Disclaimer : Semua karakter punya Masashi Kishimoto-sensei, saya cuma punya plotnya.
Warning : OOC, bahasa tidak baku, setting AU, typo, mengandung umpatan kasar, dan sebagainya
.
.
.
.
.
daifukuwmochi presents:
Trapped with the Ex : Bad Luck or Good Luck?
Chapter 8 : Pasar Malam
A Sasusaku Fanfiction
.
.
.
.
.
Gadis itu kini tak ceria seperti dulu lagi. Dirinya bagai zombie yang tak memiliki emosi. Emerald yang biasanya berkilau itu kini meredup seakan tak ada tanda kehidupan disana. Bahkan untuk makan saja teman-temannya harus memaksanya.
Beberapa waktu lalu, sepulang dari Desa Ame, gadis itu tak menitikkan air mata lagi. Air matanya terkuras habis saat perjalanan kembali menuju posko. Setibanya di posko, ia hanya terdiam dan menatap kekosongan. Gadis yang biasanya sangat cerewet saat melihat puntung rokok yang dibuang sembarangan atau sepatu yang berserakan itu kini tak berujar sepatah kata pun, seakan kosakata telah menguap dari kepalanya.
Gadis itu kini sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Namun tak terdengar suara gemericik air, yang ada hanya keheningan. Ino, yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar mandi khawatir. Takut kalau-kalau sahabatnya itu nekat menenggelamkan diri di bak air. Maka dengan kekuatan penuh ia menggedor pintu itu. "Sakura! Sakura! Buka pintunya!"
Pintu itu tetap terkunci. Kawan-kawan yang lain menghampiri. "Sakura kenapa?"
"Dari tadi dia di kamar mandi tapi nggak keluar-keluar. Nggak kedengeran suara air juga. Gimana ini?"
Sasuke, yang tampak sangat khawatir, mendobrak pintu itu tanpa babibu lagi.
BLAAMM!!!
Pintu itu terbuka. Seorang gadis bersurai sewarna bunga sakura yang masih berpakaian lengkap dengan handuk yang tersampir di bahunya tengah duduk di lantai, memeluk lututnya sendiri. Lelaki bermata onyx itu segera menggendong gadis itu dan membawanya menuju kamar si gadis. Ia menatap gadis itu dengan perasaan campur aduk.
Ino menepuk bahu lelaki itu. "Kalian keluar saja. Kami yang akan menemaninya."
Semua anak lelaki keluar dari kamar itu. Ino, Tenten dan Hinata masuk dan mengunci pintu kamar. Mereka duduk mengelilingi Sakura yang kembali memeluk lututnya.
"Sakura." Ino mengelus punggung gadis itu lembut. "Ayo, keluarkan. Nggak baik ditahan seperti itu."
Tenten membelai lengan Sakura. "Betul kata Ino. Keluarkan saja."
"S-sakura, keluarkan saja semuanya. K-kami ada disini untukmu."
Sakura menatap mereka semua. Tiba-tiba sebutir air mata mengalir dari pelupuk matanya. "D-dia ... d-dia .... "
Tangisnya pecah. Terasa lengan-lengan memeluknya. Gadis itu tersedu-sedu. Rasanya ia harus mengeluarkan sesuatu yang selama ini tertanam di dadanya. Amarah dan duka berbaur menjadi satu dalam tangis itu.
.
.
.
.
.
Seakan memahami kesedihan Sakura, kawan-kawannya yang lain berinisiatif untuk mengajaknya mengunjungi pasar malam yang sedang digelar di alun-alun Desa Oto. Mereka berharap dengan berada di taman hiburan akan membuat perasaan gadis itu sedikit senang.
"Sak, kami semua mau ke pasar malam nih. Ikut, ya?" ajak Ino.
Gadis itu enggan.
"Ayolah, masa mau sendirian di posko? Nanti malah disuruh bantuin Bu Rin gantiin popok anaknya, loh."
