Buster Bros turun dari panggung dan orang orang langsung membuka jalan, memberi selamat dan mengelukan nama Buster Bros. Beberapa lainnya berbisik-bisik tentang kekuatan rap bocah-bocah Yamada yang tidak bisa diremehkan.

"Selamat! Buster Bros!"

"Buster Bros!"

"Buster Bros!"

Pria botak dengan luka yang tadi mengantar mereka datang mendekat, mengucap selamat dan terimakasih. Sebuah kelegaan tampak jelas di wajahnya. "Terimakasih banyak, sudah mengalahkan Underground dan membebaskan kami dari mereka. Juga... menggantikan mereka untuk battle melawan divisi lain. Barusan itu rap yang hebat."

Ichiro menatap pria itu dengan bingung. Diikuti kedua adiknya dibalik punggung.

"Apa maksud anda, tuan?"

Pria itu tampak bingung. Lalu ia menjelaskan siapa underground yang sebenarnya.

"Jadi.. Mereka adalah..."

.
.
.
Hypnosis mic bukan punyaku, mereka murni punya KING RECORD dan kawan kawannya.
Aku hanya pinjam sebagai pemuas asupan MTCxBB.

Ah ya, ada yang comment bahwa kenapa bsd masuk sini? Biar aku jelaskan,

Ini bukan crosscover. Sama sekali bukan. Karena aku belum mengetahui seluk beluk hipumai lebih dalam, (dan juga karena aku tidak mengikuti manganya) maka akan ada beberapa karakter 'sampingan' untuk memenuhi kebutuhan cerita.

Tidak lupa akan ada OC. Namun dia tak akan masuk kedalam jalan cerita utama. Dia hanya tokoh sampingan. Tidak, aku sangat tidak menyukai jika OC masuk kedalam inti cerita. (PENGECUALIAN untuk anak-anak MTCxBB nanti.)

Oke. Intinya begitu pokoknya.

Typo dan kesalahan penulisan mohon dimaklumi :)

Happy reading~

.
.
.
Ichiro syok berat saat tau siapa sebenarnya Underground yang tadi dilawannya.

Underground adalah sebuah kelompok rapper yang akan menjadi perwakilan dari divisi Ikekuburo untuk rap battle dengan divisi lainnya.

Pantas saja mereka begitu sombong dan kuat. Sayangnya mereka juga melakukan pekerjaan kotor.

Battle ini akan mempertaruhkan wilayah masing masing divisi. Jika kalah, maka wilayah dari divisi yang dipertaruhkan akan menjadi milik divisi yang menang. Masing-masing wilayah akan mengirim sebuah tim yang beranggotakan tiga orang dan akan battle di pusat pemerintahan Jepang, Tokyo.

Pria botak tadi menjelaskan dengan tenang, ia bertanya apa Ichiro baik baik saja?

"M-maaf... Tapi kami tidak ingin menjadi perwakilan divisi..." Ichiro membungkuk dalam-dalam. Dalam hatinya merutuki perbuatannya yang tidak mencari informasi lebih jauh tentang Underground atau rap battle yang baru saja mereka menangkan.

"Tapi kalian bisa mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Rumah mewah, segala kebutuhan kalian akan dibiayai pemerintah. Kalian hanya perlu menang melawan divisi lain! Tidakkah itu menggiurkan?"

Ichiro makin pias. Tidak. Ia tak membutuhkan semua itu. Hidupnya sudah berkecukupan.

Ichiro adalah seorang hacker sekaligus ahli informasi. Ia bisa saja mendapat informasi yang diinginkan dari komputernya walau kemampuannya terbatas. Karena tidak semua informasi bisa didapatkan dengan mudah tanpa resiko. Ia memulai pekerjaan gelapnya itu saat berusia 14 tahun. Ia putus sekolah dan memilih belajar dirumah menggunakan aplikasi belajar di internet karena dulu saat heat pertamanya, ia hampir diserang oleh seorang alpha berambut putih dengan mata merah. Beruntung saat itu ayahnya sedang dalam perjalanan pulang dan menyelamatkannya.

