Sudah hampir satu minggu, Uchiha Sasuke begini. Pulang sangat larut, waktu tidur semakin kacau dan wajahnya sangat terlihat lelah. Seolah hari demi hari ada sesuatu yang terus menghisap energi dari tubuhnya. Laki-laki itu juga jauh lebih banyak diam.
Mengingat Uzumaki Karin sampai sekarang belum terdeteksi keberadaannya, Sakura berakhir dengan hipotesis bahwa perempuan itu adalah alasan di balik kalutnya suaminya. Ah, sial. Seiring engan berjalannya waktu, Sakura bertransformasi menjadi perempuan munafik.
Hatinya menjerit kesakitan tapi otaknya mempertahankan segala rasionalitas. Menegur diri sendiri bahwa posisinya hanyalah seorang villain. Ingat. Saat ini Sakura membuat Uzumaki Karin terjatuh ke dalam neraka yang dulu pernah Sakura lalui.
Hati dan pikirannya saling berbeda pendapat. Kala hatinya menggemakan lonceng peringatan atas perasaannya yang tanpa sadar terus tumbuh untuk Uchiha Sasuke, otaknya memerintah untuk menghentikan bunyi lonceng itu tanpa ampun.
Ingat.
Sakura si jahat yang merampas titik tumpu milik Uzumaki Karin.
Jujur saja, topik soal Karin ingin sekali Sakura utarakan pada Sasuke. Ingin ia tanyakan soal masalah yang membebani laki-laki itu tapi Sakura rasa ia akan lancang. Perempuan itu tak mau memaksa suaminya untuk membagi kisahnya, jika ia tak mau. Atas dasar itu, Sakura memilih untuk diam dan menunggu.
Karena hal ini juga, Sakura tidak bisa mengajak suaminya untuk berunding perihal insiden kehamilan palsunya. Yang ini terpaksa harus ditahan untuk sementara waktu.
"Sasuke-kun," panggil Sakura halus.
Sambil menggantung coat-nya, ia menolehkan wajahnya, memberikan atensi pada istrinya. "Hn?"
Sakura terdiam sejenak. Ia nampak menimbang-nimbang hal yang akan ia bicarakan. "Bagaimana jika kita mengunjungi ibuku dan menginap selama beberapa hari di sana?" tanyanya penuh harap.
Sebelum Sasuke diizinkan untuk menjawab, Sakura kembali mengalunkan suara. "Kulihat kondisimu sedang kurang baik. Mungkin dengan berkunjung ke rumahku, kau bisa merasakan lingkungan baru. Seperti ... a little sweet escape, mungkin?"
Tentu saja Uchiha Sasuke merasa ini bukan waktu yang tepat untuk melarikan diri bahkan sekedar untuk menenangkan pikirannya. Sebetulnya, Sasuke tahu kalau Sakura mengkhawatirkan dirinya.
Apakah dirinya nampak semenyedihkan itu?
Tentu saja. Bahkan memutuskan rantai penyiksaannya saja tak bisa. Delapan belas tahun sudah berhasil ia tanggung. Karena nyawa taruhannya, seharusnya delapan belas tahun berikutnya atau seratus tahun lagi bukan masalah. Mari kembalikan akal sehat. Ia harus mencari Karin.
"Maaf, Sakura. Lain waktu, ya?" balasnya pada akhirnya.
Hati Sakura turut mencelos dibuatnya. Ekspresi miliknya berubah murung. Ia menggigit mukosa bibir bawahnya. "Tapi semenjak menikah 'kan kita belum bertemu dengan ibuku lagi..."
Sasuke yang sudah melonggarkan dasinya dan hendak membuka kancing kerahnya langsung terdiam. Onyx-nya memancarkan berbagai spektrum perasaan tak terdefinisi. Benar juga. Ini sudah hampir dua minggu sejak pernikahan mereka. Bisa-bisa keduanya disembur oleh Mebuki kalau menunda kunjungan lebih lama lagi. Astaga, bagaimana mungkin laki-laki itu bisa melupakan hal sepenting ini?
Bodoh. Bukankah ia sendiri yang bilang kalau Sakura juga adalah tanggung jawabnya? Kalau berani mengambil dua tanggung jawab sekaligus, harusnya ia konsisten menanggungnya dong.
