"Aku merasa ada yang berbeda dengan Akashi belakangan."
Nijimura Shuuzou menengadah, kedua manik malamnya menerawang jauh keluar melewati ventilasi gimnasium yang dibuat tinggi. Dari sana ia bisa melihat cuaca yang cerah, langit biru dengan sedikit awan yang berarak.
Harusnya jika segalanya bergerak sesuai rencananya, siang ini ia akan mengurung dirinya di perpustakaan, menjejali kepalanya dengan materi-materi untuk masuk perguruan tinggi. Namun ia mengurungkan niatnya ketika berpapasan dengan Akashi di lorong dekat tangga menuju lantai dua. Seingatnya, terakhir kali ia bertemu dengan Akashi adalah saat Akashi meneleponnya untuk mengajak one-on-one, saat Akashi masih dalam keadaan sakit. Lalu setelah itu Akashi tumbang karena terlalu memaksakan. Selanjutnya terasa kurang masuk akal, seperti Akashi yang mendadak dingin dalam ketenangan yang tidak wajar, rautnya berubah walau tidak banyak, dan sapaannya pada Kuroko seolah tidak bertemu orang itu dalam kurun waktu yang lama padahal mereka baru saja berada di satu lapangan yang sama saat latih tanding. Mengetahui hal tersebut, meskipun bukan lagi berstatus kapten tampaknya Nijimura agak khawatir juga.
"Apa kau percaya kalau kukatakan Akashi punya dua kepribadian?"
Midorima Shintarou yang menjadi lawan bicara Nijimura Shuuzou, tersentak setengah kaget pada bench. Meskipun begitu, jika ada yang melihat ia akan mati-matian mengatakan bahwa ia tidak kaget. Sebab jauh sebelum Nijimura menanyakan, ia juga telah memikirkan hal yang sama namun semua ia simpan sendiri. Ia hanya merasa tidak punya hak untuk mencampuri masalah kepribadian Akashi, selagi itu tidak merugikan dirinya.
Suara pantulan bola basket berfusi dengan decitan sepatu olahraga yang bergesekan dengan lantai licin, disusul teriakan-teriakan bersemangat anak-anak klub basket yang tengah berlatih macam-macam. Dribble, pass, shoot, mereka bebas memilih. Latihan siang itu bisa dibilang cukup santai, tidak ada jadwal baku. Akashi hanya berpesan pada Midorima untuk mengawasi sebelum ia berlalu entah kemana.
"Sejauh yang kutahu, Akashi memiliki sifat yang tenang dan kritis. Tapi di beberapa kesempatan ketika ia terpojok, matanya terlihat dingin seperti orang yang berbeda, nodayo."
Midorima membenarkan letak kacamata yang tidak bergeser semili pun, kemudian menambahkan, "Setidaknya bagiku dia benar-benar menjadi orang yang berbeda."
Pikirannya kembali memutar sosok Akashi dari waktu ke waktu. Mulai dari Akashi membantu seorang anak perempuan yang kesusahan membawa tumpukan handuk kotor mereka hingga Akashi yang mengalahkan Murasakibara telak ketika pemain bertubuh jangkung itu menolak dipimpin orang yang lemah ketika Akashi baru-baru saja menjadi kapten.
Nijimura mengembuskan napas berat. Mengetahui garis besar kisah hidup Akashi rasanya membuat ia mewajarkan jika dugaannya bahwa Akashi memiliki dua kepribadian adalah benar. Apapun yang dipaksakan menjadi sempurna pada akhirnya akan hancur perlahan.
"Sesuatu seperti dia menekan pribadinya yang satu, tapi disaat tertentu pribadi yang satunya itu akan muncul sendiri tanpa bisa ditekan, ya?" Nijimura berujar pelan nyaris seperti sebuah bisikan pada diri sendiri.
Pada detik-detik berikutnya yang hanya diisi suara-suara pantulan dan decitan, mereka masih belum menyadari berjarak satu bangku tepat di belakang mereka, Kuroko Tetsuya mendengar semuanya.
Undescribed
by
Sakhi
.
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
.
Warning: missed typo(s), possibly OOC
.
Selamat membaca!
