SCARS
Summary: Sebatang kara, tanpa keluarga. Kehidupan yang sulit dan cinta yang harus terpisah paksa darinya. Kebaikan yang selalu buatnya sengsara. Pria itu sangat ia takuti dan benci. Membuatnya menangis, sakit. Hidup yang penuh luka dan derita. Akankah ia masih bisa bahagia?
Disclaimer: Naruto just Masashi Kisimoto punya
Rated: M
Chap 8
Happy reading ^^
...
Malam hari setelah mendapat panggilan telpon dari Kaa-channya, sore itu Naruto sudah berkemas seperlunya untuk memindahkan barang ke kediaman Namikaze. Kedatangannya disambut hangat oleh kedua orang tua yang telah beberapa waktu ditinggalkannya demi sebuah 'kebebasan' yang menurutnya lebih bisa membuatnya hidup. Naruto adalah pribadi yang sederhana. Ia suka dengan hal-hal sederhana seperti orang biasa, memiliki kehidupan sendiri, tidak terlalu memikirkan hal besar yang membuatnya sakit karena berpikir, dan hidup tenang meski kenyataannya ia memiliki gaya hidup yang 'berantakan'. Yeah... bukan rahasia jika ia jarang mengurus diri, tempat pribadinya pun dipenuhi gelas ramen instan, dan hunian yang begitu berantakan bak kapal pecah. Inilah salah satu hal yang ayahnya kurang setuju jika putranya itu memilih hidup sendiri. Tapi apalah daya, istrinya yang meski galak namun sangat sayang anak itu setuju-setuju saja kalau Naruto memilih kehidupannya sendiri.
Dan disinilah Naruto sekarang. Tengah menikmati nabe pedas andalan ibunya yang sangat cocok disantap saat musim hujan menggigit seperti saat ini. Mendengarkan ibunya yang berceloteh ria, ayahnya yang kadang menanggapi dengan kalem, dan dirinya sendiri juga sama berisiknya dengan ibunya. Hingga tiba-tiba tanpa sengaja Naruto mengeluarkan celetukan yang sedikit mengubah suasana.
"Ne, Kaa-chan, Tou-chan, masalah perusahaan, apakah sekarang benar-benar waktu yang tepat?"
Dapat Naruto rasakan suasana terdiam membuatnya merasa aneh dan hati-hati.
"Maksudku... aku kan belum pernah menangani perusahaan yang melibatkan hal-hal besar. Jadi..."
"Naruto..."
Minato angkat bicara.
"... "
"Kami tahu kau lebih senang hidup biasa saja di luar sana. Tapi nak, kau juga harus tahu bahwa kau adalah satu-satunya penerus perusahaan Tou-san. Akan tiba saatnya bahwa kau juga akan meneruskan rintisan usaha dari kakek-nenek buyutmu ini,"
"Aku tau itu, Tou-chan. Tapi... sungguh aku merasa belum siap. Tou-chan sendiri tahu kan aku ini bisa dibilang err... sedikit bodoh? Ahehehe..."
Cengiran Naruto diakhir mendapat jitakan Kushina di ubun-ubunnya.
"Maka dari itu kami ingin kau memulainya mulai sekarang anak nakal!"
"Kaa-chan ittai na..."
Sambil mengusap-usap kepalanya Naruto kembali menyuapkan nabe ke mulutnya.
"Ne, sebelum itu aku ingin berpamitan dulu pada Kusakabe dan Taichou tempatku bekerja dulu. Mungkin juga sambil beres-beres flat dan setelah itu..."
Naruto berhenti sejenak karena teringat sesuatu.
"Ahh... benar juga..."
"Hmm? Memangnya ada apa lagi?"
"Tou-chan, Kaa-chan, beri aku waktu tiga hari lagi apa bisa? Aku benar-benar janji setelah itu aku akan fokus ke perusahaan dan tidak akan bersantai sebelum harapan Tou-chan dan Kaa-chan terkabulkan!" kata Naruto bersungguh-sungguh seolah ada bara api di matanya.
"Memangnya ada apa Naruto?"
"Aa... itu, aku masih ada janji dengan... seseorang?"
Sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal Naruto memalingkan sedikit wajahnya.