Sakura mengambil kesempatan di tengah heningnya Sasuke. "Oke, sepakat. Karena besok Sabtu, kita akan berpamitan pada Tousan dan Kaasan lalu kita mampir untuk membelikan ibuku sesuatu sebelum menemuinya."
Sakura yang duduk di ujung kasur membangkitkan badannya. "Mandi sana! Aku akan packing pakaian kita," tuturnya sambil mendorong badan Sasuke ke arah kamar mandi.
Lalu Uchiha Sakura bergegas melangkahkan kakinya menuju lemari untuk memilih beberapa pakaian yang akan dibawa.
Sementara Uchiha Sasuke hanya terpaku di depan kamar mandi, menarik sudut bibirnya sedikit.
Tanpa Sakura, sesungguhnya apa sih yang bisa ia lakukan?
Disclaimer: All of the characters and Naruto itself are Masashi Kishimoto's but this story is purely mine. Saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun selain kepuasan pribadi x')
Warning: Slight SasuKarin, AU, OOC, typo(s), dan jauh dari kata sempurna ;)
Rate T semi M untuk bahasa dan beberapa pembahasan(?)
.
Responsible
7. Triggering The Truth
.
Ternyata mendapatkan izin dari kedua mertuanya bukanlah perkara sulit. Sakura sendiri terkadang bingung, kenapa keluarga suaminya memperlakukan ia bak ratu? Bahkan Uchiha Sasuke saja sampai bertanya-tanya siapa yang anak kandung di sini.
"Kenapa mendadak sekali, Sakura? Aku 'kan belum menyiapkan apa-apa untuk dibawa ke sana..." cicit Mikoto nampak sedih.
Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali. "Tidak perlu repot, Kaasan. Nanti aku dan Sasuke-kun juga berencana membeli sesuatu dulu," Sakura mengulaskan senyum, berusaha menenangkan mertuanya.
Mertuanya pura-pura merajuk, "Lain kali jangan mendadak supaya aku bisa membuatkan ibumu sesuatu."
"Siap, Kaasan! Tidak akan kuulangi." Sakura memberikan hormat sambil terkekeh manis.
Rasa lega dan bersalah bersamaan saling menarik, terasa mencubit raganya dalam diam. Dalam hati, Mikoto merasa bahwa Sakura adalah angin musim semi yang berkunjung untuk mematahkan musim dingin panjang dalam kediaman Uchiha.
Bolehkah Mikoto menghadapi karmanya sambil merasa lega seperti ini?
Wanita yang usianya sudah menyentuh separuh abad itu menyaksikan kepergian anaknya dan sang menantu. Bersama dengan Fugaku, ia mengantar kepergian mereka sampai depan rumah.
Begitu mobil Uchiha Sasuke pergi, onyx-nya menerawang, mengingat masa lalu. "Kenapa aku bisa melakukan hal sejahat itu pada perempuan baik seperti Sakura, ya?"
Yang hanya dibalas oleh Fugaku dengan usapan lembut pada bahu istrinya.
.
;;;;;
.
"Tidak."
Tatapan penuh kontra dipancarkan oleh Sasuke yang menyilangkan kedua tangan di atas dada.
Sakura mendesah kecewa, bibirnya mencebik. "Kenapa?" Ia meninggikan tone frustrasi.
"Karena semuanya sampah." Sasuke segera melenggang cuek dengan trolley-nya, kembali menjelajah supermarket.
Sakura bilang, ia akan membeli beberapa amunisi sebagai persiapan menginap di rumah. Akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk singgah ke supermarket di sebuah mall setelah barusan memberikan cake untuk dibawakan pada Mebuki.
Begitu sampai supermarket, mata Sakura mengerling terlampau gembira. Ia mengambil berbagai macam kudapan asin, beberapa makanan manis dan beberapa kaleng minuman tak sehat. Ia merangkulnya dalam satu pelukan sembari memberikan jurus puppy eyes yang sama sekali tidak mempan pada suaminya.
