Disclaimer!

This is a work of fan fiction using characters from the Naruto world, which is trademarked by Masashi Kishimoto. All of characters created and owned by Masashi Kishimoto and I do not claim any ownership over them or the world of Naruto.

This story is for entertainment only and is not part of the official story line.

Happy reading! :)

Drink My Blood by Osaki Luna


"Sakura! Kemarikan Bourbon disebelah sana!"

"Wakarimashita!"Seru Sakura bersemangat seraya mengoperkan botol minuman beralkohol didekatnya pada Ino yang sibuk memasukkan es batu kedalam tiga gelas rendah.

Sakura kemudian beralih pada dua pelanggan yang baru saja datang dan duduk didekatnya. "Sumimasen,"panggil pelanggan itu padanya. Sakura menyunggingkan senyumnya dengan ramah pada pria tanpa alis dengan tato huruf kanji didahinya yang baru saja memanggilnya.

"Vodka. Two shoot."

"Baik!"

Sakura pun berbalik untuk membuatkan minuman pesanan laki- laki berparas dingin itu. Pria itu mengingatkannya pada seseorang akan sifat dinginnya, membuat Sakura merinding sendiri. Apakah dunia ini memang sudah dikontaminasi dengan orang- orang dingin? Sakura menghela napasnya, melirik sekilas pria itu yang sibuk berdiskusi dengan seseorang yang disebelahnya dengan serius.

Club sudah semakin ramai karena hari sudah menggelap. Sakura bisa mendengar sorak- sorai keramaian dilantai dansa sana, begitu bising memekakkan telinganya. Rock Lee si dj bersemangat itu pasti sekarang sudah mengerjakan sihirnya dengan baik menyemarakkan suasana klub malam saat ini. Sakura kemudian meletakkan pesanan pria tadi seraya menyunggingkan senyum manis.

"Vodka, two shoot~"

"Arigatou,"kata pria yang duduk disebelahnya. Sakura mengangguk.

Sakura kembali lagi melayani pelanggan, membantu Ino yang sibuk membuatkan minuman untuk pelanggan lainnya. Sakura yang sedang mengiris lemon, mengernyit ketika aroma manis menguar pada lemon itu. Ia segera mengangkat lemon itu, menciumnya. Manis sekali. Aroma ini begitu familiar, mengingatkannya pada aroma sesuatu. Sakura mengendus- endusnya. Kenapa aromanya begitu manis ya?

"Ne, Forehead! Kau melakukan apa? Kemarikan lemonnya!"

Sakura yang sedang menciumi lemon itu menoleh, lalu memasukkan potongan lemon itu kedalam mangkuk lalu berjalan ke Ino. "Apakah lemon ini ketumpahan sesuatu? Baunya terlalu manis bukan?"

"Hn?"Ino menjadi bingung, malah mengendus mangkuk berisi lemon itu. "Bau lemon kok. Ini kan bau asam, dimana aroma manisnya?"

"Setajam ini masa kau tidak menciumnya?"

Ino memutar bola matanya, kembali dengan pekerjaannya. Sakura menelengkan kepalanya, masih yakin ada sesuatu pada lemon itu.

"Ino-chan,"seseorang memanggil Ino. Sontak Ino menoleh dan wajahnya langsung sumringah.

"Sai-kun!"

Sakura langsung menoleh ketika Ino menyebut nama itu, dan akhirnya matanya bertatapan langsung dengan seseorang lainnya yang berambut raven disebelah Sai. Sakura langsung memalingkan wajahnya tanpa alasan, ketika pipinya langsung merah padam. Kenapa sih?

Sakura mencoba mengabaikan eksitensi pria dingin itu, lalu mendekati seorang pelanggan yang baru saja datang berdiri disebelah Sasuke. "Hai'?"

"Aku mau sesuatu yang alkoholnya tidak begitu tinggi."

"Oh, sebentar."

