"Mas, mau naik itu," kata Takeru sambil menarik ujung baju Sasori. Dia menunjuk kereta untuk anak kecil di tengah Pasar Yamada.

"Nggak, mainan anak kecil tuh. Katanya udah gede?" tolak Sasori. Dia tidak ada waktu untuk menemani adiknya naik wahana anak kecil. Dia bukan bapak-bapak yang memiliki kesabaran ekstra.

"Ih, Mas, nanti aku diculik orang loh kalau naik sendirian."

"Malah bagus."

Takeru cemberut. Jika kakaknya sudah mode cuek, itu tandanya dia tidak memiliki kesempatan untuk naik kereta-keretaan. Sasori bersikukuh membeli daging terlebih dahulu, dia tidak mau lama-lama di luar.

"Mbak Sakura!" teriak Takeru tiba-tiba.

Sakura yang baru saja memarkirkan motor terkejut ada suara anak kecil memanggilnya. Dia melihat anak laki-laki bertubuh gempal berlari ke arahnya. Sakura menerka-nerka anak siapa kah itu? Apa ini salah satu modus penipuan terbaru?

"Oalah, si Takeru," kata Sakura ketika melihat ada Sasori yang segera berlari menangkap Takeru agar tidak menyeberang jalan seenaknya.

Sakura menyebrang jalan dan mendekati Takeru yang sudah kesurupan karena digelitik oleh Sasori.

"Mbak, temenin aku naik itu, ya," kata Takeru sambil menunjuk kereta. "Mas Sasori beli daging gih sana." Takeru mendorong kakaknya agar pergi menjauh.

"Kayak dia mau aja nemenin situ," kata Sasori.

"Boleh, ayo," kata Sakura menerima ajakan Takeru. Dia sebenarnya ingin berlama-lama di luar rumah. Sekalian mau selfie di pasar buat update status.

Sakura menggandeng tangan Takeru dan mengacuhkan Sasori yang berdiri di sampingnya.

"Kok kamu juga ikutan nunggu?" tanya Sakura melihat Sasori ikut duduk di sebelahnya. Baru beberapa menit yang lalu cowok ini bersikukuh tidak ingin menunggu adiknya sendiri.

"Nanti kamu culik si Takeru," jawab Sasori. "Nemu makhluk kayak Takeru susah."

"Kurang kerjaan banget."

Lama mereka terdiam. Sakura masih mengedit foto selfie-nya sebagus mungkin. Sedangkan Sasori memandang jauh langit mendung kota kecil ini.

"Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang Gaara ke keluarga kamu?" tanya Sasori tiba-tiba.

Sakura menghentikan aktivitasnya, dia mengalihkan pandangannya ke arah Sasori. Meskipun dia heran dengan rasa penasaran Sasori, dia masih mau menjawab pertanyaannya.

"Malas aja cerita, lagian masih pacar juga. Nggak terlalu penting," jawab Sakura.

"Yakin nggak nyesel dia nikah sama saudara kamu sendiri?"

"Kaget sih, tapi mau bagaimana lagi. Udah terlanjur juga."

Sakura memasukkan ponselnya dan tidak berniat update status hari ini. Dia tidak tahu mengapa cowok di sebelahnya ini sangat penasaran dengan perasaannya.

Jangan-jangan nih orang lagi nyari bahan buat nulis novel? Pikir Sakura dalam hati. Biasanya, orang seperti Sasori akan memanfaatkan keadaan dan menjadikannya sebuah karya. Jika ada tiba-tiba novel terkenal diangkat ke layar lebar dengan tema 'mantan pacar nikah sama saudara sendiri', itu berarti Sasori penulisnya.

"Kamu ngapain ke pasar?" tanya Sakura. Berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Nyari daging buat mama Gaara," jawab Sasori.

Tiba-tiba Takeru turun dari wahananya dan mengaku kelelahan. Dia berlari ke pangkuan Sasori dengan penuh keringat.

"Kamu main apa, sih? Kan cuma duduk doang," tanya Sasori melihat keringat membasahi baju Takeru. Dia tidak habis pikir, mainan bergoyang naik turun beralih fungsi jadi alat kebugaran.

"Mas, pulang yuk. Bosan," kata Takeru.

"Enak aja pulang, nyari pesanan Tante Sabaku dulu, baru pulang," jawab Sasori, tegas.

"Nggak mau. Lama. Mas antar aku pulang dulu, nanti balik ke sini lagi."

"Kamu kalau masih ngerengek, Mas nggak segan-segan pelorotin celana kamu di sini," ancam Sasori yang mulai kehilangan kesabaran.

Takeru merasa terancam dan segera berdiri tegak menghadap Sasori. Dia memberi hormat seperti prajurit dan mengaku dia tidak kelelahan sama sekali.

