Little Sun
Chapter 6 - Ich habe immer noch Angst.
Naruto belong to Masashi Kishimoto
Gender Bender
.
.
In order to be Free, We must learn how to let go. How to accept the past, forgive it, learn from it and move on - Shiori Avaron
.
.
.
31st October XXXX
Itachi memperhatikan Naruto dengan seksama. Itachi tersenyum kecil dan membelai puncak kepala Naruto dengan sayang, yang langsung dihadiahi tatapan jengkel oleh Naruto. Tidak hanya tatapan jengkel tapi jengitan ngeri dan Naruto langsung melepaskan tangan Itachi dari puncak kepalanya. Bagi Itachi, Naruto yang kini ada di hadapannya mulai kembali pada Naruto kecil yang dulu dikenalnya, Naruto remaja yang suka sekali merengek manja padanya. Naruto yang penuh keceriaan dan semangat. Dengan mata berwarna biru seperti langit musim semi yang membuat siapapun terpesona saat menatapnya. Naruto kecil yang selalu menjadi sumber keributannya dengan Deidara.
Naruto yang kini lebih banyak tersenyum dan tidak lagi bersedih. Senyum bahagia dengan rona merah tipis yang menghiasi pipi tembamnya selalu terlihat. Tidak ada lagi binar kesedihan di permata biru sewarna langit musim semi itu. Seluruh penghuni rumah sakit pun menyambut gembira perubahan kepala rumah sakit ini yang terlihat lebih hidup dan bahagia. Satu-satunya orang yang membuat Naruto menjadi begitu bahagia adalah seseorang yang kini menatapnya dengan tajam dan penuh peringatan. Sungguh tatapan tajam dan penuh peringatan itu bukannya terlihat menyeramkan tapi terlihat begitu menggemaskan pada wajah stoic adik tengahnya.
Dua orang ini…Sasuke dan Naruto. Mereka memang pantas bahagia dibalik semua hal yang telah menimpa keduanya. Satu peristiwa terlintas dalam benak Itachi yang kini menatap balik Sasuke dengan pandangan sama tajamnya. Apakah Sasuke sudah membuka semua hal yang terjadi padanya pada Naruto? Jika tidak, Itachi tidak ingin Naruto tahu dari orang lain…masa kelam Sasuke – adik tengahnya yang berubah. Adik tengahnya yang menggemaskan yang kini menjadi –
"Lihat tatapan Sasuke padamu, Itachi-kun. Ayam potong itu akan mematukmu hingga habis". seru Ino ambigu membuyarkan lamunan dan semua pemikiran Itachi.
"Aku tidak paham maksudmu, Ino-chan". seru Itachi yang kini malah merangkul pundak Naruto erat. Naruto kembali berjengit ngeri dan berusaha melepaskan rangkulan Itachi pada pundaknya. Ino hanya bisa geleng-geleng melihat sikap Itachi yang semakin memancing Sasuke untuk mendekat dengan tatapan yang semakin tajam.
Naruto yang pada dasarnya memang tidak peka dan tidak sadar akan kondisi hanya memandang Itachi dengan heran dan jengkel. Naruto bahkan tidak menyadari bahwa Sasuke sedang berjalan mendekat dan menatapnya dengan tajam. Sasuke alias ayam potong yang dimaksud oleh Ino telah berdiri di depan Naruto dan Itachi yang masih merangkul pundak Naruto dengan erat. Naruto menatap Sasuke heran masih dengan berusaha melepaskan dirinya dari rangkulan Itachi. Wajah dingin Sasuke dengan pandangan mata yang tajam membuat Naruto mengernyit heran karena pagi tadi sebelum mereka berpisah di tempat kerja masing-masing mood Sasuke sangat baik dengan wajah yang begitu teduh dan hangat, tidak seperti saat ini.
