HALOOOO AKU KEMBALI LAGIIII!
MUMPUNG LAGI SEMANGAT UNTUK NGETIK, JADI LANGSUNG LANJUT!
TERIMA KASIH YANG MASIH MAU BACA DAN MAU REVIEW 3333
MOHON MAAF JUGA KALAU CERTANYA AGAK MONOTON.
PS: Habis baca ulang chapter 6 dan ternyata ada kesalahan time alias di chapter 5 aku tulis alurnya weekday, eh chapter 6 malah jadi weekend (T.T) bodoh sekali aku. Jadi aku minta maaf (T.T) akan aku perbaiki lagi nanti. Oh iya, berhubung mereka sudah resmi pacaran, jadi nanti dari sudut pandang Conan, dia akan memanggilnya Shiho. Begitu juga dengan Ai yang akan memanggil Shinichi dari sudut pandangnya. Jadi tidak usah bingung, toh mereka orang yang sama hehehehe
DISCLAIMER: AOYAMA GOSHO, sebagai pemilik sah hak cipta atas Detective Conan. Aku hanya reader kentang yang menyukai pairing AiXConan atau ShihoXShinichi.
WARNING: OOC, TYPO, PLOT PENUH DRAMA DAN LEBAY! HAHAHAHA
HEART
CHAPTER 7
AKU MENCINTAIMU
CONAN's POV.
"Paman Takagi, apakah aku sudah boleh pulang? Haibara sedang menungguku di taman sendirian," tanyaku kepada Officer Takagi.
"Iya, Conan-Kun. Ah, maaf aku jadi membuat gadis itu menunggumu sendirian. Hahaha. Biarkan kami yang menyelesaikan sisanya. Terima kasih ya, Conan. Kau membantu kami lagi," jawab Officer Takagi ramah.
Aku langsung berterima kasih dan pamit dari TKP untuk menemui Shiho-ku. Membayangkannya yang sedang menguap kebosanan karena menungguku membuatku tersenyum sendiri, Hahaha! Dengan tidak sabar, aku segera meneleponnya, tapi dia me-reject panggilanku.
Drrrrrrttttttttt….
Jangan telfon aku dulu, hp ku sepertinya error.
Shiho mengirimiku pesan. Error? Sepertinya tadi sore ponselmu masih baik-baik saja. Hmmm…
Aku langsung membalas pesannya.
Kasusnya sudah selesai, kau masih ada di tempat kita tadi kan? Tunggu aku! Aku kesana sekarang.
Aku memasuki lift untuk turun. Dia tidak membalas pesanku. Yah, dia memang bukan tipe gadis yang rajin membalas pesan jika bukan perihal yang penting. Aku sangat maklum.
Saat aku keluar dari lift mendadak angin dingin menerpaku dan membuat sepertinya kandung kemihku terasa penuh alias aku ingin buang air kecil. Hahaha! Aku harus segera ke toilet sebelum nantinya malah berakhir mengompol. Tidak bisa kubayangkan wajah Shiho yang mengejekku karena aku mengompol. HEY! Aku bukan bayi! Astaga!
"Shiho!" Seruku sambil berlari.
Ada yang aneh.
"Shiho, kenapa kau duduk disini? Astaga! Wajahmu sangat merah! Hei, ada apa ini? Kenapa ada cangkir kopi yang tumpah? Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?"
Aku memberondongnya dengan bermacam pertanyaan karena melihat Shiho-ku dalam kondisi yang tidak wajar, dimana seharusnya dalam bayanganku dia sedang duduk di kursi taman sendirian sambil menyeruput kopi hangat dan menikmati pantulan bulan dan lampu kota dari danau, tapi kenapa sekarang dia malah duduk membelakangi semak dengan beberapa helai daun menempel di rambutnya dan muka yang memerah serta cangkir kopi tumpah didekatnya?
"Aku tidak apa-apa."
Hanya itu jawaban yang keluar darinya.
ASTAGA! JANGAN-JANGAN…
"Tidak mungkin! J-jangan bilang kau habis melihat anggota organisasi disini?" Aku memperhatikan sekitar tapi tidak ada siapapun disini yang menurutku mencurigakan.
"Tidak, aku tidak apa-apa dan aku tidak melihat orang dari organisasi itu. Kau juga tau kan, mereka selalu bisa merasakan kehadiran seseorang walaupun orang itu bersembunyi. Jadi kalaupun aku melihat mereka, mungkin aku sudah tidak ada lagi disini, Kudo-Kun," dia mencoba berdiri tetapi justru malah hampir terjatuh. Aku segera menangkapnya. "EH… SHIHO!"