Sakura sedikit mengernyit ketika mencium lagi aroma manis yang ia dapati saat mengisi gelas dengan es batu didepan perempuan itu. Ia menatap pelanggannya yang cantik dengan rambut pirang itu, namun mustahil kalau gadis ini yang beraroma manis. Ah, ya. Sakura ingat. Ia mencium aroma manis yang tajam ini saat dia di Starbucks menunggu teman- temannya datang. Apakah saat ini sedang ada parfum yang sedang populer dipakai anak perempuan?

"Apakah aku boleh bergabung?"

Sakura melirik gadis cantik itu menatap Sasuke dengan senyuman menggoda. Oh, tentu saja. Jadi gadis itu tertarik pada Sasuke. Sakura meraih botol minuman, menuangkannya pelan- pelan pada gelas yang sudah diisinya es batu.

"Maaf,"kata Sasuke. Ia menatap Sakura ketika berbicara. Sakura berpura- pura tidak menyadari tatapan Sasuke padanya sekarang.

"Aku sudah ada janji,"kata Sasuke lagi.

Entah kenapa Sakura merasa lega ketika nada dingin itu terdengar ditengah hiruk-pikuk keramaian bar. Ia sedikit mengutuk dirinya sendiri, kenapa harus lega?

Ugh, bau manis ini. Pasti parfum ini punya kandungan feromon yang kuat untuk menarik lawan jenis. Sakura menyerahkan minuman pesanan itu pada gadis itu seraya menyunggingkan senyum manis.

"Ah, sayang sekali,"kata gadis itu seraya menerima pesanannya. Ia memajukan tubuhnya menghadap Sasuke dengan bertumpu pada meja bar.

"Mungkin lain kali,"kata Sasuke, matanya masih menatap Sakura yang berusaha sibuk membereskan urusannya di meja bar. Sakura bisa mendengar percakapan mereka dijarak seperti ini meskipun bisingnya musik memekakan telinga sekali.

"Baiklah,"kata gadis itu menepuk bahu Sasuke. Ia kemudian menoleh pada Sakura. "Sumimasen, apakah kau punya pena dan kertas?"

Sakura mengangguk, mengambil pena dan sebuah notes kecil yang terselip dilaci. Ia memberikannya pada gadis cantik berwajah blasteran eropa itu, lalu melirik Sasuke sekilas. Sasuke sedang meneguk minumannya, tidak tertarik untuk bergabung dengan obrolan antara Ino dan Sai saat ini. Sakura berdiri sejenak, merenggangkan jari- jarinya setelah pesanan terakhir itu datang. Klub sudah semakin ramai, orang- orang bahkan sudah mulai mabuk dijam segini.

Gadis itu memberikan secarik kertas berisi nomor teleponnya pada Sasuke. Sasuke menerimanya, lalu gadis itu mengecup sekilas pipi Sasuke dengan membawa gelas minumannya. Sakura mendengus, mengembalikan notes dan pena itu kedalam tempatnya lagi.

Such as playboy.

Sakura membuang mukanya, kembali dengan urusannya sendiri.

"Sasuke-san?"

Sasuke menoleh ketika pria tanpa alis didekatnya memanggil namanya. Sasuke langsung mengenali pria itu, lalu mengangguk pelan. "Sasuke saja, Gaara- san."

"Kalau begitu panggil saja aku Gaara,"kata Gaara seraya mendekatkan dirinya ke Sasuke.

Sakura melirik pergerakan dua orang suram yang mendekati Sasuke dan Sai itu. Sai seketika ikut bergabung dengan mereka bertepatan dengan Ino yang melayani pelanggan. Seketika Sakura menyadari sesuatu. Tentu saja aura mereka sama. Mereka sepertinya berasal dari latar yang sama. Kepolisian.

Kenapa akhir- akhir ini polisi suka sekali bermain ke bar sih? Apakah tugas mengamankan negara sudah selesai!?!!