Siang itu seusai pelajaran berakhir, Furihata Kouki cepat-cepat keluar kelas dan menyusuri setiap sudut sekolahnya. Langkahnya terasa ringan berlari dari gimnasium ke perpustakaan, dari perpustakaan ke lorong-lorong kelas murid kelas dua, hingga ke tiap-tiap sudut tersepi.
Setengah jam mencari, ia tidak sedikit pun mendapat jejak dimana orang itu. Kemudian ia melangkah agak putus asa, menyusuri koridor menuju lobi utama sekolahnya. Jika benar ia tidak bisa menemukan anak itu, mungkin ia hanya perlu meneleponnya nanti.
Langkah kakinya berjalan gontai. Namun disaat ia telah benar-benar pasrah, sosok itu muncul di pandangannya melintasi ruang laboratorium. Mendadak ia merasa seolah ada angin yang berembus sekencang angin di stepa gersang. Tanpa keraguan sedikit pun ia berlari, dan tanpa bisa ia jelaskan, langkahnya terasa ringan kali ini.
Dengan segenap keberanian yang telah ia susun sedemikan rupa, setengah berteriak ia memanggil, "Akashi-senpai!"
Yang baru saja dipanggil menghentikan langkahnya, menoleh. Ekspresinya tidak banyak berubah, berbeda dengan Furihata yang mendadak sumringah ketika mendapat apa yang ia cari.
"Aku mencarimu kemana-mana," ujarnya lagi.
"Furihata Kouki?"
Ada senjang senyap antara mereka berdua. Tadinya Furihata yakin ia akan dengan mudah mengatakannya pada Akashi. Bahkan ia sudah berlatih tadi malam sebelum tidur. Seharusnya ini bukan perkara rumit, jadi ia mulai saja.
"Senpai, walau aku merasa ini seperti bukan dirimu yang biasa, tapi aku bisa melihat semuanya menjadi lebih jelas."
Akashi Seijuurou menyimak setiap gerakan bibir adik kelas di hadapannya tanpa menyela. Ia akan menunggu sampai anak ini benar-benar selesai walau ia sudah tahu jelas kemana arah percakapan mereka.
"Aku mundur, senpai."
Desau angin perlahan berembus dari timur ke barat, menggoyangkan cabang-cabang ringkih pepohonan pun helai-helai rambut mereka. Pada menit yang sama, Akashi menyelam jauh ke dalam sepasang manik sewarna kayu jati itu. Mencari-cari kelemahan dari tatapan bersemangatnya. Tapi tidak ada, Akashi tidak menemukan sedikit pun.
"Terima kasih sudah pernah menerimaku," sambungnya dengan raut kebahagiaan yang susah dijelaskan.
Akashi menyimak semuanya, tidak sedikit pun gurat ketakutan atau penyesalan tergambar di wajah anak laki-laki itu. Yang ada hanya perasaan lega seolah ada beban berat yang baru saja terangkat.
"Aku memang menyukai Akashi-senpai, sih. Tapi setelah yang kemarin itu, aku jadi mempertanyakan posisiku juga. Jadi kupikir lebih baik mundur sebelum perasaanku semakin jauh. Iya, kan?"
Furihata Kouki tertawa lagi di sela-sela ucapannya. Bukan bermaksud mengejek, ia hanya merasa lucu dua orang senpainya bisa begitu naif menyembunyikan perasaan masing-masing. Kemudian ia tiba-tiba muncul di tengah mereka dan segala perasaan yang samar menjadi sejelas gajah di pelupuk mata.
"Kau benar."
Tawa pelan kembali mengudara. Furihata tersenyum lebar, selebar dimungkinkan mulut.
"Kau dingin sekali, senpai. Berbeda dengan Akashi yang kukenal. Apapun itu, kupikir sekarang kau sudah menemukan jawabannya."
Detik selanjutnya ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Akashi bisa melihat dari cara Furihata berbicara, ia memang tengah terburu-buru tapi memaksa ingin menyelesaikan semuanya agar perasaannya sendiri lega.
"Sepertinya aku sudah terlalu banyak bicara. Aku pergi dulu ya, senpai. Sampai jumpa di latihan nanti!"
Akashi Seijuurou mengangguk, tapi tidak menyahut. Ia mengamati bocah itu hingga menghilang di balik lorong. Sekarang di dalam kepalanya terputar gambar-gambar acak dirinya dan anak itu yang tersenyum canggung setelah menyampaikan beberapa hal yang dibalas dengan anggukan menerima.