Sakura menatap Ino. "Tapi wajahku kayak gini." Mata gadis itu bengkak dan terdapat bekas aliran air mata di pipinya.
"Itu sih gampang. Pakai masker sama kacamata hitam saja. Nggak akan kelihatan."
"Nggak ah. Kayak artis saja," kata Sakura.
Namun akhirnya ia mau juga mengikuti rencana mereka. Mereka semua berangkat berboncengan. Berhubung Naruto dan Lee sedang pulang ke Konoha untuk mengurus sesuatu, maka kali ini Sakura berboncengan dengan Sasuke.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Beberapa kali Sasuke mencuri-curi pandang pada Sakura melalui spionnya. Ia tak suka melihat kesedihan di wajah mantan kekasihnya itu.
Mereka tiba di pasar malam. Ino, Tenten dan Hinata mengajak gadis merah muda itu untuk menaiki wahana yang ada disana, namun Sakura menolak. Ia memilih berdiam diri di kursi yang berada di tepi alun-alun.
Sasuke mendekati mereka dan memberi kode melalui matanya agar ketiga gadis itu meninggalkan mereka berdua. Biar kuatasi, katanya secara tersirat. Ketiganya mempercayakan Sakura pada Sasuke dan pergi meninggalkan mereka berdua. Sasuke berjongkok di depan gadis itu. "Ayo kita naik bianglala," ajaknya.
Gadis itu tak merespon. Sasuke menggenggam kedua tangan Sakura dan menariknya menuju bianglala. Mereka menaiki wahana itu.
Bianglala berputar pelan. Tampak pemandangan sekitar dari atas sana yang biasanya membuat Sakura terpesona, namun saat ini wajahnya tak berekspresi. Sasuke memutar otak, mencari cara lain agar dapat membuat gadis itu merespon. Ia mendapat ide. Ia berteriak pada seseorang yang bertugas mengatur kendali bianglala, "Tambah kecepatannya, Pak!"
Bianglala itu berputar sangat cepat, membuat Sakura memelototkan matanya pada Sasuke. Ia mencengkeram erat lengan Sasuke hingga kuku-kukunya hampir menembus kulit lelaki itu yang sukses membuat Sasuke meringis menahan sakit.
"Sasuke bego! Untung nggak kenapa-napa tadi!" umpatnya saat mereka sudah turun dari wahana itu.
Sasuke terkekeh. "Nyatanya kita turun dengan selamat, kan?"
Sakura masih memelototi Sasuke sambil mencengkeram dadanya sendiri, berusaha mengatur nafas. Terlihat seseorang berlari melewati mereka. Orang itu ternyata Kiba, yang berlari menuju toilet akibat mual sehabis menaiki bianglala yang berputar kesetanan itu. Gimana sih, malu sama tato dong.
"Mau naik lagi?" tawar Sasuke yang tentu saja langsung ditolak Sakura.
Lelaki itu menggandeng paksa Sakura menuju kios yang menjual harum manis. Ia membelikannya makanan berwarna merah muda itu. "Nih, kau suka ini, kan? Sama warnanya seperti rambutmu, tuh," ujarnya sambil mengulurkan sebatang harum manis.
Gadis itu tak menjawab, juga tak menerima kembang gula itu. Sasuke mendesah. "Ya sudah kalau mau puasa bicara begitu. Aku akan berbicara dengan harum manis ini saja." Digerakkannya harum manis itu ke kanan kiri layaknya boneka dan berkata dengan suara yang dicemprengkan. "Halo, namaku Haruno Sakura yang berambut pink dan sangat cerewet. Sangat cerewet sampai membuat nyamuk saja pusing mendengarnya."
Sakura terbahak. "Apaan, sih. Memangnya rambutku kribo kayak harum manis itu?"
"Habis kau diam terus sih. Biasanya sudah ceramah panjang lebar."
Sakura merengut. Ia merebut harum manis dari tangan Sasuke dan mencicipinya. "Terima kasih, ya," ucapnya tulus.
"Sama-sama."
.
.
.
.
.
To be Continued
