulu," Gopal tertegun. Sudah lama Halilintar tidak memanggilnya dengan sebutan "kakak", sayangnya itu merupakan pertanda buruk. Benar-benar buruk.

"Cepatlah masuk, bersihkan dirimu dan ganti baju. Aku akan membuatkanmu cokelat panas untuk menghangatkan dirimu," kata Gopal. Dia tidak terkejut dengan keadaan Halilintar sekarang, karena ini bukan yang pertama kalinya Gopal melihat laki-laki di depannya dalam keadaan tersebut.

"Kopi bukan cokelat," ralat Halilintar.

"Tsk," bahkan dengan keadaan seperti ini Halilintar masih sempat meralat minuman yang akan dibuat untuknya. "Oke oke, akan kuingat. Cepat mandi sana," Gopal mengibaskan tangannya seakan mengusir Halilintar. Sebenarnya mulut Gopal ingin sekali mengeluarkan kalimat tanda bahwa dia khawatir pada Halilintar, sayangnya Halilintar menganggap hal tersebut sebagai omelan yang tidak ada artinya. "Anak Anda yang satu ini benar-benar kepala batu."

Gopal akhirnya melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tadi. "Ok, teh hangat sama cokelat panas," gumamnya. Sepertinya dia tidak ada niatan untuk membuat minuman yang diinginkan Halilintar dan Gopal tahu seperti apa reaksi yang akan dikeluarkan remaja tersebut.

"Ini bukan kopi tapi cokelat panas," komentar Halilintar yang telah selesai mandi dan mengganti bajunya yang basah dengan baju miliknya yang sengaja ia tinggalkan di apartemen Gopal. "Oh, benarkah? Sepertinya aku salah ambil," kata Gopal yang sudah menduga reaksi Halilintar.

Halilintar menatap datar Gopal, berpikir bahwa indra penglihatan milik pria di depannya itu bermasalah. "Lagian tidak baik mengonsumsi kopi terlalu sering. Minum cokelat panas itu sebelum dingin dan segera istirahat. Minuman kafein tidak akan membantumu tidur," Halilintar menghela napas ketika mendengar nasihat yang masuk ke telinganya.

Akhirnya Halilintar memegang gelas berisi cokelat panas tersebut, menghantarkan kehangatan dari gelas menuju tangannya yang dingin. Tubuhnya menghangat ketika ia menegak minuman tersebut, "manis," komentar Halilintar. Gopal berhenti menyesap tehnya, "itu cokelat, tentu saja manis," balasnya menanggapi komentar remaja laki-laki itu.

"Kakak menambahkan gula," kata Halilintar yakin meskipun dia tidak melihat bagaimana Gopal meracik minuman yang ia minum saat ini.

"Cenayang kamu? Kalau tidak kutambahkan gula cokelatnya terasa pahit."

"Itu lebih bagus."

Gopal menghela napas, "akan kuingat. Lain kali tidak akan kutambahkan gula di cokelatnya."

"Tidak. Kopi sudah cukup untuk Kak Gopal ingat."

Gopal mendengus. Dalam hati dia tidak berniat membuatkan kopi Halilintar ketika remaja itu sendiri sudah meminum kopi entah berapa kali dalam sehari.

Tak!

Gelas berisi cokelat panas itu telah tandas isinya dan Gopal menggerutu bagaimana Halilintar protes tidak ingin minuman tersebut. "Biarkan gelasnya di situ, kamu cepat ke kamar dan istirahat," pinta Gopal ketika melihat Halilintar beranjak dari kursinya sambil membawa gelasnya. "Kakak akan membiarkan tempat cuci penuh sampai bulan depan. Baju Kakak juga pasti belum di cuci seminggu yang lalu," kata Halilintar penuh sindirian.

"Sok tahu, aku baru saja mencuci baju dan tadinya mau mencuci piring setelah minum secangkir kopi."

"Terus?"

