UNTITLE
Wiell
Disclaimer :
Cerita ini milik saya, jika ada kesamaan bukan suatu kesengajaan. Typo berserakan yang teman-teman.
Baekhyun tak menduga jika pertemuannya dengan Chanyeol akan membuat hidupnya jungkir balik. Hal terjadi diluar rencananya dan mengubah perasaannya bagai telapak tangan. Pernikahan dadakan hingga tetek bengek warisan yang memuakkan.
[CHANBAEK]
Baekhyun maupun Chanyeol tertunduk, malu setengah mati dihadapan tuan Park. Mereka berdua layaknya dua pasangan yang tengah terciduk berbuat mesum di balik rimbunan ilalang. Sungguh Baekhyun teramat malu hanya untuk sekadar mengangkat wajahnya.
"Apa kalian memang ingin segera menikah? Aku tidak keberatan. Kami bisa mengaturnya untuk minggu depan," ucap Tuan Park pertama. Raut wajahnya memang teramat santai untuk ukuran orang tua yang memergoki anaknya tengah berbuat intim dengan bertindihan di ranjang.
"Ayah, kami tidak melakukan hal lebih. Hanya sebuah kecupan."
Baekhyun semakin memalu pada kalimat yang Chanyeol utarakan. Mungkin urat malunya sudah menghilang. Sekali dua kali ia mencubit pada lengan berisi Chanyeol yang membuat ringisan kesakitan.
"Tidak, kami masih belum siap. Itu tadi hanya kecelakaan kecil," jawab Baekhyun sembari tersenyum.
"Aku tidak masalah dengan itu. Tapi aku ingin kalian menikah secepatnya. Dan ya, kalian bisa membuatkan kami cucu yang tampan."
Tolong.
Baekhyun sungguh gila. Desakan menikah padahal mereka tidak memiliki hubungan melebihi dua orang yang baru kenal. Baekhyun ingin ia menikah satu kali dalam seumur hidup. Bukan untuk bermain-main, ia menganggap suci sebuah pernikahan. Ikatan dua orang yang saling mencintai yang kemudian di ikat dengan pernikahan yang akan menghasilkan keturunan sebagai buah cinta mereka berdua.
"Sepertinya aku tidak bisa menuruti permintaan anda. Sebenarnya aku dan Chanyeol, kami tidak -"
Ucapannya terpotong ketika Chanyeol merangkul bahunya erat, memberikan senyuman yang bagi Baekhyun menyebalkan, "kami akan menikah bulan depan. Kalian bisa mengatur semuanya."
"Hei -"
"Benarkah? Baiklah, kami sangat bahagia. Aku akan segera mengurus semuanya. Tidak perlu khawatir, dan Baekhyun bukankah kau memiliki seorang kakak? Katakan kami akan segera kesana dan membicarakan tanggal baiknya," sela nyonya Park. Menatap berbinar dibelakang sang suami yang duduk di sofa single. Ia kemudian segera pergi, dengan meremat ponselnya gemas. Ia sangat bahagia.
Sementara Baekhyun merengut kesal. Ia segera beranjak dan pergi ke kamar ketika tuan Park juga pergi. Chanyeol terlalu berlebihan, tidak ada pernikahan seharusnya. Ini melenceng terlalu jauh.
"Chanyeol, kau tahu, itu sudah terlalu berlebihan."
Baekhyun melipat kedua tangannya menatap Chanyeol tajam. Lelaki tinggi itu juga tampak santai. Seolah hal ini bukanlah hal yang aneh dan wajar saja. Duduk disofa dengan menyilangkan kaki juga melipat tangan rapat. Ditambah raut wajahnya yang menyebalkan.
"Sejujurnya ini memang melenceng terlalu jauh dari perkiraanku. Aku tidak menyangka ibu akan menyetujuinya secepat ini. Karena biasanya ibu tidak pernah cocok dengan teman kencan yang aku bawa kemari," ucap Chanyeol. Kembali mengingat tentang teman kencan yang dibawanya ketika sang ibu terus mendesaknya menikah, walaupun Chanyeol tak benar menyimpan rasa pada mereka.
