A/N: I know its been really a long time. I apologize for that. Please enjoy.
JK Rowling has! I just own the plot and several characters.
Chapter 8
"What the hell happen, Hermione?" tanya Harry tak percaya saat pertama kali menjumpai sahabatnya ini di Bibendum itu.
Hermione mengibaskan tangannya untuk memberi tanda pada Harry guna menurunkan suaranya yang terlalu lantang. "Maaf. Aku sedikit terbawa emosi," balas Harry.
"Jadi, bisakah kau jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Malfoy saat ini," pinta Harry.
Wanita yang tengah mengenakan setelan cokelat muda dengan rambut yang diikat itu mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara Draco dan dirinya dan tentunya Alistair. Harry menyesap air mineral di hadapannya itu. "Kesimpulannya adalah kau dan Malfoy akan mengasuh Alistair bersama saat ini. Dan kau juga akan kembali lagi padanya."
"Tak ada satupun pernyataan dariku yang mengatakan bahwa aku akan kembali bersamanya. Dan terlebih lagi, kami tak pernah bersama. Jadi, tak ada yang perlu kembali," balas Hermione.
Harry yang hari ini mengenakan setelah abu-abu gelap itu tersenyum. "Kau tidak perlu mengatakan hal itu pada orang-orang. Hanya dengan melihat kau dan Malfoy di Hogwarts tadi malam semua orang di muka bumi ini sudah dapat menyimpulkannya, Hermione."
Hermione hanya mengedikkan bahu sambil menyesap mocktail yang tadi dipesannya seusai makan siang. Ia berusaha terlihat santai di hadapan Harry padahal ia tahu bahwa tadi malam ia dan Draco benar-benar menjadi sorotan bagi semua mata yang memandang. Mulai dari kedatangan Draco hingga dansa mereka di penghujung acara. Hanya orang buta yang tak memerhatikan kehadiran mereka. Lagi-lagi Hermione menyesap mocktailnya.
"Kau haus sekali sepertinya," ujar Harry
Hermione hanya tersenyum dan kembali menghabiskan minuman rasa lemon dengan sensasi dingin dari daun mint dan soda itu. Ia bukan haus, wanita itu sangat resah saat ini. Baru menghadapi Harry saja ia sudah salah tingkah, bagaimana bila ia harus kembali ke St Mungo setelah ini. Tadi malam hingga pagi ini tak ada yang menggunjingkannya karena ia yakin berita itu belum tersebar, tapi bagaimana dengan sore ini? Saat ini ia sangat berharap St Mungo membuka zona aparasinya, sehingga ia dapat langsung ber-Apparate ke ruangannya atau OR sekalipun tanpa melewati lobby ataupun nurse station.
"Pertama, kami tidak pernah bersama jadi tidak ada kata 'kembali' dalam kehidupan kami."
"Kedua, adalah benar jika kami akan membesarkan dan mengasuh Alistair secara bersama."
Wanita itu menjelaskan kembali pada sahabatnya. Harry tersenyum. Ia memotong sebuah cake di hadapannya lalu menyantapnya. "Aku percaya apapun yang menjadi keputusanmu dengan Malfoy, Mione. Selama hal ini akan berdampak baik pada Alistair kenapa tidak," ujar Harry sambil kembali menyendokan cake itu ke mulutnya.
Senyum tak habis dari wajahnya. Melihat hal ini Hermione kembali membuka mulutnya. "Kenapa kau terus tersenyum? Kau sedang bahagia?"
"Hermione, tentu saja aku bahagia. Melihatmu bahagia adalah hal yang membahagiakan bagi diriku juga," balas Harry.
Hermione hanya diam dan ikut tersenyum bersama Harry.
"Kau kembali ke London saja sudah membuatku bahagia dan sekarang saat melihat wajahmu berseri ketika menceritakan kehidupanmu aku merasa semakin bahagia, Mione."
"Akhirnya angan-anganku selama ini akan terwujud," tambah Harry lagi.
Dahi wanita itu mengerut. "Angan-anganmu?"
Harry mengangguk. "Aku selalu berangan kau, Ron dan aku akan kembali menghabiskan liburan Natal bersama tentunya dengan formasi terbaru lengkap dengan anak-anak dan keluarga kita. Aku juga selalu ingin kembali berbincang denganmu dan Ron selepas berkerja hanya untuk bercerita tentang kehidupan kita masing. Kita bisa bercerita tentang pekerjaan atau anak-anak atau bahkan kembali bercerita tentang tingkah konyol kita selama di Hogwarts dulu."
Harry menyesap air mineralnya sejenak lalu kembali melanjutkan ceritanya. "Hal-hal seperti itu sudah lama kuangan-angankan, tapi aku tak pernah tahu apakah dapat terealisasikan. Selama lebih dari sepuluh tahun kau seakan menghilang dari kehidupan kami dan hanya menyisakan aku serta Ron."
"Tetapi, kau sudah kembali ke pelukan kami lagi sekarang. Aku rasa semua anganku akan segera terwujud," tambah Harry.
Hermione Granger terpana mendengarnya. Wanita itu tak tahu bahwa ia ternyata begitu berharga bagi para sahabatnya. Ia tak tahu bahwa selama sepuluh tahun lebih ke belakang ini mereka sangat merindukannya. Tak terasa air mata meleleh di pipi Hermione. "Jangan menangis, Mione. Orang-orang akan berpikir aku tengah memarahimu," kekeh Harry.
"Maafkan aku yang telah meninggalkan kalian," balas Hermione yang menyeka pipinya dengan sapu tangan dari tasnya.
Harry masih tersenyum. "Kau sudah kembali, tidak ada yang perlu dimaafkan."
