Author's note: Lagi-lagi Penulis mengucapkan terima kasih kepada para pembaca setia yang mau meninggalkan komentar di fanfic ini. Apalagi fanfic ini sudah nyaris 1000 views. Mari kita anggap ini sebuah hal baik untuk segera menamatkan fanfic ini. Ditunggu juga komentar berupa kritik dan saran dari silent reader. Jika bingung apa yang mau dikomentari, ya setidaknya kirim saja ucapan semangat pada Penulis. Meski Penulis tak memaksa.

Baiklah. Penulis sudah memperingatkan bahwa Penulis tidak begitu ahli dalam menulis kisah cinta. Salahkan kenapa Penulis single dari lahir. Jadi, semoga chapter ini kalian menyukainya.

.

.

Disclaimer : Isayama Hajime

BENANG TAK TERLIHAT

Halaman Delapan: Pengakuan Dua Hati

By Josephine Rose99

.

.

.

.

.

BENANG TAK TERLIHAT

HALAMAN DELAPAN

PENGAKUAN DUA HATI

By Josephine Rose99

.

.

.

Kota Shiganshina Distrik Maria. Blok 5 nomor 20.

Pukul 19.10 waktu setempat.

Rumah Mikasa Ackerman.

.

.

"Jadi? Kau sudah bicara pada Armin?" entah sudah berapa kali Mikasa menanyakan hal yang sama pada sang kekasih dalam sehari. Berbaring di atas karpet di ruang tengah nyaris seharian bersama Eren tidak membuatnya berhenti mengkhawatirkan Armin. Cuti selama tiga hari sengaja dia dan Eren ambil untuk membantu sang sahabat mempersiapkan segala sesuatu sebelum berangkat ke Ghana. Tapi rencana berjalan sedikit tak mulus jika calon istri Armin masih belum tahu dia akan pergi. Bukankah ditinggal begitu saja rasanya sakit?

Eren terus mengunyah cemilan kacangnya. Menatap layar televisi dengan tampang datar. Tanpa menoleh pada Mikasa, dia hanya membalas, "Ponsel si kutu buku itu masih sibuk, jadi aku mengirim pesan saja padanya. Semoga saja dia membacanya," Eren pun mengambil kacang dari toplesnya lagi, "Kau sendiri bagaimana? Padahal Annie di depan matamu, tapi kau tak berani mengatakan apapun."

Mikasa menghela napas berat. Apakah Eren masih belum mengerti situasi? "Eren, aku sudah katakan padamu kalau aku cukup peka untuk tidak mengganggu pasangan yang sedang berpelukan. Aku berbeda darimu."

"Hah? Apa maksudmu?"

"Butuh bertahun-tahun bagimu untuk menyadari perasaanku padamu, 'kan? Kalau bukan karena Armin, kau pasti takkan peka," Mikasa membawa Eren kilas balik ke masa lalu.

Yup, mencintainya sejak kecil bukanlah hal mudah. Banyak sekali hambatan. Terutama karena kepala batu ditambah otak udang Eren yang sukses membuat Mikasa mengurut dada sabar. Sudah berapa banyak kode dia berikan? Sudah berapa banyak sinyal dia lancarkan? Namun hasilnya nihil.

Kata-kata 'Aku akan memusnahkan seluruh ketidakadilan di negeri ini!' terus dia lontarkan, tanpa menyadari teman-temannya mulai muak. Ironisnya, justru Mikasa yang menjadi Polisi, sementara dia terdampar di perusahaan keamanan sebagai manajer. Jean, temannya yang sekarang bekerja di parlemen hukum prefektur Sina, pasti tertawa setiap kali mengingat ini. Mengingat wajah bengong ala keledai Eren yang serangan jantung melihat pengumuman penerimaan Polisi.

Eren menggaruk pipinya tersipu, "Su-sudah kubilang kalau aku terlalu fokus bekerja waktu itu. Lagipula aku 'kan sudah minta maaf..." Mikasa cuma mendengus mendengar alasan palsu, "Tapi itu belum menjawab pertanyaanku, Mikasa. Kalau mereka berpelukan, memangnya kenapa? Armin 'kan pergi setelah itu. Kau bisa bicara dengan Annie saat dia sendirian."

"Ya ampun, Eren... Annie tetaplah wanita. Saat itu dia sedang berbunga-bunga."

"Ber...berbunga-bunga? Apa-apaan itu? Dengar. Meski Annie satu kaum denganmu, dia tetaplah si barbar bermata setan yang mengirim Armin ke rumah sakit."

"Dan si barbar bermata setan itu mungkin sudah menemukan cintanya pada diri Armin, Eren."

"Huh! Bahkan setan pun bisa jatuh cinta? Otaknya pasti sudah lumutan!"

"Katakan padaku. Memang ada orang yang bisa menjaga kejeniusannya di hadapan cinta? Tidak ada, Eren. Tidak ada."