"Ayolah. Kapan lagi aku ditraktir Sasuke-kun?" Ia memohon, masih berusaha keras dengan puppy eyes-nya. Kali ini ia meletakkan penuh atensinya pada kelengkungan bibir.
Sasuke menghela napas. Ia menggelengkan kepala dan menepuk-nepuk kecil kepala pink Sakura. "Berurusan denganmu selalu membuatku kalah."
Kedua alis Sakura berkerut.
"Masukkan makananmu ke dalam trolley," sahut Sasuke menjawab kebingungan Sakura.
Perempuan itu langsung memasukkan jajanannya yang banyak tadi memenuhi trolley belanjaan mereka. "Nah, begitu dong. Manusia sekali-sekali memang harus memakan sampah supaya perutnya tidak sensitif. Jangan dimanjakan~!"
Laki-laki itu tidak mengindahkan ucapan Sakura. Ia kembali mengeksplorasi jajaran rak berisikan berbagai item di minimarket tersebut. Sedangkan Sakura hanya berdecih sembari setia mengekor di belakang suaminya.
"Sasuke-kun," panggilnya kemudian.
Memindahkan onyx-nya lalu memberi atensi pada sang istri, seperti biasa, Uchiha Sasuke menyahut, "Hn?"
Sakura mengulum senyum geli. "Kok aku mau ya, menikah denganmu?"
Sasuke menatap datar Sakura, air wajahnya tidak mewakilkan banyak tapi berhasil membuat Sakura melanjutkan ucapannya.
"Padahal belum seminggu kenal tapi kenapa kita nekat, ya?"
Sasuke mengambil lima bungkus mie instan secara asal dari sebuah rak yang men-display berbagai mie dengan macam-macam varian rasa. Ia kembali menatap netra giok milik Sakura. "Karena kau adalah tanggung jawabku," jawabnya kemudian lalu menghadiahi sentilan pelan pada kening Sakura.
Perempuan itu mengelus keningnya yang sebenarnya tidak sakit. Ia mempercepat langkahnya yang tertinggal oleh Sasuke, air wajahnya nampak kontra. "Sudah kubilang kalau aku tidak mau menjadi tanggung jawabmu. Sampai kau masih menganggapku begitu, aku akan melakukan aksi ngambek," tuturnya dibuat ketus, menyilangkan kedua lengan di atas dada.
Sasuke mendorong trolley maju ke depan. Ia membantu petugas kasir memindahkan barang dari trolley ke meja kasir untuk di-scan. "Aksi macam apa yang akan kau lakukan?" Ia melirik sekilas ke arah istrinya yang masih asyik bercuap.
"Apa saja bisa kulakukan. Misalnya, tinggal di rumahku dan tidak kembali sampai kapanpun?" Sakura mengendikkan bahu.
Jawaban tersebut nampak tidak mempan karena Sasuke justru menarik angulus bibir kiri, memahat smirk tampan. "Mau kau menghilang juga, tidak akan memengaruhi hidupku 'kan?"
Sakura langsung cemberut. Iya juga. Istri jalur salah paham sepertinya bisa apa? Iya, deh. Uchiha Sakura bukan Karin, kalau menghilang pun tidak akan ada yang berubah. Bibirnya mencebik, Sakura berusaha menahan dadanya yang bergemuruh tak nyaman. Tunggu. Kenapa sekarang Sakura membawa-bawa Karin?!
Perempuan itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Sadar, ia harus tahu diri!
Sementara Sasuke nampak menikmatinya. Ia mengacak-acak helaian rambut pink Sakura yang masih cemberut sebal. "Bercanda. Bukankah sudah kubilang kalau aku tidak bisa melepasmu?"
Yang dijadikan bulan-bulanan jari-jemari Uchiha Sasuke adalah rambut Sakura tapi hati perempuan itu yang justru semakin dibuat berantakan. Apalagi ucapan Sasuke barusan. Kalau begini terus ... bisa-bisa Sakura menyerah atas pertahanan perasaannya.
Sasuke tidak menyangka bahwa belanjaan mereka bisa beranak sebanyak ini. Well, mereka terlalu banyak membeli minuman yang membuat barang bawaan mereka menjadi lebih berat. Jelaga milik laki-laki itu ia lirikkan pada sosok istrinya yang masih melamun di depan kasir.
