Jimin menelan ludahnya kaku, sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang sulit karena Jungkook masih memegang kepercayaannya, sedangkan dirinya masih ragu kalau lelaki manis itu akan mencelakakan sahabatnya nanti.

"Jeon Jungkook..aku rasa ini sudah kelewat batas, seorang dokter tidak boleh memilki perasaan cinta kepada pasiennya begitu juga sebaliknya..aku sudah melanggar batas itu, tetapi kau terus memaksakan kehendak dan perasaan obsesimu itu" dengus Jimin, yang berusaha menahan rasa kesalnya saat ini. Jungkook menggelengkan kepalanya dan meminum air putih untuk melegakan tenggorokannya. Kembali lagi, orang-orang yang terus mengatakan hal yang sama kepadanya sampai ratusan kali.

"Aku mengerti jika kau tidak ingin membantuku lagi..cukup melangkah keluar dari sini dokter Park, aku tidak akan memaksamu dan sudah muak dengan tuduhanmu yang tidak berdasar" ketus Jungkook dengan tangan kirinya menunjukkan pintu keluar, mengusir dokter Park dengan kasar. Dokter Park hanya menghela nafas dan memutar matanya, sungguh tipikal Jungkook yang kurang ajar dan sulit di nasehati. Menangani Jungkook selama 1 tahun lebih sedikit-banyak sudah tahu dengan watak anak itu. Dokter Park membereskan bekas makan Jungkook lalu meninggalkan ruangan tanpa mengatakan apapun. Jungkook memukul bantal di kasurnya dan mengutuk kesal, semua kembali dari nol lagi, ia harus memikirkan berbagai cara lagi untuk mendekati Taehyung terutama meyakinkan lelaki itu untuk selalu bersamanya. Jungkook mengigit bibir keringnya karena cemas yang melanda jika dokter Park mengadu ke Taehyung, dengan lincah jemarinya menekan nomor telepon Yoongi hyung. Saat ini yang Jungkook pikiran hanya memastikan kesempatan yang sudah ia dapat tidak akan hilang.

*

TING TONG

Dering bel apartemen yang di tekan terus-menerus membuat Taehyung sadar dari tidurnya, ia melihat jam sudah menunjukkan sore menjelang malam. Kepalanya masih agak pusing tetapi tenaganya sudah lumayan pulih, Taehyung pun dengan malas berjalan untuk membuka pintu apartemennya, sedikit kesal karena tamu itu terus menekan bel tanpa henti. Taehyung memutar matanya malas begitu mendapati Jimin, sahabat menyebalkannya itu yang berkunjung, menganggu waktu istirahatnya.

"Bagaimana sakit kepalamu sudah reda?ah ya.. makanlah aku baru saja membelinya" tanya Jimin sambil menaruh bubur kerang yang baru saja di belinya dan mendudukan diri di sofa.

"Ck..sudah, tetapi menjadi pusing kembali setelah kau mengangguku dengan pencetan bel yang bar-bar" decak Taehyung kesal. Jimin hanya menyegir tanpa rasa bersalah, toh mereka memang sudah sering menganggu satu sama lain.

"Bagaimana kabar di rumah sakit? semuanya terkendali?" Taehyung agak curinga dengan sahabatnya itu, memang Jimin bisa di andalkan tetapi kerap kali ia juga ceroboh dalam menangani sesuatu.

"Hmm..semua berjalan seperti biasa saja, hanya ada sedikit masalah dengan beberapa dokter magang yang terlalu lamban saat menangani pasien di UGD tapi aku sudah memarahi mereka jadi bukan masalah besar, bagian yang lain tidak ada masalah sedikitpun" jelas Jimin santai. Taehyung mengerutkan alisnya, tanda ia belum terlalu puas dengan laporan Jimin. Jimin yang sedikit peka, menghela nafas singkat sebelum melanjutkan " mengenai Jungkook sudah lebih stabil, mungkin besok sudah bisa kembali ke ruang rawatnya seperti biasa, jadi kau tak perlu khwatir". Taehyung mengangguk pelan, setidaknya rasa cemasnya berkurang sedikit.

"Tae..apa lebih baik kau tidak terlalu dekat dengan Jungkook?" tanya Jimin serius. Sebenarnya Jimin ragu untuk membawa masalah ini sekarang, terlebih hubungan Taehyung dan Jungkook yang mulai dekat, hanya saja melihat kelakuan Jungkook tadi membuatnya takut nantinya lelaki manis itu akan menyakiti sahabatnya, terlebih Jungkook sudah mulai mengorek informasi tentang keluarga Kim. Taehyung mengangkat satu alisnya heran, tidak biasanya sahabatnya ini mengomentari hubungan pertemanannya dengan orang lain, biasanya Jimin cenderung cuek dan hanya akan mulai bicara jika merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Memang ada apa?" Taehyung bertanya balik, meminta penjelasan dari sahabatnya itu.

