Cerita ini hanya fiktif belaka, sekedar karangan. Apresiasi atas cinta pada sang idola. Bukan bermaksud menjatuhkan, menjelekan apalagi mendoakan yang tidak-tidak. Italic : Flashback. Karakter lain muncul sesuai kebutuhan. Saya meminjam nama mereka karena itu memudahkan saya untuk berimajinasi, dan tidak perlu repot mencari nama, jadi ini hanya sekedar Fiksi dan Fiksi itu tidak nyata, meski beberapa kejadian diambil dari kisah nyata. ( Momentnya maksudnya)
.
.
Nae Baozi?
Sepanjang perjalanan pulang, dua kata itu terasa memenuhi pikirannya. Nae Baozi. Bahkan ia mengabaikan Yunho yang sedang bercerita, matanya terus tertuju memandang jalanan dengan panadangan yang berlalu cepat.
Minseok-ah
Jeongmal bogosiphoso
Delapan tahun itu, sudah terjadi lama dan seharusnya aku bisa melupakan segalanya, tapi. Aku tidak bisa, setiap kali aku melihatmu aku selalu teringat delapan tahun yang lalu. Bagaimana bisa kau memelukku begitu erat tapi dihatimu sama sekali bukan aku
Minseok meraba dada sebelah kirinya yang tiba-tiba saja berdetak menggila, matanya memanas. Kata yang sesungguhnya entah apa maknanya, tapi begitu berkecampuk di hatinya, seperti membuka luka lama dihatinya yang padahal sedang coba disembuhkan
"Geu namjaga? Nugunya?"
Siapa dia? Siapa lelaki itu?
" Namchineya?"
" Mwo? Mworago?" Yunho sekilas memandang Minseok, seperti mendengar gadis itu berkata tapi tidak jelas, tapi Minseok tidak segera menjawabnya, apa ia tertidur? Dan sekarang mengigau?
" Eonnie-neun?"
.
.
A Fanfiction
By
Moonbabee
.
.
Baekhyun sampai pukul setengah delapan di apartemennya, sejujurnya ia sampai sejak jam lima tadi sore, tapi karena harus mampir ke kantor merayakan pertemuan Byunhyun dengan pihak China sukses atas ajakan Kyuhyun serta melakukan rundingan kecil dengan ayahnya, sehingga dia lebih malam sampai dirumahnya.
Saat pintu terbuka dan tubuhnya terbawa masuk pada ruang tengah, keningnya mengerut karena ruangan gelap gulita. Biasanya kalau ia pergi keluar kota Minseok akan duduk disofa untuk menunggunya pulang bersama seabrek cemilan yang bungkusnya sudah berceceran lalu Kyungsoo sedang sibung memunguti bekas makanan Minseok sembari mengomel panjang atas kelakuan Minseok.
Namun kali ini berbeda, gulita sekali ruangan ini dan saat ia menyalakan lampu, tanda-tanda keberadaan Minseok pun sepertinya tidak ada.
Dia tidak ada dimana-mana, kemana? Apa dirumah Kyungsoo?
Baru Baekhyun akan menghubungi Kyungsoo, ponselnya keburu berdering dan rupanya panggilan itu dari ayah Minseok. Tidak menunggu lama ia langsung mengangkat panggilan tersebut, dan suara lembut ibu Minseok yang terdengar.
"Yeoboseyo… Baekkie" namun suara ibu Minseok yang terdengar dari ujung sana.
" Ne eommonie?"
Ia menjawab cepat, sembari tangannya meletakan tas kerjanya serta melepaskan pakaian yang sudah sangat tidak nyaman ini.
[Minseokkie odia? Eomma ingin bicara dengan dia. Tapi dia sulit dihubungi beberapa hari ini.]
Dimana? Entahlah, dia sendiri bingung.
"Chwiseongande eommonie, tapi Minseok tidak ada dirumah, hari ini aku pergi keluar kota untuk pekerjaan, kurasa dia sedang bersama Kyungsoo" sahut Baekhyun.
