AN 1 :
Yap, pertama-tama saya mau ngasih tau kalo AN pertama di chapter kemarin ada yang terpotong namanya, maafkan saya karena terlalu terburu-buru dan ngetiknya langsung di web fanfic dari hp. (Ngelag-ngelag kalo langsung edit dokumen di web fanfic yang berkasnya udah di upload ke akun)
Itu sudah saya perbaiki. Maunya bilang gitu, tapi udah saya ubah berkali-kali tetep kembali seperti semula. Akhirnya, saya pun menemukan caranya dan udah sukses diperbaiki.
Nah, yang kedua ucapan 'Selamat datang kembali' ke sini, ke cerita saya.
Jadi mari sebelum membaca, saya akan menjawab review yang berjumlah 8 dari chapter kemarin. Lumayanlah, masih ada yang baca, wkwkwk.
D'Arc 01 : Terima kasih atas semangatnya. Kamu juga terus semangat dari menjalani hidup yang melelahkan, wkwkwk. Dan, terima kasih lagi karena udah baca dan review cerita fanfic saya.
Archieless00 : Maaf kalau membuat Anda bosan dan enek. Semoga chapter kali ini memuaskan dan terima kasih telah mampir ke sini.
FF. Agus-kun : Fic saya termasuk yang Anda tunggu-tunggu? Hahaha, makasih lah, brother. Syukurlah kalo kamu puas. Ini chapter selanjutnya udah rilis, semoga memuaskan lagi.
Kokonoe201 : Maaf ya. Cerita yang seperti itu udah banyak berkeliaran di Fandom Naruto X Highschool DXD. Sebenarnya sih sebelum memulai karir menulis ini sempet kepikiran ingin buat cerita kek itu. Tapi akhirnya malah senang membuat cerita ini. Saya sepertinya paham karena saya juga telah membayar karya-karya yang alurnya seperti itu tapi dibiarkan menggantung sampai sekarang, hehehe. Jadi, sekali lagi maaf dan terima kasih karena telah mampir ke sini.
Astero : Wah, hehehe, baguslah kalau cerita saya menghibur Anda. Yah, semoga saja cerita ini gak jadi membosankan. Terima kasih telah mampir dan review di sini.
*FI-Biji-Bapak-Mu* : Tidak bisa menunggu untuk chapter selanjutnya? Wah, saya jadi malu, hehehe. Saya juga tidak bisa menunggu untuk chapter di cerita-cerita Senpai selanjutnya, wkwkwk. Kemarin kan udah update yang Lucifer's, yang lain gimana? Atau lanjut yang itu dulu, gpp. Yang penting tetep semangat buat Senpai! Terima kasih telah mampir ke sini lagi, hehehe.
Zakki Zamani : Hehehe, makasih lah udah bilang saya keren (maksudnya ceritanya kan? Wkwkwk). Ok, entar saya mampir di cerita The Conqueror of Virtual World. Makasih sekali lagi telah mampir.
Guest : Ok, bro! Ini udah lanjut! Wkwkwk.
Baiklah, itu saja untuk AN pertama.
Selamat membaca.
Magic in the World
Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto Highscholl DXD Ichie Ishibumi Fate Type-Moon Magic in the World Sevirel Reshi Dashi
Genre : Adventure, Fantasy, School Magic Life, Comedy, Romance and Supranatural.
Pair : (Untuk sementara tidak ada)
Rate : T - M
Summary : Magic, sebuah kekuatan supranatural yang ada di dunia ini sejak lama. Dan sekarang, banyak orang yang bisa menggunakan Magic, mereka disebut Magician. Para Magician ini ada di seluruh benua di dunia ini, ada yang baik dan ada yang jahat. Mereka terus berperang hingga pada saat peperangan memasuki babak akhir, para pemimpin dari berbagai pihak menyetujui dan menandatangani perjanjian perdamaian.
Warning : Alur yang Lambat (Bertele-tele), Alur yang Mudah Ditebak, Author yang Newbie, Bahasa yang Rumit, GaJe, Jumlah Word yang Tidak Menentu, OOC, Typo, dan Update Sebulan Sekali.
Attention :
Monolog
"Berbicara langsung"
'Berbicara dalam batin'
"Bertanya/Bingung?"
"Teriak! Penegasan!"
"Berbisik-bisik."
[Sound Effect]
"Berbicara dengan tambahan tekanan di ucapan/Suara Menggema/Monster dan sejenisnya berbicara"
'Monster dan sejenisnya membatin'
Judul/PoV/Chapter/Flashback
Jurus/Magic dikeluarkan
.
.
.
Selamat Membaca
.
.
.
Chapter 9 : Reuni Singkat Keluarga dan Berlanjutnya Ujian
Beberapa menit yang lalu sebelum Naruto mengendalikan dengan sempurna sapu terbangnya, sebuah keluarga bangsawan berjalan di antara koridor-koridor sekolah sihir.
Dua orang laki-laki dan dua orang perempuan.
Keempatnya berjalan pelan tanpa ada niatan untuk sampai ke tujuan dengan cepat. Mereka adalah ... bangsawan Namikaze.
Minato, sang kepala keluarga itu sengaja tidak memakai sihir teleportasi khusus miliknya. Meskipun ia tahu bahwa ujian masuk ke sekolah sihir ini sudah dimulai beberapa puluh menit yang lalu, Minato tak terlihat ingin menyaksikan hal yang membosankan itu.
Jika saja Menma tak merengek ingin melihat para calon murid yang akan dijadikannya sebagai 'pesuruh' di sekolah yang akan ia tempati, Minato tak akan mau repot-repot datang. Ia masih memiliki 'urusan' yang belum pemilik surai kuning itu selesaikan.
Kushina dan Karin sedari tadi berpikir apakah kedua anak dan adik yang sudah lama tak mereka lihat akan mengikuti kedua ujian hari ini.
Sang ibu rumah tangga itu tahu bahwa seringkali berita tentang kerajaan tak sampai di desa tempat ia dilahirkan sebagai keturunan klan Uzumaki.
Ia tak bisa berkunjung ke sana karena ketatnya Minato mengawasi dirinya. Selama tiga tahun belakangan ini, kedua ibu dan anak perempuan itu sangat rindu kepada Naruto dan juga Naruko.
Apakah mereka berdua sehat-sehat saja?
Apakah mereka memikirkan ibu dan kakak perempuannya?
Apakah keduanya sudah tumbuh menjadi kuat?
Kushina dan Karin sungguh ingin melihat kedua kakak beradik itu. Rasa rindu mereka yang kuat sedikit diberikan harapan ketika Menma merengek ingin datang ke sekolah ini.
Mereka berdua ingin memastikan apakah ada Naruto dan Naruko disini dan mengikuti kedua ujian? Jika iya, akhirnya ibu beranak itu bisa melihat anak-anak dan adik-adiknya setelah sekian lama tak berjumpa.
Ketika keempatnya tak saling berbicara dan terus berjalan, akhirnya mereka sampai di lapangan tempat ujian berlangsung.
Yang pertama kali mengubah raut wajahnya adalah Menma.
Menma menyeringai ketika melihat seorang remaja laki-laki yang berdiri di atas sebuah sapu terbang sambil tersenyum. Itu adalah Naruto, saudara kembarnya yang sudah lama tak bertemu.
Kemudian, ia mengeluarkan pisau di balik baju kebangsawanannya dan segera merapal mantra.
"Wahai angin dan air, menyatulah dan jadikan diri kalian senjata bagiku. Sihir Gabungan : Cold Winds Devastate."
Ketiga orang anggota keluarga lainnya melihat ke arah Menma dengan heran. Untuk apa ia mengeluarkan sihir, pikir ketiganya.
Lalu, saat Menma merapal mantra dan menyebutkan sihir gabungan miliknya, muncul air dari ketiadaan menyelimuti pisau yang dikeluarkan Menma.
Bila diperhatikan lagi, di dalam air itu terbentuk beberapa jarum es kecil berbagai macam bentuk yang terlihat tajam.
Dalam pikiran Menma, ia melakukan tindakan ini sebagai pencegahan jika saja Naruto berhasil menangkis sihir airnya.
Dengan segera, ia melemparkan pisau berlapis sihir gabungan itu ke arah Naruto yang masih menikmati hembusan angin yang menerpa dirinya.
Pisau itu ia sembunyikan di dalam gelapnya sihir air miliknya agar jika Naruto menghalau serangannya dengan sihir milik Naruto sendiri, pisau itu akan menjadi sebuah kejutan untuk saudaranya.
Belum lagi ada beberapa jarum es kecil yang jika terkena dan tertancap di tubuh, akan membekukan sebagian kecil darah dalam tubuh dengan sekejap.
Itu adalah salah satu sihir gabungan yang Menma kuasai dari kedua sihir elemen miliknya, yaitu angin dan air.
Akibat tindakan tiba-tiba oleh Menma, ketiganya memandang terkejut dan langsung melihat ke arah lemparan tersebut.
[Swuuush]
Tidak kena. Menma mendecih tidak suka, tapi biarlah pikirnya. Ia akan punya banyak kesempatan untuk menyerang Naruto ketika tahun ajaran baru telah dimulai.
Yang lebih penting lagi ...
[Swuuut]
Naruto kembali berdiri di atas sapu terbang dan melihat ke arahnya.
Bukannya melihat dengan pandangan kasih sayang karena sudah lama tak berjumpa, tapi kedua saudara itu saling menatap tajam dengan besarnya kebencian yang mereka miliki terhadap masing-masing.
"Menma ...!"
Anggota keluarga lain terkejut ketika melihat siapa yang diserang oleh Menma, terlebih lagi Kushina dan Karin.