Inner Sakura langsung berseru demikian, membuatnya frustasi akan hal itu. Tunggu dulu. Kalau dia adalah Gaara, berarti dia adalah kakaknya Temari kan?

"Ino-pig,"sikut Sakura membelakangi mereka semua. "Kurasa yang baru bergabung itu kakaknya Temari?"

"Yang mana? Rambut merah?"

"Benar. Tapi mereka sepertinya tidak mirip kalau dibilang saudara."

"Bukan urusanku,"kata Ino seraya mengangkat bahu. "Kita bisa tanyakan langsung padanya kan?"

Sakura belum lagi mencerna kalimat Ino barusan, namun Ino sudah mengantarkan minuman baru pada Sai seraya menatap Gaara dan tersenyum. "Halo! Aku Ino, kekasih Sai."

Sakura mendengus mendengar Ino yang memperkenalkan diri demikian. Terdengar agak cheesy sekali rasanya. Pasti akan menjadi canggung, bukan?

"Dan ini, Sakura,"tiba- tiba saja Ino menarik Sakura kedepan. Sakura kehilangan keseimbangan, nyaris jatuh ketika tarikan refleks itu. "Duh, maaf, Saku-chan. Hehehe."

"Aku Gaara. Dari Sunagakure. Senang bertemu denganmu."

Setidaknya Gaara masih punya etika dibandingkan pria dingin disebelahnya itu. Sakura membungkukkan badannya, memperkenalkan diribya sendiri. Ino kemudian memajukan badannya, menatap Gaara bersahabat. "Sunagakure? Apakah kau kakaknya Temari?"

Dua pria asing itu tersentak. "Dari mana kau bisa tahu?"

"Kami berdua adalah kakaknya,"kata Gaara akhirnya. Gaara kemudian menoleh pada pria yabg ada disebelahnya. "Ini saudaraku, Kankurou."

"Salam kenal,"kata Kankurou.

"Temari teman dekat kami sejak SMP,"kata Ino seraya mengibaskan rambut pirangnya, memancarkan pesona femininnya itu. Ia mengerjapkan mata seraya mengulas senyuman. "Aku tak tahu kalau kakaknya punya ketampanan yang luar biasa."

Sai berdeham, membuat Sakura dan Kankurou tertawa. Ino hanya nyengir, lalu mendekati Sai. "Aku hanya milikmu kok, walaupun aku suka cowok tampan."

"Ugh,"dengus Sakura sarkatis. Tepat saat ia mendengus geli, Sasuke menyunggingkan senyum miring pada Sakura. Sakura lagi- lagi melakukan hal yang sama, mengabaikannya. Dasar aneh. Kenapa tersenyum?

Oh, ya soal bau.

Aroma wangi itu belum pergi sama sekali. Siapa sih? Sakura mengendus- endus secara sembunyi, menajamkan penciumannya mencari asal aroma manis yang tajam ini. Baunya sedikit mengganggu, terlalu manis dan membuat Sakura sedikit tidak bisa berkonsentrasi akan perbincangan diantara mereka. Apakah jangan- jangan Gaara dan Kankurou memakai parfum jenis ini juga dari Sunagakure? Sakura menatap Gaara yang mendengarkan celotehan Ino, menatap pria bercelak tebal tanpa alis itu.

Aneh. Pria ini anehnya tampan meskipun tidak ada alis. Apakah Gaara rajin mencukur alisnya?

Gaara yang merasa diperhatikan, melirik Sakura. Sakura tersentak, lalu Gaara menyunggingkan senyum kecil. Sakura membalas senyumnya lalu menoleh ketika seorang pelanggan datang memesan minuman. Pelanggan itu terlihat kacau, dengan pakaian yang sudah berantakan. Sakura mendekatinya, membuatkan pesanan minumannya lalu memberikannya pada pelanggan.

"Hei,"kata pelanggan itu tiba- tiba. Ia menatap Sakura dengan mata sayu karena pengaruh alkohol. "Maukah kau menemaniku minum?"

