Karena Usaha Tak Pernah Mengkhianati

JaeDo

Typo(s) everywhere!!

Thanks for reading my story

Doyoung tersenyum pada Jeno yang tertawa girang bermain bersama Haechan.

Begitu pulang dari Amerika setelah menemui orang tua Johnny, Ten memaksa pria itu untuk membawanya dan putri kecil mereka untuk kembali ke korea.

Dan di sinilah mereka sekarang, duduk melingkar dengan Jeno dan Haechan bermain bersama sementara orang tua gadis kecil itu mengerumuni Doyoung dengan tatapan dan aura yang mengerikan.

Doyoung yakin ia akan di ceramahi oleh ke dua orang itu ketika mereka mengabarkan bahwa mereka kembali ke korea dan ingin Doyoung menemui mereka sekarang juga.

"Jadi? Bisa kau jelaskan lebih rinci tentang 'aku kembali bersama Jaehyun dan kami akan menikah' yeay persetan dengan aku yang menangis karenanya dulu," sindir Ten yang kini memberengut kesal.

Johnny hanya mengusap punggung Ten yang tidak berhenti mengoceh pada Doyoung, Johnny juga kaget dan kecewa tapi ia kasihan melihat Doyoung yang terus-terusan di ceramahi oleh istrinya itu.

"Ya ini bukan rencanaku Ten, semuanya terjadi begitu cepat, sebenarnya aku saja masih belum yakin dengan semua ini,"

"Lalu kenapa kau menerimanya Kim Doyoung atau harus ku panggil kau dengan marga pria sialan itu," timpal Ten menggebu-gebu.

Ia tidak habis pikir pada Doyoung yang menerima pria itu begitu saja, setelah semua yang ia lalui karenanya.

"Sayang sudahlah, Doyoung bukanlah anak kecil yang harus kau ceramahi, ini masalahnya dan Jaehyun?" Ucap Johnny mencoba menenangkan Ten dan Doyoung mengangguk menyetujuinya.

"Tuan Suh, apa kau bodoh? Ini memang masalahnya dengan Jaehyun tapi kau tahu dengan jelas ia hanya menangis dan menderita karena pria itu, Ia bahkan memutuskan mu dulu karena tidak bisa move on dari pria sialan itu,"

"Ten/Sayang," tegur Johnny dan Doyoung kompak, mereka tidak habis pikir dengan Ten dan mulutnya yang bar-bar.

"Apa? Aku benarkan, lagipula Doyoung, kau dan Jeno sudah hidup bahagia dan baik saja tanpanya lalu kenapa, aku hanya tidak habis pikir saja, maksudku kau sadar apa yang ia perbuat padamu dulu? pada Taeyong? Karena dirinya kau dan Taeyong bermusuhan–"

"Kami sudah berbaikan Ten,"

"Aku tidak peduli! Pria itu hanya membuatmu menderita, apa kau sebegitu mencintainya hingga kau menerimanya kembali dengan mudah?" Jelas Ten panjang lebar.

"Ini bukan mau ku Ten, aku memang masih mencintai Jaehyun tapi tidak terpikirkan olehku untuk kembali dengannya, Jeno lah yang menginginkannya," balas Doyoung membela dirinya, sedangkan Johnny sudah menghilang bersama kedua bocah tadi menuju dapur, ia tidak tahan mendengar Ten yang mengomel tanpa henti.

"Karena kau memberi tahunya bahwa Jaehyun ayahnya, Jeno tidak mempermasalahkan ini pada awalnya bukan?" Sahut Ten yang mulai tenang, dan Doyoung mengangguk mengiyakan perkataan Ten.

"Lalu bagaimana bisa kau memberitahu Jaehyun bahwa Jeno putranya?" tanya Ten yang masih tidak mempercayai fakta bahwa Jaehyun dan Doyoung yang akan menikah dalam waktu dekat.

"Ini karena ibu angkatku dan ibunya adalah sahabat, rencananya mereka akan menjodohkan Jaehyun dengan adik tiri ku dan dari situlah Jaehyun mengetahui tentang keberadaan Jeno ketika kami bertemu di rumah orang tuaku dan setelahnya ia terus menanyakan tentang Jeno padaku," jelas Doyoung

"Ya kau tinggal beralasan saja bahwa ia adalah anakmu dengan pria lain, agar memberi kesan padanya bahwa hidupmu bisa berjalan dengan baik tanpanya," sahut Ten asal, membuat Doyoung tidak habis pikir dengan mulut temannya ini.

"Apa aku tampak seperti orang yang bisa berbohong dengan mudah Nyonya Suh?" Tanya Doyoung yang tidak terima dengan saran sahabatnya yang hanya menggeleng menjawab pertanyaannya.

"Lagipula bagaimana caranya aku berbohong pada Jaehyun sementara Jeno hampir mengambil semua yang ada pada Jaehyun di dirinya, aku hanya menghindari masalah yang lebih menyusahkan dari ini Ten," keluh Doyoung dan Ten mengangguk menyetujui perkataan Doyoung.

ia tidak bisa mengelak bahwa Jeno dan Jaehyun benar-benar terlihat mirip, walaupun sekilas dalam sekali tatap Ten langsung terbayang Jaehyun setiap kali ia melihat Jeno.

"Kau benar," timpal Ten menyetujui.

"Awalnya Jeno belum tahu tentang Jaehyun, ia hanya mengenalnya sebagai pria yang sering berkunjung ke rumah neneknya saja dan temannya Winwin, tapi begitu Jaehyun tahu tentang Jeno adalah anakku, aku sampai harus menghindar agar tidak bertemu Jaehyun ketika mengunjungi orang tuaku," ucap Doyoung melanjutkan ceritanya.

"Lalu kenapa kau memberi tahunya?"

"Jaehyun bersikeras dan mendatangiku, ia meminta penjelasan padaku lalu mengakui tentang perasaannya, sejujurnya aku hampir luluh tapi aku sadar menerima Jaehyun tidak semudah yang ku inginkan, aku bilang bahwa Jaehyun bisa mengakui dirinya pada Jeno, toh Jeno senang saja tapi tidak denganku aku tidak akan mengakuinya sebagai ayahnya,"

"Kupikir setelah mengatakan itu Jaehyun akan putus asa atau menyerah tapi tidak, ia justru memberitahu ibunya tentang Jeno," jelas Doyoung yang masih serius bercerita pada Ten bahkan kedua wanita itu tidak menyadari Johnny yang telah kembali dengan kedua anak mereka.

"Bukankah itu licik," sahut Johnny yang baru kembali dan duduk di samping Ten.

"Ya benar! bagaimana bisa ia membawa ibunya kedalam permasalahan kalian, ia bukanlah remaja yang baru saja di hamili, sebaliknya ia justru menghamili mu dan pergi begitu saja,"kesal Ten.

"Tidak Ten, akulah yang memutuskan hubungan kami,"ucap Doyoung yang terkesan melindungi Jaehyun.

"Oh ayolah berhenti membelanya, lagipula jika memang harus membawa orang tua maka kaulah yang seharusnya melakukan itu Doyoung, kau yang hamil dan membutuhkan pertanggung jawaban darinya, tapi apa? kau tidak melakukannya," sambung Ten.

"Karena aku tidak tahu apakah Jaehyun akan menerimanya, aku tidak yakin Jaehyun menginginkan bayiku, terlebih aku sedang salah paham pada Jaehyun dan Taeyong," jelas Doyoung yang masih membela Jaehyun, ia bukannya membela Jaehyun hanya saja ia tidak bisa menyalahkan Jaehyun sepenuhnya.

'Hah naif sekali wanita ini' pikir Ten dan Johnny mendengar pernyataan Doyoung barusan.