Aku yakin sekali ada yang dia sembunyikan dariku. Dia memanggil nama belakangku, menandakan bahwa dia sedang merasa tidak nyaman tentang sesuatu, tapi aku masih belum tahu apa yang membuat dia seperti ini. "Kau ini kenapa? Bagaimana bisa kau berkata tidak apa-apa tapi malah hampir terjatuh begini?" Aku memapahnya ke bangku taman yang ada di belakangnya, masih mempertanyakan kenapa dan kenapa, karena dia tetap tidak mau menjawabku.
"Aku tidak apa-apa, Kudo-Kun. Berhentilah khawatir secara berlebihan seperti ini. Aku hanya lelah, sepertinya aku makin menua. Aku duduk disana tadi karena kakiku sakit setelah lumayan lama dalam posisi jongkok. Aku sedang mencari antingku yang hilang."
Menua, huh? Antingmu hilang? Kau pikir aku akan percaya dengan jawabanmu?
"Tapi kenapa mukamu sampai merah begitu? Dan bukankah kau tadi akan memberikanku kopi, lalu kenapa kau malah menumpahkannya, bukan hanya satu, tapi dua cangkir kopi sekaligus?" aku masih mencoba mencari petunjuk, hampir frustasi dengan jawaban asalnya.
Aku mendengarnya menarik napas perlahan sebelum menjawab pertanyaanku.
"Aku kedinginan karena angin tiba-tiba berhembus kencang, menumpahkan 2 cangkir kopi yang kuletakkan disana. Kau tau kan tubuhku sensitif sekali terhadap udara dingin? Mencari barang sekecil itu di malam hari dengan udara yang cukup dingin. Ayo, kita pulang saja. Urusanmu sudah selesai kan, Shinichi?"
Ugghh… Akhirnya dia memanggil nama depanku lagi. Baiklah, Shiho, baiklah. Untuk saat ini, dengan berat hati aku menyudahi kecurigaanku. Meskipun semuanya masih terlalu janggal untuk dikatakan kebetulan, tapi aku juga tidak tega membiarkanmu kelelahan seperti sekarang. Shiho-ku butuh istirahat. "Kau yakin kakimu sudah lebih kuat? Atau perlu aku gendong?"
"Kau pikir aku bayi yang tidak bisa berjalan sendiri, huh?" ujarnya sebal, padahal aku serius akan menggendongnya sampai rumah, tapi syukurlah kondisinya sudah membaik, buktinya dia sudah bisa mengomel dan berdiri tanpa terjatuh.
"Hahaha… Baiklah, Nenek Shiho. Kau memang bukan bayi, tapi kau seorang wanita lansia yang sekarang berusia 87 tahun!" aku menggodanya sambil menggenggam tangannya yang dibalas dengan death glare ciri khasnya, tapi setelah itu walau samar aku melihat kesenduan di matanya.
Ada apa, Shiho?
END OF CONAN's POV.
NORMAL POV.
"Shiho," panggil Conan saat mereka sedang dalam perjalan pulang menuju rumah Hakase.
"Hmmm…" yang dipanggil hanya menyahut seadanya, masih memikirkan kejadian yang barusan dilihatnya.
"Shiho," panggil Conan lagi.
"Apa?" tanyanya lagi, tapi tetap tidak fokus kepada yang memanggilnya.
"Shiho!" untuk ketiga kalinya Conan memanggil Haibara.
"Ada apa sih, Kudo? Kau memanggilku sampai tiga kali, kau pikir aku Bloody Marry?" Akhirnya Haibara memandang Conan dengan wajah kesal karena kekasihnya itu mengganggu pikirannya dengan suara cemprengnya. Yang dipandang justru tersenyum puas karena berhasil mengganggunya.
"Aku mencintaimu," ucap Conan.
"Tch… Jadi kau memanggilku daritadi hanya untuk mengatakan ini?" seperti biasa, Haibara langsung memberikan death glare nya. Bukannya dia tidak suka, Haibara suka sekali dengan pernyataan cinta Conan, tapi sekarang pikirannya sedang memikirkan kejadian tadi.
"Karena kau sepertinya sibuk memikirkan hal lain, makanya aku takut kau melupakanku. Jadi, aku mencintaimu! Jangan harap kau boleh memikirkan hal lain selain aku yang mencintaimu, yah, aku perbolehkan kau memikirkan kesehatan Hakase dan urusan sekolah, tapi ingat urutan teratas dalam pikiranmu harus aku yang mencintaimu!" ancam Conan.