"Kenapa lama sekali? Laksanakan besok saja apa tidak bisa?"
Jawaban sewot ibunya membuat Naruto mencebik lucu.
"Kaa-chan..."
"Dua hari. Tidak lebih. Sehari bisa kau gunakan untuk beres-beres, lalu hari selanjutnya mungkin bisa untuk menepati janjimu itu."
Minato segera bersabda sebelum terjadi perbebatan yang tidak perlu antara istri dan puteranya itu. Meski kalem dan terkesan takut istri, tapi jika ia sudah bertitah, tentu tidak akan ada yang bisa membantah. Yeah... begitu-begitu dia kan juga tetap kepala keluarga.
"Baiklah, baiklah... awas saja kalau sabtu besok kau masih belum di rumah ya,"
"Hehe... siap Kaa-chan!"
Naruto mencium pipi ibunya sebelum beranjak dari ruang makan dan menuju ke kamarnya.
"Arigatou Tou-chan!"
Derap langkah riangnya yang kembali menggema di mansion Namikaze ini melunturkan sedikit kecemberutan Kushina karena perdebatan kecil tadi dan tergantikan oleh senyum hangat yang kini menghiasi bibirnya.
"Akhirnya rumah in iterasa hidup lagi..."
"Hn... aku harap Uchiha tidak terlalu cepat bergerak. Atau setidaknya tidak membebankan banyak kesulitan pada kita,"
"Aku sebenarnya sudah tidak peduli Anata... asalkan aku bisa hidup sederhana dengan kau dan Naruto, itu sudah cukup. Aku sudah lelah dengan semua ini," Kushinamenghelanafas.
"Kushina, jangan seperti itu. Setidaknya kita harus berjuang, menghormati jerih payah leluhur kita dalam membangun usaha hingga sampai seperti sekarang,"
"..."
Minato meraih tangan istrinya, "Walau pun sebenarnya aku juga tidak keberatan dengan usulanmu tadi," satu kerlingan nakal ia lontarkan.
"Kalau kita sudah tidak terlalu sibuk, mungkin kita bisa memberikan Naruto seorang adik,"
Awalnya luluh, tapi setelah kalimat terakhir suaminya itu Kushina menjitak kepala suaminya secara cuma-Cuma, "Ingat umur pak tua. Meski sudah tidak sibuk apa kau sanggup mengurus anak kecil di usiamu ini hm?" cibir Kushina.
Minato hanya tertawa renyah yang diikuti oleh istrinya.
.
.
.
Naruto memasuki kamar yang telah beberapa waktu ditinggalkannya. Tidak seperti kamarnya di flat yang kurang terawat, disini kamarnya terlihat sangat rapi dan bersih. Well, tinggal menunggu beberapa waktu hingga ruangan itu kembali terlihat berantakan nantinya.
Pemuda tan itu membanting dirinya ke kasur dan meraih ponsel pintarnya. Mengetikkan sebuah sebuah kontak nama lalu mengiriminya pesan.
To: Hinata-chan
Konbanwa Hinata-chan... Ne, mengenai sebelumnya gomenne. Besok atau lusa, mungkin kita bisa bertemu jika Hina-chan sedang kosong. Ada suatu hal tiba-tiba yang membuatku sangat sibuk mulai sekarang. Kalau Hina-chan bisa, kabari saja waktunya. Dua hari itu aku benar-benar kosong hehe...
Klik!
Pesan terkirim. Tanpa disadari Naruto menyunggingkan senyum saat mengetik pesan tadi sambil mengingat Hinata. Jantungya berdebar dan memunculkan suatu perasaan bahagia yang membuncah. Dirinya sudah tak sabar menemui pujaan hatinya. Sosok yang ia jatuh hati dan baru disadarinya saat ia telah pergi. Dan perasaan itu semakin berbunga tatkala pertemuannya kembali setelah sekian lama. Naruto menanti. Tak sabar untuk bertemu kembali.
Drrtt
From:Hinata-chan
Konbanwa senpai...iee, daijobu...
Mungkin Naruto-senpai sedang banyak urusan,justru aku yang harus meminta maaf telah merepotkan. Gomenne...
