Diam-diam aku tersenyum kecil melihat dia meminum jus yang kutaruh di lokernya tadi pagi. Hampir aku terkikik saat Atsumu agak merengek untuk mencicipi jus buatanku tetapi ditolak mentah-mentah oleh adiknya. Disitu aku jadi kepikiran, apa mungkin seharusnya aku membuat dua botol, biar yang satunya buat Atsumu? Tetapi kalau keduanya kuberikan pada Osamu, kuyakin anak itu tidak bakal membagi satu pada saudaranya. Jika masing-masing kuberikan terpisah, berarti aku tidak akan menjadi 'gadis rahasia'nya Osamu seorang lagi. Kuputuskan untuk tidak lagi ambil pusing dan tetap untuk memberikan hadiah pada Osamu saja. Jika aku akan memberi sesuatu pada Atsumu juga, berarti aku akan memberikan sekalian untuk satu tim sebagai seorang manager.
Dan hari bagiku untuk membuatkan sesuatu untuk satu tim sekaligus muncul ketika Pelatih Kurosu dan Pelatih Oomi datang saat latihan siang, memberitahu bahwa Atsumu terpilih untuk mengikuti pelatihan se-Jepang.
"Selamat, Atsumu," ucapku tulus.
Ia mengangguk dengan semangat, lalu menampar lengan adiknya. "'Samu! 'Samu! Aku terpilih, dong!"
Osamu pun meringis dan berdecak sebal, tapi setelahnya tersenyum juga. "Iya, iya, selamat."
Tapi, jika kuperhatikan, Osamu sama sekali tidak sedih karena hanya kakaknya yang terpilih untuk ikut pelatihan. Padahal selama ini, sepertinya dia bermain sebaik yang ia bisa, effortnya pun tidak kalah dengan Atsumu. Jika memang menyukai voli, tidakkah seharusnya Osamu iri?
"Kamu cemburu dikit, kek, gitu," dengus Atsumu, menyuarakan pikiranku.
"Buat apa? Kita sama-sama tahu bahwa di antara kita, memang kamulah yang lebih mencintai voli. Jadi aku tidak masalah dan merasa wajar," ucap Osamu enteng.
Disitu aku baru ingat, dalam pesan-pesannya, ia pernah bilang bahwa tidak berniat untuk melanjutkan karir volinya setelah lulus sekolah dan berniat untuk jualan nasi kepal. Awalnya kupikir ia tidak benar-benar serius, apalagi ia sempat menambahkan 'ingin jualan onigiri bareng kamu' di pesannya. Tetapi, terlepas tentang jualan nasi kepal, tampaknya ia memang tidak ingin melanjutkan karir volinya. Agak sayang, sih, apalagi kulihat dia bukannya main-main di klub ini.
.
.
Disclaimer: Haikyuu! adalah karangan Furudate Haruichi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.
Warning: Osamu x OC, berpotensi spoiler manga.
.
.
not another story about love
Kesepuluh: Kue
by Fei Mei
.
.
Keesokkan paginya, cowok-cowok itu menatapku dengan penuh haru. Pasalnya, aku menyajikan seloyang besar kue strawberry shortcake untuk mereka.
"Kaji, ini, eh, dalam rangka apa?" tanya Pelatih Kurosu.
"Erm, anu, kupikir ini buat perayaan Atsumu terpilih untuk pelatihan se-Jepang, sekaligus menyemangati kalian di pertandingan nasional nanti…" cicitku.
"Ah—" Pelatih Oomi bahkan menoleh pada Kita senpai. "Apakah kita memang memesan ini dari rumah makan Kaji?"
"Tidak!" jawabku cepat. Wajahku terasa panas sekali karena mereka menatapku dengan intens. "Anu, ini hanya inisiatifku sendiri, anggap saja hadiah, begitu."
…
…
"UWAAA AKU SENENG BANGET KITA PUNYA MANAGER!"
"AKU GAK NYANGKA PUNYA MANAGER CEWEK BISA BIKIN BAHAGIA BEGINIII!"
"HIDUP MANAGER!"
Aduuuh malu banget! Ingin sekali rasanya aku buru-buru sembunyi, tapi jelas tidak ada tempat persembunyian yang pas karena sebagian besar mata masih terarah padaku.