Saburo sendiri masih sekolah, namun ia memilih mengikuti nii-channya nanti saat lulus. Mengingat dia adalah omega dan akan rawan jika ia berada diluar rumah. Walau ia belum heat, tetap saja itu rawan bukan? Heat pada omega bisa terjadi kapan saja dan Ichiro tidak ingin mengambil resiko lebih besar.

Jiro adalah pelacak, ia ahli dalam mengumpulkan informasi tentang sebuah organisasi atau rencana rencana busuk pemerintah yang tidak bisa dilacak menggunakan internet. Jiro memiliki banyak koneksi dari bermacam macam orang. Terutama orang-orang yang hidup 'terlantar'. Pernahkah kalian mendengar bahwa orang yang menjalani hidup lebih kejam dari yang lainnya telah mendengar dan mengetahui hal yang tidak biasa diketahui orang lain?

Misalnya saja Nakahara Chuuya kemarin, dia adalah seorang eksekutif mafia yang mengatur jaringan mafia di Yokohama bersama matenya, Dazai Osamu. Lalu ada Akutagawa Ryuunosuke, mafia yang bekerja di Shizume. Ada pula Izaya, pria licik ahli informasi di Ikekuburo yang menjadi teman baiknya. Lalu geng bernama HOMRA di kota Shibuya dan lainnya.

Intinya mereka sudah hidup berkecukupan. Mengingat gaji yang didapat Ichiro dari kliennya cukup besar dan Jiro yang mendapat upah yang lumayan dari informasinya yang akurat. Saburo juga mendapat upah yang cukup besar, (walau jarang) dari virus ciptaannya yang dapat menghancurkan satu perusahaan besar dalam seminggu.

Mereka tidak butuh tunjangan dari pemerintah. Tidak setelah Ichiro menemukan fakta bahwa kematian kedua orang tua mereka disebabkan oleh keegoisan pemerintah yang ingin membungkam Informasi yang dimiliki keduanya.

"Tidak, aku tetap menolak untuk menjadi perwakilan divisi." Ichiro berucap tegas, demi apapun ia rap battle tadi hanya untuk membalaskan adiknya dari masalah dan melepaskan para warga dari ancaman. Otaknya memikirkan tentang alasan dibalik apa yang terjadi pada mereka. Bisa saja ini ternyata jebakan.

"Nii-chan..."

"Aku tidak mau menjadi senjata tempur Ikekuburo. Tidak jika adikku akan berada didalam bahaya karenanya."

"Ichinii, kami tidak apa apa kok..."

"Tapi, jika kalian tidak mau menjadi perwakilan, lalu bagaimana dengan kota ini? Wilayah akan menjadi taruhan. Bagaimana nasip mereka nantinya?" seorang wanita berambut pirang dan baju seksi datang mendekat bersama dengan wanita lainnya yang berpakaian ala kantoran, membuat Ichiro makin menyembunyikan kedua adiknya dibalik punggung. Pada lengan wanita pirang dan sulaman pada baju kantoran wanita lainnya itu berhiaskan lambang Chuuoku. Siapa yang tahu apa yang akan mereka lakukan?

"Aku tetap menolak, kalian bisa mencari orang lain..."

"Terlambat. Divisi Ikekuburo memerlukan tim seperti kalian. Jika kalian ingin mengundurkan diri, kalian harus bertanding ulang dengan tim lain hingga ada yang bisa mengalahkan kalian." Wanita berambut pirang tersenyum menggoda setengah meremehkan, "jarang sekali ada omega yang bisa menang melawan alpha dan beta berkedudukan tinggi seperti mereka. Gen milik keluarga Yamada memang hebat."

"-darimana kau tau hal itu?!"

Wanita berambut hitam panjang dengan seragam rapi ala kantoran terkekeh, "namaku Aruma Itsumi. Aku adalah perwakilan pemerintah yang mengawasi divisi Ikekuburo. Salam kenal, Yamada bersaudara."