"Hmm..tidak..hanya saja aku melihat hubungan kalian menjadi terlalu dekat, kau tahu kan.. peraturan rumah sakit yang melarang dokter menjalin hubungan dengan pasien?aku merasa akan jadi masalah bagi dirimu dan Jungkook nantinya" Jimin memberi pengertian semampunya karena tidak mungkin ia membeberkan semua informasi termasuk kesepakatan dirinya dengan Jungkook mengenai Yoongi. Taehyung terdiam sejenak, memang yang di katakan Jimin ada benarnya juga tetapi sampai saat ini ia tidak merasa hubungannya dengan Jungkook melewati batas.

"Aku mengerti.. tetapi sampai saat ini aku hanya memperlakukan Jungkook seperti teman dan adikku sendiri..juga tidak mungkin bagiku untuk jatuh cinta atau menjalin hubungan kekasih dengannya, aku cukup sadar diri Jim..selama masih di keluarga Kim, siapapun yang menjadi istriku nanti bukan pilihanku sendiri" tegas Taehyung, walaupun ada sedikit rasa sedih di sorot matanya namun sebagai anak satu-satunya ia harus menjadi penopang bagi ibunya, jadi cinta bukanlah sesuatu yang penting bagi dirinya sampai saat ini. Jimin menelan ludahnya gugup, ia mengerti perasaan dan pikiran dari sahabatnya itu, tetapi kemungkinan bisa saja terjadi seperti dirinya yang pada akhirnya lepas dari keluarga Park demi mengejar kekasihnya kembali.

"Tetapi.. bagaimana dengan perasaan Jungkook, maksudku bagaimana jika ia benar-benar jatuh cinta karena perlakuanmu Tae?" pertanyaan Jimin, yang mampu membuat Taehyung memegang dan menampilkan rasa cemas yang begitu ketara di mukanya. Taehyung terdiam sesaat, benar yang di katakan Jimin ia mungkin bisa menahan perasaannya karena sadar akan posisinya sendiri tetapi bagaimana dengan Jungkook?lelaki manis itu akan makin rapuh jika Taehyung menolak perasaannya begitu saja. Mendadak semua pemikiran cemas Taehyung kembali membuat kepalanya berdengung, ia menutup matanya dan menghela nafas untuk merendam kembali sakit kepalanya.

"Aku..aku akan mencoba memberikan Jungkook pengertian nanti" jawab Taehyung ragu-ragu, ia pun merasa solusi yang di tawarkan dirinya terdengar seperti omong kosong, tetapi sampai saat ini hanya itu yang terpikirkan. Jimin mendengus gelisah, tahu sekali sahabatnya itu tipe orang yang gampang tergerak dengan air mata kasihan jadi meragukan sekali jika Taehyung berani menolak Jungkook, bahkan sebelum berkata-kata air mata Jungkook sudah mampu membuat Taehyung bungkam. Jimin sebenarnya masih ingin mendesak sahabatnya itu untuk mencari solusi bersama tetapi melihat kondisi Taehyung yang tidak baik, lebih baik ia menyerah dulu setidaknya sampai sahabatnya itu sudah sehat dan bisa berpikir lebih jernih.

"Ya sudah aku pulang dulu, buburnya cukup kau panaskan 5 menit, lalu aku sudah membawakan beberapa obat migran untukmu..ah, hubungi aku lagi jika ada sesuatu, jangan paksakan dirimu!" pamit Jimin menepuk pundak sahabatnya sebelum beranjak pergi dari apartemen Taehyung. Setelah Jimin pergi, Taehyung merebahkan dirinya di sofa dan memejamkan matanya, di kepalanya masih terngiang-ngiang pertanyaan Jimin tadi, sebenarnya ia juga heran kenapa Jimin tiba-tiba mengungkit hubungannya dengan Jungkook, karena selama ini mereka terlihat baik-baik saja, bahkan Jimin lumayan dekat juga dengan Jungkook. Mungkin ini ada hubungannya dengan Min Yoongi?karena ia cukup yakin Jungkook sudah mengetahui masalah antara Jimin dan Yoongi, Jungkook walaupun terlihat lugu dan manis tetapi ia cukup peka juga, jadi agak tidak mungkin menyembunyikan rahasia cukup lama jika sering bersama atau dekat dengannya. Lain kali Taehyung akan memastikan semuanya.

*

"Apa dokter Kim sudah mulai datang ke rumah sakit lagi?" tanya Jungkook kepada suster yang mengganti infusnya saat ini.