Eren memilih mengalah. Kata-kata bijak Mikasa sudah keluar. Tak ada yang bisa dia katakan lagi. Dia hanya mendecak kesal, kesal pada fakta kalau dia ternyata ikut direpotkan dalam misi perjodohan ini. Jika bukan ini soal Armin, dia pasti masa bodoh pada Annie. Ayolah, Annie yang moodnya sedang baik saja menyeramkan, apalagi saat buruk? Eren masih sayang nyawa. Siapa juga yang mau mengikuti jejak Armin ketika SMP dulu? Dikirim ke rumah sakit berbulan-bulan karena tendangan wanita. Sebagai laki-laki, harga diri itu dipertaruhkan, tahu!

Baiklah, saatnya ganti topik.

"Ne, Mikasa..." panggil Eren.

Mikasa menjawab sekenanya, "Hm?"

"Omong-omong soal rencana Ymir itu... kau setuju?" jujur, Eren merasa posisinya dalam bahaya jika dia benar-benar melaksanakan 'bagiannya' dalam rencana Ymir. Karena dia bukan ahli percintaan. Peka pada perasaan Mikasa saja baginya butuh lebih dari satu dekade!

Mikasa hanya meng-hmm. Pandangannya ke arah langit-langit, mengingat dan memikirkan baik-baik kembali tentang rencana Ymir dari awal. Sebenarnya menurut Mikasa, rencana Ymir tidak buruk. Tapi dia tahu mereka justru membangunkan godzilla yang tertidur dalam diri Annie. Ya, walau dia tak terlalu memikirkan hal ini. Maksudnya—kemampuan bela dirinya tak kalah dari Annie, 'kan? Dan kalaupun Annie macam-macam pada Eren, dia juga takkan tinggal diam.

"Ini demi sahabat kita... jadi aku setuju..." jawab Mikasa mengangguk-angguk pelan.

"Begitu, ya?" Eren membaringkan dirinya di samping mikasa dengan kedua tangan yang dilipat di belakang kepala, "Berarti sesuai yang Ymir katakan, kita akan laksanakan rencana itu setelah Armin pergi?"

"Ya. Kalau rencana ini berhasil, Armin pasti akan pulang dalam waktu tidak sampai sebulan. Selain itu, aku juga tidak tega membiarkan Annie ditinggal selama itu."

Hmmm...

Rencana Ymir akan membuat Armin pulang lebih cepat? Ck, sebenarnya apa yang direncanakan olehnya?

Yaaaahh... itu pasti terjawab oleh waktu.

...

~invisible string chapter eight~

...

.

.

Tak bisa dilukiskan oleh kata-kata pada apa yang dirasakan sepasang anak manusia berinsial A di malam ini. Hanya sebuah makan malam sederhana. Saling duduk berhadapan sambil bercengkerama mengenai keseharian yang telah dilalui. Malam yang dipenuhi senyum tulus tanpa sindiran-sindiran pedas. Khususnya Annie yang memang menunggu kepulangan Armin dari pekerjaannya.

Pria itu memang menepati janjinya untuk pulang lebih cepat. Hal paling luar biasanya lagi adalah pria itu berlari-lari kecil setelah turun dari mobil, berlari kecil ke arahnya dan memeluknya (lagi). Oh, jangan tanyakan betapa berbunga-bunganya hati Annie saat itu. Tapi dia mencoba play it cool seperti segera menyuruh Armin melepasnya walau hati kecilnya mengatakan tidak. Tipe tsundere.

"Seperti biasa, masakanmu enak sekali, Annie!" pujian dari Armin langsung membuyarkan pikiran Annie yang masih mengingat momen ketika dirinya dipeluk. Annie terkesiap kaget. Kemudian bersandiwara batuk kikuk untuk meminimalisir rasa canggung.

"Bukan apa-apa. Kemampuan memasak juga diperlukan tentara di medan perang. Kami tak tahu kapan kondisi berbalik 180 derajat, jadi kami harus memanfaatkan apapun di sekitar untuk dimakan," Annie memberikan jawaban logis terbaiknya dengan nada datar.

Armin melempar senyum kecilnya, "Walau begitu, aku tetap suka. Tenagaku langsung pulih begitu memakan milk soup buatanmu," katanya lagi yang sukses membuat Annie nyaris tersipu.

"O-oh, ya?" Annie mencoba bersikap biasa saja, namun gagal.

"Hn!"

Annie menoleh ke arah lain. Apapun demi tidak melihat mata berbinar-binar Armin yang membuatnya terkesima itu, "Te-terima kasih..."

Ada keheningan sejenak setelah itu. Bukan karena bingung ingin membicarakan topik tertentu, tapi masing-masing sedang memikirkan hal lain. Terutama Armin.

Lusa dia akan berangkat survey ke Ghana beserta tim dan dia belum juga memberitahu Annie. Entah sudah berapa kali dirinya terus merutuki kebodohannya sendiri karena selalu saja lupa. Apalagi sejak menerima pesan dari Eren, Armin makin tak bisa memaafkan dirinya jika Annie tambah membencinya. Meninggalkan wanita sendirian di rumah sebesar itu bukan perkara gampang.

