Seperti hari lainnya, ia berlatih pada siang hari, melewati kesendirian karena ia berbeda dari anggota clan-nya yang lain. Semenjak kematian sang ibu di umur 12 tahun, ia mengurung diri di sebuah pulau terpencil, berlatih siang dan malam hingga mencapai batas tubuhnya. Sesekali ia akan kembali ke kota untuk membeli beberapa barang yang ia butuhkan, dan bertemu beberapa sahabat yang mau berteman dengan dirinya, meskipun ia berbeda.

Hari itu, seperti biasa, ia bertemu saudari sepupunya di kota ternama di dunia. Mereka bercerita berbagai macam hal untuk melepas tekanan yang diberikan clan masing-masing pada batin mereka, hari itu mereka melepas semua kejenuhan hati.

Hingga pada akhirnya mereka membahas tentang pengumuman menara yang akan kembali memilih penantang dari berbagai penjuru dunia. Ia hanya menjadi pendengar yang baik saat sepupunya bercerita tentang hal tersebut, yang sebenarnya di dalam hati ia selalu berharap menjadi yang terpilih dari penduduk menara.

Hari pun berlalu, tepat pada malam hari ketika menara memulai pencarian para penantang, ia tertidur karena kelelahan. Namun di saat ia membuka mata, dirinya tak lagi berada di pulau yang biasa ia tinggali.

[Anda terpilih sebagai penantang!

Karena anda seorang penduduk menara, semua status direset dan semua skill dihapus!

Koneksi dengan keluarga dihalangi hingga anda mencapai lantai 50!

Semoga beruntung!

Nama: Sairarorg Bael

Race: Demon

Title: -

Class: -

Lv. 0

Hp: 100

Mp: 100

Str (5) Sta (5) Dex (5) Int (5)]

Hari itu seorang mantan Heir dari Clan agung terpilih sebagai penantang. Penduduk menara memang jarang terpilih, diantara 10000 kandidat, terkadang hanya 5 paling banyak yang terpilih sebagai penantang. Keuntungan penantang daripada penduduk asli menara ialah tiada batas level.

—Di sejarahnya bahkan seorang penantang mampu menembus level 500, sedangakan penduduk menara hanya mampu naik level hingga maksimal 100.

Oleh sebab itu beberapa orang dari Clan agung selalu membunuh seorang penantang berpotensi pada saat level rendah, hanya beberapa penantang yang beruntung yang berhasil lolos dari kejaran Clan agung, meski begitu hidup mereka tidak bisa tenang karena selalu di teror

Para dewa tidak akan membantu mereka jika hal tersebut terjadi, meskipun sang penantang salah satu favorit mereka. Itu juga kehendak sistem utama yang tidak akan membiarkan keikut sertaan dewa.

Sairarorg terdiam beberapa saat, hatinya senang membuncah, tapi dapat ia tahan emosi bahagianya tersebut. Sebelumnya, ia memiliki job [Martial Artist] yang mencapai level 20. Dengan pengalamannya, cukup mudah bagi Sairarorg untuk menghadapi para mob level rendah, namun ia tidak beruntung karena memulai di wilayah goblin.

Untuk langkah pertama ia harus mempelajari skill terlebih dahulu, para penduduk menara cukup berpengetahuan tentang bug menara, salah satunya title Rising Star yang didapatkan ketika berhasil mempelajari satu skill di level-0.

Namun butuh waktu ketika seseorang mempelajari sebuah skill dengan manual, jeda waktu itulah yang membuat Naruto mendului para penduduk menara.

—Yang pada dasarnya langsung mendapatkan skill setelah lima menit di transfer.

Pada akhirnya Sairarorg mendapatkan title Rising Star, dengan terus memperagakan gerakan memukul yang dihadiahi skill [Hand Combat]. Sairarorg mulai berburu monster level kecil, menghindari goblin dan kelinci bertanduk yang memiliki level-2.