Dan untuk waktu, mungkin besok bisa. Jika Naruto-senpai tidak keberatan, jam 3 sore kita bertemu di kafe yang sama
Naruto terduduk sambil mengetik pesan balasan
"Tentu saja aku tidak keberatan-dattebayo!"
To: Hinata-chan
Oke! Besok jam 3 sore yaaa :D
Senyum pemuda itu semakin lebar hingga menampilkan deretan gigi putihnya.
.
.
.
Ctass!
Ctass!
"Arrghh!"
Ctass!
Aroma tembakau dan anyir darah memenuhi ruangan sempit yang pengap dan minim cahaya. Di salah satu sisi ruangan terlihat seorang pria kurus dengan banyak luka cambukan di sekujur tubuhnya. Pakainnya terkoyak dan keadaan pria itu sungguh menyedihkan. Hanya keluar erangan sakit dari mulutnya yang membuat sosok pria di sisi lain ruangan itu semakin keras menghisap tembakau mahalnya.
Tak sabar, membuat pria itu membuang asal tembakaunya dan menghampiri pria menyedihkan disana. Suigetsu menoleh dan menghentikan cambukannya.
"Kau masih mau bungkam, eh?"
Pria itu hanya memalingkan mukanya ke samping, melirik Sasuke. Posisinya yang membelakangi pria Uchiha itu membuatnya tak bisa terlalu jelas memperhatikan ekspresinya. Tangannya yang terikat di sisi kanan dan kiri sedikit bergerak. Dengan sedikit gemetar karena kondisi tubuhnya, ia mengacungkan jari tengahnya untuk Sasuke.
"Sialan!"
Ctass! Ctass! Ctass!
"Aargghh!"
Suigetsu merasa geramsendiri dengan kelakuan Hidan. Ia mencambuk secara brutal pria 'malang' yang telah banyak menyusahkannya selama ini.
Ya, pria kurang ajar itu adalah antek-antek Orochimaru yang membuatnya kesulitan untuk menyelidiki Orochimaru selama ini. Suigetsu adalah mata-mata handal meski tingkahnya kekanakan dan terkesan tidak bisa diandalkan. Meski begitu, ia punya harga diri tinggi jika berhubungan dengan pekerjaannya. Melihat bagaimana pria licin seperti Hidan yang selama ini berhasil menjatuhkan harga dirinya akhirnya dapat tertangkap, tentu saja dimanfaatkan oleh Suigetsu untuk menghajarnya habis-habisan.
Ctass!
"Hrrrngmhh..."
Kesal dan lelah, Suigetsu melempar cambuknya ke kepala Hidan.
"Kita apakan sampah busuk ini, Sasuke?"
Pria keturunan terakhir Uchiha itu menghela nafas kasar sebelum berbalik dan beranjak pergi.
"Dia milikmu sekarang. Tapi jangan pernah biarkan dia keluar."
"H..hhoi... bunuh s...ssaja aku hngh... brengsek... ngh..."
Suara serak Hidan menghentikan langkah kakinya.
"Tidak. Setidaknya kau harus menghibur Suigetsu lebih lama lagi,"
Sasuke meninggalkan ruangan interogasi Hidan. Suara langkah kaki jenjangnya menggema di sepanjang koridor gelap itu. Di sisi kanan dan kirinya banyak terdapat lorong serupa dengan ruangan rahasia yang hanya ia dan beberapa orang kepercayaannya yang tahu. Meski sedikit penjaga, tapi kerahasiaan dan keamanannya sangat ketat. Sasuke memang tak mau repot merekrut banyak orang yang jika ujungnya terdapat pengkhianat di antara mereka. Cukup dengan kelengahan keluarganya dulu yang begitu berjaya dan sangar dalam hal apapun, termasuk merekrut banyak penjaga di rumah utama. Tapi kedok yang dikira bisa memberikan keamanan ekstra itu malah berujung membawa petaka.
Hanya satu orang. Satu orang bajingan pengkhianat yang nyatanya bisa membinasakan hampir seluruh klannya. Dan Sasuke yang telah berubah menjadi sosok dingin nan bengis itu sadar, menata kembali dan membangun nama Uchiha perlu dilakukan dengan ekstra hati-hati. Ia lebih mengandalkan teknologi dibanding manusia jika tak terlalu mendesak, terutama masalah keamanan. Orang rekrutannya pun kebanyakan tak ia tempatkan di mansionnya.