"Dari perilakumu, kau hanya beta lemah, bukan begitu?" pernyataan Saburo terdengar tajam di balik tubuh Ichiro. "Kau cukup sombong juga."

"Ahahah, benar sekali! Namun karena aku perwakilan pemerintah, siapa yang bisa melawanku? Ichijiku-sama pasti akan membalas perlakuan buruk mereka yang menindas omega dan beta lemah."

Ichiro merasa wanita didepannya berbahaya, mengingat pria yang tadi berbicara padanya sudah mundur dengan kepala menunduk takut.

"Aku menolak. Silahkan ajukan Underground untuk menjadi perwakilan Ikekuburo. Ayo kita pulang, Jiro, Saburo."

"Dan jika aku menolak? Mau tidak mau, kalian akan menjadi perwakilan kota ini, suka tidak suka. Aku tidak akan peduli. Dan siap siap saja jika mendadak salah satu anggota keluarga kalian-"

"Kuso onna!" Jiro nyaris meninju Itsumi, yang untungnya berhasil ditahan Saburo.

Ichiro mengretakkan gigi, "Kami omega. Memangnya kalian akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada kami saat rap battle?" tanyanya tajam. "Pemeritahan baru, Chuuoku. Setahun yang lalu menggulingkan pemerintahan lama dan mengeluarkan dekrit baru; perlindungan mutlak bagi wanita, omega dan beta yang terancam dan diskriminasi bagi alpha laki-laki yang bertindak kurang ajar."

Itsumi tersenyum, "Kalian laki-laki. Gender kedua bukanlah masalah besar. Lebih lagi Chuuoku akan melindungi secara utuh jika ada sesuatu yang mengancam kalian saat rap battle."

"Kalian ingin menggunakan kami sebagai kelinci percobaan?!" lengan Jiro dicengkram erat oleh Ichiro, mencegah semakin memperkeruh masalah. "Brengsek! Sejak awal kalian sudah merencanakan ini!"

"Rap battle dilaksanakan di pemerintahan pusat, Chuuoku. Kami sudah memiliki perlindungan khusus." Itsumi masih menjelaskan dengan senyuman, sedangkan wanita lainnya sudah pergi entah kemana bersama kerumunan ramai yang tadinya hadir. "Dan ya, kami hanya ingin menguji kemampuan dari gen Yamada. Tidak ada yang menyangka bahwa hasilnya akan begitu memuaskan!"

.

.

Ichiro melempar micnya ke sofa, membuatnya memantul dan jatuh dilantai dengan sedikit retakan pada huruf BB di micnya.

"CHUUOKU SIALAN!"

Umpatannya membuat Jiro dan Saburo mundur pelan pelan, sedikit takut akan amukan kakak tertua mereka yang selama ini tidak pernah menunjukkan kemarahan hingga seperti ini.

"Beraninya mereka-"

"N-niichan..."

"Jiro, Saburo, tolong urus rumah. Aku ingin menyendiri untuk beberapa saat. Tolong jangan ganggu aku," hijau-merah menatap dengan cukup tajam, penuh kemarahan, membuat Jiro maupun Saburo langsung mengangguk mengiyakan dengan sangat cepat.

"Ba-baik, niichan/Ichinii.."

Setelah memastikan Jiro dan Saburo tidak akan bertengkar, Ichiro masuk kedalam kamarnya, mengunci pintu dan duduk diatas kasur sambil memeluk dakimura bergambarkan waifu tercinta.

Jemari kurusnya meremas sang dakimura kuat hingga memungkinkannya untuk robek.

Teringat olehnya saat dulu kedua orang tuanya tiada.

Saat itu, semalam setelah kedua orangtuanya dimakamkan dan adik adiknya telah tidur, Ichiro berkutat didepan komputer. Dengan keahliannya, ia mendapatkan informasi dibalik kematian kedua orangtuanya yang dianggap sebagai kecelakaan biasa. Itu semua karena para petinggi pemerintah yang menganggap ayah dan ibunya telah mengetahui rahasia kotor mereka. Klise.