Kedua sahabat itu bertukar senyuman lalu terkekeh bersama.
000
Hermione berjalan cepat dari lobi menuju ruangannya. Ia sengaja menggerai rambutnya agar tak banyak yang menyadari keberadaannya terutama saat ia tengah berada di dalam lift seperti sekarang ini. Baru kali ini ia merasa lift di St Mungo bergerak begitu lambat.
Ding.
Suara pintu lift terbuka dan Abraham Fudge beserta dengan groupies-nya masuk ke dalam lift tersebut. Senyum iblis terpancar dari wajah pria penggosip itu. "Selamat sore, Granger."
"Sore, Fudge," balas Hermione langsung.
"Kau shift malam?"
"Seperti yang kau lihat saja, Fudge," balas Hermione.
"Kau tampak cerah dan merona di sore yang dingin ini. Apakah ada hal special terjadi tadi malam?" balas Fudge lagi yang disambut dengan kekehan pelan dari para resident dan intern yang bertugas dengannya hari ini.
Hermione menyunggingkan sedikit senyum lalu menghadap ke wajah pria itu. "Apakah benar aku sangat cerah dan merona di sore yang dingin ini, Fudge? Mungkin karena perawatan wajah serta riasan wajah mahalku," balas Hermione dengan sangat tenang yang sangat berlawanan dengan degup jantungnya yang tak karuan.
"Atau mungkin karena lipstick merah yang kupakai ini? Apakah kau juga ingin ikut memakainya di mulut besarmu itu agar kau juga terlihat merona di sore yang dingin ini?" tambah Hermione yang sontak menghilangkan senyum dari wajah Fudge dan juga para groupie-nya.
Ding.
Tepat setelah kalimat penutup dari Hermione tadi pintu lift ini terbuka dan ia sampai di lantai yang menjadi tujuannya. Baru saja wanita yang masih mengenakan setelan cokelat dan menambahkan jubah sutra bewarna senada dengan setelannya itu langsung disambut oleh Daniel Torres. "Sore, Healer Granger," sapanya dan langsung memberikan chart pasien pada wanita itu tanpa berbasa-basi lagi.
Ada rasa lega yang sangat besar di dada Hermione karena setidaknya kehadiran Torres menjadi pengalihan dirinya dari tatapan orang-orang sepanjang ia menuju ruangannya.
"Kau harus visit ke lima pasien mulai dari pukul tujuh malam ini. Tiga pasien post-op, dua di bangsal perawatan dan satu di ICU. Lalu dua lagi adalah pasien pre-op, satu dengan diagnosa iskemia usus akut yang akan kau operasi tengah malam ini dan satu lagi adalah pasien dengan sirosis hati yang akan kau operasi besok pukul enam pagi," jelas Torres yang hanya diberi anggukan oleh Hermione.
"Dan ini adalah kopimu," ujar Torres sambil memberikan gelas kertas berukuran besar dengan wangi Americano dari dalamnya yang datang secara sihir ke hadapannya.
Hermione menghentikan langkahnya lalu dengan sebelah alis yang tertarik ke atas saat ia melihat Torres begitu repot membelikannya kopi. Melihat manik wajah dari attending-nya, Torres tersenyum sumeringah. "Aku yakin kau tengah stress menghadapi semua mata yang tertuju padamu sore ini," balas Daniel Torres.
"Lagipula aku sudah menerima beberapa galleon dari Healer Malfoy untuk menyuplai kopimu selama seminggu ke depan. Jadi, kau tak perlu terlalu terharu, Healer Granger," kekeh Torres.
Hermione menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang diucapkan resident-nya ini. "Aku akan tetap berterima kasih padamu. Terima kasih, Torres," balas Hermione.
"Sama-sama, Healer Granger."
Mereka kembali berjalan menuju ruangan para attending. Hermione masih sibuk dengan chart pasien di tangan kanannya dan gelas kopi di tangan kirinya yang sesekali ia sesap perlahan. "Healer Granger aku ada pertanyaan," kembali Torres membuka suara.
"Silahkan."
"Jadi manakah fakta yang tepat, kau dan Healer Malfoy sedang berkecan dan akan segera menikah atau kau dan Healer Malfoy sudah lama berkencan dan Alistair adalah putera kalian berdua?"
Hermione menghentikan langkahnya kembali tepat di depan ruangannya. "What the fuck, Torres! Kau juga akan bergosip tentang hal ini?"
Torres menunduk sesaat lalu kembali menatap attending-nya itu. "Aku hanya penasaran. Semua orang bertanya padaku tentang kalian berdua karena mereka berasumsi bahwa aku adalah satu-satunya resident yang dekat dengan kalian berdua. Tetapi, pada nyatanya aku tak mengetahui sedikipun tentang hubungan kalian," balas Torres sebelum Hermione menyemprotnya.
Hermione menghela napas. "Pergilah," balas Hermione.
Seakan mengenal dekat sifat dari attending-nya ini, Torres dengan sigap mengangguk. "Baiklah. Jangan lupa kau ada jadwal menjadi on call general healer surgeon di ER satu jam lagi sebelum jadwal visitmu," balas Torres.
Hermione Granger mengangguk. "Pergilah."
"Aye, Healer Granger."
