Disclaimer : Harry Potter dan yang lainnya punya J.K Rowling.

Summary : Semua orang akan berubah, entah kearah yang lebih baik atau kearah yang buruk.

Everybody's Changing

16. Monolog

Seminggu berlalu semenjak penyerangan di Kementrian Sihir, Harry merasakan ada yang berbeda dengan dirinya. Bukan hanya dia tapi hampir seluruh anggota Orde the Phoenix juga merasakannya, bahkan Ron bertanya secara terang-terangan saat mereka sedang mengadakan makan bersama di kediaman Sirius.

"Harry, ini hanya perasaanku saja atau ada yang berbeda denganmu? Kau tahu, aku tidak merasakan energi sihir yang meluap-meluap sepertis saat itu dan kau juga lebih tenang?"

Ini menjadi hal yang dipertanyakan oleh dirinya juga, semenjak kejadian di mana dirinya hampir hilang kendali, Harry bisa merasakan jika aliran sihir dalam dirinya terasa lebih tenang. Tidak ada gejolak liar dari dalam sana, semuanya terasa seperti air tenang yang mengalir ke tepian. Bolehkah ia berharap seperti ini terus?

"Harry, berhenti melamun seperti itu. Oh, boleh aku bertanya tentang sesuatu padamu? Ada sesuatu yang mengusik diriku semenjak minggu lalu, setelah kejadian— kau tahu maksudku, kan?" Hermione datang dengan dua cangkir coklat panas dalam genggamannya.

Sudut perapian masih terasa hangat berbeda dengan di luar sana yang masih bersuhu rendah, matanya tak luput dari kobaran api yang tengah menyala. Terkadang ada rasa takut yang muncul dalam dirinya saat melihat api dan saat dirinya mencoba mengingat yang ada hanya lah kehampaan yang tidak berujung.

"Apa itu sesuatu yang serius?"

Sesapan pada coklat panasnya membuat Harry sedikit lebih baik, sekarang Ron dan Hermione tengah menginap di sini bersamaan dengan si kembar Weasley yang tengah melakukan eksperimen konyol mereka di ruang bawah. Entah apa yang mereka teliti yang jelas Harry menunggu jika ada sesuatu hal yang menarik.

"Kau tahu, saat di mana dirimu hampir lepas kendali dan hampir menghancurkan rumah ini. Sebenarnya ada seseorang lagi yang bersama kita saat hari itu dan orang tersebutlah yang telah menolongmu, Harry."

Oh, sungguh Harry tidak tahu akan hal ini.

"Oke, apa kita mengenal orang ini? Mungkin kah dia salah satu anggota Orde atau..?"

"I don't know, we dont know him."

"Dia seorang lelaki?"

"Ya. Katakanlah aku gila tapi aku bisa merasakan energi yang keluar dari orang tersebut mirip denganmu, mungkin kau kenal?"

Harry tertegun sesaat, dirinya masih mencerna kalimat yang keluar dari bibir manis Hermione. Pikiran buruk mulai memasuki kepalanya, hanya satu orang yang bisa ia jadikan tersangka untuk kali ini. Tapi, mungkin kah?

"Kau melamun lagi," sentakan kecil pada bahunya membuat Harry tersadar dari lamunannya. Ia berdeham guna mencoba mengurangi rasa gugup yang melandanya, semoga saja bukan— pikirnya kalut.

"Entah lah, tapi 'Mione siapa lagi yang mengetahui hal ini?"

Hermione berdesis lirih, sudut matanya melirik ke arah atas lantai dua di mana kamar Sirius berada, takut jika Sirius mendengar obrolan mereka dan berakhir dengan sesi tanya jawab yang panjang.

"Nobody knows, Ron dan aku bekerja sama untuk menyembunyikan hal ini dari para orang dewasa dan lagi aku yakin bahwa dia orang yang baik."

Entahlah, Harry tidak terlalu yakin dengan yang dia rasakan sekarang. Terlalu banyak emosi yang muncul secara bersamaan dalam dirinya hingga ia bisa merasakan perasaan tidak tenang lagi dan.. ia merasakan takut yang berlebihan.

.

.

.

"Uh, aku benci baunya, Professor."

Ramuan berwarna biru kental tersebut memenuhi indra penciuman Harry, ia bersungut menerimanya dan saat ia meminum cairan kental tersebut membuatnya ingin muntah. Entah harus berapa kali dirinya membiasakan diri untuk menelan cairan tersebut, rasanya ia tidak bisa lagi untuk menerima sesuatu yang menjijikan seperti itu lagi sekalipun itu untuk tubuhnya.