Sakura memberikan senyum yang menandakan penolakan. "Saya akan memanggil salah satu wanita penghibur, sebentar ya."

"Tidak,"kata pelanggan itu menggeleng. "Aku hanya ingin ngobrol denganmu."

Ah, sialan. Pria ini sudah kehilangan kewarasannya. Sakura akhirnya menegakkan tubuhnya, mengangguk ramah. "Silahkan."

"Hah..."Pria itu meneguk minumannya, lalu mendesah pelan. "Sepertinya hari ini aku sial sekali. Aku tiba- tiba saja dipecat dari kantor karena aku difitnah oleh perempuan jalang itu. Perempuan itu! Ah, bedebah sekali. Seenaknya saja dia menjebakku, padahal jelas- jelas dia sendiri yang mau!"

Sakura merasa sedikit tidak nyaman mendengar omelan pribadinya. Apalagi dari seluruh keluhannya, Sakura bisa menarik kesimpulan bahwa pria ini hanya ingin membela dirinya sendiri atas kesalahan yang diperbuat. Sakura akhirnya hanya mendengarkan dengan ekspresi pura- pura tertarik, membiarkan pria itu meracau dibawah pengaruh alkohol. Sakura mengangguk- angguk saja selama mendengarkan ucapan pria itu, seraya melayangkan pikirannya kemana- mana.

Ia tiba- tiba ingat hari ini ia belum bertemu ibunya. Ia belum menjenguknya, karena hari ini ia harus kaget dengan macam- macam hal. Mulai dari ia yang sudah tidur dikamar Sasuke, ah lewatkan saja apa yang terjadi, Sakura sudah malu mengingatnya. Sakura mengernyit ketika aroma wangi itu tercium lagi, membuat tenggorokannya sedikit tidak nyaman. Sepertinya ia akan mabuk karena bau manis itu.

Sakura tanpa sadar memeluk dirinya sendiri, merasa kedinginan karena pakaiannya yang mengekspos banyak kulit itu. Sakura menghela napas, menyesal karena tidak membawa jaket sama sekali. Harusnya ia mampir saja kerumah membawa jaket untuk jaga- jaga kalau ia mulai kedinginan malam seperti ini.

"—Jadi bagaimana menurutmu? Bukankah harusnya perempuan itu mati saja?"

Sakura tersentak. "Eh?"

Pria itu menelengkan kepalanya. Matanya merah, bibirnya yang basah itu membentuk garis lurus. Ia menatap lurus Sakura, kekesalan mulai terpancar diwajahnya. "Kau tidak mendengarkanku."

"Maaf. Bukan begitu maksudku—"

"Kau tidak menghargaiku!"

"Maafkan saya. Saya mendengarnya kok, Anda jangan—"

"KAU MEREMEHKANKU SEPERTI PEREMPUAN JALANG ITU!"

Prang!

Sakura kaget ketika pria itu melemparkan gelasnya kearah Sakura. Ino yang mendengar teriakan langsung mendorong Sakura, melindunginya dari sasaran lemparan itu. Sakura dan Ino jatuh terduduk, akibat gerakan refleks Ino barusan. Pria itu bangkit berdiri, menggeram, memamerkan giginya. Ia menuding- nuding Sakura.

"Kau harus kubunuh juga!"

Pria itu tiba- tiba saja sudah meloncat naik keatas meja bar, mengagetkan orang- orang disekitarnya. Pekikan terdengar, lalu barang- barang yang jatuh juga ikut membahana ditengah hiruk pikuk bar itu. Ino langsung bangkit berdiri, meraih nampan didekat sana dan menodongkannya pada pria itu. "Keluar dari sini sebelum kulaporkan penjaga!"

"Ino!"Seru Sakura.

"Kau juga harus kubunuh!!!!"

"AAAAARKH!"

