Malam weekend guys...
Lama tak jumpa, ya. Maaf baru update karena aku sakit sejak terakhir post cerita baru. Ini baru beraktivitas normal lagi sekitar seminggu...
Pokoknya kalian jaga kesehatan. Jangan kayak aku yang sempat drop. Sempat panik sih, sakit dalam pandemik kayak gini... Tapi alhamdulillah aman..
.
.
Warning : Typo, gaje, rancu
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
.
"Baginda! Kami menuntut keadilan untuk permaisuri!" Mikoto bersama dengan Kizashi masih tidak berhenti meminta hukuman untuk Hinata.
"Baik Permaisuri atau Selir Agung sedang mengandung. Menjebloskan ke dalam penjara sangat terlarang untuk keturunan raja. Seharusnya kalian semua mengerti. Membuat bayi raja stress sama saja membunuhnya. Jadi, bisa kalian hanya diam?" Sasuke memandang mereka tegas. Dia sudah sangat muak untuk menemukan titik terang kasus ini. Sakura masih akan bungkam. Sialnya lagi, dia benar-benar mengunci kamarnya dalam seminggu ini.
"Kheh...jika Anda seperti ini, semua akan melakukan kesalahan tanpa mendapatkan hukuman. Belum cukup kasus Putri Rin, sekarang Permaisuri pun akan dibiarkan."
Sasuke mengepalkan tangan erat atas ucapan spontan kakak iparnya—Sasori. Apa dia juga tahu, jika ternyata Sakura pelakunya sendiri?
"Apa maksudmu?" Tekan Sasuke geram.
"Yah, bahkan Anda pura-pura tidak tahu. Anda sendiri juga hampir membunuh bayi Permaisuri." Ujar Sasori santai. Hal ini mengingatkan semua orang pada hukuman yang Sakura terima tanpa sidang. Terlebih kesalahan waktu itu ternyata sangat menguntungkan kerajaan.
"Jadi, percuma semua partai berkoar. Semua suara tidak akan didengar dengan alasan bayi Selir Agung. Pemerintahan tidak membutuhkan kita lagi dalam politik."
"Tutup mulutmu!" Sasuke menunjuk Sasori tajam.
Naruto dan Kakashi memandang Sasuke khawatir. Salah langkah sedikit saja, mereka juga bisa kehilangan kepercayaan dewan partai. Lagi pula, wajah-wajah diruangan ini tidak sepenuhnya memiliki catatan buruk. Mungkin beberapa orang ada. Tapi, tidak menutup orang-orang berbakat yang sangat royal pada kerajaan.
Fraksi Ibu Suri juga tak kalah besar, semua pendukungnya juga sangat mendukung Sakura. Dan mereka akan melakukan apapun yang bisa mengancam posisi Sakura. Termasuk Hinata yang akan dianggap penghalang karena rumor Sasuke terlalu memanjakannya. Tidak enak dipendengaran. Melewati dua selir untuk status dibawah permaisuri. Maka ketika ternyata Hinata yang berada diposisi terdesak, ini merupakan celah untuk menurunkan posisi Selir Agung.
"Keputusanku sama. Kalian yang membuat istri-istriku merenggang. Kami baik-baik saja, sebelum permaisuri juga mengandung."
"Jika Anda begitu tidak ingin bayi Permaisuri, maka biarkan saja tewas atau dia jadi Haruno." Balas Kizashi cepat. Tegas.
Sasuke bungkam. Dia tahu dia sudah salah bicara. Melirik ke arah ibunya pun, dia menunduk sedih. Tidak. Dia tidak menyalahkan hari upacara mereka untuk mendapatkan kehamilan Sakura. Pada kenyataannya, dia juga senang saat istrinya akan menjadi seorang ibu. Keuntungan lainnya, tidak ada alasan bagi Sakura untuk mengharapkan Gaara.
"Aku tetap tidak akan mengusut kejadian itu. Tidak akan ada sidang. Dan tidak akan ada yang dipenjara. Yang bisa ku lakukan untuk sedikit hukuman adalah, Anggaran Selir Hinata akan sama dengan selir lainnya, juga penutupan kastil dan pembatasan bertemu keluarga selama waktu yang belum ditentukan." Karena, yang mereka tahu, Hinata bersalah, bukan Sakura yang memfitnah. Ini juga bertujuan untuk melindunginya dari balas dendam.
Sasuke berdiri dari ruang pertemuan, dia ingin pergi meninggalkan mereka yang masih akan terus protes. Keputusannya sudah bulat.
"Aku setuju, cucuku menjadi Haruno."