.

From: Eren

Time: 03:27 P.M

Subject: Berhentilah jadi pikun!

Armin, aku tahu kau belum memberitahu Annie soal kepergianmu ke belahan dunia sana, 'kan? Cepat katakan padanya. Lebih cepat, lebih baik. Kalau terlalu lama, aku yakin kau akan dikirim ke kamar mayat lebih dulu sebelum ke hutan belantara itu. Aku tak mau menghadiri prosesi pemakamanmu secepat ini, sobat.

P.S: Pesan dari Mikasa. Dia bilang kalau kau sudah jatuh cinta, katakan saja sekarang. Jadi setidaknya ada kepastian dalam hubungan kalian. Yah, walau aku tak yakin kau jatuh cinta pada setan betina yang pernah mematahkan kakimu.

.

Eren benar. Ini saatnya untuk menyampaikannya. Sekarang atau tidak sama sekali.

Armin berhenti memainkan sendoknya. Menarik napas sambil menatap Annie yang terus melahap sup. Memberikan semangat pada dirinya sendiri sambil terus berharap semoga dia tidak dibanting lagi.

"Annie..."

"Ya?"

"Ada yang ingin kubicarakan. Penting."

Annie menautkan alis.

Penting? Sepenting itukah sampai wajah Armin begitu serius? Seperti inilah pikirnya.

Annie berhenti melahap supnya untuk sesaat. Memperbaiki posisi duduknya dan berkata, "Baiklah. Kudengarkan."

Sungguh, Armin makin gugup sekarang. Dia bingung harus memulai dari mana. Apalagi jika membayangkan betapa sedih Annie ketika dia tinggal selama beberapa bulan. Ck, perasaan bersalahnya semakin menjadi-jadi.

Well, here goes nothing.

"Aku tahu kalau ini tiba-tiba, tapi..." sejenak dia menghentikan kata-katanya untuk kembali menatap mata Annie sekali dengan pandangan rasa bersalah. Armin pun melanjutkan kata-katanya, "Aku akan pergi selama beberapa bulan ke Afrika."

Mata Annie membulat.

Seperti petir di siang bolong, Annie bisa merasakan bahwa kenyataan sedang menamparnya sekarang.

"...Apa?" hatinya begitu tertohok. Dia hanya bisa bergumam pelan seolah meminta Armin memberi penjelasan lebih pada kata-katanya barusan.

Jadi dia tidak salah dengar?

Armin benar-benar akan pergi? Dan ke tempat sejauh itu?

"Maafkan aku. Tapi aku harus pergi untuk mensurvey hutan di Ghana selama tiga bulan," jawaban Armin ini nyaris membuat jantung Annie berhenti berdetak.

Bibir Annie terkatup-katup. Tubuhnya terasa lemas. Jujur, dia masih tak percaya dengan kepergian Armin yang mendadak ini. Berpikir bahwa makan malam ini akan berjalan mulus adalah hal paling naif. Berita dari Armin benar-benar merusak suasana hati Annie sekarang.

Dengan suara layaknya sedang tercekik, Annie bertanya pelan, "Tiga bulan? Apa harus selama itu?"

Armin yang menunduk spontan mengangkat kepala.

Mendengar suara parau Annie membuatnya sedih sekaligus bingung. Dia bisa menangkap nada penuh kekecewaan itu dari Kolonel termuda sepanjang sejarah militer Eldia. Hati Armin yang awalnya begitu senang tak terkira karena sebentar lagi akan pergi melakukan survey yang sudah dia nantikan, berganti menjadi rasa sakit seolah dadanya ditusuk ribuan jarum.

"Survey hutan memang butuh waktu lama, Annie. Aku harus memastikan hutan itu adalah hutan lindung atau hutan produksi. Aku tak ingin ekosistem alami itu dirusak oleh perusahaan lokal," Armin mencoba memberi penjelasan paling realistis supaya Annie mau mengerti akan alasan mengapa dia melakukan ini, "Ta-tapi jangan khawatir! Selama tiga bulan, kau bisa pulang ke rumah orang tuamu. Atau jika kau masih ingin disini, panggil saja teman-temanmu menginap sampai aku pulang," ya, sebuah saran jitu yang sudah dia pikirkan sejak tadi. Berharap setidaknya itu bisa mengurangi perasaan bersalahnya sekaligus kekecewaan Annie.

Sayang sekali, ternyata memang tidak semudah itu.

Namun apa ini? Suasana apa ini?

Seharusnya Armin tak perlu memikirkan Annie semerepotkan itu, bukan? Seharusnya dia senang bisa lepas dari cengkeraman Godzillianyps barbarus leonhartum, bukan? Tapi kenapa dia bertingkah seperti suami yang akan meninggalkan istrinya selama bertahun-tahun?