Bodoh sekali, Seijuurou.
Kuroko Tetsuya berjalan lambat-lambat menyusuri koridor sekolah bersama Aomine Daiki di sebelahnya. Hari ini tidak banyak yang terjadi, tapi rasanya ia banyak menghabiskan waktu mengamati Akashi sepanjang jam pelajaran tadi. Tentu saja, mengamati adalah salah satu keahliannya yang diajarkan oleh Akashi untuk melihat kebiasaan-kebiasaan orang di sekitarnya.
Kemudian langkahnya terhenti, juga langkah Aomine Daiki.
"Doumo, senpai."
Furihata Kouki muncul di hadapan mereka dilengkapi senyum ramah. Kuroko bahkan hampir lupa ia pernah ditantang one-on-one dengan sorot mata yang tidak mau kalah.
"Furihata-kun, dari mana?"
Kuroko bertanya mengingat saat ini adalah jam pulang sekolah, sementara Furihata datang dari arah lobi menuju ke ruang kelas. Berbalik dari rute perjalanan mereka.
"Umm ..." Kepala coklat yang tidak gatal digaruk canggung beriringan dengan beberapa kata yang lolos dari bibirnya, "Aku baru saja menyelesaikan apa yang seharusnya tidak aku mulai, senpai."
Kuroko dan Aomine diam beberapa saat, mencoba mencerna apa yang baru saja menyentuh gendang telinga mereka. Perkiraan mereka pasti benar, tidak mungkin keliru. Namun disaat Kuroko ingin bertanya, anak itu sudah berpamitan karena sedang terburu-buru, punggungnya menghilang cepat setelah berbelok menuju ruang kelas.
Tanpa aba-aba Kuroko Tetsuya berlari meninggalkan Aomine Daiki, menyusuri koridor yang dilalui Furihata sebelum berpapasan dengan mereka, mengabaikan teriakan ingin ikut di belakanganya. Jika instingnya benar, mungkin ia bisa meminta penjelasan dari orang itu.
Tapi ia terlambat. Sesampainya di lobi depan sekolah, seseorang berkepala merah itu sudah menghilang di balik pintu mobil yang melaju kencang.
Mungkin bisa lain kali, pikirnya.
Kuroko Tetsuya merogoh saku celana olahraganya, kemudian menekan tombol sembarang agar layarnya menyala. Pukul tujuh malam. Ia mendengus pelan. Hari ini mereka melatih anak kelas satu seolah mereka akan ikut kejuaraan. Melelahkan sekali.
Kaki-kaki berbalut sepatu olahraga itu ia ayunkan lebih cepat, mengejar kapten yang berjalan beberapa langkah lebih dulu darinya. Sebenarnya ia tidak mau melakukan hal seperti pulang bersama saat ini karena suasananya mendadak canggung. Tapi ia tidak punya pilihan. Hari ini lagi-lagi ia dan Akashi diminta pelatih untuk melatih anak kelas satu. Berdua saja. Tidak ada Midorima, Murasakibara, apalagi Aomine. Bahkan Momoi tadi juga tidak ada.
"Kemarin," Kuroko memulai percakapan untuk memecah sunyi yang menyelimuti mereka, "Apa yang kau bicarakan dengan Furihata-kun? Dia terlihat berbeda setelah menemuimu."
Ekor matanya melirik Akashi. Jauh sebelum ia mendengar percakapan Midorima dan Nijimura, pada beberapa kesempatan ia bisa menemukan Akashi yang dingin dan mendominasi. Bahkan, seingatnya, ia pernah mengatai Akashi gila karena diam-diam masuk ke rumahnya, menciumnya seolah-olah tidak sedang menjalin hubungan dengan siapa-siapa. Namun pada kesempatan lain, ia bisa menemukan Akashi yang rapuh dengan beban berat di pundaknya. Dualisme otak memang kadang memojokkan manusia untuk berpikir serba biner.
"Tidak ada," jawab Akashi. Jawaban yang singkat dan tidak jelas. Jawaban yang membuat kuku-kuku jari Kuroko memutih menahan geram.
Kemudian tanpa ditahan, Kuroko menyuarakan tanggapan yang dapat dijadikan bahan bakar perdebatan, "Kau seharusnya bisa bersikap lebih baik pada Furihata-kun."