Uchiha yang baru, harus mencapai puncak bagaimana pun caranya. Dan akan ia buktikan pada semua manusia di dunia, bahwa marganya belum punah, dan akan mencapai tropi puncak dalam piramida bisnis pengusaha. Walau nyatanya saat ini Uchiha sudah mencapai titik dimana ia disegani oleh semua pebisnis dan khalayak luas. Tak perlu pencapaian apa-apa lagi jika yang diinginkan Sasuke adalah hal tadi. Sebenarnya itu sudah cukup. Tapi pria yang sudah terlanjur dibutakan oleh dendam dan jurang ambisi tak berujung itu masih belum puas dengan pencapaiannya.
Sasuke menyulut tembakau lagi saat sudah keluar di ujung lorong bawah tanah. Mengunci kembali pintu titanium itu dengan kode lalu berjalan kembali melewati beberapa semak bunga dan pohon palem. Menemukan jalan setapak, ia mengikuti alur hingga keluar dari rumah kaca besar di wilayah mansion utamanya.
Setiap langkah yang ia ambil di sekitar mansionnya selalu membawa gambaran buruk yang menyertainya. Di setiap sisi, di setiap sudut, ia masih ingat bekas yang terjadi dan hal apa yang menimpa sebelum bekas itu ada. Seperti pot besar disana misalnya, ia melihat tubuh pamannya yang tergeletak bersimbah darah. Lalu di sisi timurnya, tubuh sepupunya hancur karena ledakan.
Setiap nafas, terasa sesak dan sulit untuk menenangkan jika ia sedang di istananya sendiri. Kenangan pahit itu tak bisa hilang begitu saja. Begitu membekas, dan seolah menancapkan tombak sakit yang menimbulkan perasaan dendam yang tak akan pernah bisa terbalaskan. Seluruh klannya hancur, di hunian pemimpin keluarga mereka sendiri. Begitu tragis dan menyedihkan. Manusia awam yang singgah di mansion Uchiha tak akan tahu, kepedihan tragedi apa yang pernah menimpa hunian megah itu.
Meski pun begitu banyak memori kelam yang tersimpan, Sasuke tak mau meninggalkan atau tinggal selain di mansion itu. Tempat itu adalah istananya. Wilayahnya. Rumahnya. Tempat dimana ia pernah memiliki keluarga. Walau sekeras apapun ia mencoba membereskan dan merombak tempat itu seperti semula dengan seindah dan sebersih mungkin, masih tetap terasa rasa sakit yang amat di hatinya dalam setiap langkahnya di mansion itu.
Ia berhenti di tengah perjalanannya tiba-tiba. Memegang luka di dada atasnya yang masih dalam masa pemulihan. Nyeri itu datang saat ia sampai di taman cantik dimana ia dulu melihat bagaimana ibunya diseret paksa oleh bajingan-bajingan itu.
Memejamkan matanya dan mengernyit keras, Sasuke mengatur napasnya sebisa mungkin. Inilah alasannya ia jarang sekali mondar-mandir di rumahnya sendiri. Ia benci merasakan lagi perih di hati. Ia tersiksa di rumahnya sendiri. Ia harus ke tempat Karin sekarang.
.
.
.
Naruto memasuki kafe dengan langkah ringan. Memposisikan dirinya di kursi dekat jendela agar bisa melihat suasana di luar. Tak seberapa lama, seorang gadis terlihat tergopoh-gopoh menghampiri mejanya. Sambil sedikit berojigi, gadis itu menyeka keringat di dagunya dan menyapa Naruto.
"Se-senpai, gomenne... tadi kelasku berakhir sedikit lebih lama,"
"Hinata, duduklah dulu. Aku juga baru sampai. Kau pasti sangat lelah," Naruto meraih tangan Hinata agar duduk dan memanggil seorang pelayan untuk memesan minuman dan beberapa camilan.
"Hari ini aku yang traktir!" Sambil menyunggingkan senyum tiga jari.
Hinata dengan malu-malu mengiyakan saja tawaran Naruto. Sambil menunggu, Naruto ingin tahu hal apa yang membuat Hinata ingin bertemu dengannya.