"Tertunda karena seorang bocah SMA datang ke apartemenku di jam malam seperti ini," Gopal langsung menutup mulutnya. Dia sadar bahwa kondisi Halilintar sekarang tidak bagus untuk keluhan yang biasa ia buat candaan. Gopal menatap Halilintar, melihat reaksi yang dikeluarkan remaja laki-laki itu. "Gelasnya tetap akan kucuci. Kak Gopal istirahat," ucapan final dari Halilintar. Remaja itu tidak menunjukan reaksi apapun pada kalimat keluhan yang barusan terlontar tadi.

Gopal pada akhirnya menghela napas, "do what you want..." ucapnya pasrah.

"I always do what I want."

Kemudian suasana dalam apartemen tersebut hening. Hanya suara hujan yang masih turun dengan deras dan aliran air dari dapur yang mengisi keheningan tersebut. Gopal sesekali meminum tehnya sambil melihat berita dari TV yang ia nyalakan untuk memecahkan keheningan.

Prang!

Gopal terkejut mendengar suara benda pecah di dapur. Sontak, dirinya langsung menghampiri Halilintar yang tengah terduduk bersama pandangannya yang kosong. "Kamu tidak apa-apa Halilintar?" tanya Gopal khawatir sambil membantu remaja laki-laki tersebut berdiri. Dia tahu hal seperti ini akan terjadi ketika Halilintar datang ke apartemennya.

Tanpa mengeluarkan pertanyaann lainnya, Gopal menuntun Halilintar ke sofa sambil menghindari kepingan gelas yang pecah. "Maaf Kak, tanganku tergelincir saat mau ambil minum," kata remaja tersebut.

"Karena itu aku bilang untuk langsung istirahat setelah minum cokelat panasnya. Kamu itu kelelahan. Jangan memaksakan dirimu," kata Gopal. "Mau kuambilkan minum?" tawarnya.

Halilintar menolak, "aku akan istirahat saja."

"Kuantarkan ke kamar."

Besoknya di pagi hari, Gopal melihat sarapan telah siap dan secarik kertas di meja makan. "Apa anak itu baik-baik saja? Dia kelihatan sangat frustasi."


Di pagi yang sama dengan tempat berbeda. Hari dimana hukuman Blaze dilaksanakan, Ocho menunggu seseorang di depan gerbang sekolah. Remaja tersebut tidak masuk ke sekolah karena gerbang yang masih dikunci.

"Haduh... Ada apa dengan anak jaman sekarang? Berangkat sekolah pagi-pagi sebelum Guru dan Satpam datang," keluh Bapak Satpam yang baru saja datang.

Ocho menampilkan senyumannya, "kalau tidak begini, saya mana mungkin bisa ketemu anaknya. Bapak mau minum kopi? Akan saya buatkan."

"Boleh, boleh. Kamu ada janji dengan Dik Hali?" tanya Pak Iwan.

Ocho mengangguk. Dirinya langsung membuat secangkir kopi dan teh hangat setelah gerbang dibuka. "Padahal Halilintar yang membuat janji dan anaknya sendiri yang telat," Ocho mengeluh.

Pak Iwan tertawa kecil, "gak heran mah itu... Banyak yang gitu di jaman sekarang."

Hening sejenak, mereka berdua menikmati sejuknya udara di pagi hari sambil menghangatkan diri dari minuman mereka masing-masing. "Halilintar..." Ocho berhenti sejenak. Menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan sedangkan Pak Iwan menunggu dengan sabar.

Ocho menghela napas, "apa dia masih ngopi bareng sama Bapak?" tanyanya.

"Tentu saja, hanya Dik Hali satu-satunya murid yang mau ngopi sama orang tua ini selain Dik Ocho," jawab Pak Iwan. Ocho membalas dengan gumaman. Mereka berdua mulai berbincang dengan topik acak di pagi hari itu.

Hingga orang yang ditunggu Ocho datang, "akhirnya datang juga anaknya. Halilintar!" remaja berambut pirang itu melambaikan tangannya di depan pintu pos satpam. Halilintar yang berjalan sambil melamun tersadar kemudian menghampiri Ocho.