"Baekhyun..."
Sampai waktu berjalan beberapa detik, tapi suara di ujung sana tak kunjung terdengar, Baekhyun mengernyitkan keningnya. "Eommonie?" Kemudian ia memanggil pelan, seraya tangannya ia turunkan untuk melihat pada layar ponsel, memastikan apakah sambungan masih terhubung atau sudah mati sehingga tak bersuara.
Ternyata sambungan masih ada, detik terus berjalan. Namun ibu Minseok tak kunjung bersuara.
"Eommonie?" panggilnya lagi.
"Ah, baiklah. Aku akan menghubungi Kyungsoo kalau begitu"
Sambungan terputus.
Baekhyun juga harus menghubungi Kyungsoo, tapi sebelum itu ia harus mandi terlebih dahulu, membersihkan diri, badannya sudah lengket dan terasa begitu tidak nyaman.
Baru setelah ia merasa segar setelah mandi dan menyamankan diri diatas tempat tidur ia mencari nomor Minseok.
.
.
Luhan menjatuhkan tubuhnya di sofa begitu ia sampai dirumah. Hari ini terasa begitu melelahkan dan sedikit menguras emosinya omong-omong. Banyak sekali hal yang tidak terduga terjadi dan yang paling tidak ia sangka adalah pertemuannya dengan Kim Jongdae.
Kim Jongdae bagian dari masa lalunya yang kelam yang sesungguhnya tidak ingin ia jumpai.
"Luhan"
Xiumin berseru senang ketika melihat Luhan berjalan mendekat. Senyum di wajahnya tidak pudar meski wajah Luhan berbanding terbalik dimana matanya menuik tajam tertuju pada pemuda lain yang sedang duduk disamping gadis itu.
"Lu Han-seonbae"
"Kalian saling kenal?" Xiumin bertanya, wajahnya semakin berseri ketika ia menoleh menatap pada sumber suara.
"Tidak" sela Luhan cepat matanya masih setajam elang tertuju padanya membuat pemuda itu tahu kalau maksud tatapannya adalah menjauh yang untungnya segera dimengerti sehingga Luhan tidak perlu bertindak lebih.
"Tapi Jongdae tahu namamu" Xiumin berucap bingung seraya memiringkan kepalanya. Lucu sekali, membuat Luhan tidak mampu lebih lama mempertahankan wajah berkeruhnya dan mau tidak mau Luhan tersenyum dibuatnya.
"Aku juga tahu nama Max Changmin tapi kami tidak saling mengenal" jawabnya acuh.
"Ah, benar noona . Aku … kami tidak saling mengenal tapi Luhan seonbae adalah kakak kelasku disekolah" kata Jongdae mencoba untuk menengahi tapi sepertinya Luhan malah semakin tidak suka.
Karena pemuda itu justru semakin memicingkan matanya dan tidak berapa lama apa yang ditakutkan Jongdae benar. Ia langsung ditarik keluar. Dengan keras Luhan menghempas dirinya ke tembok.
"Berapa kali aku harus katakan padamu kalau jangan mendekati kekasihku" katanya tajam. "Kau bermaksud menggoda kekasihku?"
"Bukan seperti itu. Seonbae jangan salah paham." Jongdae mencoba menjelaskan. Tapi Luhan tidak mau mendengar, dengan cepat pemuda yang lebih tua itu menyela. "Aku tidak peduli apapun alasan mu. Ini terakhir kalinya aku melihatmu mendekati gadisku. Kalau sekali lagi kau mendekatinya aku tidak akan melepaskan mu"
"Dia mengatakan tidak akan melepaskanku? Bukankah pembunuhnya adalah dirinya sendiri" Jongdae menggeram dibalik suaranya yang sudah parau, kesadaran juga sudah setengah menghilang karena kadar tinggi alkohol yang sudah masuk kedalam tubuhnya.
