10/Oktober/2020


Ini adalah sebuah cerita yang khusus dipersembahkan untuk para penulis di akun Author Icha-chan Ren


—Shinobi with Magic—

By: Abidin Ren

Summary: Ramalan itu sudah lama disebutkan. Dan hanya tinggal menunggu waktu … sampai ramalan itu terjadi. Tidak peduli dengan dirinya yang dianggap aib oleh warga desanya sendiri, dia akan tetap terus melangkah ke depan. Dengan seiring bertambah rasa tidak sukanya kepada gelar pemimpin, dia akan menunjukkan kekuatannya. Naruto, jalan seperti apa yang akan kaupilih?

Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto.

Sedikit Tambahan Elemen [Fate Series] © Type-Moon.

Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikit pun untuk merugikan pihak manapun.

This Story Created by Me

Genre: Advanture — Fantasy — Friendship — Romance(?) — Comedy(?).

Pair: NaruShion, MenmaHina, dan SasuSaku.

Rated: T+

Warning: Alternate-Reality! (AR!), All-Human! (AH!), Mini Slight Crossover! MAGIC-POWER! OOC(s)(?), OC(?), MAIN WARN FOR SEMI-CANON & OUT OF CANON, And Many More. [Mengambil Elemen Kekuatan Dari Fate Series].

.

Happy Reading, Minna-san~

Enjoy It~

Please Like, Favorite, and Review!

.


[Prologue]


[Chapter 7]: Bersamaan dengan Tujuannya Berlatih, Tekadnya pun Semakin Tumbuh dengan Kuat


Opening: Aimer — Brave Shine (Opening dari Anime Fate/Stay Night: UBW Season 2)


Pagi hari di desa Konoha.

Uchiha Sasuke saat ini sedang berada di bukit Hyouko ….

"Hn. Tak kusangka …, kalau mengendalikan bola api lebih susah daripada yang kubayangkan," gumam bocah berambut seperti pantat ayam tersebut.

"Oi, Teme! Apa yang sedang kaulakukan?" panggil sebuah suara yang sangat dikenali oleh Sasuke. Dia membalikkan badannya dan dapat dirinya lihat, Menma—orang yang memanggilnya tadi—berjalan ke arahnya.

"Aku sedang melatih Hosenka no Jutsu-ku," jawab Sasuke saat Menma sudah ada di depannya.

"Apa?! Sialan kau, Sasuke! Kenapa kau selalu punya jutsu baru setiap hari, sih?!" teriak Menma sambil menunjuk-nunjuk muka Sasuke.

"Hn. Bukan, Dobe. Itu masih sama seperti jutsu-ku yang kemarin-kemarin, yaitu Goukakyuu no Jutsu. Aku hanya mengubah semburanku untuk memvariasikan api yang keluar dari mulutku," jelas Sasuke panjang lebar.

Menma menekuk wajahnya dengan sebal sambil melipat tangannya di depan dada. Dia kemudian berucap, "Gak usah berkata sok pintar dengan menggunakan bahasa seperti itu, Teme. Dan lagi, kenapa kau tidak mau mengajariku jutsu-mu itu, sih?!"

"Hn." Sasuke tersenyum, "Sebelum kau memelajari sebuah jutsu, sebaiknya kau perbaiki dulu lemparan shuriken-mu itu, Dobe."

"Heh …." Tiba-tiba Menma tersenyum misterius. Dan tentu saja, hal itu membuat Sasuke mengernyitkan dahinya, "Jangan meremehkanku, Teme. Asal kau tahu saja, aku kemarin sudah berhasil menciptakan jutsu shuriken-ku sendiri, tahu!" Dia tersenyum bangga.

"Benarkah, Dobe?" tanya Sasuke tidak yakin dengan apa yang dikatakan bocah Namikaze itu.

"Hehehe …, kau lihat saja, Teme. Kalau aku berhasil menggunakan jutsu shuriken-ku ini, berhentilah memanggilku Baka, Dobe, dan segala tempat pembuangan kata kotor lainnya," kata Menma. Dia mengambil lima shuriken dari kantong senjatanya. Di masing-masing lubang shuriken sudah diikat benang kawat, yang diujungnya telah dibuat lingkaran, lalu ia pasang di kelima jari tangan kanannya.

"Hn. Lakukan sesukamu, Dobe."

"Haha! Kau baru saja mengatakannya! Akan kubuat kaumenelan kembali kata-katamu-dattebayou!" Menma memegang kelima shuriken di tangan kanannya, lalu tanpa aba-aba langsung melemparnya ke arah pohon yang ada di depannya …, dan kelima shuriken itu pun hanya melewati pohon yang dimaksud ...

