TITTLE : вещие (Veschiye)
ALTERNATIVE TITLE : Precognitive Dream
PAIR : ALLxJIN / EVERONExJIN slight KANGINxLEETEUK
The butterfly effect is an idea that says that a small change can make much bigger changes happen; that one small incident can have a big impact in the future.
"Ada yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Jimin to the point.
Semua mendadak tegang.
Membuat Jimin menyadari sesuatu.
Sesuatu yang pasti mereka sembunyikan.
"Kau mengalami pengumpalan darah serta pendarahan dilambung sehingga butuh banyak darah. Rumah sakit tidak punya stok darahmu jadi seseorang mendonorkannya untukmu" ucap Namjoon sambil mengurut dahinya frustasi.
"Oke, lalu...?"
"Orang itu saat ini tidak sadar karena...dia mendonorkan darahnya saat mengalami hipotensi..." lanjut Jungkook yang akhirnya tidak bisa menyembunyikan tangisannya.
Hati Jimin mendadak gusar.
Mengapa Jungkook tiba-tiba menangis?
Entah kenapa feelingnya mengatakan bahwa ada yang tidak beres dan intuisinya mengarah pada seseorang.
Seseorang yang sangat Jimin tidak harapkan keluar dari mulut mereka.
Yoongi menghela nafas sambil menepuk pundak Jimin.
"Jimin, orang itu, Seokjin" ucap Yoongi datar namun cukup memutar balikkan dunianya.
Jimin ingin segera mencabut infuse-nya dan pergi menemui Seokjin namun Yoongi dan Hoseok lebih cepat tanggap dan mampu menahan Jimin yang tengah kalap sekarang.
"LEPASKAN AKU! LEPASKAN AKU!" amuk Jimin berusaha diredakan oleh Yoongi dan Hoseok.
"Park Jimin! Tenanglah!"
"TENANG KALIAN BILANG!? ORANG YANG KUCINTAI HAMPIR MATI DUA KALI KARENA AKU HYUNG! KARENA AKU!"
Satu tamparan mengenai pipi Jimin.
Dari Yoongi.
"Jaga bicaramu. Dia tidak mati. Dia hanya tidak sadarkan diri" sentak Yoongi tegas.
Pada akhirnya suster yang memasuki kamar Jimin kaget mendapati selang infuse pasiennya kini berisi darah.
"Aku ingin bertemu dengannya. Bagaimanapun caranya aku ingin bertemu dengannya" putus Jimin final tidak menyediakan ruang bantahan disana.
Dan semua orang yang ada diruangan itu tidak ada yang ingin berurusan dengan seorang Park Ji Min.
/
Jungkook pernah bertengkar hebat dengan ayah kandungnya sendiri.
Kalian tak salah dengar, benar, ayah kandungnya, yang bahkan tak sudi memberikan marganya kepadanya.
Jika tidak ditolong keluarga Jeon, mungkin Jungkook tak akan bisa seperti sekarang.
Namun selain orang tua, hyungnya, dan temannya, ada satu orang yang paling berjasa.
Seorang pemuda dengan kemeja pelaut mirip popeye berwarna biru dengan celana bahan pendek yang sewarna dengan kemejanya.
"Apa kamu lapar?"
Ujar sang anak kecil tersebut sambil memberinya ramen.
Lucunya, tiga belas tahun kemudian, pemuda itu juga menghindangkan ramen.
Dan kini pemuda itu terbaring lemas di ranjang rumah sakit karena mendonorkan darah untuk hyungnya yang kini tengah duduk tenang disamping kursi ranjang.
Jimin keras kepala dan Jungkook tahu itu. Semua member BTS ada di ruangan Seokjin bersama Junwoo, Sunghoon, dan Jaerim. Sunghoon sendiri dengan telaten menjaga Seokjin. Dengan telaten berarti benar – benar tidak mengedipkan matanya sedikit pun memastikan jantung Seokjin masih berdetak.
Serta perang dingin tercipta antara Sunghoon dan Jimin yang duduk berhadapan tersebut.
"Apa yang kalian lakukan pada Jinnieku" tanya Sunghoon cepat.
"Sepanjang yang ku tahu, dia masih menjadi milikku" jawab Jimin tenang.
Jungkook diam berdiri memantau percakapan dua orang itu dan memilih memandang wajah damai Seokjin.
Jungkook tersadar bahwa bulu mata Seokjin sangat lentik.
"Kau tahu apa tentang Seokjin? Apakah dirimu tahu bahwa Seokjin adalah si bungsu Kim?"
Member BTS terdiam.
Jungkook menertawakan diri dalam hati.
Nyatanya mereka tidak tahu mengenai fakta itu.
"Kami cukup jauh mengenalnya dari sekedar seorang anak perdana menteri. Tuan Bang, kami bertemunya jauh sebelum anda bahkan mengenalnya." ucap Jimin masih tak kalah dinginnya.
"Jika kalian ingin bertengkar di depan calon adik iparku lebih baik pergi. Dia harus pulih dengan cepat atau Soeun akan menembak mati semua orang disini" ucap Jaerim sambil mengurut keningnya karena pusing harus melakukan trik apa lagi agar keberadaan Seokjin tak tercium.
Terlebih Soeun.
Perempuan itu akan dengan tega menghabisi Jaerim sekarang juga begitu tahu tunangannya sendiri menyembunyikan keberadaan adiknya.
Sunghoon menghela nafas.
Dari awal ia sudah tahu bahwa ia kalah.
Di malam ia berani mencium Seokjin dan menangis dalam pelukannya, Seokjin menceritakan semuanya. Tapi ia rasa kini ia harus merelakan Seokjin di tangan ke-enam pemuda ini karena nampaknya,
Mereka jauh lebih bisa melindungi malaikat anaknya dibanding dirinya.
"Aku harus pulang, putriku menunggu dirumah, esok pagi aku akan kembali" ucap Sunghoon membuat Jaerim mengangguk.
"Kita harus pergi juga Jimin, sebelum manajer kita mencarimu" ucap Yoongi yang sebenarnya masih ingin berlama-lama disini.
Jimin menghela nafas beberapa saat dan menatap wajah pulas itu murung. Ia berdoa dalam hitungan sepuluh detik saja, Seokjin membuka matanya untuknya.
Ia tahu dia banyak berdosa. Jauh sebelum menjadi anggota BTS maupun setelah menjadi anggota grup paling tersohor tersebut.
Jimin juga tidak percaya keberadaan yang maha kuasa.
Tapi jika ada satu tuhan saja yang mau mengabulkan doanya. Jimin akan dengan setia dan taat berdoa kepadanya.
Dan keajaiban terjadi.
Seokjin membuka mata untuk pertama kalinya.
/
Seokjin kebingungan.
Kini dia berada dimana?
Sebuah ruangan kosong layaknya bunker, kasur lusuh, belasan kamera yang hancur dengan lensanya, dan beberapa cairan putih dan merah berserta bebauan yang menguar dari kedua cairan tersebut.
Seokjin merasa panik.
Ia seperti mengenal ruangan ini. Seokjin ingin segera keluar dari tempat ini namun pintu terbuka menampilkan sesosok remaja belia.
Tengah menggendong dirinya yang masih kecil, penuh pucat pasi, dan menidurkannya dalam ranjang lusuh tersebut.
"Minam." sebuah suara berat terdengar dari pintu masuk.
"Ya sajangnim.." ujar suara itu lelah dan bertepatan dengan pemuda bernama Minam tersebut membalikkan badannya. Muncul seorang pria matang dengan beberapa ajudannya.
"Kau tahu anak itu kesukaan Wookie, aku tak ingin putraku berebut mainan denganmu" ujar pria itu penuh sarat akan makna.
Namun itu semua percakapan itu membuat Seokjin mual, ia berlari sekencang yang ia bisa namun anehnya dia tidak bisa menggerakkan badannya barang sedetik pun. Hingga sampai ia merasa sebuah tangan kecil memegang kakinya.
"Jangan lupakan aku lagi...aku takut..." ucap Seokjin kecil yang sudah terlalu lemah kepadanya.
Dan Seokjin menangis hebat.
Merasa bersalah kepada dirinya sendiri yang melupakan kisah kelam tersebut.
Seokjin membuka matanya pertama kali dan wajah yang ia lihat pertama kali adalah Jimin.
Entah kenapa Seokjin kembali menangis diantara sedih atau bahagia.