"Jadi, Hinata-chan mengajakku bertemu karena apa?"
Glek!
Inginnya juga Hinata tahu alasan yang tepat kenapa ia mengajak senpainya itu bertemu. Tidak mungkinkan ia bilang jika ia bertemu karena ingin menjadikan Naruto kekasihnya dengan alasan game irrasional yang dibuat Sasuke untuknya? Alasan bertemu yang masuk akal pun juga sudah Hinata pikirkan sampai pening. Tapi sampai saat ini gadis itu belum menemukan jawabannya.
"A-aa... a-ano... etto..."
Naruto menunggu dengan sabar kalimat yang akan keluar dari bibir ranumnya yang begitu menggoda itu.
"..."
"..."
"Se-sebenarnya...a-aku..."
Bibir yang terlihat penuh dan pasti membuat candu yang menciumnya.
Aish! Naruto segera menyingkirkan pikiran nakalnya.
"..."
"A-aku..."
"..."
"A-aku...i-ingin... etto..."
Sungguh! Hinata benar-benar buntu sekarang. Keringat dingin dan gugupnya begitu mengacaukan pikirannya. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih.
"A-aku... itu..."
"Hinata,"
"Eh?"
Sambil tersenyum, "Tidak apa-apa. Aku senang bisa bertemu kau lagi," jujur Naruto.
'Tidak perlu alasan untuk mengajakku bertemu denganmu,' tambahnya dalam hati.
Naruto tahu ada alasan tertentu kenapa Hinata mengajaknya bertemu. Tapi Naruto juga tahu Hinata adalah gadis yang sangat pemalu. Ia tak mau terlalu membuatnya kesulitan dan berakhir merasa tak nyaman dengannya.
Perkataan Naruto barusan tentu membuat Hinata melongo dan mengedipkan matanya beberapa kali. Lalu ia tersenyum canggung dan menundukkan kepalanya.
"H-hai'... gomen..."
"Iie. Kalau kau butuh sesuatu, langsung katakan saja jangan sungkan," senyum lebarnya.
"Hai'," Hinata sungguh ingin berkata sesuatu. Tapi dibuat tak berdaya karena kegugupannya.
"Aku akan merasa sangat bahagia jika bisa bertemu dan melihatmu lagi," senyum Naruto.
Hinata speechless. Ia juga terpesona disaat bersamaan. Pikirannya berkecamuk karena perkataan Naruto. Tapi tak lama kemudian pesanan mereka tiba. Obrolan singkat yang membuat Hinata merutuki dirinya karena kembali gagap dan tak berdaya di hadapan Naruto disela oleh mereka berdua yang kini mulai menikmati kudapan kecil untuk menghilangkan kecanggungan masing-masing. Jujur Naruto sendiri juga merutuki kalimat terakhir yang ia ucapkan. Ia keceplosan dan kini merasa membuat gadis Hyuuga di depannya ini semakin tak nyaman dibuatnya. Pikir Naruto, mungkin Hinata sekarang menganggapnya pria aneh. Tanpa tahu bahwa dibalik rasa gugup gadis itu, tersembunyi perasaan berbunga yang membuncah di hatinya.
.
.
.
Sasuke duduk dengan bertelanjang dada. Di sebelahnya wanita berambut merah tengah melilitkan perban di lengannya. Sesekali tangan lentik itu juga berusaha meraba tubuh kekar pria yang begitu digilainya itu. Sampai suara Sasuke menginterupsi perbuatan tak senonohnya.
"Karin."
Wanita yang dipanggil Karin itu terhenti dan menatap Sasuke.
"Cih!" Berdecih sekilas dan membereskan peralatannya.
