"Maaf, aku minta maaf. Maaf." Bibirnya terus mengulang kata-kata yang sama tapi di dalam hati, dia mengumpat sangat kasar sekali. Lututnya sakit karena sudah lama sekali berlutut bahkan leher belakangnya sakit karena ia tak bisa mengangkat kepalanya sama sekali.
"Siapa yang gila hah?!"
PLAK!
Tamparan keras mendarat sekali lagi ke kepala kuning itu tapi dia yang terkena pukulan tak berani meringis.
"Aku yang gila, aku minta maaf." Panas sekali hatinya, kesal karena sang kakak terus memukulnya, masih tak mau memaafkannya. Jika saja ia tak mengingat betapa garang sang kakak, ia tak akan mau bersujud di sini dan menjadi tontonan Hinata.
.
.
.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
WILD KIDDO
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
WILD KIDDO by authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 8
.
.
.
.
"Kau tidur di luar!" setelah puas melampiaskan rasa kesal, Karin pergi menuju kamarnya dengan menghempas kuat pintu kamar.
Naruto menatap kesal sebelum matanya menoleh ke arah Hinata yang masih saja berdiri di belakangnya.
"Penakut." Naruto berdiri dengan menahan rasa sakit di lutut yang terasa sedikit kebas.
"Bodo amat." Jawab Hinata tak berniat meladeni Naruto yang tengah kesal. Bukan salahnya karena takut, Naruto menakutinya.
"Keluar kau, aku mengantuk." Usir Hinata ketika Naruto melangkah menghampiri. Karena Karin sudah terlanjur mengatakan pada ayah Hinata bahwa Hinata akan menginap, Hinata akan tidur di kamar Naruto sesuai perintah Karin karena Hinata takut untuk tinggal di kamar yang sama dengan Karin.
"A-apa" mata Hinata menoleh ke segala arah, mencoba menghindari bola mata biru Naruto yang terus menatapnya bahkan jarak di antara wajah mereka sangat dekat. Hinata memundurkan wajahnya tapi Naruto malah semakin mendekatkan wajahnya.
"Penakut."
"Aa!" Hinata terjatuh ke atas kasur di belakangnya karena wajahnya di tekan oleh telapak tangan kanan Naruto dan Naruto pergi keluar dengan sebuah bantal.
"Tidur nyenyak"
"..."
.
.
.
.
.
.
02.32
Hinata tak bisa tidur. Ruangan gelap ditambah suhu ac yang pas harusnya membuatnya mudah terlelap tapi ia tak bisa tidur.
"Tidur nyenyak." Lagi-lagi suara lembut ditambah wajah tampan tadi mengulang di kepala Hinata. Ini sudah jam dua pagi! Tapi apa daya Hinata tak bisa menghilangkan wajah lelaki itu dari pikirannya...
Wajah Hinata merona lagi untuk kesekian kalinya setiap kali ia mengingat betapa lembut suara Naruto tadi. Hinata kira Naruto akan sangat kesal padanya karena kejadian tadi yang menyebabkan dia harus tidur di ruang tamu, di atas sofa tapi mengapa dia malah menatapnya lembut sekali? Apa maksudnya? Mengapa dia tak marah?
"Hm" Hinata mengubah posisi baring menjadi duduk dan menatap ke arah pintu.
.
.
.
.
.
.
Apakah begitu caranya bergerak dalam senyap agar tak membangunkan seseorang? Satu lengan Naruto menutup mata tapi ia tahu siapa yang kini bersimpuh di samping sofa, tempatnya berbaring. Dia sangat kasar sekali, bahkan caranya berjinjit-jinjit terdengar sangat jelas di ruang tamu yang gelap dan sepi ini. Dan juga entah apa yang dia omelin dengan suara kecil selama dalam perjalanan ke sini, itu adalah penyebab mengapa Naruto terbangun.
"Hm..." dia berguman. Naruto mencoba untuk tetap diam pada posisinya bahkan ketika Hinata mencoba merasakan nafasnya menggunakan satu ibu jari. "Masih hidup." Dia berucap dengan nada lega hampir saja membuat Naruto menyentil keningnya karena geram. Tentu saja Naruto masih hidup!
