"Ngerjain UN-nya harus fokus, ya! Jangan mikirin aku mulu!"
" … kamu itu ngeselin, tahu gak?"
"Tapi Abang tetep sayang, 'kan? HAHAHA!"
"Gusti nu Agung …."
"Sabar ya, Kak Hali. Lata emang sinting."
"NGACA WOI, LARON SEMRIWING!"
Solar menghadap cermin.
"Aku ganteng, ya."
"Bodo amat, Lar."
[Gadis Jamban dan 7 Kurcaci Tampan]
Chapter 6 : Arjuna vs Arwana (3)
Latarin duduk di atas kasur dengan bibir dimanyunkan. Kedua matanya menyipit tajam, terarah pada Blaze yang sedang bersenandung sambil mengorek isi lemari Latarin tanpa izin. Sesekali pemuda itu menarik sepotong atau dua potong baju dan melemparnya ke atas kasur. Terkadang sengaja dibuat mengenai kepala sang empunya kamar.
Tak tahan lagi, Latarin menggeram, "Kalian ngapain masuk kamarku seenaknya begini? Tak tahu apa, tadi itu aku sedang sibuk ngerjain PR?"
Solar, salah satu penyusup yang lain, tertawa tertahan. Dia duduk di meja belajar Latarin dengan senyum angkuh terpasang jelas di wajahnya. "Sibuk ngerjain PR apa sibuk nangisin PR?" ujar si maniak jingga setelah melirik buku PR matematika di atas meja.
Latarin mendelik. Solar tidak salah, sih. Tadi Latarin memang sedang menangisi takdir kejam dan guru matematika yang jauh lebih kejam karena memberi tugas isinya soal analisis trigonometri semua.
Bagaimana Latarin bisa membuktikan bentuk pecahan trigonometri a di ruas kanan itu sama dengan bentuk kali kuadrat trigonometri b di ruas kiri? Membuktikan kuaci merek apa yang lebih enak saja dia tak mampu!
Siapa sih yang membuat teori sinus cosinus tangen? Kok, ya, niat amat bikin anak orang menderita?
"Kau tidak tahu pusingnya membantai soal trigonometri!"
"Heleh, trigonometri doang."
Doang, katanya, doang.
Latarin mengelus dada, berbisik pada diri untuk mengabaikan setan mentereng yang tamak ilmu pengetahuan itu. Matanya kembali diarahkan pada setan api yang sepertinya sudah puas mengacak-acak koleksi pakaian milik Latarin.
"Kak Blaze ngapain, sih?" desis Latarin. Dia ogah memikirkan ribet-nya membereskan kembali pakaian yang sudah berserakan di atas kasur. Ada alasan mengapa dia lebih sering mengambil pakaian dari tumpukan paling atas dan enggan mengganti sebelum tercium bau atau terlihat kotor! "Beresin lagi, ya. Aku enggak mau tahu!"
"Tenang, nanti Thorn bantu beresin kok!" sahut satu-satunya malaikat yang ada di ruangan itu.
Sedari tadi Latarin bertanya-tanya, ada hajat apa Thorn ikut Solar dan Blaze menjajah kamarnya. Terjawab sudah. Rupanya Thorn dimanfaatkan dua setan itu sebagai cara lari dari tanggung jawab. Duh, Latarin jadi tidak enak hati.
"Hm … enggak usah deh, Thorn. Biar Lata lipat sendiri aja."
"Yakin?"
Sumpah, ya. Abangnya yang punya hobi fotosintesis di akhir pekan ini kelewat presyes. Latarin sering merasa kesilauan jika yang bersangkutan sedang tersenyum lebar. Sepertinya gen manis jatah Solar disedot semua oleh Thorn, sampai-sampai si Laron jadi … begitu.
"Nih, coba pake yang ini dulu!"
Kembali lagi pada krisis di pagi hari ini.
Latarin menatap tajam rok pilsket berwarna jingga dan tunik berhias motif bunga yang disodorkan Blaze padanya. Gadis itu mendesis, "Ogah! Pake aja sendiri!"
Senyum di wajah Blaze berubah masam. "Lata adekku sayang, ganti celana lapangan dan kaos hitammu sekarang, oke? Kau mau kencan dengan sohibku, bukannya diajak tawuran oleh dia!"
Tentu saja, Latarin tidak terima.