Sasuke menoleh cepat ke arah Mikoto. Itu adalah berupa bisikan pelan, tapi mata hitam ibunya mendongak pada saat tepat dirinya lewat. Hanya dia yang mendengar. Kursi Ibunya tentu lebih tinggi dari bangsawan lainnya. Tapi, mengapa? Bukankah hanya dari Sakura dia bisa menganggap pewaris berikutnya.
"Kita bicarakan ini lagi nanti, Ibu. Ku harap Anda sudah berpikir jernih ketika itu terjadi." Sasuke melanjutkan langkah tanpa menoleh lagi. Dia akan menemui dua putrinya untuk mengembalikan mood hari ini.
.
.
.
.
.
Sejak mengurung diri di kamar, Sakura membuat sketsa kolam yang menjadi keinginannya. Harus lebih besar dari kolam rias disemua sudut istana. Harus lebih mewah dan cantik. Ikan-ikannya harus bibit-bibit unggul yang terbaik, berwarna-warni.
Setelah melihat list dana yang diperlukan, ternyata tidak main-main. Sangat pantas dengan harga kepuasan yang tinggi. Mungkin ini bisa sampai melebihi anggaran Permaisuri selama satu tahun lebih. Sejujurnya, bagi Sakura itu bukan masalah. Dia punya bisnis lain diluar. Lagi pula, jika harus menggunakan anggaran Haruno pun, mereka akan mengabulkan. Tapi, entah kenapa jika begitu kepuasan itu akan hilang, ia ingin semua datang dari istana. Karena ia membangun dalam istana.
Sakura menunduk menatap perutnya. Tidak. Jelas ini adalah keinginan calon penghuni istana baru. Dia menyadari itu, tapi enggan mengakui.
Sakura melirik lagi berbagai sketsa. Sekarang, bagaimana dia bisa mencairkan uang sebanyak itu dari biro keuangan dengan mudah. Meski itu haknya yang belum sempat diambil, tapi bagi siapapun yang melihat akan dianggap berfoya-foya.
Sakura membuka pintu untuk memanggil Ayame—pelayan yang sering ia beri perintah setelah Temari pengkhianat. Bahkan sekarang pun dia masih jadi pelayan yang selalu menatapnya nanar, kala bukan dia yang dipanggil. Bukan lagi dia yang paling berdekatan dengannya.
"Aku ingin makanan asam. Mungkin beberapa diantaranya pedas. Jangan terlalu manis. Dan aku ingin minuman segar. Oh, ya. Sampaikan surat ini ke biro keuangan," Sakura menyerahkan sebuah amplop berlabel Kastil Blossom. "Aku ingin bertemu, Tuan Asuma."
"Baik, Permaisuri! Apa Anda ingin cake saus strawberry hangat juga, itu juga segar."
Sakura hampir meneteskan air liur saat membayangkan strawberry yang asam. "Ya, kau bisa menambahkannya." Sakura tersenyum senang.
.
.
.
.
.
"Ayah, Rin bisa menangkap kupu-kupu."
Sasuke memberikan senyum hangat pada Rin yang memegang jaring diatas tanah. Seekor kupu-kupu warna warni terjebak didalamnya.
"Anak pintar." Sasuke mengusap lembut rambut halus putri sulungnya.
"Ibu bilang harus dilepas lagi."
Sasuke mengernyit bingung. "Kenapa?"
"Biar bisa membuat bunga-bunga ditaman mekar. Iya, kan, Nami?" Rin mengerucutkan bibir ketika melihat Nami yang berputar-putar mengejar kupu-kupu lain.
"Na...mi!"
Sasuke melihat putri keduanya yang tampak tidak terpengaruh oleh panggilan kakaknya.
"Biarkan saja, Ayah percaya. Rin sudah semakin pintar, ya. Ayo, lepaskan kupu-kupu kalau begitu."
Dengan semangat Rin mengangkat jaringnya. Bertepuk tangan senang saat kupu-kupu tersebut bergabung dengan kupu-kupu lainnya.
"Sudah, ayo! Kita makan camilan bersama kedua Ibumu."
Rin mengangguk semangat. Sasuke membantu membersihkan bajunya dari debu. Kemudian berdiri dan menggendong Nami tiba-tiba. Alhasil, Nami menjerit dan langsung menangis karena kaget.
Sasuke mendekati kedua istrinya, memberikan Nami pada Karin, karena menyerah tak bisa membuatnya kembali tenang. Anak itu awet jika menangis.
"Seharusnya, Anda tidak membuatnya menangis." Ino berkomentar datar.
"Tidak sengaja." Sasuke menoleh ke arah Ino yang tidak meliriknya. Kemudian, wanita itu membantu Rin mengambilkan makanan. Jika sudah begini, dia merindukan moment keempat istrinya dimeja yang sama.