"Jangan lupakan aku lagi...aku takut..." ujar Seokjin lirih namun mampu ditangkap oleh indera pendengaran Jimin.
"SEOKJIN SADAR! SEGERA PANGGIL DOKTER!" Sunghoon yang tadi hampir pergi mendadak segera memanggil dokter. Mereka semua diminta keluar selagi dokter dan para suster masuk mengecek keadaannya.
Semua mendadak tegang. Pemeriksaan dua menit tersebut terasa bagai dua abad bagi mereka.
"Kenapa lama sekali memeriksanya?" keluh Hoseok mulai tidak tenang.
"Sabarlah, dokter baru saja masuk" ucap Junwoo menenangkan semua orang.
"Pemeriksaan tidak selama ini biasanya" ucap Sunghoon juga nampak mulai gusar
"Kalian bisakah tenang? Dokter disana juga sama tegangnya" ucap Jaerim akhirnya kembali bersuara.
Akhirnya semua diam.
Namun Jimin tak bisa melepaskan pandangannya dari jendela kamar Seokjin sampai akhirnya dokter tersebut keluar dan seketika semua orang mengerebunginya.
"Kalian tidak perlu khawatir, kondisi tuan muda sudah kembali stabil" ucap sang dokter tersebut membuat semua orang serentak bernafas lega.
Meski agak asing mendengar nama Seokjin dipanggil dengan 'tuan muda.'
"Apakah ada kondisi yang lain yang perlu diperhatikan? Aku mendengarnya sempat mengigau dan menangis tadi..." ucap Jimin khawatir.
"Ah mungkin karena efek bius membuat tuan muda mengingat beberapa kejadian yang tidak mengenakkan. Aku dengar dari dokter Park memang ia sedang dalam pemulihan akibat depresi dan stress yang berlebihan. Jika memang demikian saya sarankan untuk tidak membuatnya kelelahan atau stress berat dahulu. Pola makan dan istirahatnya juga perlu dipantau supaya dia kembali bugar kembali" jelas sang dokter membuat mereka mendengarkan dengan seksama.
"Terima kasih dok, untuk mengenai dokter Park tolong rahasiakan juga darinya" ucap Jaerim khawatir kalau Shinhye juga tahu dan membocorkan hal ini kepada keluarga Seokjin. Namun untungnya sang dokter mengangguk sambil memberi tahu Seokjin bisa dipindahkan dari ICU ke ruang rawat inap biasa dan Jaerim meminta Seokjin dibawa ke ruang rawat inap VVIP.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika Seokjin membuka matanya kembali dan wajah pertama yang ia lihat adalah Yoongi yang kini menempelkan jarinya dimulut Seokjin.
Pertanda untuk diam.
"Yang lain sedang tidur...kau butuh sesuatu...?" tanya sekaligus jelas Yoongi membuat Seokjin melihat ada Jungkook dan Junwoo diruang rawat inapnya.
"Air...aku haus..." ucap Seokjin dengan suara seraknya membuat Yoongi dengan sigap menaikkan ranjang Seokjin setengah dan memberinya segelas air beserta sedotannya.
Lalu hening.
Seokjin bingung harus mulai dari mana.
"Jika kau kebingungan mengenai apa yang terjadi. Dirimu tak sadarkan diri selama proses transfusi darah ke Jimin. Ketika Jimin sadar dan kau belum ia meminta agar dia bisa melihatmu karena khawatir bahwa kau..."
"...aku meninggal karenanya?" jawab Seokjin lirih namun bisa mengerti arah pembicaraan Yoongi.
Bagaimanapun mereka adalah 'teman kecil' sebelumnya.
"Ya. Untungnya kau selamat karena baik aku, Jimin, maupun yang lain tak akan bisa memaafkan diri kami sendiri." ucap Yoongi tenang tapi kini dengan suara yang berbeda.
Membuat degup jantung Seokjin sedikit tak beraturan.
"Huh..?" hanya desah nafas kebingungan yang mampu keluar dari mulut Seokjin.
"Apa kau benar-benar Jinnie si putra bungsu perdana menteri?" tanya Yoongi membuat Seokjin sedikit kaget.
"Kalian sudah tahu ya.."
"Hanya kami nampaknya yang belum tahu"
"Aku sengaja tak ingin tampil ke publik...orang-orang dimasa laluku masih berkemungkinan mengincarku kembali..." ucap Seokjin lirih sambil memainkan jarinya gelisah sebelum akhirnya tangannya digenggam oleh Yoongi.
Gestur yang membantunya sedikit lebih rileks.
"Aku hanya tahu mengenai kabar itu di berita, tapi pasti sangat mengerikan untukmu..."
"Yah..seperti itu...terkadang itu membuatku bermimpi buruk...apalagi dulu ternyata aku sempat lupa ingatan. Namun kini beberapa ingatan tersebut mulai kembali...itu sedikit membuatku stress.." jawab Seokjin jujur yang entah kenapa berani menceritakan semuanya tanpa beban.
Seakan-akan bersama Yoongi, bebannya hilang.
"Mungkin itu juga yang membuatmu melupakan kami..." ucap Yoongi tersenyum membuat Seokjin tertawa kecil.
"Yah mungkin itu juga yang membuatku melupakanmu- tunggu dulu...'kami'?" tawa Seokjin terhenti digantikan senyuman simpul dari Yoongi yang kini menatapnya dalam.
Dada Seokjin kembali berdesir.
"Seokjin-ah, apakah dirimu pernah mengingat bahwa dirimu pernah menemui aku, Namjoon, Hoseok, Jimin, Taehyung, dan Jungkook sebelumnya. Disaat kita masih kecil?" tanya Yoongi dan Seokjin merasa hatinya ikut mencelos.
Pernah bertemu?
Kapan?
Dimana?
Seokjin berpikir keras untuk mengingatnya namun Yoongi yang nampaknya bisa mengerti segala gerakan tubuh yang Seokjin lakukan seketika mengeratkan genggaman tangannya pada Seokjin membuat pemuda ringkih itu mengalihkan pandangannya pada Yoongi yang kini tersenyum menenangkan.
"Tak apa kau tidak mengingatnya tak masalah. Kami bisa membantumu mengingatnya, tapi Seokjin yang terpenting adalah. Izinkan kami untuk mengenggam-mu kembali dan kali ini tak akan kami lepaskan. Bolehkah?"
Ada nada kesungguhan disana.
"Kami..?" tanya Seokjin sekali lagi memastikan indra pendengarannya tidak salah dengar.
"Ya. Kami, Kami berenam. Kami berenam mencintaimu Seokjin"
Nada keseriusan Yoongi membuat pipi Seokjin memerah.
"Ini aneh...maksudku...kalian berenam...berbagi untukku...ak-aku.." ucap Seokjin bingung menjelaskannya namun yang pasti kini Yoongi memeluknya untuk menenangkannya.
"Tidak apa-apa, dirimu tak perlu menjawabnya sekarang setidaknya izinkan kami membuktikannya..." ucap Yoongi, ada nada kesungguhan dan juga penuh harap disana.
Seokjin tidak menjawab apapun namun ia membalas pelukan Yoongi dan mengeratkan pelukannya.
Cukup membuat Yoongi tersenyum lega.
Kesempatan ini tak akan disia-siakan olehnya dan yang lain.
/
Seokjin entah harus merasa malu atau panik sekarang karena hari dimana dirinya diperbolehkan pulang adalah hari dimana seluruh member BTS hadir dan bukan hanya itu.
Kakaknya, Soeun dan Jinwoo juga hadir.
Jaerim nampaknya sudah memberi tahu Soeun mengenai sakitnya Seokjin dan tentunya merahasiakan bagian dimana Seokjin sakit karena mendonorkan darahnya untuk Jimin.
Jaerim nampaknya memberi tahu Soeun bahwa adik kesayangannya itu tengah sakit akibat kelelahan seperti biasa.
Namun yang tak disangka oleh Jaerim, Soeun, dan Jinwoo adalah bahwa ada BTS, salah satu boygroup paling tenar di abad ini,
yang mengaku tertarik pada adiknya?
Terlebih berani memintanya untuk mengantar adiknya pulang?
"Seokjin, noona sama sekali tidak tahu kau punya...enam kekasih?" tanya Soeun sarkas dihadiahi wajah kebingungan Seokjin.
Tak usah tanyakan Jinwoo,
Pemuda itu juga mengeluarkan ekspresi kaget yang sama.