"Enak aja ngatur-ngatur! Yang mau jalan siapa, yang heboh siapa! Kak Fang aja gak mempermasalahkan!"
"Kalau kamu keluar kaya gini, Kak Hali mana mungkin cemburu!"
Nah, 'kan? Ketahuan juga maksud busuk para setan.
Latarin tersenyum. "Kak, baku hantam aja yuk!"
.
Setelah dijanjikan 7 bungkus kuaci jumbo, akhirnya Latarin setuju untuk mengganti kostum mainnya.
(Perlu ditekankan, MAIN. Walau Solar bilang "kencan" ini di KBBI bisa dipakai antarteman, Latarin menolak menyebut outing ini kencan. Demi menghindari kesalahpahaman dan siul-siulan menggelikan dari para setan yang bersangkutan.)
Kurang lebih satu jam Latarin habiskan bolak-balik kamar mandi untuk mengganti baju sambil menyimak perdebatan antara Solar dan Blaze soal model atau warna mana yang lebih cocok dipakainya. Itu adalah satu jam penuh kesengsaraan baginya. Latarin rasa, ada beberapa argumen yang tak patut ia dengar dari mulut mereka. Argumen mereka lama-lama terdengar seperti fantasi terdalam mainstream para kaum jomlo!
Untung saja Kak Taufan sedang ujian. Kalau tidak, bisa-bisa dalaman pun ikut dipermasalahkan!
Setelan siap siaga tawuran pun dilepas, diganti pakaian simpel yang cukup membuat gemas. Baju yang dipilih adalah kaos abu polos berlengan panjang yang ditimpa overall berwarna biru muda dengan hiasan estetik berupa ukiran bunga dan sulur tanaman putih. Jilbab putih polos dan topi beenie berwarna biru muda dipilih sebagai penutup kepala. Tak lupa, sepatu kets dan ransel biru muda turut melengkapi juga.
Sekadar info, tiga barang terakhir itu milik Ice. Dipinjam tanpa permisi pula.
Kalau Ice bangun dari hibernasi nanti … semoga amalan Solar dan Kak Blaze tidak diterima di sisi-Nya, aamiin.
.
Pukul 10 pagi, Fang datang menjemput Latarin. Dari respons pemuda itu—mata membulat sejenak dan pipi yang disapu rona merah—Latarin akhirnya percaya kakak-kakaknya tidak salah memilihkan pakaian. Menurut gudang referensi Prof. Ice, respon seperti itu mengartikan ketertarikan seorang adam terhadap penampilan perempuan yang dilihatnya.
Latarin jadi penasaran bagaimana respon Halilintar setelah melihat foto dirinya yang Solar kirimkan. Kalau sampai menyobek kartu peserta ujian, Latarin akan dengan senang hati bertepuk tangan. Tambahan mentraktir duo setan itu jajan di warungnya Mpok Kiki Ta, pakai uang mereka tentu saja.
"Mau ke arkade dulu? Masih ada tiga puluh menit sebelum filmnya diputar," tawar Fang sekembalinya dari loket khusus reservasi daring.
Latarin menyedot minuman bersoda—yang ia pesan selagi menunggu Fang tadi—sambil berpikir. Tawaran sang senior memang cukup menggoda. Banyak mesin permainan yang Latarin sukai di arkade mal pusat kota ini. Akan tetapi, Latarin sadar diri. Selain kuaci nikmat, mesin permainan laknat adalah hal yang bisa membuatnya lupa diri. Lebih baik mencegah daripada menyesali.
"Ke arkadenya habis nonton aja, deh! Biar mainnya puas," jawab Latarin pada akhirnya.
Fang mengangguk, mengambil tempat duduk di depan Latarin. Setelah itu, terjadilah keheningan yang canggung.
Biasa bertemu Fang di tengah ricuhnya markas atau medan tempur tawuran, Latarin tidak nyaman dengan suasana yang ada. Belum lagi musik yang diputar pihak bioskop liriknya mellow semua, membuat suasana bosan semakin kental. Latarin jadi gatal ingin memancing kerusuhan.
Begitulah, jadi adik Blaze bertahun-tahun pasti ada khasiatnya. Lihat saja Ice yang beruntung jadi kembaran dia! Luarnya sih adem ayem. Giliran lihat saudara-saudaranya rusuh, bukannya menghentikan malah dibiarkan saja sementara dia hanya menyaksikan sambil mengukir senyuman!