Di penghujung musim gugur yang tinggal menghitung hari memasuki misim dingin itu tidak membuat sepasang kekasih itu kembali segera kerumahnya meski wajah tersebut telah pucat pasi.
"Kita pulang ya. Udara semakin dingin" bujuk Luhan, pemuda itu terhadap Xiumin kekasihnya yang bersi keras untuk melihat daun maple terakhir yang jatuh "Tunggu, tinggal beberapa lagi" tolak gadis itu kukuh "Lagipula kita juga bisa berpelukan supaya hangat. Kau kan suka yang seperti ini"
"Iya, tapi ini terlalu dingin. Kau bisa sakit" lagi Luhan membujuk.
"Sebentar lagi~~"
Ada rasa nyeri tidak tertahankan. Seandainya ia lebih tegas waktu itu maka keadaan Xiumin tidak akan semakin buruk dan ia tidak perlu menyerahkan kekasihnya kepada lelaki lain atau terlebih ia tidak akan kehilangan gadisnya, hal paling berharga yang hingga kini masih menjadi kesakitan terbesar dalam hidupnya. Luka hidup yang menganga setiap harinya.
Luhan mengusap wajahnya kasar segera ia menghempaskan pikirannya. Tidak, ia tidak mau lepas kendali lagi dan kejadian seperti kemarin malam terulang lagi. "Aku akan baik-baik saja Umin-ah. Kuharap kau juga tidur dengan tenang" bisiknya dalam hati.
.
.
Ketika Luhan baru selesai mandi dan tubuhnya segar lelaki itu baru akan merebahkan tubuhnya terdengar dari arah meja kerja dering ponsel membuatnya mengurungkan niat ingin segera beristirahat.
Panggilan dari ibunya. Dengan segera ia mengangkat panggilan itu. Namun ketika sebuah suara mengalun diujung sana kening Luhan segera berkerut.
[Yeoboseyo]
"Halo"
Itu bukan sura ibunya. Ah sial, ini bukan ponselnya. Luhan baru ingat kalau ponselnya tertukar dengan ponsel gadis itu. Ia harus segera mengembalikan ponsel ini dan mendapatkan ponselnya.
[ Seokkie…
" Ah, choeseonghapnida…" sambungan terputus bahkan sebelum Luhan selesai dengan kalimatnya. Dan sedikit mengundang rasa jengkel. Sekarang ia jadi tahu darimana sikap tidak sopan gadis itu. Rupanya ibunya juga begitu. Tentu saja, buah kan jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Lalu belum lama setelah panggilan dari ibu gadis itu panggilan lain masuk.
"Katakan pada pemilik ponsel ini untuk segera mengembalikan ponsel ku" Luhan yang sudah keburu jengkel berucap agak kasar dan setelah mengatakan hal tersebut segera lelaki itu mematikan sambungan dan melempar benda itu keatas tempat tidur.
Yang Baekhyun dengar adalah ponsel dan mengembalikan. Perkataan tidak jelas itu dikatakan oleh seorang lelaki dan suaranya jelas tidak dikenali Baekhyun.
Apa dia salah menghubungi seseorang? Tidak kok, ini jelas nomor ponsel Minseok tapi kenapa yang mengangkat panggilan tunangannya adalah orang asing terlebih laki-laki.
Mendadak Baekhyun diselimuti perasaan takut. Ia jadi khawatir terjadi sesuatu terhadap Minseok. Baekhyun kemudian beranjak dari duduknya, lelaki itu meraih jaket dan kunci mobilnya. Ia harus mencari Minseok.
Perasaannya jadi tidak enak, faktanya calon ibu mertuanya juga kesulitan menghubungi Minseok lalu sekarang panggilannya diangkat oleh seorang lelaki kalau orangtua Minseok tahu ini pasti akan menimbulkan masalah baginya.