Haibara mengernyitkan dahi, heran. Detektif dihadapannya ini sepertinya sudah kehilangan akal sehat. Apakah efek jatuh cinta bisa menghancurkan beberapa neuron seseorang? Menarik untuk diteliti, 'mungkin dia bisa menjadi kelinci percobaanku nanti,' gumam Haibara dalam hati.
"Hei! Kenapa kau malah diam, Shiho? Aku mencintaimu. Jangan kau lupakan itu, baik sekarang atau nanti!" ancam Conan lagi. Sebenarnya dia tidak gila, neuron di otaknya pun masih utuh. Hanya saja dia sengaja bertindak konyol –atau lebih tepatnya- membuat Haibara kesal untuk mengalihkan pikirannya. Dia tahu jika Haibara masih memikirkan kejadian yang dialaminya tadi, yang dia sendiri masih belum mengetahuinya, Haibara pasti akan memberitahunya nanti, mungkin, yang pasti bukan sekarang. Dipaksa sekeras apapun, Haibara tetap akan bungkam dan berkelit, jadi lebih baik dia menunggu gadisnya ini memberi tahu dia langsung atau mungkin akan mencari tahu sendiri nantinya jika Haibara tak kunjung bercerita. Saat ini dia hanya berusaha agar Haibara melupakannya dan menggantinya dengan ingatan bahwa kekasihnya ini konyol.
"Kau sudah tidak waras, Shin! Minggir! Biarkan aku pulang sendiri!" Haibara melepaskan genggaman tangan Conan dan berjalan lebih cepat meninggalkan Conan di belakangnya.
"Hahaha… Tunggu aku, Shiho! Hey, aku serius. AKU MENCINTAIMU SHI- AI HAIBARA!" teriak Conan memecah keheningan malam.
'OH MY GOD! DETEKTIF GILA ITU! AWAS SAJA JIKA TERNYATA ADA YANG MENDENGAR TERIAKANNYA INI, DETEKTIF GILA ITU TIDAK AKAN KUBIARKAN HIDUP TENANG!' batin Shiho mengamuk. Dia makin berlari menjauh dari Shinichi sambil menutup wajahnya, berharap tidak ada yang mengenalinya.
'Hahaha… rencanaku berhasil kan? Setidaknya kau tidak lagi murung, Shiho!' batin Conan walau dia pun bergidik ngeri membayangkan efeknya setelah ini. Shiho-nya pasti akan mengamuk habis-habisan. Cara ini lumayan juga, tapi risiko yang dihadapinya sungguh sangat berbahaya!
"AI, TUNGGU AKU!"
"Ayolah, Shiho. Maafkan aku," rengek Conan di hadapan wanitanya yang sedari tadi mengabaikannya. Mana tahan pria haus atensi ini jika diabaikan lama-lama. EMPAT PULUH MENIT, ah tidak, sekarang sudah EMPAT PULUH SATU MENIT SEMBILAN DETIK gadis itu mengabaikannya.
Haibara tetap mengabaikannya. Menyibukan diri dengan membuat makan malam, yang sebenarnya jika dilakukan dengan mood yang bagus maka akan selesai dalam waktu dua puluh menit, tetapi karena mood nya sedang kurang baik karena kejadian di taman dan juga karena kelakuan orang yang dari tadi tidak henti-hentinya meminta maaf padanya ini, jadilah dia membuat nasi kari -yang sudah lebih dari empat puluh menit tapi belum ada tanda-tanda akan matang-. Bagaimana bisa seseorang dengan mood buruk justru memperhitungkan secara detail ukuran kentang, wortel, bawang, dan daging untuk nasi karinya, ditambah detail potongan untuk bahan-bahan tersebut. Kentang misalnya, Haibara memilih memotong kentang menjadi bentuk dadu, dengan sisi 1.5 cm. Yah dia benar-benar mengukurnya dengan penggaris. Lain halnya dengan wortel yang potongannya harus tepat di tengah, jika tidak, dia akan mengulangnya sampai potongannya pas ada di tengah. Wortel korban kekejaman Haibara yang tidak jadi ia masak tersimpan rapi dalam juicer, siap untuk diekseskusi menjadi jus yang menyehatkan, tidak ada bahan makanan yang sia-sia. Menyeramkan memang jika wanita yang satu ini dibuat jelek mood nya.
Conan keheranan melihat kekasihnya yang seharusnya memasak tapi malah mengukur kentang berbentuk dadu dengan penggaris. Sejak sampai di rumah Hakase, Haibara terus mengabaikannya. Yah, dia paham, wanita ini sepertinya sedang memberikan hukuman padanya karena perbuatannya tadi. Ugh, dia benar-benar harus meminta maaf padanya. 'Sebaiknya dompet Prada atau jaket Fendi yang harus kuberikan kali ini? Hmmm… tabunganku, selamat tinggal!' batinnya membayangkan tabungannya terkuras habis karena ini.