'Itu Naruto ... Itu benar-benar dirinya!' batin kedua perempuan itu termenung ke arah Naruto.
Ini adalah sebuah reuni singkat diantara mereka, karena sebuah suara panitia sekali lagi menggema.
"Sudah sampai disini saja! Kali ini yang lulus seleksi kedua ada 7 orang. Sebelum itu ... Hei! Siapa yang berani mengganggu jalannya ujian?"
Guru itu pun melihat ke arah Menma dan ketika ia melihat bahwa di sebelahnya ada seorang pria yang dikenal sebagai The Yellow Flash dan salah satu bangsawan yang memiliki kedudukan tinggi di kerajaan ini, ia langsung meminta maaf.
Seluruh perhatian mengarah ke arah keluarga bangsawan Namikaze itu.
Namun, saat itu terjadi, sebuah kobaran api cukup besar melesat ke arah si penyerang.
[Wuuush]
Dengan sigap, Menma menghalaunya dengan sihir air yang ia miliki dan menciptakan dinding air yang cukup besar.
[Duarrr]
[Ssshhh]
Timbul ledakan dan juga asap dari kedua sihir berlawanan yang saling terbentur itu.
Setelah asap mulai hilang, Menma dapat melihat siapa yang mengarahkan sihir api itu ke darah dirinya.
Ia pun kembali menyeringai melihat salah seorang lain yang dikenalnya. Itu adalah ...
"Uchiha ... Sasuke."
Sasuke menatap tajam Menma dan berkata, "Jangan mengganggu, Namikaze!"
Remaja bangsawan Uchiha itu terlihat sangat marah sekali kepada Menma. Rupanya, serangan Menma yang tidak berhasil mengenai Naruto tadi terus melesat ke arah Sasuke yang juga berdiri di atas sapu terbangnya.
Wajar ia sangat marah, belum lagi terdapat goresan di pipi kanannya akibat hal itu. Dan pipinya serasa membeku tadi, tapi itu sudah dinetralisir olehnya dengan mana skin api yang menyelimuti dirinya.
Sekali lagi pembicaraan mulai dibuka diantara bangsawan menengah yang melihat sedikit 'gangguan' tadi.
"Akhirnya, ada juga bangsawan yang ingin menjatuhkan rakyat jelata dan berbuat sedikit keonaran."
"Kau benar, sedari tadi aku terus bertanya-tanya kapan bangsawan akan menunjukkan kedudukan tingginya di hadapan kalangan bawah."
"Heh, seperti yang diharapkan dari bangsawan besar."
Mendapat seluruh atensi dari semua orang, Minato diam-diam menghela nafas secara kasar. Ia pun maju dan berdiri di samping Menma dan berkata ...
"Tidak, kamilah yang harus meminta maaf. Maaf atas gangguan dari anakku tadi." Minato sedikit menunduk dan tangan kanan miliknya ia buat untuk menundukkan kepala Menma dengan paksa.
Menma mendecih tak suka. Kenapa ia harus menundukkan kepalanya seperti itu? Dia juga tak bisa berbuat apa-apa. Ia harus menuruti tindakan ayahnya itu, meskipun tak suka.
Minato tak ingin dicap sebagai bangsawan yang sewenang-wenang dan itu akan merusak nama baiknya. Ia harus memperlihatkan moral baik di depan semua orang dan bermain di belakang semuanya.
Ia juga ingin bermain hati-hati. Sebenarnya, ia juga ingin membuat sebuah kekacauan, kekacauan besar. Tapi jika hal itu dilakukan di depan semua orang, terlebih di depan Kaisar Sihir dan Raja Kerajaan, itu sama saja dengan kebodohan.
Dan lagi, Minato merencanakan sesuatu yang mungkin tak disangka-sangka semua orang. Hal itu harus sedikit tertunda karena ia dan keluarganya datang kesini karena rengekan salah satu anaknya.
Belum lagi anak itulah yang menyebabkan 'sedikit' gangguan disini.
Kemudian, Minato melihat ke arah ruangan VIP. Ia harus segera ke sana dan menyapa Kaisar Sihir dan Raja Kerajaan.
Dengan segera, ia pergi dari sana beserta anggota keluarga yang lain.
Kushina dan Karin terus menerus menatap ke arah Naruto yang juga menatap mereka berdua dengan sendu. Dan di penglihatan dua perempuan itu, datang seorang gadis yang mirip dengan Naruto dari sampingnya. Itu adalah Naruko, anak dan adik yang satu lagi lama tak mereka lihat. Ibu dan anak itu berhenti sesaat dan memperhatikan wajah cantik Naruko yang sudah berkembang selama 3 tahun terakhir ini.
Keduanya semakin merindukan kedua remaja itu. Dan itu semakin kuat ketika kedua mata mereka melihat keduanya tapi tak bisa menghampiri bahkan memeluk Naruto dan Naruko.
Dengan perasaan yang sedikit kacau, keduanya mengalihkan pandangan mereka ke depan dan kembali berjalan mengikuti Minato.
Naruko yang menghampiri Naruto untuk menanyakan keadaannya tadi juga melihat keluarga bangsawan itu.
Ia pun berkata parau, "Onii-chan, mereka ...?"
"Ya, itu mereka. Benar-benar mereka ..."
Kedua saudara kembar itu masih terus menatap kepergian ibu dan kakak perempuan mereka dengan sendu. Tapi tak lama setelah itu, mereka berdua menyingkir dari sana karena seleksi untuk para calon murid di barisan selanjutnya akan dimulai.
.
.
.
= Magic in the World =
.
.
.
Ujian masuk sekolah sihir seleksi kedua masih berlangsung.
Minato sudah berada di ruangan VIP. Tapi ketiga anggota keluarga lain berada di ruangan lain.
Sebelumnya, Minato meminta maaf secara langsung kepada dua orang tertinggi di kerajaan ini. Dan ia sekarang berdiri di samping Kaisar Sihir.
Kemudian, pembicaraan antara mereka yang ada di ruangan VIP dimulai.
Minato melihat ke arah Raja Kerajaan saat ini, ... Ia pun berkata, "Sepertinya putri Anda tidak ada disini, Raja ... Apa ada masalah?"
Sang Raja melirik Minato sambil tersenyum, "Begitulah, Minato."
"Harap maklum, Minato-kun. Anak perempuan kami satu itu memang benar-benar merepotkan." Kini Ratulah yang berbicara, melanjutkan perkataan suaminya. Tapi dia mengatakan hal itu sambil sedikit tertawa.
Kedua pasang suami istri itu saling terkekeh mengingat anak perempuan mereka yang tidak hadir disini saat ini.
Minato kembali melanjutkan, "Hahaha, pasti dia juga berpikir kalian itu merepotkan, Ratu."
"Yah, mungkin begitu."
Ketiganya terkekeh kembali, dan Kaisar Sihir yang ikut mendengar pembicaraan mereka hanya tersenyum menanggapinya.
"Aku belum melihatnya lagi akhir-akhir ini. Sepertinya dia betah sekali berada di dalam kamarnya. Sayang sekali, padahal senyuman di wajah cantiknya bisa memberikan kebahagiaan pada setiap orang."
"Hehe, kau menggoda anakku, Minato-kun?"
"Tidak sama sekali, Ratu." Keduanya saling tersenyum, dan sang Raja yang melihat itu ikut berkomentar.
"Hei, jangan menatap istriku selekat itu, Minato. Aku tahu istriku adalah wanita tercantik di dunia ini, tapi jangan menatapnya terlalu lama."
Tentu saja ia berkata dengan nada bercanda. Ketiga orang itu sudah sering melakukan hal seperti ini, jadi Minato membalasnya juga dengan candaan ringan.
"Tidak, tidak. Istriku lah yang tercantik di dunia ini, Raja."
"Hahaha, terserah kau lah, Minato." Ketiganya kembali tertawa kecil dan sang Raja melihat raut wajah aneh dari sang Kaisar Sihir. Raja mengerti kenapa wajahnya seperti itu. "Ngomong-ngomong soal istri, kapan kau akan bersanding dengan seorang perempuan, Kaisar Sihir?"
Ya, pembicaraan tadi membuat hati sang Kaisar Sihir terasa miris akan nasibnya yang masih sendirian tanpa adanya perempuan yang menemani.
Wajah dan senyuman masamnya itu tercetak jelas dan yang ia bisa lakukan hanyalah pura-pura tidak mendengar pembicaraan tadi.
Ketiga orang yang ada disana melihat wajah sang Kaisar Sihir itu pun tertawa kecil.
Sang Kaisar sihir masih tak menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya dan lebih memilih memperhatikan kembali para peserta ujian yang masih mencoba untuk mengontrol sapu terbang masing-masing.
Melihat para peserta, Kaisar Sihir jadi mengingat sesuatu.
"Oh iya, Minato-kun. Anakmu tadi, sepertinya sedikit mirip dengan peserta yang diserangnya."
Minato sedikit tersentak mendengarnya, Raja dan Ratu kini memperhatikan keduanya. Minato mengendalikan rasa terkejutnya dan menjawab sang Kaisar Sihir.
"Yah, pasti Anda pernah mendengar bahwa setiap orang memiliki tujuh kembaran di dunia ini, bukan? Mungkin ini kebetulan, Menma bertemu salah satu kembarannya."
Minato mengalihkan jawabannya ke arah informasi umum yang sudah tersebar di seluruh dunia ini sejak dahulu. Kaisar Sihir pun mengangguk mengiyakan perkataan Minato.
"Tapi ..., sepertinya peserta itu lebih mirip sepertimu."
Kaisar Sihir melirik Minato sambil tersenyum. Kedua mata Kaisar Sihir ini sungguh tajam, pikir Minato. Tapi dia masih ingin mengalihkan jawaban ke arah yang lain.