"Chanyeol-ah, odia?" tanyanya pada sambungan telepon yang sekarang terhubung dengan Park Chanyeol.
[Ada apa?] Tanya sahabatnya diujung sana.
"Bantu aku mencari Minseok, dia tidak ada dirumah dan aku kesulitan menghubunginya"
[Maaf. Kurasa tidak bisa. Jongdae sedang berulah] terdengar diujung sana sedikit berteriak disertai suara bising yang membuat Baekhyun menjauhkan ponselnya.
Jongdae berulah? Tapi lelaki itu tidak bisa bertanya sekarang karena fokusnya hanya tertuju kepada Minseok jadi begitu Chanyeol mengatakan tidak ia memutuskan panggilan dan melajukan kendaraannya. Kalau Chanyeol tidak bisa mungkin Kyungsoo bisa atau ia bisa juga meminta bantuan Daehyun.
"Kau dimana sayang?"
.
.
Mengingat delapan tahun yang lalu Yunho jadi mengingat perpisahannya dengan sang istri yang menyebabkan hubungan keduanya memburuk dan trauma Changmin terhadap seorang ibu.
Tidak seharusnya seorang anak trauma apalagi terhadap ibunya sendiri. Namun itu terjadi pada putranya dan sekarang seperti déjà vu ia malah menangani Minseok yang juga seperti mengalami trauma tapi lebih parah lagi terhadap kedua orangtuanya.
Yunho adalah pelarian bagi Minseok. Anak itu tidak akan menceritakan apapun kepada kedua orangtuanya tapi kepadanya gadis itu akan terbuka dan dengan senang hati mengatakan seluruh keluh kesahnya.
Jiyong dan Sohee mungkin berniat menjaga putri satu-satunya ini tapi cara mereka salah, jelas sekali salah malahan karena mereka terlalu mengekang bahkan sampai urusan asmara.
Minseok dan Baekhyun walau sudah bertunangan tapi seperti dibayangi perpisahan di kemudian hari meskipun Baekhyun telah membuktikan kalau lelaki itu adalah yang terbaik untuk putri mereka.
Membuat Minseok menahan beban tersendiri dalam hatinya yang tidak bisa dipahami siapapun. Yang mereka sebut menjaga itu tidak tersampaikan kepada putri mereka padahal gara-gara hal serupa mereka juga kehilangan delapan tahun lalu.
"Baekhyun" sambil mengusap pelan kepala Minseok yang meringkuk diatas tempat tidur sudah terlelap lelaki Jung itu menghubungi Baekhyun. Walaupun Minseok melarang tapi Yunho tetap harus menghubungi Baekhyun. Ia tahu pasti kalau lelaki itu pasti kelimpungan mencarinya.
[ Aku sedang mencari…]
"Minseokkie ada disini. Kau sedang mencarinya kan?" sela Yunho saat Baekhyun sedang berucap malah belum selesai lalu diujung sana terdengar helaan nafas lega.
"Ya tuhan. Kupikir dia pergi kemana" seperti seluruh beban diangkat semua dari pundak lelaki Byun tersebut. Ia segera menghelakan nafasnya dengan rasa syukur dan pundaknya turun dengan rileks tanda ia lega setengah mati.
"Aku akan segera kesana ahjussi. Terimakasih" kata lelaki itu seraya memutar arah kendaraannya. Ia sudah berada didekat area apartemen Kyungsoo untuk menjemput gadis itu agar menemaninya mencari Minseok tapi sepertinya tidak perlu karena ia sudah menemukan kekasihnya.
Jadi begitu sudah tahu dimana Minseok berada Baekhyun segera menghubungi Kyungsoo mengatakan kalau ia tidak jadi minta ditemani dan langsung mematikan sambungan.
Dan tidak tahu saja kalau di sebrang sana Kyungsoo sudah bersungut-sungut. Gadis itu sudah buru-buru karena Baekhyun mengatakan akan sampai dalam lima menit tapi ketika ia telah siap dan menunggu lelaki itu malah mengatakan tidak jadi.