Tiba- tiba saja Ino sudah terguling dengan pria itu menindihnya membabi buta menjambak rambut pirang Ino. Sakura memekik, berusaha memisahkan mereka berdua. "Jangan!"

Sasuke langsung bangkit berdiri, meloncat melewati meja bar seraya turun kedalam dengan berguling luwes. Ia segera meninju pipi pria yang membabi-buta berusaha mendekatkan wajahnya ke Ino yang meronta- ronta itu, membuat Sakura terperanjat kaget ketika pria itu terlempar dari atas Ino. Mata Sasuke menggelap, menarik kerah pria itu lalu ia meninjunya lagi dan lagi.

"AAASRRRRGGHH!"

Bagh! Buak! Bug!

"Cukup! Sasuke!"Seru Sakura seraya memeluk tangan kiri Sasuke yang berusaha melayangkan tinjunya. Sasuke menatap Sakura dingin, membalas pandangan Sakura yang memerintahkan untuk

berhenti.

"Lepaskan,"kata Sasuke dengan suara rendah.

Sakura menggeleng. "Hentikan. Usir saja pria ini keluar. Jangan membuat keributan disini."

Sasuke melirik sekitarnya yang sudah mulai ramai dengan pelanggan- pelanggan yang ingin tahu kerusuhan macam apa yang terjadi. Sasuke melepaskan cengkeramannya, mendorong pria itu. Ino memegang tangannya yang memerah karena dicengkeram kuat- kuat tadi oleh pria aneh itu. Sakura mengangguk. Ia menoleh pada pria yang mendesis aneh dengan air liurnya yang menetes.

"Keluarlah dari sini. Anda sudah mengganggu kenyamanan pelanggan."

"Grrrrhhh...Kubunuh."

"Tuan."

"Halo! Tolong kerahkan penjaga kemari untuk membawa pria paruh baya yang membuat keributan disini!"Seru Ino dengan telepon menempel di telinganya.

Sasuke meraba pinggangnya untuk meraih pistol, namun Sakura memegang lengannya lagi. Sakura menggeleng. Sasuke tidak bergeming akhirnya, menatap waspada pria yang sudah menggeram memamerkan giginya itu.

"Tolong, Anda keluarlah,"seru Sakura lagi. "Penjaga akan segera kemari."

"Krrrkkhhh!"

Sasuke menatap pria itu dengan pandangan tajamnya, membuat pria itu gentar. Pria itu masih mendesis seram, memamerkan gigi- giginya memberikan ancaman sekaligus perlindungan untuk dirinya sendiri.

"Disana!"

Sakura menoleh, mendesah lega saat penjaga datang ketika Ino berseru demikian. Baru saja ia hendak mendekati meja bar meminta tolong, tiba- tiba saja ia sudah melayang dan terperangah ia sudah berada diatas bahu seseorang. Sakura menegakkan badannya, membelalak ketika sadar yang membawanya adalah pria mengerikan tadi.

"Sakura!"Ino memekik.

Gaara langsung berlari mengejar, namun sayangnya pria itu berlari tak beraturan menaiki meja- meja yang ada, membuat pelanggan menjerit panik dan kaget. Sial. Ia tidak bisa mengeluarkan pistolnya sembarangan ditempat publik seperti ini. Resikonya terlalu besar untuk menembaki pria itu. Salah- salah bisa jadi peluru nyasar dan membuat korban tak bersalah.

Sakura meronta- ronta, berusaha melepaskan diri dari tekanan pria itu pada tubuhnya namun ia gagal untuk melepaskan diri. Sakura memekik keras ketika kuku- kuku tajam itu menancap dipahanya yang terekspos itu. Sakura langsung menggoyangkan kakinya, namun kuku- kuku itu semakin dalan mengoyak dagingnya.

"Jangan bergerak, Jalang!"