"Biasakan dirimu, Potter."

Severus Snape merapikan meja coklat di mana ia membuat ramuan untuk Harry, semenjak dirinya di keluarkan dari Hogwarts, Severus Snape datang dengan rajin untuk mengunjunginya dan memberikannya pengobatan secara berkala. Awalnya Siri sedikit tidak mengerti dengan kelakuan si pucat tersebut tapi lambat laun dengan penjelasan yang Harry buat akhirnya sang paman mulai membiasakan dirinya untuk melihat Snape berkeliaran di dalam rumahnya.

"Aku sedikit terkejut karena sekarang sihir dalam dirimu menjadi lebih tenang, aku penasaran apa yang kau lakukan pada sihirmu itu."

Ah, apa Harry harus menjawab jujur atau pura-pura tidak mengeri saja?

"Tidak perlu dijawab, aku sudah berjanji untuk tidak terlalu mencari tahu tentang dirimu. Sekarang lekas istirahat dan—"

"Ada seseorang yang membantuku, dia orang yang sama dengan ceritaku saat itu. Tapi sesuai dengan janji kita, aku tidak bisa memberitahukan hal itu pada professor. Maaf, professor."

Picingan mata Severus membuat dirinya merinding, ia hanya bisa membuang mukanya pada sembarang arah dan berusaha mengabaikan kontak mata antar mereka. Harry hanya ingin rahasia ini terjaga sampai waktunya tiba, ditambah dirinya belum sempat bertemu dengan Mr. Prongs sejak kejadian hari itu.

"Aku mengerti, jangan paksakan dirimu Potter. Kabari aku jika ada sakit yang tidak wajar atau apapun itu," Severus memasukan semua bahan-bahan ramuan miliknya pada kotak hitam yang selalu ia bawa ke mana pun.

"Tentu, Prof. Terima kasih,"

Harry menghembuskan nafas lega, ia meminum air putih yang selalu tersedia di kamar. Lumayan menyegarkan dan lagi ia ingin sedikit bersantai akan beberapa hari yang telah lalu ini, dirinya tidak ingin membuat sang uncle khawatir berlebih. Sudah cukup ia merepotkannya beberapa minggu belakang ini dan Harry ingin segera pulih.

Omong-omong, dirinya berniat untuk pindah ke dunia muggle. Iya, dirinya sudah merencanakan hal ini lama sebelum adanya keonaran yang terjadi. Tapi dengan kondisinya saat ini, Harry tidaklah yakin jika Siri akan menyetujui permintaannya. Memang tidak ada alasan khusus tapi dirinya ingin menjalani kehidupan normal seperti manusia pada umumnya, terlalu lama berada di sini membuat ia menjadi sedikit tidak waras.

Ketukan pelan pada pintu kamarnya membuat Harry kembali ke alam sadar, di sana sang uncle tengah menatapnya dengan pandangan bertanya. "Aku harap, aku tidak mengganggumu." Ujarnya seraya menutup pintu kamar pelan.

"Uncle Siri, tentu kau tidak menggangguku. Ada apa, uncle?"

Sirius menggeleng pelan, di lihat dari tingkah lakunya sekarang entah kenapa Siri terlihat sedikit kikuk. Apa lagi selama Prof Snape datang secara berkala untuk melakukan pengobatan, seperti ada yang ingin dia tanyakan tapi hanya dipendam begitu saja.

"Siri, aku yakin ada yang ingin kau tanyakan. Jadi, silah kan bertanya tentang apa yang ada dalam benakmu itu. Dan," Harry menyihir udara kosong sekitar dan menghasilkan kursi kayu dengan bantalan berwarna merah yang terlihat nyaman. "Aku akan senang jika kita saling terbuka satu sama lain."

Sirius memilih untuk duduk terlebih dahulu, ia menarik kursi tersebut hingga tepat berhadapan dengan Harry. "Pertama, aku selalu takjub dengan kemampuanmu itu. Jika aku tidak salah ingat, di saat aku seusiamu, aku hanya bisa mengacau bersama ayahmu dan lainnya. Tapi lihatlah dirimu, berbakat seperti ibumu tapi melebihi ibumu. Kau harus selalu ingat, jika aku selalu bangga akan semua tentang dirimu."