"Yayaya terserahlah?" Ucap Ten yang mulai jengkel.

"Kemudian ibunya mendatangiku, melalui ibu dan ayahku, ia sudah terlebih dahulu memberi tahu mereka sebelum meminta untuk bertemu denganku dan Jeno," sambung Doyoung bercerita.

"Jika harus jujur, maka Ibu Jaehyun sangat baik hanya saja ia berkali-kali lebih keras kepala dari Jaehyun, di hari kami bertemu ia langsung memaksaku untuk menceritakan semuanya, dan yah aku lalu memberitahu mereka tentang Jeno dan Jaehyun, memberitahu Jeno bahwa Jaehyun adalah ayahnya dan Jeno menerimanya seperti apa yang kukatakan pada Jaehyun tapi aku tetap pada pendirian ku, aku belum bisa menerimanya,"

"Lalu apa yang terjadi? sekarang kalian justru bertunangan, bahkan kalian akan menikah sebentar lagi," gerutu Ten.

"Itu karena setelahnya Jaehyun mulai sering berkunjung ke apartemenku, menghabiskan waktu dengan Jeno, dan melakukan semua hal yang mereka lewatkan sebelumnya,"

"Dan Jeno mulai mempertanyakan Jaehyun padaku, kenapa ayahnya tidak pernah berada di rumah sepanjang waktu, kenapa Jaehyun terus pergi meninggalkannya," jelas Doyoung yang membuat Ten dan Johnny terdiam mendengarnya mengerti ke mana cerita Doyoung mengalir.

"Sampai hari dimana kami pergi makan malam bersama, Jeno tidak ingin lepas dari ayahnya, dan keesokan paginya aku mendapati Jeno menangis histeris mencari ayahnya," Doyoung bercerita sembari menggigit bibir bawahnya menahan tangisnya.

"Dari situ aku sadar, masalah ku dan Jaehyun bukan hanya tentang kami saja, karena sekarang ada Jeno di antara kami, bagi ku dan Jaehyun kami hanyalah orang asing tapi bagi Jeno ia terikat pada kami dan Jeno menginginkan keluarganya, ia memang sudah memiliki diriku sebagai ibunya tapi ia juga menginginkan ayahnya seutuhnya, ia ingin keluarga bukan ayah yang datang dan menemuinya lalu pergi begitu saja," Doyoung lalu memegang tangan sahabatnya karena kini Ten justru menangis,

"Kau bisa membayangkannya jika berada di posisiku kan Ten? Jeno mungkin tidak pernah mengatakannya padaku tapi aku yakin ia selalu menginginkannya," tanya Doyoung dan Ten mengangguk cepat mengiyakan, wanita itu masih menangis dan tiba-tiba saja memeluk Jeno yang bingung dengan tingkahnya bahkan putrinya mengusir Ten untuk tidak mengganggu Jeno dan dirinya yang di abaikan begitu saja oleh Ten.

"Karena itu aku memutuskan untuk menerima Jaehyun kembali walaupun aku sendiri masih ragu," ucap Doyoung mengakhiri cerita dengan sedikit berbisik membuat Johnny dan Ten menatapnya bingung.

"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Johnny di setujui oleh istirnya yang masih memeluk Jeno.

Doyoung hendak menjawab Johnny tapi ponselnya berdering,yap itu ponsel baru yang di belikan oleh Jaehyun untuknya, walaupun beberapa data Doyoung ada yang hilang seperti kenangannya dengan Johnny tapi Doyoung tidak mempermasalahkannya toh Johnny sudah berbahagia dengan Ten, itu hanyalah kisah singkat yang terjadi di antaranya dan pria itu.

"Ah Jaehyun menelfon," ungkap Doyoung, begitu ia akan mengangkatnya panggilannya mati begitu saja dan kini bel pintu rumah Johnny dan Ten lah yang berbunyi membuat semua yang ada di ruangan tersebut menoleh ke arah pintu.

"Biar aku saja yang buka," ucap Johnny menahan Ten yang hendak bangkit.

Johnny lalu membuka pintu rumahnya, mulutnya yang tadinya hendak menyapa kini bungkam begitu saja begitu melihat bahwa Jaehyun lah yang datang, seharusnya ia biarkan Ten saja yang membuka pintu, sesalnya.

"Appa!" Teriak Jeno begitu melihat ayahnya lah yang datang lalu berlari kencang menuju sang Ayah.

Jeno memeluk kaki Jaehyun sebelum Jaehyun berjongkok dan menggendongnya.

Baik Johnny dan Jaehyun hanya diam tanpa menyapa satu sama lain, Jeno yang bingung tidak terlalu memperdulikannya, bocah itu justru berteriak memanggil Haechan.

"Echaann, lihat appa Jeno datang," teriak Jeno memanggil teman sebayanya sembari menyombongkan ayahnya.

Johnny sekarang mengerti maksud Doyoung, Jeno benar-benar menginginkan Jaehyun.

"Woah Jeno, appa mu tampan cekali, lebih tampan dali daddy," tutur Haechan yang cukup membuat ayahnya tertohok karena perkataannya sementara Jeno hanya tersenyum bangga.

Doyoung lantas segera membereskan barangnya dan mendekati keempat ayah dan anak itu bersama Ten.

"Kalau begitu aku pulang dulu Ten," pamit Doyoung yang kini berdiri di samping Jaehyun.

"Apa kau tidak ingin makan malam dulu, menambah satu orang lagi bukan masalah untukku," tawar Ten menyindir Jaehyun dan pria itu hanya tersenyum mengejek.

"Aku tidak ingin masuk rumah sakit," balas Jaehyun tak mau kalah.

Ten yang mendengarnya melotot ke arah Jaehyun, wanita itu hendak memukul Jaehyun tapi Doyoung dan Johnny yang menyadari segera memisahkan keduanya.

"Aku pulang, sampai Jumpa," pamit Doyoung, yang di ikuti oleh Jeno sedangkan Jaehyun hanya berjalan diam, ia hanya malas untuk bersapa ria, hubungannya dengan Johnny dan Ten masih belum begitu baik.

Jaehyun lalu mendudukkan Jeno di kursinya tapi si kecil menolak dan memilih untuk duduk di pangkuan sang ibu.

Selama perjalanan Jeno terus berceloteh tentang apa yang ia lakukan dengan Haechan, kemana saja mereka pergi dan apa saja yang ia makan.

Jaehyun mendengarkannya dan menimpali bahwa apa yang Jeno lakukan terdengar menyenangkan walaupun sesungguhnya Jaehyun sudah sangat jengkel dari tadi mendengar Jeno menyebut Johnny menggunakan embel-embel daddy.

Hingga akhirnya mereka sampai dan Jeno sudah tertidur lelap.

Doyoung yang hendak membuka pintu mobil di tahan oleh Jaehyun yang menatapnya datar.

"Ada apa Jae?" Tanya Doyoung ngeri.

Jaehyun hanya diam dan mendekatkan wajahnya pada Doyoung, kemudian mencium kepala Jeno yang bersandar di dada Doyoung, lalu merangkak naik menciumi dan menghisap leher Doyoung sebelum mendaratkan ciumannya di bibir Doyoung.

Setelah puas Jaehyun menatap Doyoung dan tersenyum manis pada wanitanya itu.

"Mulai besok, jangan biarkan anakku memanggil pria lain dengan sebutan ayah terutama Johnny, aku tidak menyukainya dan sangat-sangat membenci mendengarnya, apa kau mengerti?" Tanya Jaehyun memperingatkan Doyoung dan wanita itu mengangguk mengiyakan.

Jaehyun lalu membiarkan Doyoung turun dan berjalan terlebih dahulu menuju apartemennya.