Ia pun memberikan sinyal pada Sakura untuk mendekatinya dan segera membantu Sasuke.
Sakura nampak terkejut karena jiwanya baru ditarik ke bumi setelah melalang buana ke dunia imajinasi dalam pikiran. Perempuan itu nampak memroses hal yang terjadi dengan hening selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia beraksi.
"Astaga, Sasuke-kun? Masa kau tega menyuruh istrimu yang sedang hamil muda ini untuk mengangkat belanjaan kita?" ucapnya sambil menjulurkan lidah di akhir sarkasme miliknya. Oh, dan jangan lupakan volume suara yang mendadak meningkat pada saat ia memerintah pita suaranya untuk bekerja.
Benar saja, seketika Uchiha Sasuke menjadi bahan gosip dan bisik-bisik dari ibu-ibu di sekitar sana. Lagi-lagi, Uchiha Sasuke hanya menatap datar Sakura dan berjalan cuek mendahului perempuan itu. Dan Uchiha Sasuke kembali kalah.
Kini mereka telah sampai di basement, menuju mobil hitam Sasuke diparkir. Sakura yang sejak tadi hanya tersenyum menahan tawa akhirnya merebut paksa tali tas ramah lingkungan mereka yang berat.
Saat ini, belanjaan mereka ditenteng bersama dengan langkah yang beriringan. "Beban itu harus dibagi supaya bisa ditanggung bersama, sehingga tidak lagi terasa berat." Senyum super manis dan tatapan sejuta arti ia pancarkan, berusaha ditransfer agar diterima oleh radar Sasuke.
Apa beban ini benar-benar soal tas belanjaan mereka?
Tentu saja, tidak. Uchiha Sasuke paham betul bahwa sebenarnya Uchiha Sakura menunggunya untuk membagi bebannya pada sang istri. Uchiha Sasuke memang keterlaluan. Sudah satu minggu berlaku seperti robot, memforsir setiap milimeter tubuhnya untuk bekerja dan mencari Karin tanpa istirahat.
Sudah tujuh hari ia menghampiri rumah sakit tempat Karin bekerja, berusaha menggali melalui koleganya, lalu ke rumah perempuan itu, mengganggu Naruto yang merupakan kerabat jauhnya bahkan sampai kembali ke rumah sakit tempat Karin dirawat kemarin. Namun, apa hasil yang ia dapat? Nihil.
Sampai saat ini, semesta masih menyembunyikan Karin di bawah radar Uchiha Sasuke. Sesungguhnya, apa yang berusaha langit ceritakan? Mengapa Tuhan mengirimkan Sakura kepadanya?
Selagi termenung dalam danau pikiran, Sakura yang menenteng belanjaan memakukan matanya pada sosok anak kecil yang asyik berlarian di basement parkir tersebut. Ibu dari anak itu nampak sibuk dengan suatu hal pada gadget-nya.
Benar saja, perasaan tidak enak Sakura terjawab sekitar tiga menit kemudian. Sebuah mobil sport melaju cepat dalam basement, sementara anak kecil tadi masih berlarian tanpa memerhatikan posisinya yang lebih condong ke tengah.
Adrenalin Sakura bertingkah, pada situasi seperti ini kepalanya dibuat sedingin mungkin. Dengan satu gerakan cepat, ia menjatuhkan tas belanjaannya dan lari secepat angin menyusul anak kecil itu. Sakura mendorong tubuhnya sambil memeluk erat sang anak, membuat dirinya terhempas ke dataran basement dengan suara bruk yang lumayan.
Anak kecil tadi sangat terkejut dan langsung menangis. Sementara, ibu anak tersebut mengucapkan terima kasih dan memohon maaf yang sebesar-besarnya karena lalai dalam menjaga anaknya. Sakura hanya memegangi sikunya yang lecet karena dijadikan tumpuan tubuhnya sembari menenangkan orangtua anak tersebut.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Terdapat berbagai hal yang tidak Uchiha Sakura ketahui saat ini. Adalah jantung Uchiha Sasuke yang nyaris berhenti tanpa mampu memroses segala kejadian ini. Adalah Uchiha Sasuke yang terpaku di tempat, menahan traumanya meledak mengambil alih pertahanan tubuhnya. Adalah Uchiha Sasuke yang ekstremitas bawahnya mendadak lemas.