000
Tidak ada satupun konsul dari ER adalah sebuah berkah bagi Hermione karena ia dapat sedikit bersantai di ruangannya sebelum melakukan visit dan prosedur operasi nanti malam. Bahkan saat ini ia merasa beruntung karena semua pasien post-op dan pre-op dalam keadaan baik dan stabil. Malam semakin larut, setelah memeriksa beberapa laporan pasien yang akan dioperasinya besok Hermione akan segera menuju OR untuk operasi tengah malamnya pada pasien iskemia ususnya. Ia menyumbat telinganya dengan earphone muggle-nya. Scrub cap dan baju biru tua kebanggaan para attending di rumah sakit sudah ia kenakan. Sambil sedikit bersenandung ia mulai melakuka prosedur mencuci tangannya. Harum iodin yang keluar dari sabun antiseptic-nya sudah merasuk ke penciumannya. Wanita itu masih bersenandung pelan ketika ia tersadarkan bahwa ada sosok lain di sisinya yang juga tengah melakukan prosedur yang sama seperti dirinya. Hermione melepaskan earphone-nya saat melihat Draco tengah berdiri menjulang di sampingnya.
"Malam, Healer Granger," sapanya sambil terus menyabuni tangannya hingga di pangkal siku tangannya.
"Selamat malam, Healer Malfoy."
"Prosedur apa yang akan kau lakukan malam ini?" tanya Draco santai dari balik maskernya.
"Adheliosis," jawab Hermione cepat pada Draco sambil sesekali mencuri pandang pada sekitarnya.
Rasa was-was amat ia rasakan saat ini. Ia merasa bagai seorang tersangka kasus kriminal besar yang tengah mendapat sorotan dari semua pasang mata di setiap sudut ruangan rumah sakit ini. Dan kehadiran Draco di sisinya saat ini semakin membuat perasaan itu membuncah di dadanya. Sedari tadi ia memerhatikan setiap orang yang lewat di lorong itu sambil berharap tidak ada yang melihatnya.
"Adhealiosis pada iskemia usus?" balas Draco.
Pertanyaan pria itu dibiarkan menggantung oleh Hermione dan Draco menyadari hal apa yang menyita perhatian dari wanita di sampingnya ini.
"Kau akan semakin menarik perhatian dengan sikap awasmu saat ini, Hermione," Draco kembali membuka suaranya.
Hermione yang mendengar pernyataan itu hanya menghela napasnya lalu kembali membasuh tangannya. "Semua mata terasa tertuju padaku saat ini," balas Hermione lemas.
"Hal itu adalah sebuah konsekuensi."
"Sebuah konsekuensi dari apa yang kau lakukan," balas Hermione cepat.
Draco menghadap wanita itu dengan kedua tangan yang diangkat di hadapannya. Tatapan tajam terlempar dari balik kacamata loupes magnifier yang telah dikenakannya. " Sebuah konsekuensi dari apa yang aku lakukan? Hanya aku?" tanya Draco tak percaya.
Hermione yang juga sudah selesai dengan kegiatannya kini juga mengangkat kedua tangannya di hadapanya persis seperti apa yang dilakukan oleh Draco. Wanita itu membalas tatapan itu kesal. Belum sempat ia membalasnya, Daniel Torres keluar dari salah satu ruang operasi. "He is ready, Healer Granger," ujarnya pada Hermione.
"Good evening, Healer Malfoy," tak lupa Daniel menyapa Draco dengan senyuman dari balik masker yang menutupi mulut dan hidungnya.
Melihat situasi ini Hermione mengedikkan bahunya. "Good luck for your surgery, Malfoy," ucap Hermione yang langsung menekan tombol ruang operasi itu dengan kakinya.
Draco menatap wanita yang sudah hilang dari hadapannya itu tak percaya. "Unbelievable," desisnya.
"Good luck for your surgery and for facing Healer Granger, Healer Malfoy," ujar Daniel kembali sebelum mengikuti Hermione ke ruang operasi di belakangnya.
"Just go, Torres."
000
"Suction."
Dengan cekatan Daniel Torres menyedot darah dari bagian usus yang tengah ditangani oleh attending-nya itu. Dahi Hermione mengerut saat melihat kerusakan usus dari pasien ini. "Apa yang kau lihat pada usus pasien ini, Torres?" tanya Hermione sambil tetap menangani pasien di hadapannya dan juga mengajar pada Daniel Torres.
"Sepsis," jawab Daniel.
"Lalu apa yang akan kau lakukan saat ini?" kembali Hermione melemparkan pertanyaan.
Daniel tampak berpikir sejenak sebelum kembali membuka suaranya. "Aku akan memeriksa kembali kadar leukosit dan potassium dalam darah pasien saat ini untuk melihat apakah sepsisnya sudah menyebar melalui darah atau belum," jelas Daniel.
Hermione menatap Daniel. "Lalu apalagi yang kau tunggu, Torres. Lakukan sekarang."
Tanpa perlu menjawab Hermione lagi. Daniel langsung mengambil darah pasien ini secara sihir dan menyerahkannya dengan menerbangkannya secara sihir ke laboratorium untuk memeriksa kadar leukosit dan potassium pasien seperti yang tadi ia jelaskan.
Suara dari monitor jantung masih terdengar stabil namun wajah gusar mulai terpancar dari healer anesthesi yang tengah duduk di dekat kepala pasien. Sesekali ia memeriksa selang oksigen dan infus yang terhubung dengan tubuh pasien. "BP is down, Granger," ujar Sam Walcott yang langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Sepsisnya sudah menyebar ternyata," balas Hermione yang masih terlihat sangat tenang sambil terus menangani kerusakan usus dari pasien ini.
Tetiba saja monitor jantung pasien ini berbunyi sangat cepat. "Pasien mengalami takikardia," Healer Walcott mengumumkan hal itu pada Granger dan Torres.
"Apakah hasil pemeriksaaan darah sudah keluar?" tanya Granger sedikit berteriak sambil mempercepat proses penanganan pada usus yang mengalami perlengketan di hadapannya karena tengah berpacu dengan waktu.