Sejak saat itu, Ichiro tidak menyukai para petinggi busuk itu. Sebisa mungkin ia tidak ingin berurusan dengan mereka. Namun sekarang...

Ah, Ichiro dilema berat. Ancaman Itsumi sebagai pengawas Ikekuburo dari Chuuoku tidak main-main. Salah sedikit, bisa-bisa kedua adiknya merenggang nyawa.

Kenapa sih, tidak wanita itu saja yang maju dan mewakili divisi Ikekuburo?! Bodohnya Ichiro. Kenapa saat Jiro menceritakan kejadian yang menimpanya, ia tidak segera mencari informasi? Sekarang posisi mereka semua terancam dan ia harus terikat dengan pemerintah yang dibencinya.

Jangan salah. Bagi Ichiro, semua petinggi negara itu sama saja. Mereka merusak dan melindungi milik mereka sendiri dengan kekuatan yang dipercayakan pada mereka. Baik yang dulu maupun sekarang, mereka tetap saja sama. Chuuoku bahkan lebih mengerikan karena merampas senjata dan menggantinya dengan Hypnosis Michrophone yang bisa merusak otak manusia.

Netra hijaunya mendadak sakit, membuatnya terpaksa memejamkannya dan membiarkan manik merahnya tetap terbuka.

Perlahan lahan, tampak seutas benang merah yang mengikat kelingkingnya. Membelit longgar lengan dan lehernya. Ujung benang itu melayang bebas, menembus langit langit kamarnya.

Ichiro langsung mengedipkan matanya beberapa kali hingga pandangannya normal kembali.

"Tsk. Ini terjadi lagi..." Ichiro menggumam. "Lebih baik aku tidur."

.

.

Disisi lainnya, Saburo dan Jiro yang sudah menyelesaikan urusan rumah berunding. Sangat jarang terjadi, namun mereka melakukannya demi Ichiro.

"Aku akan mencari beberapa informasi." Jiro berucap, "Aku akan ke Kafe di dekat taman barat. Menemui seorang teman. Oh ya, Saburo, apa kau makan coklat secara berlebihan?"

Saburo hanya mengangguk, fokus pada laptop di pangkuannya. "Aku tidak makan coklat," balasnya cuek.

Jiro mengernyit bingung. Namun ia membiarkannya saja. Ia harus cepat jika tidak ingin pulang kemalaman dan berakhir dimarahi Ichiro. 'Mungkin tadi ia mengenakan parfum sedikit terlalu banyak.' Jiro membatin. Sudah tahu kebiasaan Saburo yang begitu menyukai coklat. Terlebih dark chocholate dengan sedikit rasa pahit didalamnya.

"Aku berangkat."

"Jangan membuat masalah, baka Jiro." Saburo berujar, sinis. Namun sebenarnya ia sedikit mencemaskan kakak keduanya itu. Jiro sering diincar karena mengetahui banyak informasi berharga. Apalagi pemuda itu satu-satunya Yamada yang sering bepergian keluar rumah.

"Hmm.."

Blam.

Dan pintu tertutup, meninggalkan Saburo yang memijat kepalanya yang sedikit pusing.

.

.

Menendang batu, Jiro mengumpat.

Orihara Izaya sepertinya sedang sibuk berurusan dengan seorang alpha bersumbu pendek dan mengabaikan panggilannya.

Oh, jangan heran. Kedua orang itu sudah terkenal sebagai perusuh di Ikekuburo. Entah Izaya yang terlalu usil atau memang Shizuo yang tidak bisa menahan diri. Polisi? Mereka sudah lama angkat tangan.

"Aw! Jangan menendang nendang batu, bocah! Bagaimana jika seseorang terkena tendanganmu dan terluka?"

Seorang berseragam polisi dengan kacamata dan manik hijau menegurnya.