Ah, ya. Jangan lupakan juga pedoman spesial dari Taufan sang biang kejahilan. Latarin di sekolah cuma pernah dibanjur air kolam rumah kosong saja sudah merupakan sebuah keajaiban.
Omong-omong soal para abang ….
"Kak Fang punya kakak, 'kan?"
Fang mengalihkan pandangannya dari buku menu di atas meja, menatap Latarin dengan sebelah alis terangkat. "Iya, kenapa?" tanggapnya.
Latarin menopang dagu, bertanya, "Bagaimana rasanya?"
Mendengar itu, Fang mendengkus. Sudut bibirnya tertarik sedikit. Latarin jadi teringat ekspresi Halilintar saat abangnya itu mendengar sesuatu yang kocak.
"Biasa saja, sih. Jarak umurku dengan Kak Kaizo lumayan jauh, makanya gak terlalu dekat. Beda kalau dibandingkan dengan rumahmu."
"He … gitu ya." Latarin manggut, tak tahu harus membalas bagaimana. Lagi pula, kenapa Fang harus membandingkan dengan rumah Latarin yang mayoritas penghuninya jelas tidak waras?
"Kau sendiri? Gimana rasanya dikelilingi 7 kakak laki-laki?" Fang balik bertanya.
Latarin tertawa kecil. "Nano-nano, Kak. Apalagi mereka punya sifat dan keunikan masing-masing."
"Paling akrab dengan siapa?"
"Bang Hali." Latarin menjawab spontan.
Fang tampak terkejut dengan jawaban itu. "Kukira Solar atau Thorn, lo. Kalian 'kan sepantar?"
"Di sekolah, aku memang lebih banyak bareng Solar dan Thorn; apalagi sebelum masuk SMA yang mana PR dan jadwalnya masih sama." Tak heran jika Fang atau anak-anak di sekolah mengira Latarin lebih dekat dengan mereka. "Tapi waktu awal-awal ketemu, aku gak nyambung sama mereka. Solar dulu songong banget! Sekarang juga sih, tapi dulu kalau kau enggak paham dia ngomong apa, pasti dicap bego dan bakal dicuekin total. Cuma Kak Thorn aja yang banyak dia ajak ngobrol, meski aku yakin ybs enggak paham-paham amat. Pokoknya mereka berdua itu pas kurcil cenderung punya dunia sendiri."
Fang mencondongkan badan, tampak tertarik mendengar lanjutan. "Kalau Kak Gempa? Blaze bilang dia semacam ibu kedua kalian."
Ibu kedua, katanya?
Latarin menahan tawa. "Yah, emang kelakuan Kak Gempa kaya induk ayam sih. Terutama kalau Mama gak ada di depan mata. Tapi Kak Gempa kalau belum dekat, suka malu-malu dan kaku gitu. Sekarang gak kelihat karena udah terlatih kemampuan public speaking-nya.
"Kalau Kak Taufan, di ruang publik emang keliatan paling friendly dan gampang ngerangkul anak-anak lain. Tapi kalau secara satu lawan satu, ya mana terusik privasinya, kalau belum kenal dingin banget! Masih sampai sekarang, btw. Aku sampai mengira dia punya rencana jahat gara-gara di depan Mama terlihat 'berusaha' akrab denganku, tapi di belakang cueknya lebih parah dari Solar.
"Kak Blaze dan Kak Ice dulu masih sering tag-team bikin ulah di rumah. Kak Blaze sesekali narik aku main sama mereka, tapi aku ngerasa jadi obat nyamuk. Sumpah, kompaknya mereka gak ada yang ngalahin. Kaya punya telepati gitu. Kak Ice gak ngomong aja, Kak Blaze tahu segalanya."
Di sekolah mungkin Blaze dan Ice nyaris tidak pernah bersama. Tapi, saat Fang berkunjung, tak sekali ia menyaksikan komunikasi lewat tatapan yang dilakukan kembar tengah keluarga Amato itu. Memang benar, pikiran keduanya seolah terhubung satu sel otak tak kasatmata.
"Jadi … Kak Halilintar yang duluan akrab denganmu, barulah mereka ikut dekat?" simpul Fang.
"Mana ada!" Latarin tertawa lepas. "Bang Hali ngajak gelut mulu, tahu! Papa juga sering nunjuk Bang Hali buat ngelakuin sesuatu sebagai 'kakak' buatku, yang mana dia lakuin sambil ngomel-ngomel. Gak ikhlasnya kelihatan banget!"