"Mungkin orangtuanya juga merupakan salah satu kembaranku di dunia ini," jawabnya sambil sedikit bercanda.
Namun, Kaisar Sihir semakin menatap lekat dirinya sambil tetap mempertahankan senyuman miliknya. "Begitukah ...?"
Kini setelah Minato berpikir lagi, dia benar-benar yakin bahwa Kaisar Sihir ini tahu tentang kedua anaknya yang lain.
Dia pun tersenyum masam, 'Benar-benar hebat, Kaisar Sihir Julius Novachrono. Tapi ... itu bukan masalah besar.'
Sang Kaisar Sihir saat ini, Julius Novachrono, adalah orang yang sering bepergian tanpa sepengetahuan siapapun.
Ia sangat tertarik dengan berbagai hal tentang sihir. Ia juga sering menyamar menjadi berbagai macam orang, tapi yang lebih sering ia gunakan adalah sebagai pedagang dan pengemis.
Dengan penyamaran itu, Julius bisa memantau secara langsung keadaan kerajaan ini. Belum lagi dia sering berkunjung ke pasar gelap melalui penyamarannya sebagai seorang pedagang yang tulen.
Jika tidak merugikan siapapun, maka ia akan membiarkan beberapa hal tetap berlangsung. Namun, jika itu jelas merugikan bahkan membahayakan orang-orang, ia tak akan segan menghancurkan semuanya untuk melindungi rakyat-rakyat yang ia sayangi.
Julius dinobatkan sebagai Kaisar Sihir bukan tanpa alasan. Dikatakan bahwa ia adalah Magician terkuat di kerajaan ini. Bahkan Raja Kerajaan saat ini berada satu tingkat di bawahnya.
Dengan sihir waktu, salah satu sihir 'menyimpang' di dunia ini, ia dapat dengan mudah melewati pengawasan setiap orang. Tak terkecuali Minato dan para pasukan khusus miliknya.
Namun, ini adalah masalah keluarga Namikaze, jadi ia berpikir untuk tidak perlu dilanjutkan lebih jauh. Hanya membuat Minato mengerti bahwa ia mengetahui perihal kedua anak lainnya itu sudah cukup.
Minato berpikir bahwa waktu itu dia benar-benar gegabah dan memutuskannya terlalu cepat. Akan tetapi, sepertinya Kaisar Sihir tidak mengetahui perihal rencananya.
Ia sudah berhati-hati untuk itu, tapi kini ia harus lebih berhati-hati lagi pada Kaisar Sihir. Dengan percakapan diantara mereka tadi, Minato mengetahui bahwa ia harus melangkah dengan sangat hati-hati.
Sedangkan, Raja dan Ratu yang sedari tadi diam mendengarnya setidaknya mengerti sedikit arah pembacaan antara Kaisar Sihir dan Minato.
Tapi mereka berdua juga tidak ingin mencampuri hal ini terlalu dalam. Itu adalah masalah keluarga orang lain dan sepasang suami istri itu juga mempunyai masalah sendiri yang harus diselesaikan.
"Baiklah, mari kita lihat lagi para peserta melaksanakan ujian ini."
Dengan begitu, percakapan mereka hanya sampai disini saja.
.
.
.
=Magic in the World=
.
.
.
Saat ini, Naruto dan ketiga gadis lainnya sedang menunggu seleksi kedua ini berakhir di sisi lain lapangan.
Suasana diantara mereka sedikit canggung, karena sejak kejadian penyerangan sepihak tadi, Naruto dan adiknya terus diam.
Naruko yang biasanya selalu aktif, kini diam sambil memeluk dirinya sendiri.
Sakura yang juga biasanya selalu menggoda dan mengejek Naruto tak bisa mendekatinya dan memberikan permusuhan seperti biasa.
Sedangkan Sa-chan, ia ingin menanyakan keduanya tapi ia merasa bahwa hal itu akan sedikit sensitif bagi mereka berdua.
Karena itu, sampai sekarang tak ada siapapun diantara mereka berempat memulai pembicaraan. Hingga, seleksi kedua ujian masuk sekolah sihir pun telah selesai.
Saatnya untuk masuk ke tahap selanjutnya.
"Seleksi kedua telah selesai. Kini, seleksi ketiga akan dimulai. Harap para calon peserta berbaris seperti tadi. Sepuluh orang di depan maju terlebih dahulu."
Dengan sigap, semua peserta sudah kembali berbaris rapi. Tenzou membatalkan sihir produksi sapu terbangnya tadi dan mengeluarkan sihir lain.
"Wood Magic : ToTemPol."
Jauh di depan, sepanjang 10 meter dari kesepuluh orang itu, muncul 10 kayu berbentuk tabung setinggi 2 meter dengan memiliki 3 wajah topeng yang berbeda dari atas sampai bawah.
Itu adalah sebuah kayu khusus dengan ketebalan sedikit lebih kuat daripada kayu-kayu penyangga sebelumnya. Dengan ketiga ukiran khusus bercorak topeng, itu disebut sebagai ... ToTemPol.
Wajah topeng yang di tengah dan di bawah perlahan mulai muncul sebuah lapisan mana tipis menyelimuti keduanya masing-masing.
Panitia pelaksana akan menjelaskan aturannya.
"Para calon murid diharuskan menghancurkan ketiga wajah topeng di ToTemPol. Pelindung mana yang masing-masing melindungi kedua wajah topeng di bawahnya akan hilang ketika kalian berhasil menghancurkan wajah di atasnya. Wajah topeng kedua lebih kuat daripada wajah topeng pertama, begitupun yang ketiga lebih kuat dari yang kedua. Kesempatan untuk kalian menghancurkannya ada tiga untuk setiap wajah. Jadi, semoga beruntung!"
Tanpa aba-aba lagi, kesepuluh calon murid di barisan pertama melancarkan sihir masing-masing ke arah target.
Meskipun serangan mereka mengenai wajah topeng pertama itu, tetap bukan hal yang sangat mudah untuk menghancurkannya. Belum lagi jarak yang tergolong cukup jauh membuat serangan sihir mereka melemah.
Hanya ada tiga kesempatan menyerang dan mereka harus memanfaatkannya dengan baik.
[Swuuush]
[Duarrr]
"Baiklah, sudah cukup sampai disini. Yang berhasil lulus seleksi ketiga barisan pertama ini hanya ada 3 orang. Selanjutnya, barisan kedua harap maju."
Sepertinya para bangsawan ingin mengumpulkan rakyat kalangan bawah yang kuat saja. Mereka berpikir yang lemah akan tetap menjadi sampah.
Sedangkan, remaja-remaja dari kalangan bawah yang lulus ujian akan menjadi daya tempur hebat dan dapat melindungi mereka dari ancaman luar.
Karena bagaimanapun, orang kuat akan selalu mengalahkan orang lemah. Meskipun ada seribu orang lemah dan mereka mempunyai beberapa orang kuat, maka mereka tetap akan menang.
Jika seluruh 'pelindung' mereka kalah, mereka bisa membereskan sisa-sisa orang lemah yang jumlahnya sudah berkurang drastis.
Mereka bisa meninggikan dan menjatuhkan kalangan bawah dengan mudah dan mereka mempunyai banyak siasat untuk itu.
Tapi singkirkan pikiran itu untuk sekarang. Karena, Naruto beserta teman-temannya akan melaksanakan ujian masuk sekolah sihir seleksi ketiga.
Pada barisan ini, sekali lagi Naruto dan ketiga gadis lainnya sebaris dengan Sasuke dan kedua remaja bangsawan sebelumnya.
Kesepuluh orang di barisan kali ini maju dan mulai merapal mantra.
"Wahai angin, berhembuslah dengan membawa namaku ke seluruh penjuru dunia dan teriakkan semangat juangku! Wind Magic : Whirl Wind O'Tornado!"
"Wahai tanah, tancapkanlah bendera kemenangan dan rujam semua musuhku! Earth Magic : Grounds of Cuneifrom!"
"Wahai air yang merusak, mengalirlah dengan deras dan hancurkan segalanya! Water Magic : Flood of Water Strike!"
"Wahai api, mengaumlah dalam kemarahan! Fire Magic : Fire Ball!"
"Petir, menyambarlah. Lightning Magic : Thunder Shot."
"Wahai sang cahaya, luncurkanlah tombak kematian. Light Magic : Light Spear."
Berbagai macam sihir dilemparkan masing-masing peserta, termasuk ketiga orang dari kalangan biasa lainnya. Semua target wajah topeng pertama hancur, kecuali satu.
Tidak ada serangan yang meluncur ke arah wajah topeng teratas yang disebelah Sa-chan. Itu Naruto, ia tidak merapal sihir apapun.
Remaja berambut kuning jabrik itu masih memikirkan reuni singkatnya dengan sang keluarga, terutama ibu dan kakak perempuannya. Naruko juga masih memikirkannya saat ini, tapi baginya yang lebih penting adalah untuk lulus ujian ini terlebih dahulu. Barulah ia dan sang kakak bisa memikirkan bagaimana caranya untuk bisa berkomunikasi dengan dua orang berharga bagi kakak beradik itu.
Sa-chan yang menyadari bahwa tak ada tanda-tanda pergerakan dari Naruto pun berkata kepadanya.
"Naruto-kun ...?"
Suara itu memang kecil, tapi masih bisa didengar oleh Naruto yang baru saja tersadar. Ia pun menoleh ke arah Sa-chan dan melihat raut wajah khawatir kepadanya.
"Maaf ... Akan kuselesaikan ini dengan cepat."