"Here, Healer Granger."
Seorang perawat masuk dengan hasil pemeriksaan darah pasien dari pasien ini. Daniel dengan cekatan membacanya. "Fuck," umpatnya saat membaca hasil pemeriksaan darahnya.
"Berapa kadar potassium dalam tubuhnya?"
"10,5."
Baru saja Daniel menyampaikan kadar potassium dalam tubuh pasien ini, monitor jantung kembali meraung dan grafik jantungnya melambat. "Heart attack," ucap Healer Walcott.
Dengan sigap Hermione berpindah dari perut menuju dada pasien dengan Daniel yang sudah meletakkan defribillator ke sisi Hermione. "Give me ephi."
Healer Sam Walcott memberikan suntikan berisikan ephinefrin kepada Hermione yang langsung ia injeksikan ke tubuh pasien. "Charge 150," perintahnya sekarang pada salah satu perawat.
"Clear."
Hermione mengejutkan jantung pasien dan kemudian di lanjutkan oleh Daniel yang memompa dada pasien dengan tangannya. Ia berhenti sejenak untuk melihat grafik jantungnya namun tak kunjung berubah. "Charge 250 and page cardio!" seru Hermione.
"Clear."
Sekali lagi Hermione mengejutkan jantung pasien itu. Dan sekali lagi pula Daniel memompa secara manual dada pasien itu.
Setelah peluh keringat bercucuran dari Hermione dan Daniel yang bergantian demi kelangsungan hidup pasien di hadapan mereka, detak itu kembali terdengar dari monitor jantung sihir yang terpasang di tubuhnya. Hermione mundur dari meja operasi itu sesaat sambil menghela napas. Ia tak menyangka operasi kali ini menjadi lebih rumit dari perkiraannya. Prosedur yang sekiranya hanya memakan waktu kurang dari dua jam kini sudah melebihi dari angka tersebut.
"Where's cardio?" tanya Hermione yang kembali melangkah mendekat pada meja operasi di hadapannya.
"Cardio is here," balas suara yang teramat tidak asing di telinga wanita itu.
Hermione hanya melirik dari balik kacamatanya ketika melihat Draco Malfoy tengah memakai sarung tangan yang dibantu oleh seorang perawat lalu perlahan berjalan ke arah yang berseberangan dari dirinya. "Give me a chart," pinta Draco tanpa basa basi lagi pada seorang perawat di ruang operasi itu.
Sebuah perkamen yang secara sihir sudah mencatat semua kejadian di ruang operasi ini sebelumnya dan juga diagnosa awal sang pasien telah hadir tepat di hadapaan Draco. Kening pria berusia 30-an itu berkerut. "Sepsis?"
Hermione yang sudah kembali pada masalah ususnya kini mengangguk. "Scalpel," Draco memulai prosedurnya.
"Torres, keluarlah dan kabari keluarga pasien bahwa operasi akan lebih dari lama dari perkiraan. Kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan bukan?" ujar Hermione pada Daniel Torres tanpa mengalihkan pandangannya.
"Yes, Healer Granger."
"Torres, kabari bank darah bahwa kita membutuhkan O-neg sekarang," tambah Draco.
"Aye, Healer Malfoy."
Suasana kembali senyap. Hanya ada suara monitor jantung dari pasien dan helaan napas dari para healer serta perawat. Torres baru saja kembali ke ruang operasi dengan beberapa kantung darah seperti permintaan Draco lalu mengambil tempatnya yang semula. Dahinya mengerut saat melihat hasil kerja dari Hermione Granger. "Its almost done, Healer Granger."
Hermione tak menjawab, sementara Draco hanya tersenyum di balik maskernya. Tawa renyah justru terdengar dari Sam Walcott, healer anasthesi yang bertugas pada saat ini. Tatapan Torres langsung beralih pada pria itu. "Of course its almost done. Granger was brilliant med student. She was faster in our class. Right, Malfoy?"
"Jangan memujinya. Kepalanya akan semakin besar," balas Draco yang tengah menjahit arteri jantung dari pasien ini.
"Shut up, Draco," balas Hermione yang masih fokus pada prosedur yang ia lakukan.
Sontak semua pasang mata yang berada di ruangan itu langsung tertuju pada Hermione yang lalu sadar akan hal itu. "Its Draco now, Healer Granger?" kekeh Daniel yang tetiba mengalihkan fokusnya dari menjahit sisa usus pasien kepada Hermione.
Hampir semua orang tahu bahwa Hermione dan Draco tak pernah memanggil nama masing-masing saat di rumah sakit. Hal yang aneh bila dalam sekejap wanita itu memanggil pria yang masih sibuk memperbaiki arteri jantung pasien ini seorang diri tanpa seorang asistenpun dengan sebutan nama lahirnya.
"Sejak kapan kau berubah menjadi penggosip seperti Fudge, Torres?" ucap Hermione yang sudah menyelesaikan tugasnya.
"Sejak kau sedang menjadi pusat perhatian oleh semua healer dan perawat di rumah sakit ini, Healer Granger," balas Torres yang masih menahan kekehannya.
Alis Hermione mengernyit. "Shut up, Torres. Eyes on patient," balas Hermione.
"Jika kau merobek usus itu dan terjadi komplikasi, kau yang akan berada di atas meja ini," tambah Hermione lagi yang masih memerhatikan pekerjaan dari resident di hadapannya ini.
Daniel Torres langsung mengangguk. "Aye, Healer Granger."
Saat Hermione pikir suasana akan kembali menjadi damai kembali seperti sedia kala, kali ini Draco Malfoy-lah yang membuka suaranya. "Apa yang sebenarnya hal yang ingin kalian ketahui, huh? Hubungan aku dan Granger?" ujarnya tenang tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari arteri yang masih sibuk ia selamatkan.