Sakura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia hanya mengulaskan senyum, berkontradiksi dengan tubuhnya yang masih gemetar. "Aku sudah memerhatikan anak itu sejak tadi, kau tahu, tadi itu—"
"—Apa kau sudah gila?! Apa yang baru saja kau lakukan?!"
Uchiha Sasuke menginterupsi dengan suara yang tinggi, sampai bergema di seluruh basement.
Sakura mematung dibuatnya.
Belum pernah Sakura melihat Uchiha Sasuke yang semarah ini. Tiap kata yang diproduksi oleh mulutnya, diberi penekanan sampai membuat Sakura menahan ngilu. Sesungguhnya, kedua kaki Sakura terasa tidak menginjak tanah saat ini. Bibirnya bergetar, ia berusaha tegar. "M-maafkan aku. A-aku hanya..."
Kedua emerald Sakura menatap dataran di bawahnya. Ia menarik napas dalam, menahan air mata, kemudian memberanikan diri mengambil langkah mendekati Uchiha Sasuke.
Uchiha Sasuke bisa gila jika harus menyaksikan seseorang kehilangan nyawa tepat di depan matanya lagi. Denyut nadinya meningkat, melebihi batas normal menjadi takikardi. Kepalanya mendadak terasa sangat berat.
Anak kecil.
Mobil.
Seseorang yang menyelamatkannya.
Tiga fragmen tersebut sangat berperan penting dalam menarik traumanya yang sudah lama tidak mengambil alih tubuhnya. Napasnya mulai kembali sesak, pandangan mata laki-laki itu mulai buram. Saat Sasuke kira raganya akan terbawa arus kelemahannya, Sakura menghentikan dirinya.
Perempuan itu merengkuh Sasuke dalam pelukan erat. Sakura mengelus-elus punggung suaminya dengan pelan tanpa berhenti. Kecil dan repetitif ia terus-terusan memberikan magis berkekuatan tinggi untuk membuat laki-laki itu tetap terjaga. Di telinga Sasuke, perempuan itu berbisik pelan, "Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir lagi."
Dan dengan sangat ajaib, Uchiha Sakura lagi-lagi mampu membaca suaminya.
Cukup lama, mereka bertahan dalam posisi seperti itu sampai akhirnya Sasuke sudah lebih tenang. Pada momen ini, tidak ada satupun di antara mereka yang memecah keheningan setelah kejadian barusan.
Sampai di mobil, Sakura menawarkan diri untuk mengemudikan mobil Sasuke yang tentu saja ditolak cepat. Sempat, Sakura menanyakan keadaan suaminya tapi laki-laki itu terus berkata bahwa ia baik-baik saja. Sesungguhnya, perasaan mereka masih bercampur aduk tapi tak ada satupun dari mereka yang berniat membuka kembali topik tersebut.
Satu jam sampai ke rumah Sakura terasa seperti perjalanan menggunakan transportasi cap siput. Sangat terasa lama, karena mereka berdua hanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Cukup awkward, Sasuke pun bahkan mempertanyakan akal sehatnya—kenapa bisa dia seimpulsif itu mengeluarkan emosinya?
Sedangkan Sakura, setengah dari dirinya merasa bahwa hal yang ia lakukan adalah benar. Tapi kenapa Uchiha Sasuke membentaknya seperti itu? Kenapa laki-laki itu terlihat pucat? Kenapa Uchiha Sasuke bereaksi seperti itu? Ingin sekali Sakura mengeluarkan isi pikirnya tapi menilai situasi saat ini, sangat mustahil.
"Astaga! Ternyata aku pernah melahirkan, ya?" Sarkasme tersebut adalah penyambut Sakura dan Sasuke saat sampai di rumah Sakura.
Dengan cuek, Sakura memeluk ibunya dengan erat. "Aku bawa cake opera kesukaan, Kaasan, lho."
Sayangnya, sogokan Sakura tidak mempan. "Aku bisa beli sendiri," jawab ibunya mendelik.