"Anda ingin makan apa, Baginda?" Karin bertanya karena sejak tadi Sasuke hanya diam dan tak menyentuh satu pun makanan di meja.
"Apa saja."
Karin dengan sigap melayani Sasuke. Mengisi piring kosongnya dengan berbagai makanan.
.
.
.
.
.
Pyarrrrr
Pranggggg
Begitu membuka pintu, serangan gelas teh mengenai dada bidangnya. Terang saja, baju Sasuke menjadi sedikit basah dengan tumpahan air. Beruntung sudah tidak terlalu panas.
"Apa-apaan ini, Hinata?" Sasuke berteriak marah. Ini sudah kelewatan.
"Seharusnya saya yang bertanya? Anda mengurung saya disini. Sudah saya katakan, saya tidak bersalah. Permaisuri gadungan itu yang ingin memfitnah saya. Kenapa harus saya yang menanggung kesalahannya." Bentak Hinata menggebu-gebu.
"Sudah! Cukup! Sabar saja dan jalani!" Bentak Sasuke tegas.
"Saya tidak sudi. Dia pendosa bukan saya."
"Terserah! Tapi sikapmu kali ini sangat keterlaluan. Lakukan sesukamu! Kau terlalu banyak menuntut." Sasuke menekan kalimat terakhirnya, kemudian berbalik pergi, tidak perduli lagi pada Hinata yang terus memanggil namanya.
"Baginda...Baginda...tolong dengarkan saya dulu! Baginda..." Jerit Hinata kala penjaga menahannya agar tidak keluar lebih jauh.
.
.
.
.
.
Dikediaman ibunya Sasuke terdiam. Dengan sang ibu yang juga mendiamkannya sejak tadi. Jika dibandingkan dengan Sakura, dirinya seperti bukan lagi putra baginya. Keputusan apapun yang diprioritaskan adalah Sakura. Bahkan, ibunya marah pun karena Sakura.
"Maafkan aku, Ibu! Aku tidak bisa memilih diantara keduanya. Aku menginginkan Sakura sebesar menginginkan Hinata."
"Kau tidak adil untuk keduanya."
"Itu sudah cukup adil. Ibu maupun publik hanya tidak tahu seperti apa kejadiannya."
Mikoto mendengus. "Artinya, kau menuduh Permaisuri."
'Bukan menuduh, tapi kenyataan.' Gumam Sasuke dalam hati.
"Jika sampai cucuku tidak lahir. Aku juga yang akan mundur dari posisi ibu suri."
Sasuke terbelalak. Itu artinya, ibunya akan pergi ke Istana Merah. Tempat semua anggota kerajaan untuk menikmati masa tua. Lokasinya sangat jauh. Dan Sasuke tak akan tega membiarkan ibunya sendiri disana. Tidak akan pernah.
"Apa harus seperti ini. Selama ini Ibu selalu menerima Rin dan Nami. Tapi kenapa tidak bayi Hinata?"
"Karena Permaisuri menyayangi keduanya." Balas Mikoto cepat.
"Apa Permaisuri terlihat tidak menerima bayi Hinata?"
Mikoto memandang putranya dengan dalam. "Kau dibutakan oleh cinta, hingga cela sedikit pun tak bisa kau lihat. Bahkan, Klan Hyuga yang sedang berulah pun kau biarkan."
"Aku juga sudah membebaskan Sasori." Balas Sasuke cepat.
"Sekarang katakan, apa yang Permaisuri lakukan diluar saat itu, bersama Sasori. Disana juga Anda sedang bertepatan menahan Raja Sabaku. Apa mereka terlibat sesuatu. Kau tak mengatakan apapun tentang ini, kecuali hukum harem saat itu berada dalam kendaliku. Anda hanya bilang Permaisuri sengaja keluar istana karena terlena pernah sekali melanggar. Berakhir, dengan aku hampir kehilangan cucuku. Baginda, keadaannya, tidak sesepele ini, kan?"
Sasuke menipiskan bibir kelu.
"Jika Anda masih berkata kejadiannya seperti itu, dan merasa bangga telah membebaskan Sasori, maka itu tidak seimbang."
"Kecuali, Anda membiarkanku seperti orang tolol yang menuntut keadilan, padahal kebenarannya hanya Anda yang tahu."
"Kalau begitu, diamlah!"
"Ibumu ini bukan mayat hidup! Dan kau ingin aku ada disini selaku penonton. Tidak." Mikoto menggeleng pelan. "Tanggung jawabku untuk memandu langkahmu masih panjang. Kau, masih putraku."