Dengan cepat Menma menarik kembali kelima jarinya, lalu menggerakkan tangan kanannya asal-asalan. Dengan ajaibnya, kelima shuriken tadi pun bergerak mengikuti sesuai arah gerakan tangan si bocah Jinchuriki.

Mata onyx Sasuke menajam melihat pergerakan shuriken tersebut.

Menma menyeringai senang. "Hehe …! Lihat ini, Teme! Shuriken Tekunikku: Kontororu Go Yubi!"

Swuush …. Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!

Kelima shuriken tadi pun menancap di tanah dekat pohon yamg menjadi incaran Menma ….

Tik ….

Tik ….

Tik ….

"Hn. Bagus, Dobe."

"Jangan menghina, Teme!"

Sasuke menggeleng. "Tidak. Itu tadi jutsu yang bagus." Dia menggerakkan handseal. Setelah menghirup udara, Sasuke menyemburkan api ke arah kelima benang kawat yang di setiap ujungnya sudah ada shuriken. "Katon: Ryuuka no Jutsu."

Brooaar …. Blaaarr …!

Pohon itu pun terbakar saat jutsu katon Sasuke yang merambat di lima benang kawat tadi sampai pada ujungnya.

Mulutnya mengeluarkan sedikit asap. "Lihat, bahkan jutsu anehmu menjadi sangat mematikan saat kugabungkan dengan jutsu katon-ku …."

Menma memandang pohon terbakar di depannya dengan iris bergetar pelan, "Mungkin kau benar, Sasuke. Tapi …" dia memandang jari tangannya yang masih terikat benang kawat, kemudian kembali memandang pohon terbakar didepannya, "… aku baru sadar kalau kaupunya jutsu baru. Sialan kau, Sasuke!" teriaknya yang ditujukan pada bocah Uchiha itu. Dia mencak-mencak gaje.

"Hn. Sudah kubilang, Menma." Sasuke yang saat itu memandang ke arah langit, mengalihkan kedua matanya pada bocah Namikaze disampingnya itu, "Aku hanya memvariasikan semburan jutsu katon-ku."

Menma hanya mendengus pelan. Sasuke tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh, iya, karena kau tadi gagal menggunakan jutsu-mu …, maka aku masih boleh memanggilmu Baka, Dobe, ataupun segala tempat pembuangan kata kotor lainnya, 'kan?" tanyanya sambil memasang wajah tanpa dosa. Ya, datar.

Menma menunduk dengan kepalan tangan kanan yang terkepal kuat. Dia sedikit menggeram saat menyebut nama si bocah Uchiha itu …

"S-Sa-Sasukeee …!"

Duakh! Buakh! Drak!

Keduanya pun mengawali pagi mereka dengan acara tonjok-menonjok.

.

.

—Shinobi with Magic—

.

.

Di dalam hutan dekat sebuah rumah yang berada di luar Desa Konoha, tampak Naruto yang sedang berlatih bersama Shirou.

"Ayo, Naruto! Apa hanya segini saja kemampuanmu~," kata Shirou dengan nada untuk membuat orang kesal.

Sementara itu, Naruto yang berdiri tidak jauh di depan Shirou hanya menekuk wajahnya sebal. "Diam kau, Sensei!" teriak Naruto, "Kita baru saja mulai dan aku belum serius melawanmu!"

"Oooh~"

Naruto menggelemetukkan giginya ketika mendengar nada suara Shirou yang seperti mengejek dirinya, lagi. Bocah berambut merah jabrik itu memandang kedua tangannya yang masing-masing menggenggam pedang.

Di tangan kanannya, terlihat sebuah pedang yang didominasi warna putih. Di bagian pangkal pedang dan dekat dengan gagang pedang, ada sebuah simbol lingkaran Yin-Yang. Di atas simbol tadi ada bentuk segitiga lancip yang lumayan panjang berwarna hitam. Gagang pedangnya sendiri diikat oleh semacam kain perban berwarna coklat. Pedang ini bernama Bakuya.

Sedangkan di tangan kirinya, terlihat sebuah pedang yang sama persis seperti di tangan kanan Naruto. Mulai dari bentuk, simbol, dan ciri lainnya. Semuanya memiliki kemiripan yang sangat sempurna, tetapi hanya warnanya saja yang berbeda. Pedang itu lebih didominasi warna hitam. Nama pedangnya adalah Kanshou.

Kedua pedang itu bernama Kanshou dan Bakuya. Pedang berwarna hitam-putih itu bagaikan melambangkan kekuatan dari Yin-Yang.

Naruto mengalihkan pandangannya ke depan, menatap tajam ke arah sensei-nya yang masih berdiri dengan santai di depannya tanpa membawa apapun. Kedua tangannya kosong saat ini.

Swuush ….