Naruto masih tak membuka mata bahkan ketika Hinata menyingkirkan lengan yang menutup matanya.
Hinata memperbaiki posisinya yang bersimpuh menjadi duduk, dagunya ia tempelkan ke atas sofa empuk tepat di sebelah wajah Naruto. Yang bisa ia lihat dari posisi ini hanyalah samping wajah Naruto tapi tetap saja ia terpesona melihat betapa tampannya Naruto yang baru saja ia sadari.
"Aku tak bisa tidur." Ucapnya pelan dan juga bimbang. "Ah ini pasti karena aku belum membalas ucapan selamat malammu!" tambahnya teringat seolah itu adalah hal yang sangat penting tapi kemudian, bibirnya manyun. "Tapi kau sudah tidur." Kini pipi Hinata yang menempel di atas sofa menggantikan dagunya tadi.
Membayangkan seperti apa raut wajah Hinata sekarang membuat Naruto tak kuasa untuk tetap memejamkan mata tapi dia berusaha sekuat mungkin agar ia tetap terlihat seperti tengah terlelap.
Perlahan, Naruto memutar badannya ke samping. Hinata tampak terkejut karena kini wajah Naruto dan wajahnya hanya berjarak beberapa inci.
Jantung Hinata berdebar. Ia menahan nafas karena merasa gugup tapi kemudian ia mencoba bernafas dengan sangat lembut agar tak mengganggu Naruto.
Perasaannya aneh, Hinata tak tahu bagaimana cara menjelaskan perasaan yang tak pernah ia rasakan ini. Ia merasa sangat gugup karena kedekatan ini.
"Naruto sial." Hinata berguman kecil. Apakah ia harus merasa senang? Cahaya bulan yang menembus tirai jendela membuat ia bisa melihat wajah Naruto di dalam gelapnya ruang tamu. Ia menikmati wajah Naruto yang sangat mendebarkan hati.
Semakin lama menatap wajah yang tengah terlelap itu, membuatnya makin bimbang. Perasaan apa ini? Perasaan yang membuatnya bimbang dan tak bisa ia jelaskan? Perasaan apa ini yang membuat ia merasa gugup dan hatinya berdebar.
Ia ingin tahu...
"Jantungku berdebar dan aku merasa bimbang." Gumannya bingung.
Apa yang Naruto lakukan padanya? Apa yang lelaki ini lakukan hingga ia mendapatkan perasaan asing ini?
"..." Hinata tersentak ketika mata biru Naruto tiba-tiba tampak. Ia mencoba menjauhkan wajah tapi tangan Naruto menahan tengkuknya membuat wajahnya tak bisa menjauh.
Wajah itu mendekat.
Mata Naruto terpejam ketika ia mendaratkan bibirnya tepat di bibir Hinata. Suara kecil Hinata benar-benar tak bisa membuatnya terus pura-pura terlelap. Ia suka suara kecil Hinata yang sangat manis di telinganya.
Hinata membeku, matanya terbelak karena terkejut dan kepalanya blank padahal ia mencoba berpikir apakah Naruto baru saja menciumnya?
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi ini, Hinata seperti manusia linglung rasanya. Ia hanya diam dan hampir tak berkata apapun bahkan ia tak berani bertingkah.
Sepotong roti tawar masuk ke dalam mulutnya dan ia mulai mengunyah dengan sangat pelan. Matanya berfokus pada lelaki yang juga tengah sarapan di depannya.
"Apakah tidurmu nyenyak, Hinata?" Hinata mengangguk tanpa menoleh sedikitpun. Jujurnya, ia tak bisa tidur semalam. Ia tak tidur sama sekali percayalah. Ia membeku di dekat sofa itu sampai pagi hari dan orang tua Naruto muncul untuk mengajaknya sarapan. Jam sudah menunjuk pukul 08.22 ia dan Naruto bolos. Naruto bilang dia sedang malas ingin ke sekolah tapi apa yang ada di kepala Hinata sekarang bukan itu. Apa yang ada di kepalanya sekarang adalah Naruto menciumnya. Dia benar-benar menciumnya dan kemudian dia memejamkan mata dan terlelap dengan sangat mudah. Apa maksudnya?!