Ia terbilang cepat dalam menaikan level, tak terasa hanya butuh sehari ia berhasil mencapai level-3. Ia juga sering bertemu penantang lainnya, kebanyakan berasal dari ras manusia di dunia lain, melihat diantara mereka memiliki bakat yang bagus, Sairarorg pun memutuskan untuk membuat kelompok.

—Itulah awal dari perkemahan para penantang tercipta. Ia juga menyebarkan kabar akan menerima siapapun yang ingin bergabung dengannya, tanpa syarat khusus.

3000 lebih penantang pun resmi bergabung dengannya, ia pun mulai menyusun rencana pembalasan dendam kepada keluarganya sendiri, tentu 3000 lebih penantang merupakan bidak yang bagus.

Kemudian Sairarorg fokus kembali menaikan level, ketika ia mencapai level-5 sebuah misi diberikan sistem.

[Anda berhasil mencapai level 5!

Misi pertama didapatkan!

: Bunuh semua Bossfield yang menguasai seluruh Deadland untuk mengaktifkan array teleport menuju lantai 2!

Boss Killed: 1/5]

Sairarorg senang dengan hasil kerja kerasnya, namun kegembiraannya lenyap ketika melihat akhir kalimat di layar statusnya.

—Boss Killed: 1/5? Si-siapa yang telah membunuh boss?

Ia merasa depresi untuk beberapa hari, hanya untuk memikirkan siapa yang telah berhasil melampauinya. Mungkinkah penduduk tower lainnya? Namun bagaimana pun ia memikirkannya, semua terlihat mistahil, sebab Boss Field memiliki level-10 atau lebih.

Namun pada hari ketiga, status Boss kembali berubah, 2 diantara mereka telah mati, menambah rasa frustasi Sairarorg.

~Ding!

[Dewa kelicikan Loki, melihat aura surammu!

"Kau tahu? Seseorang yang mengalahkan 2 Boss tersebut sedang memuju ke kemahmu!

Lenyapkan dia, sebelum menjadi penghambatmu!]

Sairarorg menatap datar layar yang tiba-tiba muncul di hadapannya, berkat rasa frustasi dan amarah yang ia pendam, Sairarorg tidak sadar dewa kelicikan tengah berusaha mengadu domba dirinya.


[Dark Power: Status yang tercipta berkat banyaknya kekuatan negatif yang terkumpul di tubuh dan jiwa.

Disebabkan tubuh terlalu banyak terkontaminasi dengan Blood Essence, Dark Essence, Death Essence menyebabkan terbentuknya Dark Power.

Effek: Perlahan akan menggerogoti sifat kemanusiaan.

Dark Power (21)]

Yui menatap status yang baru saja Naruto dapatkan sehari yang lalu, status tersebut berkembang pesat karena Naruto memiliki skill passive [Bloodnest] yang mengumpulkan Blood Essence dari mayat, serta selama seharian ini Naruto telah membantai populasi goblin yang ada di hutan, menjadikan Naruto seseorang berdarah dingin dengan cepat.

"Master haruskan aku hapus status Dark Power ini?" Tanya Yui yang duduk di bahu Naruto. Peri manis itu melirik ke arah Naruto, sorot mata yang sebelumnya memberikan kehangatan menghilang digantikan oleh kehampaan tak berujung. "Status ini membuat dirimu menjadi orang yang berbeda master-!"

"Memangnya kenapa? Aku lebih suka diriku yang begini," Terdengar dingin dan tajam, seperti itulah nada Naruto yang sekarang.

"Apa maksudmu kau menyukai ini, master? Aku tidak suka gaya bicaramu yang terdengar seperti robot!"

"Diamlah-! Kau diciptakan untuk melayaniku, bukan mengguruiku... ingatlah itu!" Yui menatap Naruto dengan tatapan tercengang, sebelum mata hitam itu ikut kehilangan cahayanya.

"Baik master!"

Asia yang berjalan di belakang Naruto memandang punggung lebar tersebut dengan nanar penuh khawatir.