Naruto berlari menuju arah kiri Shirou. Pria itu hanya melirik pergerakan dari muridnya.

Tap. Saat sudah berada di samping Shirou, dengan gerakan secepat yang dia bisa, Naruto menebaskan pedang di tangan kanannya secara menyamping …, tetapi dapat dihindari dengan mudah oleh laki-laki itu dengan cara menggeser tubuh bagian kanannya sedikit ke belakang.

Melihat serangan pertamanya gagal, Naruto kembali menyerang dengan melesatkan pedang di tangan kirinya ke arah perut Shirou, berniat menusuknya.

Mata abu-abu itu menajam. Dengan cepat, dia melesatkan tinju tangan kirinya ke arah lengan kiri Naruto. Terdengar bunyi "Daak!" pelan saat pukulan itu mengenai targetnya, sehingga membuat jalur tusukan pedang itu berubah.

Shirou memutar tubuhnya pelan, kemudian melesatkan siku kanannya menuju kepala Naruto.

Duagh!

"Guh!" Satu serangan berhasil Naruto terima. Dia menarik tubuhnya tiga langkah ke belakang. Kepalanya terasa pusing saat ini. Bocah itu kembali mengaduh pelan.

"Jangan hanya fokus ke satu titik, Naruto! Perhatikan juga sekitarmu! Kauharus bisa memperlebar jarak pandangmu!"

Setelah menggeleng pelan akibat pusing yang dia rasakan, Naruto berlari memutari Shirou secara sempoyongan. Pusing masih dia rasakan.

'Sial! Aku tidak menemukan celah sedikit pun untuk menyerang Shirou-Sensei!' batinnya kesal. Matanya bergerak liar mengamati daerah sekitar Shirou.

Shirou tersenyum kecil saat melihat ekspresi serius Naruto. Bocah itu masih berlari mengitari dirinya.

Naruto menghentikan larinya. Kakinya menekuk, sebelum akhirnya dia melesatkan tubuhnya menuju belakang Shirou. Pedang di tangan kanannya siap menusuk pria itu. Tanpa menggunakan energi berlebihan, Shirou menggeser tubuhnya ke kiri, membuat serangan Naruto kembali meleset.

Shirou melesatkan lututnya untuk menghantam pergelangan tangan kanan Naruto, membuat pedang yang kelebihan warna putih itu terjatuh ke tanah. Wajahnya tampak meringis merasakan sakit. Kedua mata Naruto melebar saat melihat sebuah kepalan tangan sudah berada di depan wajahnya. 'GAWAT!' batinnya.

Buaagh!

"Guaah!" Tubuh kecil itu terlempar ke belakang setelah tinju Shirou mengenai tepat hidung Naruto.

"Naruto! Jangan pernah menyerang musuhmu secara gegabah! Gunakan taktik ketika kau bertarung!" ujar Shirou tegas.

"Hai', Sensei!" Naruto bangkit dari keadaan terlentangnya. Dia mengusap darah yang keluar di lubang hidung kirinya. Setelah menciptakan kembali pedang di tangan kanannya, ia kembali menerjang Shirou dari depan.

'Ya ampun, bocah ini! Dia paham dengan apa yang barusan kukatakan atau tidak, sih?' Shirou hanya menggeleng pelan. Pria itu mengeratkan kepalan tangan kanannya, "Sudah kubilang …, UNTUK JANGAN GEGABAH!"

Kedua safirnya menajam saat melihat gurunya sudah melayangkan pukulannya. Sesaat sebelum pukulan itu megenainya, Naruto menghentakkan kakinya, membuatnya melompat sambil memutar tubuhnya beberapa kali ketika di udara. Shirou tersentak pelan saat menyadari Naruto saat ini sudah melayang di atasnya. "Oh? Boleh juga bocah ini," gumam pria itu senang sambil melirik ke atas. Dia memutar tubuhnya.

Tap! Naruto mendarat dengan sempurna.

"Hehe, siapa juga yang gegabah, Sensei?" Naruto berbalik sambil menyabetkan pedang di tangan kirinya dari bawah ke atas. Shirou mengangkat kaki kanannya untuk menahan pedang itu menggunakan sepatunya, lalu menginjaknya, membuat Kanshou terlepas dari genggaman Naruto, "Apa?!" pekiknya tidak percaya.

"Gerakanmu masih terlalu lambat, Naruto."

"Cih!" Naruto menyabetkan pedang di tangan kanannya secara horizontal, tetapi pergelangan tangannya berhasil ditangkap oleh Shirou. Dia memelintir sedikit tangan bocah itu, membuat Bakuya jatuh ke tanah. Shirou memukul wajah Naruto secara cepat, membuatnya mundur beberapa langkah.