Naruto mengalihkan perhatiannya ke arah target yang jauh didepannya dan mengarahkan telapak tangannya kesana.
"Wahai angin, berhembus lah. Berteriak lah. Tunjukkan kegunaanmu kepadaku dan patuhi aku." Angin di sekitar Naruto mulai berkumpul cepat dan sirkuit mananya tiba-tiba membesar. Lembaran kosong mulai tertulis mantra sihir baru, ia juga tidak tahu secara pasti hal itu. Lalu, ia pun melanjutkan, "Hancurkanlah semuanya. Rebut lah semua bagian darimu. Mengamuk lah. Wind Magic : Dragon Strike."
Itu adalah tingkat berbeda dari yang selama ini Naruto keluarkan. Bahkan, Naruto juga tidak merasakan rasa perih dari luka sayatan-sayatan cukup panjang yang terbuka di tangan kanannya akibat mengeluarkan sihir itu. Dengan angin besar yang membentuk sesosok naga angin dengan raungan menyeramkan, sihir yang Naruto keluarkan itu pun mengarah ke target dari atas.
Dalam sekejap, muncul ledakan besar.
[Duarrrrrrrrrr]
Asap yang terbentuk dari membuncahnya butiran tanah dan pasir menutup pandangan semua orang. Kepulan asap itu membuat semua orang penasaran apa yang terjadi dan salah satu guru di sekolah ini pun mengeluarkan sihirnya tanpa rapalan.
"Wind Magic : Whirlwind!"
[Swuuush]
[Syuuu]
Asap pun mulai hilang dan memperlihatkan keadaan mengenaskan di tempat target Naruto berada sebelumnya.
Target itu sudah lenyap, hilang dari tempatnya. Di sana terdapat sebuah lubang cukup besar masuk hingga ke dalam tanah beberapa meter dan kawah selebar dua meter.
Di saat-saat terakhir, Naruto mampu mengendalikan dirinya lagi dan meminimalisir kerusakan dengan mengendalikan sihirnya. Ia mempersempit dan memadatkan anginnya dan terus menerobos ke dalam tanah.
Ia pun berjalan ke pinggiran lapangan dan akan berdiri menunggu disana sampai ujian seleksi ketiga ini berakhir. Tak terlihat raut wajah penyesalan di dirinya.
Sebenarnya, bahkan sihir besar yang ia keluarkan untuk melawan sihir besar api milik adiknya di Uzushiogakure waktu itu lebih kuat daripada ini. Karena ia menuangkan seluruh mananya ke dalam serangan waktu itu.
Pada waktu pelatihan di ibukota ini lima hari yang lalu, Naruto dan Naruko sepakat untuk menahan diri dan melatih pengendalian mana.
Karena itulah waktu ujian seleksi tahap pertama ia sedikit bisa menolak sihir dari para burung sihir itu. Tingkatan mana Naruto bisa disejajarkan dengan Uchiha Sasuke, tapi ia lebih memilih untuk menyembunyikannya.
Naruko yang sebelumnya juga sudah bisa memblokir sihir para burung gagak tidak dapat menahannya lebih lama lagi karena tidak hanya mengendalikan mana miliknya, tapi juga mana dari warisan leluhur klan Uzumaki. Dan karena hal itulah, ia dikelilingi banyak burung sihir dan jumlahnya semakin bertambah seiring menyatunya mana miliknya dan mana dari warisan sang leluhur.
Namun, kedua kakak beradik itu tak memperkirakan bahwa dirinya bertemu dengan keluarganya tadi. Naruko masih bisa sedikit menahan dan mengendalikan dirinya sampai ini semua berakhir.
Akan tetapi, Naruto terus kepikiran soal itu. Biarpun dulu ia tak pernah disakiti, tapi rasa sakit waktu terusir dari rumah dan dikeluarkan dari keluarga, itu tetap saja membuat hatinya teriris.
Naruko yang mengikuti kakaknya atas niatan dirinya sendiri tentu rasa sakitnya tak terlalu besar seperti Naruto. Ia memang membenci Minato dan Menma, tapi besarnya rasa rindu pada ibu dan kakak perempuannya menutupi semua itu.
Sebelum beranjak dari tempatnya berdiri tadi, Naruto melirik ke arah adiknya. Itu adalah sebuah pesan untuknya. Naruto tak menyesal mengeluarkan serangan sebesar itu karena ia ingin memberitahukan kepada ibu dan kakak perempuannya bahwa ia sudah menjadi kuat. Dan menunjukkan kepada Minato dan Menma bahwa ia bukanlah lagi seorang anak lemah yang bahkan tak bisa mengeluarkan sihir.
Sang adik, Naruko, mengerti maksud dari kakaknya itu. Yah, apa boleh buat, pikirnya. Ia juga akan memperlihatkan salah satu sihir besar dan andalan miliknya.
Di tempat para bangsawan, Menma yang melihat sihir Naruto menggeram kesal. Ia marah, sangat marah. Bagaimana bisa bekas saudara kandungnya sekuat itu? Meskipun sudah bisa mengendalikan sihir gabungan, ia bahkan tidak memiliki sihir sebesar itu. Ia benar-benar merasa terhina.
Kushina dan Karin yang juga tentu melihat serangan sihir Naruto barusan terlihat bahagia. Mereka berdua mengerti kenapa Naruto seperti itu dan mereka benar-benar senang. Anak dan adiknya yang satu itu sudah bertambah kuat. Sebagai seorang ibu dan seorang kakak, mereka berdua bangga kepadanya. Sepertinya Naruto dan Naruko sehat-sehat saja.
Di ruangan VIP, Minato yang menyaksikan 'sedikit' keributan tadi hanya menatap datar, tapi kemudian ia tersenyum misterius.
Kembali ke lapangan.
Semua yang menyaksikan hal itu kebanyakan melongo. Para bangsawan semakin menyeringai, mereka menemukan seorang lagi yang bisa dijadikan sebagai alat perang dan tameng bagi mereka.
Sakura lah yang begitu terkejut dengan kejadian barusan. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Naruto sekuat itu. Ini sangat menjengkelkan untuknya.
Ia pun melihat Naruto yang juga tak sengaja melihatnya. Naruto melihat raut wajah Sakura yang tertekan menyadari sesuatu. Remaja berambut kuning itu pun menyeringai ke arah gadis bersurai pink itu.
[Ctak]
Ini benar-benar menyebalkan. Sakura pikir ia juga harus menunjukkan kekuatannya kepada Naruto, meskipun sudah dapat ia perkirakan bahwa hasilnya tidak seperti yang Naruto lakukan barusan. Tapi kebanggaannya tak bisa menerima hal itu.
Sa-chan menatap kagum pada Naruto, dia juga harus menunjukkan kekuatannya lebih besar lagi.
Sedangkan Sasuke dan kedua saudara bangsawan lain malah bersemangat melihat hal itu. Mereka bertiga pun memutuskan untuk unjuk gigi juga.
Inilah saatnya.
"Wahai angin, keluarkan semua kekuatanmu dan menarilah dengan dahsyat! Mendorong. Merusak. Menyayat. Terbangkan dan hancurkan semua yang menghalangiku! Wind Magic : Double Tornado Strike!"
"Wahai tanah, tenggelamkan semua yang ada di atasmu! Rujamlah para musuh dan hancurkan semuanya! Earth Magic : Earthquake of Cuneifrom!"
"Wahai air, tenggelamkan daratan! Singkirkan semuanya dan hanyutkanlah segalanya! Buanglah semuanya ke jurang kematian! Water Magic : Rage Flood of Water Swallow!"
"Wahai api, membara lah dan bakar semuanya menjadi abu! Kemarahan tiada tara. Kebencian tiada akhir. Api yang tak akan mudah padam! Fire Magic : Purgatory!"
"Petir, menyambarlah! Getarkan bumi dan langit! Hancurkan. Ratakan. Lumpuhkan lah semuanya dan jadikan aku satu-satunya penguasa langit dan bumi! Lightning Magic : Kaminari!"
"Wahai sang cahaya, sinarilah jalanku! Menembus kegelapan. Menyinari dunia. Hancurkan. Lenyapkan. Kembali ke awal. Menembus ruang dan waktu. Dan jadilah senjata untukku! Light Magic : Thousand Light Spear!"
Para guru yang sebelum rapalan keenam peserta itu selesai, merasakan firasat buruk. Dan mereka langsung dengan sigap membuat sebuah barier diantara masing-masing peserta dan target mereka.
Berbagai macam sihir dengan kuantitas yang lebih besar dari sebelumnya dikeluarkan oleh Naruko, Sakura, Sa-chan, Sasuke dan kedua saudara bangsawan lain itu.
Sebelum menyelesaikan rapalan mantra sihir, ketiga peserta yang lain dikagetkan dengan intensitas sihir yang dikeluarkan keenam orang itu dan segera menjauh dari sana. Meskipun sudah dibuat barier, tetap saja itu berbahaya.
Dalam sekejap, kehancuran besar terjadi kepada keenam target masing-masing dan menimbulkan melodi yang mengerikan dan kepulan asap lebih banyak dari sebelumnya.
[Duarrrrrrrrrr Duarrrrrrrrrr Duarrrrrrrrrr Duarrrrrrrrrr Duarrrrrrrrrr Duarrrrrrrrrr]
[Krakkk Krakkk Krakkk Krakkk Krakkk Krakkk]
Retakan demi retakan muncul di barier-barier keenam peserta itu dan perlahan akan pecah, hingga-.
"Time Magic : Wall of Static."
Muncul dinding statis biru yang menyelimuti barier-barier dan para peserta yang membuat serangan dahsyat itu.
Kaisar Sihir lah yang mengeluarkan sihir tersebut. Dia sekarang sedang melayang tinggi di depan para peserta itu sambil tersenyum.