Pria itu terus berlarian kesana kemari, mengelakkan diri dari kejaran- kejaran kepolisian. Penjaga- penjaga yang bertubuh kekar itu mengincar, memencar untuk menangkapnya dari segala penjuru. Gelas- gelas kaki berjatuhan, botol-botol minuman menggelinding, meja terguling setiap kali ia berlari mengelakkan diri.

Itu dia. Pria itu menyeringai ketika melihat pintu bar yang tidak dihalangi apapun. Ia langsung mendorong pintu itu, membuat pintu itu lepas langsung dari engselnya itu, kacanya jatuh berkeping-keping ditanah. Kepala Sakura pusing, ketika hantaman keras mengenai kepalanya dari belakang. Harusnya ia jangan menegakkan tubuh, karenanya ia harus menghantam kaca pintu keluar itu. Dengingan mulai memekakkan telinga Sakura, pandangannya bergoyang seiring perasaan mual menggerogotinya.

Pria itu berlari dengan kencang, membuat pandangan Sakura semakin kabur tak tahu kemana mereka akan pergi. Pria itu kemudian meloncat, menaiki satu pohon lalu ke pohon lainnya yang ada disepanjang trotoar jalanan. Ia tak mempedulikan tubuh Sakura yang tergores karena bergesekan dengan kulit atau ranting pohon.

Pria itu menaiki tembok pembatas, lalu berlari dengan cepat hingga tiba disebuah sudut gang yang gelap dan buntu. Aroma sampah begitu busuk, memancing diri untuk memuntahkan seluruh isi lambung. Pria itu langsung turun, mereka terguling masuk kedalam bak sampah besar yang berada digang itu. Sakura memejamkan matanya, kesadarannya mulai hilang saat tubuhnya menghantam pinggiran bak sampah besar itu. Pria itu menyeringai, lalu bangkit dan menggendong Sakura lagi dan bersembunyi disudut tergelap gang itu.

Pria itu mendekatkan lidahnya ke leher Sakura, meneteskan air liurnya kesana. Ia mencium leher Sakura, menjilatnya. Sebentar lagi. Ia langsung membuka mulutnya.

"Oi!"

Pria itu menghentikan aksinya, menoleh pada sesosok bayangan yang berjalan mendekatinya. Pria itu mendesis, memamerkan taringnya. Sesosok bayangan itu memakai jubah hitam dengan motif awan merah disana, berjalan mendekat hingga akhirnya bayangan itu diterpa cahaya bulan dan terlihatlah rambut merahnya. Sasori. Ia melangkah pelan, tidak melepaskan pandangannya pada pria itu.

"Buruanmu sepertinya menarik sekali."

"Siapa kau?"

"Tak penting aku siapa. Tapi yang pasti kita sebangsa."Sasori mengangkat alisnya seraya tersenyum miring khasnya. "Aku punya penawaran menarik untukmu."

"Apa?"

"Aku akan memberikanmu dua manusia yang sedang pingsan saat ini secara cuma- cuma."

Pria itu tersentak, mendesis. "Kau bohong. Jangan ganggu kegiatanku. Minggirlah."

"Deidara."

Seorang pria berambut kuning terikat tiba- tiba muncul, menenteng dua perempuan disisi tubuhnya terkulai lemah. Deidara menjatuhkan kedua perempuan itu ketanah, dengan bunyi debum yang cukup keras.

"Sebagai gantinya, berikan gadis itu padaku."

Pria itu menyeringai. Ia bangkit berdiri, hendak melemparkan Sakura. Sasori mengangkat dua jarinya, membuat dua sosok perempuan itu berdiri dengan kepala terkulai. Ia tersenyum, lalu menegangkan jari- jarinya itu. Kedua perempuan itupun melayang cepat dan langsung menghantam tubuh pria paruh baya itu. Bruk. Sasori kemudian menegakkan telunjuk kirinya, membuat Sakura yang sekarang berdiri dengan kepala terkulai.

DOR!

"UAAARRRGGGHHHH!"