"Well, secara resmi kami belum, namun jika diizinkan, kami segera ingin meresmikannya" ucap Namjoon sambil menggerling nakal kearah Seokjin yang tentu saja dihadiahi amukan oleh Soeun.
Jinwoo dan Jaerim terpaksa menahannya dan untuk menghindari kericuhan yang semakin menjadi-jadi Seokjin memutuskan pulang bersama noona-nya namun dihadiahi keluhan dari member BTS lainnya dan memutuskan agar mereka bisa datang ikut makan malam bersamanya.
Lalu senyum sumringah datang dari keenam wajah pemuda itu.
"KIM SEOKJIN CERITAKAN PADAKU BAGAIMANA BISA KAU MEMACARI ENAM ORANG SEKALIGUS DAN TERLEBIH SEORANG ARTIS PAPAN ATAS!?" tanya Soeun meminta penjelasan dari adiknya.
"Noona mereka bukan kekasihku sungguh"
"Tapi mereka berencana untuk merayumu" tanya Soeun balik.
"Mungkin saja bercanda..." jawab Seokjin tidak yakin.
"Orang bercanda macam apa yang berani bicara ingin meminangmu didepan noona dan hyungmu sendiri Kim Seokjin"
Seokjin terdiam.
"Jawab aku, apa kau menyukai mereka?" tanya Soeun kemudian membuat mata Seokjin terbelalak dan lidah Seokjin kelu.
Cukup membuat Soeun dan Jinwoo mengerti.
Adik mereka tengah jatuh hati dan takut pada perasaannya sendiri.
Dan ini bukanlah suatu pertanda baik.
Seokjin belum memberi tahu kapan mereka harus datang tapi anggota grup yang tengah naik daun itu sudah datang tepat ketika jam dirumahnya menunjukkan pukul delapan malam dengan setelan kasual namun formal.
Berbanding terbalik dengan Seokjin dan pakaian santainya.
Wajah mereka berenam sumringah begitu mendapati Seokjin membuka pintu untuk mereka namun seketika suntuk begitu melihat ada Soeun, Jinwoo, Jaerim, Junwoo, Shinhye, Dongsoon, Eunkyung, dan yang terakhir Sunghoon dan putrinya, Soojin.
Mereka pikir ini akan menjadi kencan khusus.
Tapi tidak masalah.
Jika demi Seokjin mereka bisa melakukan apa saja.
Seokjin mengambil buket bunga, sekotak red velvet cake, satu dus yang berisi tiga botol wine yang nampaknya juga mahal, serta beberapa cemilan khas korea.
Mereka bertamu selayaknya ingin bertandang untuk melamar.
Seokjin dibantu oleh Eunkyung, Shinhye dan Junwoo di dapur untuk segera menyiapkan makanan sementara Soeun, Jaerim, Jinwoo, Dongsoon dan Sunghoon menunggu di meja makan bersama dengan keenam member BTS lainnya.
"Jadi kalian serius mengenai pembicaraan kalian dirumah sakit tadi?" ucap Soeun memulai pembicaraan.
"Aku rasa ucapanku cukup jelas tadi" balas Namjoon.
Hening beberapa saat.
"Aku banyak mendengar kabar tidak mengenakkan mengenai kalian" lontar Soeun kemudian seketika membuat keenam pemuda disana melihat kearah Dongsoon dan Sunghoon yang nampaknya sudah pasti berbicara 'banyak hal' mengenai mereka.
"Bisa tolong jelaskan definisi 'kabar tidak mengenakkan' yang kau dengar?" tanya Taehyung sarkas, sedikit tersulut emosi.
"Ada banyak. Mulai dari kalian yang punya 'hobi dimalam hari' hingga adikku juga terpaksa terseret dalam kasus 'percintaan semalam' dari salah satu anggota dari kalian" ucap Soeun kembali dingin.
Jimin mengepalkan genggaman tangannya kuat-kuat.
"Jika aku tidak salah ingat pula, seseoranglah yang membuat kaki dan tulang punggung Seokjin-ku hampir patah" senyum licik Jimin, mengarahkan pada insiden Sunghoon dan 'mantan pacar' sekaligus ibu Soojin waktu itu.
Sunghoon tersentak dan Soeun hampir kehilangan kesabaran.
"Setidaknya Sunghoon tak membuat adikku selalu dalam keadaan terancam"
"Kami tak pernah membuat adikmu dalam keadaan terancam" potong Taehyung.
"Oh ya? Bisa jelaskan pada waktu itu adikku ditemukan di jurang?"
"Sepertinya kau tidak tahu bahwa aku yang menyelamatkan adikmu" kali ini Yoongi yang berbicara dan Soeun terdiam.
Bukankah Sunghoon yang menolongnya?
"Wah...nampaknya kau tidak tahu mengenai 'adikmu' sendiri" pancing Jungkook panas.
"Makanan siap" ujar Junwoo datang sambil membawa sepanci cream soup berisi butiran jagung dan potongan beberapa wortel dan kentang rebus juga cacahan daging ayam halus yang menambah gurih sup tersebut. Disusul Eunkyung yang datang membawa sebakul nasi dan Shinhye yang datang membawa ayam goreng tepung. Seokjin sendiri membawa lobster bakar kesukaan kakaknya namun disaat Seokjin datang kakaknya pamit pergi ke balkon dan memutuskan tidak makan.
Seokjin menghela nafas dan mengalihkan pandangannya pada Jaerim dengan tatapan memohon.
Jaerim yang paham menghela nafas berat dan menyusul Soeun keatas sementara Soojin seperti biasa langsung ingin makan dipangkuan Seokjin sambil disuapi ayahnya sendiri. Sementara Shinhye, Junwoo, dan Eunkyung duduk tenang menikmati hidangan yang ada. Dongsoon dan Jinwoo sendiri memutuskan untuk tidak makan dan sibuk memandang member BTS yang makan dengan mood yang jelek karena 'perdebatan kecil' mereka dengan 'calon kakak ipar' dan yang kedua, pemandangan dihadapan mereka sendiri.
Makan malam ini pun bukan bagian dari hal yang ingin Seokjin inginkan.
Sehabis makan malam, Soeun, Jaerim dan Jinwoo pulang duluan karena kakaknya sendiri memutuskan pulang saat itu juga bahkan tidak sempat membawa makanan yang dibungkus oleh Seokjin. Sunghoon dan Soojin pun pamit pulang bersama dengan Shinhye. Makanan yang tadi sudah dibungkus oleh Seokjin pun diberikan kepada Sunghoon dan Shinhye untuk dibawa pulang.
Junwoo juga terpaksa pulang karena dia harus menyiapkan beberapa berkas untuk di KBS besok pagi sementara Dongsoon awalnya tidak ingin pulang sebelum BTS pulang namun Eunkyung yang memang nampaknya membaca suasana menyuruh pemuda itu untuk mengantarnya pulang.
Tersisa BTS kini yang tengah berada diruang tamu.
"Apa kami menghancurkan makan malam-mu?" tanya seseorang membuat Seokjin berjengit mendapati Taehyung kini datang dengan seluruh gelas dan piring kotor hendak membantunya mencuci piring.
"Tidak usah, biar aku saja yang membersihkannya" ucap Seokjin sambil mengambil piring tersebut namun ditahan oleh Taehyung.
"Lihat, kau tidak menyadari tanganmu berdarah" ucap Taehyung seketika membuatnya memandang jari telunjuk dan jari manisnya memang kini sudah berdarah.
Nampaknya teriris saat ia mencuci pisau dan beberapa benda tajam lainnya.
Taehyung dengan segera mencuci tangan Seokjin dengan air bersih dan membawanya keruang tamu dimana para member lainnya kaget melihat tangan Seokjin berdarah. Taehyung segera kembali lagi kedapur untuk mencuci piring yang belum Seokjin selesaikan sementara Jimin bergegas mencari es batu dan handuk kecil di dapur. Hoseok menanyakan dimana kotak P3K dan sebelum sempat Seokjin menjawab, Yoongi yang memang sudah hafal tata letak rumah Seokjin dalam sekali kunjung segera membawa kotak P3K dari laci rak TV.
Jimin datang dengan semangkuk es batu, handuk, dan air dingin, membantu Hoseok untuk mengobati luka di tangannya.
"Ini luka kecil...tak perlu khawatir berlebihan..." ucap Seokjin lirih disambut oleh genggaman tangan Namjoon di tangannya yang lain.