Doyoung yang mengingat peringatan Jaehyun, hanya mengerang frustasi memikirkan alasan apa yang harus ia gunakan untuk membuat Jeno berhenti memanggil Johnny dengan sebutan daddy, sementara Johnny sudah sangat baik pada Jeno sejak anak itu belum saja lahir.

Doyoung merebahkan Jeno di atas ranjangnya, kamarnya di penuhi oleh boneka dan mainan lainnya yang di belikan Jaehyun hampir tiap minggunya.

Ia lalu membuka baju Jeno dan menggantinya dengan piyama tidurnya dan menidurkan Jeno kembali, beruntung Doyoung sudah memandikan Jeno di rumah Ten dan Johnny karena ia tahu Jeno adalah penidur seperti dirinya.

Setelah selesai Doyoung kembali ke kamarnya dan Jaehyun, hendak mandi sebelum Jaehyun memeluknya terlebih dahulu.

Doyoung hanya diam, ia bisa merasakan rambut basah pria itu menetes membasahi bahunya serta tubuh bidangnya yang hanya bertelanjang dada dengan sehelai handuk.

Tangan nakal Jaehyun mengangkat Rok selutut Doyoung lalu menarik turun celana tipis miliknya, ia lalu membalik Doyoung untuk menghadap ke arahnya.

Wanita itu hanya diam membalas Jaehyun yang menatapnya dengan intens, Doyoung sudah tahu apa yang akan Jaehyun lakukan dan ia hanya mengikuti begitu Jaehyun menciumnya lalu menariknya ke atas kasur.

Doyoung sudah tidak ingin mencari masalah dengan Jaehyun, selagi ia menurutinya Jaehyun pasti berlaku lembut padanya.

Jaehyun dan Jeno duduk santai di ruang tamu sembari menonton TV dan Jeno bermain dengan mainannya, sesekali ia mengajak sang ayah yang tengah fokus menonton untuk bermain.

Sementara Doyoung sedang pergi bersama adiknya, Winwin, yang tiba-tiba saja datang dan mengajak Doyoung untuk pergi, Jeno yang ingin ikut pun di larang oleh wanita itu, hingga membuat Jeno menangis dan Jaehyun harus mendiamkannya.

Jaehyun ingin melarang Doyoung tapi karena wanitanya itu terus memohon dan yah, Jaehyun mengizinkannya toh ini hari libur, mengurus Jeno bukan hal sulit untuknya.

"Appaaa, Jeno bosan," keluh si kecil yang kini memeluk leher ayahnya, sesekali Jeno melompat di atas sofa empuk tersebut.

"Hentikan Jeno," pinta Jaehyun sembari menarik Jeno untuk duduk di pangkuannya. Jaehyun lalu mengecup pipi gembil sang anak.

"Apa Jeno mau es krim?" Tawar Jaehyun yang di balas dengan anggukan antusias dari sang anak.

Jaehyun bukannya tidak mau bermain dengan anaknya itu hanya saja ia sedang malas, dan Jeno tidak akan diam jadi solusi yang Jaehyun pilih adalah memberi Jeno makanan yang di larang oleh Doyoung untuknya karena bocah itu akan diam jika di beri makanan walaupun Doyoung melarang Jeno untuk makan es krim ataupun makanan manis lainnya.

Bukannya tidak boleh, tapi Jeno tidak tahu batas dan itu tidak baik untuknya.

Jaehyun lalu beranjak dari atas sofa menuju dapur yang di ikuti oleh Jeno, si kecil mengekor kemana ayahnya pergi, hingga bel apartemennya berbunyi dan membuat Jaehyun berhenti mendadak di depan sofa dengan Jeno yang menabrak kakinya dan terjatuh.

Jaehyun yang melihat Jeno terjatuh segera menggendong anaknya dan berjalan menuju pintu, Jeno tampak senang sembari memanggil ibunya.

"Eomma," teriak Jeno girang, yang berubah diam begitu Jaehyun membuka pintu.

Itu bukan ibunya, Jeno tidak mengenal siapa wanita yang berdiri di depannya dengan dua orang anak bersamanya membuat Jeno memeluk ayahnya erat.

"Taeyong?" Tanya Jaehyun bingung, hampir dua tahun Jaehyun tidak bertemu wanita ini, terakhir ia bertemu dengannya saat Jaehyun menghadiri pesta pernikahannya dan Yuta, lalu Taeyong pindah dan ikut bersama Yuta ke jepang.

Dan sekarang wanita itu tiba-tiba muncul dengan dua orang anak di depannya, dengan wajah murung dan penampilan yang menyedihkan.

"Hei," sapa Taeyong kaku, wanita itu sama bingungnya seperti Jaehyun, ia baru saja tiba di korea, rencanya ia ingin bertemu dengan Doyoung tapi wanita itu justru menyuruhnya pergi ke apartemen Jaehyun.

"Ah masuklah dulu," ajak Jaehyun canggung.

Taeyong mengikutinya bersama kedua anaknya. Wanita itu lalu mendudukkan putrinya dan membiarkan putranya duduk di sampingnya. Dan Jeno duduk malu-malu di samping putri kecil Taeyong.

"Ada apa?" Tanya Jaehyun, pria itu tidak berbasa-basi dan langsung menanyai Taeyong.

"Kau ini tidak sopan sekali," keluh Taeyong memarahi Jaehyun.

"Ya kau tiba-tiba saja datang ke sini, tiada angin, tiada hujan, bukankah itu aneh" rutuk Jaehyun, pria itu bukannya tidak senang Taeyong datang, hanya saja setiap ada bertemu Taeyong maka ada saja masalah yang terjadi di antaranya dan Doyoung.

Ia baru saja mendapatkan wanitanya kembali dan bermasalah dengan Doyoung karena mantannya ini adalah hal yang paling ia hindari.

"Bukan aku! Doyoung yang menyuruh ke sini, tadinya aku ingin menemuinya tapi ia justru menyuruhku menunggu di tempatmu," protes Taeyong tidak terima.

"Kenapa harus di tempatku," gerutu Jaehyun dan Taeyong hanya mengangkat bahunya.

Hening, bahkan Jeno yang biasanya berisik pun tiba-tiba menjadi diam.

"Jadi ada apa?" Tanya Jaehyun lagi memecah keheningan.

"Nanti saja, ngomong-ngomong siapa anak ini Jaehyun ?" Taeyong balik bertanya pada Jaehyun, wanita itu mencoba mengakrabkan dirinya pada Jeno.

"Ah ini, putraku dan Doyoung, Jeno perkenalkan ini bibi Taeyong, ia teman appa dan eomma, dan kedua bocah ini, anaknya mungkin,"ucap Jaehyun asal, dan Jeno lalu menunduk dan memperkenalkan dirinya.

Taeyong yang gemas tidak tahan untuk mengusap rambut Jeno tapi di tolak oleh anak itu.

"Halo Jeno, nama bibi Taeyong, dan ini anak bibi, yang ini namanya Mark dan ini Jaemin tapi panggil saja Nana," Taeyong balik memperkenalkan diri, untuk beberapa saat Taeyong masih belum menanggapi perkataan Jaehyun.

Jeno dan Mark sudah berkenalan tapi Jaemin masih duduk manis dan tidak menanggapi perintah sang ibu.

Setelah acara perkenalan mereka Jaehyun menyuruh Jeno untuk mengajak Mark dan Jaemin bermain. Jeno yang mendengarnya mengambil beberapa mainannya dan menghamburkannya di ruang tamu.

Taeyong terkejut melihat tingkah Jeno tapi Jaehyun membiarkannya saja, ia justru menarik wanita itu menuju dapur lalu menyerahkan segelas air dingin untuknya.