Dan sontak semua pasang mata di ruang operasi itu menatap Draco serta Hermione bergantian. Hermione hanya menghela napasnya karena ia tahu bahwa ia tak dapat membendung hal ini lagi. "Alistair Granger adalah puteraku bersama Hermione."
Daniel hampir tersedak saat mendengernya walau ia tak sedang menelan sesuatu apapun. Sam Walcott hanya tersenyum di balik maskernya sambil kembali memeriksa saturasi oksigen pada pasien di meja operasi ini. Sementara para perawat langsung berbisik-bisik. Dan Hermione ingin sekali berubah menjadi debu saat ini juga. "Sebarkan hal ini pada jaringan gossip rumah sakit dan berhenti mencari tahu tentang kehidupan pribadiku serta Healer Granger."
"Tutup pasien ini, Torres."
Tanpa banyak bebasa-basi lagi Hermione Granger mundur dari meja operasi itu dan keluar setelah sebelumnya melepaskan scrub gown bewarna biru langit itu. "Alright, Healer Granger."
Tak lama kemudian, Draco Malfoy mundur dari meja operasi itu juga. "Kau bisa menutup bagianku juga, Torres?"
"Sure, Healer Malfoy."
Cardiothoracic healer surgeon itu juga keluar menyusul Healer Granger tadi. Daniel merenggangkan kepalanya yang terasa sangat lelah karena semua prosedur yang ia lakukan sedari tadi. "Jadi benar mereka memiliki anak bersama," ujar seorang perawat.
"Lalu apa hubungan mereka saat ini? Apakah mereka berpacaran atau mereka hanya membesarkan seorang putera bersama saja?" sambung perawat lain.
Walcott tertawa. "Kenapa kalian tidak tanyakan langsung pada mereka tadi," ujar healer itu.
"Tatapan Healer Malfoy sangat mengintimidasi kami tadi, Healer Walcott," kekeh salah satu perawat itu.
"Apakah kau tahu hubungan mereka, Healer Torres?" tanya perawat lain pada resident tingkat akhir itu.
Daniel hanya menggeleng sesaat. "Kau tak berniat menanyakan pada mereka, Healer Torres? Kau adalah anak emas mereka berdua," tambah seorang perawat itu lagi.
"Aku masih sayang nyawaku. Kalian lupa Draco Malfoy adalah mantan Pelahap Maut sementara Hermione Granger adalah salah seorang penakluk Voldemort? Aku tak mau mereka meng-crucio diriku."
Prosedur malam itu ditutup dengan tawa dari Torres dan Walcott serta para perawat di ruang operasi itu.
000
Tidak ada lagi desas-desus, saling berbisik atau suara-suara sumbang mengenai hubungan Hermione dengan Draco. Selang satu minggu segalanya seperti tampak kembali normal. Hanya senyum yang terkadang penuh makna yang dilemparkan oleh para intern, resident bahkan perawat saat melihat Hermione dan Draco berinteraksi di hadapan mereka. Dan mereka sudah kebal akan hal itu.
Pagi ini Draco datang lebih awal dari biasanya dengan segelas kopi di tangannya. Ia masuk ke sebuah ruangan untuk membaca hasil X-Ray dan MRI sihir dari pasien yang akan ia operasi siang ini. Langkahnya terhenti di ambang pintu ruangan itu lalu senyumnya tersungging dari sudut bibirnya saat melihat Hermione Granger juga berada di ruangan itu. Wanita yang mengenakan baju scrub biru tua dengan jubah healer putihnya itu tengah bersedekap sambil memperhatikan hasil MRI sihir milik pasiennya. "Its so huge," ujar Draco yang mengambil tempat di samping wanita itu sambil ikut memperhatikan penampang organ hati dari pasien itu.
Hermione mengangguk. "Aku bahkan belum sempat mengangkat tumor itu dan ternyata ia sudah bermetastatis ke tulang belakang dan parunya," jawab Hermione.
"Lalu kau akan mengangkatnya?"
Hermione mengedikkan bahunya. "Aku tak yakin, apakah mengoperasinya saat ini adalah pilihan yang tepat. Kau punya saran?" tanya Hermione lalu menyesap Americano miliknya.
"Kau sudah pertimbangkan untuk radiasi terlebih dahulu?"
Wanita itu mengangguk. "Tapi wanita ini sudah cukup tua. Aku tak tahu apakah ia sanggup melalui proses radiasi ini sebelum aku harus mengoperasinya."
"Lalu apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku ingin mengangkat tumor di levernya terlebih dahulu lalu aku baru akan merencanakan treatment radiasi dan kembali mengoperasinya untuk tumor yang bermetastatis di tulang belakan dan parunya," jawab Hermione.
"Kalau begitu, lakukan saja."
Hermione menghela napas. "Bagaimana jika gagal? Bagaimana jika aku salah mengambil keputusan?"
"Kita healer surgeon, Hermione. Mengambil keputusan lalu mengeksekusinya adalah pekerjaan kita. Percayalah pada instingmu," jawab Draco.
Tanpa sadar senyum terpulas di wajah Hermione. "Terima kasih untuk motivasi pagimu," jawab Hermione.
Baru saja Hermione akan keluar dari ruangan itu, Draco baru saja memulai kegiatannya untuk membaca hasil X-Ray dan MRI sihir dari pasien. "So what's yours?" tanya Hermione yang mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan itu lalu kembali mengambil tempat di sisi Draco.
Draco meletakkan hasil itu di sebuah layar di hadapan mereka. "Another tetralogy of Fallot, but he's very special," jawab Draco.