Seperti Suigetsu, Karin adalah segelintir orang yang dipercaya Sasuke boleh berada di sekitarnya. Jika Suigetsu adalah mata-mata andalan Sasuke, maka Karin adalah dokter khusus yang untuk dirinya dan orang-orangnya. Seorang Uzumaki. Terlihat dari rambutnya yang mencolok berwarna maroon khas klan Uzumaki. Tapi ia melarikan diri dari klannya karena ingin memiliki kehidupan sendiri. Yah... sepertinya klan itu memiliki bakat dalam melarikan diri dari keluarganya, seperti Naruto contohnya, karena tak mau mengurusi hal besar dan merepotkan bagi mereka. Bedanya Karin sudah tak peduli lagi dengan Uzumaki. Dan disinilah ia sekarang. Menjalani kehidupan yang ia inginkan dengan berada di dekat Sasuke walau hanya bisa melihat dunia luar satu kali dalam sebulan. Tak masalah sebenarnya. Toh, ia juga hidup cukup nyaman dan semua terjamin. Hanya saja ia belum bisa menaklukkan pria tampan yang sangat ingin ia ajak bercinta di hadapannya itu.
"Kau tak mau bermalam disini, Sas?"
Membisikkan kalimat seduktif ditelinga atasannya sambil bergelayut manja saat Sasuke mengenakan kembali kemejanya.
"..."
"Kau tak mau meremasnya?"
Wanita itu dengan berani meraih tangan besar itu dan meletakkannya di dadanya. Sambil bertingkah menggoda, ia mencoba menggoyahkan pria dingin itu.
"Lepaskan."
"Kau tak pernah bercinta dengan wanita Sasuke? Kau selalu dingin kepadaku," sedikit kesal, Karin mencoba mengulik informasi dengan nada mengejek pada Sasuke.
Karin adalah wanita cantik dengan tubuh semampai yang tentunya tak luput dari incaran para pria. Mudah baginya menggaet pria manapun dengan sedikit melenggokkan tubuhnya. Tapi menghadapi Sasuke terasa berbeda. Pria itu terlalu dingin bahkan tak pernah meliriknya sedikit pun. Ia selalu mengenakan pakaian minim kain jika di depannya, tapi sungguh disayangkan sampai detik ini Sasuke belum mau menyentuhnya.
"Kau bisa mengajak Suigetsu seperti biasanya."
"Tapi aku menginginkanmu..."
Karin semakin berani dengan mengalungkan kedua tangannya di leher pria Uchiha itu.
"Ayolah... aku sangat kesepian disini..."
"Aku hanya tidur dengan segelintir jalang, Karin. Kau bukan mereka, aku tak mau membuatmu seperti itu,"
"Oooh... ayolah..." wanita itu semakin merengek manja.
"..."
"Jadikan aku jalangmu malam ini..." merangsek hendak meraih bibir pria itu tapi segera ditahan Sasuke.
"Jangan membuatku marah dan membantingmu ke lantai saat ini juga."
Ucapan datar yang mengintimidasi itu benar-benar membuat Karin beku. Perlahan ia melepas rangkulan tangannya. Ucapan Sasuke tak pernah main-main.
"Aku sangat ingin bercinta denganmu Sasuke. Anggap saja aku seperti jalang-jalang itu," tapi ia belum menyerah.
Sasuke mencoba bersabar menghadapi bawahannya satu ini. Meski menyebalkan dan begitu membuatnya jengah, tapi Karin adalah orang yang berjasa menyelamatkan hidupnya saat ia belum punya apa-apa. Satu-satunya ahli medis yang ia percaya dan sangat handal tentunya. Karena itu ia mencoba menahan emosinya saat menghadapi godaan wanita itu.
Ia bukan tipe pria yang suka main wanita. Hanya melakukan seks jika sedang butuh dan sudah tak terbendungkan. Dan hal itu sangat antipati ia lakukan pada sembarang orang, apalagi bawahannya. Melakukannya bersama seorang jalang itu sudah sepantasnya, karena itu adalah pekerjaan mereka.
Wanita bukanlah prioritas utamanya.
Sial. Entah kenapa saat ini ia teringat gadis Hyuuga itu.
"Semua ada stratanya, Karin. Aku tak mau mencampuradukkan hal itu dan membuatku lupa diri."
"Kau selalu mengatakan itu Sasuke. Kau bisa melakukannya denganku dan setelahnya aku akan bekerja seperti biasa, apa susahnya!" Karin mulai meledak.
"Aku menyukaimu! Aku sudah sangat sering mengatakannya! Aku sangat ingin memilikimu dan kau memilikiku, Sas..." tangan itu meraih Sasuke tapi segera ditepis empunya.
"Kau hanya terobsesi padaku."