Tanpa banyak bicara, Sasuke menarik –tidak lebih tepatnya menyeret dengan lembut Naruto untuk berdiri dari tempatnya duduk. Itachi tertawa kecil melihat sikap Sasuke. Naruto yang masih heran terus bertanya yang tidak diindahkan oleh Sasuke yang membawanya meninggalkan Itachi dan Ino. Rasanya sudah lama sekali dia tidak melihat sikap Sasuke seperti ini. Kilasan masa kecil kembali di benak Itachi melihat sikap Sasuke yang kembali bersikap posesif seperti ini. Sasuke kecil begitu menyayangi mainan berbentuk hewan rubah berwarna orange dan ular berwarna ungu. Jangankan untuk meminjam, untuk menyentuhnya saja Sasuke melarang dengan keras dan akan langsung mengamuk. Suatu hari mainan rubah itu menghilang dan Sasuke terlihat begitu tenang dan tidak mengamuk.
"Dimana boneka rubahmu, Sasu-kun?" sang ibu bertanya pada Sasuke.
"Sasuke memberikannya pada anak laki-laki berambut pirang bermata biru di taman. Dia menangis dan tidak bisa diam. Kasihan", jelas Sasuke yang membuat semua anggota keluarganya terkejut.
Anggota keluarganya sendiri dilarang memegang kedua boneka tersebut tetapi Sasuke malah memberikannya pada anak laki-laki lain dengan dalih kasihan. Tidak bisa dipercaya.
Semakin tidak bisa dipercaya kala Itachi tahu siapa anak laki-laki yang dimaksud oleh Sasuke yang tidak lain dan tidak bukan adalah dokter berambut pirang bermata sapphire yang tengah diseret Sasuke saat ini. Bocah kecil yang tidak menyadari bahwa teman berambut pirangnya adalah seorang wanita dan melupakannya.
"Apa kau percaya dengan cinta masa kecil, Ino-chan?" tanya Itachi pada Ino yang malah menatapnya dengan pandangan aneh.
Entah apa yang membuat mood Sasuke terjun bebas seperti sekarang. Sasuke tidak berbicara sepatah katapun padanya, membuat Naruto terheran-heran. Setelah menjempunya di rumah sakit, bukannya mengantarkannya pulang di kediamannya, Sasuke malah membawanya di kantor ayam potong tersebut. Mendiamkamnya dan berfokus pada layar laptop dan puluhan berkasnya.
Naruto mengendikkan bahunya dan kembali membuka berkas yang tadi dibawanya. Kembali memeriksa berkas laporan pemeriksaan dan operasi, kinerja dokter residen dan calon dokter yang akan melakukan praktik kerja lapangan untuk bulan depan.
Naruto tentu tidak menyadari jika Sasuke hanya berpura-pura fokus pada layar laptop dan berkas di mejanya karena nyatanya semua pekerjaan tersebut telah selesai dikerjakan. Tujuan awalnya menjemput Naruto adalah untuk menghabiskan waktu bersama dengan makan malam, menonton film atau apapun itu –yang biasa disebut dengan kencan. Tapi melihat kejadian tadi, bagaimana kakaknya bersikap seintim itu pada Naruto dan Naruto yang tidak menolak, membuatnya sungguh marah. Parahnya, si rambut pirang tidak menyadari bahwa dia sedang marah dan mendiamkannya.
Sasuke menutup laptopnya dan berjalan menuju sofa dimana Naruto berada. Naruto yang masih fokus pada berkas yang sedang diperiksanya masih mengabaikan Sasuke. Sasuke mendengus kesal lalu tersenyum kecil. Tanpa banyak kata, Sasuke segera duduk di samping Naruto dan menarik Naruto ke dalam pelukannya. Naruto…tentu saja dia terkejut dan terheran-heran dengan tingkah Sasuke.
"Aku lapar, sebaiknya kita pulang." seru Sasuke yang masih memeluk Naruto dengan erat.
"Aku juga." balas Naruto yang membalas pelukan Sasuke dan meletakkan berkas yang sedang diperiksanya. "Kau itu aneh sekali, Sasuke."
"Aneh bagaimana?"
"Tadi saat di rumah sakit kau sangat menyebalkan padahal tadi pagi kau begitu menggemaskan." Naruto terkikik setelah mengatakan menggemaskan mengingat bagaimana mood Sasuke tadi pagi dan tingkah polanya.