"Kamu sudah memberitahunya?" tanya Halilintar tanpa basa-basi.

"Apa-apaan itu? Bilang 'selamat pagi' atau 'halo' gitu sebelum tanya-tanya," protes Ocho.

Halilintar diam, tidak menanggapi protesan milik temannya tersebut. Dia menyapa Pak Iwan dengan anggukan. "Ke Pak Iwan saja kamu sapa," kembali Ocho protes.

"Cerewet," Halilintar berjalan meninggalkan Ocho.

"Oi, mau kemana?"

"Kelas."

"Ap— tunggu!" Ocho pamit ke Pak Iwan sebelum menyusul Halilintar. Pak Iwan yang melihat interaksi dua siswa dengan sifat bertolak belakang itu tersenyum lembut.

Ocho yang berhasil menyusul Halilintar langsung mengambil napas sejenak. "Sudah kuberitahu. Nanti pulang sekolah kamu bisa bertemu dengan anaknya."

"Terlalu lama. Pagi ini tidak bisa?" tanya Halilintar tanpa menatap Ocho.

Ocho mendengus, "anak yang selalu datang 2 menit sebelum bel masuk mana bisa ketemu pagi? Aku berusaha keras membujuknya untuk mengajaknya ketemuan," jawab remaja laki-laki tersebut. Halilintar mendecakan lidahnya. Dia ingin segera selesai menyelesaikan masalah satu ini dan berlanjut menyelesaikan masalahnya yang lain.

"Ngomong-ngomong, tumben datang jam 6 lebih. Biasanya jam 5 sudah stand by di gerbang sekolah."

"Mampir."

"Kemana?"

Halilintar tidak menjawab pertanyaan Ocho. Dia langsung masuk ke kelas mengabaikan Ocho yang terus bertanya. "Halilintar, jangan buat aku penasaran," kata Ocho yang mengikuti Halilintar sampai kelasnya.

Halilintar duduk di kursinya, dia menopang dagu kemudian menatap Ocho. "Kenapa ingin tahu?"

Ocho menggembungkan pipinya, "terserahlah. Terus, kenapa kamu minta dipanggilkan anak itu?" Ocho mengganti target pertanyaannya. Mau dipaksa seperti apapun, Halilintar tidak akan menjawab jika temannya itu kembali bertanya.

"Sudah lebih dari dua minggu."

"Ah..." Ocho langsung mengerti. Ini pasti ada kaitannya dengan pembullyan yang diterima salah satu adiknya. Ocho sering diminta tolong oleh Halilintar untuk memanggil murid yang selalu membully adiknya. Meskipun merepotkan, hal ini membantu dirinya dalam mengurangi kasus pembullyan yang terjadi di sekolah ini.

"Adik-adikmu sadar kalau kamu yang membereskan mereka. Kamu tahu kan?"

"..." Halilintar diam.

"Kuanggap kamu sudah tahu. Membereskan mereka yang suka membully gak langsung selesai hanya dengan bertemu secara empat mata. Memang beberapa dari mereka berhenti, tapi ada yang terus melakukannya meskipun sudah kamu peringatkan."

"Minggu depan kesempatan terakhir mereka," kata Halilintar.

"Mau kamu apakan mereka? Jika kamu main tangan itu akan menjadi senjata mereka," tanya Ocho.

"Bel masuk mau berbunyi," Halilintar tidak menjawab pertanyaan Ocho. Remaja berambut pirang itu menggembungkan cemberut. Dia akhirnya menghela napas dan menyerah, "ok... ketemu lagi nanti dan cobalah untuk ikut berdiskusi bersama yang lain mencari pelakunya. Kami sedikit kesulitan untuk memilih mereka."

Aku sedang mencarinya.


"Jangan bercanda! Mana mungkin aku minta maaf pada adik dari seorang pembunuh!"

Ocho menghela napas, dia sudah menebak hal ini akan terjadi setiap Halilintar memanggil seorang murid yang melakukan perisakan pada adiknya. Dia sampai bisa menebak apa yang akan dikatakan temannya itu untuk membungkam murid tersebut.