Dengan cepat, semua orang bisa melihat dampak dari sihir-sihir berskala besar itu.
Bisa dibilang, lapangan sekolah sihir ini berada dalam ... kekacauan.
Tanah yang porak-poranda membentuk pola lingkaran delapan. Api yang berkobar besar. Tanah yang menyeruak ke dalam tanah dan banyak runcingan tajam menyertainya. Percikan petir yang masih tersisa di atas tanah yang hancur dan gosong. Air yang kini menghambur keluar dan hampir membuat daratan di lapangan ini tergenang. Dan ratusan tombak cahaya yang tersisa masih bersinar menancap ke tanah berkawah besar.
Ketika melihat semua itu, banyak orang menegukkan ludah secara kasar.
Kemudian, Kaisar Sihir pun buka suara.
"Oya oya, melihat jalannya ujian saja bisa sampai seperti ini." Kaisar Sihir melirik ke arah keenam pelaku kerusakan ini. "Mengeluarkan sihir sebesar itu pasti banyak menguras mana kalian. Apa kalian tidak berniat mengikuti ujian masuk kesatria sihir setelah ini?"
Keenam remaja itu terbengong ketika mendengar pertanyaan sang Kaisar Sihir. Keenamnya benar-benar tidak menyangka kenapa mereka bisa sampai lupa hal sepenting itu. Ini salah remaja berambut kuning jabrik runcing yang juga ikut terbengong mendengar perkataan Julius, tapi ia tutupi dengan menunduk. Ia juga benar-benar lupa dengan hal itu.
"Maa, setelah ujian ini berakhir ada jeda satu jam. Jadi berharap lah agar mana kalian cepat terisi kembali dan bisa menarik minat para komandan sihir nanti. Kalau begitu, selamat berjuang."
Julius kembali ke ruangan VIP meninggalkan para guru yang mengurus kerusakan lapangan untuk diperbaiki. Ini butuh lebih banyak waktu dan para calon murid lain dipindahkan ke seberang lapangan yang keadaannya tak parah.
Meskipun kekuatan mereka telah dibuktikan barusan, tetap saja memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Para komandan kesatria sihir dari masing-masing pasukan yang mengerti itu hanya diam dan tetap memperhatikan.
Semuanya datang sejak awal dan tak banyak berkomentar.
Panggung mereka bukan di sini, jadi mereka harus bersabar.
Keenam peserta yang terbengong tadi kemudian langsung dengan cepat menoleh ke arah Naruto. Naruto yang tersadar kembali menyadari tatapan-tatapan mata yang ditujukan ke arahnya dengan raut permusuhan.
Remaja bermata biru langit itu hanya menatap datar sebentar. Kemudian, ia menyisir rambutnya ke belakang sambil menatap rendah mereka seolah berkata, 'Heh, kalian ini bodoh, ya?'.
[Ctak]
Mereka sangat kesal melihat wajah Naruto yang seperti itu, kecuali Naruko dan Sa-chan serta salah satu dari dua bersaudara bangsawan yang tersenyum maklum.
Naruko tidak terlalu mempermasalahkan mananya yang habis. Bahkan saat ini, mananya terus terisi kembali dengan cepat. Tentu itu karena warisan mana leluhur klan Uzumaki yang ada dalam tubuhnya.
Dengan cepat, Naruto pergi berlari dari sana ke bagian lapangan lain di seberang. Ketiga lainnya ikut mengejar.
"Tunggu kau, kuning!"
"Naruto, akan kupatahkan kedua kaki tangan dan lehermu itu!"
"Kembali ke sini, runcing!"
Akhirnya, semoga saja kali ini juga kau tidak mati, Naruto.
.
.
.
=Magic in the World=
.
.
.
Angin sepoi-sepoi melambai lembut, menghasilkan kesejukan yang pasti.
Awan-awan yang tertiup angin di atas langit, mengubah-ubah bentuknya.
Meskipun matahari bersinar terang, tapi tidak terasa panas bagi keenam remaja yang masih duduk di pinggir lapangan menunggu seleksi ketiga dari ujian masuk sekolah sihir usai.
Keenam remaja itu, atau lebih tepatnya ketiga orang yang tersenyum bahagia itu menikmati suasana ini lebih dari siapapun diantara mereka.
Pasalnya, mereka bertiga sudah sangat lega menganiay-, memberi hadiah kepada satu orang remaja lagi yang mempunyai banyak lebam dan posisinya saat ini bisa dibilang aneh nan memalukan.
Jadi dia tidak mati juga. Seperti biasa, ketahanan tubuhnya itu patut dipuji. Ganbatte, Naruto!
Sasuke, Sakura, dan remaja bangsawan lain itu berhasil mendapatkan Naruto yang melarikan diri. Dengan segenap rasa kekesalan yang ada pada mereka sebelumnya, ketiganya langsung memberikan 'servis' kepadanya.
Mereka tahu kalau itu bukan salahnya Naruto jika mana mereka berkurang drastis. Tapi tetap saja, Naruto lah yang memancing mereka untuk melakukan ujian secara total.
Mereka semua merasa tertantang dan tak mau kalah dari remaja berambut jabrik itu. Dan inilah hasil yang mereka terima, kehabisan mana.
Para remaja itu harus istirahat untuk memulihkan kembali mana yang telah hilang. Hanya Naruko saja yang mananya sudah terisi penuh kembali. Dan Sa-chan juga sebentar lagi mananya akan pulih. Ia memang memiliki regenerasi atau pemulihan mana yang cepat.
Selagi menunggu seleksi keempat tiba, pembicaraan diantara para remaja itu dimulai dari Naruto yang sudah bangkit kembali.
"A-apa salahku sehingga mendapatkan perlakuan sekejam ini ...?"
Keenam orang lain melihat ke arah wajah babak belur Naruto yang kini telah sadar.
"Kau memang tidak bersalah, tapi ..." Sasuke lah yang menjawabnya, "Kami hanya kesal padamu."
Sakura dan remaja bangsawan satu lagi mengangguk membenarkan perkataan si remaja bangsawan Uchiha itu.
"Hei, bukan salahku jika kalian terobsesi untuk merasa tersaingi dan tertantang!" Naruto juga memang menyadari alasan mereka mengeluarkan segalanya tadi.
"Yah, sebenarnya ekspresimu yang terakhir tadi lah yang membuatku benar-benar kesal. Kau menganggap kami seperti orang bodoh."
"Kalian memang bodoh."
"Oi!"
Hampir sekali lagi terjadi penganiayaan terhadap Naruto, tapi itu dihentikan oleh ketiga remaja lainnya.
"Tapi, menghajar seseorang tak dikenal karena hal seperti itu, kalian benar-benar buruk." Naruto kembali berpendapat.
"Kalau begitu, mari kita berkenalan sekarang. Namaku Uchiha Sasuke, salam kenal."
Perkenalan dilanjutkan ke dua saudara bangsawan di samping kanan Sasuke.
"Namaku Hyuuga Neji." Seorang remaja bangsawan berambut hitam panjang ini kemudian menunjuk ke remaja satunya. "Dan ini sepupuku, Hyuuga Hinata."
"Sa-salam kenal." Ucap Hinata sembari sedikit bersembunyi di belakang tubuh Neji.
Kemudian, semuanya saling berkenalan dan mengetahui nama masing-masing.
Sasuke kembali buka suara, "Baiklah, kita sudah saling kenal. Kalau begitu, kami bisa menghajarmu lain kali."
Naruto baru menyadari sesuatu tentang hal itu.
"Hei, bukan itu masalahnya!" ia berteriak frustasi.
"Lalu apa?"
"Kalian tidak boleh menghajarku seenaknya!"
"Oh, begitu?"
"Reaksimu benar-benar menyebalkan, dasar sialan!"
Naruto dan Sasuke berdebat seolah mereka begitu dekat. Padahal, baru hari ini mereka bertemu.
Sesaat setelah itu, Naruto menghela nafas secara kasar. "Sudahlah, kita harus menghemat tenaga kita. Masih ada seleksi terakhir dan satu jam setelahnya, ujian masuk kesatria sihir akan dimulai."
Ketiganya hanya mengedikkan bahu tak peduli. Pembicaraan ringan pun dimulai.
"Ngomong-ngomong, kalian juga mau mengikuti ujian satunya?"
Para remaja bangsawan itu mengangguk pasti dan menanyakan hal yang sama kepada Naruto dan kawan-kawan.
"Tentu saja."
"Begitu."
Kemudian, secara tidak sengaja Naruto melirik ke arah Hinata yang masih sedikit bersembunyi di belakang Neji.
Ia pun berkomentar tak sengaja, "Manisnya~."
Yang pertama bereaksi adalah Hinata sendiri, karena ia juga melirik ke arah Naruto. Ia pun kembali bersembunyi di belakang sepupunya dengan pipi merona.
"Hoi, kuning! Hentikan tatapan mesummu pada Hinata. Wajahmu benar-benar menjijikkan."
Remaja yang lain juga kini memperhatikan mereka. Lalu, terdengar suara Sa-chan yang sedikit aneh.
"Na-Naruto-kun ...? Aku ... tidak menyangka ini."
Naruto pun melihat ke arah Sa-chan yang sekarang sudah di belakang goril-, Sakura, bersembunyi dari Naruto.
"Tidak, tidak. Kau salah paham, Sasha. Aku-, hmmmph"
Sebelum Naruto menjelaskannya kepada Sa-chan, ia ditarik oleh adiknya, Naruko dan ia didekap paksa.
"Mou~, kau sudah lihat sendiri kan, Onii-chan? Tidak ada satupun perempuan yang mengerti dirimu kecuali aku. Jadi sini denganku saja ... se-la-ma-nya!"