Senyum lebar Latarin ukir di wajah, mengingat masa-masa jadi Tom and Jerry-nya keluarga Amato bersama Halilintar.
"Yah … di antara semua, aku lebih sering bareng Bang Hali walau ujungnya baku hantam mulu. Eh, justru karena sering bertengkar itu kali ya, makanya jadi dekat?" Latarin angkat bahu. "Karena kebiasaan gitu, sampai sekarang, kalau ada apa-apa pasti Bang Hali yang kurepotin pertama. Pokoknya, jangan percaya sama tingkahnya yang kadang bau-bau ansos. Dia menekuni statusnya sebagai kakak paling tua dengan serius. Meski gak kelihatan, dia yang paling peka pada keadaan kami dan memang yang paling diandalkan bahkan oleh Kak Gempa."
"Pernah ngerasa sedih gak, karena mereka bukan keluarga kandungmu?"
Latarin bersandar di kursi, tersenyum menatap langit-langit bioskop. Gadis itu bergumam rendah, "Bagaimana aku bisa merasa sedih, sementara mereka tak pernah memperlakukanku secara berbeda?"
Ya, seperti yang sudah disebutkan, Latarin tak bisa menyombong penuh soal tujuh saudara laki-lakinya. Selalu ada orang yang menyeletuk, mengingatkan Latarin, kalau mereka tidak berbagi DNA yang sama. Tetapi, Latarin tak mempermasalahkannya. Memangnya kenapa kalau mereka saudara tiri?
Tak bisa disebut kandung bukan berarti persaudaraan mereka palsu, betul?
.
Sementara di kediaman Amato; Halilintar, Taufan, dan Gempa baru saja pulang ujian. Mereka bertiga kompak melangkahkan kaki ke ruang keluarga setelah sadar sambutan berupa kericuhan yang mereka dengar berasal dari sana.
Satu langkah masuk, ketiganya terpana. Mereka melihat Solar sedang duduk di sofa, kedua kaki diangkat ke atas meja, seolah dia adalah seorang bos mafia. Kepala si bungsu laki-laki bahkan dilengkapi fedora! Dia sedang menonton film dokumenter alam liar, satu baskom berondong jagung siap dicomot tangan satu sementara yang lainnya memegang remot. Kembarannya berada tak jauh dari sana, duduk di pintu menuju halaman belakang, terlihat sedang berbincang seru dengan satu pot kecil bunga kaktus.
Baik Solar ataupun Thorn, keduanya sama sekali tidak mengacuhkan Blaze di sudut ruangan yang sedang menjerit seperti aktor film horor ketika disapa "ramah" oleh setan. Tak juga menghiraukan kalau "setan biru" yang memojokkan Blaze itu sedang memutar pisau di tangannya.
Gempa mengatur napas. "Ice," katanya hati-hati, "kau sedang apa?"
"Mau masak," balas Ice singkat, tanpa menoleh sedikit pun.
Dari wajah Blaze yang menyiratkan permohonan pertolongan, Gempa bisa menebak ekspresi macam apa yang dipasang Ice.
Kalau di hari-hari biasa, Gempa dengan senang hati akan menghampiri keduanya dan menjadi pelerai. Memberi tahu Ice, sekesal apa pun dia pada Blaze, tak perlu sampai ditakut-takuti begitu. Cukup ancam tak boleh main, anak itu akan tunduk sendiri. Lalu kepada Blaze, ia akan mengingatkan kalau buat onar harus ingat batasan jika tidak mau Gempa mengajukan petisi pencoretan nama dia dari kartu keluarga. Perkara selesai.
Sayang sekali, ini bukan hari-hari biasa. Kepala Gempa masih runyam dibanting-banting kebingungan atas ujian bahasa Indonesia yang jawabannya sudah seperti perempuan kalau ngode—alias, batas iya-tidak menjadi samar dan entah jawaban mana yang benar dari pilihan yang tersedia.
Kepala Gempa overload, tolong. Gempa mau tidur saja.
"Kak Hali yang urus, ya."
Halilintar tak menahan Gempa, membiarkan sang adik kembar balik kanan bubar jalan diekori Taufan. Kalau kalian jeli, justru netranya memancarkan kekhawatiran. Calon lulusan terbaik jurusan Teknik Elektronika Industri Yayasan Kokotiam itu menghela napas. Buyar sudah kekesalan yang ia bawa sebagai oleh-oleh spesial dari sekolah untuk Solar.
