Day 7
Fighting to Fucking
Sadface
Chuuya tahu bahwa perjalanan cinta tidak sepenuhnya mulus pada setiap orang, seperti dirinya. Dibilang beracun bukan, dibilang damai juga bukan. Ia sangat mencintai Dazai dan Dazai pun juga sangat mencintainya. Namun mereka selalu saja berseteru entah karena apa yang sama sekali tidak penting. Menaikkan nada bicara kadang meninggalkan satu sama lain hanya untuk kembali merasa saling membutuhkan. Walau pikiran mereka berbeda namun hati mereka tetap terikat dalam sebuah lingkaran yang sama. Lingkaran penuh kaca yang dapat melukai jika mereka lengah.
Dan semua terasa sakit.
Pertengkaran itu untuk apa? Bersenang-senang atau memang mereka berniat saling meninggalkan. Lemparan-lemparan serapah itu, yang ketika Chuuya berkata Dazai lebih baik menghilang, atau ketika Dazai berucap keberadaan Chuuya membuatnya sesak. Kekanakan namun memang setiap hal itu terjadi mereka sama-sama terluka.
Untuk mereka, cinta tidaklah cukup.
Untuk mereka, rasa percaya tidaklah cukup karena semua air mata hasil pertengkaran tidak pernah berhenti dan nada-nada desah di atas kasur hanya cukup mengobati tanpa benar-benar menyembuhkan.
Namun demikian, mereka akan kembali pada yang lain.
Membentak setiap hari, tidak bertegur sapa dan bahkan tidak memaafkan. Namun, ketika senja tiba dan malam datang, masing-masing akan merasa perih.
Karena kesendirian seperti kutukan yang membuat mereka takut menjemput pagi. Terkadang Chuuya tahu kalau segala hal sudah berakhir bahkan sebelum benar-benar akhir. Ketika Dazai pergi dari pintu itu, ia selalu menyerah dan berpikir Dazai tidak akan kembali. Walaupun kemudian ketika pintu terbuka dan Dazai menatapnya, Chuuya akan berlari memeluk seakan memang kepulangan Dazai lah yang ia harapkan.
Masing-masing akan merasa menyesal, bersalah, saling mencari dan menemukan untuk sebuah kecupan tanpa kata maaf yang dilanjutkan dengan bercinta penuh rasa. Bertanya-tanya apakah yang mereka lakukan salah tapi sentuhan lembut dari masing-masing akan melupakan semuanya dan mereka hanya ada untuk memiliki satu sama lain.
"Jangan tinggalkan aku."
Hati mereka menggemakan kalimat itu. Karena tanpa yang lain mereka hilang.
Ketika Dazai pergi, Chuuya hanyalah sepi. Ketika Chuuya pergi Dazai, hanyalah hampa. Namun ketika bersama mereka saling menghancurkan untuk menyadari bahwa mereka saling membutuhkan.
Keraguan yang ada di dalam dada selalu membuat mereka dilanda keraguan dan tersesat. Bukan ini yang mereka harapkan. Mereka tidak ingin hubungan yang seharusnya manis ini penuh madu pertengkaran. Namun entah apa yang terjadi pada dunia sampai semua menjadi berantakan dan tidak jelas. Namun mereka tetap menetap hingga semua terasa kosong dan hampa.
Sadface
END
BGM: Bahari - :(