"Bukankah sudah ada yang terkena tendanganku dan dia baik baik saja?" Jiro menjawab dengan raut tak berdosa. Membuat polisi itu jengkel karenanya.

"Ck, jangan ulangi lagi, bocah."

"Aku bukan bocah, Pak tua."

Ctak.

Sebuah perempatan muncul, "Siapa yang kau panggil pak tua, bocah?"

"Siapa yang kau panggil bocah, pak tua?"

Mereka nyaris menarik kerah baju masing-masing lawan jika saja Izaya tidak mendadak datang dengan Shizuo yang mengejar sambil berteriak teriak dan menghancurkan rambu lalu lintas.

"Ah, halo Jiro-kun. Maaf, sepertinya aku harus mengurus alpha bersumbu pendek ini dulu. Kita bertemu setelah ini! Jaa na!" Izaya berteriak kelewat cepat hingga Jiro hanya dapat menjatuhkan rahang melihatnya. Sedangkan polisi di depannya menahan tawa karena lucunya ekspresi Jiro. "Akan kutelfon kau nanti~! Jaa na, Jiro-kunn~!"

"OII! KUTU JANGAN LARI KAU SIALAN!"

"Ahahaha! Kalau aku tidak lari, kau pasti menangkapku~ iyada! Aku tidak mau~"

Mari kita abaikan mereka dan kembali pada Jiro dan polisi sok muda didepannya.

"Cih. Lebih baik aku pergi." kesal, Jiro memilih pulang daripada melihat seorang beta dikejar-kejar seorang alpha bersumbu pendek.

"Jiro-kun, sepertinya kau bukan orang biasa ya, kau bidadari, manis sekali." polisi itu menggoda karena lucunya wajah Jiro tadi. 'Sepertinya bocah ini masih polos dan lugu,' polisi itu membatin.

"H-hah?!"

"Kau manis sekali, Jiro-kun. Aku jadi ingin mengarungimu dan membawamu pulang."

Jiro tidak menanggapinya dan langsung lari meninggalkannya begitu saja dengan ekspresi wajah ngeri. Membiarkan polisi yang kini terkacangi tersenyum jengkel.

"Dasar. Aku masih berumur 29 tahun begini... Tunggu, apa wajahku memang setua itu ya? Tapi Riou tadi pagi berkata bahwa aku masih sama seperti biasanya."

.

.

Ichiro membanting pintu kamarnya, membuat Saburo yang sedari tadi masih asik didepan laptop berjengit kaget.

"I-ichinii?"

"Saburo. Aku sudah mencarinya dan menganalisanya lagi. Kita dijebak oleh Chuuoku." Ichiro duduk menghempaskan diri disamping Saburo, memijat pangkal hidungnya dengan wajah luar biasa kesal. "Mereka sengaja memancing kita kesana untuk mengetahui keunikan dari gen Yamada sekaligus 'memantau' kita."

"Memantau? Apa ini ada hubungannya dengan Tou san dan Kaa san, Ichinii?"

"Hm. Aku tidak tahu pasti. Tapi kemungkinan besar mereka sudah lama sadar kalau kita mengetahui kebusukan mereka. Hanya saja, aku tidak tahu kenapa sampai sekarang mereka belum menangkap kita atau membunuhku."

"Kepala dan jaringan gelap kita cukup berharga. Mereka tidak akan berani bertindak gegabah. Kita harus memilih jalan secara hati-hati mulai sekarang." Jeda sejenak dari perkataan Saburo yang sudah mendapat beberapa informasi kejadian tadi pagi. "Ichinii, bagaimana menurutmu dengan rap battle untuk memperebutkan wilayah? Aku masih tidak paham, kenapa setiap divisi harus memperebutkan wilayah satu sama lainnya."

"Mereka ingin memproduksi senjata perang baru. Perang memang dihentikan untuk sekarang. Tapi dalam lima sampai sepuluh tahun kedepan, besar kemungkinannya kalau Hypnosis Microphone digunakan untuk perang dengan kekuatan yang lebih efektif daripada senjata api."