"S-Sudahlah, kalian potong dan makan saja!" sahutku malu.
Sebagai kapten, Kita-san memotong kue itu. Dia memang perfeksionis, terlihat dari ukuran potongan kue yang terlihat sama. Bahkan kalau tidak salah, kulihat ia sempat menghitung jumlah orang di ruangan ini, kupikir mungkin biar kuenya dibagi sesuai dengan jumlah orang. Padahal, mah, kupikir tidak perlu sebegitunya, hahahaha.
Aku membiarkan cowok-cowok itu mengerubungi kue buatanku, sedangkan diriku sendiri bersandar di dinding menonton mereka sambil tersenyum kecil. Getaran ponsel di sakuku membuatku kaget. Sempat kulihat tadi tampaknya Osamu memegang ponsel, jadi aku curiga bahwa getaran ponselku ini gara-gara adanya pesan masuk darinya. Kugelengkan pelan kepalaku, menahan diri untuk meraih ponsel di kantongku.
Jangan sampai membuatnya curiga.
.
.
.
.
Osamu cemberut melihat layar ponselnya. Si Gadis Rahasia masih belum membalas pesannya. Apa jangan-jangan pesannya tidak terkirim, ya? Jadilah dia mengecek sekali lagi.
/'Kepada Rahasia,
Ingat fakta tentang aku tertarik pada dua gadis? Sepertinya salah satu dari mereka menyukai Atsumu…'/
Eh, terkirim kok. Apa jangan-jangan si Rahasia sedang sibuk ya?
Kruyuk~
Yaelah, itu perut atau apaan? Padahal Osamu baru saja selesai makan siang. Sesaat telah merasa kenyang, tetapi cacing di perutnya minta makan lagi. Apa karena dia ingin makan sesuatu dari Rahasia, ya?
Takutnya tidak bisa konsentrasi di pelajaran berikutnya karena perut bunyi, Osamu memutuskan untuk pergi ke kantin untuk mencari makanan tambahan. Tetapi langkahnya terhenti ketika ia tidak sengaja melihat sosok Kaji yang sedang di dapur ruang PKK seorang diri.
Gadis itu tampak sedang mengangkat tutup kukusan. Uap panas bahkan dapat dilihat Osamu dari balik jendela pintu. Tetapi saat uap itu perlahan tipis, wajah riang Kaji yang tak pernah dilihatnya di ruang gym muncul. Gadis itu mengangkat keluar suatu wadah dari dalam kukusan, dan cacing dalam perut Osamu sudah tak kuasa lagi. Suara perutnya kencang, tetapi mungkin Kaji tidak bakal bisa dengar dari dalam sana.
Agak penasaran, Osamu pun masuk. Kaji mungkin terlalu asyik dengan apa pun yang baru saja ia kukus, sehingga tidak sadar bahwa si Spiker telah ada di sampingnya.
"Kaji, bikin apa—"
"—ah!"
Hal klise terjadi.
Kaji kaget, wadah yang ada di tangannya hampir terjatuh tetapi untung Osamu buru-buru menahan tangannya.
Iya, klise banget, terutama ketika keduanya menangkap tatapan mata satu sama lain dengan canggung. Seperti sinetron roman picisan banget, Atsumu mungkin bakal muntah jika melihatnya.
Ketika sudah tersadar akan apa yang terjadi, Kaji mundur selangkah dan Osamu melepas tangan darinya. Wadah di tangan Kaji sudah kosong, dan itu bukan karena terjatuh. Osamu lega karena ternyata gadis itu telah mengeluarkan isi wadah itu di piring, berarti tadi Kaji hanya ingin menaruh wadah tersebut di westafel.
"Maaf, aku gak nyangka kamu bakal kaget," tutur Osamu, lebih lembut dari yang ia bayangkan.
Kaji tersenyum canggung. "Tidak apa, akunya yang kurang awas. Untung tidak sampai jatuh, terima kasih sudah bantu tahan."
Osamu mengangguk. "Habis bikin apa?"
"Oh, eh, kue bolu kukus coklat!" jawabnya riang. "Strawberry shortcake yang tadi sepertinya kurang, kan? Jadi kupikir, aku buat ini saja, kebetulan di ruang PKK ada banyak bahan!"