Sasuke mendengus namun semakin mempererat pelukannya pada Naruto. "Bagaimana dengan sekarang?"
Naruto melepaskan pelukan Sasuke, berbalik dan menatap Uchiha tengah di depannya yang menatapnya dengan tatapan yang selalu membuatnya bergetar dan merona. Naruto berpura-pura berpikir sambil menatap Sasuke. Bayangkan wajah jelita Naruto yang tengah berpikir, dengan pipi yang merona, bibir yang sengaja dia poutkan dan ekspresi menggemaskan layaknya anak kecil –siapa yang bisa menahan untuk tidak mencubit gemas pipi Naruto ataupun menciumnya gemas. Termasuk Sasuke yang langsung menarik tengkuk Naruto dan membuainya dalam sentuhan intim yang membuai.
"Manis. Selalu manis." Seru Sasuke yang membelai bibir bawah Naruto yang membengkak.
"Dasar mesum!" seru Naruto sambil memukul lengan Sasuke gemas.
"Dobe!"
"Apa kau bilang?! Dasar anak ayam!"
"Tapi kau sayang pada anak ayam ini kan?" goda Sasuke yang kembali mendapatkan pukulan gemas Naruto.
8th November, XXXX
Musim gugur mencapai puncaknya dan suhu udara mulai turun. Naruto masih terdiam di tempat tidurnya menikmati harumnya rangkaian bunga yang memenuhi kamarnya. Senyuman bahagia terpatri di wajah Naruto. Engsel pintu kamarnya bergerak namun Naruto masih tetap setia di ranjangnya membaca memo yang terselip di masing-masing rangkaian bunga yang ada di kamarnya. Wajah Sasuke menyembul di balik pintu kamarnya dan tersenyum kecil melihat Naruto yang tersenyum bahagia dengan memo yang ditulisnya. Sasuke terus berjalan mendekat ke ranjang dimana Naruto berada.
"Thanks for the flowers." seru Naruto meletakkan memo-memo tersebut.
Sasuke tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada Naruto yang langsung dihadiahi lemparan bantal oleh Naruto.
"Aku belum gosok gigi, dasar mesum!" seru Naruto yang bangkit dari tempat tidur.
Sasuke terkekeh tapi menarik Naruto ke dalam dekapannya dan membawa Naruto kembali ke ranjang. "Tapi kau tetap wangi, Dobe. Nih…wangi kok." seru Naruto yang menyerukkan wajahnya di lengkungan leher Naruto. Naruto hanya terkikik geli dengan perilaku Sasuke.
"Yang aku maksud itu di mulut." seru Naruto membelai wajah Sasuke dengan kedua tangannya. "Kau tidak tahukan di mulut itu tersimpan banyak bakteri. Apalagi saat kita tidur. Bakteri – "
Kata-kata Naruto tidak pernah berlanjut karena Sasuke sudah menariknya dalam cumbuan lembut dan selalu saja membuai Naruto. Tidak ada lagi Naruto yang berjengit takut atau gemetar. Naruto membalas buaian Sasuke dengan sama antusiasnya. Hanya suara decapan dan lenguhan yang terdengar dari keduanya. Naruto yang semula berada di atas tubuh Sasukepun kini berada di bawah kungkungan tubuh Sasuke. Cumbuan pada bibir yang selalu membuat Sasuke candu beralih pada leher memabukkan milik Naruto yang selalu wangi.
Tubuh Naruto yang semula rileks mulai menegang kala Sasuke memberikan tanda pada leher memabukkan milik Naruto. Sasuke yang mulai merasakan tubuh tegang Naruto, menghentikan kegiatannya dan dengan panik menatap Naruto yang terdiam dengan pandangan was-was. Sasuke mengumpat dalam hatinya kala melihat bagaimana keadaan Naruto.
"Naru…Naruto…hei…hei…" panggil Sasuke membelai pipi Naruto. Naruto menatap Sasuke sedetik dengan pandangan takut sebelum menutup matanya dan menangis.