"Lalu apa? Aku tidak bisa Chanyeol. Aku punya hal lain yang perlu kuurus. Diluar itu aku juga masihlah seorang mahasiswa."
"Aku mohon, bantulah aku sekali lagi. Aku akan melakukan apapun untukmu," ucap Chanyeol lagi. Ia memohon dengan menggosokkan kedua telapak tangannya berulang kali. Tatapannya dibuat semelas mungkin.
Sedangkan Baekhyun ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia bingung. Hingga desakan Jongin yang menyuruhnya menikah masuk kembali ke ingatannya. Tidak ada alasan yang masuk dengan itu semua.
"Baiklah, aku akan membantumu, hanya saja –"
"Ya? Katakan apa maumu,"
UNTITLE 7
Hari ini Jongin kembali menemui Baekhyun, namun ia tidak menemukannya dirumah. Penjaga bilang bahwa Baekhyun sudah lama tidak dirumah. Meraih ponselnya dan memutuskan untuk menghubungi adiknya yang belum diketahui keberadaannya, namun hingga dering ke tiga belum ada jawaban padahal Baekhyun selalu membawa ponselnya kemanapun.
'Halo?'
Suaranya berbeda, lebih berat dan khas seperti orang yang baru bangun tidur.
'Baekhyun?'
'Ah, Baekhyun masih tidur. Apa kau ingin menyampaikan sesuatu?'
'Tolong katakan pada Baekhyun untuk menghubungiku nanti.'
'Tentu,'
'Dan siapa kau?'
'Aku kekasihnya.'
Jongin langsung mematikan panggilan. Kekasih? Bukankah Baekhyun mengatakan jika ia tidak memiliki kekasih. Lalu siapa lelaki yang sedang bersamanya itu, bahkan ini masih pagi dan bisa dipastikan jika mereka memanglah sedang bersama dan mungkin tidur bersama.
Disisi lain Baekhyun baru membuka matanya ketika Chanyeol selesai mengangkat teleponenya. Matanya terlalu berat karena tidak bisa tidur dan memikirkan segala kemungkinan yang terjadi di masa depan.
Baekhyun menguap sekali, "siapa?", meregangkan tubuhnya yang kaku karena posisi tidur yang miring dan nyaris jatuh dari ranjang.
"Byun Menyebalkan,"
"Hah? Apa yang dia katakan?" tanya Baekhyun kaget. Jongin pasti curiga dan berfikir macam-macam karena Chanyeol yang mengangkat ponselnya.
"Hanya kau disuruh menelponnya nanti."
"Tidak ada lainnya?"
"Tidak,"
Baekhyun bersyukur sekali. Mungkin ia harus mengurangi sedikit rasa khawatirnya. Hanya saja Baekhyun tak tahu jika Chanyeol mengatakan hal yang sangat penting.
UNTITLE 7
"Baekhyun bukankah kemarin kau mengatakan padaku jika kau tidak memiliki kekasih?" tanya Jongin langsung.
Saat ini mereka sedang berada di restoran yang lokasinya dekat dengan kampus Baekhyun. Mendadak Baekhyun memilik jam kuliah yang membuatnya dan Chanyeol harus segera pulang ke apartement. Hingga Jongin kembali menghubunginya dan membuat janji temu.
"Aku memang tidak punya kekasih," tukas Baekhyun langsung. Sore ini sedikit mendung dan Baekhyun tidak membawa mobil pun dengan alat pelindung dari hujan. Mungkin ia akan pulang dengan bus nantinya sebab Chanyeol juga tidak bisa menjemput.
"Katakan padaku siapa yang mengangkat ponselmu tadi pagi,"
"Ah, dia temanku."