Entah kenapa ini tidak seperti romantisme, malahan tubuh Naruto merinding hebat. Ia pun meronta di tengah dekapan adiknya itu. Tapi apa mau dikata, tubuhnya masih lemas dan sakit-sakit akibat penganiayaan sepihak pada dirinya tadi. Jadi ia hanya bisa pasrah kemudian.
Tanpa disadari oleh sang adik, terlihat dua orang remaja menatap Naruko sendiri sambil termenung. Dan itu tak lama disadari oleh Naruto.
"Hoi, para bangsawan! Kukira kalian itu lebih kaku, tapi ternyata kalian hanya remaja mesum yang menatap adikku dengan hina. Berhentilah atau aku akan mencabut keluar dua bola mata kalian."
Naruto dan kawan-kawannya menyadari ketiganya adalah bangsawan karena baju yang mereka bertiga kenakan terlihat elit dan sangat bagus.
Keempat sekawan itu tidak mengetahui perihal nama-nama kebangsawanan dan siapa saja itu. Jadi dengan asumsi itulah Naruto berkata seperti itu.
"Heh, jangan salah paham, Dobe. Aku hanya tertarik dengan betapa persisnya wajah kalian berdua. Dan itu mengingatkanku pada Namikaze tadi. Apa kalian ada hubungan?"
Baik Naruto maupun adiknya, Naruko, mereka berdua cukup terkejut dengan itu. Tapi Naruto pura-pura tidak tahu dan mencoba menepisnya.
"Mirip? Kami berdua memang mirip. Tapi mungkin hanya perasaanmu saja mengira bahwa kami mirip dengan si Nami- apa? Ah, Namikami!"
"Namikaze." Ucap Sasuke membenarkan, tapi Naruto juga sengaja salah dalam menyebutnya.
"Begitu, ya sudah. Aku juga tidak terlalu perduli. Tapi ..." Sasuke melirik ke arah Naruko dan mengucapkan, "Kau memang benar-benar imut. Benarkan, Hyuuga?"
Neji mengangguk, mengiyakan dengan pasti.
"Tuh kan? Benar kan? Kalian benar-benar orang mesum!" Naruto melindungi adiknya dari tatapan kedua predator itu. "Bisakah kau hanya menunjukkan keimutan seorang adik perempuan hanya kepada kakak tersayangmu ini?"
"Apa boleh buat, Naruto Onii-chan. Naruko juga sebenarnya hanya ingin menunjukkan keimutan seorang adik perempuan level malaikat kepadamu saja. Tapi mau bagaimana lagi? Naruko yang sangat cantik dan mempesona ini membuncah keluar dan membiarkan siapapun dapat mengagumi diriku."
"Kau itu hanya imut, Naruko. Dan sejak kapan kau jadi senarsis ini, adikku tersayang?"
"Hanya bercanda, Nii-chan. Hehehe."
"Kau ini."
Melihat interaksi antara Naruto dan adiknya membuat Sasuke dan Neji bertingkah sok keren. Padahal, dalam hati mereka berdua, keduanya membatin, 'Imut, imut, imut!'.
Image seorang bangsawan yang keren, kaku dan dingin tak ada pada mereka berdua. Tapi itu tidak berarti mereka tidak pernah serius. Mereka bertindak seperti itu karena ini lah kali pertama mereka dapat berteman dan berbicara santai seperti ini. Maka dari itu, mereka dapat menunjukkan sifat lain yang selama ini mereka tutupi.
Nah, Sakura juga membatin seperti kedua orang remaja laki-laki bangsawan itu. Bahkan, kedua tangannya sudah gatal untuk bisa memeluk Naruko sekuat tenaga dan mengelus pipinya ke pipi Naruko.
Dengan interaksi-interaksi itu, Naruto melupakan kesalahannya dan membiarkan Sa-chan merengut dan mengembungkan pipi kesal. 'Hmph, Naruto-kun no Baka!'
Berdehem sebentar, mengendalikan dirinya lagi dan menarik perhatian lainnya, Sasuke berkata ... "Untuk seleksi terakhir, kuharap aku akan bertanding melawanmu."
"Aku juga berharap begitu." Neji menimpali perkataan Sasuke.
"Aku pun berpikir seperti itu." Kali ini Sakura yang juga menimpalinya.
Naruto mengerutkan kedua alisnya, pertanda bingung. "Kenapa?"
Ketiganya tersenyum bersamaan, Naruto merasakan hal buruk untuk itu.
"Karena kami bisa menghajarmu lagi!"
'Kalian gila!'
"Entah mengapa aku merasa senang menyiksamu."
"Kau benar-benar yang terbaik dalam memberikan 'pelayanan'."
"Mulai sekarang, mohon bantuannya."
"Aku bukan Masokis!"
Tidak, tidak, tidak. Ketiga orang ini sudah benar-benar gila pikir Naruto. Sejak kapan bahwa dengan menghajarnya maka orang-orang akan senang?
Ini buruk. Ia tahu! Gorilla pink itu membawa sifat buruknya kepada siapapun. Pertama adiknya, dan sekarang dua orang laki-laki itu tertular sifat buruknya!
Entah kenapa Naruto merasa bahwa mulai sekarang, dirinya akan sering menjadi samsak tinju untuk melepaskan dahaga semua orang. Ini benar-benar tidak lucu!
Akan tetapi, sebabak belur apapun dirinya, ia akan sembuh dengan cepat. Tapi bukan berarti bahwa semua luka yang diterimanya akan sembuh dalam sekejap. Ia hanya memiliki pemulihan diri yang 'sedikit' lebih cepat dibanding orang lain. Terbukti luka-luka sayatan di tangan Naruto sudah tertutup dan perlahan hilang tak berbekas.
Semua remaja disana tak ada yang memperhatikan hal itu, bahkan Naruto sendiri.
Saat ketujuh remaja itu saling bertukar cerita, salah satu dari mereka yaitu Naruto tak sengaja melihat ke arah Tenzou yang menatap datar ke arah mereka.
"Sepertinya seleksi ketiga telah selesai." Ucap Naruto sembari masih melihat ke arah Tenzou.
Keenam remaja lainnya pun mengikuti arah pandangan pemuda berambut jabrik kuning itu.
Di belakang Tenzou, telah terparkir beberapa senjata yang terbuat dari kayu. Pedang, tameng, gada, tombak, dan beberapa senjata lainnya. Meskipun terbuat dari kayu, tapi tampaknya senjata-senjata itu tetap berbahaya, terbukti dari munculnya seberkas sinar dari masing-masing senjata.
Para remaja itu pun meneguk ludah secara kasar saat Tenzou malah menyeringai ke arah mereka semua sambil memegang pedang kayu bercorak seram.
[Glek]
Mereka pun menelan ludah secara kasar lagi.
"Se-sepertinya, guru itu marah kepada kita entah karena apa."
"Mu-mungkin dia merasa diremehkan."
"Karena apa?"
"Karena kita menghancurkan kreasi uniknya dengan mudah tadi."
"Mu-mungkin saja. Hei Naruto, ini salahmu!"
"Sudah kubilang aku tidak salah. Jangan salahkan aku, jidat lebar!"
"Aku benar-benar berharap agar bertanding melawanmu dan bisa menghancurkan kepalamu."
"Ka-kau memang gorilla."
Mau tak mau Naruto harus menghela nafas pasrah dan berharap agar tak bertanding melawan salah satu dari tiga orang itu. Tapi sepertinya lagi-lagi ia melupakan sesuatu.
"Hei, bukannya seleksi terakhir ini bertanding satu lawan satu menggunakan pedang kayu, ya?"
Sasuke dan Neji mengerutkan dahi mereka dan menatap heran Naruto.
"Kau tidak tahu? Sudah diberitahukan kembali enam hari yang lalu, bahwa semua calon peserta akan memakai senjata apapun yang dia bisa."
"Dan juga, semua yang lolos seleksi ketiga sudah pasti diterima disini. Pertarungan dengan hanya memakai keterampilan dan kekuatan fisik yang terakhir ini hanyalah tambahan sebagai tolak ukur besarnya daya tempur kita dengan dijumlahkan dari poin-poin di seleksi-seleksi sebelumnya untuk menempatkan kita di kelas yang mana."
Naruto yang mendengar hal itu hanya terbengong pasrah dan melihat ke arah Sakura dengan malas. Yang dilihat hanya pura-pura mengarahkan pandangannya ke arah lain.
Sekali lagi untuk hari ini, Naruto menghela nafas pasrah.
Dia pun melihat ke arah Sasuke dan Neji, kemudian membatin, 'Tak kusangka kedua bangsawan ini bisa berbicara banyak. Kukira mereka irit bicara. Tapi kurasa aku harus berterima kasih kepada mereka berdua.'
Bila dia mendapatkan informasi ini, dia bisa memilih lebih matang apa yang akan ia gunakan untuk pertarungan satu lawan satu nanti. Tapi tak apalah, ia akan memilih pedang kayu saja, seperti yang sudah direncanakan.
Beberapa saat kemudian, suara panitia kembali terdengar.
"Perhatian untuk para calon murid. Kami ucapkan selamat! Karena kalian sudah diterima di sekolah ini. Dan sebagai tambahan yang sudah diberitahukan, pertarungan satu lawan satu akan dimulai! Diharap kepada para murid baru untuk bersiap-siap. Pemilihan akan dilakukan secara acak oleh guru-guru."
Setelah berdiskusi singkat, para guru itu asal memilih murid, tapi mereka berniat untuk menyimpan yang menarik di akhir.