"Untuk apa?"
Sepasang mata dingin itu menatap Kuroko Tetsuya. Ada setipis aura mencekam yang menguar dari diri Akashi.
"Kau yang memulai semuanya, lalu kau menelantarkan perasaan seseorang seperti tidak ada harganya."
—seperti dirinya.
Kemudian sudut-sudut mata biru muda itu bisa menangkap Akashi yang tertawa pelan, hanya beberapa detik—bahkan ia agak ragu antara nyata atau ilusi.
"Kau selalu seperti itu jika berhadapan denganku, ya. Berani sekali."
Kuroko Tetsuya memang berani. Satu-satunya ketakutan yang ia sesali adalah takut berkata jujur pada Akashi, takut perasaannya hanya berat di satu sisi. Memang ia seharusnya menjadi yang paling mahir mengamati, tetapi tetap saja jika itu mengenai Akashi, rasanya mungkin saja seluruh indranya keliru.
"Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya tidak aku terima dan meluruskan benang yang berantakan."
Kuroko diam mematung, memandangi setiap inci wajah Akashi. Mencari-cari entah apa itu di dalam mata yang mengintimidasi.
"Kenapa diam saja? Rumahku sudah dekat. Setelah ini aku akan mengantarmu pulang, Tetsuya."
Akashi berujar rendah dan jernih. Helaan napasnya tampak jelas di udara malam yang dingin.
Kuroko tahu ia tidak bisa menolak dan Akashi tidak menerima penolakan, jadi ia hanya diam mengikuti. Sesampainya di rumah Akashi, ia diminta menunggu di ruang tamu. Di sela menit-menit yang singkat itu ia mengamati seisi rumah Akashi sejauh dimungkinkan mata. Kesan pertama adalah sepi dan muram meski ruang tamu itu diisi perabotan-perabotan dengan kualitas terbaik. Pelayan-pelayan Akashi hanya melewatinya sekilas, mungkin tidak menyadari kehadirannya. Ayah Akashi sepertinya tidak berada di rumah. Televisi di hadapannya rasanya sudah lama tidak dinyalakan. Satu-satunya yang paling Kuroko suka adalah foto-foto Akashi kecil yang terbingkai rapi dalam pigura berlapis kaca, tersenyum hangat seolah menyambut kehadirannya.
Tidak lama Akashi muncul dengan kunci mobil di tangan dan tas sekolah yang sudah ditanggalkan. Ia kembali mengekor Akashi dalam diam, masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman. Sebelum menginjak pedal gas dan meninggalkan pekarangan, ia mendengar dan mencerna beberapa kata yang diucapkan Akashi dengan gerakan lamban.
"Maaf, ya, Tetsuya."
Kata-kata itu bergema di telinganya. Meskipun setengah tidak percaya, tapi ia benar-benar mendengarnya.
"Seharusnya tidak perlu jadi seperti sekarang. Diriku ini kadang bisa bertindak bodoh dan merepotkan juga. Memalukan sekali," ujarnya lagi dengan sudut-sudut wajah ditarik.
Akashi perlahan mulai menginjak pedal gas. Laju mobilnya membelah lalu lintas kota Tokyo. Sementara Kuroko masih memandangi Akashi bingung setengah terkejut. Mendengar perkataan rendah diri terlontar dari mulut Akashi rasanya seperti baru saja menemukan harta karun tanpa bersusah payah menggalinya dari tanah yang padat. Yang ia lihat tatapan matanya masih dingin dan mengintimidasi, masih sama seperti Akashi yang membuat Aomine berlutut saat berlatih three-on-three, masih sama juga dengan Akashi yang menodongkan garpu ke wajah Aomine. Tetapi ini benar Akashi Seijuurou.
"Rasanya sudah lama sekali kau tidak memandangiku seperti itu, Tetsuya," ujar Akashi tanpa menoleh. Mata merahnya masih menatap lurus ke depan tetapi ia bisa merasakan Kuroko memandanginya seolah mencari jawaban entah dari pertanyaan yang mana.
"Maaf."
"Tidak apa. Teruskan saja."
Cepat-cepat Kuroko mengalihkan pandang. Jika diteruskan bisa-bisa ia mengalami disfungsi detak jantung. Mata birunya kini memusatkan atensi pada lalu lintas Tokyo yang dipenuhi lampu-lampu jalan dan kendaraan yang hilir mudik.