"Souka. Sasuga Ichinii!"

Ichiro tidak menanggapi. Pandangannya menerawang seolah-olah sedang berpikir. "Na, bagaimana kalau kita terima saja tawaran Itsumi-san? Informasi yang kita peroleh bisa lebih banyak. Memang sedikit beresiko, tapi kita akan memiliki kartu untuk menghancurkan Chuuoku sewaktu-waktu."

"Ichiniii yakin? Apakah tak apa jika aku ikut?"

Ichiro mengangguk, "asal kau tidak sedang heat, aku tidak masalah jika kau ikut. Dimana Jiro? Aku ingin mewanti wantinya agar tidak keluar dari rumah dulu."

"Dia keluar tadi, katanya ingin bertemu teman-"

"Tadaima! Saburo, aku bawa bahan makanan untuk nanti malam dan besok. Jadi niichan tidak perlu keluar-niichan?"

Ichiro tersenyum, "ya, Jiro. Ayo sini. Aku mau tanya pendapat kalian berdua."

Jiro mendekat setelah mengunci pintu rumah, "ada apa ichinii?"

"Bagaimana pendapat kalian tentang... Divisi Yokohama?" bukan karena iseng, namun karena Ichiro tau bahwa kedua adiknya telah mencari informasi tentang lawan yang akan mereka hadapi untuk berjaga-jaga.

Saburo memasang wajah bangga, "aku dapat informasi bahwa mereka memiliki 3 anggota yang cukup berpengaruh dengan latar belakang kuat. Leadernya adalah seorang Yakuza. Lalu anggotanya yang lain adalah seorang polisi yang dikabarkan korupsi dan seorang mantan tentara. Nama mereka adalah MTC, Mad Trigger Crew."

Jiro ikut ikutan, "aku! Aku! Aku dapat kabar bahwa leader divisi Yokohama memiliki jaringan dan akses informasi yang cukup luas. Mengesampingkan pekerjaan dengan title 'Yakuza' itu, Aohitsugi Samatoki melakukan pekerjaan baik dengan cara kotor. Dan MTC... semua anggotanya alpha. Ichinii dan kau Saburo, sebaiknya berhati hati."

Laptop di pangkuan Saburo di taruh di atas meja pendek di depan mereka, layarnya menampilkan visual dari anggota MTC.

Ichiro tanpa sadar meneguk ludah saat melihat sosok Aohitsugi Samatoki, berambut putih dan memiliki manik merah... Ia mendadak teringat masa lalunya yang mengerikan. Kejadian yang menimpanya saat berusia 14 tahun masih membuatnya trauma hingga kini.

"Niichan, apa kau baik baik saja?" Jiro memperhatikan perubahan raut wajah Ichiro. Niichannya itu pernah nyaris diperkosa dulu. Jiro juga sebagai beta telah diwanti wanti kedua almarhum kedua orangtuanya agar selalu keluar dari rumah atau mengunci diri jika kakak dan adiknya heat. Walau dia beta, tidak menutup kemungkinan bahwa dia bisa hilang kendali saat terlalu banyak menghirup feromon omega.

Beta memang tidak dapat mencium aroma omega atau alpha, mereka masih bisa terpengaruh jika terlalu lama menghirup feromon tajam.

"Aku-aku tidak apa apa." Ichiro memantapkan hati. Yang penting kedua adiknya selamat dan selalu berada didekatnya. Ichiro tidak terlalu peduli dengan rap battle antar divisi nantinya. "Tenang saja, Jiro. Kali ini jika aku bertemu dengan orang itu lagi, kupastikan dia akan mati di tanganku."

Jiro masih khawatir. Namun jika niichannya sudah berkata begitu, ia tak bisa membantah. "Baiklah, niichan."

"Ichinii pernah diserang?" wajah Saburo memucat. Ia cepat cepat memeluk lengan kanan Ichiro, "apa Ichinii baik baik saja? Kenapa aku tidak tahu?"