"...Kapan kau akan berangkat?" tanya Annie lagi dengan suara pelan.

Armin menunduk kembali, tak berani menatap Annie, "Emm... i-itu... lusa."

Hening menyapa kembali.

Begitu hening hingga hembusan napas mereka bisa terdengar.

Lalu apakah jawaban dari sang tentara wanita?

"...Lakukan saja sesukamu. Aku juga tak peduli," sesuai dugaan.

"O-oh... begitu? Ma-maaf..."

Hah? Hanya itu, Armin?

Hanya 'maaf'?

Tak perlu memarahinya, saudara-saudara. Karena sekarang Armin sedang merutuki kebodohannya yang tidak berusaha lebih keras untuk mengubah suasana hati sang calon istri. Lihatlah. Mereka berdua lebih memilih melanjutkan makan tanpa mengatakan apapun. Aktivitas baru mereka alias diam-diam saling melirik pun tidak ada.

Tak sampai lima menit setelah percakapan terakhir, Annie meletakkan sendoknya pada mangkuk sup. Suara dentingan yang ditimbulkan mangkuk kaca itu membuat Armin mendongak, menatap Annie terkejut.

"Terima kasih atas makanannya," Annie memundurkan kursinya, berdiri cepat, dan berlalu meninggalkan Armin sendirian menikmati makan malam. Si ilmuwan muda cuma melongo menyaksikan tindakan itu.

Annie marah padanya. Dia tahu itu tanpa diberitahu siapapun.

Benar-benar bodoh!

"A-Annie!"

Lupakan soal makan malam. Tak ada kesempatan lebih baik dari malam ini untuk menjelaskan kesalahpahaman. Armin berlari mengejar Annie yang berjalan cepat menuju kamarnya.

"Annie! Tu-tunggu!" Armin berhasil meraih pergelangan tangan Annie sehingga gadis itu berhenti melangkah.

Namun bukannya menoleh, Annie tetap tidak mau melihat wajah si calon suami. Membiarkan punggungnya berbicara sambil menahan kecewa. Armin tentu menyadari itu. Maka dia memutuskan untuk semakin menggenggam erat tangan putih pucat gadis ini.

Dia takkan melepaskannya.

"Dengar, Annie. Aku..." berpikir. Armin terus berpikir. Menggunakan segala kemampuan otak jeniusnya demi alasan yang bisa membuat Annie memaklumi keputusannya, "Aku benar-benar menyesali tidak mengatakan hal ini padamu sejak awal. Aku terlalu bersemangat mempersiapkan ini-itu sampai lupa. Tapi, Annie... tolong percayalah pada kata-kataku ini. Aku akan pulang padamu."

Sejujurnya itu kata-kata yang luar biasa manis. 'Aku akan pulang padamu' Armin berhasil menciptakan sedikit kelegaan dalam hati Annie. Bukan hanya lega, perasaan dingin yang menusuk ini sedikit demi sedikit menghilang digantikan oleh perasaan hangat. Belum sepenuhnya, namun cukup berdampak padanya sampai mau berbalik untuk menatap wajah Armin.

Sorot perasaan bersalah bisa Annie lihat dari matanya. Genggamannya juga semakin erat tapi terasa begitu lembut. Annie tak tahu mengapa, namun dia tak suka ekspresi itu darinya. Annie lebih menyukai ekspresi lembut yang tulus. Yang biasanya selalu ditunjukkan Armin padanya.

"...Kalau kau ingin pergi, pergi saja. Lagipula itu tak ada urusannya denganku. Mau kau pergi bertahun-tahun pun, tak ada bedanya," disaat seperti ini masih saja bersikap acuh tak acuh.

Sayang sekali, nona Kolonel. Masalahnya kalau soal keras kepala, Armin tak kalah darimu.

"Jika aku bisa lebih cepat pulang dari tiga bulan, maka akan kulakukan. Aku juga tak mau meninggalkanmu selama itu. Sungguh, Annie. Aku janji," benar-benar seorang laki-laki sejati. Annie saja sampai terbelalak. Gadis ini tertegun ketika pria yang mengobrak-abrik perasaannya belakangan ini mengucapkan janji penuh drama.

"...Jangan berjanji jika kau berbohong."

"Aku tidak berbohong!" teriaknya di depan wajah Annie hingga gadis itu terkesiap, "Aku tahu seberapa kesal dirimu sekarang. Belum ada dua bulan sejak kita tinggal bersama dan aku justru akan pergi selama itu. Padahal kau hanya cuti enam bulan, 'kan? Jadi, jika aku kembali, hanya ada waktu kira-kira satu setengah bulan kita tinggal bersama di rumah ini."

"Kalau kau tahu itu, lalu kenapa kau—"

"Ta-tapi! Ma-maksudku—ini bukan akhir, 'kan? Bukankah kita akan menikah?!" panggil dokter sekarang juga, teman-teman. Karena saat ini Annie nyaris terkena serangan jantung.

Apa kata Armin tadi? Maksudnya—apa dia tak salah dengar?