Tiba- tiba saja peluru sudah menembus kulit kaki pria paruh baya itu. Pria itu menajamkan pendengarannya, mencari asal suara tembakan. Dan disanalah ia. Sasuke yang berada diatas tembok beton tempatnya tadi mengambil ancang- ancang loncat ke bak sampah raksasa itu. Sasuke mengarahkan pistolnya ke dada pria itu.

Dor!

"AAAAAAAAAAAKHHHH!"

Pria itu langsung kejang- kejang, matanya menghitam dan bibirnya dipenuhi genangan darah berwarna hitam pekat. Suara degukan menjijikan terdengar, seiring pria itu melolong seram memegangi dadanya dimana peluru bersarang tepat dijantungnya.

"Senang bertemu lagi, Uchiha."

Sasuke mengarahkan pistolnya pada Deidara yang terkekeh disebelah Sasori. "Kukira tembakan dikepalamu semalam cukup membuatmu kapok."

"Heh! Kau pikir aku semudah itu dimatikan? Akan kutunjukan cara mati yang benar dengan belajar dari kematianmu nanti!"

"Baiklah,"klik."Kalau begitu, akan kupastikan peluru ini bersarang dijantungmu seperti temanmu tadi."

Dor! Dor! Dor!

Sasuke mengelak, jubahnya terayun- ayun seiring gerakannya menghindari beruntunnya tembakan- tembakan dari pistol Sasori. Sial. Sasuke sedikit lengah akan keberadaan Sasori yang tertutup bayangan malam. Sudah pasti begitu, selama ada Deidara mulut besar didepannya pastilah Sasori akan bermain dibalik layar seperti pengecut. Ia melompat turun, mendarat dengan sukses diatas bak raksasa itu, lalu tiarap ketika peluru berikutnya diarahkan padanya.

Dor! Dor!

Sasuke tak mengindahkan bau busuk bak sampah itu. Ia tiarap beberapa detik, ketika jeda itulah ia langsung mengacungkan pistolnya dan menembak kaki Deidara. Deidara memekik mundur, menggerutu. Sepertinya kali ini Deidara menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Sasuke kembali tiarap. Suara- suara tembakan kembali terdengar, membuat kesabaran Sasuke semakin tipis. Ia nekad tegak, menembak dengan mengandalkan mata tajamnya menembus kegelapan memastikan setidaknya peluru itu bersarang ditubuh Sasori. Bruk. Sakura yang tadinya masih berdiri lemah karena kendali Sasori, langsung terjatuh keatas tanah tak berdaya.

Beberapa menit setelah tembak- tembakan dan amunisi yang habis, Sasuke keluar dari bak itu dengan noda-noda sampah dijubahnya. Deidara langsung mengernyit jijik, menutup hidungnya sendiri. "Sialan, bau manismu bahkan tersamarkan karena bau sampah ini!"

Sasuke berlari menyongsong Deidara seraya mengeluarkan dua pisau dari dalam kantong senjatanya. Sasuke memutarnya ditangannya, lalu berkelit mengecoh pandangan lawan kemudian lemparan pisau itu mendarat tepat di tangan Deidara yang menekuk memegang hidungnya. "AW!"

Deidara mulai panik, mengutarakan sumpah serapah. Ia mati- matian melepaskan pisau yang menancap ditangannya itu, memekik kesakitan ketika darah hitam berbau tajam itu menetes dengan derasnya.

"Jangan dicabut, Deidara. Pendarahannya akan berbahaya."

Srek! Tap! Buag!

"Sasori!"

Sasori menyunggingkan senyumnya ketika dirinya sudah terdesak didinding beton, dengan tangan Sasuke menahan lehernya untuk tidak bergerak. Onyx gelap itu menatap Sasori tajam, mengintimidasi. Sasuke kemudian mengarahkan pisau itu tepat didepan mata Sasori. "Kanan atau kiri?"

"Bagaimana kalau kau yang pilihkan?"