"Kau berdarah cukup banyak Seokjin. Bagaimana bisa dirimu tidak sadar bahwa tanganmu terluka. Apa yang dirimu pikirkan dari tadi?" tanya Namjoon khawatir.
'Kalian.'
Seokjin ingin menjawab namun lidahnya cukup kelu dan Namjoon cukup paham untuk tidak mempertanyakannya lebih lanjut.
Kini tangan kanannya sudah selesai diperban dan Jungkook berinsiatif menyuapi red velvet yang sudah tadi mereka bawa.
"Aku masih punya satu tangan, kau tidak perlu repot menyuapiku"
"Bagaimana jika kau melukai tanganmu lagi dan kau tidak sadar?" tanya Jungkook balik dan Seokjin terdiam.
Akhirnya ia menerima suapan Jungkook dengan berat hati.
"Apa kedatangan kami membuatmu tidak nyaman?" tanya Taehyung, sekali lagi, kali ini datang sehabis mencuci piring dan membawa teh hijau hangat.
Seokjin lagi-lagi tak bisa menjawab.
Jawaban apa pula yang harus Seokjin lontarkan? Bahwa dia tidak nyaman?
Yah mungkin saja.
Siapa yang tidak nyaman ketika orang-orang yang selalu berada di mimpimu untuk bersetubuh denganmu kini hanya sejengkal dari pandanganmu?
Siapa pula yang tidak nyaman ketika orang-orang yang kau sayang dan paling dekat denganmu mendadak pergi dan meninggalkanmu dengan orang - orang yang notabennya masih 'asing'?
Tapi apakah Seokjin mampu menjawab tidak nyaman ketika orang-orang inilah yang memberinya perhatian tidak terkira?
Orang-orang inilah yang mengatakan sudah mengenal Seokjin jauh lebih dari Seokjin mengenal dirinya sendiri?
Seokjin menikmati perilaku mereka.
Sekaligus takut bahwa ini hanya sementara sedangkan hubungan baik dirinya dengan keluarganya di pertaruhankan disini.
Mempunyai enam orang kekasih, apakah Seokjin mampu?
Stigma buruk apalagi yang akan Seokjin dapatkan?
Segala pemikiran itu berkecamuk sampai Yoongi kini sudah tengah mendekapnya yang tak sadar sudah menghabiskan segelas teh hijau dari Taehyung.
"Pssh...tenanglah...kau tidak perlu memikirkannya berlebihan...ingat, kami sudah berjanji akan menjalaninya denganmu secara pelan-pelan. Tidurlah...ingat kata dokter...kau tak boleh stress berlebihan..."
Hoseok juga kini mendekapnya dari belakang sambil memijat pelan tengkuk Seokjin yang kini sudah bersandar dibahu Yoongi. Kedua kaki Seokjin kini tengah dipijat oleh Jimin dan Jungkook sementara Namjoon dan Taehyung kebagian mengurut pelan kedua tangan Seokjin dan mengenggamnya erat jika Seokjin nampak tengah stress.
Semua terasa tenang dan nyaman untuk Seokjin.
"Aku takut..." keluh Seokjin lirih mampu didengar oleh semuanya dan sedikit terkesiap mendapati setetes air mata keluar dari kelopak mata Seokjin yang tertutup rapat.
Seokjin sendiri bingung. Ia tengah takut kepada apa? Siapa? Namun Yoongi sigap membalas dan mencium kening Seokjin.
"Aku tahu. Jangan khawatir, kita bisa melewatinya..." ucap Yoongi dan Taehyung pun menghapus air mata Seokjin dan Jimin mencium matanya. Hoseok juga memberikan ciuman ringan pada leher dan bahu Seokjin sementara Namjoon dan Jungkook mencium tangan dan kaki Seokjin lembut.
Untuk pertama kalinya,
Seokjin tertidur dengan tenang.
/
Jungkook ditugasi membawa Seokjin kekamar dan menemani pemuda itu karena nampaknya Seokjin rupanya tak ingin melepas genggaman tangan Namjoon dan Taehyung yang membuat Seokjin harus bersama dengan maknae line dahulu dikamar karena para hyung line mesti mendiskusikan hal yang serius.
"Ini sudah kedua kalinya ia berbicara bahwa ia ketakutan. Mungkinkah pada kita?" tanya Hoseok cepat, sedikit gusar.
Jika memang itu jawabannya, dirasa sangat wajar terjadi karena keberadaan mereka berenam selalu membawa bencana untuk Seokjin.
"Ia tak menolak sentuhan dari kita tadi bahkan ia tak mau melepas genggaman tangan Namjoon. Aku rasa bukan itu.." jawab Yoongi membuat mereka sedikit bernafas lega.
"Mungkinkah ia takut mengenai hubungan kita dan hubungannya dengan keluarganya?"
"Bisa jadi..tapi mengapa ia harus takut?" ucap Jimin yang sudah datang bersama Taehyung membawa beberapa gelas dan botol wine untuk diminum.
"Kalian sudah menidurkannya?" tanya Namjoon.
"Ia aman dalam pelukan Jungkook. Mungkin dalam beberapa menit, Jungkook bisa bergabung bersama kita" jawab Taehyung dan benar saja tak lama kemudian mereka melihat Jungkook yang menutup pintu kamar Seokjin hati-hati dan segera turun kebawah.
"Jadi bagaimana hyung?"
"Menurutku Seokjin tidak terbiasa dengan hubungan poliamori terlebih ia yang menjadi 'center'-nya. Terlepas dari itu kau ingat insiden awal di gedung KBS? Seokjin takut dengan flash camera dan juga selama ini ia adalah si bungsu Kim yang jarang terkespos menurutku ini juga faktor pendukung bagaimana Seokjin khawatir mengenai hal tersebut" jelas Namjoon.
Menjadi kekasih dari bukan hanya satu, melainkan seluruh anggota grup yang tengah di puncak popularitas tentu akan mengundang banyak media massa dan publikasi mengenai Seokjin.
Apalagi hubungan yang akan mereka jalani masih sangat amat tabu.
"Ditambah lagi bahwa nampaknya Seokjin nampak sayang terhadap keluarganya. Ia tak akan bisa menjalani hubungan yang tak akan direstui oleh keluarganya terlebih Soeun." timbrung Hoseok memperjelas maksud Namjoon.
"Lalu, bagaimana merebut hati noona dan hyungnya? Soeun dan Jinwoo nampak lebih menyukai duda sok keren itu dibanding kita" tanya Jungkook kesal karena Sunghoon nampak lebih mendapat lampu hijau dibanding mereka.
"Memantaskan diri" jawab Yoongi final.
"Maksud hyung?" tanya Jimin bingung.
"Aku rasa aku tahu satu hal yang akan membuat keluarga Seokjin mampu menerima kita"
"Apa?"
"Fakta bahwa kita mampu melindungi Seokjin dari masa lalunya" jawab Yoongi yang kini semakin menuai kebingungan.
Lalu disinilah mereka sekarang.
Restauran eksklusif yang sengaja mereka booking untuk bertemu dengan Soeun dan Jinwoo.
Semalam setelah Yoongi mengeluarkan pendapat serta beberapa info yang ia tahu, member BTS nampak setuju dengan rencana Yoongi untuk bertemu dahulu dengan kedua kakak Seokjin diluar sepengetahuan Seokjin.
Keesokan harinya Seokjin bangun dengan wajah Jungkook yang menyapa Seokjin, rupanya Jungkook ditugasi untuk menemani Seokjin tidur, sementara Taehyung datang esok paginya untuk mengantar Seokjin kerja.
Lebih tepatnya menemani Seokjin memilih beberapa bahan untuk barang-barang furniturenya sementara Jungkook yang sedari awal sengaja tinggal lebih lama di rumah Seokjin menunggu Soeun dan mengundangnya ke restauran ini. Yang untungnya Soeun dan Jinwoo datang bersama.
Nampaknya Jinwoo juga berhasil membujuk kakaknya untuk meminta maaf atas sikap dinginnya semalam.
"Dimana namdongsaengku?" tanya Soeun cepat begitu melihat Taehyung datang sendiri.
"Dia ada di salah satu kamar hotel ini. Aku menyuruhnya istirahat sebentar karena ia nampak kelelahan" jawab Taehyung segera menempati kursi kosong.
Restauran eksklusif ini memang berada dan bersatu dengan hotel bintang lima yang sedang mereka kunjungi.