Lagi Osamu mengangguk. Dan mendengar nama kue itu, perutnya bunyi lagi. Ia mengerang dan Kaji tertawa kecil.
"Ah, eh, kalau mau, Osamu-san boleh makan, kok!" kata Kaji sambil tersenyum. "Yang paling pinggir itu kukusan yang pertama, sudah tidak sepanas yang baru aku keluarin sekarang."
"Boleh?"
Kaji mengangguk, lalu menyengir. "Sebagai gantinya, saat klub nanti, jatah Osamu-san hilang lho, ya~"
Masalah jatah saat klub itu belakangan, yang penting untuk saat ini perutnya harus diselamatkan!
Osamu masih bisa mendengar kekehan halus manager timnya saat dirinya mulai memotong kue yang ditunjuk Kaji dengan garpu. Bolu kukus ini tampak sangat lembut, sepertinya Kaji memang sudah terbiasa membuat seperti ini. Waktu Osamu mencobanya pun, rasanya begitu enak—entah rasanya memang enak, atau Osamu-nya saja yang kelaparan, atau memang sebenarnya Osamu terlalu mencintai apa pun yang bisa dimakan.
Entah sudah dalam hitungan berapa menit, tiga potong bolu kukus sudah pindah tempat dari piring ke perut Osamu. Ia agak merasa bersalah, tapi hatinya luluh luar biasa melihat Kaji yang tertawa geli menatapnya.
"Osamu-san makannya kuat banget ya, aku kaget, lho," ujar Kaji.
Telinga Osamu menghangat karena malu. "Mungkin karena kuemu enak…"
"Tapi inget, jatah Osamu-san sudah lenyap saat klub, ya," goda Kaji.
Osamu pura-pura meringis.
Kaji sudah membereskan semuanya ketika Osamu makan tadi, jadinya sekarang gadis itu tinggal mencuci piring dan garpu yang baru saja pemuda itu pakai. Sambil gadis itu berberes, Osamu mengecek ponselnya lagi, memberengut karena masih belum ada balasan dari Rahasia.
Mengingat pesan terakhir yang ia kirimkan, Osamu pun jadi penasaran.
"Kaji," panggilnya.
"Hm?"
"…kamu suka Atsumu?"
Kaji tampak menghentikan aktivitas cuci piringnya sesaat. Kepalanya miring sedikit, seakan ia sedang memikirkan jawaban yang tepat, sebelum ia kembali menggerakkan tangannya. "Tentu saja, dia rekan se-klub yang baik."
Osamu menggeleng dan spontan berdiri dari kursinya. "Bukan, maksudku, seperti, eh, suka. Cewek suka cowok, gitu."
Gadis itu terkekeh halus. "Oooh itu. Kenapa Osamu-san bisa kepikiran begitu?"
"Enggak, itu, eh, soalnya kamu bikin kue dalam rangka selamatan dia, jadi kupikir mungkin kamu suka dia…"
Kaji tersenyum padanya. "Enggak kok. Memang dari kemarin-kemarin aku ingin memberikan sesuatu untuk orang-orang klub voli, untuk menyemangati kalian yang akan tanding di nasional nanti. Ketika Pelatih mengumumkan soal Atsumu -san, kupikir momennya bakal pas, jadinya sekalian saja."
Hati Osamu perlahan lega. "Jadi bukan khusus untuk 'Tsumu?"
Lagi Kaji terkekeh. "Bukan, kok."
Tidak bohong, Osamu luar biasa lega mendengarnya.
.
.
/'Kepada Rahasia,
Apa pendapatmu jika seorang cowok suka pada dua cewek sekaligus?'/
/'Dari Rahasia,
Kupikir itu tidak masalah, asalkan dia bisa memilih yang mana yang lebih disukainya.'/
/'Kepada Rahasia,
Seharian kamu sibuk ya? Malem begini baru bales…'/
/'Dari Rahasia,
Iya, maaf Osamu -san :('/
/'Kepada Rahasia,
Gapapa kok, kamu tetep bales malem begini juga aku seneng :)
Fakta Miya Osamu (aku sudah malas pakai nomor): aku puas banget makan kue seharian ini.'/
/'Dari Rahasia,
Tentangku: aku berpikir untuk melanjutkan 'kesibukan'ku sampai aku lulus.'/
.
.
Bersambung
.
.