"Bagaimana kalau kita pergi mall siang nanti? Apakah kau mau?" lagi-lagi Hinata hanya mengangguk.
.
.
.
.
.
"Sadarlah, Hyuuga" tangan besar Naruto mengacak surai indigo Hinata. Dia masih saja termenung tak perduli kemanapun kakinya melangkah. Naruto merasa sangat gregetan melihat sikapnya yang lucu tapi juga kesal karena beberapa kali orang-orang yang tengah berlalu hampir menabrak Hinata.
Hinata menghentikan langkah kakinya. Ia mengamati sejenak sekitarnya. Ada orang tua Naruto berjalan di depan dan juga Karin. Kemudian Hinata menatap Naruto di samping yang juga berhenti berjalan.
"Kau menciumku?" tanya Hinata masih saja tak mempercayai hal yang ia alami itu. Tapi seperti apa ia memikirkannya, hal itu tak tampak seperti mimpi. Ia mengingat hangatnya bibir Naruto menyentuh bibirnya. "Kenapa?"
"Kenapa kau menciumku?" dia memperjelas pertanyaannya, menuntut jawaban dari Naruto tapi yang Naruto lakukan malah mengambil satu tangannya, menggandeng tangan itu dan membawanya kembali berjalan.
"Kenapa? Lagipula kita akan menikah." Jawab Naruto membuat Hinata menatapnya syok hingga matanya terbelak. Menikah, itu memang kata orangtua mereka tapi ia tak pernah mengatakan ia bersedia menikah dengan Naruto.
"Tapi kau menciumku." Jawaban Naruto benar-benar tak memuaskan hatinya yang tengah menggila. Ia ingin jawaban lain!
Naruto menoleh sebentar ke arah Hinata. Apa yang ingin dirinya katakan? Mengapa ia mencium Hinata? Ia bukanlah lelaki brengsek yang akan mencium sembarang gadis tapi Hinata benar-benar telah berhasil mengetuk kasar pintu hatinya hingga membuat hatinya terguncang. Hinata terkadang sangat manis sekali dengan tingkah kecilnya membuat Naruto ingin memeluknya dengan sangat erat sampai dia kehabisan nafas.
"Karena aku merasakan perasaan yang sama denganmu." Naruto berkata jujur. Ia menyadari jantungya berdebar jauh lebih kencang di saat bersama Hinata dan saat yang bersamaan pula ia merasa gugup. Hinata memang bersikap seperti anak kecil tapi dimatanya, Hinata tetaplah seorang gadis yang sangat cantik dan juga manis. Dia sangat mempesona.
"..."
Hinata tak berani menatap Naruto. Ia mencoba mencerna apa maksud dari kalimat Naruto tadi tapi mengapa Naruto melepaskan tangannya yang sedari tadi dia genggam?
Mengapa langkahnya terhenti?
Hinata menoleh ke arah Naruto untuk mencari tahu apa yang dia tatap dan kemudian ia menatap ke arah yang sama.
Lelaki pemilik surai perak itu tampak tak asing untuknya.
Toneri.
Hinata melihat Toneri berdiri di dekat Time zone, menatap ke arah dirinya dan Naruto.
Entah mengapa.
Hinata bertanya-tanya mengapa.
Ini adalah pertama kali dirinya tak bereaksi melihat lelaki itu.
Ia tak tersenyum lebar menatapnya.
Ia tak langsung berlari menghampirinya.
Ia bahkan tak memikirkan kenapa lelaki itu bisa ada di sini.
Apa yang ia lakukan hanyalah kembali menatap Naruto.
.
.
.
.
To be continue
Pertamaa maaaf baru up. Kemarin sibuk selesaikan fic sebelah. Maaf juga kalau mengecewakan tapi semoga kalian suka!
Terima kasih
Bye byrr