"Jadi apa yang membuat kalian menyuruhku dan Jinwoo kemari?" tanya Soeun kaget begitu mendapati hidangan yang sama persis yang Seokjin buat semalam.
"Kami ingin meminta izin untuk dekat dengan namdongsaengmu" jawab Namjoon, seperti biasa, dengan tenang memulai pembicaraan.
"Dengan membawa hidangan ini?" tanya Soeun skeptis.
"Ini hidangan dari tangan Seokjin sendiri. Kami membawanya dari rumahnya, kau pasti tidak sadar bahwa masakkannya begitu banyak tersisa dan dirinya pun tak sempat menyicipinya" perjelas Hoseok.
"Ini benar masakan Seokjin.." lontar Jinwoo lirih setelah menyicip makanan tersebut karena ia hapal dengan rasa masakan adiknya sendiri.
"Oh, jadi ini ide Seokjin untuk mempertemukanku dengan kalian?" tanya Soeun remeh.
"Bukan. Ini ide kami, Seokjin sama sekali tidak tahu menahu mengenai pertemuan ini" jawab Jungkook lugas sanggup membuat kedua Kim bersaudara itu terdiam.
"Mengapa.." tanya Jinwoo skeptis namun ada intonasi yang lain,
intonasi penuh harap.
"Karena kami tahu, di dalam priority list-nya, keluarganyalah yang terutama" jawab Jimin kali ini tidak ada nada kesan angkuh seperti biasanya.
Keenam pemuda ini nampak serius.
"Kalian serius dengan adikku?" tanya Jinwoo karena nampaknya Soeun menjadi pendiam tiba-tiba.
Apakah ada omongan mereka yang salah?
"Sangat" jawab Taehyung cepat. Singkat, padat, dan jelas.
"Mengapa? Sejak kapan kalian bertemu?" tanya Jinwoo lagi kemudian.
"Sejak kecil, setelah insiden penculikkannya. Kami jatuh hati pertama kalinya" jawab Jungkook.
"Apa yang bisa kalian lakukan untuk namdongsaengku? Apa yang harus membuatku mempercayakan Seokjin kepada kalian?" tanya Soeun kali ini tiba-tiba.
"Aku sengaja tak ingin tampil ke publik...orang-orang dimasa laluku masih berkemungkinan mengincarku kembali..."
Kali ini giliran Yoongi yang harus bicara.
"Apa yang bisa kami lakukan untuknya? Mengembalikan 'masa lalu-nya.' Dan kenapa kalian harus mempercayai kami? Karena kami orang yang mampu melindungi Seokjin." jawab Yoongi padat dan jelas. Tidak menyisakan ruang bantahan disana.
"Kenapa kami harus yakin dengan itu?" tanya Soeun yang cukup membuat mereka sedikit berjengit kaget karena kedua bersaudara itu menatap mereka dengan tatapan berkaca-kaca.
Seperti mereka melihat ada beban berat di pundak kedua orang berwajah bak dewa-dewi tersebut.
"Aku rasa kalian sudah melakukan background check terhadap kami. Seharusnya itu sudah cukup untuk membuktikkan bahwa kami lebih capable dari kalian" pernyataan berani Yoongi dihadiahi tawa decihan dari Soeun dan senyum serta nafas lega dari Jinwoo.
"Aku ingin bertemu dengan Seokjin" ucap Soeun tiba-tiba berdiri sambil menghapus air matanya yang jatuh.
Sementara Jinwoo menatap Soeun nanar.
Malam itu, Jinwoo mendapati adiknya tidak sengaja mendengar pembicaraan Soeun dan Jaerim yang tengah ribut dibalkon.
"Kau gila Jaerim!? Aku tidak bodoh untuk tidak melakukan pengecekan latar belakang mereka dan keenam pemuda itu jauh dari kata 'pantas'! Kau tahu itu!?"
"Oh ayolah, mereka sudah lama meninggalkan kehidupan malam!"
"Kenapa kau jadi berpihak padanya Song Jae Rim!? Aku tunanganmu!"
"Justru karena aku tunanganmu, aku harus bicara ini padamu Soeun. Mereka melakukan bisnis gelap karena keadaan terpaksa dan kau tak berhak menghakimi perasaan mereka terhadap namdongsaengmu dan perasaan Seokjin terhadap mereka!"
Soeun terdiam dengan mata terbelalak.
"Yang namanya kejahatan tetap kejahatan. Song Jae Rim. Aku tidak akan mentolerir itu"
"Oh ya? Maka kau harusnya sadar, apa yang kalian lakukan selama ini adalah kejahatan. Menyembunyikan pelaku sebenarnya yang menghancurkan hidup namdongsaengmu dan juga menjadikan Seokjin mayat hidup selama dua puluh tahun terakhir!"
"Kau berani mengatakan itu!?" teriak Soeun tidak terima.
"Lalu katakan padaku. Kapan terakhir Seokjin pernah menyuarakan opininya dihadapan keluargamu?" tanya Jaerim kali ini dengan nada intonasi datar nan berat.
Soeun terdiam.
Pertanyaan itu bukan hanya menohok Soeun dan Seokjin namun juga Jinwoo.
Kapan adiknya pernah mengatakan hal yang ia inginkan?
"Pada akhirnya kalian sadar bukan, Kalian jauh lebih jahat dari BTS"
"Eum...kau butuh tisu?" tanya Jungkook sembari memberinya sekotak tisu dan Jinwoo tergelak lucu.
Kalian jauh lebih jahat dari BTS
Jinwoo lebih jahat dari orang yang mereka tuduh jahat ini.
"Kalian benar. kami memang melakukan pengecekan pada kalian. Suga-shi, track recordmu paling banyak" ujar Jinwoo meski ada nada bercanda disana.
Jinwoo sudah tahu bahwa keenam orang dihadapannya ini datang dengan kisah hidup berat. Yoongi yang bukan hanya berurusan dengan narkoba tapi juga penipuan kelas mafia, Jungkook si street fighter dan juga orang yang sering dijudikan, Namjoon si pengoplos miras dan money laundering, Jimin si escort guy sekaligus seorang germo bagi para pekerja seks komersial, Hoseok si conman handal, dan Taehyung si hacker gelap.
Jinwoo yakin tak mungkin tak satupun dari mereka yang tangannya tak pernah menghasilkan 'darah.'
Namun anehnya, tangan-nya yang 'bersih' mampu membuat hidup adiknya 'berdarah-darah.'
"Jika itu yang kalian khawatirkan, kami sekarang sudah tak berurusan lagi dengan dunia malam. Uang kami sudah cukup-" ucapan Namjoon terpotong oleh kalimat Jinwoo.
"Dan kalian juga benar, Seokjin selalu mencintai keluarganya meski aku berharap kali ini saja dia membenci kami"
Enam pasang mata yang memandangnya nampak kebingungan.
Tentu saja, karena itu bukan perkataan yang mereka ekspetasikan untuk keluar dari mulut Jinwoo.
"Kalian pernah berpikir mengapa kami menyembunyikan Seokjin dari khalayak umum?"
"Karena terlalu banyak yang mengincar Seokjin?" jawab Hoseok skeptis.
"Partly, namun yang terutama adalah karena pelaku penculikan Seokjin tak pernah ditangkap" semua jelas kaget dengan pernyataan Jinwoo.
"Apa maksudnya?" tanya Hoseok kembali.
"Karena keluarganya sendirilah yang melindungi pelaku tersebut." jawab Jinwoo lugas yang disambut kebingungan dari mereka.
Mana mungkin!?
/
Taehyung bertugas menemani Seokjin seharian. Hal ini supaya Seokjin tidak curiga mengenai pertemuan yang diam-diam direncanakan oleh dirinya dan para hyungnya. Ia mendapat beberapa pengetahuan terbaru seputar kayu dan furniture, ketika Taehyung menanyakan Seokjin mengenai pekerjaannya, Seokjin menjelaskan dengan penuh semangat.
Ada rasa gembira disana bahkan warna merah bersemi diantara kedua pipi tersebut
"Taehyung-ah...apakah benar dulu kita pernah bertemu..?" tanya Seokjin ragu.
Lalu disaat itu Seokjin menjadi murung kembali.
Kini ia tahu mengapa.
Jinwoo menjelaskan dengan menangis sesegukan. Bahwa ketua mafia Akuma yang ditangkap kakek Seokjin bukanlah pelaku sebenarnya. Memang benar, ide penculikan datang darinya dan merupakan dalang dibalik penculikannya.