"Sekarang ceritalah" Perintah Jaehyun menggertak dan memaksa.

Dan Taeyong memulai ceritanua dengan menangis, wanita itu menangis menceritakan Yuta yang katanya pergi bersama wanita lain.

Ia lalu melanjutkan bahwa Yuta ingin berpisah darinya demi wanita itu karenanya Taeyong kembali ke korea, Taeyong yang tidak begitu memiliki banyak teman tidak tahu harus bercerita pada siapa maka Doyoung lah satu-satunya yang ia temui karena seperti apapun hubungannya dengan Doyoung, bagi Taeyong, Doyoung adalah sahabat terbaiknya.

"Apa kau yakin? Maksudku Yuta sangat mencintaimu, ia melakukan apa saja untukmu, apa kau yakin ini bukan salah paham?" Tanya Jaehyun mencoba memastikan, pria itu memberikan beberapa helai tisu untuk Taeyong gunakan menghapus air matanya.

"Aku juga tidak tahu, yang aku tahu seseorang memberiku foto Yuta bersama seorang wanita di berbagai tempat, mulai dari restoran, bar sampai hotel huwaa Jaehyun," tangis Taeyong menjadi-jadi.

"Kenapa kau tidak tanyakan saja langsung pada Yuta," saran Jaehyun, selagi menepuk punggung Taeyong yang menangis.

"Apa kau gila? Bagaimana caranya aku bertanya, bisa saja itu foto rekayasa," tolak Taeyong yang justru membuat Jaehyun terperangah.

"Lalu kenapa kau malah berpikiran bahwa Yuta akan menceraikan mu? Bisa saja itu rekayasa oleh pesaingnya seperti yang kau katakan, kau tahu Yuta bukanlah orang biasa, keluarganya sangat terkenal di sana, dan yah pria yang kau nikahi itu seorang berandal jadi kau tahu apa saja kemungkinan yang ada" ucap Jaehyun mengingatkan walaupun sebenarnya ia tidak terlalu mengerti.

"Itu karena Yuta sudah menghilang selama dua minggu Jaehyun, aku sudah mencoba menghubunginya, bertanya pada bawahannya, tapi mereka tidak ada yang tahu, karenanya aku kembali ke sini, ku pikir memang seperti ini cara Yuta meninggalkanku, ia selalu menghilang begitu saja," pilu Taeyong.

"Yah sudah mungkin kau akan jadi janda dua anak setelah ini," sahut Jaehyun asal, ia mencoba untuk membuat Taeyong kembali seperti biasa tapi justru perkataannya membuat Taeyong menangis lebih kencang.

"Tega sekali Jaehyun, aku tidak mau!! Aku mencintai Yuta! sangat malah! Dan juga Mark dan Jaemin sangat menyayangi ayahnya," marah Taeyong, candaan Jaehyun sudah keterlaluan menurutnya.

"Iya aku tahu, sudah berhentilah menangis, aku yakin Yuta hyung hanya sedang memiliki masalah dan ia tidak ingin kau terlibat kau hanya perlu mempercayainya saja, ia pasti kembali untukmu percayalah," hibur Jaehyun, pria itu mengusap air mata Taeyong lalu memeluknya, memberi semangat pada wanita itu, hanya sebagai teman tentu saja.

Tapi itu menurut Jaehyun, tidak untuk Jeno yang melihat ayahnya memeluk wanita selain ibunya, Jeno yang melihatnya buru-buru kembali ke ruang tamu.

Jeno yang masih syok mendapati Jaemin memegang boneka singa kesayangannya membuatnya marah karena itu boneka dari ibunya dan begitu ia mengingat ayahnya memeluk ibu bocah itu, Jeno lalu mendorong Jaemin hingga terjatuh dan merebut bonekanya.

Mark yang melihat adiknya di dorong oleh Jeno spontan melempari Jeno dengan mainan keretanya sendiri hingga melukai pelipis kanan Jeno, lalu Jeno dan Jaemin menangis.

Jaehyun dan Taeyong yang mendengar kedua anak mereka menangis langsung mendatanginya.

Taeyong menggendong Jaemin dan memarahi Mark yang melempari Jeno dengan mainannya.

Jeno masih menangis, anak itu bahkan mengacuhkan ayahnya yang mencoba mendiamkannya, Taeyong kemudian membantu Jaehyun, wanita itu mengambil kotak pertolongan pertama dari tangan Jaehyun dan hendak mengobati pelipis Jeno tapi si kecil justru menggigit tangan Taeyong hingga wanita itu menjerit kesakitan.

Jaehyun yang melihatnya langsung menarik Jeno dan membawa anaknya ke kamarnya. Jaehyun lalu membanting pintu dan menyuruh Jeno untuk duduk di atas ranjang.

Bocah kecil itu menurutinya, ia menunduk sembari menangis memanggil ibunya.

"Apa yang kau lakukan Jeno!" Marah Jaehyun, pria itu menarik Jeno unruk menatapnya.

"Pertama kau mendorong Jaemin lalu kau mengigit ibunya, ada apa denganmu?" Kesal Jaehyun, ia yakin Doyoung tidak pernah mengajarkan Jeno berbuat kasar, wanita itu bahkan terlalu lembut menurutnya.

"Tapi Makeu hyung melempali Jeno appa hiks," adu Jeno menunjuk lukanya, yang masih berdarah.

"Itu karena kau mendorong adiknya Jeno," ucap Jaehyun dengan nada tinggi membuat tangisan Jeno semakin kencang.

"Eomma hiks," teriaknya memanggil sang ibu membuat Jaehyun semakin kesal.

"Diam Jeno!" Bentak Jaehyun hingga Jeno terdiam begitu saja.

"Berhentilah menangis karena kesalahanmu sendiri," perintah Jaehyun pada Jeno yang menutup mulutnya sendiri menahan tangis dengan kedua telapak tangan mungilnya. pria itu lalu pergi dan mengambil kotak p3k yang tadi di pegang Taeyong.

Jaehyun berjongkok menyamai posisinya dengan Jeno, ia lalu memerintah Jeno untuk menghadap ke arahnya dan mengobati pelipis nya yang terluka.

Begitu selesai Jaehyun mengusap pipi Jeno menghapus air mata Jeno yang membuat matanya sembab.

Jeno mengelak sentuhan Jaehyun tapi ayahnya tetap menariknya mendekat pada Jaehyun.

"Berhentilah menangis, jika ibumu bertanya katakan saja kau jatuh mengerti, ia akan marah jika tahu kau melukai orang lain" ucap Jaehyun mengajari Jeno, ia terpaksa menyuruh Jeno berbohong, karena Doyoung tidak ada di sini dan wanita itu tidak menyukai Jeno bertingkah kasar.

Jeno hanya diam, ketika Jaehyun hendak menggendongnya, Jeno memilih untuk keluar terlebih dulu dari kamar orangtua nya dan masuk ke dalam kamarnya tanpa meminta maaf ataupun membawa mainannya kembali.

"Jaehyun kau tidak perlu memarahinya seperti itu," ucap Taeyong menasehati, ia bahkan terkejut ketika Jaehyun membentak anaknya sendiri.

"Tidak apa Nuna, Doyoung tidak pernah mengajarkan putranya untuk bersikap tidak sopan seperti itu," jelas Jaehyun, ia membiarkan saja Jeno yang berdiam diri di dalam kamarnya, Jeno hanyalah bocah berusia dua tahun pikirnya, ia akan berhenti marah setelah Jaehyun membujuknya nanti.