Sirius menghirup napas panjang, dengan perlahan ia mengeluarkan dan terlihat sedikit lebih lega. Harry hanya diam dan tersenyum kecil dengan pujian dari sang paman, ia senang dengan ungkapan jujur dari Siri.

"Kedua, sebenarnya aku sedikit penasaran akan hal ini; Severus datang setiap akhir pekan pada minggu pertama dan terakhir, dia akan menghabiskan waktu di dalam kamar ini hingga menjelang petang ia akan keluar seolah tidak terjadi apa pun di dalam sini. Dumbledore pun sedikit bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya kalian lakukan di dalam, karena tidak mungkin bagi seorang master potion menghabiskan banyak waktu untuk mengobatimu, kan?

Aku sangat yakin jika Severus adalah orang yang cukup hebat, tapi—"

"—kenapa harus menghabiskan banyak waktu, begitu Siri?"

"Tepat, bisa kau jelaskan?"

Harry mengangguk paham, "Prof Snape tidak hanya mengobatiku tapi dia juga mengajari untuk menghalangi pikiranku untuk mudah terbaca, aku rasa itu yang membuatnya hampir menghabiskan waktu hingga selama itu. Uncle pasti tidak sadar akan hal ini, tapi sejujurnya aku sangat payah dalam hal ini. Sudah lama aku berlatih tapi entah kenapa aku selalu saja kecolongan, aku hampir gila akan hal ini tapi beruntung Prof Snape berbaik hati untuk mengajariku dengan sabar hingga aku bisa menguasainya. Apa itu sudah cukup menjawab rasa penasaranmu, uncle?"

Sirius tidak langsung menjawab pertanyaan Harry, ia hanya diam mencerna kalimat yang keluar dari bibir Harry. Seharusnya ia tahu akan hal itu, tapi selama ini dirinya terlalu memikirkan kemungkinan yang tidak masuk akal akan dirinya dan tentang makhluk aneh di luar sana. Dirinya lupa jika Harry masihlah membutuhkan perhatian darinya, apa karena selama ini Harry selalu menunjukkan hal-hal yang luar biasa hingga ia berpikir jika Harry sang anak yang selamat tidak membutuhkan yang lain?

Bukankah itu pemikiran yang bodoh?

"Siri, apa aku salah saat mengucapkan sesuatu? aku—"

Sirius tiba-tiba saja bergerak untuk memeluknya, dapat ia rasakan bahu Sirius yang bergetar karena isak tangisnya yang keluar secara tiba-tiba. Sungguh, Harry tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Yang ada di pikirannya saat ia mengucapkan alasan tadi bukanlah seperti ini, ia pikir Siri akan mengatakan sesuatu atau apa pun itu. Tapi memeluk dan menangis bukanlah reaksi yang ia harapkan, sekarang apa yang harus ia lakukan?

"Maafkan aku Harry, selama ini aku telah abai akan dirimu sendiri. Selama ini aku menganggap dirimu bukanlah bocah yang memerlukan diriku lagi, dengan kekuatanmu sekarang aku sangat yakin jika kau bisa melakukannya sendiri. Maaf, maafkan aku Harry."

Harry terkekeh kecil, "Siri, jangan berkata seperti itu. Aku jadi ikut sedih, lagi pula aku yang salah karena tidak mengatakan hal ini padamu Siri. Sudah ya, nanti yang lain tahu dan Siri akan jadi bahan olok-olokan, aku kan tidak mau."

.

.

.

"Ah! Ron, berhenti mengacau di dapur dan bantu Hermione membereskan kekacauan yang kau buat!"

Harry datang dengan sekantung penuh belanja, ditaruhnya belanjaannya di atas meja makan. Segera ia mengeluarkan isinya dan mulai menata rapi di dalam kulkas, suara Ron dan Hermione yang bersahut-sahutan membuat kepalanya sedikit pusing. Ia berharap setelah pulang nanti keadaan rumah telah rapih dan mereka tinggal menyantap makan siang yang dibuat oleh Hermione, tapi sayangnya ia harus bisa menahan lebih lama lagi karena Ron yang tidak sengaja bermain-main dengan peralatan ajaib milik si kembar hingga menyebabkan kekacauan di area dapur.