"Keh!" Dia meringis pelan dengan sebelah mata yang tertutup. Tapi setelahnya, rasa terkejut langsung menghampirinya saat dia melihat gurunya sudah berada di depannya dengan kaki kanannya yang terangkat. Naruto menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menahan tendangan cepat dari Shirou!

Duaaggh!

Shirou mengangkat sebelah alisnya saat melihat Naruto malah cuma terseret beberapa meter. Padahal dia yakin, seharusnya itu bisa membuat Naruto terpental cukup jauh. Saat dia menyadari sesuatu, pria itu tersenyum senang. "Hoo~, sepertinya … kau sudah bisa menggunakan Reinforcement Magic-mu secara cepat, ya, Naruto."

Naruto mengembuskan napas lega. Dia menatap kedua tangannya yang masih terdapat garis-garis energi sihir berwarna hijau terang. Yah, dia bersyukur karena masih sempat menggunakan Sihir Penguatan pada kedua lengannya, kalau tidak … entah apa yang akan terjadi padanya.

"Begitulah, Sensei," balasnya singkat. Dia sedang memikirkan cara agar bisa melukai gurunya. Yah, karena sedari tadi, dia bahkan belum bisa menaruh satu luka pun di tubuh Shirou, jadi tentu saja ini benar-benar membuatnya kesal.

Dia mengangguk ringan saat mendapat sebuah cara, 'Hm, mungkin ini bisa kucoba.'

Shirou mengamati Naruto yang tampak diam sedari tadi. 'Apa yang sedang kau rencanakan, Naruto?'

Naruto menegakkan tubuhnya. Dia menghilangkan Reinforcement Magic-nya, lalu kembali menciptakan Kanshou dan Bakuya di kedua tangannya.

Swuush ….

Naruto berlari menuju arah kiri Shirou. Pria itu tersenyum saat menyadari, kalau gerakan ini hampir sama seperti dengan kejadian beberapa menit yang lalu. "De javu, kah?" gumamnya.

Masih dengan berlari, Naruto melemparkan pedang di tangan kanannya ke arah Shirou, lalu dilanjutkan dengan melempar yang di tangan satunya lagi. Tapi, serangan itu berhasil dihindari dengan mudah oleh pria berambut putih tersebut.

Naruto melompat tinggi. Masih dalam keadaan melayang, dia menciptakan Kanshou dan Bakuya lagi, kemudian melemparkannya. Empat pedang meluncur menuju Shirou.

Pria itu menangkap satu pedang Naruto dengan tenang, lalu menggunakannya untuk menangkis tiga pedang yang lain.

Trank! Trank! Trank!

Tap. Naruto mendarat tidak jauh dari Shirou. "MASIH BELUM!" teriaknya. Dia kali ini berlari memutari gurunya.

'Gerakan seperti yang tadi?' batinnya bingung, 'Sebenarnya … apa yang dia rencanakan?'

Naruto menciptakan tiga kunai di masing-masing tangannya, tepat di setiap sela jarinya. Dia melemparkan semuanya menuju Shirou.

Trank! Trank!

Selama beberapa menit, keduanya terus seperti itu—Naruto yang melempari Shirou menggunakan kunai ataupun shuriken, dan pria ber-code name Archer itu yang berhasil terus menangkis semua serangan yang mengarah padanya.

Trank! Shirou menangkis sebuah shuriken yang mengincar kepalanya. "Apa kau sudah kehabisan ide, Naruto? Dari tadi, kau terus saja menggunakan cara yang sama."

"Cih!" Naruto berhenti berlari, kemudian melemparkan sepuluh shuriken yang baru saja dia ciptakan menggunakan Projection Magic-nya. Setelahnya, dia melompat tinggi.

Bunyi besi yang saling bertabrakan kembali menghiasi hutan itu, ketika Shirou berhasil menangkis semua serangan menggunakan satu pedang saja. Tapi, dia belum menyadari keberadaan Naruto yang sudah berdiri di sampingnya dengan keadaan siap menyerang.

"Rasakan ini!"

"Ap—sejak kapan kau …?!"

Traaank!

Pedang Shirou terlempar karena ketidaksigapan-nya dalam menahan serangan Naruto. Dia melompat mundur untuk menghindari tebasan ganda dari muridnya itu.

Saat Naruto ingin maju, dia dikejutkan dengan Shirou yang ternyata sudah berdiri di sampingnya. 'CEPAT SEKALI!' kagetnya.

Bocah Namikaze itu yang merasakan adanya serangan menuju kepalanya hanya melirik sesaat, kemudian dia menurunkan tubuhnya, membuat posisinya menjadi berjongkok. Pukulan samping Shirou berhasil dia hindari.