"Shihoooo… maafkan aku. Ayolaah… Apa salahnya jika aku mencintaimu? Itu kan memang kenyataan! Kau ingin apa? Dompet Prada atau jaket Fendi? Akan aku belikan, tapi jangan abaikan aku lagi," Conan masih merengek kepada Haibara yang masih sibuk memotong bahan kari.
Haibara menatap Conan tajam, dia mulai paham kenapa kekasihnya melakukan itu. Lelaki gila itu hanya ingin dia tidak terlalu memikirkan kejadian di taman tadi. Buktinya sekarang dia lebih memikirkan tindakan Conan daripada kejadian di taman, TAPI TETAP SAJA itu terlalu BERLEBIHAN! Lagipula, apa-apaan tawarannya itu? Apakah Haibara se-matre itu? Kenapa harus memilih kalau bisa keduanya, cih! "Kau tidak waras!"
"Hahaha… Kau yang membuatku tidak waras! Lelaki mana yang masih bisa berpikir normal jika sudah jatuh cinta padamu? Hanya aku!" goda Conan dengan cengiran khasnya yang dibalas dengusan kesal Haibara.
"Hei, jangan marah dulu! Aku tidak bermaksud mengejekmu, tapi aku serius! Aku harus memutar otak agar kekasihku yang meskipun sinis, tapi sangat cantik ini, tidak direbut lelaki lain. Kau sadar kan kalau kau sangat cantik? Jadi, aku harus terus membuatmu ingat bahwa aku mencintaimu dan tidak boleh ada lelaki lain yang berkata itu padamu! Kau harus ingat itu yaa, Shiho. Aku mencintaimu, hanya aku!" ucap Conan dengan lantang. Terlalu sombong dia.
Tubuh Haibara gemetar kegelian dengan ekpresi wajah seperti habis melihat hal yang menjijikan setelah mendengar perkataan kekasihnya itu –walaupun di hati kecilnya dia merasa bahagia- tapi mana mungkin dia mau mengakuinya. "Dan kalau aku tidak mengingatnya?"
"Akan kubuat kau selalu mengingatnya, bagaimanapun caranya, sampai otakmu hanya dipenuhi aku, aku, dan aku! Kau pun tau, aku bisa melakukan apapun dengan caraku sendiri. Jadi ku harap kau tidak akan melupakannya!"
"Dan aku pun juga punya caraku sendiri, jadi…" Haibara mengusap pisau yang dia pegang dengan tisu lalu menempelkan sisi pisaunya ke dagu Conan dan mendekatkan wajahnya. Conan sedikit terkejut dengan tindakan Haibara, tapi dia tetap tenang karena dia yakin Haibara tidak akan mungkin benar-benar membunuhnya. Haibara menatap Conan tajam. "Jangan berteriak-teriak seperti tadi. Kau seperti orang bodoh. Itu tidak cocok denganmu!" Haibara lalu menjauhkan wajahnya lagi dan lanjut memasak. Mood nya sudah lebih baik, jadi mungkin nasi karinya akan siap dalam 10 menit.
'Ahahaha… kalau perilakumu seperti ini, lelaki mana yang masih waras saat menghadapimu? Mengerikan! Shiho-ku, kau mengerikan, tapi aku jadi makin mencintaimu. HAHAHA…' Conan tertawa dalam hati sambil sweatdrop.
Conan hendak meninggalkan dapur menuju ruang tamu daripada nantinya kehadiran dia disini membuat mood Haibara memburuk lagi.
"Hei, Shinichi."
Conan menoleh ke arah Shiho.
"Sepertinya jaket Fendi bagus juga untuk menambah koleksiku," ucap Haibara dengan santai memasukkan bahan kari ke dalam panic tanpa melihat ke arah Conan.
"Hahaha… Baiklah. Kita akan membelinya akhir pekan nanti," ucap Conan sambil sweatdrop membayangkan tabungannya akan berkurang banyak.
"Dan aku juga mencintaimu."
CHAPTER 7 END.
PS (AGAIN!): Disini ada cerita tentang Conan yang berteriak dengan nama Shiho namun akhirnya dia langsung mengoreksi dan menggantinya dengan Ai Haibara, itu karena dia sadar dia berteriak di tempat umum dan sangat berbahaya jika berteriak nama Shiho di tempat umum, secara yaa, Shiho kan buronan Black Organization. Semoga gak bingung yaa. Hehehehe.