Sasuke mengepalkan tangan erat. Dia memang selalu bersyukur karena keluarga satu-satunya masih bisa bertemu keluarga kecilnya. Hanya saja, ibunya masih menginginkan segalanya dari Sakura, bukan dari istrinya yang lain. Meski begitu, dia senang bisa membuat Mikoto selalu tersenyum.
"Ibu—"
"Pergilah! Kau sudah merasa berkuasa. Maka tidak perlu lagi saranku."
"Bukan begi—"
"Anda bahkan tidak mau menerima perintah wanita tua ini?"
Sasuke mendongak, menatap kosong pada kepergian ibunya yang berakhir dengan meninggalkannya.
.
.
.
.
.
"Salam, Baginda!" Sasuke menerima setiap salam dari para pelayan yang berjaga diluar kamar Sakura.
"Apa pintu Permaisuri masih di kunci?" Sasuke berbicara tenang.
"Benar, Baginda."
"Bagaimana pola makannya?"
"Sama seperti dua hari sebelumnya, semakin meningkat."
Sasuke tidak bisa tidak merasa haru. Pasalnya, Sakura begitu susah makan kalo tidak diingatkan. Dan sudah terhitung tiga hari, katanya nafsu makannya meningkat pesat.
Tok tok tok
Sasuke mengetuk pintu Sakura pelan setelah mengusir para pelayan yang berjaga.
Sakura bukan tidak tahu, sejak tadi Sasuke sedang mengorek informasi kegiatannya hari ini. Hanya saja, dia masih tidak mau bertemu. Ditambah, pagi itu dia membuat ulah.
"Sakura. Aku merindukanmu! Bisakah kita bicara sebagai teman? Untuk malam ini saja." Ucap Sasuke parau.
"Aku bingung." Sasuke menempelkan kening pada pintu kamar.
"Ku mohon!"
Merasa tidak mungkin mendapat jawaban, Sasuke diam. Duduk menyender pada daun pintu. Pandangan memandang langit-langit ruangan yang temaram.
"Tidurlah! Terimakasih sudah menjaganya hari ini. Aku dengar dia suka makan akhir-akhir ini. Apa dia sudah menonjol? Bisakah kau menggantikanku mengusapnya? Sebentar saja. Hingga dia pulas dan tidak terlalu mengganggumu saat tidur."
Sasuke menyendu. Hari ini memang sangat berat. Dan, setelah raga lelah dengan segala beban dipundak. Masih tidak satu pun penghuni istana lainnya yang menerimanya dengan baik. Karin dan Ino memberi alasan berbeda. Hinata sedang mengamuk. Ibunya bahkan lebih mendiamkannya. Belum cukup sampai disana, Sakura bahkan sudah seminggu menutup pintu. Dan meski begitu, mengapa dia masih duduk disini tanpa kembali ke kastilnya sendiri?
Tanpa sadar Sasuke menutup mata. Tidak perduli seberapa dingin terduduk dilantai atau udara malam. Dia hanya ingin menutup mata sebentar.
Sakura masih menatap pintu dan perutnya secara bergantian. Dia tidak bisa menggantikan tangan Sasuke karena bukan begitu rasanya.
Sakura tahu maksud Sasuke sebagai 'teman', karena pria itu punya beban yang ingin dibagi. Sakura mendengus dengan pikirannya. Sasuke itu licik, mulutnya dusta, buta keadilan lagi. Untuk apa dia perduli kepada siapa Sasuke harus berbagi keluh kesah.
Setelah cukup lama hening. Sakura menaiki ranjangnya dan segera menutup mata.
Namun, Sakura hanya mampu tertidur beberapa jam. Nyatanya perutnya kembali meronta meminta makan. Sakura mendesah kesal. Sungguh dia sangat malas. Jika pintu tidak di kunci dia bisa saja berteriak.
Dengan berat hati, Sakura menghela langkah menuju pintu. Begitu pintu terbuka, Sakura terkejut panik. Sasuke terjengkang dalam tidurnya.
'Tunggu. Tidur? Sasuke tidur disini?'
Sasuke mengerjap-ngerjap mata mengantuk. Dia terkejut, tubuhnya oleng ke belakang. Beruntung, sebelum kepala membentur lantai, refleknya terbangun. Kepalanya langsung mendongak menatap Sakura yang syok menutup mulut. 'Ah, dia ketiduran didepan pintu.'
Sasuke berdiri. Niat hati ingin menghampiri Sakura, namun urung. Sakura mungkin masih memasang sikap waspada. Dia hanya melewati Sakura yang mematung didepan pintu. Kemudian keluar kamar menuju sofa terdekat untuk melanjutkan tidur. Ya, dia butuh tidur disaat kepalanya pening.