Masih dalam posisi berjongkok, Naruto memutar tubuhnya dan langsung menyabetkan pedang di tangan kirinya …, tapi terlambat. Shirou ternyata sudah melompat cukup tinggi, membuat serangan Naruto hanya menebas udara kosong.

Naruto berdiri dengan kepala mendongak. Dia tersenyum penuh kemenangan. 'Bagus! Kali ini pasti kena!' batinnya gembira, "Inilah taktik milikku, Sensei!" Itulah yang diincar Naruto. Karena sedari tadi serangannya selalu dihindari dan ditangkis oleh Shirou, maka Naruto hanya perlu mencari cara agar pria itu tidak bisa melakukannya lagi. Dan saat berada di udara-lah Shirou tidak mungkin bisa melakukan kedua hal tersebut!

'Rencanaku sukses!' Bocah berambut merah jabrik itu melempar pedang berwarna putih di tangan kanannya menuju Shirou yang masih melayang di atas dirinya.

Shirou membelalakkan matanya terkejut saat melihat serangan kejutan dari Naruto. Tapi ekspresi terkejut itu tidak bertahan lama, dan langsung digantikan oleh ekspresi tenang kembali. Setelahnya, tubuh Shirou pun menghilang, sesaat sebelum bagian tajam pedang itu menyentuh telapak sepatu kaki kirinya.

"Are? Sensei, kok, tiba-tiba menghilang?"

Naruto mendongak dengan penuh kebingungan karena gurunya yang tiba-tiba tidak ada. Dia tidak menyadari kalau Shirou sendiri sudah ada di belakangnya sambil bersidekap dada.

"Satu pelajaran untukmu, Naruto …." Mata Naruto melebar penuh keterkejutan. Dia mendengar kalau suara tadi berasal dari belakangnya, dan suara itu milik Shirou! "Ketika kau ada di dalam sebuah pertarungan, jangan hanya terfokus pada satu arah pandangan saja, tetapi juga arah pandangan yang lain. Jika tidak …"

Naruto membalikkan tubuhnya. Dan ia hanya bisa menahan napasnya ketika melihat tangan kanan Shirou yang terbuka lebar sudah menuju lehernya, bahkan jari tengahnya sudah menyentuh kulit lehernya!

"… kau bisa terbunuh!" kata Shirou tajam. Matanya memandang datar Naruto.

Selama dia menjadi Counter Guardian, pria itu sudah banyak mengalami berbagai macam pertempuran. Banyak pengalaman yang telah dia dapat dari kehidupannya dulu. Karena itu, dia akan mengajarkan segala yang dia ketahui kepada muridnya ini, tidak peduli apapun itu!

Brukh.

Naruto jatuh terduduk dengan napas tidak beraturan. Shirou sendiri sudah menarik kembali tangannya, dan kembali bersidekap dada. Matanya memandang langit yang cerah.

"Sensei curang!" Naruto menatap cemberut pada lelaki yang berdiri didepannya, "Kenapa Sensei menggunakan Sihir Teleportasi?!"

Shirou yang mendengar suara protes Naruto langsung menunduk, memandang bocah berambut merah itu yang masih terduduk di tanah. "Memangnya di awal latihan tadi aku bilang, 'kalau aku tidak akan menggunakan Sihir Teleportasi', begitu? Aku tidak berkata seperti itu, lho," katanya dengan senyuman yang menempel di bibirnya.

Naruto menghela napas pelan. 'Itu memang benar, sih …,' batinnya.

"Baiklah, baiklah …." Naruto berdiri, lalu berjalan menuju pedangnya yang dia lempar tadi. Pedang Bakuya miliknya menancap di tanah tidak jauh dari tempatnya.

Tap. Saat sudah sampai, Naruto mencabut pedang yang berdominasi warna putih itu, ia kemudian membalikkan tubuhnya, menghadap gurunya. "Nah, ayo kita lanjutkan latihannya, Sensei!" teriak Naruto tegas. Mata safirnya berkilat penuh semangat membara.

"Ooh, kau terlihat lebih bersemangat daripada sebelumnya." Shirou tersenyum melihat ekspresi Naruto.

"Tentu saja …! Tadi Sensei bilang, kalau Sensei akan mengajariku menggunakan senjata yang lain, kalau saja aku berhasil melukai Sensei menggunakan pedang ini, 'kan?" Naruto memandang sebentar kedua tangannya yang memegang Kanshou dan Bakuya, kemudian matanya menatap tajam pria berambut putih yang rambutnya diarahkan ke belakang itu, "Karena itulah, hari ini juga … aku harus bisa menyelesaikan syarat tersebut!"

Shirou mengelus pelan dagunya, kemudian bergumam, "Hm, memang benar itu syarat yang kuberikan padamu, sih …." Matanya memandang Naruto yang sudah berlari ke arahnya cukup cepat, "Jadi, jika sampai enam tahun ke depan kau tidak bisa melukaiku menggunakan pedangmu, maka aku tidak akan pernah mengajarimu menggunakan senjata yang lain!"