"Blaze ngapain lagi?" tanya Halilintar tanpa basa-basi.
"Kok aku?" Blaze protes, nadanya setengah merengek.
Halilintar melipat tangan, mengangkat sebelah alis. "Memang bukan kamu yang salah?"
Blaze menciut. Ia membuang pandangan, menghindari tatapan menusuk dari kembarannya. "Uh, yah—"
"Ranselku dia kasih pinjam ke Lata tanpa bilang." Ice melakukan sedikit gertakan dengan pisau. Dia tersenyum saat Blaze meringis dan membisikkan permohonan ampun. Sudah puas mematenkan ekspresi ketakutan dari Blaze, Ice pun berbalik menghadap Halilintar. "Aku mau ambil laptop di tukang servis, tapi dompetku masih di dalam ransel itu."
Halilintar mengusap wajah. "Pakai uang simpananku dulu saja, Ice."
"Tidak apa-apa?"
"Ya. Lata pulang nanti 'kan bisa langsung diganti. Santai saja."
"Hm … oke, deh. Trims, Kak. Aku lanjut masak dulu." Begitu kata Ice sambil berlalu.
"Sekarang …." Halilintar menggantung ucapan. Senyum yang menjanjikan kesengsaraan tercetak jelas di wajahnya. Ia sengaja melangkahkan kaki dengan tapakan bersuara, meski temponya agak lamban. Tak lupa, untuk menambah dramatisasi, Halilintar juga meninju telapak tangannya secara berulang.
Solar yang lebih peka akan mara bahaya, langsung menurunkan kaki secara hati-hati. Dia menoleh ke arah Halilintar, tersenyum ceria. "Gimana tadi ujiannya, Kak? Lancar?"
Halilintar menggeram. Dia langsung maju, melakukan headlock kepada Solar dari belakang sofa. "Apa maksudnya kamu kirim foto itu, HA?" tuntutnya tanpa menanggapi elak dalam balutan basa-basi yang Solar lakukan.
Solar tidak gentar. "Cuma mau pamer hasil karya Blaze, kok. Tadinya Lata cuma pake hitam-hitam dan parka kesayangannya. Blaze protes. Tuh, Thorn saksinya!"
Thorn yang entah sejak kapan menguping pembicaraan, mengangguk semangat. "Kata Kak Blaze, Lata mau jalan dengan kawan Kak Blaze, bukan mau tawuran. Jadi disuruh ganti baju yang dipilihkan Kak Blaze."
"Kalian pengkhianat!" raung Blaze. Pilihan yang kurang tepat. Seharusnya dia cepat-cepat menjelaskan sebelum terlambat. Raungannya ini malah mengukuhkan tuduhan Solar kalau dia memang biang keladi yang Halilintar cari.
"Blaze rupanya." Halilintar manggut-manggut.
Blaze meneguk ludah. Tanduk khayali sudah tumbuh di kepala sang kakak tertua.
"Uh, Kak—"
Karena jabatan adik paling mengesalkan masih dan akan selalu dipegang oleh Taufan, Halilintar memberi keringanan untuk Blaze. "Kuberi tiga detik, Blaze."
Blaze langsung tancap berlari.
Tepat tiga detik kemudian, Halilintar menyusulnya.
Tak lama setelah itu, Solar dan Thorn ber-tos ria diakhiri tawa. Mengabaikan seruan tuntutan ketidakadilan dan tidak setia kawan dari Blaze untuk keduanya.
Kalau ada kambing hitam, kenapa Solar harus jadi kambing jantan? Toh perkataannya selalu Thorn ikuti.
Tenang saja, Kak Blaze. Pengorbananmu akan selalu kukenang selama-lama-lama-lama-lama-lama-lamanya. Aku janji kalau meluncurkan penemuan nanti—kolor yang bisa mendeteksi keberadaan batu dikala kebelet, misalnya—akan kuberi nama Blaze, sebagai penghormatan. KoloBlaze. Atau SemBlaze alias Sempak-Blaze? Hm, mungkin lebih baik ...
.
.
.
"Sejak kapan kamu suka boneka?" Blaze bertanya keheranan saat Latarin pulang dalam keadaan tangan memeluk boneka seukuran kepala manusia.