"Oi Saburo, jangan cari kesempatan kau ya!" Jiro ikut ikut memeluk lengan kiri Ichiro. Dasar memang brocom. "Niichan nyaris diserang saat umur 14, saat itu kau sedang karyawisata dengan teman sekolahmu. Niichan memilih untuk tidak membahasnya saat kau pulang."

"Sudahlah kalian berdua, dan lepaskan lenganku, astaga. Aku tidak bisa bergerak."

"Tau ah, Jiro! Lepaskan lengan Ichinii, jangan peluk-peluk Ichinii."

"Ngaca, Saburo! Kau juga memeluk lengan niichan!"

"Kau yang ikut-ikut!"

"Kau yang cari kesempatan!"

"Aku tidak cari kesempatan baka Jiro!"

"Kau cari kesempatan, dasar Saburo!"

"Aku tidak!"

"Kau iya! Dasar tsundere!"

"Siapa yang kau panggil tsundere, baka Jiro?!"

"Siapa yang kau panggil baka, tsundere?!"

"KALIANN!" sungguh, Ichiro pusing sakit kepala dengan kelakuan kedua adiknya. Tidak ada kapoknya bertengkar. "Jangan bertengkar!"

"Tapi niichan/Ichinii..."

"Sudah. Lebih baik aku memasak untuk makan malam. Kalian lebih baik mengerjakan tugas sekolah kalian. Saburo kau besok masih masuk bukan? Dan Jiro, bereskan kamarmu!"

Tampang kedua bocah itu langsung seperti anak anjing memelas. Astaga, Ichiro bahkan bisa melihat imajinasi ada dua kuping diatas kepala adiknya yang turun.

Jiro maupun Saburo melepas lengan Ichiro, membiarkannya mengacak acak rambut mereka dan pergi ke dapur. "Sana, nanti ku panggil jika makanannya sudah siap."

.

.

Sekali kali hang out untuk refreshing sebelum battle besok tidak ada salahnya. Namun beda lagi jika acara hang out berubah batal dan malah menemukan sebuah geng yakuza yang memporak porandakan toko di pinggiran Ikekuburo.

Baik Ichiro maupun kedua adiknya merasa kesal. Kemana para polisi? Kenapa mereka berbuat seenaknya?

"Hei! Berhenti! Kenapa kalian memukuli paman itu?!" Jiro berteriak saat seorang pria paruh baya ditangkap lalu dipukuli menggunakan kayu.

Yakuza yang lainnya menoleh lalu tertawa terbahak, "memangnya apa urusanmu bocah?! Sana, mending kau pulang saja daripada kencing di celana! Hahahaha!"

Saburo memegang lengan Ichiro, anak itu sedikit pusing, namun ia memaksakan diri. "I-ichinii... Bukankah lebih baik jika kita tidak ikut campur?"

Ichiro menyetujui pernyataan adiknya, "kau benar. Tapi Saburo, mereka berbuat kerusuhan di Ikekuburo. Walau aku benci dengan kota ini, bagaimanapun kota ini adalah tempat tinggal kita."

"Aakh! Ampun! Ampuni aku!"

"Lepas! Kenapa kau merusak tokoku?! Aku sudah membayar pajak!"

"Tidak! Kumohon, beri aku waktu untuk membayar! Tolong jangan bakar barang jualanku!"

Ichiro tidak bisa menahan amarahnya.

Bagaimana tidak? Warga tidak bersalah dipukuli dan toko mereka dirusak.

Hypnosis mic Big Brother nyaris saja dinyalakan jika tidak keduluan Middle Brother.

"Manusia, dasar manusia.

Sampah kayak kalian mah, sukanya main keroyokan.

Kalo lo berani sini lawan gue satu lawan satu.

Cih! Beraninya cuman didepan.

Ditangkap ujungnya nangis dibalik orang tua.

Hahahaha! Dasar manusia sampah!

Kerjaanya gak jelas sok sokkan berkuasa. Cih!

Ditampar aja paling sudah nangis!"