"Aku hanya menyuruhmu untuk meminta maaf bukan menyuruhmu telanjang," balas Halilintar.

"Apa?"

Remaja yang memakai jaket hitam merah tersebut menatap murid itu dengan tatapan yang mengatakan dia tidak mengatakan hal yang salah. "Kau menyerang mental dan fisik adikku," jelas Halilintar yang tidak dapat ditangkap murid didepannya.

"Setidaknya jelaskan lebih lengkap Halilintar," tegur Ocho.

"Hm? Apa otaknya tidak sampai dengan kalimat sederhana seperti itu?" tanya Halilintar heran. Ocho hanya menghela napas. Temannya satu ini selalu melakukan provokasi tanpa sadar.

"Ok. Bagaimana aku harus menjelaskan? Singkatnya seperti ungkapan mata dibalas mata," Halilintar kembali menjelaskan secara singkat.

"Apa yang kulakukan tidak sebanding dengan kau menyuruhku telanjang!" seru murid tersebut.

"Hah... kenapa sampah yang kupanggil selalu membuatku bicara panjang," keluh Halilintar.

"Sebenarnya kamu punya cara yang lebih cepat. Kenapa tidak kamu pakai itu?" tanya Ocho.

"Itu buat kartu terakhir," jawab Halilintar.

Murid yang ada di depan mereka memasang wajah bingung. Dia kemarin dipanggil oleh Ketua OSIS dengan alasan ada yang harus dibicarakan di tempat seperti halaman belakang sekolah. Dia mengira apa yang akan dibicarakan dan yang dia temukan malah murid yang dikenal sebagai pembunuh di masyarakat.

"Oi Ketua Osis! Bukannya kau yang punya urusan denganku? Kenapa malah Si Pembunuh ini yang muncul?" tanya murid tersebut geram.

Ocho tersenyum, "aku hanyalah perantara untuk dia. Kalau dia yang manggil kamu, pastinya kamu tidak menggubrisnya kan?"

"Tsk."

"Apa jawabanmu?" tanya Halilintar.

"Hah? Kau tidak menanyakan apapun kepadaku!"

"Aku menyuruhmu untuk meminta maaf."

"Kan aku sudah bilang kalau aku tidak mau!"

Halilintar menghela napas, "tidak ada cara lain Halilintar..." kata Ocho. Murid tersebut kembali memasang wajah bingung. Berpikir apa Halilintar akan melakukan jalur kekerasan seperti yang dirumorkan siswa lain.

"Kau beruntung orang tuamu lebih peduli dengan pendidikan anaknya daripada urusan tidak penting seperti orang tua yang lain," Halilintar berhenti sejenak. Mengamati ekspresi kebingungan yang sangat kentara dari murid di depannya.

"Seperti kata Taufan, kau melampiaskan stres kepadanya karena tuntutan dari orang tuamu yang mengharuskanmu mencapai target yang telah disiapkan. Tapi, melihat kelakuan anaknya seperti ini apa mereka tidak kecewa?"

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya murid tersebut geram.

"Perisakan, bolos, merokok bahkan balapan liar. Aku bahkan terkejut kalau ada balapan liar di wilayah kecil seperti ini. Misal aku memberitahu orang tuamu tentang ini bagaimana?" Halilintar menunjukan map yang dia keluarkan dari tasnya.

"Orang tuaku mana percaya omongan dari seorang pembunuh, terlebih lagi pembunuh yang membunuh orang tuanya sendiri!" Halilintar menggertakan giginya. Matanya menajam seakan siap menghajar murid yang ada di depannya. Pada akhirnya dia memilih menghembuskan napas kasar untuk mengalihkan amarahnya.

"Aku tidak tahu menyuruh orang minta maaf itu sulit. Tenggorokanku mulai sakit," keluh Halilintar. Mendengar itu, Ocho mulai angkat bicara. Sebenarnya dia kesal dengan murid tersebut karena menyebut temannya pembunuh tanpa tahu apa-apa. "Mungkin orang tuamu tidak percaya dengan Halilintar tapi beda bila aku yang menyampaikannya."