Sakura mengernyitkan kening tanda bingung. Dia bertanya-tanya selelah apa Sasuke hingga tak menyadari dimana dia tidur, bahkan setelah terbangun karena kaget. Bukan pindah ke kamar, dia melanjutkan terpejam di sofa luar.
Sakura tanpa sadar mengelus perutnya singkat. Bayi ini tahu ada yang tidak beres dengan ayahnya. Sakura menggeleng tidak perduli. Merasa yakin Sasuke tak akan menyerangnya, Sakura melanjutkan langkah melewatinya. Kebutuhan perutnya lebih mendesak daripada berbasa-basi dengan orang yang datang ketika ada maunya.
Sasuke mengintip pergerakan Sakura dari celah tangan yang menutupi matanya. Suara panggilan kepada maid untuk dipersiapkan makanan. Senyum tipis terukir, bayi keempatnya akan tumbuh sehat. Oh, bahkan tubuh Sakura sudah sedikit berisi.
Tak perlu waktu lama, para pelayan dikejutkan dengan kehadiran Sasuke yang berbaring disofa depan kamar Sakura.
Sasuke memberi kode untuk mengabaikannya dan segera penuhi keinginan Sakura yang sudah masuk ke dalam kamar lagi. Sontak saja semua menurut patuh. Namun, salah satu pelayan memberi selimut tebal untuk Sasuke.
.
.
.
.
.
Sakura terbangun karena mendengar suara berisik dari arah luar kamar. Dia ingat, semalam, setelah makan malam ditengah malam selesai, lupa mengunci pintu karena begitu perutnya kenyang, kantuk yang berat menguasai diri. Namun, sejauh netra hijaunya bergelinding menyapu ruangan, Sasuke tidak ada dikamar. Artinya dia aman.
Sakura mendengus, saat pikirannya memberitahu jika Sasuke mungkin saja tidur diluar kamar. Menyedihkan. Apa pedulinya? Tidak ada.
Sakura menyibak selimut untuk melihat kondisi diluar. Berisik oleh derap langkah kaki yang sepertinya sibuk berpindah tempat. Juga suara-suara yang tidak jelas dipendengarannya.
"Ada apa ini?" Begitu membuka pintu, tanpa melihat kondisi, Sakura bertanya tegas.
Mengabaikan netranya yang kemudian menangkap siluet Sasuke yang terduduk menunduk dengan sebelah tangan memijat kening. Tubuhnya agak kuyu, meski masih terbentuk kekar. Sakura tahu, ada yang tidak beres dari ayah bayinya ini.
"Paduka, Ba—"
"Tidak ada. Masuklah! Maaf telah membangunkanmu!" Sasuke memotong cepat ucapan Temari, saat menyadari para pelayan terlalu ribut dengan kondisinya sehingga membuat pemilik kastil terbangun.
Semua pelayan yang sedang wara-wiri seketika diam ikut menunduk. Harapan mereka sama. Keharmonisan kedua junjungannya. Namun, hampir dari mereka tahu, akhir-akhir ini—ah, tidak, memang sejak awal keharmonisan dua junjungannya ini hanya berdasarkan pekerjaan.
"Jika Anda sakit, masuklah! Dan kalian, panggil Dokter Tsunade!" Perintah Sakura tegas. Kemudian melengos pergi. Dia tidak sebodoh itu untuk tidak tahu keadaan Sasuke yang pucat. Dan dia tahu akibat mengusir raja yang sedang sakit dari kediamannya. Caci maki.
"Terimakasih, aku baik-baik saja, tidak perlu dokter." Sasuke tahu, Sakura mengabaikannya, permaisurinya memilih duduk disofa depan ranjang saat ia dibantu berbaring diranjang.
Sasuke memejamkan mata erat, kepalanya pusing bukan main. Dengan berat hati dia harus menerima pertolongan Sakura. "Baiklah!"
Sambil menunggu, keduanya hanya membisu. Hanya terdengar hembusan nafas keduanya.
Sakura masih enggan menerima Sasuke. Dan, Sasuke yang mendadak tak memiliki nyali menarik Sakura dalam obrolan.
Hingga suara ketukan pintu tanda dokter telah datang membuyarkan isi kepala masing-masing.
"Masuk!" Perintah Sakura tenang.
Tsunade masuk, dan langsung memeriksa keadaan Sasuke setelah berbasa-basi dengan salam formal.
"Syukurlah bukan masalah serius. Baginda, hanya kurang istirahat dan masuk angin. Saya akan meresepkan obat agar lekas pulih." Jelas Tsunade.
"Baik. Kau boleh pergi!"
Tsunade membungkuk patuh dengan perintah Sakura.