Jaehyun hendak mendaratkan pantatnya ke atas sofa tapi pintu apartemennya terbuka menampakkan Doyoung yang sudah kembali bersama adiknya dan juga kekasihnya.

Setelah Doyoung dan Winwin beserta Kun masuk. Taeyong langsung menghampirinya dan menangis, Doyoung memeluk Taeyong untuk duduk dan bercerita, sedangkan Jaehyun mengajak Winwin dan Kun untuk menyiapkan makan malam atau lebih tepatnya menyuruh mereka.

Selesai dengan acara memasak Jaehyun langsung mengajak Doyoung dan Taeyong beserta anaknya untuk makan malam di tempatnya.

Doyoung yang menyadari Jeno yang tidak ada memeriksa kedalam kamar anaknya. Wanita itu terkejut melihat Jeno yang tidur dengan mata sembabnya dan plester di pelipisnya.

Doyoung yang tidak tega membangunkan Jeno, berniat membiarkan anaknya itu tidur, tapi Jeno justru bangun dengan sendirinya dan memeluk Doyoung begitu saja.

Jeno tidak menangis, ia hanya memeluk ibunya saja, Doyoung yang tidak tahu apa yang terjadi hanya mengajak Jeno untuk ikut makan malam.

Mereka menikmati makan malamnya, berbincang satu sama lain ataupun mengobrolkan hal-hal yang tidak penting hanya Jeno yang tidak mengeluarkan sepatah kata pun, bahkan ketika Jaehyun menawarinya es krim Jeno hanya diam dan mengabaikannya.

Kun dan Winwin berpamitan terlebih dahulu, lalu di ikuti oleh Taeyong dan kedua anaknya, awalnya Jaehyun menawarkan untuk mengantar Taeyong yang di setujui oleh Doyoung tapi wanita itu menolaknya.

Doyoung pikir Jeno akan kembali ceria setelah tamu mereka pulang karena Doyoung pikir Jeno hanya belum nyaman dengan keadaan rumah mereka yang ramai, tapi sampai Doyoung memandikan Jeno pun anaknya itu tidak menunjukkan semangatnya sama sekali.

Jaehyun juga tidak mengatakan apa-apa padanya dan justru berkutat dengan pekerjaan kantornya yang tiba-tiba saja.

Doyoung lalu menidurkan Jeno, anaknya itu memeluk Doyoung erat, bahkan Jeno menolak ketika Doyoung akan ke dapur untuk membuatkan susunya lagi.

"Eomma jangan pelgi," pinta Jeno dengan suara seraknya yang kentara, Doyoung yakin Jeno sudah menangis lama.

"Tentu saja sayang," balas Doyoung lembut, ia tidak berniat bertanya pada Jeno karena ia yakin anaknya itu hanya akan menangis.

Jeno tidak melepaskan pelukannya dari Doyoung hingga dirinya tertidur pulas.

Doyoung lalu beranjak perlahan dari tempat tidur Jeno, dan menutup pintu kamarnya dengat sangat pelan.

Wanita itu kembali ke kamarnya dan mendapati Jaehyun yang sudah berada di atas ranjang bersandar sembari memainkan ponselnya.

Doyoung yang belum berganti pakaian ataupun mandi memilih untuk menunda rencananya bertanya pada Jaehyun perihal Jeno.

Begitu selesai Doyoung hendak mengeringkan rambutnya tapi Jaehyun malah menarik Doyoung untuk duduk di pangkuannya, pria itu menyambar handuk Doyoung dan mengeringkan rambut sebahu wanitanya itu. Sesekali ia menciumi pundak dan leher Doyoung.

"Jaehyun," panggil Doyoung membuka suara, Jaehyun hanya menjawabnya singkat.

"Apa terjadi sesuatu pada Jeno?" Tanya Doyoung perlahan, takut-takut Jaehyun tersinggung dengan pertanyaannya.

"Ya, ia berkelahi dengan Mark, Jeno mendorong adiknya dan Mark yang marah melemparnya dengan kereta mainannya hingga Jeno terluka," jawab Jaehyun enteng, pria itu menghirup dalam-dalam aroma tubuh Doyoung yang baru saja mandi.

Padahal mereka menggunakan sabun dan shampoo yang sama dengan Doyoung, tapi tetap saja berbeda bagi Jaehyun, bau Doyoung berkali-kali lebih harum dan menggoda.

"Ah begitu, apa ada yang lain?" Tanya nya lagi, ia bukannya tidak mempermasalahkan Mark yang melukai Jeno, tapi ada Jaehyun bersama Jeno dan Doyoung yakin Jaehyun pasti menjaga Jeno tentunya.

"Tidak ada," jawab Jaehyun singkat, ia tidak mengatakan perihal dirinya yang memeluk Taeyong, karena menurutnya tidak perlu dan tidak penting, toh Jaehyun sudah tidak menginginkan wanita itu lagi.

"Oh, baiklah," balas Doyoung singkat, wanita itu hendak beranjak dari pangkuan Jaehyun dan memakai baju tidurnya tapi di tahan oleh Jaehyun yang justru menarik Doyoung ke atas kasur dan menindihnya.

Jaehyun melepas baju kaosnya hingga menyisakan celana pendeknya saja, sedangkan Doyoung, Jaehyun cukup menarik handuknya saja untuk menelanjangi wanitanya ini.

Tangannya mengusap kedua gundukan kenyal Doyoung, sesekali memijatnya, Jaehyun bahkan sudah menarik turun celana pendeknya dan mengangkat satu kaki Doyoung ke pundaknya.

Tapi Doyoung menahan Jaehyun untuk menghentikan aktifitasnya, wanita itu menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau Jaehyun, aku lelah," tolak Doyoung lembut, ia bukannya tidak takut membuat prianya itu marah tapi Jaehyun tidak begitu pemaksa jika Doyoung benar-benar tidak menginginkannya.

"Sebentar saja," ajak Jaehyun yang memijat dan mencium paha berisi Doyoung.

Doyoung masih menggelengkan kepalanya, "kita baru saja melakukannya kemarin Jaehyun, aku tidak mungkin memakan pil itu terus-terusan lagipula tubuhku masih sakit," tolaknya lagi.

Jaehyun lantas menarik laci meja yang berada di samping tempat tidurnya, dan merobek sebuah bungkusan kecil yang berisi kondom.

"Lihat aku memakai pengaman, aku janji hanya sebentar," ucap Jaehyun yang baru saja memasang karet pengamannya tersebut.

Doyoung tampak berpikir sejenak, Jaehyun sangat jarang menggunakan pengaman, pria itu sangat membenci karet kecil itu, ia lebih suka melakukannya secara alami.

Jaehyun lalu menjatuhkan tubuhnya ke arah Doyoung, pria itu menghisap cuping telinga Doyoung sesekali mencium perpotongan lehernya dan meninggalkan beberapa bercak kemerahan yang menjadi tanda kepemilikannya atas wanita itu.

"Aku akan berangkat selama beberapa hari dan itu berarti aku tidak akan bisa menyentuhmu selama aku pergi," bisik Jaehyun dengan suara seraknya menahan nafsu.

Doyoung menatap Jaehyun yang kini menciumi pipinya, lalu berhenti untuk menatap wajah Doyoung yang tengah berpikir.

"Baiklah," jawab Doyoung pasrah dan Jaehyun tersenyum puas mendengarnya.

"Aku akan sangat merindukanmu," balas Jaehyun yang langsung mencium Doyoung dan membiarkan Jaehyun berkuasa atas tubuhnya.

Doyoung mulai mengerti kenapa Jaehyun terus memaksanya untuk kembali tapi tidak dengan status sebagai kekasih, seperti ini Jaehyun merasa dirinya memiliki hak atas Doyoung walaupun belum sepenuhnya karena mereka belum menikah tapi dengan bertunangan seperti ini, tidak akan mudah bagi Doyoung untuk memintanya memutuskan hubungan ataupun berpisah darinya.