"Kau bahkan juga ikut mengancamku?"

"Aku tidak mengancam, aku melakukan tugasku sebagai Ketua Osis untuk menjaga kedamaian di sekolah ini."

"Alasan! Kau hanya membantu Pembunuh ini karena adiknya!"

Brak!

Murid tersebut terdiam, tubuhnya gemetar dan jantungnya berdegup kencang. Dia hampir saja terkena tinju Halilintar yang membuat dinding di belakangnya muncul sedikit retakan. "Sampah yang tidak tahu apa-apa diamlah. Aku hanya menyuruhmu untuk meminta maaf kepada adikku dan kemudian berhenti melampiaskan stresmu kepadanya. Itu permintaan yang tidak sulit."

"Aku menolaknya," kata murid tersebut dengan senyumannya meskipun tubuhnya masih bergetar ketakutan. Halilintar melepaskan kepalannya yang masih ada di dinding.

"Ok."

"Hah?"

"Map ini akan dikirim oleh Ocho setelah dapat persetujuan oleh Kepala Sekolah. Meskipun kau anak dari donatur terbesar di sekolah ini, itu tidak akan terpengaruh kalau dia melihat sekumpulan bukti ini," Halilintar memberi map tersebut kepada Ocho.

"Meskipun kau mencurinya, aku masih punya banyak salinan... um..."

"Alvin," Ocho memberitahu nama murid tersebut.

"Bahkan namamu terlalu bagus daripada kelakuanmu."

Halilintar dan Ocho pergi, "ah," remaja bermata merah itu menghentikan langkahnya sejenak. Melihat ekspresi murid bernama Alvin tersebut kebingungan. "Map ini tidak hanya berisi tentangmu tapi juga murid lain yang melakukan perisakan dan korbannya bukan hanya saudara-saudaraku. Tentu hukuman kalian para pembully tidak hanya skors bukan?" lanjutnya kemudian kembali berjalan.

"T-t-tunggu!" Alvin berteriak tapi Halilintar dan Ocho tetap berjalan. Badannya mengeluarkan keringat dingin dan pikirannya mulai melihatkan visual kedua orang tuanya yang kecewa padanya. "O-oke! Aku akan melakukan permintaanmu!"

Kedua remaja tersebut berhenti, "memangnya permintaanku apa?" tanya Halilintar dengan wajah datarnya. Matanya lurus menatap mata Alvin.

"Min-minta maaf pada adikmu dan tidak melampiaskan stresku padanya," jawab Alvin masih dengan wajah ketakutan.

"Good. Kalau kau dari tadi bersikap seperti anak baik urusannya akan lebih cepat selesai."

"T-terus mapnya?"

"Aku akan menahannya. Misal kamu melakukan pelanggaran yang selama ini kamu lakukan, tentunya akan langsung kukirim ke orang tua masing-masing. Tolong beritahu tentang ini kepada murid lain ya? Tentu yang kamu kenal saja. Halilintar akan mengawasimu besok untuk memastikan kamu sudah meminta maaf atau belum," jawab Ocho dengan senyumannya.

"Kalau begitu, kami akan pergi. Aku sarankan untuk mencari cara lain melampiaskan stres. Banyak cara yang tidak merugikan orang lain, kamu tahu kan?" nasehat Ocho. Alvin mengangguk. Kedua remaja itu akhirnya meninggalkan halaman belakang sekolah dengan Alvin yang masih termenung.

"Tenggorokanku sakit," keluh Halilintar.

"Makanya sering berinteraksi. Juga minum banyak air putih bukan kopi," tegur Ocho.

"Berisik."

"Ap— aku memberimu saran hei Manusia Patung. Pita suaramu yang masih berfungsi itu gunakan semaksimal mungkin. Kamu mendengarku Halilintar? Hei!"

Halilintar berjalan keluar sekolah sambil mendengar ocehan Ocho.

Sekarang beralih ke Si Pencuri.

[To Be Continued]