"Namanya Micah, bocah laki-laki berusia 6 tahun. Terlahir dengan Rubella Congenital Syndrome," tambah Draco lagi.
"Dan tetralogy of Fallot ini adalah salah satu dari syndrome-nya," Hermione ikut menambahkan.
Pria itu mengangguk. "Aku ingat sekali Micah dan orang tuanya datang kesini saat ia berusia satu bulan. Ia selalu menangis dengan bibir dan kukunya yang membiru. Gerakannya kaku sekali karena dia memiliki banyak diagnosa untuk syndrome-nya yang lain ternyata."
"Aku sempat membaca chart kesehatanya, dari tes BERA-nya ia didiagnosa Profound Hearing Loss. Lalu ia juga didiagnosa dengan penyimpangan tumbuh kembang karena ada bercak-bercak putih di otaknya. Ia sudah melakukan lima kali operasi untuk jantungnya dan tiga kali untuk kelainan tumbuh kembang dan syarafnya," Draco masih melanjutkanny.
"Aku kira ia akan menyerah dengan semua prosedur bedan dan fisioterapinya, tapi ia adalah penyintas. Micah masih bertahan hingga saat ini dengan segala keterbatasannya. Tetapi, minggu lalu ia kembali dirujuk kepadaku setelah Fudge mendiagnosanya dengan Sleep Apnea akut."
Hermione kembali menyesap Americano-nya yang masih hangat secara sihir. "Lalu apa yang akan kau lakukan? Dari MRI yang aku baca jantungnya kini mengalami pembengkakan dan ventricular septal defect pada katupnya."
"Aku sudah pernah mengoperasi katupnya saat ia berusia satu tahun, aku tak tahu apa yang terjadi hingga katupnya kembali rusak. Aku berencana untuk kembali memperbaiki katupnya dan memperbesar aorta jantungnya yang rusah dan memasang trakeostomi karena Sleep Apnea-nya sudah terlalu akut. Aku tak mau ia beresiko henti napas kembali saat tidurnya."
"Oh poor Micah," gumam Hermione.
"Kau ada jadwal operasi hari ini?" tanya Draco sembari mematikan layar MRI sihir itu.
Hermione menggeleng. "Aku hanya memiliki jadwal praktek dan mengajar serta visit hari ini."
"Great. Aku akan mengoperasi Micah pukul 11 siang ini. Makan malamlah denganku. Bibendum pukul 8."
Tanpa tedeng aling-aling lagi pria itu keluar tanpa meminta persetujuan dari Hermione. Wanita itu hanya mengedik lalu tersenyum.
000
Hari Hermione begitu tenang dan nyaman. Segalanya berjalan sesuai jadwal. Tak ada kasus berat saat prakteknya tadi. Proses mengajarnya untuk para mahasiswa healer juga berjalan dengan lancar. Ia hanya perlu visit pada semua pasien post-op nya lalu ia bisa pulang dan bersantai sebelum acara makan malamnya di Bibendum dengan Draco. Namun lancarnya semua jadwal yang ia miliki tak menjamin bahwa tak ada yang ia pikirkan. Ada banyak sekali hal yang berkecamuk di kepalanya. Dan hampir semuanya di dominasi oleh Draco Malfoy. Dalam rangka apa ia mengajak Hermione makan malam sampai apakah ia harus pulang dahulu untuk mandi sebelum acaranya makan malamnya. Atau ia akan datang dengan santai saja seperti makan malam regular dengan para kolega healer-nya.
"Selamat siang, Healer Granger."
Tetiba saja Daniel muncul di sisi Hermione saat ia berjalan di lorong menuju ICU tempat beberapa pasien yang akan ia kunjungi saat ini. Hermione mengerutkan alis saat melihat resident tingkat akhirnya itu. "Kau seperti hantu, Torres."
Daniel Torres hanya terkekeh lalu menyerahkan perkamen berisi chart dari para pasien post-op yang berada di ruang ICU saat ini. "Kau sedang senang, Healer Granger?" tanya Daniel sembari mengikuti Hermione di sisinya.
Lagi-lagi wanita yang mengikat tinggi rambutnya itu mengernyitkan alisnya. "Kau seorang healer atau ahli ramal, Torres?"
"Tak perlu menjadi seorang peramal untuk mengetaui bahwa kau tengah bahagia saat ini, Healer Granger," balas Daniel.
Hermione mengedikkan bahunya dan kembali membaca chart pasien di perkamen itu. "Kau sedang berkencan?"
"Shut up."
"Kau akan bekencan malam ini?"
Sontak Hermione menghentikan langkahnya lalu menatap kesal pada Daniel. "Shut up, Torres."
Daniel tersenyum kecut. "Aye, Healer Granger."
Mereka sampai di bangsal ICU yang seperti biasa terasa sangat tenang dan hal itu adalah pertanda baik. Jika bangsal ICU mengalam keributan berarti salah satu pasien pasti mengalami masa kritis atau tengah meregang nyawa dan para healer juga perawat tengah mencoba menyelamatkan mereka.
"Healer Walcott."
Daniel kembali membuka suaranya saat melihat healer anestesi itu berada di nurse station bangsal ICU ini karena seharusnya ia berada di ruang operasi saat ini. "Kau tak berada di OR?"
"Apakah Healer Malfoy sudah selesai dengan operasinya secepat ini?" tanya Daniel.
Mendengar nama Draco disebut, Hermione mengalihkan perhatiannya pada Daniel dan Sam Walcott. Sam tampak mengehela napas setelah meletakkan perkamen yang tadi dipegangnya ke meja di nurse station ini. "Terjadi komplikasi akut di tengah operasi. Pasien terkena serangan jantung dan tubuhnya terlalu lemah. Malfoy lost him."