Sakura mencebik.
Mebuki langsung menjitak kepala anaknya, "Masuk. Sudah lama Kaasan tidak punya pembantu."
Sakura melongo tidak percaya. Memang sih pasti ibunya kesulitan karena selama ini Sakura yang selalu mengerjakan pekerjaan rumah. Astaga, pulang ke rumah ternyata hanya membuatnya kembali menjadi Upik Abu.
Sasuke meletakkan belanjaan mereka di atas meja makan. Sementara Sakura mulai sibuk di dapur, Uchiha Sasuke tidak punya pilihan lain untuk menemani ibu mertuanya duduk di ruang tamu.
Rumah keluarga Haruno terlalu mewah untuk ditinggali oleh dua orang. Ruang tamunya saja sangat luas, nuansa hijau zamrud dan abu-abu yang memanjakan mata bersatupadu dalam menciptakan suasana nyaman.
Sasuke duduk di sofa abu-abu panjang tengah, di sebelah ibu mertuanya. Kedua mata ibu mertuanya itu setia memancarkan laser yang memindai dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Setelah delapan belas tahun, kau tumbuh dengan baik, ya, Bocah." Mebuki memecah keheningan, ia memasang senyum pilu.
Delapan belas tahun yang ... lalu? Apakah ada sesuatu yang Sasuke lewatkan?
Ingin rasanya Sasuke suarakan tanda tanyanya tapi ibu mertuanya kembali memproduksi kalimat.
"Apakah kau sudah berhasil melaluinya?" Mebuki tanpa sadar meremas ujung pakaiannya. Ia menarik napas, "Anakku, Sakura. Meskipun sudah melaluinya tapi sisa luka itu masih menghantuinya."
Uchiha Sasuke semakin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Apa yang sudah berhasil Sasuke lalui? Apa yang menimpa Sakura? Sesungguhnya ... tentang apa ini?
"Sejak usia lima, Sakura tidak pernah lagi merayakan hari ulang tahunnya." Dengan gusar, Mebuki melemparkan pandangannya berusaha membaca kedua iris kelam menantunya. "Sesungguhnya, aku hanya ingin anakku kembali bahagia seperti dulu. Maka dari itu, Sasuke..."
Single mother itu memegang kedua bahu Sasuke, menegaskan ucapannya. "Kuharap kau bisa mewujudkannya, melepaskan dirinya dari tali masa lalu."
Sebesar apapun usaha Uchiha Sasuke untuk memahami ucapan ibu mertuanya, pada akhirnya tak ada yang dapat diolah oleh laki-laki itu selain bingung. "Maaf, Kaasan. Bisakah kau jelaskan maksudmu?"
Mebuki tersenyum tipis. Sudah wanita itu duga bahwa Uchiha Sasuke benar-benar tidak mengetahuinya sampai sekarang. Perempuan itu menepuk pelan kepala menantunya. "Tanyakan jawabannya pada Sakura atau ... ibumu, Bocah." Mebuki mengalihkan pandangannya dari onyx Sasuke dan sebelum Sasuke menambahkan pertanyaannya, wanita itu kembali menyahut.
"Soal insiden dan nyawa yang hilang delapan belas tahun lalu ... bukankah ibumu yang paling tahu?"
.
.
.
.
.
tbc
.
27/08/2020
.
a/n: Haloo. Mau ngingetin kalo mulai dari chapter ini kayaknya akan terasa lebih berat. Bagi yang ingin mundur silakan, tapi yang tetep mau baca aku sangat berterimakasih. Lets bear it together sampe nanti wkwk mari ambyar bersama karena sejujurnya aku yg ngetik juga ikut kepengaruh banget secara emosional wkwk dasar si INFJ lebay—kayaknya gegara RL-nya lagi pusing jadi kebawa xD
Semoga feel-nya kena dan tidak membosankan, yaa x) terima kasih bagi yang udah mampir. Semoga sehat-sehat selaluu x)
Buat yang kemaren ninggalin jejak, makasih banyakkk! Maaf nggak sempat bales review-tapi kubaca semuanya koook! Akan kubales pelan-pelan ya gaes nyicil ;-;