Swuuush …!

Naruto melompat ke atas kemudian mengayunkan kedua pedangnya ke bawah, menuju kedua bahu Shirou ….

"HYYAAAAHH!"

.

.

.

20 menit kemudian ...

Bugh. Naruto jatuh terlentang dengan debu yang menghiasi wajah dan pakaiannya. Dadanya bergerak naik-turun, mencoba mengatur udara yang masuk ke dalam paru-parunya. Pernapasannya benar-benar tidak beraturan.

"Ayo, Naruto! Dari tadi kau belum berhasil melukaiku dengan pedangmu itu, tahu!" ujar Shirou. Tangan kanannya berada di pinggangnya, "Kemana semangatmu yang tadi, heh~?"

"Berisik! Aku ingin istirahat sebentar …!" teriak Naruto. Matanya memandang langit yang sangat cerah, secerah mata safirnya …

"…. Kita sudah berlatih sejak aku pulang dari Akademi, dan aku bahkan belum makan siang. Aku lapar, Sensei!"

"Hm, benar juga, sih. Kalau begitu, kita istirahat sebentar." Shirou memandang muridnya itu yang masih tiduran terlentang, kemudian dia membalikkan badannya. "Ayo, ikut aku!"

Naruto yang mendengar perkataan gurunya, dengan segera bangkit berdiri sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "Yossha! Aku ingin makan yang banyak!" teriak bocah berambut merah jabrik itu. Senyuman lebar terpampang jelas di raut wajahnya.

Naruto akui, masakan dari gurunya itu benar-benar sangat enak! Bahkan dia berani bertaruh untuk melakukan apapun agar bisa makan masakan Shirou setiap hari. Yah, bocah itu awalnya juga cukup kaget. Dia tidak menyangka kalau pria yang bisa bertarung sangat hebat itu, bahkan juga bisa memasak makanan yang enak! Dan inilah yang bocah itu tunggu-tunggu, saatnya waktu makan siang!

Naruto pun berlari mengikuti Shirou ….

.

.

—Shinobi with Magic—

.

.

Tik ….

Tik ….

Tik ….

Swuush~ ….

Hanya embusan angin yang menerpa wajah Naruto saat dia terdiam dengan mulut menganga ….

"KATANYA ISTIRAHAT! TAPI KENAPA MASIH BERLATIH?!"

"Itu juga dinamakan istirahat, Naruto. Tapi kau istirahat sambil berlatih mengontrol ketenanganmu!" kata pria berambut putih itu dengan semangat.

Naruto sweatdrop mendengarnya. "Yang namanya istirahat, kita itu harus bersantai-santai. Mana ada istirahat sambil berlatih, Sensei," gumamnya pelan. Bocah itu pikir, mungkin kepala gurunya tadi terbentur sesuatu, hingga membuat Shirou punya pemikiran aneh yang seperti ini, 'Mana ada istirahat yang seperti ini?!' lanjutnya dalam batin dengan kesal.

"Sudahlah, lakukan saja apa yang aku katakan. Setelah selesai, kau boleh makan." Shirou berbalik, berjalan menuju pohon yang lumayan besar. Di bawah pohon itu sudah ada sebuah tikar dan juga beberapa makanan. "Kalau begitu, aku mau makan dulu. Selamat berlatih, Naruto!" kata pria itu sambil melambaikan tangan kanannya, tanpa menoleh sedikitpun. Dia benar-benar tidak mengindahkan ekspresi kesal dari muridnya itu.

Naruto yang melihat itu pun menghela napasnya. Yah, tidak apa-apa, lah. Nanti dia juga bakal dapat jatah makannya. Ia lalu berbalik. Dan dapat bocah itu lihat, sebuah batu yang berukuran cukup besar dengan bentuk bulat ada di depannya. Tapi anehnya, bagian atas batu itu malah terlihat datar.

Dengan gerakan malas, dia menaiki batu itu, yang kemudian memosisikan dirinya duduk bersila. Naruto menempelkan kesemua jari tangannya dengan cara berhadapan, sedangkan ibu jarinya bertemu tepat di ujung jari. Dia mulai menutup matanya, mencoba memberi ketenangan bagi tubuhnya dan pikirannya.

.

.

.

15 menit kemudian ….

"Waah, makanan ini enak sekali!"

Alis Naruto berkedut saat mendengar perkataan dari gurunya barusan. Tapi ia coba untuk tidak memedulikannya.

"Apa aku habiskan saja makanan ini? Kebetulan sekali, Naruto sepertinya sudah tidur."