"Micah?"
"Apakah pasien itu Micah, anak lelaki berusia 6 tahun?" Hermione kembali bertanya.
Sam mengangguk. "Benar. Micah dengan tetralogy of Fallot."
Jantung Hermione mencelos saat mendengarnya. Baru saja pagi ini Draco membahas keadaan bocah ini dengannya. Hanya dari cerita Draco saja Hermione tahu bahwa Micah sangat special bagi pria itu dan ia sangat tahu bahwa Draco pasti tengah kacau saat ini.
"Lalu dimana Malfoy?" tanya Hermione.
"Ia menghilang setelah berbicara dengan wali pasien," balas Sam.
Tanpa banyak berbicara setelah menunaikan tugasnya di bangsal ICU ini Hermione berlari menuju dimana Malfoy berada.
000
Hermione Granger berdiri di ambang pintu ruang tangga yang letaknya tak jauh dari OR. Napasnya tersengal karena ia berlari secepatnya dari bangsal ICU menuju ruang tangga ini. Tepat seperti perkiraannya, ia dapat melihat punggung dari Draco yang tengah duduk di salah satu anak tangga. Ia terdiam dan hanya menatap kosong ke arah dinding di hadapannya. Perlahan namun pasti Hermione menuruni anak tangga itu dan duduk pada dua anak tangga di atas Draco. Draco masih terdiam. Ia hanya bergeming. Seakan tak peduli pada siapapun yang tengah bergabung dengannya saat ini.
Pria itu masih diam. Hanya gerakan naik turun di punggungnya yang menunjukkan bahwa ia masih bernapas saat ini. Sudah lama sekali Hermione tak mendapati Draco seperti saat ini. Terakhir kali adalah saat mereka di program intern. Kala itu Professor Sinatra yang dibantu oleh dirinya juga kehilangan seorang pasien. Draco merasa sangat bersalah karena ia sudah mengenal pasien itu bahkan sebelum ia resmi menjadi healer dan ia merasa tak mampu menyelamatkannya. Persis seperti saat ini.
Hermione meletakkan tangannya di bahu Draco. Setelah menunggu beberapa saat barulah Draco menyambutnya. Pria itu memegang tangannya. Masih tak ada kata yang keluar dari mereka berdua. Hermione hanya menunggu sampai Draco membicarakan segalanya.
"Aku sudah melakukan lima kali prosedur pembedahan padanya selama enam tahun ke belakang. Semuanya sulit namun aku berhasil dan ia bertahan dengan baik," Draco perlahan membuka suaranya.
Ia menghela napas panjang sebelum kembali melanjutkannya. "Tetapi, kali ini sangat berbeda. Micah sangat lemah. Jantung yang sudah kuperbaiki perlahan dari tahun ke tahun itu memutuskan untuk tak lagi ingin diselamatkan. Ia terkena serangan jantung dan saat aku berusaha untuk menyelamatkannya, Micah seakan menyerah."
"And then I lost him. He died in my hands, Hemione," ujar Draco bergetar.
Hermione dapat merasakan pundaknya ikut bergetar. Draco Malfoy tengah berusaha menahan tangisnya agar tak pecah pada saat ini. "Dan aku sudah bersiap diri untuk dimaki oleh walinya saat memberitakan hal ini pada mereka, tapi tidak seperti apa yang kubayangkan. Mereka hanya terdiam sambil menatapku kosong lalu berpelukan untuk saling menguatkan."
"Walaupun tidak ada kata yang terucap, tapi aku tahu mereka hancur saat ini. Mereka kehilangan Micah. Mereka kehilangan seorang anak. Dan aku tahu bahwa tak ada orang tua yang sanggup menerima saat kehilangan seorang anak, Hermione."
Draco terdiam sejenak. "Jika istri ditinggal suaminya, ia akan disebut janda. Jika suami yang ditinggal istrinya, ia akan disebut duda. Jika anak yang ditinggal orang tuanya, ia akan disebut yatim. Saat itu aku baru sadar bahwa tidak ada sebutan untuk orang tua yang ditinggal mati anaknya karena tidak ada satupun kata yang dapat mengekspresikan betapa hancurnya perasaan mereka."
Draco semakin bergetar saat mengucapkannya. Melihat hal ini, Hermione langsung bangkit dan duduk di sisi Draco lalu memeluknya. "Menangislah, Draco. Keluarkan segalanya agar kau lega."
Pria itu langsung membalas pelukannya. Ia mengubur kepalanya di lekukan leher Hermione. Tidak ada suara isak tangis, hanya air mata yang terasa disana. "Aku akan gila bila hal ini terjadi pada Alistair, Hermione."
"Hush, Draco. Don't say that."
"Kita adalah healer. Hal ini tidak akan terjadi pada anak kita," balas Hermione yang berusaha menenangkan Draco namun perasaan berubah campur aduk karena ia juga pasti akan gila bila hal ini terjadi pada Alistair.
"Mungkin aku akan langsung mengutuk healer yang menangani anakku bila hal ini terjadi padaku," kembali Draco membuka suaranya.
Hermione masih mengelus kepala Draco lembut untuk menenangkannya. "Hal ini tak akan terjadi pada Alistair. Alistair sehat, Draco."