Tenang saja. Blaze masih hidup, kok. Yang berbicara bukan roh gentayangannya. Halilintar masih takut neraka. Fitnah orang saja dia tidak berani, apalagi membunuh?
Lagi pula, sekesal apa pun, Halilintar masih sayang nyawa adiknya. Kalau mereka tidak ada, siapa yang bisa Halilintar usili?
"Ah, ini tadi Kak Fang yang kasih."
Berpasang-pasang mata langsung tertuju pada Halilintar yang sedang duduk di salah satu sofa tunggal ruang keluarga sambil membaca majalah. Sepertinya mereka kompak merasa waswas dengan respons sang kakak. Sedangkan objek tatapan hanya mengangkat kepala dan menatap boneka yang dimaksud dengan durasi pendek, lalu melanjutkan lagi kegiatannya.
Tak ada yang berubah dari ekspresi Halilintar kecuali sunggingan seringai remeh. Itu pun hanya tampak beberapa detik saja.
Ice—yang memang sejak awal tidak repot-repot menengok reaksi Halilintar—menggoda, "Oho?"
"Gak ada alasan spesial," tukas Latarin, mengibaskan tangan. "Kak Fang nawarin boneka dari mesin cakar. Tadinya aku gak mau, tapi di satu mesin ada boneka ini. Lucu, mirip Bang Hali. Ya udah aku iya-in."
Kali ini, tatapan tertuju pada dua objek berbeda secara bergantian. Objek pertama: Halilintar. Objek selanjutnya: boneka unggas berwarna merah yang ada di pelukan Latarin.
"Kenapa kalian menatapku begitu?" Halilintar menutup majalahnya, memutar bola mata. "Aku sering memanggil Latarin dengan sebutan 'Jamban'. Hipokrit namanya kalau aku protes disamakan dengan Red—Angry Bird."
Mengabaikan keheranan saudara-saudaranya yang masih saja berlanjut, Halilintar beranjak dari sofa. Dia menyimpan majalah yang selesai dibaca, lalu menghampiri Latarin. "Lain kali kalau keluar jangan cantik-cantik amat, Dek. Nanti banyak yang naksir," ujarnya.
Setelah menepuk puncak kepala Latarin penuh afeksi, si sulung melangkah pergi. Mengabaikan tampang syok dan siulan heboh dari yang lain.
"SERANGAN PERTAMA TELAH DILEPASKAN, SAUDARA-SAUDARA!" Taufan berseru seolah sedang mengomentari jalannya pertandingan final tinju internasional antara dua petinju terbaik dunia.
"HAJAR!" Blaze tergelak.
"BANTAI!" Solar melepaskan kepalan tangan ke udara.
Thorn sebenarnya tidak mau kalah dari mereka bertiga, tetapi Gempa sudah lebih dulu membekap mulutnya. Anggota termuda dari Kembar Tampan Kokotiam Punya itu juga memicingkan matanya ke arah Ice, memperingati agar si kalem tidak ikut berbuat ulah. Sudah cukup sampai sini.
Bagaimana dengan Latarin? Gadis itu sedang mengetuk heboh pintu kamar orang tuanya dan menjerit panik, "MA, PA, LONTONG! BANG HALI KERASUKAN SETAN PAKBOI!"
Amato langsung menyahut dari dalam kamar, "HAH? KERASUKAN BERNEKELBOI?"
Tidak tahu bagaimana ceritanya "Setan Pakboi" berubah jadi "Bernekelboi" di telinga sang kepala keluarga. Terlalu banyak menonton Spombop Celana Persegi Panjang nih, si Papa! Maklum, suka lupa umur.
Selanjutnya? Tentu saja terjadi kericuhan normal keluarga Amato. Bukan hal yang perlu dikhawatirkan.
.
Gempa menghela napas. Dia masih mabok menghafal rumus untuk ujian besok. Tak bisakah mereka lebih tenang sedikit?
Bersambung
… AKU SYOK UDAH SEBULAN LEBIH GAK UPDATE DEMI APA.
Huhu. Semoga kalian gak lumutan dan masih mau lanjut baca, ya.
Seperti biasa, kritik dan saran sila tinggalkan di kolom komentar!
Tanggapan kalian merupakan suntikan nyawa bagiku wkwk.
Sekian terima gaji.
Salam Petok,
Chic White