Beberapa Yakuza tumbang dengan darah mengalir lewat hidung dan mulut karena rap Jiro. Beberapa yang lainnya kabur dan ada yang memapah temannya. Sedangkan para warga yang merasa diselamatkan, segera mengucapkan terimakasih dan tergopoh gopoh lari. Entah kenapa.

"Jiro!"

"Ichinii! Kenapa mereka lari? Aku merasa ada sesuatu dibalik semua ini."

"Haah? Apa apaan sih, kau ini Saburo. Mereka lari karena takut para Yakuza itu datang lagi!"

"Tapi kita sudah ada disini! Untuk apa mereka takut?! Gelagat mereka aneh, baka Jiro!"

"Jadi kalian hanya bocah-bocah sialan yang membuat target kami kabur dan bawahanku terluka." Suara dan bau asap rokok yang mendadak tercium langsung mengalihkan atensi Yamada bersaudara. "Oi kalian, bagaimana bisa kalian kalah hanya karena rap lemah dari seorang bocah?"

Terlihat tiga orang pria berjalan mendekat. Dua diantaranya merokok dan salah satunya memakai baju tentara.

Ichiro merinding saat matanya melihat orang bermata merah dan berambut putih berjalan mendekat dengan seorang polisi dan seorang tentara dibelakangnya. Tubuhnya bergetar hebat dengan sorot benci yang begitu ketara.

Wajah pria itu mungkin telah berubah, sehingga Ichiro tidak lagi mengenalinya saat melihat visualnya kemarin. Tapi, dia tidak akan pernah lupa nada suara itu. Tidak juga dengan aura itu.

"Kau?!"

.

.
(Flashback on.)

5 tahun yang lalu.

Ichiro merasa pusing dan panas hari itu. Jadi setelah mengantarkan barang pesanan milik temannya, ia langsung melangkah pulang.

Siapa sangka di tengah jalan, mendadak ia ditabrak oleh seorang pemuda berambut putih.

"Lihat lihat kalau jalan, bocah."

Mata merahnya menatap sinis, namun Ichiro entah kenapa tahu ada kesepian didalamnya.

"Apa lihat lihat? Naksi-"

Ichiro masih ingat, saat itu tubuhnya mendadak lemas dan dicengkram cukup kuat oleh pemuda itu.

"S-sakit.." Ichiro merintih. Namun pemuda itu tampaknya tidak peduli. Ia menghimpit tubuh Ichiro diantara tembok dan dirinya sendiri. "K-kau terlalu dekat-"

"Ssh-" pemuda itu mengendus leher Ichiro, membuatnya geli sekaligus takut. Tubuhnya makin panas dan melemas, aneh. Entah kenapa kepalanya juga makin pusing. Apa ini efek tubuhnya yang panas?

"A-ah! Hentikan!" demi apapun Ichiro benar benar gemetar ketakutan saat pemuda itu menjilat lehernya.

A!

"Hentik-nggh-kan..." bukannya berhenti, pemuda itu malah mulai menyusupkan tangannya kebalik seragam Ichiro dan mengigit kecil lehernya. "Hen-mmh-ti-kan... Kumo-hon!"

"Ssh, tenang..."

BAGAIMANA ICHIRO BISA TENANG KALAU SEKARANG TUBUHNYA SEDANG DIHIMPIT OLEH ORANG ASING?!

Ichiro nyaris berteriak ketika sebuah tonjolan didadanya dicubit. Mereka masih berada di jalan umum dan pemuda ini malah melakukan pelecehan. "T-tolong.."

Manik dwi warna terpejam, tangan memukul-mukul bahu orang yang mengurungnya diantara lengan dan tubuh. Bibir bergetar tak luput bersuara lirih,

"To-long...aaah-jangan..."

Seakan tuli, Pemuda itu tidak memperdulikannya dan malah beralih menggigiti telinganya.

.

.
Dilanjut di chapter depan karena Dikhawatirkan akan terlalu panjang.

Thx.

Ps: telah di edit pada 10 januari 2021