Sakura menutup mulutnya menahan tawa melihat tingkah kakak beradik yang unik. Sasori meliriknya perlahan, melihat senyum Sakura yang mengembang lebar tanpa sandiwara seperti kemarin.


Mereka bertiga berkeliling pasar sayur dan ikan untuk mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. Sakura berada di garis depan untuk membantu seorang lelaki yang sangat buta ilmu perbumbuan. Orang tersebut tidak bisa membedakan jahe, kunyit, lengkuas bahkan ketumbar. Akhirnya Sakura merampas catatan belanja dari tangan Sasori. (Mau masak rendang—mereka)

"Kasihan banget, sih, kamu? Berani sekali menerima tantangan belanja di pasar," ejek Sakura.

"Aku nggak bisa fokus liat bahan, si Takeru bikin beban aja," sahut Sasori membela diri. Dia menggendong Takeru di belakang punggungnya.

"Alasan aja." Sakura mencoret daftar belanjaan Sasori dan belanjaannya sendiri. Meskipun dia mengomel sepanjang jalan karena ketidaktahuan Sasori, Sakura cukup senang. Dia selalu belanja sendirian tanpa bantuan orang lain. Rupanya, belanja dengan seseorang menghilangkan satu-persatu beban pikirannya.

"Mas, mau buang air besar," teriak Takeru tiba-tiba.

Sasori menghela napas kesal. "Ru, Ru, suka banget kamu ngasih oleh-oleh kotoran di tempat baru."

Sasori bingung dengan kebiasaan adiknya, selalu mengalami masalah pencernaan di tempat yang baru dikunjungi. Bahkan setiap berada di pesawat yang berbeda, dia rutin mampir ke toilet sekedar membuang hajat. Tidak hanya di toilet, berada di bus, kereta api bahkan motor saja dia masih ingin buang air.

"Toiletnya di sana. Ntar tunggu aja di sini, aku masih mau nyari bahan masak," kata Sakura. Dia kembali mencari-cari bumbu dapur keperluan Sasori dan dirinya sendiri setelah memberi arah toilet.

"Sakura-chan, ya?"

Tanya seseorang tiba-tiba berdiri di depan Sakura. Cowok ber-jas hitam itu tersenyum manis ke arahnya, membuat Sakura terkejut dan berusaha cepat mengingat nama salah satu teman sekelasnya.

"Sasuke?!" tanya Sakura dengan nada bahagia. "Kamu udah jadi pegawai pemerintahan di Suna, ya? Ah selamat." Sakura menyalami tangan Sasuke yang telah berusaha keras untuk menggapai cita-citanya sejak dulu. Meskipun hanya lulusan SMA, Sasuke jauh lebih dulu sukses daripada dirinya.

"Iya, Sa. Kamu kapan lulus?" tanya Sasuke dengan suara pelan, sedikit gugup.

"Doakan saja, ya. Semoga tahun depan udah wisuda."

"Sudah punya pacar?"

Sakura terdiam. Telinganya sangat sensitif mendengar kata 'pacar'. Namun, dia tidak menyalahkan orang-orang bertanya seperti itu. Toh, itu memang hal wajar.

"Nggak ada," jawab Sakura dengan senyuman tipis.

Sasuke tiba-tiba menutup mulutnya, menutup kebahagiaan yang nyaris dilihat oleh Sakura. Sakura menatapnya seolah bertanya-tanya.

"Aku, sebenarnya mau memantaskan diri. Ada niat serius untuk itu," kata Sasuke mulai terbata-bata. Jantungnya berdetak dengan cepat. "Aku..."

"Udah dapat bahannya belum?" tiba-tiba Sasori datang menghentikan kalimat Sasuke yang belum selesai.

Sasuke terkejut melihat Sasori yang sedang menggendong Takeru, kemudian dia memandang Sakura lagi.

"Belum, sih. Belum ketemu timun," sahut Sakura. Sasori berjalan ke arahnya dan meminta bantuan untuk menggendong Takeru yang sedang tertidur. Dia ingin mengikat tali sepatunya yang lepas.

Ketika Takeru berada di gendongan Sakura, Sasuke tiba-tiba membungkukkan badan merasa bersalah dengan ucapannya barusan.

"Ngapain, Sas?" tanya Sakura heran. Sasori yang sedang berjongkok juga menatapnya dengan penuh kebingungan.

"Maaf, Sakura-chan. Lupain aja yang tadi." Sasuke buru-buru pergi meninggalkan Sasori dan Sakura. Dia nyaris mengajak nikah istri orang, begitulah pikirannya.

"Kenapa tuh orang?" tanya Sasori. Sakura hanya mengangkat bahu dan tidak mengetahui penyebab Sasuke pergi dengan wajah ketakutan seperti itu. Dia memilih untuk melanjutkan kegiatan belanjanya karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang.

BERSAMBUNG