Alis Naruto berkedut kesal, tetapi matanya masih setia tertutup. Dia mencoba untuk tetap berkonsentrasi pada latihannya ini!

"Aku bilang saja nanti kalau semua makanannya dimakan oleh binatang yang tiba-tiba datang ke sini. Hahaha …! Itu ide yang bagus!"

Alis Naruto semakin berkedut kesal. Dia sudah tidak bisa fokus pada latihannya karena terganggu oleh perkataan dari Shirou tadi. 'Jadi, ini semua cuma akal-akalan dari Sensei, agar dia bisa memakan semua makanan tadi?!' teriak batinnya marah. Bocah itu kemudian membuka matanya, kemudian langsung berdiri sambil menunjuk Shirou.

"Apa maksud dari perkataanmu tadi, Shirou-Sensei?!"

"Lho? Kau belum tidur, Naruto?"

"Mana mungkin aku tidur di saat latihan. Dan lagi …, bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk melatih ketenanganku. Tapi kenapa, kau malah menggangguku, Sensei?!"

"Sudah kuduga, kau pasti tidak mengerti arti sebenarnya dari latihan ini." Shirou yang sedang menyandarkan tubuhnya di batang pohon hanya bisa menghela napasnya. Yah, pria itu sudah berpikir, kalau pasti akan jadi seperti ini akhirnya.

Naruto memiringkan sedikit kepalanya. "Apa maksudmu, Sensei?" Dia melihat makanan yang ada di depan gurunya ternyata masih banyak, 'Eh? Kukira makanannya sudah habis tadi.' Naruto kembali memandang Shirou saat mendengar suara dari laki-laki itu ….

"Yang aku katakan tadi merupakan bagian dari latihanmu ini, Naruto. Nah, sekarang, dengarkan ini baik-baik." Shirou menunduk dengan kedua mata tertutup, "Di dalam sebuah pertarungan, tidak hanya kekuatan fisik saja yang dibutuhkan …, tetapi juga strategi, keahlian bertarung, dan pengontrolan emosi juga penting, kau mengerti?"

Shirou mengangkat kepalanya, menatap Naruto yang terdiam membisu. Iris berwarna abu-abu itu berkilat. "Itulah mengapa, di awal dulu aku perbah bilang padamu …, bahwa aku juga akan melatih kekuatan mentalmu, Naruto!" kata Shirou tegas, sekaligus mengakhiri penjelasannya.

Iris safir milik bocah itu bergetar, menandakan keterkejutannya. Kepalanya menunduk, membuat kedua matanya tertutupi oleh helaian poni rambut merahnya. 'Benar. Sudah hampir satu bulan lebih aku berlatih bersama Shirou-Sansei. Dan selama itu pula …, aku selalu bersikap kekanak-kanakkan. Juga, aku tidak terlalu memedulikan perkataan Shirou-Sensei,' batin si bocah Namikaze. Dia benar-benar menyesal.

Naruto yang saat itu masih dalam keadaan berdiri mulai mengangkat kepalanya, menatap sebentar pada orang yang menjadi gurunya itu, lalu dia membungkukkan tubuhnya ...

"Gomen, Sensei …! Maaf, jika selama ini aku … selalu bersikap kekanak-kanakkan, dan … dan maaf juga, ka-karena aku … selalu tidak menanggapi perkataanmu!" Meskipun Naruto mencoba untuk berkata dengan nada yang tegas, tetapi tetap saja suaranya terdengar bergetar.

Ya, di setiap kata yang terlontar dari mulut bocah itu, dapat dirasakan dengan jelas bahwa ada juga rasa penyesalan. Naruto menyesal karena dia selalu bermain-main saat berlatih, tidak pernah serius, dan masih banyak lagi kesalahan yang ia lakukan. Tapi dengan ini, dia berjanji akan mulai berubah. Dia akan mulai serius dalam berlatih!

Sementara Shirou yang mendengar perkataan Naruto, untuk awalnya dia memang terkejut. Tapi tidak lama kemudian, ia mulai tersenyum bangga pada bocah berambut merah jabrik yang menjadi muridnya ini. Pria itu pun membatin, 'Baguslah kalau kau sudah mulai mengerti, Naruto.'

Bocah Namikaze itu kembali menegakkan tubuhnya. "Aku berjanji …" Naruto mengepalkan tangan kanannya dan menaruhnya di depan dada, "… mulai hari ini, pada saat ini, aku akan melakukan semua yang kau ucapkan, Sensei!"

Safir itu menajam. Menunjukkan seberapa besar tekad yang dia punya. Bocah itu sudah membulatkan tekad miliknya, tekad yang sangat kuat …!

Shirou kembali tersenyum.