"Aish. Dasar menyebalkan." Grutunya kesal "Apa tadi Minseok bersembunyi di dalam lemari dan muncul tiba-tiba lalu mengatakan prank. Ya tuhan aku kesal sekali jadinya" tidak berhenti grutuan Kyungsoo sambil melepas satu-satu pakaian dan berganti kembali dengan baju rumahannya.
"Auh. Kesal sekali"
.
.
Begitu Baekhyun sampai di gedung apartemen Yunho lelaki itu berjalan tergesa-gesa saking ingin cepat-cepatnya lelaki itu bertemu kekasih hatinya ia jadi tidak memperhatikan langkah menyebabkannya tanpa sengaja menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Tabrakan yang cukup keras antar dirinya dengan orang asing itu membuat keduanya terjatuh dan apa yang dibawa lelaki asing itu berjatuhan.
Terdengar orang itu juga menggerutu bahkan setelah Baekhyun mengucapkan maaf. Dan ia juga membantu merapihkan barang-barang orang itu. Namun dia masih menggerutu apalagi ketika kemudian Baekhyun terdiam sambil memandangi benda kotak yang layarnya retak.
Bukan, Baekhyun terkejut bukan karena ia memecahkan layar ponsel orang asing ini karena ingat kalau tabrakan mereka cukup keras tapi benda itu tidak asing.
Ponsel itu berwarna biru langit dengan case warna senada lalu layarnya yang diberi screen protector itu tepiannya bergambar tokoh Anna Frozen dan dibaliknya terdapat setiker anak anjing dan anak kucing. Bukankah itu milik Minseok?
"Maaf…
" Perhatikan jalanmu. Kau pikir tempat ini milik nenekmu" potong lelaki itu bukan dalam bahasa Korea dan segera berlalu dari hadapannya.
Bahkan sebelum Baekhyun bertanya. Orang itu tampaknya marah sekali. Apa dia tidak mendengar kalau Baekhyun sudah meminta maaf atau dia tidak mengerti?
Tapi lebih daripada itu. Ponsel tadi bukankah terlihat sama persis dengan milik Minseok. Terlihat sama malah.
Ia lalu melihat pada ponselnya sendiri. Sama persis bedanya screen protector milik Baekhyun adalah Christophe tokoh kekasih Anna dalam serial Frozen. Atau hanya mirip saja?
Tadi yang mengangkat panggilan Minseok memang seorang lelaki tapi dalam panggilannya lelaki itu jelas berbahasa Korea tapi lelaki tadi berbahasa Mandarin jadi apa ini?
Layarnya pecah. Begitu Luhan meletakan barangnya di kursi penumpang ia baru sadar kalau layar ponselnya pecah. Astaga lelaki sialan itu.
Luhan dalam perjalanan untuk menemui Sehun dan ia terburu-buru tapi ia masih menjaga langkahnya agar tidak berlari karena ia sembari mengecek beberapa file yang akan ia serahkan kepada Sehun namun dari arah berlawanan seseorang menabraknya hingga semua barang berhamburan termasuk ponsel gadis asing yang tadi ia gunakan untuk menghubungi Sehun.
Bagaimana ini? Sial ia kenapa masalahnya semakin rumit begini. Walau ia bukan yang mengawali masalahnya tapi membuat barang orang lain rusak juga adalah kesalahan kan.
Ah sial. Umpatnya semakin kesal.
.
.
To be continue…
.
.
Haloooooo. apa ada yang menunggu story ini? Ada yang masih stay dengan XiuHan atau sudah move on? Atau ada yang oleng ke kapal ini XiuBaek? atau kaya aku XiuHan Hardcore tapi suka juga XiuHarem. Tapi masih XiuHan yang mendominasi hidupku hehe. Special BAEKHYUN - 놀이공원 (Amusement Park).