"Kalau kita menikah, kau akan selamanya bersamaku, 'kan? Makanya, tiga bulan ini bukan apa-apa! A-aku benar, 'kan? Annie?"

Cukup, Armin. Cukup! Arwah Annie hampir tertendang dari raganya berkat kata-katamu ini!

Tapi, sungguh. Inikah yang orang-orang katakan dengan lamaran tidak langsung?

Jangan tanya seperti apa perasaan Annie sekarang. Gadis ini sudah menunduk tersipu malu, berusaha menutupi wajahnya yang memerah sempurna sampai ke telinga dengan rambutnya. Meski dalam hati dia terus memperingatkan dirinya sendiri untuk segera membanting Armin, namun seluruh tubuhnya kaku. Dia hanya berdiri tegak disana sambil merasakan sensasi kulit Armin yang menyentuh tangannya.

Suasana canggung apa ini?

"Kalau kamu bisa pulang lebih cepat... kamu akan melakukannya?" tanya Annie dengan suara pelan nyaris berbisik. Masih tidak mau menatap wajah Armin.

Terdengar jawaban tegas dari bibir pria itu, "Ya."

Oke. Jawaban itu cukup membuat hati Annie meleleh. Lagi-lagi dia salah tingkah. Ah, sejak kapan dia menjadi begitu dramatis? Terkutuklah Ymir dan Hitch di belahan dunia sana!

Armin pun begitu. Dia baru sadar pada apa yang dia barusan katakan. Pada pidato paling memalukan yang pernah dia ucapkan. Biasanya dia selalu memberi janji pidato berbau sains, tapi kali ini justru banting setir. Tak menyangka akan datang hari dimana dia akan memberi pidato cinta. Sudah begitu pada musuh lamanya pula. Karma macam apa ini?

"Omong-omong..." Armin bersyukur dalam hati karena Annie tiba-tiba memecah suasana hening nan canggung ini, "Survey itu kegiatan berkelompok, 'kan? Apa aku salah?"

"Tentu saja berkelompok. Kami akan dibagi menjadi tim-tim kecil sesuai keahlian kami. Ada yang akan mengamati tumbuhan berkayu atau non kayu. Ada juga yang meneliti jenis tanah, iklim, satwa, dan masih banyak lagi di hutan itu. Tapi kenapa kamu tanya itu?"

"Umm, i-itu... apakah dalam tim surveymu itu..." serius. Haruskah Annie menanyakan ini? Dia jadi tambah malu sekarang! Tapi tetap saja, perasaan gelisah ini sangat mengganggu, "...Ada wanita?"

Armin berkedip beberapa kali, "Huh? Wanita?" beberapa detik kemudian, senyum lebar dicampur tawa muncul di wajahnya, "Fu fu. Tentu saja ada. Kamu kenal wanita itu juga, kok."

"Aku mengenalnya? Siapa?"

"Sahabat dekat Ymir, Historia."

Eh? Apa katanya?

Historia? Sahabat dari iblis betina pakar cinta yang suka ikut campur itu?

"Historia?" Annie pun tak bisa membendung keterkejutannya, "Kenapa bisa dia ikut survey bersamamu?" tanyanya lagi sambil memikirkan kenapa ada kemungkinan seperti ini. Setelah mendengar hubungan Armin dan Historia dulu dari Thomas, wajar jika Annie was-was kedua orang itu akan bersama selama berbulan-bulan.

"Hah? Ymir tak bercerita soal pekerjaan Historia? Historia memang dari awal bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup Eldia. Tapi setelah empat tahun bekerja disana, dia minta dipindahkan ke Badan Penelitian Pengembangan Kehutanan supaya benar-benar bisa menjadi peneliti. Jadi, karena aku sudah lama mengenalnya, kami pun sering bekerja sama setiap kali survey."

Hah? Jadi seperti itu ceritanya? Jadi itu kenapa mereka berdua dapat berakhir dalam satu tim?

Kedua alis Annie berkedut. Jujur, dia luar biasa bingung sekarang. Padahal Historia adalah teman dekat Ymir. Bahkan gadis berjerawat itu melarang hampir semua pria mendekati malaikatnya. Seharusnya jika mendengar Annie akan dijodohkan dengan Armin, Ymir pasti akan memberitahunya, 'kan? Tapi kenapa tidak?

"Ymir tak pernah bercerita padaku soal pekerjaannya. Ya, mungkin karena aku terlalu fokus pada pekerjaanku sampai-sampai pekerjaan orang lain tak pernah kutanyakan," hanya ini alasan paling logis yang bisa terpikirkan oleh Annie, "Jadi... selama tiga bulan, kau akan bersamanya?"

Uh-oh. Nada apa itu? Nada apa yang terlukiskan dari wajah cemberut Annie itu?

Bibir Armin sedikit terbuka sementara kedua alisnya bertaut. Dia sesungguhnya tahu jawaban paling mungkin, tapi benarkah? "A-Annie.. jangan-jangan kau... cemburu?"