Mereka hanya berpelukan. Tidak ada suara yang keluar dari mereka berdua. Draco masih meletakkan kepalanya di lekuk leher wanita itu. Dan Hermione masih memeluknya erat dengan satu tangan mereka yang bertaut. Rasa damai dan tenang serta aman menyelimuti mereka berdua. Sudah lama sekali sejak mereka berada sedekat ini tanpa perlu tetiba saling melepaskan karena sebuah ego yang takut akan dibilang lemah. Ketenangan ini tiba-tiba saja diinterupsi oleh realita. Sebuah getaran terasa dari saku jubah putih yang dikenakan Hermione. Wanita itu mencoba tak memedulikannya, namun getaran itu tak kunjung berhenti.
Draco mengangkat kepalanya lalu menatap Hermione dan tersenyum sendu. "Somebody page you," ujarnya.
Hermione melihatnya. "Its from ER."
"Pergilah."
Wanita itu tak bergerak dari tempatnya. "Pergilah. Aku baik-baik saja," ujar Draco.
Hermione akhirnya bangkit dari tempatnya. Ia sedikit menyeka kotoran yang menempel di jubah healer-nya. "Kau yakin akan baik-baik saja."
"Tentu. Pergilah, Granger."
Hermione mengangguk lalu menaiki anak tangga untuk keluar dari ruang tangga ini. "Hermione," panggil Draco saat ia sudah berada di ambang pintu itu.
"Yes."
"Don't forget our dinner."
"Sure."
000
Cahaya matahari tak lagi tampak menelusup ke ruangan Draco. Pria itu terbangun oleh hawa dingin yang menyeruak dari luar ruangannya. Ia melirik sesaat pada arah hawa dingin itu dan mendapati pintu ruangannya yang ternyata tidak tertutup sempurna. Ia bangun dari sofa itu lalu duduk dengan kepala yang terasa sangat berat. Bayang-bayang wajah Micah di meja operasi tadi, tangisan dan pelukan saling menguatkan dari orang tua Micah serta pelukan hangat dari Hermione di ruang tangga sedari tadi seakan tak beranjak dari pikirannya. Draco benar-benar kelelahan secara fisik dan mental. Pria yang masih mengenakan baju biru tua kebanggan para healer surgeon itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tanpa sadar sebuah senyuman tersungging di ujung bibirnya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Dalam satu jam ke depan ia akan bertemu dengan wanita yang masih mengingat ruang tangga sebagai tempat pelariannya saat situasi sudah menekannya. Tanpa berlama-lama lagi ia beranjak dari sofa yang sedari tadi ditidurinya menuju kamar mandi dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya.
000
Tepat pukul tujuh tiga puluh Draco turun dari ruangannya untuk langsung menuju parking lot tempat ia memarkirkan mobil sihirnya. Ada hal yang aneh setibanya di lobby malam ini. Suasana tampak lebih ramai dari biasanya. Banyak sekali perawat dan healer bahkan petugas rumah sakit yang berlarian menuju ER. Merasa masih memiliki sedikit waktu, Draco melangkahkan kaki kesana guna mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Rasa penasarannya semakin memuncak saat ia melihat orang-orang dari Departemen Kesehatan, Kecelakaan dan Bencana Sihir dari Kementerian Sihir Inggris juga berada di St Mungo. Sesuatu yang tak beres pasti tengah terjadi di rumah sakit ini.
Baru saja Draco akan menepuk bahu salah satu intern di rumah sakit ini suara nyaring dari pengeras suara sihir di rumah sakit ini terdengar sangat nyaring.
"Code Yellow."
"Code Yellow."
"Please evacuate ER."
"Code Yellow."
"Code Yellow."
"Please evacuate ER."
Kata-kata itu digemakan beberapa kali dan sontak orang-orang yang sedari tadi berkerumun berhamburan dan tetiba saja para Auror dari Kementerian Sihir menutup gerbang utama rumah sakit ini secara sihir. Draco terdorong oleh beberapa healer yang mencoba keluar dari kerumunan itu. Ia terdorong untuk kembali ke lobby St Mungo. Perasaan penasarannya masih memuncak dan Daniel Torres tampak terlihat menjulang di dalam kerumunan itu. "Virus outbreak in ER, huh?"
"Ebola. Patient is Ebola's suspected," jawab Daniel terengah tanpa melihat lawab bicaranya.
Kening Draco menngerut. "Ebola di London? What the fuck."
Mendengar suara yang sangat tak asing di telinganya, Daniel berbalik dan semakin terkejut saat mendapati siapa lawan bicaranya. "Oh God. Healer Malfoy. Kau belum tahu," jawab Daniel yang berusaha meredam rasa histerisnya serta napasnya yang lumayan tersengal.
"Apa yang belum aku tahu, Torres," suara Draco berubah serius setelah melihat air muka Daniel yang penuh ketakutan.
"Ada pasien yang diduga Ebola di ER," ulang Daniel.
"Kau sudah mengatakannya tadi."
"Hermione."
"Hermione?" Draco berbalik tanya.
"Maaf, maksudku Healer Granger."
"Stop it, Torres. Take a deep breath and tell me."
Daniel menarik napas panjang sesuai perintah Draco. "Healer surgeon yang bertugas di ER untuk menangani pasien-pasien itu adalah Healer Granger."
"Mereka mengisolasi pasien-pasien itu di ER bersama Granger."
Jantung Draco mencelos saat mendengarnya. Tanpa tedeng aling-aling lagi ia berlari sekuat tenaga menuju ER. What the fuck you are doing, Granger!
000
to be continued
A/N: Hello my dearest reader. I am sorry for so long to update. I am great and also my familly. I dont have any excuse, unless I have three kids and trust me it isnt easy ahaha. I hope you guys are doing fine. Please keep do the physical distancing, use the mask, and wash your hand. And I really hope you enjoy this chapter and please kindly leave me the review. Your thoughts are my mood booster. See you in the next chapter. Stay safe and stay healthy.