Tiba- tiba saja tangan Sasuke berubah arah, mengacungkan pisaunya pada dirinya sendiri. Sasori menelengkan kepalanya, tidak melepaskan pandangannya dari Sasuke. Ia masih tersenyum miring, begitu mengerikan. Sasuke mati- matian menahan tangan lainnya yang menahan leher Sasori untuk tidak menuruti kehendak tak kasatmata atas dirinya itu.

Sial.

"Apakah kau tahu bahwa terkadang kita juga harus waspada dengan senjata kita sendiri?"

Sasuke mengeraskan rahangnya, menahan gejolak kebencian pada pria vampir berambut merah ini. Ia mati- matian menahan pisaunya yang sudah mengarah ke dahinya sendiri. Sialan. Sasuke langsung menggerakkan kakinya, berkelit dari tangannya sendiri dan menendang dada Sasori. Sasori terbatuk- batuk, terduduk memegangi dadanya.

Sasuke kemudian memasukkan pisaunya kedalam jubahnya. Ia mengeluarkan pistolnya, lalu menyiapkannya dan mengarahkan moncong berbau mesiu itu tepat ke dada Sasori. Sasori menyeringai.

"Senjataku tak pernah jadi lawan,"kata Sasuke dingin. "Sebab vampir adalah musuhku satu- satunya."

Dor!

Duar!

Bruak!

Sasuke terlempar ketika ledakan itu terjadi begitu saja. Ia terpelanting, dengan pistol yang masih aktif terlontar begitu saja dari tangannya. Ia mengerjapkan matanya, langsung menajamkan pandangan mencari duo vampir itu. Pastilah ini ulah dari Deidara. Vampir yang suka membuat ledakan itulah yang membuat ledakan ini. Sasuke mengernyit, bangkit berdiri diantara debu- debu tanah yang berterbangan melingkupi sekelilingnya. Sasuke langsung berjalan cepat, mencari seseorang.

Tepat saat Sasuke menginjak pistolnya sendiri, duo siluet terlihat berlari meloncati beton itu. Sasuke langsung mendecih, meraih pistolnya dan menembakkannya dengan presisi yang sudah terlatih.

Dor!

Dor!

Namun dua siluet itu sudah semakin jauh meninggalkannya, membuat kemungkinan peluru itu bisa menembus mereka semakin kecil juga. Sasuke akhirnya memasukkan pistolnya kedalam sarungnya, lalu beralih ke beberapa orang yang terbaring tak sadarkan diri. Sasuke mendekati dua perempuan yang tak dikenal, meraba denyut nadi lehernya. Untunglah. Ledakan tadi bukanlah ledakan yang murni menghancurkan, hanya untuk mengalihkan saja sehingga tidak melukai dua wanita tak berdosa itu.

"Sasuke!"

Sasuke menoleh. Gaara berlari kearahnya diikuti oleh Sai dan Kankurou dibelakangnya. Gaara langsung mendekati dua gadis itu, hendak memastikan apakah nyawanya masih ada. "Darah mereka masih mengalir."

Gaara mengangguk paham, lalu bangkit berdiri lagi memandangi keadaan. "Hanya Deidara yang bisa membuat ledakan seperti ini."

"Sialan, pekerjaan kita akan bertambah banyak disini,"gerutu Kankurou.

Sasuke menggertakkan giginya seraya berjalan meninggalkan mereka ketika mengetahui sesuatu. Gaara memandang sekeliling, lalu bertanya, "Sakura ada dimana?"

Sasuke tidak menjawab. Ia terus berjalan, membiarkan rekan- rekannya itu yang membereskan tempat kejadian seraya berpikir. Tak akan ada ampun, untuk vampir manapun. Juga tak akan ada ampun, bagi mereka yang mengganggu atau menyabotase buruannya.

Sasuke mengepalkan tangannya.

Tunggu aku, Sakura.


.

.

.

.

To be Continued