"Tidak! Aku benar-be-"
"Tugasmu disini adalah merawat yang terluka! Tidak lebih."
Secepatnya Sasuke keluar dari ruangan itu. Tak mau mendengar ocehan wanita Uzumaki itu lebih lama lagi. Menuju ruangan yang menjadi persinggahannya saat ingin merehat diri. Lukanya belum sembuh benar. Tapi ia sudah terbiasa. Ia sering mendapat luka seperti ini. Hanya mengobati dan itu akan sembuh secepatnya.
Mendudukkan diri dengan nyaman di sofa tunggal besar dekat perapian. Ruangan ini adalah ruangan favoritnya dan Gaara saat berkunjung ke mansion Uchiha. Di tempat itulah Sasuke merehatkan dirinya. Ia jarang menempati tempat tidur di kamarnya kecuali jika merasa benar-benar butuh istirahat. Mencoba tidur adalah malapetaka baginya. Mimpi buruk selalu datang. Tragedi 19 tahun lalu akan menghampiri dan melahapnya dalam rasa sakit yang tak berkesudahan.
Ia lebih memilih beristirahat di sofa depan perapiannya sambil membaca atau mengurusi dokumen perusahannya sampai tertidur. Setidaknya dengan begitu peluang bertemu mimpi buruknya akan berkurang. Dan jika pun terjadi, saat terbangun ia masih merasakan kehangatan dan cahaya yang ada di depannya. Dengan begitu ia merasa aman. Dengan begitu, ia masih merasa memiliki kehidupan.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu lalu disusul deritan pintu terbuka. Kakashi memasuki ruangan itu dengan santai. Tak perlu intruksi untuk masuk, karena ia adalah orang kepercayaan Uchiha tunggal itu.
"Kau sudah mendapatkannya?"
"Hm. Sampel darah yang kutemukan benar-benar milik pria itu."
"Tak sia-sia kau terlambat menyusulku waktu itu. Kerja bagus, pengintaian kali ini harus dilakukan dengan hati-hati," smirk Sasuke.
"Dibanding Orochimaru, sepertinya kau lebih mendendam dengan pria ini,"
"Tentu saja. Karena dia adalah pengkhianat yang menyebabkan semuanya,"
Akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya, Sasuke berhasil melacak keberadaan pria brengsek yang diincarnya. Keberadaannya lebih licin dari Orochimaru. Tapi akhirnya ia berhasil menemukan jejaknya.
"Selidiki lebih lanjut. Aku ingin mendapat kabar baik setelah ini,"
"Tentu,"
Kakashi merebahkan dirinya di sofa panjang dekat Sasuke. Inginnya ia membaca Icha-Icha Paradise, tapi matanya yang sudah rabun karena usia tak bisa digunakan dengan baik di keadaan remang seperti ini.
"Akhir-akhir ini kau berubah Sasuke. Kau lebih errr... lembut? Juga terlihat lebih tenang dari biasanya. Kalau kau sudah tahu info yang kukatakan tadi, biasanya kau akan langsung menyerbu atau melakukan penyelidikan besar-besaran secara langsung,"
Sasuke mengangkat sebelah alisnya sambil melirik Kakashi, "Benarkah? Aku hanya merasa harus melakukan dengan hati-hati apapun mulai sekarang," ia mengalihkan mata menatap perapian.
"Kau juga sedikit berbuat kasar dan menyebalkan akhir-akhir ini,"
"Aku hanya merasa tidak perlu menguras energi untuk itu."
'Bukan kau yang biasanya, Sasuke,' batin Kakashi.
"Hm... bukan karena gadis itu? Kau menyuruh Juugo mematai-matai seorang gadis yang sama sekali bukan kebiasaanmu," ejek Kakashi.
Sasuke mengernyitkan wajahnya. Tak mau menjawab pertanyaan Kakashi yang memang tak butuh jawaban dari Sasuke.
"Tadi Juugo menitipkan pesannya untukmu. Ia sangat kesal kau tahu? Aku juga takut jika pria besar itu sudah merasa kesal. Seharusnya kau tak memberikan tugas remeh itu pada seorang Juugo,"
"Hanya dia yang tersisa disini."
