HATI-HATI, OOC SUDAH DIPANDANG WAJAR DISINI. DAN BANYAK TYPO YANG BERSERAKAN, JUGA EBI YANG KURANG MENJANJIKAN

SELAMAT MEMBACA!

_Lost_

Claude menghela nafas, mencoba bersabar. Setelah kematian Kucing yang paling dekat dengan Sebastian. Danna-samanya meminta untuk tetap tinggal semalaman di kediaman Phantomhive.

Claude hanya memiringkan kepala bingung dengan keputusan danna-samanya. Memang apa untungnya dengan bermalam dikediaman phantomhive? Melihat pelayan-pelayan bekerja yang sangat tak profesional. Yang ada, Malah Claude jadi asisten dari si gagak yang kini berbaring nyaman.

Claude duduk di kursi samping ranjang, memandang malas Sebastian yang sepertinya tidur lelap. Eh? Dia baru tahu ada seekor(?) Iblis yang bisa tidur begitu nyenyaknya.

"Hng...? Hiks... Ugh..." Claude tersentak kaget kala mendengar isakan dari Sebastian yang tadinya nyenyak tertidur. Kini, Sebastian malah bergerak gelisah ditidurnya.

'Mimpi buruk kah?' Batin Claude bertanya-tanya. Dia sempat mendengar dari seseorang entah siapa, bahwa kenyamanan bisa menyingkirkan mimpi buruk. Dan... Claude jadi bingung dengan 'Kenyamanan' yang dimaksudkan.

Claude jadi agak khawatir.

Uhm... Jangan tanya alasan Claude bisa khawatir! Karena, Claude juga tak tahu kenapa bisa khawatir pada Sebastian. Anggap saja abnormal dunia yang tengah melanda raganya.

"Hiks..." Isakan Sebastian semakin keras. Bahkan, tubuhnya semakin bergerak gelisah. Deritan ranjangnya terdengar cukup nyaring.

Claude jadi makin khawatir lagi. Bagaimana jika Danna-samanya terganggu dan memarahinya. Claude sedang dalam fase malas meladeni orang lain.

Dengan gerakan yang sedikit kikuk, Claude duduk diatas ranjang, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Tangan kanannya terangkat, dan mendarat tepat di atas kepala Sebastian, mengelus lembut helaian rambut hitam Sebastian.

Claude menghentikan elusannya kala pandangannya jatuh ke wajah Sebastian. Hanya wajah tampan sempurna. Hampir tak ada cacat. Alis tipis tegas, kelopak mata yang dihiasi bulu mata lentik, hidung bangir, bibir tipis mempesona, dan struktur rahang yang kokoh.

'Tampan nyaris ke cantik' Batin Claude ngawur.

Claude menggelengkan kepala, Dia tadi berpikir apa sih? Otaknya makin gila. Hah... Apalagi yang akan dibuat gila oleh Sebastian? Pertama detakan di dadanya, Kedua otaknya yang makin ngawur jalan pikirnya.

Claude kambali ke aktivitasnya mengelus rambut Sebastian, ya... Karena, Sebastian jadi lebih tenang saat dielus.

"K-kucing...?" Gumam Sebastian tak jelas dan begitu pelan.

Tapi, Claude itu Iblis. Perlu digaris bawahi? Iblis! Ingat itu! Dia punya pendengaran yang tajam. Jika gumaman seperti itu saja lekang dari telinganya... Maka jangan katakan dia Iblis terhormat.

Dan... Kepala juga hatinya dipenuhi amarah. Jadi, dia tadi khawatir ke seseorang yang gelisah dan tampak menderita hanya karena ditinggal seekor kucing?

C'mon, Bung! Sebastian itu juga Iblis. Sama dengannya? Tapi ada apa dengan empati tinggi, lebih-lebih pada kucing liar? Kalau kucing yang punya bulu penuh kilauan dan sangat lembut ditangan, Claude tak akan marah.

Nah ini...? Kucing liar! Yang bahkan badannya aja kotor banget, dan ada kemungkinan si Kucing ini penyakitan.

Oh... Lupakan tentang fetish Claude tentang Kucing liar. Bahkan, Kucing temuan Sebastian di taman Kediaman Trancy saja sudah membuat Claude hampir teriak-teriak alay dan OOC.

Kalau kalian tanya kenapa? Kucingnya itu... Pemilih banget. Dikasih Ikan, maunya udang. Dikasih Udang, maunya Ikan. Repot, kan?

Claude menenangkan pikirannya yang mulai berkelana jauh bin absurd. Dia turut merebahkan tubuhnya di samping Sebastian.

Oh, Claude baru menyadari satu hal. Tangan kanannya dipeluk sangat erat oleh Si Sebastian. "Hah... Alamat bakal kram besok" gumamnya lelah.

Eh...? Emang Iblis bisa kram ya...? Entahlah... Mungkin bisa...