Oh, omong-omong dirinya telah pindah ke dunia manusia sesuai keinginannya yang lalu. Awalnya Siri menentang keras keinginannya begitu pula para anggota Orde, mereka tidak setuju dengan konsep dirinya yang ingin tinggal di dunia manusia selama dirinya tidak bersekolah lagi di Hogwarts.

Tapi dengan sedikit bujuk rayu dan beberapa syarat yang di ajukan oleh Siri, akhirnya dengan berat hati dirinya di izinkan untuk tinggal di sini. Sesekali anggota Orde akan datang dan mengecek keadaannya, Prof Snape juga dengan senang hati akan datang dengan membawa racikan obat yang telah ia persiapkan sebelumnya.

Harry sendiri merasa senang, ia bisa menghabiskan waktunya dengan normal layaknya manusia biasa. Ia berkebun, membuat kue, pergi ke pasar dan berkeliling London tanpa harus takut ketahuan oleh mereka yang berencana untuk membunuhnya.

Oh, tentu saja dia melakukan penyamaran. Dengan menegak tonique déguisé, ia bisa menjadi orang lain selama hampir dua belas jam penuh. Lebih lama ketimbang polyjuice yang hanya memiliki waktu satu jam, terima kasih ia tunjukan pada Mr. Prongs yang telah berjasa banyak untuk membantu dirinya menyamar.

"Harry, ada surat untukmu. Hedwig baru saja sampai tidak lama saat kau di sini, dia ada di atas sana." Hermonie menunjuk loteng tempat yang ia sulap sebagai kamar pribadinya sendiri, kamar lainnya aku biarkan begitu saja karena aku yakin saat liburan nanti Ron dan Hermione akan berkunjung ke sini.

Aku beranjak pergi setelah mengucapkan terima kasih pada Hermione, benar saja di sana tepat di sudut jendela kamarku ada Hedwig yang tengah bertengger dengan manis tanpa menimbulkan suara. Sebuah surat dengan lambang yang sangat ia kenal terikat pada kaki kurus sang burung, ia mengambilnya dengan segera dan memberikan sebuah kukis yang selalu ia simpan dan dibawa kemanapun. Patukan sayang Hedwig berikan pada sang pemilik, ia segera pergi menuju sangkarnya untuk sekedar berisitirahat.

Dear Harry Potter

Aku punya dua kabar sekaligus untukmu, kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, Proffesor Dolores akan segera dikeluarkan dari sekolah dan Proffesor Dumbledore akan kembali menjabat kembali. Oh, satu lagi, kabarnya mereka akan memintamu untuk kembali bersekolah di sini.

Bagimana, kau senang? Karena aku senang jika kau senang, haha..

Oh, aku baru ingat seharusnya ke dua temanmu itu juga tahu. Jadi aku harap aku tidak mendahului mereka, sampaikan salamku pada mereka. Tidak, tidak usah. Aku tarik kembali kata-kata itu, mereka menjengkelkan. Sangat.

Dan kabar buruknya, he-must-not-be-named tengah melakukan perekrutkan untuk mencari pengikut baru. Kabarnya, beberapa tahanan di azkaban telah ditargetkan untuk dibebaskan semua. Jadi mulai minggu kemarin, penjagaan di sana sangat diperketat tiga kali lipat. Aku mohon padamu untuk tidak bertindak secara gegabah dan jika bisa hindari pergi keluar jika memang tidak di perlukan, sekarang kau hanya sendiri tidak sama saat kau ada di sini, di Hogwarst.

Aku akan selalu berdoa untuk keselamatanmu, semoga kita bisa lekas bertemu.

With love,

L. Draco

.

.

.

Selesai

Note:

tonique déguisé ini hanya bikinan aku sendiri.

by the way, butuh sekitar satu tahun lebih(?) untuk aku namatain cerita ini. dan aku memutuskan untuk menamatkannya di chapter 16, gak ada alasan khusus sih hanya emang udah gak tau lagi mau buat kayak gimana:(

how poor of me, maaf jika cerita ini tidak terlalu bagus. ue ue ue, too much typo di bagian awal, yes i know. sorry..

terima kasih bagi kalian yang udah nyempatin baca, yang udah save dan favoritkan. matur nuwun, ngeh..

awalnya saya buat cerita ini juga buat seneng2 aja, mau ada yang baca atau enggak pun saya gak terlalu mikirin haha..

oh, buat kelanjutan cerita ini juga bakal ada tapi gak tau mau diketik kapan. hehe:(

so, see you again fellas..