Kemudian Sakura memanggil para pelayan untuk menyiapkan sarapan agar Sasuke bisa meminum obat.
"Permaisuri, terimakasih!"
Sakura bungkam. Berusaha menghabiskan suap demi suapan semangkuk besar bubur ayam. Terpaksa menemani Sasuke sarapan.
Sasuke tahu, Sakura masih akan diam walaupun tindakannya bekerja dengan semestinya. Dia masih bisa peduli padanya bahkan ketika membencinya.
Melirik perut Sakura yang sudah cukup terlihat jelas dibalik gaun tidurnya. Dia ingin menyapa tapi—banyak tapi yang menjadi penghalang. Sasuke memalingkan wajah dan berlanjut menghabiskan sarapannya. Dia harus bersyukur Sakura tidak mengabaikannya saat sedang sakit seperti ini.
"Aku akan kembali ke Kastil Onyx setelah agak mendingan." Sasuke berdiri menuju ranjang tanpa menoleh ke arah Sakura. Berusaha tidur agar tubuhnya cepat pulih.
Sakura menatap Sasuke sekilas. Dia bisa bekerja diruang kerjanya jika Sasuke masih ingin menumpang dikamarnya.
.
.
.
.
.
Sasuke menepati perkataannya pada Sakura pagi itu. Dia kembali ke kastilnya saat siang hari setelah berpamitan dengan calon buah hati mereka. Namun, hingga satu minggu kemudian kondisi tubuhnya masih belum bisa diajak kerjasama.
Banyak pekerjaan menumpuk yang belum bisa dia sentuh barang sejenak saja. Kepalanya benar-benar pening.
Kakashi telah melaporkan kondisi Sasuke pada Sakura di hari keempat, namun baru satu hari lalu dia ikut membantu menangani pekerjaan Sasuke.
Alasannya, masih karena enggan. Namun, posisinya sebagai permaisuri dituntut untuk tidak mengutamakan rasa diatas tanggung jawab negara.
Inilah tugas seorang permaisuri ketika raja-nya berhalangan. Kondisinya yang sedang hamil pun bukan menjadi alasan. Meski dengan begitu, mau tak mau mendapat perhatian dari Mikoto yang juga ikut membantu Sakura.
Sasuke menatap tak enak hati pada tiga istrinya dan dua putrinya setiap kali datang menjenguk. Ya, Sasuke mengizinkan mereka menginjak Kastil Onyx dengan alasan ia tak bisa menemui keluarganya diluar kastil.
Sasuke selalu miris, dari keempat istrinya justru orang terdekatnya hampir tak pernah datang. Kecuali, saat meminta persetujuan atas kerja kerasnya menggantikan dirinya. Padahal, Permaisurinya sedang hamil dengan kandungan yang bisa dikatakan lemah. Dia lebih mengutamakan rakyat daripada mencari perhatiannya.
Ibunya bahkan baru sempat mengunjunginya karena sakit biasa seperti ini membuatnya tak bisa keluar kamar selama seminggu. Ya, bagaimana pun ibunya tetap ibunya. Sasuke tak akan pernah meragukan kasih sayangnya walaupun mereka terakhir bertemu dalam keadaan renggang.
"Terimakasih sudah datang, Ibu! Tolong beritahu Permaisuri untuk tidak terlalu lelah bekerja!Mungkin jika Ibu yang berbicara, dia akan mendengarkan." Sasuke mengecup punggung tangan ibunya sayang.
"Kalau begitu, sembuhlah! Dokumen diruang kerjamu sangat menumpuk." Bohong, jika Mikoto sanggup membenci putranya karena Sakura. Sebesar apapun rasa kecewa, Sasuke masih tetap dunianya.
"Ya, Dokter Tsunade berkata ini bukan penyakit serius, jangan khawatir!"
Mikoto mendengus, putranya terlalu menyepelekan. "Jika kau sanggup berkata begitu, seharusnya tidak selama ini. Kau yang harus berhenti memikirkan pekerjaan beberapa waktu. Biarkan aku saja!"
Sasuke menggeleng pelan, dengan senyum tipis. "Aku akan sembuh. Ibu bisa membantu yang ringan saja atau yang paling mendesak, bersama Permaisuri. Sekali lagi terimakasih dan maaf, sudah membuat Ibu repot!"
Mikoto mengusap kening Sasuke lembut. Berharap usapan halusnya adalah mantra penyembuh bagi putranya. "Bagiku, Kau yang utama, jangan tinggalkan aku seperti Ayah dan Kakakmu!"
Sasuke mengusap sudut airmata yang tiba-tiba mengalir di pipi ibunya. "Tidak akan, jangan berpikir terlalu keras Ibu, aku akan segera pulih."