Ada senjang senyap antara mereka berdua. Masing-masing sibuk dengan pikiran-pikiran acak yang berkecamuk di kepala. Lima menit kurang lebih, rintik hujan mulai turun satu-satu, menciptakan percikan-percikan kecil pada entitas berwujud. Bahkan langit yang terlihat lapang pun tidak sanggup terlalu lama menahan mendung yang menggantung.
"Apa maksud dari menyelesaikan apa yang tidak seharusnya dimulai? Furihata-kun bilang seperti itu padaku kemarin."
Kepala merah itu menoleh sebentar, kemudian kembali memfokuskan diri sebelum berujar, "Aku hanya minta dia menyingkir dari tempat yang tidak seharusnya."
Secepat ucapan itu menyentuh gendang telinganya, secepat itu pula Kuroko Tetsuya menatap Akashi dengan tatapan ingin marah yang dengan mudah dibaca Akashi.
"Apa? Kau mau marah?"
Kuroko diam, tapi sepasang matanya menantang Akashi.
"Kuakui dari awal diriku yang melakukan kesalahan. Tapi sekarang seharusnya semua sudah menjadi jelas. Anak itu sudah paham posisinya. Dan dia memilih mundur. Apa yang membuatmu masih marah?"
Perlahan tatapan mata Kuroko melunak. Ia mencari-cari jawaban atas pertanyaan Akashi pada setiap lapis otaknya. Tapi ia tidak menemukannya, ia tidak menemukan alasan mengapa ia ingin marah pada Akashi selain ia hanya ingin marah saja karena Akashi seperti membuat ia melompat-lompat tidak tentu arah di atas trampolin.
"Aku rasanya ingin marah padamu karena sudah seenaknya membuat aku jatuh padamu, lalu menjalin hubungan dengan orang lain tapi masih menciumku, lalu sekarang muncul di hadapanku sebagai dirimu yang lain," jawabnya penuh penekanan.
Kuroko Tetsuya sebenarnya juga tidak mengerti apa yang berkecamuk di dalam kepalanya. Tapi jika Akashi bisa melihat, kedua mata biru muda itu berbicara lebih lantang dari mulutnya.
"Aku berubah karena keadaan yang memaksaku untuk berubah, Tetsuya."
Hening beberapa kali degup jantung sebelum Akashi kembali melanjutkan, "Dan karena aku juga mencintaimu. Aku tahu kau menangis di hadapan Daiki. Makanya tiap kali melihatku dia seperti ingin berkelahi denganku. Meskipun aku tahu itu hanya Daiki, aku tidak suka ada yang lebih dekat denganmu daripada aku. Aku tidak suka dia menenangkanmu sementara aku yang membuatmu menangis, Tetsuya."
Kuroko Tetsuya sejenak terdiam tanpa bernapas, hampir-hampir tidak memercayai pendengarannya. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia ketika mendengar Akashi bilang mencintainya. Rasanya sudah lama sekali ia menanti-nanti kalimat itu terlontar tanpa ada penghalang. Lalu indra dan suaranya kembali pulih ketika berujar pelan nyaris seperti gumaman, "Salahmu sendiri."
Akashi mendengar dan tidak menyangkal. Memang itu salah dirinya dan ia tidak bisa menerima apa yang telah tersaji di depan matanya.
Sunyi yang sempurna kembali menyelimuti selama beberapa kali degup jantung. Kuroko Tetsuya mengedarkan pandangan ke luar jendela. Rasanya perjalanannya menuju rumah malam ini agak terasa jauh. Salahkan Akashi yang sengaja mengambil jalan memutar dan tidak disadari Kuroko.
"Akashi-kun, itu rumahku."
Mobil Akashi berhenti tepat di depan rumah Kuroko. Kemudian terdengar bunyi cklek tanda pintu mobil sudah dibuka otomatis oleh Akashi. Sebelum pintu dibuka dan kaki dilangkahkan keluar, Kuroko menyempatkan mengucapkan terima kasih atas tumpangannya pada Akashi. Meskipun masih agak canggung, sekarang Kuroko merasa ruang-ruang di dadanya sudah lebih lapang dari sebelumnya. Tidak ada lagi perasaan campur aduk yang berdesak-desakan di sana.