Annie nyaris tersedak mendengarnya.

Cemburu? Dia cemburu? Dia yang anti laki-laki ini? Buru-buru dia membuang muka sambil menahan panas di wajah, "Jangan salah paham, tuan ilmuwan. Aku tidak cemburu. Hanya wanita aneh yang cemburu dengan hal kekanakan begitu," Armin tahu jawaban ini adalah kebohongan semata. Bagaimana mungkin dia percaya sementara wajah Annie sekarang memiliki situasi seperti wajahnya sendiri? Sama-sama merona.

"Hahaha! Baiklah, terserahmu saja. Tapi aku tak punya perasaan apapun padanya. Dulu itu aku hanya tertarik saja, bukan cinta. Sekarang pun begitu. Jadi, kau tak perlu cemburu, Annie," tak tahu kenapa, Armin malah menggoda gadis yang masih dipegang tangannya ini.

"Sudah kubilang aku tak cemburu! Kau itu salah besar, bodoh!"

"Hahahaha! Iya, iya. Maaf, aku salah."

"Ya, kau salah. Dasar bodoh..."

Fuwa-fuwa.

Akhirnya tugas cupid cinta menjadi selangkah lebih dekat menuju keberhasilan.

...

~invisible string chapter eight~

...

.

.

Malam yang begitu tenang di rumah Ymir. Setelah disibukkan oleh kisah cinta orang lain meskipun tak meratapi kisah cinta sendiri, sekarang saatnya bersantai. Raih remote control, arahkan pada televisi, tekan tombol on, receiver televisi menerima sinyal, dan menyala! Dengan kecepatan jemari yang gila bak lari dari kenyataan(?), Ymir mengganti channel yang menyiarkan berita-berita politik menuju channel drama romantis. Dia tak ada waktu untuk meminati politik negaranya. Mau siapapun Rajanya, pemimpin distriknya atau Undang-Undang yang mereka buat, selama tidak mengusik hidup penuh santainya, maka Ymir dengan senang hati memberi mereka ruang. Jangan ditiru.

Bicara soal drama romantis, saat ini drama yang dia tonton telah mencapai klimaks. Pernyataan 'Sudah sewajarnya bagi pria untuk melindungi wanita' dari seorang laki-laki muda miskin kepada wanita muda kaya yang menunjukkan ekspresi haru adalah adegan yang membuat Ymir berkali-kali mengambil tisu. Ya, pada dasarnya ada sifat melankolis dalam dirinya. Air matanya berderai melihat pria muda itu rela dipukuli hingga berdarah demi wanita yang bahkan belum menjadi kekasihnya. Tanpa tahu di distrik Sina, Hitch juga menangis kencang ketika melihat adegan yang sama.

Kesalnya, meski Hitch menangis kencang melihat adegan itu, dia malah menolak kenyataan sembari mengatakan 'Huwaaaaaa! Tidak, aku tidak menangis, Marlowe! Aku tidak menangis! Aku tidak menangiiiiiWAAAAAA!" kepada teman masa kecilnya, Marlowe. Entah kenapa bocah laki-laki itu bisa terjebak bersamanya malam ini, tapi dia tahu pasti Hitch berdusta. Maka, dengan berbaik hati dirinya mengambil kotak tisu dari meja kecil di depan sofa yang mereka duduki, lalu menyerahkannya pada Hitch. Hitch pun menerima tisu itu namun masih mengelak seperti; "Aku sudah bilang aku tidak menangis, huwaaaa!".

Baiklah, lupakan mereka. Kembali ke topik.

Ketika Ymir dalam suasana haru, lagi-lagi ponselnya berdering pertanda sebuah chat masuk. Ya, dia tahu bahwa dia sendirilah yang menyetel nada dering tertentu untuk pesan di akun media sosial. Ymir mengerang kesal. Orang bodoh mana yang mengganggunya malam ini?

"Hm?" oke, Ymir harus menarik ucapannya karena—tebak, siapa yang menghubunginya malam ini?

Annie Leonhart mengirim pesan kepada anda.

"Annie?" yup, tampilan pemberitahuan muncul di atas layar ponselnya. Si tentara yang terjebak dalam perjodohan insting, "Tumben wanita barbar ini mengirim chat. Ada apa?" batinnya kurang ajar. Tapi karena ini langka, perhatian Ymir pun teralihkan dari TV. Dia membuka aplikasi media LINE-nya dan membuka pesan dari Annie.


Annie Leonhart: Ymir, tadi Armin mengatakan padaku kalau Historia bekerja menjadi peneliti. Kenapa kau tak pernah menceritakannya itu sebelumnya?


Ymir tersenyum iblis.