"Kalau begitu, jangan kau sentuh dokumen-dokumen itu!" Tunjuk Mikoto pada meja nakas samping tempat tidur Sasuke.
Sasuke menghela nafas panjang, "Baiklah. Satu hari ini saja."
Mikoto tersenyum puas. "Anak baik."
Sasuke mencibir. Kadang-kadang ibunya memang selalu bertingkah seolah dirinya masih balita.
.
.
.
.
.
"Kau mengerjakan dokumen sebanyak ini?" Sasuke memijat kepala pening.
"Ini tidak seberapa dibanding Anda." Sakura masih berdiri tenang.
"Ya ya ya, duduklah!"
Sakura duduk dikursi samping ranjang. Mungkin ini disiapkan karena hampir setiap hari ada penjenguk.
Sasuke menatap dokumen yang hanya perlu tanda tangannya. Ini memang porsi kecil baginya, namun untuk Sakura yang sedang mengandung, ditambah katanya mode ngidamnya cukup rewel, bukankah terlalu memaksakan diri?
"Jangan terlalu memaksakan diri!"
"Anda hanya perlu memberikan tanda tangan, karena itu sudah selesai." Sakura membalas datar.
Sasuke menipiskan bibir kelu. Dia tidak ingin pertemuan mereka berakhir setelah dokumen ditandatangani. Dia masih ingin melihat Sakura dan calon bayinya.
"Tidak bisakah, kita makan malam bersama sebentar lagi?"
"Tidak." Balas Sakura cepat.
"Sudah dua minggu, dan kau masih marah?" Sasuke menatap Sakura nanar.
"Marah atau tidak, itu tidak berpengaruh untuk kesembuhan Anda. Pada akhirnya saya juga yang repot."
"Bagaimana jika itu berpengaruh?" Sasuke senang saat Sakura mendelik ke arahnya. Cantik.
"Tidak masuk akal."
"Buktikan saja, aku bertaruh untuk itu."
"Pikiran Anda sepertinya ikut sakit."
"Sakura, tinggallah disini!"
"Tidak." Sakura kembali menjawab cepat.
"Aku perintahkan kau, Permaisuriku, untuk merawatku selama sakit!" Sasuke berkata tegas.
Sakura mengepalkan tangan jengkel.
"Ini perintah Raja." Pertegas Sasuke.
Sakura memalingkan wajah kesal. "Hukumlah saya, Baginda Yang Mulia, karena saya akan tetap menolak."
"Baik. Hukumanmu adalah menjadi perawatku selama sakit—oh, bila perlu selamanya." Sasuke menyeringai geli. Bibir pucatnya yang pecah menjadi pemandangan Sakura.
"Mengapa? Anda bersikap seolah membutuhkan saya, padahal Anda hanya mengekang."
"Negara ini membutuhkanmu. Aku tidak yakin jika selir-selirku mampu untuk melakukan sepertimu disaat seperti ini."
"Jadi saya salah membantu Anda." Jawab Sakura sarkastik.
"Karena kau melakukan bukan untukku melainkan untuk rakyat kita. Kau tulus. Jangan berpikir tindakanmu untuk menarik perhatianku! Kau tidak melakukan itu." Sasuke memberi pengertian.
"Terkadang aku berpikir lebih baik kau mengejar kekuasaanku karena kemampuanmu. Tapi kau tidak lagi karena kesalahanku yang serakah." Sasuke meraih tangan Sakura yang mengepal.
"Pada akhirnya kita saling membenci dengan alasan berbeda. Padahal, kupikir pertemanan kita bisa berlanjut hingga menjadi teman kerja." Sasuke mengecupnya pelan.
"Kau diam saja saat aku mengambil tiga selir. Tanpa kutahu, sebenarnya kau marah, tapi itu tidak seberapa dibanding aku menjauhkanmu dari Gaara, kan? Dan aku juga marah karena itu. Hingga tidak butuh waktu lama, kita seperti musuh yang saling membenci." Sasuke menatap Sakura untuk mendapatkan perhatian, namun tidak ada.
"Pergi dan istirahatlah! Aku akan memberikan dokumen ini pada Kakashi nanti." Sasuke melepaskan tangan Sakura hati-hati.
"Apa tujuan Anda mengungkit ini?" Sakura menoleh pada Sasuke yang terdiam.
"Apa Anda sedang berusaha menyakinkan saya bahwa Anda sangat membenci saya, tapi ingin bersikap seolah tak ada kejadian apapun untuk menutupi curiga dari publik? Sudah sadar keadaan harem yang tidak terurus lagi? Mempertahankan untuk memanfaatkan, itu yang saya rasakan saat ini. Dan Anda masih bersikap seolah saya awal mula dari kecanggungan yang terjadi." Sakura membalas emosi.