Tangan dilambaikan sebelum Akashi benar-benar beranjak, lalu jendela di hadapannya terbuka menampilkan sosok Akashi yang tersenyum tipis setipis goresan pensil.
"Sampai jumpa, Tetsuya."
Walau tidak sehangat senyum Akashi kecil di dalam pigura yang ia lihat tadi, tetapi Akashi tersenyum padanya. Meskipun tatapan matanya dingin, Kuroko merasa itu agak lebih teduh.
Bangun, bodoh.
Sisanya kuserahkan padamu.
Jika sedikit saja air mata Tetsuya jatuh lagi, kupastikan kau selamanya akan terkurung di sana—
Akashi Seijuurou tersentak kaget, terduduk tegak di ranjang. Rasanya ia baru saja mendengar suara-suara yang tidak mungkin berasal dari tempat yang jauh. Kantuk masih jelas tergambar di kedua bola mata merahnya, tapi ia tiba-tiba dipaksa bangun dari tidurnya entah oleh apa. Sedetik, dua detik. Pikirannya benar-benar kosong sekarang, sampai sebuah suara yang berasal dari ponselnya di atas nakas membuat seluruh kesadarannya kembali.
Tangan yang ditutupi kaos kebesaran itu perlahan meraih ponsel sewarna rambutnya. Simpang empat tercetak jelas di dahinya ketika membaca nama yang tertera di sana.
"Tetsuya?"
Meskipun masih agak linglung, ia tidak butuh orang di sana menunggu lebih lama dari ini untuk menerima jawaban telepon darinya, jadi ia cepat-cepat menekan tombol hijau.
"Akashi-kun, di mana?"
Kerutan di dahi Akashi makin kentara. Di mana? Untuk apa bertanya ia di mana?
"Di rumah. Aku baru bangun tidur," jawab Akashi yang masih setengah linglung dengan situasi.
"Aku sudah di taman. Cepat ke sini."
Kalimat yang terdengar seperti perintah. Kerut di dahi Akashi semakin dalam tercetak. Ia masih belum mengerti, tapi akhirnya ia menjawab saja, "Aku siap-siap dulu."
"Baik."
Telepon ditutup. Pikirannya mengawang jauh, mengurut kejadian-kejadian yang belakangan ia alami. Semua jelas terputar di kepalanya. Ia mengingat semuanya, tapi rasanya ia hanya menjadi orang yang melihat, bukan mengendalikan. Tangan-tangan putih pucatnya mulai bergerak menyentuh bagian-bagian tubuhnya mulai dari wajah, badan, hingga kaki. Ia tidak ingat sejak kapan, tapi kali ini ia bisa merasakan pundaknya agak ringan.
Akashi Seijuurou bangkit. Secepat dingin menyentuh telapak kakinya saat ia menginjakkan kaki di lantai kamar berbahan marmer, secepat itu pula ia mulai memahami situasinya bahwa kejadian-kejadian yang tersusun urut di dalam kepalanya itu atas kendali dirinya yang satu lagi. Selama ini ia hanya bisa melihat tanpa melakukan apa-apa. Tapi kemudian ia mengerti, semua yang sudah ia buat berantakan sekarang sudah teratasi—oleh dirinya yang lain. Agak memalukan untuk mengakuinya, tapi ia benar-benar pengecut. Apapun itu, suara-suara yang sarat akan arogansi di dalam kepalanya sudah menghilang, Furihata Kouki sudah memilih mundur, dan hari ini ia ada janji dengan Kuroko Tetsuya.
Sepuluh menit adalah waktu yang dibutuhkan Akashi untuk mandi dan bersiap. Ia melakukan semuanya dengan gerakan serba cepat karena tidak ingin membuat Kuroko Tetsuya menunggu lebih lama. Sejenak ia memandangi dirinya di depan cermin, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Hoodie warna hitam, jeans biru gelap, sneakers merah marun yang ia ambil acak dari lemari sepatu, dan wajah mengantuknya yang masih belum hilang juga meski sudah dua kali dicuci pakai sabun.