"Hoooo..." ini dia! Ini yang dia tunggu-tunggu! "Kerja bagus, Eren! Kau melakukan tugasmu dengan baik!" pertama kali dalam seumur hidup, Ymir bisa memuji pria paling tak peka sedunia itu. Ya, sesekali. Anggap sebuah penghargaan, "Khu khu khu... saatnya mempermainkan perasaan wanita keras kepala ini..." hmm, bau-bau sesuatu yang tak beres akan terjadi.


Ymir: Kau 'kan tak pernah tanya. Untuk apa aku menceritakannya sementara kau tak pernah tanya, nona Kolonel?

Annie Leonhart: Well, mulut embermu biasanya akan bocor lebih dulu sebelum dibocorkan, 'kan?

Ymir: Lalu apa hubungan Historia dengan survey suamimu?

Annie Leonhart: Tunggu. Kau sudah tahu Armin akan pergi survey?


"Ah, bodoh! Aku kelepasan! Cepat, cepat! Beri alasan logis! Beri alasan logis!" Ymir yang menyadari kebodohannya barusan, segera mengetikkan balasan paling manjur untuk bisa dipercayai.


Ymir: Aku dengar dari saudara iparmu, Eren. Dan bingo, dia tahu itu dari suamimu. Aku punya banyak telinga dimana-mana, sayang.

Annie Leonhart: Cih, ternyata Eren dan kau sama-sama ember. Menyebalkan.


Beruntung. Annie berhasil ditipu. Padahal Ymir tahu dari Kakek Armin. Tak lucu 'kan kalau dia jadi stalker dadakan hubungan mereka? "Fiuuhh... syukurlah posisiku aman. Jauh merepotkan jika rencana kami berantakan disini."

Percakapan pun terus berlanjut.


Ymir: Lalu? Jawab dulu. Apa hubungan Historia dengan Armin?

Annie Leonhart: Armin bilang, Historia akan pergi survey bersamanya selama tiga bulan.

Ymir: Heeee? Apa ini? Apa yang kucium ini?

Annie Leonhart: Apa maksudmu?

Ymir: Oi, Annie. Jangan-jangan kau sedang cemburu, ya? Kau takut suamimu direbut oleh wanita masa lalunya, 'kan?

Annie Leonhart: Bodoh. Aku tidak cemburu.

Ymir: Huh. Tidak usah berbohong. Aku tahu kalau hatimu sedang ketar-ketir karena suamimu akan bermesraan dengan Historia.

Annie Leonhart: Tutup mulutmu sebelum kubunuh kau.

Ymir: Bayangkan, Annie. Di hutan belantara. Di bawah pepohonan yang dikelilingi sungai jernih tak terjamah manusia. Kunang-kunang datang jadi lampu cinta. Armin dan Historia duduk berdua kemudian bercumbu mesra. Haaahhh... cinta lama pun akhirnya bersemi kembali.

Annie Leonhart: Armin takkan seperti itu!


Jackpot!

Ymir tak salah baca, 'kan? Maksudnya—kenapa Annie membalas begitu? Balasannya seperti menunjukkan rasa kepercayaan tinggi pada hubungannya dan Armin. Tapi bukankah wanita itu masih membencinya? Ada apa ini? Ini seperti bukan dirinya.

Ah! Senyum jahat itu muncul lagi!


Ymir: Heeeeee? Ada apa ini? Apakah ini yang disebut dengan kepercayaan sang istri pada suaminya? Sudah kuduga. Kau sudah jatuh cinta padanya, 'kan?

Annie Leonhart: Tidak. Aku tidak jatuh cinta padanya!

Ymir: Bodoh. Bocah SD pun juga akan peka setelah membaca chatmu barusan. Kau takkan bilang begitu jika kau tak jatuh cinta.


Ymir berani bertaruh Annie pasti gelagapan disana setelah membaca balasan darinya. Sayang sekali memang karena tak bisa melihat wajahnya yang memerah malu-malu itu, tapi tak apa. Pelan-pelan tapi pasti. Sejak menangkap basah aksi pegangan tangan waktu itu, Ymir tahu Annie telah membuka hatinya untuk si ilmuwan.

Dan sebagai teman yang baik—sekaligus suka ikut campur—dan paling perhatian, kata-kata bijak dia kirimkan demi membuka pikiran Annie yang seperti batu. Sesaat setelah mengirim pesan itu, Ymir kali ini tersenyum kecil. Langka sekali. Padahal biasanya dia akan tersenyum seperti setan betina jika menyangkut hubungan mereka, tapi kali ini tidak. Well, dia hanya ingin hal terbaik untuk temannya. Itu saja. Tak lebih. Berharap semoga mereka bersatu.


Ymir: Baiklah, kuberikan waktu semalaman untukmu berpikir. Akui perasaanmu, Annie. Kau sudah jatuh cinta pada pria cengeng yang kau bully dulu. Jaa! Aku masih ingin menonton drama kesukaanku. We'll talk later.


.

.

Sial. Terkutuklah Ymir! Dari sekarang sampai selamanya!