"Dia enggan bertemu denganmu dan menyuruhku menyampaikannya. Dia bilang gadis itu sudah mulai bertemu pemuda Uzumaki itu sore tadi,"
Sasuke sedikit menyempitkan iris matanya sejenak.
"Ternyata dia gadis seperti itu," nadanya mengejek, tapi ia merasa tak suka. Raut wajahnya berubah dan moodnya tiba-tiba memburuk. Untungnya Kakashi berada di belakangnya, jadi ia tak bisa melihat perubahan raut mukanya yang bahkan Sasuke sendiri tak menyadarinya. Jika tahu, tentu pria paruh baya itu akan mencemoohnya habis-habisan.
"Memangnya ada apa kau dengannya? Kau menyukainya?"
"Cih! Itu mustahil. Aku hanya ingin bermain-main dengannya,"
"Hei, bukankah kau hanya bermain dengan para wanita bayaran mahal itu? Aku tak tahu haluanmu berubah sekarang,"
"Entahlah. Mungkin karena gadis itu terlihat begitu mudah dipermainkan,"
Kakashi yang semula mulai memejamkan mata kembali membuka matanya. Melirik ke arah dimana pria yang telah ia layani selama hidupnya sampai saat ini. Alasan kenapa ia begitu setia pada Sasuke, karena semasa kecil dulu ia pernah hilang arah akibat kematian ayahnya yang dicap sebagai pengkhianat di kepolisian. Hanya Fugaku –ayah Sasuke- yang mau menolongnya, mengangkatnya dari lubang ketidakpastian. Dididik dan diperhatikan untuk bisa menjadi kaki tangan pemimpin klan Uchiha yang tersohor itu. Tentunya Kakashi kecil sangat senang, setidaknya dirinya masih memiliki arah hidup dan berada di lingkup orang yang mempercayainya sekaligus menjadi panutannya. Tapi melihat tragedi lampau yang telah terjadi dan perubahan sifat tuan yang kini ia layani, Kakashi hanya bisa mencoba menerimanya tanpa protes apapun. Ia hanya bisa menutup mulutnya dan melakukan apa yang pria itu inginkan. Toh, sedari awal hidupnya sudah ia abdikan sepenuhnya kepada klan Uchiha. Ia sama sekali tak keberatan. Walau jika disuruh jujur, ia sangat menyayangkan perubahan sifat Sasuke sekarang.
"Jadi, apa yang ingin kau lakukan selanjutnya?"
"Hm, mungkin sedikit memainkan irama di bisnis Uzumaki,"
Bocah lelaki yang dulunya ia tahu sangat ceria dan semangat ketika memaksanya melatih pistol itu kini berubah menjadi pria dingin yang mengerikan.
TBC
Yops... ilang2an trus balik lagi hahaha #plak!
Fict ini kemabali Uma kerjakan dengan polesan disana-sini di beberapa chapnya. Harap minna-sama tidak keberatan dan menghujat Uma :p
Gomenne~~~
#dikejar reader-sama sambil nimpukin panci
B'coz covid, we can't go anywhere right? So kegabutan yang selama ini dilakukan dengan rebahan dan nonton2 saja Uma ubah dengan mengerjakan Fict yang udah bersarang dimana-mana.
So sorry to minna-sama, Uma usahain bakal update dan setidaknya namatin Fict ini tehe...
Yeah... meski Uma tahu pasti yang masih baca udah bosen nunggu apdetan dan memblame Uma disana –mungkin?-
Sotoy!
Wkwk warui warui...
But it's very annoying that ffn is difficult to acces now
#cielah author sok keinggrisan bet padahal masi belepotan
Gubrak!
Ini mau publish ampe ngubek2 pc lama banget. Sempet kepikiran buat pindah lapak aja biar gampang aplotnya. Tapi dipikir2, mending nyari lapak yg susah aplot biar para bocil yg blom cukup umur ga baca ffn laknat Uma ini mwahahaha
#padahal bocil sekarang mah pegangannya dah canggih2 semua
After all, gomennasai minna-sama... and happy reading... and doakan Uma bisa namatin SCARS biar bisa kelarin utang imajinasi yang berputar2 tapi males menumpahkannya dalam bentuk tulisan~
#plak!
See yaaaa :D :*