"Benar. Saya tidak butuh kekuasaan Anda karena saya bisa menjadi Permaisuri di kerajaan lain. Anda terlalu picik membuat fraksi Ibu Suri dan Haruno untuk bersaing dengan fraksi Hyuga yang belum terbukti apapun. Ini masih belum seberapa, jika saja Anda masih belum tegas." Sakura berbicara seolah yakin dengan masa depan.
"Aku tidak perduli lagi siapa Permaisuri-nya. Tapi aku sudah bilang, caramu untuk disampingku juga terlalu instan. Aku hanya memberikan kesempatan pada yang lain." Sasuke memandang Sakura yang juga menatapnya.
"Bayi Hinata belum tentu laki-laki, dan bayi kita belum tentu perempuan yang kau harapkan. Sebelum kau membencinya begitu dalam, biarkan dia tumbuh dengan kasih sayangmu!" Sasuke berujar tenang.
Sakura mendesis sinis. "Saya tahu maksud Anda, tapi cara saya bukan begitu. Apa tidak cukup hanya dengan membiarkannya lahir dan mengikuti kemauannya yang merepotkan?"
Sasuke berpaling. "Datang dan katakan padaku jika dia menginginkan sesuatu yang merepotkan itu. Kau tak pernah mengatakan keluh kesahmu atas ngidammu padaku. Aku akan sangat menantikannya."
"Aku harap tidak akan pernah ada."
Sasuke hanya mengangguk sebagai tanggapan. Dia sangat ingin memeluk Sakura setiap kali mereka bertemu. Tidak pernah terealisasikan. Benci itu nyata adanya. Harga diri yang tercoreng. Meski begitu, ikatan keduanya bukan dua orang tak saling kenal yang dijodohkan, tapi teman kecil yang dijodohkan. Teman kerja yang saling mengisi satu sama lain. Juga rasa sayang yang sejujurnya tidak tahu kapan mulai bersarang.
"Kalau begitu, saya permisi!"
"Tunggu!" Sasuke melihat Sakura berhenti dan berbalik menunggu lanjutannya. "Apa dokumen yang kau bawa?" Netra hitamnya melirik satu dokumen ditangan Sakura yang sejak tadi tak diserahkannya.
"Bukan sesuatu yang penting, namun harus berdasarkan izin Anda."
"Apa?"
"Saya berniat mencairkan uang di Biro Keuangan."
Kening Sasuke berkerut. Bukankah itu haknya, kenapa harus ada persetujuannya?
"Dalam jumlah besar."
Seketika raut wajah Sasuke memerah. "Kemarikan!"
Sakura kembali dan menyerahkan pada uluran tangan Sasuke.
"Sebanyak ini? Untuk apa?"
"Saya punya kebutuhan mendesak. Lagipula, itu adalah gaji saya yang belum sempat saya ambil."
"Ya, dan sekalinya mengambil dalam jumlah besar seperti ini? Ini akan menimbulkan kecurigaan. Lakukan saja penarikan berkala." Sasuke harus bersikap tegas untuk hal seperti ini.
Sakura berdecak. "Tidak bisa begitu." Dia jelas sudah tidak sabar.
"Permaisuri, ini bisa menimbulkan tuduhan pemborosan."
"Saya tahu. Tapi saya tidak berniat menunda. Lagi pula itu tidak mengambil atas nama kerajaan."
Sasuke memandang Sakura yang terburu-buru dan tidak ingin dibantah. Keinginan yang menggebu-gebu, hingga seperti gereget menginginkan sesuatu.
"Aku tidak bisa mengabulkan tanpa alasan yang jelas. Katakan saja! Jika tidak, katakan selamat tinggal pada keinginanmu!"
Sakura mendengus frustrasi, "Saya akan merenovasi halaman belakang Kastil Blossom terutama bagian kolam."
Kening Sasuke mengernyit." Sebanyak ini?"
"Dengan mewah."
"Kau yakin?"
"Saya sudah membuat desain kasarnya."
"Hebat, tapi—"
"Jadi, Anda masih tetap tidak akan mengabulkan, bahkan setelah saya beritahu? Anda memang pembohong." Potong Sakura cepat. Berdiri dari duduk hingga membuat kursi berderit kasar, hendak kembali ke kediamannya. Hatinya perih hanya karena pembangunan kolamnya kembali tertunda.
"Sakura, tunggu!"
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Gimana guys, masih menghibur malam weekend kalian... Ini panjang lho...
.
.
Jangan lupa vote and comment ya guys..
See u next time...