Sasuke menarik Naruto dalam dekapannya. Seharusnya aku tidak terlalu terburu-buru. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja. Nyatanya…kau masih saja ketakutan Naru. Apa yang sebenarnya terjadi?
Naruto tengah berkutik dengan alat masak saat Sasuke memasuki dapur mansion Uzumaki. Naruto dengan halus menolak setiap pelayan yang akan bergerak untuk membantunya menyiapkan sarapan. Sarapan pagi berupa pancake dengan saos madu dan cokelat itupun telah selesai dan Naruto menyajikannya di meja bar tepat di counter dapur.
"Ah iya…kopimu Sasuke, aku lupa. Sebentar." Naruto berbalik dan menyiapkan kopi yang senantiasa menemani sarapan pagi Sasuke di kediaman Uzumaki.
Sasuke bangkit dari duduknya dan memeluk Naruto yang tengah mengaduk kopinya. Sasuke menyadari Naruto kembali murung, senyum yang kembali tidak sampai pada matanya. Hal yang sangat tidak disukainya. Sasuke sudah berjanji akan membuatnya bahagia dan akan selalu disampingnya. Melihat Naruto yang seperti ini, tentu saja melukai egonya karena salah satu janjinya tidak dapat dia tepati.
"Maafkan aku…seharusnya aku tidak memaksamu, tadi pagi. Seharusnya aku bisa berhenti."
Naruto memejamkan matanya dan menggeleng mendengar permintaan maaf Sasuke. Naruto berbalik menghadap Sasuke. Membelai wajah rupawan uchiha di depannya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku yang seharusnya meminta maaf padamu Sasuke. Der dunkle Schatten verfolgt mich immer noch. Ich hätte mich nicht in die Vergangenheit zurückversetzen lassen sollen. Aber1 ..."
"Hey ... hör zu, denk dran, was ich gesagt habe, als wir im Urlaub waren. Wir können die Vergangenheit nicht ändern, Naruto. Wir müssen nur mit der Vergangenheit Frieden schließen. Verzeihen und weitermachen. Verzeih mir, wenn du in diese Zeit zurückkehrst. Ich weiß nicht was passiert ist, aber bitte halte dich nicht mehr zurück. Wenn es dir wirklich nicht gefällt, dann sag es2."
Naruto menggeleng dengan keras dan membelai wajah Sasuke. "Ich habe nicht gesagt, dass es mir nicht gefällt. Ich mag es, Sasuke. Aber vielleicht ... habe nur ich noch Angst. Mein Körper hatte immer noch Angst davor. Es erinnert mich daran, als er3 ..." Naruto kembali menangis dengan mata yang menatap Sasuke was-was penuh ketakutan.
Sasuke menarik Naruto dalam pelukannya membiarkan Naruto kembali menangis. Naruto kembali menangis dengan pilu. Gumaman pilu terdengar yang membuat siapapun yang mendengarnya akan turut bersedih. "Er berührt mich ... Er berührt mich einfach so wie ... Ich hasse ihn4 ..."
Sasuke menarik dagu Naruto untuk menatapnya. "Was wirklich passierte? Wirst du mir sagen? Was hat er getan? Ist es Gaara?5"
Naruto menggeleng dengan kuat. "No…not him…Not Gaara…Not Gaara…"
Tangisannya masih terdengar pilu. Sasuke kembali memeluk Naruto dalam dekapannya. Sasuke tidak mungkin memaksa Naruto untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dalam kondisi Naruto seperti ini. Jika bukan Gaara lalu siapa?
The dark shadow still haunts me. I shouldn't have let myself drift back to the past. But...
Hey ... listen Remember what I said when we were on vacation. We can't change the past, Naruto. We just have to make peace with the past. Forgive and move on. Forgive me if what I did made you go back to that time. I don't know what happened, but please don't hold back on anymore. If you really don't like it, then say it.
I didn't say I didn't like it. I like it Sasuke. But maybe...it's just me who still afraid. My body was still afraid of that. Its make me remember when he...
He touches me ... He just touches me like ... I hate him…
What really happened? Will you tell me? What has he done? Is it Gaara?