"Dan kalian tidur bersama?"
"Tidak, lagipula apa urusannya dengan mu? Kalaupun aku punya kekasih juga tidak berpengaruh padamu."
"Apa pekerjaannya? Baiklah itu tidak penting juga. Kapan kau akan menikah dengannya?"
Baekhyun memandang tidak percaya pada sang kakak, kenapa Jongin terus membahas hal yang sama saat mereka bertemu? Tidakkah ada hal seperti perasaan merindukan pada sang adik satu-satunya? Ia heran mengapa semua orang mendesaknya menikah sedangkan usianya masihlah muda.
"Bukankah aku sudah mengatakannya kalau aku belum ingin menikah?" Baekhyun berdiri, mengambil tasnya kemudian pergi. Mengabaikan Jongin yang sepertinya masih ingin berbicara. Tapi maaf Baekhyun tak peduli.
Bahkan teriak kakaknya pun tak di hiraukannya.
Sedangkan Jongin, ia mengepalkan tangannya. Kesal karena Baekhyun dengan seenaknya pergi. Jika memang Baekhyun sudah punya kekasih semua akan semakin mudah. Yang dilakukannya sekarang adalah mencari tahu siapa orang yang mengaku jadi kekasih adiknya.
UNTITLE 7
Ditengah jalan, tiba-tiba hujan turun. Cepat-cepat Baekhyun berlari ke halte yang sepi dalam jarak 30 meter didepannya. Kaosnya hanya sedikit basah pada bagian depan, sepatunya hanya basah pada bagian luarnya namun tasnya lumayan basah. Tidak apa, Baekhyun tidak membawa banyak buku ditasnya sehingga tak begitu jadi masalah.
Angin berhembus dan membuat Baekhyun bergidik dingin, hujan ternyata lumayan deras dan jalanan sepi. Bahkan jumlah mobil yang lewat dapat dihitung dengan jari, sedikit menyesal karena mungkin ia bisa meminta tumpangan pada Jongin dengan utuh tanpa basah secuil pun.
Tin. Tin.
Sebuah mobil merah berhenti didepannya. Orang disampingnya hanya bermain ponsel tak peduli, dan itu berarti bukan salah satu kenalannya. Seingatnya Baekhyun tak memiliki teman dengan warna mobil semacam itu. Mobil itu terlalu mahal untuk golongan mahasiswa. Asik dengan pikirannya tak sadar saat tiba-tiba sebuah payung putih tampak disisi lain membawa sosok yang sungguh tak ingin Baekhyun temui.
"Ayo, aku akan mengantarmu pulang."
Dasar tua bangka menyebalkan!
"Tidak perlu, aku akan menunggu bus."
"Ayolah, aku akan mengantarmu dengan selamat."
"Lagipula bus sebentar lagi datang."
"Aku tidak menerima penolakan darimu."
Baekhyun menghela napas pasrah saat tasnya yang basah diangkat untuk berpindah pada mobil mahal itu. Ya Tuhan.
"Baekhyun," panggilnya lagi, saat Baekhyun hanya diam.
"Baiklah,"
tidak ada pembicaraan dalam mobil oleh dua orang lelaki itu. Baekhyun sibuk menatap keluar jendela, hujannya deras dan merata keseluruh daerah dengan awan kelabu yang gelap.
"Aku tidak pernah melihatmu di halte itu Baekhyun."
"Ah, ya. Hanya saja kebetulan hari ini aku naik bus, hyung."
"Dan beruntung kau bertemu denganku."
"Ya, Sehun hyung."
Bersambung –
Note Chapter 7 :
Haloow.. lama sekali ya update nya. Gak berharap lebih hanya semoga kalian suka ya. Alurnya memang lambat sekali karena aku menjabarkan kejadiannya dan semoga kalian betah bacanya. Boleh tinggalkan review sebagai masukkan untuk kedepannya.
Thanks ya yang sudah baca. Luv.