Keesokan paginya Jaehyun sudah bersiap untuk berangkat, pria itu tidak terlalu peduli untuk membawa pakaian, ia bisa membelinya karena perjalanan bisnis ini terjadi dadakan begitu saja.

Tapi bukan itu masalahnya, Jeno masih bersikap acuh padanya, bahkan ketika Jaehyun mencium pipi Jeno dan berpamitan pada anaknya itu, Jeno justru menghapus bekas ciuman Jaehyun menggunakan bajunya dan memilih untuk kembali duduk diam menonton TV.

Jaehyun dan Doyoung hanya menatap heran satu sama lain dengan heran.

"Sudah Jaehyun tak apa," hibur Doyoung mengusap bahu Jaehyun.

"Baiklah, aku pergi–" ucap Jaehyun lalu mencium Doyoung, Jaehyun bahkan memeluk pinggangnya dengan erat.

Jaehyun tidak akan berhenti menciumnya jika Doyoung tidak menghentikan pria itu.

"Aku mencintaimu," sambung Jaehyun dan mengecup kening Doyoung sebelum pergi.

Setelah Jaehyun pergi Doyoung berencana untuk mengantar Jeno ke daycare lalu membersihkan barangnya dan menginap ke rumah orang tuanya selama Jaehyun pergi.

Tapi Jeno yang sedang rewel tidak mau Doyoung tinggal, bahkan kemana pun Doyoung melangkah Jeno akan mengikutinya.

Doyoung yang lelah dengan tingkah Jeno lalu mendudukkan sang anak di sebelahnya dan mengajaknya berbicara.

"Ada apa sayang? Kenapa Jeno sedih," tanya Doyoung mengusap Jeno lembut.

Si kecil hanya menggelengkan kepalanya dan memeluk ibunya erat. Jeno tiba-tiba saja kembali menangis.

Jeno tidak berbicara sedikitpun ia hanya diam dan menangis setiap kali Doyoung menanyainya.

Beberapa hari berlalu dan tidak ada perubahan sedikitpun pada Jeno.

Anaknya bermain seperti biasa tapi tidak seceria biasanya, ketika Doyoung mengajak Ten dan Haechan untuk datang dan bermain bersama Jeno pun tetap bersikap murung bahkan Jeno lebih rewel dari biasanya, sedikit saja Doyoung memarahinya Jeno langsung menangis tanpa sebab padahal Doyoung hanya menyebut namanya saja.

Doyoung yang sedih tidak tahu harus berbuat apa melihat kondisi Jeno yang murung terus menerus.

Tangannya mengusap dahi Jeno perlahan, lalu mengelus luka Jeno yang mulai mengering, Doyoung sadar Jeno bersikap seperti ini sejak ia bertengkar dengan Mark atau lebih tepatnya ketika Taeyong datang.

Jeno yang tadinya fokus meminum susunya, lalu membuka suara dan untuk pertama kalinya Jeno mempertanyakan sang ayah setelah akhir-akhir ini mengabaikannya, karena setiap kali Jaehyun menghubunginya Jeno akan pergi ke kamar ataupun ke tempat neneknya.

"Eomma," panggil Jeno, membuat Doyoung langsung memberikan atensinya pada si kecil.

"Iya sayang?" Sahut Doyoung yang langsung memberikan atensinya pada si kecil.

"Kenapa appa tidak pulang? Apakah appa pelgi?" Tanya Jeno membuat Doyoung bingung bukan main.

"Tidak sayang, appa sedang bekerja memangnya ada apa?" Pancing Doyoung agar Jeno bercerita.

Si kecil tampak berpikir sejenak lalu melanjutkan perkataannya.

"Benalkah? Appa tidak pelgi dengan bibi itu kan?" Tanya Jeno penuh ke ingin tahuan.

"Bibi itu?" Tanya Doyoung mengulangi perkataan anaknya.

Jeno mengangguk lalu menunjuk luka pada pelipisnya itu.

"Taeyong maksudmu?"

Dan Jeno lagi-lagi mengangguk mengiyakan.

"Kenapa Jeno bertanya seperti itu sayang," ucap Doyoung yang masih tidak percaya dengan perkataan Jeno, anaknya ini baru berusia 2 tahun lebih tapi sudah berpikir jauh seperti ini.

"Habis kemalin Jeno lihat appa dan bibi itu belpelukan sepelti ini," jelas Jeno mengatakan sesuatu yang membuat Doyoung lumayan syok, anaknya itu bahkan mencontohkan pada Doyoung apa yang ia lihat.

"Lalu?," Tanya Doyoung yang kini berada di pelukan Jeno menelan ludahnya dengan sulit.

"Lalu Jeno lali," cerita Jeno pada sang ibu, atau lebih tepatnya mengadu.

"Dan sekalang appa pelgi dan tidak pulang," lanjutnya yang sedih dengan mata berkaca-kaca.

Doyoung yang melihatnya sontak memeluk Jeno. Ia juga tidak tahu, Doyoung yakin Jeno tidak mungkin berbohong, tapi ia tidak tahu bagaimana harus menanggapinya.

"Sayang dengarkan eomma, appa tidak akan pergi, appa juga tidak akan meninggalkan Jeno, Jeno tahu kan appa sangat menyayangi Jeno dan eomma," Jelas Doyoung mencoba menghibur Jeno dan juga dirinya.

Ia tidak ingin berburuk sangka terlebih dulu, ia baru saja berteman kembali dengan Taeyong dan kembali untuk mempercayai Jaehyun, terlebih Jaehyun selalu mengatakan bahwa ia mencintainya di setiap kesempatan karenanya Doyoung mencoba untuk mempercayai Jaehyun dan mengabaikan kecurigaan Jeno mengingat dialah yang menyuruh Taeyong untuk menemuinya di tempat Jaehyun.

Walaupun sebenarnya Doyoung kembali menjadi ragu pada Jaehyun, karena seperti yang Jeno katakan ketika Taeyong datang tiba-tiba saja Jaehyun memiliki perjalanan bisnis dan kenapa harus bertepatan dengan Taeyong yang bertengkar dengan Yuta.

Doyoung cemas, ia takut dengan pikiran buruknya sendiri, tapi ia tidak bisa menunjukkannya karena Jeno akan tambah tertekan jika ia yang seharusnya menyemangati anaknya justru sedih dan murung sama sepertinya.

"Eomma–," panggil Jeno lagi yang hendak mengatakan sesuatu tapi Doyoung sudah terlebih dahulu memotongnya dan berkata, "sudah ya sayang, ini sudah malam, tidak baik jika Jeno berpikiran seperti itu Jeno masih kecil, apakah Jeno sedih karena ini?" Ucap Doyoung panjang lebar mengalihkan pembicaraan.

Jeno mengangguk menanggapi sang ibu.

"Kalau begitu jangan sedih lagi karena sebentar lagi appa pasti akan pulang," jelas Doyoung mencoba menyemangati anaknya itu.

Doyoung lalu memeluk Jeno dan segera menidurkannya. Walaupun Doyoung sebenarnya tidak tidur, wanita itu justru menangis memikirkan perkataan Jeno tentang Jaehyun dan Taeyong.

Ia mengingat kembali hari itu Jaehyun tidak sedikitpun menceritakan padanya tentang dia dan Taeyong, apakah Jaehyun sengaja melakukannya, apakah setelah ini Jaehyun akan melukainya lagi.

Doyoung benar-benar takut, ia menangis bukan untuk dirinya saja tapi juga Jeno, Doyoung takut anaknya itu akan sama terluka sepertinya karena Jaehyun.