Namun yang membuat hidup Seokjin serasa dineraka bukanlah dia.
Melainkan putranya.
Jinwoo menceritakaan bahwa Seokjin yang belum genap berumur lima tahun saat itu diperlakukan secara tidak manusiawi. Ia digunakan sebagai budak seks dan disiksa. Seokjin tidak diberi makan dan minum. Kejiwaan Seokjin cukup terguncang.
Semua serentak mengepalkan tangan.
Putra Chinshun, yang dinamakan Wookie waktu itu masih belia dan tak bisa dipenjara. Kakek Seokjin berhutang budi pada Chinshun dan juga sepupu Chinshun yang merupakan asisten pribadi kakek Seokjin. Demi menutupi tersangka utama, yang tak lain dan tak bukan adalah Wookie, Kakek Seokjin sendirilah yang mengirimkan Wookie dan satu anak buahnya ke pusat rehabilitasi di luar negri, sesuai dengan keinginan Chinshun agar putranya tidak merasakan dinginnya sel penjara.
Untuk melancarkan rencana itu, dokter pribadi mereka sendiri, Donghae, menyarankan agar Seokjin menjalani hypnotheraphy dimana seluruh ingatan Seokjin dihapus agar Seokjinnya tidak mampu mengenal Chinshun, anaknya, maupun anak buahnya. Yang tertinggal diingatan Seokjin hanyalah keluarga Seokjin saja. Saat itu hypnotheraphy ilegal dilakukan untuk usia balita. Tapi sekali lagi, demi menyelamatkan Wookie, Kakek Jinwoo meyakinkan ayahnya untuk melakukan terapi tersebut dengan alasan bahwa supaya Seokjin bisa hidup 'normal' kembali.
Taehyung dan yang lain berlari ke kamar tempat Seokjin istirahat mendapati Seokjin yang tertidur di kursi dekat jendela balkon dan terbangun mendengar suara grasak-grusuk dari pintu masuk.
"Taehyung-shi, pekerjaanmu sudah- huh? Kalian?" tanya Seokjin sambil mengucek matanya kaget mendapati Taehyung datang bersama member BTS lainnya.
"Hiks...selama ini orang – orang yang menghancurkan hidupnya tidak pernah dihukum...dan kami setiap harinya harus menanggung beban karena Seokjin bukan saja menderita karena pelakunya belum ditangkap, tapi juga kehilangan memori masa lalunya..hiks...demi...demi...balas budi..."
Perkataan Jinwoo terngiang-ngiang dikepala mereka.
Yoongi orang pertama yang tersungkur berjimpuh dihadapan Seokjin yang panik melihat orang yang selama ini ia kira tak akan pernah menangis.
Menangis karena keputusasaan sambil mengenggam tangannya erat.
"H-hey...ada apa ini? Apa terjadi sesuatu...?"
"K-kau..sakit macam apa yang harus kau tahan setiap harinya mengetahui bahwa keluargamu membiarkan orang yang menghancurkan hidupmu bebas berkeliaran?" tanya Yoongi membuat mata Seokjin terbelalak.
Apa yang mereka ketahui tentangnya.
"Hiks...jawab aku Kim Seokjin! Jawab!" Yoongi mengguncang bahunya.
"Siapa yang memberi tahu kalian..." jawab Seokjin tanpa sadar mengeluarkan air mata.
"Jinwoo..." jawab Namjoon dengan suara serak menahan air matanya sendiri.
Seokjin seketika teringat dengan kejadian semalam.
"Lalu katakan padaku. Kapan terakhir Seokjin pernah menyuarakan opininya dihadapan keluargamu?" tanya Jaerim kali ini dengan nada intonasi datar nan berat.
Soeun terdiam.
Pertanyaan itu bukan hanya menohok Soeun dan Seokjin yang tidak sengaja mendengar semua percakapan tersebut.
Seokjin lupa, kapan dirinya pernah mengatakan hal yang ia inginkan?
Seokjin sadar bahwa dirinya tidak pernah meminta apapun lagi dari keluarganya.
"Pada akhirnya kalian sadar bukan, Kalian jauh lebih jahat dari BTS" pernyataan Jaerim seketika menohok jantungnya.
"Sekalipun aku jahat, aku tak akan sudi menerima merekan dan duduk makan satu meja Jaerim.."
Jaerim gelap mata.
"Kalian kurung seorang burung didalam sangkar emas yang seharusnya alam yang terbentang luaslah yang menjadi emas paling berharga bagi burung tersebut" tuntas Jaerim akhirnya membuat Seoun menangis dalam pelukan pemuda itu.
Jaerim benar.
Seokjin tak pernah bersosialisasi selain saat akhirnya ia memutuskan kuliah.
Seokjin tak pernah diberi pilihan.
Seokjin selalu secara halus didikte.
Jangan muncul ke publik.
Jangan pergi ke tempat A atau B
Jangan pulang malam.
Jangan bekerja di tempat C atau D.
Seokjin dibiarkan tumbuh terpisah dari kakak-kakaknya
'Masa lalunya' bahkan diatur sedemikian rupa.
Keluarganya mengaturnya layak seorang puppet.
Bagai Wookie yang mengaturnya layaknya seorang budak seks.
Seokjin memutuskan kembali ke bawah dan berbalik badan sambil menghapus air matanya.
Namun ia tak menyangka Jinwoo sedari tadi ada dibelakangnya memperhatikan Jaerim, Soeun, dan dirinya.
Kakaknya pun menangis.
"Jinnie...kau mencintai mereka bukan..?" tanya sang kakak menangis namun aneh tiba-tiba menanyakan soal itu.
Seokjin semakin menangis kejar didalam pelukan kakaknya.
"Hiks...apakah aku aneh jika punya perasaan pada enam orang sekaligus?" tanya Seokjin balik.
"Anni...hyung senang, kau sudah bebas menentukan hidupmu sendiri"
"A-apakan Jinwoo hyung memberi tahu bahwa-"
"Ya. Bahwa manusia keparat itu masih berkeliaran" jawab Jimin pada Seokjin.
Jika Jinwoo berani menceritakan masa lalunya, tandanya kakaknya...
Bunyi notifikasi ponsel Seokjin membuat Seokjin mengecek ponselnya dan menangis deras kemudian.
"H-hey...kenapa kau menangis?" tanya Yoongi yang paling dekat dari Seokjin mengecek pesan masuk dari Soeun.
Jinnie, noonamu makan dengan nikmat dengan keenam pemuda bodoh itu.
Kakaknya sudi makan 'satu meja; dengan mereka.
Kakaknya sudi menerima mereka sebagai kekasih Seokjin.
Yoongi kebingungan dengan pesan Soeun namun jauh lebih bingung ketika Seokjin minta dicium.
Bukan hanya untuk Yoongi.
Tapi untuk kelima dongsaengnya juga.
"Seokjin. Kita sepakat untuk pelan-pelan, kami tak mau-" ucapan Namjoon terputus ketika Seokjin berjalan mendekati Namjoon dan mencium pemuda itu.
"Aku mencintai kalian, apakah tidak boleh mencium pemuda yang kucintai?" tanya Seokjin kemudian.
Mereka gelap mata.
Dan Seokjin juga sekali ini ingin bebas tanpa berpikir apapun.
Ia ingin sentuhan keenam pemuda ini.
Dan mereka senang hati mengabulkannya.
/
Dicium bukanlah hal baru bagi Seokjin. Tetapi dicium dengan bibir yang lebih lembut dari sutra mana pun dan merasakan betapa penuh gairahnya mereka tentu saja merupakan hal yang baru. Seokjin mengerang di mulut Jimin yang entah mengapa sudah ada dihadapannya, tangannya melingkari leher pemuda tersebut. Seokjin merasakan bahwa dirinya dibawa ke tempat tidur sebelum sebuah mulut yang lain mendarat di lehernya. Helaian pakaian yang dia pegang untuk menyembunyikan tubuhnya perlahan-lahan terlepas.
"Biarkan kami mencicipimu" bisik Taehyung yang rupanya pelaku yang menghisap lehernya. Seokjin mengerang ketika lidah hoseok, lebih lama dan lebih kuat, membungkus lidahnya dan mengabsen jajaran gigi dan bibir sebelum akhir berbalik pada permainan lidahnya sendiri sebelum Hobi menyedotnya dengan kekuatan.