"Saya belum tahu juga..mungkin kalau dokter Kim sudah sembuh, ia akan mengambil shift malam hari ini karena sejak pagi saya belum melihat kehadiran dokter Kim" jawab suster tersebut di sertai senyum sopan dan pergi dari ruangan setelah melakukan tugasnya. Jungkook menghela nafas kesal, semenjak perdebatannya dengan dokter Park, lelaki itu mulai menghindar dan seperti menolak untuk membantunya lagi. Jungkook sudah berusaha menghubungi Yoongi hyung tetapi hyungnya itu masih sibuk dengan kehamilannya dan sering kali tidak sempat menanggapinya. Jungkook benar-benar berpikir keras saat ini, ada sedikit rasa cemas jika dokter Park membeberkan semuanya kepada dokter Kim tetapi ia yakin 50% dokter Park tidak akan berani karena ia juga memegang kartu yang menentukan hubungan antara dokter Park dan Yoongi hyung. Tentu saja, Jungkook sudah bersumpah kepada dirinya sendiri jika ia tidak akan membiarkan mereka bersama kembali, jika pada akhirnya Jungkook tidak bisa meyakinkan Taehyung untuk kembali bersamanya. Sepertinya jika keadaan seperti ini terus, mau tidak mau ia harus mendapatkan informasi sendiri, walaupun itu cukup membahayakan terutama kepala keluarga Kim cukup tersohor juga seorang misteri yang tidak suka kehidupan pribadinya terekspos. Jemari Jungkook mulai mengetik dengan lincah, meminta bantuan seorang sahabatnya yang terkenal sebagai hacker handal untuk mencari berkas informasi sebanyak-banyaknya, termasuk keadaan ibu kandung Taehyung, ia harus memastikan wanita itu tidak akan menghalangi dirinya lagi seperti dulu. Setelah pesan di terima, Jungkook langsung menghapusnya dari history handphonenya, pokoknya kali ini tidak ada yang boleh tahu, termasuk suruhan keluarga Min yang terus mengawasinya di rumah sakit.

"Tidak ada yang akan menghalangiku kali ini" bisik Jungkook dingin, menampilkan sifat aslinya yang penuh ambisi dan obsesi.

*

"Uhuk..uhuk..suster maaf bisa kau berikan obat ini kepada pasien dari keluarga Lee?besok aku akan mengecek keadaannya lagi, jika sudah stabil besok ia sudah bisa menjalani operasi kistanya" perintah Taehyung kepada seorang suster, sebenarnya ia ingin mengeceknya sendiri tetapi tubuhnya masih agak lemas dan wajahnya terlihat pucat.

"Baiklah..tolong istirahat yang cukup dokter Kim, jangan memaksakan diri anda" ujar suster tersebut agak khawatir. Taehyung hanya mengangukkan kepalanya dan menyandarkan tubuhnya ke kursi, sebenarnya ia ingin beristirahat sedikit lagi di apartemennya, setidaknya sampai sakit kepalanya agak reda tetapi telepon di pagi hari dari sekertaris ayah tirinya membuatnya mau tidak mau pergi ke rumah sakit dengan terburu-buru. Kepala keluarga Lee yang juga teman dari keluarga Kim, ambruk saat menyampaikan pidato kemenangannya menjadi mentri sehingga langsung di bawa ke rumah sakit ini. Sepertinya sakit kista yang lama di derita lelaki paruh baya itu memburuk, sehingga harus segera menjalani operasi yang tentunya Taehyung sebagai perwakilan ayah tirinya yang harus menanganinya sampai sembuh. Menjalankan operasi bukan hal yang sulit bagi Taehyung karena sudah berkali-kali ia melakukannya, hanya saja kondisinya yang masih agak sakit, membuatnya sedikit cemas terlebih rumah sakit saat ini dalam keadaan cukup ramai karena banyaknya wartawan dan media mengerumuni di area rumah sakit demi berita dari keluarga Lee. Taehyung memejamkan matanya sejenak, berusaha mengingat memori yang membuat perasaannya sedikit tenang. Memori saat dirinya kecil dulu bermain di pantai menikmati deburan ombak bersama adiknya dan di awasi oleh kedua orangtuanya dulu, memang keadaan tidak seperti dulu tetapi hanya dengan mengingat sudah cukup menghilang rasa gundah Taehyung. Senyum kecil mulai terbit di wajah Taehyung beserta setetes air mata haru, dengan cepat Taehyung menghapus bekas air mata beranjak ke tempat cuci tangan dan membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar.

"Kau pasti bisa Taehyung..ibu dan saudaraku memberikan kekuatan mereka untukmu" gungam Taehyung menatap pantulan bayangan di cermin dengan tekat kuat.

tbc