"Baiklah, kurasa kalian semua sudah mengetahui apa peraturannya. Tapi akan kukatakan biar jelas. Masing-masing orang bebas menentukan senjata mana yang akan mereka pakai dan berapapun banyaknya itu. Semua senjata terbuat dari kayu yang dibuat oleh Tenzou-sensei memiliki kepadatan dan ketahanan lebih kuat daripada ToTemPol-ToTemPol tadi, telah disiapkan di hadapan kalian. Oh iya, ada pesan dari Tenzou-sensei. Dia bilang, siapapun yang menghancurkan senjata kayu yang ia buat, maka akan dikutuk oleh corak-corak menyeramkan dari masing-masing senjata dan diberi pelajaran 'khusus' darinya. Terakhir, pertandingan akan berakhir jika salah satu atau kedua murid pingsan, atau juga mengaku kalah."
Kebanyakan murid baru menatap ngeri senjata-senjata itu, termasuk Naruto yang juga menutup mata dan telinganya untuk mencoba berpura-pura tidak tahu. Semuanya menghiraukan pelajaran 'khusus' apa yang akan mereka terima jika itu benar-benar terjadi.
Tapi sepertinya tidak, karena tak ada sihir diberlakukan di sini. Itu artinya senjata-senjata yang dibuat khusus kesayangan cicit kepala sekolah itu tidak akan hancur ..., mungkin.
Kemudian, dua orang yang ditunjuk asal oleh para guru sudah saling berhadapan dan menegang senjata masing-masing.
"Baiklah, langsung saja. Pertarungan pertama ... dimulai!"
.
.
.
= Magic in the World =
.
.
.
Sudah banyak pertarungan satu lawan satu dimulai dan diakhiri dengan kemenangan masing-masing. Kini, tinggal tujuh orang murid baru yang belum bertanding.
Para guru menimbang-nimbang, lalu ditunjuklah dua orang. Mereka adalah ...
"Sasuke dan Sakura kah?" Naruto tersenyum diam karena itu. Ia mendekati Sasuke dan merangkulnya kuat.
"Psst, Sasuke."
Sasuke terlihat risih atas sifat Naruto yang sok akrab kepadanya itu.
Dengan enggan, dia menjawab, "Apa?"
Itu pertanyaan! Baiklah, lupakan.
"Kau tahu bunga Sakura?"
Mengerutkan keningnya, Sasuke menjawab pasti. "Tentu saja aku tau. Kau mengejekku ya?"
"Hei, tenang dulu. Apa kau suka bunga itu?"
"Yah, bukan berarti suka. Aku hanya penasaran dengan bunga itu. Karena aku belum pernah melihatnya secara langsung."
"Kalau begitu, ini jadi lebih mudah."
"Tunggu, apa maksudmu?"
"Hei, pelankan suaramu dulu. Kita bisik-bisik saja."
Naruto semakin menguatkan rangkulannya dan itu juga membuat Sasuke semakin risih dan berekspresi aneh.
"Ja-jangan sentuh diriku!"
Sasuke melepaskan dirinya secara paksa dan perkataannya yang cukup besar terdengar oleh semua orang. Naruto menatap datar Sasuke yang seperti perempuan itu dan merasakan tatapan-tatapan aneh datang ke arah dirinya.
'Bangsawan satu ini, suka sekali bercanda yang aneh-aneh. Amit-amit dah.'
Dibalik itu, Sasuke diam-diam menyeringai kejam.
'Khukhukhu, apa kau merasakan tatapan itu? Kau akan dianggap homo, Dobe. Khukhukhu.'
Tidak, kau juga akan dianggap aneh.
Tapi Naruto menghiraukan hal itu dulu dan kembali merangkul Sasuke.
"Dengar dulu, kau bangsawan aneh! Aku mau memberitahu hal bagus untukmu."
"Hal apa?"
"Kau lihat gadis berambut pink itu? Dia suka padamu!"
"APA? Jangan bercanda kau!"
"Aku tidak bercanda. Lihat dia, Sakura tersenyum kepadamu! Dan lihat tingkahnya. Malu-malu sambil tersenyum menatapmu. Itu sudah pasti bahwa ia menyukaimu!"
Memang Sakura bersikap malu-malu, tapi itu kepada Naruto, bukannya Sasuke. Sakura juga salah paham mengapa Naruto menunjuk-nunjuk dirinya.
Ia pun membatin, 'Ke-kenapa Naruto melihat ke arahku? Dan juga, apa dia berbisik-bisik kepada Uchiha itu bahwa ia menyukaiku? Itu tidak mungkin!'
Naruto juga tidak mengerti kenapa Sakura seperti itu, tapi ia akan memanfaatkan hal ini untuk mengerjai Sasuke.
"Be-benar juga, dia terlihat semakin malu-malu."
"Nah, benar kan? Jika kau berpacaran atau bahkan menikahnya, kau bisa mencium jidat lebarnya sesuka hatimu!"
"Kau pikir aku mempunyai fetish aneh seperti itu?"
"Dijamin kau akan ketagihan jika sudah sekali mencobanya. Lagipula, kita ini masih remaja, jadi tidak apa-apa untukmu berpikir seperti barusan."
Sasuke terlihat menimang-nimang perkataan Naruto. Sasuke harus diberi dorongan lagi, pikir Naruto.
"Kau bilang bahwa kau belum pernah melihat bunga Sakura kan?" Sasuke mengangguk, "Nah, jika kau bisa bersamanya, kau akan dapat melihat bunga Sakura beserta pohonnya setiap hari!"
Dengan begitu, Sasuke memantapkan hatinya yang 'rapuh' untuk bisa bersama Sakura.
Melihat tekad Sasuke, Naruto pun diam-diam menyeringai senang.
Tapi, Naruto belum selesai. Ada satu hal lagi yang perlu ia beritahukan kepada remaja Uchiha itu.
"Terakhir, meskipun cantik, tapi dia cukup agresif."
"Maksudmu?"
"Saat pertandingan dimulai, dia akan langsung menghampirimu dengan cepat dan memberikan 'hadiah' tak terduga."
"Hadiah apa?"
"Entahlah, mungkin ciuman. Jadi, kau harus diam dan menerimanya, oke?"
Sasuke tak berpikir panjang lagi dan langsung mengangguk, sembari menunggu 'hadiah' yang akan ia dapatkan.
Naruto menyeringai senang lalu membatin, 'Dasar bodoh.'
Saat itulah, suara panitia kembali terdengar. Sasuke dan Sakura segera memilih senjata mereka masing-masing.
Keduanya berdiri sejajar dan ketika Sakura tak sengaja melihat pemuda berambut hitam itu, Sasuke berkedip sebelah dan tersenyum kepadanya.
Sakura tak tahu mengapa Sasuke begitu. Tapi dia pikir, bangsawan satu itu tak sekaku dugaannya. Jadi, dia pun membalas senyuman itu, dan kembali membuat Sasuke salah paham.
"Baiklah, pertarungan antara Uchiha Sasuke dan murid baru yang cantik, akan segera dimulai!"
Kedua lawan itu kini saling berhadapan dengan membawa senjata masing-masing. Sasuke memegang pedang kayu berbentuk katana dan Sakura memegang pedang kayu berukuran besar.
Keduanya tersenyum dan menunggu aba-aba.
"Bersedia, siap, mulai!"
[Wuuush]
Dalam sekejap, Sakura berlari cepat ke arah Sasuke yang melebarkan matanya terkejut. Ketika Sakura mengangkat pedang kayu besarnya, saat itu juga Sasuke mengutuk Naruto.
[Duarrrrr]
Asap mengepul disana saat Sakura mengayunkan pedang besarnya. Dalam kepulan asap itu, Sasuke melompat keluar dari sana dengan cepat.
'Sial! Akan kubalas kau nanti, Naruto!'
Di pinggir lapangan, Naruto menyeringai ke arahnya. Tapi ia hiraukan itu, saat ini ia harus berfokus agar tubuhnya tidak terkena serangan maut dari gadis pink itu.
Dia pun kembali fokus dan memperlihatkan wajah keras miliknya seperti sebelumnya.
Mengambil ancang-ancang, Sasuke berlari cepat menggenggam katana kayunya dan mencoba memukul Sakura dari kanan.
Tak tinggal diam, dengan reflek yang terlatih, Sakura menancapkan pedang kayu besarnya ke tanah untuk menjadi tameng baginya.
[Trank]
Dan setelah benturan itu, Sakura menarik tubuh baju Sasuke yang berada dalam jangkauan tangannya.
'Eh?'
Dalam sekejap, dengan tangan kanan terkepal erat, Sakura meninju telak pipi kiri Sasuke.
Remaja bangsawan itu terlempar cukup jauh dari sana dan melepaskan pegangan katana kayunya.
Ia terguling berkali-kali di tanah sampai akhirnya berhenti terkapar.
Semua yang ada di dalam lapangan menatap terkejut dan merasa ngeri terhadap Sakura. Mereka semua membatin, 'Gadis itu seekor monster!'
Naruto yang juga menyaksikan hal itu merinding hebat karena mengingat sensasi menakutkan itu. Dia pernah beberapa kali dihajar Sakura, dan sepertinya pukulan gadis merah jambu itu semakin kuat.
Oke, pemuda kuning itu semakin ingin jauh-jauh dari Sakura dan akan menjauhkan Naruko darinya sesegera mungkin.
Kembali ke pertarungan.
Sasuke begitu merasa sakit di pipi kirinya dan ia meludah ke samping secara kasar. Pipi kirinya terdapat lebam ungu yang tercetak jelas dan pendarahan tertuang di dalam mulutnya.
'Sakit sekali. Sial! Gadis itu benar-benar titisan monster!'