Ia memeluk dirinya sendiri sembari menangis dalam diam, Doyoung tidak tahu jika Jeno yang belum benar-benar tidur hanya bisa diam dan berpura-pura untuk tidur agar tidak mendengar ibunya menangis yang kini justru menghantui Jeno dengan ketakutan.

Sejak Jeno menceritakan tentang Jaehyun, Doyoung mencoba untuk menghilang dari Jaehyun, ia tidak pernah mengangkat telfon Jaehyun, Doyoung bahkan tidak membalas pesannya, ketika Jaehyun menanyakannya melalui Taeyong maka Doyoung juga mengabaikannya.

Ia hanya ingin membuktikan bahwa Jeno hanya salah paham dan setelah ini Jaehyun akan kembali padanya, Doyoung berharap begitu.

Tapi berbeda dengan Jeno, ia tidak pernah bisa tidur dengan tenang, anaknya itu selalu terbangun dan menangis karena mimpi buruk, Jeno di hantui oleh tangisan ibunya dan ayahnya yang mungkin pergi dengan orang lain.

Hari ini tepat satu minggu Jaehyun pergi karena perjalanan bisnis, dan Jaehyun tidak menghubunginya sama sekali seharian ini karena biasanya walaupun di abaikan Jaehyun tetap akan menelfon ataupun mengabarinya.

Doyoung menatap ponselnya, ini sudah pukul sembilan malam, Jeno baru saja tertidur dan Doyoung masih mengecek ponselnya.

Ia khawatir jika perbuatannya ini justru memperburuk keadaanya dan berakibat Jaehyun marah dan membatalkan rencana mereka.

Bukan pertunangannya yang jadi masalah tapi Jeno, Doyoung tidak tahu bagaiman Jeno nantinya jika harus kembali memiliki orang tua tunggal, Doyoung yakin Jeno pasti akan sangat sedih.

Doyoung memejamkan matanya yang basah karena menangis, ia memaksakan dirinya untuk tidur, sebelum pintu kamarnya terbuka lalu sesorang masuk dan berdiri di depannya.

Doyoung mengabaikannya karena ia mengira itu ibu atau ayahnya, orang tuanya sangat perhatian padanya beberapa hari belakangan ini, hingga orang tersebut membuka suaranya yang membuat Doyoung langsung membuka matanya.

"Kenapa kau menangis?" Tanya Jaehyun yang berjongkok di hadapan Doyoung, tangannya mengusap air mata Doyoung yang mengalir deras.

"Katakan padaku apa terjadi sesuatu?" Tanya Jaehyun lagi yang langsung di tanggapi Doyoung dengan anggukan.

Jaehyun lalu memeluk Doyoung dan menenangkannya.

"Apa yang terjadi?" Bujuk Jaehyun yang duduk di samping Doyoung yang masih berbaring.

Jari-jari Jaehyun mengusap kepala Doyoung lembut lalu mengusap Jeno yang sudah tidur di samping ibunya itu.

"Hey jawab aku ada apa?" Tanya Jaehyun menuntut, ia baru saja pulang dan malah mendapati Doyoung yang menangis setelah mengabaikannya selama dua hari berturut-turut.

Jaehyun lalu menarik Doyoung untuk duduk dan bersandar pada sandaran kasur tersebut. Pria itu mengurung Doyoung di antara kedua tangannya kemudian mencium pipi Doyoung yang hanya diam.

"Kau mengabaikan pesanku, tidak mengangkat telfon ku dan sekarang kau menangis, sekarang katakan padaku ada apa ? Apa terjadi sesuatu ? Apa aku yang membuatmu menangis ?" Tanya Jaehyun lembut.

Ia baru saja pulang, bahkan ia harus kembali ke kantornya terlebih dahulu, dan begitu pulang Jaehyun tidak menemukan Doyoung di apartemennya padahal Doyoung berjanji akan menginap hanya selama empat hari dan tidak lebih karenanya Jaehyun buru-buru kerumah orang tua Doyoung, beruntung calon ayah mertuanya itu belum tidur, jadi ayahnya Doyoung lah yang membukakan pintu.

Jaehyun pikir ketika pulang ia akan di sambut Doyoung dengan senyuman manis tapi Jaehyun justru mendapati Doyoung yang menangis walaupun Jaehyun sudah menebaknya melalui tingkah Doyoung beberapa hari terakhir.

"Apa kau tidak ingin bercerita?" Tanya Jaehyun yang membiarkan Doyoung untuk kembali merebahkan tubuhnya dan Jaehyun mengikutinya di samping Doyoung.

Menjadikan tangannya sebagai bantal untuk wanita itu, sementara tangan lainnya memeluk pinggang Doyoung.

Doyoung ingin segera menanyakan Jaehyun tentang Taeyong seperti yang Jeno ceritakan tapi Doyoung merasa tak enak hati pada Jaehyun yang baru saja pulang.

Jadi Doyoung hanya membiarkan pria itu berbaring di sampingnya dan memeluknya. Jaehyun yang melihatnya hanya mengelus surai hitam Doyoung.

"Aku merindukanmu," Jaehyun berbisik dengan sangat intim di telinga Doyoung.

"Aku juga Jae," adu Doyoung yang kini memeluk leher Jaehyun manja.

Merasa dirinya mendapat lampu hijau dari Doyoung Jaehyun kini merangkak menindih Doyoung.

Jaehyun melirik Doyoung yang menatapnya sayu, Jaehyun tahu Doyoung sedang tidak baik tapi wanita itu tidak menghentikannya, dan Jaehyun, tentu saja ia akan menerimanya, ia sangat merindukan Doyoung melebihi apapun.

Doyoung memakai kembali baju tidurnya setelah menyelesaikan aktifitasnya bersama Jaehyun.

wanita itu lalu berjalan menuju dapur untuk mengambilkan air untuknya dan Jaehyun. Juga mengambil baju ganti untuk Jaehyun karena pria itu tiba-tiba saja datang ke rumahnya tanpa membawa apapun.

Jaehyun yang baru saja selesai mandi duduk di atas ranjang dan mengeringkan rambutnya, ia menatap Jeno yang kini bergerak tidak nyaman dalam tidurnya, Jaehyun menepuk-nepuk pantat Jeno agar kembali tidur tapi tidak berpengaruh sama sekali.

Jeno yang bermimpi buruk bangun dengan wajah murungnya sebelum ia sadar bahwa ibunya tidak ada dan begitu ia melihat Jaehyun, Jeno justru menangis dengan kencang, bahkan ketika Jaehyun hendak menggendong Jeno untuk mendiamkannya, anaknya itu malah menolak dan menghindar darinya.

Doyoung yang mendengar kegaduhan buru-buru masuk ke kamarnya, wanita itu terkejut melihat Jeno yang menangis sembari menghindar dari Jaehyun.

Baik Doyoung dan Jaehyun sama bingungnya dengan tingkah Jeno. Doyoung pikir Jeno akan senang begitu melihat ayahnya pulang, tapi prasangka Doyoung salah, Jeno justru terlihat takut dan enggan ketika Jaehyun menyentuhnya.

"Eomma hiks," tangis Jeno memeluk ibunya erat, Doyoung membalas pelukan Jeno dan menimang anaknya itu agar kembali tidur sementara Jaehyun memakai baju yang baru saja Doyoung ambilkan untuknya.

Jaehyun lalu duduk di samping Doyoung dan Jeno, hendak mengelus kepala putra kesayangannya itu, tapi Jeno justru menghindar dan bersembunyi di balik tangan Doyoung.