Akashi Seijuurou sudah mahir mengendarai mobil sejak kelas 3 SMP dan mendapat surat izin mengemudi tepat setelah ulang tahunnya yang kedelapan belas. Meskipun begitu ia sangat jarang mendapat izin ayahnya pergi seorang diri mengendarai mobil, harus selalu diantar supir. Tapi saat ini ia bebas, ayahnya masih ada perjalanan dinas ke Paris sampai seminggu ke depan.
Mobil diparkir mundur, mesin dimatikan, kunci dicabut. Ia mulai melangkahkan kaki keluar. Tidak sulit baginya untuk menemukan Kuroko Tetsuya yang berhawa tipis. Ia ada di sana, melambai minta kehadirannya cepat disadari. Sepasang manik delima Akashi Seijuurou memandangi Kuroko Tetsuya dari kepala sampai kaki. Hoodie putih, jeans biru muda, sneakers abu-abu tua.
"Doumo, Akashi-kun."
Sapaan dengan wajah datar. Seketika Akashi bingung, wajah seperti apa yang harus ia tunjukkan? Di dalam kepalanya jelas ada ingatan ia sudah meminta maaf pada Kuroko Tetsuya, tapi rasanya masih ada yang mengganjal karena bukan dirinya sekarang yang mengatakan itu. Sementara Kuroko Tetsuya mulai menyadari dari tatapan mata Akashi, bahwa yang sekarang berdiri di hadapannya adalah Akashi yang ia kenal dengan sangat baik.
"Ayo. Kita beli es krim."
Tangan dingin Kuroko Tetsuya menarik lengan Akashi yang hanya diam mematung. Walau kelihatan wajahnya sedatar papan perosotan, tapi ia berusaha meredam detak jantungnya yang berdentam-dentam liar.
Entah ini bisa disebut kencan atau apa, mereka benar-benar mencari penjual es krim. Membeli dua cone rasa vanilla masing-masing untuk Akashi dan Kuroko. Kemudian mereka mencari bangku taman yang kosong. Duduk bersebalahan menghabiskan es krim dalam hening yang canggung sembari menonton anak kecil bermain kejar-kejaran. Dari pada pasangan yang berkencan, mereka lebih mirip sepasang anak kembar di luar pengawasan orang tua yang sedang berakhir pekan.
"Akashi-kun," panggil Kuroko Tetsuya pelan.
Yang dipanggil menoleh. Delima bertemu biru muda. Akashi tahu ini termasuk luar ruangan, tetapi ia merasa tersekap, terperangkap di sana. Masing-masing mereka bisa merasakan debar jantung yang kacau dan urat-urat syaraf yang menegang. Rasanya agak susah untuk bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
"Apa kau mau menemaniku ke toko buku?"
Akashi mengangguk tanpa berpikir. Jangankan ke toko buku, ke ujung dunia pun ia mau.
"Sekarang?"
"Umm ... boleh."
Sekilas awan melintas, menutupi matahari untuk sejenak. Saat itu pula mereka beranjak, berjalan berdampingan menuju mobil Akashi yang diparkir tidak jauh dari tempat mereka duduk menghabiskan es krim.
Tombol pada kunci ditekan Akashi, menimbulkan bunyi alarm tanda mobilnya ada di sana. Mereka sama-sama masuk ke dalam, memasang sabuk pengaman. Akashi mengatur suhu pendingin terlebih dahulu sebelum kakinya menginjak pedal gas dan melaju menuju toko buku.
Sepanjang perjalanan yang hanya butuh waktu sepuluh menit, Akashi sepenuhnya memusatkan atensinya pada jalan raya. Bunyi klakson dan deru mesin kendaraan berdengung di telinganya seperti orkestra yang diaransemen gagal. Lalu lintas benar-benar padat. Sementara Kuroko mengamati Akashi diam-diam. Meyakini dirinya sekali lagi bahwa ini benar Akashi yang sejak awal ia kenal, Akashi yang selalu bisa menemukan dirinya.
Perlahan kecepatan laju mobil Akashi berkurang, lalu memilih jalur kiri sebelum benar-benar berhenti tepat di depan toko buku yang ia masih sangat jelas mengingatnya. Dulu Kuroko pernah meneleponnya untuk meminta tolong dijemput karena hujan turun dan tidak ada payung, tapi ia terlambat datang.
Setelah mobilnya benar-benar berhenti, ia bisa melihat Kuroko Tetsuya semacam mengatakan sesuatu padanya, tapi ia tidak begitu menyimak sebab sedari tadi pikirannya sibuk sendiri.