Annie nyaris menghancurkan ponselnya dalam sekali remuk berkat balasan konyol darinya. Apa-apaan itu!? Annie jatuh cinta!? Dan pria itu adalah Armin!? Sungguh, dari semua orang?! Tak mungkin, 'kan?

Benar-benar... tak mungkin, 'kan?

"Apa aku... memang sudah jatuh cinta padanya?" ternyata pada akhirnya Annie memang berpikir ulang akan perkataan Ymir. Jatuh cinta pada Armin sebenarnya bukanlah sesuatu yang terlintas di pikirannya. Bahkan ketika di SMP, Annie tak pernah sekalipun tertarik pada apapun yang Armin lakukan. Tapi dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, dia sudah menanam benih ini?

DEG DEG

"Astaga, jantungku!" Annie spontan memegang dadanya, mencoba menenangkan jantung yang terus berdetak kencang. Lagi-lagi dia merasakan ini. Setiap kali membayangkan wajah Armin, jantungnya tak pernah mendengar kata hatinya. Apakah Ymir benar?

Apakah Ymir benar bahwa dia sudah terjatuh?

"Jadi... seperti ini rasanya jatuh cinta?" gumamnya yang merasa malu pada diri sendiri. Tak menyangka seorang Kolonel yang tahunya hanya berperang itu bisa mengucapkan kalimat kontras.

Annie menggingit pelan bibir bawahnya. Duduk meringkuk pada ranjang sambil memeluk lututnya sendiri. Mengulang kalimat yang sama terus menerus. Kalimat 'Aku jatuh cinta' bergema dalam pikiran maupun hatinya. Dan tiba-tiba sensasi itu muncul lagi. Sensasi yang selalu dia rasakan ketika datangnya musim semi.

"Hatiku jadi hangat..."

.

.

Bukan hanya Annie yang memikirkan perasaan barunya malam ini. Si ilmuwan muda juga melakukan hal yang sama. Dia berbaring telentang dengan melipat tangannya ke belakang kepala. Pandangannya menuju langit-langit kamar. Pikirannya melayang ke titik-titik waktu di masa lalu.

Pertemuan awalnya dengan Annie di kelas. Memperhatikan Annie saat kelas olahraga. Menatap kesendiriannya di kantin sekolah. Perkelahian mereka yang berakhir di rumah sakit. Mengerjakan tugas kelompok bersama. Berkunjung ke rumahnya. Berpisah saat kelulusan sekolah. Pertemuan mereka setelah sekian lama di restoran. Tinggal bersama. Dan tentu saja, ditambah bumbu-bumbu manis nan mesra yang terjadi selama di rumah ini.

Wow. Waktu benar-benar berlalu, huh? Dia jadi teringat dengan pesan Eren—ah, tepatnya pesan Mikasa yang disampaikan Eren.

.


P.S: Pesan dari Mikasa. Dia bilang kalau kau sudah jatuh cinta, katakan saja sekarang. Jadi setidaknya ada kepastian dalam hubungan kalian. Yah, walau aku tak yakin kau jatuh cinta pada setan betina yang pernah mematahkan kakimu.


.

Armin sudah jatuh cinta? Benarkah? Jadi dia memang punya alasan kenapa memegang tangan Annie? Kenapa memeluknya di halaman? Kenapa merindukannya? Itu semua karena alasan yang sama?

Bodoh sekali. Seharusnya dia biarkan hatinya yang bekerja daripada otaknya. Perasaan ini sudah lama tumbuh dan dia baru mengakuinya sekarang? Tak heran Ymir dan Hitch sampai ikut campur. Sekarang Armin tak bisa menyalahkan perbuatan mereka yang selalu ingin ikut campur. Itu murni demi menyatukan mereka, 'kan?

"Kau benar, Mikasa. Kau benar sekali," Armin membiarkan rona merah menguasai wajahnya. Dia biarkan jantungnya berdetak kencang malam ini sesukanya. Dia biarkan wajah Annie terbayang dalam pikirannya selagi menutup matanya.

"Aku..." Armin tak bisa terus lari dari kenyataan. Armin sama sekali tak membenci dengan perasaan ini. Justru sangat menyukainya.

"...Aku jatuh cinta pada Annie."

...

...

Malam itu...

Sepasang anak manusia membuat pengakuan hati.

Dua pengakuan hati yang menjadi pondasi awal dari sebuah hubungan yang diikat benang tak terlihat.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note: Ternyata butuh delapan chapter bagi dua orang itu untuk menyadari perasaan mereka. Ya, pada dasarnya Penulis tak ingin membuat fanfic ini terlalu lama. Tak sepanjang fanfic Penulis tema One Piece yang belum Penulis tamatkan. Padahal tinggal tiga atau empat chapter lagi. Mau bagaimana lagi? Penulis kena writer's block, hahaha!

Well, anyway... Penulis sudah ingatkan jika Penulis bukanlah author pro. Selain itu, tidak hebat dalam membuat skema romantis. Jadi, mohon kritik dan sarannya. Terima kasih.

THANKS A LOT, MINNA-SAN!