Mengeluarkan sihir dalam bentuk apapun tidak diperbolehkan saat ini. Lalu, Sasuke berpikir bagaimana caranya untuk mengalahkan Sakura.
Kekuatan fisik gadis itu jelas melampaui dirinya. Bahkan, reflek terhadap serangannya tadi sungguh tak bisa dipercaya dimiliki oleh gadis itu.
Satu-satunya cara untuk tidak merasakan sakitnya pukulan mematikan itu hanyalah menyerah. Tapi bangsawan lain akan mencemooh dirinya begitu saja.
Sasuke tertegun sesaat, kemudian ia tertawa sedikit. Sejak kapan ia memikirkan pendapat orang lain? Tidak! Apapun yang terjadi dia pikir dia tidak harus memikirkan pendapat orang-orang.
Ia adalah seorang bangsawan besar Uchiha. Dan ia tidak bisa menerima kekalahan begitu saja!
Sasuke akan bertarung. Bertarung melawan gadis dengan kekuatan fisik menakutkan yang cukup jauh di depannya.
Dengan begitu, pemuda berambut raven itu kembali berdiri dengan payah dan tersenyum menantang kepada Sakura. Gadis berambut pink di seberang merasakan perasaan itu dan dia pun menyeringai bersemangat.
Sasuke mencoba melihat celah dari Sakura, namun tak ada kesempatan baginya untuk bisa mengambil kembali katana kayunya yang tergeletak tak jauh dari gadis itu.
Sakura, gadis pink itu berjalan pelan ke depan dan membuat Sasuke menjadi siaga. Berhenti di depan katana kayu milik lawannya, Sakura mengambilnya untuk kemudian dilemparkan kepada Sasuke.
Katana kayu itu terjatuh di depan kedua kaki si pemilik. Sasuke terlihat terkejut melihat tindakan itu dan melihat Sakura tersenyum yakin kepadanya.
Terkekeh kecil sebentar, Sasuke mengambil katana kayunya.
Dia jadi benar-benar ingin bertarung serius melawan Sakura.
Di antara keduanya, ada jarak yang cukup jauh dan hembusan angin yang berlalu.
Saat keduanya siap, mereka menerjang ke arah masing-masing dengan cepat dan saling menyerang satu sama lain.
[Trank Trank Trank]
Suara benturan pedang kayu terdengar menggema berkali-kali di lapangan. Tentu saja benturan itu lebih ke arah pedang kayunya Sasuke tak bisa menghadapi pedang besar kayu Sakura secara langsung.
Sasuke berkali-kali membuat pedang kayunya bergeser sedikit sesaat sebelum terbentur sepenuhnya. Tidak diragukan lagi, bahwa katana kayu itu akan patah seketika. Dan Sasuke akan tidak punya senjata lagi untuk menyerang.
Tenaga besar Sakura mengalahkan dirinya. Maka Sasuke akan mencoba memakai teknik yang selama ini ia latih.
[Duar]
Saat pedang kayu besar Sakura menyentuh tanah, Sasuke menendang keras pedang itu dan langsung menyabetkan katana kayunya dari atas dengan cepat.
Sakura sekali lagi melepaskan pegangan pada pedang kayunya dan menghindar ke samping. Dengan tangan kiri terkepal kuat, Sakura sekali lagi ingin memukul Sasuke telak, tapi kali ini di bagian perut.
Ini buruk, pikir Sasuke.
Ia pun mengarahkan ujung gagang pedang kayu untuk dihadapkan dengan pukulan Sakura.
[Duk]
Bahkan dengan itu, Sasuke masih terdorong ke belakang.
Saat itu, Sakura mengambil kembali pedang besar kayunya dan mencoba menebas Sasuke dari atas.
Pemuda raven itu menyeringai kecil dan kembali memutar pedangnya ke atas dan menjadi sebuah sabetan kejutan.
Sakura tak bisa menghindari itu dan dagunya terkena serangan telak. Dia sedikit mundur ke belakang dan Sasuke memanfaatkan hal itu dengan maju menghunuskan katana kayunya.
[Buk]
Sakura menangkap ujung pedang kayu Sasuke sebelum mengenai perutnya dan tersenyum ke arah remaja laki-laki itu. Sakura sengaja terkena serangan sebelumnya dan memanfaatkan hal itu untuk menarik tubuh Sasuke melewati pedang kayu yang digenggamnya.
Tubuh Sasuke tertarik dengan paksa dan Sakura menyabetkan pedang kayu besarnya dari arah samping.
Inilah saat-saat yang ditunggu oleh Sasuke. Ia melepaskan pedang kayunya dan melompat mengambil momentum yang ada. Kemudian, sesuatu yang tak disangka oleh siapapun terjadi.
Saat ini, Sasuke, pemuda berambut raven itu, ia mendekap penuh wajah Sakura dengan ... selangkangannya.
Sakura tak menyangka ini sama sekali. Gadis itu merasakan sesuatu yang menonjol menyentuh wajahnya. Pandangannya gelap dan dia tak bisa berpikir jernih.
Sasuke menjadikan kedua bahu Sakura sebagai dudukan dan mendekapnya di depan celananya. Dapat Sasuke rasakan sensasi geli bercampur rasa lain dan hangatnya hembusan nafas Sakura.
Itu adalah teknik yang selama ini ia latih waktu kecil dan belum pernah ia gunakan sejak lama.
Teknik itu ia latih dengan serius ketika bermain dengan kakaknya, Uchiha Itachi waktu kecil untuk mengalahkannya. Sasuke dulu berniat membuat Itachi tak bisa bergerak dan berpikir jernih, tapi malah Itachi tertawa terbahak-bahak akibat ulahnya waktu itu.
Dengan bijak, Itachi berkata kepadanya bahwa ia tidak boleh melakukan hal itu kepada perempuan. Saat Sasuke menanyakan kenapa, Itachi menjawab bahwa ia akan tahu saat sudah besar nanti.
Sasuke akhirnya mengerti hal itu dan sekarang saatnya lah untuk mempraktekkan hal itu kepada Sakura yang notabenenya adalah seorang perempuan secara langsung.
Uchiha Itachi yang juga datang melihat kesini menepuk pelan dahinya di sudut lain luar lapangan ketika melihat kejadian itu.
'Dasar adik bodoh.'
Hanya ia dan ibu mereka berdua yang datang kesini. Uchiha Mikoto hanya tertawa kecil melihat aksi bodoh anaknya itu.
Di tempat para bangsawan, mereka tentu saja mengecam tindakan yang dilakukan anak bangsawan besar Uchiha. Itu adalah tindakan paling bodoh yang pernah mereka lihat. Sangat berbeda dengan Itachi, pikir mereka.
Di lapangan, Sasuke tersenyum gembira dan melanjutkan aksinya.
"Hahaha! Rasakan itu!"
[Bugh]
Tak lama dari itu, Sakura terjungkal ke belakang dan Sasuke masih sekarang menimpa gadis itu di muka.
Merasa tidak ada perlawanan lagi, akhirnya Sasuke berdiri dengan penuh keyakinan dan kegembiraan. Dia pun menyeka air keringat imajinasinya dan menyibaknya dengan sok keren.
"Fyuh, hebat juga diriku ini." Setelah itu, dia melihat ke panitia yang ada di arah belakangnya dan berkata, "Hei, gadis ini sudah pingsan! Jadi aku menang!"
Tak ada tanggapan dari guru yang menjadi panitia itu, Sasuke pun kembali memanggilnya.
"Hei! Ayo umumkan kemenangan menakjubkanku!"
Namun tetap tak ada respon dari guru itu, tapi dia hanya menunjukkan jarinya ke arah Sasuke. Tidak, lebih tepatnya ke arah belakangnya.
Sesaat kemudian, barulah terdengar suara menggema.
"Pertandingan belum selesai, murid cantik itu masih bangun."
Seketika pemuda berambut raven itu langsung membalikkan tubuhnya ke belakang dan melotot tak percaya. Ada pesan terakhir dari panitia untuknya, mari dengarkan dengan singkat.
"Selamat bergabung di sekolah sihir ini dan ... semoga masa depanmu tidak hancur."
Sepersekian detik selanjutnya, Uchiha Sasuke dapat merasakan rasa ngilu yang teramat sakit dari daya penghancur pukulan berlapis mana di bagian bawah tubuhnya.
[Duakkkkkkkkkk]
[Krakkk]
Naruto sedikit bersimpati kepadanya dari pinggir lapangan dan berkata. "Semoga kau tenang di alam sana."
Beberapa saat kemudian, telah ditentukan dua orang yang akan bertarung berikutnya, mereka adalah ...
"Pertarungan antara Hyuuga Neji dan Hyuuga Hinata ... dimulai!"
To be Continued.
Author Note :
Ketemu lagi dengan saya Sevirel Reshi Dashi di sini. Salam yang membosankan yah? Hehehe.
Untuk kali ini hanya sampai di sini dan chapter depan akan lebih dari setengah word asli adalah mengenai pertarungan-pertarungan yang tersisa, kemungkinan besarnya.
Bila ada yang merasa alurnya lambat, sudah saya kasih tau itu di warning. Saya sengaja membuat alur yang lambat, sangat lambat malahan. Gejolak ingin menjelaskan semuanya secara terperinci yang ada di dalam otak ke cerita ini menggunggah seleraku.
Meskipun mungkin masih ada yang kurang bisa dimengerti sih.
Yah, itu saja di AN kali kedua chapter ini.
Terima kasih buat sudah yang membaca, mereview, memfollow, dan memfavoritkan cerita ini.
Saya Sevirel Reshi Dashi off dulu.
Jaa Na!
Sekitar Jam 19:44.
Hari Jum'at, 01 Oktober 2020.