Tangannya bergerak meraih tangan Kuroko Tetsuya tepat sebelum pintu mobil dibuka. Refleks Kuroko berhenti selama sepersekian detik, pun dunianya. Ia balas menatap Akashi yang menatapnya dengan tatapan yang mengandung banyak makna.
Hening selama beberapa kali degup jantung sebelum Akashi berujar canggung, "Maaf, Tetsuya."
Kuroko hanya diam, merasakan kehangatan yang perlahan mengalir dari genggaman tangan Akashi.
"Mungkin kau butuh waktu untuk memaafkanku, dan aku juga butuh waktu untuk memaafkan diriku sendiri. Tapi, Tetsuya, aku hanya ingin mengatakannya, kalau aku mencintaimu."
Sepasang mata biru muda Kuroko Tetsuya menatap Akashi Seijuurou nyaris tidak berkedip. Ia mencoba meyakinkan diri, bahwa apa yang baru saja Akashi ucapkan dengan cukup jelas bukan gaung imajiner yang hanya ada dalam fatamorgana pikirannya.
Tatapan mereka saling bertemu, konfirmasi tanpa kata. Perlahan jantungnya pun mulai berdetak dalam ritme yang berbeda dari biasanya.
Perihal memaafkan Akashi, Kuroko sudah lama melakukannya. Bahkan ia sudah sampai pada tahap mengubur dalam-dalam perasaannya sendiri dan tidak menyalahkan siapa-siapa kecuali dirinya yang terlalu pengecut untuk sekedar mengutarakan perasaan. Pelan-pelan ia mulai bisa memaafkan dirinya sendiri dan menerima semua sebagai kenyataan sederhana yang harus ia jalani. Berbeda dengan Akashi yang sejauh ia lihat dari sorot matanya masih diselimuti rasa bersalah. Tetapi memaafkan diri sendiri menjadi hal yang hanya bisa diselesaikan oleh Akashi sendiri, bukan dirinya.
Satu tangan Kuroko Tetsuya yang bebas bergerak menutupi tangan Akashi yang menggenggam tangannya, mengalirkan kehangatan pada jari-jemari yang mulai terasa dingin. Sekali lagi ia ingin menunjukkan pada Akashi, bahwa ia masih jatuh cinta—jatuh cinta dengan segenap jiwa.
"Aku juga mencintai Akashi-kun. Mungkin kita bisa memulai lagi saat kau dan aku sudah benar-benar siap. Supaya kita tidak saling menyakiti."
Akashi mengangguk. Ia tidak menemukan alasan mengapa ia harus tidak setuju.
Pada akhirnya, memaafkan adalah proses panjang untuk berdamai dengan diri sendiri. Akashi Seijuurou paham. Ia hanya perlu menyelesaikan masalahnya dan kembali pada Kuroko Tetsuya—mencintainya seperti seharusnya.
END
A/N
Haha. Finally finish yey!
Semoga ini ga mengecewakan pembaca sekalian ya. Aku gabisa nemuin ending yang lebih bahagia dari ini. Wkwk. Sorry.
Terima kasih aku ucapkan buat para pembaca sekalian yang masih betah nunggu bertahun-tahun lamanya. Jujur aja aku terharu tiap liat email masuk masih ada review di story ini :') Jujur lagi nih, review-review itu yang membuat hatiku tergerak untuk menyelesaikan kisah cinta segitiga ini. Terima kasih banyak! Kusayang kalian!
Umm ... mungkin sedikit penjelasan ya karena aku liat di kotak review ada yg nanya .jadi sebenernya tuh dari awal aku emang berencana pake dua kepribadian Akashi. tapi saat nulis chapter 1 tuh aku lupa kalo bokushi dan oreshi itu beda cara manggil nama orang. karena udah terlanjur jadi yauda aku lanjutin aja .teehee~
Dan benarnya aku berencana buat bikin sequel dari cerita ini sih. Tapi mungkin dalam beberapa waktu kedepan. Hehe. (Well ya setidaknya ceritanya sudah finish) Doain aja jadwal aku agak senggang. Semoga juga di tengah pandemi ini kita sehat selalu ya!
Last but not least, kritik dan saran yang membangun sangat aku butuhkan. Terima kasih! Sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya, ya! :*