Setelah itu, Naruto kembali duduk bersila dan memejamkan matanya. Dia sudah berjanji pada gurunya, dan dia akan memulai lagi semuanya dari awal, memulai kembali latihannya menjadi lebih serius. Jadi, apa latihannya selama satu bulan ini sia-sia saja?

Naruto menggeleng keras. 'Tidak! Ini tidak mungkin sia-sia!' batinnya berteriak keras, 'Kalau latihanku selama ini memang sia-sia, maka aku akan melipatgandakan latihanku selama ini! Aku akan berjuang untuk mencapai tujuanku!'

Dia lupa tentang apa awal tujuan dirinya meminta dilatih oleh Shirou. Dia bodoh. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa dia bisa lupa akan tujuannya untuk menjadi kuat?! Arti penting dalam hidupnya selama ini, kenapa dia bisa sampai melupakannya?! Naruto terus mengurutuki hal itu. Dia benar-benar menyesal karena melupakan hal sepenting itu.

Tapi semua itu sudah terlewati. Dia sudah kembali mengingat tujuannya untuk menjadi kuat. Yah, dia sudah mengingatnya ….

Naruto membatin, 'Aku berjanji kepadamu, Sensei, bahwa aku tidak akan menyia-nyiakan pelatihanku bersamamu selama enam tahun ke depannya nanti. Dan setelah itu … akan aku buktikan kepada dunia shinobi ini, bahwa aku bisa menjadi ninja yang hebat …, meskipun tanpa menggunakan chakra!'

Dengan begitu … dia sudah kembali menemukan, apa yang menjadi awal tujuan dia berlatih!

Itulah … tekad kuat dari seorang Namikaze Naruto, bocah yang selalu dicaci maki oleh warga desanya sendiri!

Bersambung


Weapon's Update:

Namikaze Naruto:

Kanshou & Bakuya. Dua buah bilah pedang yang melambangkan Yin-Yang. Pedang jenis short sword yang bisa kembali ke tangan penggunanya ketika sudah dilempar. Pedang ini akan menjadi main weapon dari Naruto nantinya.

Jutsu's Update:

Namikaze Menma:

Shuriken Tekunikku: Kontororu Go Yubi. Sebuah teknik pengendalian shuriken dengan kawat baja yang diciptakan Menma. Dia sudah membuat bulatan ikatan untuk 5 jarinya agar dia bisa mengendalikan serangan shuriken-nya.

Uchiha Sasuke:

Katon: Goukakyuu no Jutsu. Jutsu elemen api Sasuke. Dengan membentuk tiga jarinya di depan mulut seperti gelembung, sang Uchiha membuat bola api yang besar.

Katon: Hosenka no Jutsu. Prinsip yang sama seperti Goukakyuu, hanya saja Hosenka berbentuk bola bola api kecil yang bisa dikendalikan. Saat ini Uchiha Sasuke belum dapat mengendalikannya.

Katon: Ryuuka no Jutsu. Api yang lebih ke bentuk semburan mendatar. Kekuatan jangkauannya cukup luas. Teknik ini (seperti cerita di atas) lebih mematikan jika digabungkan dengan teknik shuriken Menma, dengan menggabungkan semburannya di kawat-kawat shuriken Menma.


[Author's Note]:

Yo! Kembali di fic ini! Wkwkwk ….

Kalau ada yang nunggu fic The Genius Magic Student, itu update-nya nanti setelah fic Hero Without Weapon update. Jadi, ditunggu saja.

Oke kembali ke cerita ini. Di sini aku buat Sasuke sudah bisa memvariasikan jutsu katon-nya, meskipun untuk Hosenka no Jutsu masih dalam tahap pelatihan.

Dan untuk Menma di sini dia juga menciptakan jurus shuriken-nya sendiri. Lalu untuk jurus yang lain? Seperti Rasengan? Tenang, nanti dia akan dapat. Begitupula untuk jutsu yang lain.

Lalu Naruto, dia sudah berlatih lebih dari satu bulan bersama Shirou, dan peningkatannya memang tidak aku narasikan seperti apa, tapi yang jelas, dia sudah lebih hebat dibadingkan saat di chapter 6 kemarin. Kemudian, seperti yang dikatakan Shirou di atas, di dalam pertarungan itu tidak harus hanya menggunakan otot, tetapi otak juga diperlukan. Maka dari itu, setelah time skip 6 tahun nanti yang langsung menuju arc pertama, yaitu [Misi Genin] Nami no Kuni, aku buat sifat Naruto benar-benar sangat tenang. Jadi dimohon jangan heran.

Yah, mungkin cuma itu saja yang bisa aku sampaikan. Jadi, see you in the next chapter, Brother and Sister!

Special Thanks to Allah SWT.

Tertanda. [Abidin Ren]. (10/Oktober/2020).