"Dia merespon dengan sangat baik" gumam Yoongi sambil melepas pakaiannya. Namjoon bersenandung di leher bagian belakang Seokjin. Keduanya menurunkan tangan mereka dan meraba-raba bagian bawah tubuh Seokjin, dua bongkahan manis yang terpisahkan oleh satu lubang penuh kenikmatan
Lebih. Seokjin memohon dalam pikirannya, sudah kehabisan nafas dan kata-kata. Hobi terlihat sangat bangga pada dirinya sendiri dan Namjoon tertawa kecil.
"Sangat rakus" ujar Jungkook yang sudah telanjang bulat, menggantikan posisi hoseok yang kini sibuk membuka bajunya. Mulut jungkook tak henti-hentinya menghisap seluruh permukaan kulit Seokjin mengarah ke bawah, mengikuti bidang tubuh Seokjin. Sementara Yoongi di belakangnya, sedang mengisap bahu Seokjin sementara Namjoon mengulum kejantanan kecil Seokjin yang sudah mengeluarkan pre-cum
"Cium aku" pinta Seokjin mereka dengan manis, matanya sembab dan berlinang serta bibirnya nampak lebih tebal seperti merindukan mulut dan lidah jahat itu. Taehyung menurut, ia yang juga sudah menanggalkan pakaiannya mencium bibir itu ganas.
Namjoon menggeram ketika Seokjin mengeluarkan cairan spermanya di mulut Namjoon. Namjoon menegak sekaligus menumpahkan lahar surgawi itu ketangannya sendiri "Seokjin-ah, should we?" tanya Namjoon memastikan bahwa mereka mendapat konsen penuh atas Seokjin
Seokjin menghentikan ciumannya untuk memohon dengan benar saat dia merasakannya. Sesuatu yang panjang, tebal dan dingin, tapi halus seperti sutra. Seokjin memiringkan kepalanya ke belakang dan menatap punya Yoongi yang sudah membesar.
"Satu persatu..aku tak akan bisa menampung kalian semua" jawab Seokjin dengan wajah memerah luar biasa.
"Tak perlu khawatir sayang. Yang tertua akan lebih dulu" Bisik Yoongi kemudian menjilat telinganya. Jawaban Seokjin diinterupsi oleh rasa panas di perutnya. Dia tersentak dan melihat ke bawah untuk melihat Namjoon sudah berada di holenya sambil memasukkan lidahnya.
"A-apa yang kamu lakukan?"
"Sebuah mantra sederhana yang akan membantu tubuhmu menahan kami" senyum iblis itu keluar. Seokjin menelan ludah ketika perlahan tapi pasti jari Namjoon masuk dengan cairan cum-nya sendiri sebagai pelumas.
Apa yang akan mereka lakukan padaku?
"Relax, pretty" Taehyung mengedipkan mata sambil bermain dengan adik kecil Seokjin sementara Jimin dan Jungkook menghisap kedua nipple Seokjin untuk mengalihkan rasa sakit akibat jari Namjoon. Seokjin mengerang dalam Ciumannya bersama Hoseok saat dua jari Namjoon tiba-tiba melesak masuk kedalam holenya tanpa aba-aba. Dia tidak merasakan sakit atau terbakar, hanya rasa senang dan panas yang luar biasa.
Pertanda bahwa Taehyung, Jimin, Jungkook, dan Hoseok berhasil mengalihkan rasa sakit Seokjin.
Melihat reaksi Seokjin, itu tandanya Seokjin masih virgin. Ada rasa kebanggan bahwa mereka adalah orang pertama yang akan mengambil keperjakaan pemuda manis itu namun disatu sisi juga tegang bukan main.
Karena itu artinya jika salah langkah, maka Seokjin akan kesakitan dan bisa jadi Seokjin mencap mereka sebagai orang yang sama dengan Wookie.
Jelas itu bukan hal yang mereka inginkan.
"Dia siap" bisik Yoongi dengan suara beratnya yang khas diikuti oleh tangannya yang meremas dan menahan bokong Seokjin agar terbuka dengan lebar. Namjoon melebarkan lubang pink ranum itu dengan mudah menggunakan tiga jari sebelum yang lebih tebal menggosok hole Seokjin yang sudah terlumasi sempurna "Dia siap berteriak."
Dan Seokjin berteriak.
Namjoon mendorong empat jarinya ke dalam lubang Seokjin dan pada saat yang sama kejantanan Yoongi menembus sweetspotnya. Hoseok dengan tanggap menopang tubuh Seokjin membuatnya tetap tegak, pemuda itu memasang ekspresi gembira saat dia melihat Seokjin menggigil dalam kesenangan.
"Sangat cantik" Hoseok berbisik lembut. Melihat Seokjin mendesah tertahan namun akhirnya mengerang saat dia disetubuhi dari belakang oleh Yoongi yang mulai mempercepat genjotannya seiring dengan tangan Namjoon yang keluar. Mengisyaratkan bahwa giliran Hoseok sudah tiba.
"Angel, kau tahu suaramu sangat manis bukan? Jangan ditahan ketika aku masuk nanti yah?" tanya Hoseok polos membuat Seokjin sadar bahwa mereka akan melakukan double penetrasi.
Namun Seokjin tidak punya pilihan selain tersedak karena Namjoon sudah memasukkan penisnya sendiri kemulut Seokjin hingga masuk ke tenggorokannya, melakukannya dengan cara yang sama seperti kejantanan Yoongi dengan kasar menghujami lubang Seokjin sambil terus meremas bokongnya. Hoseok seketika memasukkan penis miliknya yang kini saling beradu dan bertumbuk menghujam hole Seokjin. Seokjin bisa merasakan bahwa perutnya menggembung ketika ada dua benda tumpul asing yang panjang menghujam hingga menonjol dan terpampang jelas di bagian perut bawahnya.
Kini giliran Taehyung yang meremas dan memijat kejantanannya yang sudah tak terhitung berapa kali mengeluarkan cairan.
"Shit! Dia sempit" Desah Yoongi sambil menggigit bahu Seokjin
"Nghh...euueu..." racau Seokjin mendesah dengan mulutnya yang masih melakukan blowjob sebelum matanya melebar ketika ia merasa kedua penis didalam holenya serasa membesar dan berkedut-kedut.
Yoongi dan Hoseok yang nampaknya sudah ingin mencapai klimaks mendorong kedua kemaluannya ke dalam. Peregangan itu melampaui apa yang pernah dialami Seokjin. Dia tersedak cairan klimaks Namjoon di tenggorokannya dan pinggulnya menggelinjang nikmat. Tapi tidak ada rasa sakit, hanya lenguhan panjang ketika Yoongi dan Hoseok mengeluarkan kejantanan mereka diiringi cairan klikmaks mereka yang menetes keluar
"Masih ada yang tersisa" bisik Yoongi di telinga Seokjin, membuat Seokjin merona sebelum akhirnya sadar bahwa Namjoon dan Jimin sudah memposikan dua kejantanan mereka yang yang sudah tegang.
"Aku harus membuka rahimmu agar benar-benar di dalam" ucap Namjoon terkekeh lucu sementara Jimin menjilat bibirnya seduktif melihat hole Seokjin yang ranum kini makin memerah panas.
"Seokjinnie...tubuhmu sangat responsif" ujar Jimin kesenangan.
"Seakan-akan tubuhmu ingin kami mengisi rahimmu. Kamu ingin kami semua memasukkan semua cairan kami kedalam rahimmu bukan manis?"
Seokjin mendapat jawabannya ketika kejantanan Jimin masuk dengan lancar menyusup di dekat uretranya. Dan menjerit saat Namjoon masuk, mendorong leher rahimnya yang tertutup.
"Nghh...Tidak! Tidak disana..hiks..." Seokjin menangis membuat mereka panik.
"Jimin, berhenti"perintah Namjoon. membuat penis Jimin dengan segera mengundurkan sedikit lajunya.
"Maaf hiks..." rengek Seokjin. Malu menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak berpengalaman dengan hal seperti ini. Mendengkur lembut, ciuman di leher dan gerakan dua penis tersebut yang mulai menuju di titik sensitifnya adalah jawabannya.
"Jangan minta maaf sayang, you did really good angel" gumam Namjo di lehernya. Jungkook inisiatif merayapi dada Seokjin, dan memelintir puting dadanya dengan lembut.
"Nghh...kumohon..hh..." desah Seokjin merasa tubuhnya mulai menggelinjang penuh nikmat.