Doyoung tentu saja terkejut melihatnya, mengingat Jeno sangat menyayangi ayahnya itu, ia tidak percaya pada Jeno yang baru saja menolak ayahnya.

Doyoung lalu meminta Jaehyun untuk menjauh darinya hingga Jeno kembali tidur tenang. Wanita itu lalu menyuruh Jaehyun untuk tidur setelah Jeno kembali tertidur.

Keesokan paginya, Doyoung dan Jaehyun yang sudah bangun kini tengah berkumpul bersama kedua orang tua Doyoung,Doyoung membantu mempersiapkan sarapan bersama ibu dan salah seorang asisten rumah tangga yaitu bibi Ahn.

Ibunya menyuruh Doyoung untuk membangunkan Jeno yang masih tidur untuk ikut sarapan tapi Doyoung menolaknya karena Jeno terus-terusan bangun tadi malam.

Begitu sarapannya selesai Jaehyun kembali mengobrol bersama ayah Doyoung sedangkan Doyoung kembali ke kamarnya untuk membangunkan Jeno karena mereka akan pulang sebentar lagi serta membawakan sarapan untuk putranya itu.

Doyoung lalu membangunkan Jeno dengan perlahan, begitu anaknya itu bangun Doyoung langsung mengajaknya untuk membasuh wajah dan menyikat giginya.

Jeno makan dengan malasnya, sampai-sampai Doyoung harus menyuapinya terlebih dahulu hingga makanannya habis.

Setelah selesai Doyoung lantas memandikan Jeno dan memakaikannya baju main, Doyoung lalu meminta bibi ahn untuk membawa Jeno ke ruang tamu selagi dirinya membereskan barang-barang Jeno.

Di ruang tamu Jeno hanya duduk dan bermain dengan mainannya. Ia tidak terlalu memperdulikan Jaehyun yang duduk bersama kakeknya di teras.

Tapi begitu Jaehyun melihat Doyoung yang sudah turun dengan tas Jeno yang berisi barang anaknya itu, lantas mengajak ayah Doyoung untuk masuk dan berpamitan.

Doyoung memerintahkan Jeno untuk berpamitan pada kakek dan neneknya tapi anaknya justru diam dan bertanya, "kita akan kemana eomma?"

"Tentu saja pulang ke rumah bersama appa sayang," jawab Doyoung ramah, tapi Jeno justru menggelengkan kepalanya dan berlari bersembunyi di belakang kakekmya.

Lalu Jeno berteriak," ani! Jeno cidak mau pulang" Menolak ajakan ibunya.

Semua orang dewasa yang berada di situ hanya kebingungan melihat tingkah Jeno yang tiba-tiba saja berubah pada ayahnya.

Ibu Doyoung menyuruh Doyoung untuk menunda kepulangan mereka menjadi sore hari, dan Jaehyun mau tak mau menuruti saran ibu Doyoung.

Seharian Jeno menolak untuk berada di dekat Jaehyun, ketika Chenle pulang sekolah, Jeno memilih untuk bermain dengan paman kecilnya itu.

Mereka bahkan menunda untuk pulang hingga makan malam tapi Jeno tetap menolaknya, jadi di sinilah sekarang Doyoung duduk bersama Jaehyun di ruang tamu sementara Jeno yang marah memilih untuk tidur bersama kakeknya.

"Setelah Jeno tidur nanti baru kalian bawa pulang, mungkin ia sedang nyaman di sini karena ada teman bermainnya," nasehat ibu Doyoung.

Jaehyun mengangguk menyetujuinya tapi tidak dengan Doyoung, Jeno benar-benar menolak Jaehyun, ia kembali teringat ketika Jeno yang terbangun kemarin malam, menangis begitu Jaehyun mendekatinya.

Doyoung yakin terjadi sesuatu di antara ayah dan anak itu tapi Doyoung tidak mengetahui apa itu, Jika masalah Taeyong, maka itu tidak mungkin karena buktinya Jaehyun pulang dan bahkan menjemput mereka.

"Sepertinya Jeno memang tidak ingin pulang bu, Jeno tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya," tolak Doyoung yang menatap ibunya dan Jaehyun bergantian.

Sementara Jaehyun menatap Doyoung tidak suka, "apa maksudmu?" Tanya Jaehyun tidak senang dengan perkataan Doyoung.

"Jaehyun aku tidak akan pulang bersamamu, Jeno jelas menolakmu, aku tidak bisa dan tidak ingin memaksanya," jelas Doyoung menjawab pertanyaan Jaehyun.

"Kau bercanda?" Tanya Jaehyun tidak percaya dengan jawaban Doyoung.

"Aku tidak! Kupikir kita harus tinggal terpisah untuk sementara waktu ini," pinta Doyoung pada Jaehyun,

"Doyoung, apa yang kau katakan, kau dan Jeno harus pulang!" tegas Jaehyun menatap Doyoung garang.

"Kenapa? kita belum menikah Jaehyun, tidak ada salahnya untuk tinggal terpisah, paling tidak hingga Jeno membaik dan mau kembali," ucap Doyoung memperjelas maksud perkataannya yang di balas Jaehyun dengan tawanya yang mengejek.

"Lalu bagaimana jika Jeno tidak juga membaik hingga hari pernikahan kita?" Tanya Jaehyun lagi.

"Tentu saja kita harus mengundurkan nya, dan jika Jeno masih bersikeras menolak maka kupikir satu-satunya jalan keluar adalah membatalkan semuanya," Jawab Doyoung yang membuat ibunya sendiri syok mendengarnya.

Jaehyun sama tidak percayanya dengan apa yang wanita itu katakan, Jaehyun tidak habis pikir Doyoung dengan mudahnya mengatakan bahwa ia akan membatalkan pernikahan mereka.

"Doyoung jangan berkata seperti itu, pernikahan kalian sudah semakin dekat tidak mungkin membatalkannya begitu saja," ibunya mengingatkan, atmosfir di antara Doyoung dan Jaehyun benar-benar membuatnya tidak nyaman.

Wanita itu menyuruh Jaehyun untuk pulang dan mencoba membujuk Jeno lagi nanti.

Dan pria itu menurutinya, ibunya lalu

Menyuruh Doyoung untuk mengantar Jaehyun pulang.

Di depan pintu rumah Doyoung, Jaehyun berhenti hingga Doyoung menabrak punggung lebar Jaehyun, pria itu berbalik dan langsung memeluknya.

"Kau tahu ini di rumah orang tuamu, dan aku tidak mungkin bersikap kasar padamu disini tapi perkataan mu tadi benar-benar keterlaluan Doyoung," marah Jaehyun, pria itu lantas mengajaknya untuk ikut masuk ke dalam mobilnya.

Doyoung yang merasa bahaya mencoba menolaknya tapi gagal, ia hanya berusaha untuk keluar dari mobil Jaehyun tapi pintunya selalu di kunci oleh Jaehyun.

Pria itu menarik Doyoung untuk menatapnya, lalu menciumnya dengan penuh paksa hingga ia puas, Jaehyun memeluk Doyoung erat, sampai-sampai wanita itu menjerit kesakitan.

"Jaehyun sakit," ucap Doyoung yang menahan bahu Jaehyun.

Jaehyun menghembuskan nafasnya kasar, ia mencengkram dagu Doyoung dan menciumnya lagi.

"Aku pulang," ucap Jaehyun dingin lalu membiarkan Doyoung turun dari mobilnya dan pergi meninggalkan Doyoung yang menatap mobilnya yang perlahan menghilang begitu melewati pagar rumah wanita itu.

Kakinya lemas, Doyoung jatuh teruduk di tempatnya, ia takut pada Jaehyun dan takut dengan perasaannya ini.

-TBC-