"Dia suka itu" geram Namjoon tertahan sambil terus bersama Jimin yang ada diatas tubuh Seokjin ikut menghujami area surgawi tersebut.
Fuck, hole sempit Seokjin jauh lebih nikmat dari gadis atau laki-laki yang sudah mereka tiduri. Lubang Seokjin meremas kejantanan mereka dengan liar, panas dan basah. Namjoon merasa menemukan jalur rahimnya Seokjin dan di bawah serangan Namjoon,
"Persetan aku akan lebih keras!" Jimin mengerang karena kenikmatan yang didapatnya dari Seokjin. Hole Seokjin benar-benar menyempit dan meremas, bermain dengannya tanpa ampun. Dorongan keras lainnya dari Namjoon dan kemaluannya menembus rahim Seokjin.
"Arghh!" Seokjin menjerit, menyemprotkan cairan yang bukan hanya spermanya namun juga cairan bening.
Seokjin dibuat squirting.
Jimin menggosok junior Seokjin ke perutnya sambil mencium mpemuda yang tengah mereka himpit tersebut.
"Mmmfh!" Seokjin mengerang ketika Hoseok dan Yoongi kembali bergabung memainkan penis mereka bertiga
"Lakukan lebih keras" geram Namjoon, kejantanannya merasakan panas didalam lubang Seokjin sebelum akhirnya ia dan Jimin juga terpaksa klimaks didalam dan segera mengeluarkan penis mereka.
Membiarkan maknae line, sebagai yang terakhir untuk merasakan kenikmatan surgawi tersebut. Taehyung menarik penisnya kembali, sampai Jungkook mendorong kejantanannya sendiri sambil merasakan leher rahim Seokjin menyempit sebelum terbukan lebar akibat terdorong oleh penis milik Taehyung yang mendorong penis Jungkook ke belakang sampai dia mencapai ujung sweetspot Seokjin
"Fuck!" Erang keduanya tertahan sementara Seokjin lemas akibat sudah klimaks berkali-kali.
"Kamu enak sekali manis" bisa Jungkook dibawah Seokjin sambil menjilat garis dari leher Seokjin ke rahangnya. Tangannya meraba-raba bagian bawah, dada Seokjin dan kembali menapar halus kedua bokong tersebut hingga memerah.
Ralat.
Seluruh tubuh Seokjin sudah memerah panas.
Taehyung semakin mendorong kejantanannya dan menghujammnya tanpa ampun ketika Jungkook melebarkan kedua bongkahan bokong tersebut, membuat lubang meregang.
"Kau tahu Seokjin...bagian dalammu.." bisik Jungkook seakan-akan membuat Seokjin bisa merasakan bahwa seluruh member BTS melihat bagian dalam tubuhnya saat tangan Jungkook menahannya.
"Sangat merah muda" erang Taehyung sambil mencium bibirnya. Seokjin melengkungkan badannya dengan menggoda akibat hujaman Jungkook dari belakang.
"Dan juga sangat basah." bisik Jungkook sambil mengulum daun telinga Jungkook
"Ngh!" Mereka tidak memberi waktu pada Seokjin untuk berkata apapun. Ketika Taehyung mulai mempercepat gencontannya, dan penis Jungkook menembus rahimnya di setiap dorongan. Tangan Jungkook dengan setia melebarkan bokongnya sampai Seokjin bahkan tidak bisa merapatkan kembali, dipaksa untuk menganga saat mereka mengebor pantatnya. Hobi menikmati rasa mulutnya, menghisap lidah dan bibirnya.
"AHHH!" Putingnya ditarik, oleh Jimin dan Namjoon sementara Yoongi memberi blowjob pada juniornya yang sudah meringis sakit. Dia menangis dan menjerit dan merengek, matanya kabur dan pikirannya kabur.
Seokjin tidak kuat lagi. Ia sudah lelah dan ingin selesai
"Mari selesaikan." tegas Taehyung dingin.
Taehyung menghujam dengan satu hentakan melesak masuk kedalam membuat Jungkook mendengus keras, mendorong kejantanan bebasnya ke dalam hole Seokjin yang dipaksa menganga. Taehyung dan Jungkook menggeram hebat saat mereka membenamkan diri mereka sepenuhnya di tubuh Seokjin.
Seokjin terisak dengan keras, suaranya pecah dan mata terpejam. Cum membanjiri rahimnya, membuat perutnya membuncit sedikit dan mengisinya hingga penuh.
"Buka mulutmu" Seokjin tidak memperhatikan apapun dan hanya menurut. Dia hanya memiringkan wajahnya ke atas dan menjulurkan lidahnya, menerima cairan cumnya sendiri yang diberikan oleh Yoongi.
"Cairanmu manis, kau tahu itu?" bisik Namjoon kemudian.
Seokjin belum sempat menjawab dan hampir ambruk saat tangan Taehyung dan Jungkook meninggalkan tubuhnya. Untngnya Jungkook masih dibawahnya.
Kini sakit ditubuhnya terasa dan,
Sial.
Cairan yang keluar dari hole Seokjin kini di-iringin dengan warna merah pekat.
"Fuck, kita bermain masih terlalu kasar" sesal Jimin sebelum Jungkook dengan sigap menggendong Seokjin ke kamar mandi disusul Taehyung untuk membersihkan tubuh Seokjin sesuai perintah Namjoon. Seokjin protes saat ia merasa ada beberapa jari yang mencoba masuk lagi kedalam lubangnya dan Hoseok yang menyusul mereka menciumnya lagi. Lidah pemuda yang dijuluki sunshine itu masuk jauh ke dalam tenggorokannya dan mengeluarkan cairan manis. Perasaan mual Seokjin hilang dengan cepat.
Hoseok rupanya datang sambil memberi obat rasa sakit dan memutuskan untuk membantu Seokjin meminumnya karena pemuda itu tak punya tenaga sementara Taehyung dengan jari lihainya mengeluarkan semua cairan mereka sambil mendeteksi luka didalam holenya.
"Bagaimana perasaanmu?"
Seokjin tidak punya jawaban.
Ia terlelap didada Jungkook. Ia tak menyadari kini ranjang hotel yang menjad saksi bisu mereka sudah diganti dengan yang baru. Serta Yoongi yang datang dari luar menggunakan bathrobe membawa sepaket pijama baru dan obat cream pereda rasa sakit untuk di area puting dan dinding holenya terutama dinding rahim. Yang dia tahu adalah kini tubuhnya sudah bersih dibalut pajama hangat, dan beberapa tangan memeluknya, bibir tersenyum di telapak tangannya, ciuman di dahi dan usapan yang membuai perutnya membuat Seokjin tidur dengan tenang.
Seokjin akhirnya bisa tidur dengan tenang.
/
"Aktornya ingin design setnya dilakukan oleh Seokjin?" tanya Eunkyung kaget mendapati Junwoo datang dengan wajah masam.
"Ya begitulah tak ada yang tahu isi pikiran tuan Nam" ucap Junwoo menjatuhkan diri di sofa sambil menaruh berkas hasil rapatnya tadi asal ke meja.
Eunkyung mempunyai firasat yang tidak enak.
Seorang aktor terkenal yang sudah lama hiatus mendadak muncul minta diberikan drama musikal set yang hanya boleh datang dari Seokjin?
Mencurigakan malah bagi Eunkyung.
"Siap tadi nama aktornya?" tanya Eunkyung.
"Namgung Min, ia dikabarkan baru balik dari Amerika" ucap Junwoo.
"Marganya Nam?"
"Entahlah. Tapi aku dengar saat ia menjawab seseorang ditelpon, orang itu menyebut namanya dengan sebutan Minam."
Halo guyseu~~~
Aku berterima kasih kepada para reader sekalian yang sabar dan setia menunggu cerita ini, maaf banget buat semuanya author baru bisa update sekarang dan gak bisa update sesering mungkin.
Dan gak terasa cerita ini bentar lagi sudah mau menjelang ending loh heuheuheu
Author juga mau mem-posting cerita author lainnya di Wattpad loh guys! Monggo dilihat because it was another Jin Harem too!
Dan seperti biasa,
DONT FORGET TO RnR ALSO FAV&FOLLOW
BUDAYAKAN MENINGGALKAN JEJAK YA TEMAN -TEMAN~~
p.s : Karena percayalah komen - komen kalian penambah semangat author buat update heheh
BUDAYAKAN MENINGGALKAN JEJAK YA TEMAN -TEMAN~~