Dari kejauhan Naruto melihat deretan tenda berdiri yang dipagari kayu di sekelilingnya, tak jauh dari sana sebuah tembok kota kecil berdiri kokoh dengan gerbang kayu yang tertutup rapat. Di dalam map itu tertulis 'Fire City', sedangkan tenda hanya diberi tanda biru kecil menumpuk di satu titik.

"Master, ada hal yang perlu kau ketahui, beberapa dewa sepertinya tidak senang dengan kehadiranmu master! Terustama Loki, ia bahkan memberikan misi khusus pada seorang 'Raising Star' untuk membunuhmu! Menurut database yang kumiliki orang itu menjadi pemimpin kemah di depanmu..."

Yui terlihat melayang di atas kepala Naruto, menatap datar ke arah depan, tepatnya pada kemah penantang. Langkah Nuruto terhenti saat mendengarnya, ia kemudian menajamkan penglihatannya hingga mampu melihat sejauh beberapa kilometer, ini berkat status Sense Naruto yang luar biasa.

Terlihat di depan kemah, beberapa ratus orang berkumpul di depan, seorang pria kekar berlevel-5 berdiri di hadapan mereka, berkat title dewanya Naruto mengetahui pria tersebut memiliki title Rising Star.

"Apa yang akan terjadi jika aku membunuhnya?" Tanya Naruto, masih dengan nada datarnya.

"Keseimbangan antara penantang dan penduduk akan terganggu, memberikan kesempatan yang bagus bagi clan agung, selanjutnya kau mengerti maksudku, master..."

Naruto diam beberapa saat, sebelum mengangkat bahu tak peduli, "Kita akan istirahat di kota saja, kau ikut Asia-chan?"

Selama perjalanan Naruto hanya diam, membuat Asia pun ikut bungkam, mendengar Naruto kembali memanggil namanya, raut tegang di wajah Asia perlahan lenyap. "Terserah Naruto-kun aja,"

Naruto mengangguk sambil tersenyum, meskipun hanya senyum tipis tapi hati Asia senang melihatnya. Memang baru sehari yang lalu sifat Naruto tiba-tiba berubah drastis, namun Asia amat merindukan senyum Naruto, baginya senyum pemuda pirang tersebut seperti penyemangat hidupnya.


Naruto dihentikan oleh empat orang prajurit ketika ia berjalan mendekat menuju gerbang Fire City bersama Asia, Naruto mengangkat alis ketika melihat status mereka yang hanya memiliki level-5.

"Berhenti di sana orang asing! Fire City ditutup untuk penantang saat ini!" Salah satu dari mereka berucap dengan nada kasar.

Pria itu memang ber-level 5, tapi Naruto melihat ia memiliki status Leadership meskipun sangat rendah, jadi Naruto menyimpulkan pria di depannya pemimpin diantara empat prajurit tersebut.

"Oh, bahkan tidak untuk diriku?" Naruto sengaja menonjolkan title 'True Human' yang memiliki efek khusus untuk kota-kota.

~Bruk!

Asia terlonjak kaget saat menatap ke-empat prajurit langsung berlutut di hadapan Naruto dengan tubuh bergetar.

"Jangan heran master, sistem memang merancang orang biasa untuk tunduk dan patuh kepada bangsawan, jadi tidak pernah ada sejarahnya orang biasa membangkang pada bangsawan." Jelas Yui lembut, peri kecil itu kembali ceria setelah aura kejam Naruto menghilang, dan masternya tersebut mulai tersenyum meskipun sesekali.

—Yui menganggap Naruto telah mampu beradaptasi dengan efek negatif dari status Dark Power.

"Ja-ja-di itu anda yang mulia... maafkan kelancangan hamba, tapi penguasa Fire City memang menutup kota untuk saat ini. Mohon pengertiannya yang mulia!"

"Heh... tapi aku tidak memiliki tempat beristirahat yang bagus untuk saat ini, bisakah kalian melaporkan pada tuan kota ini tentang kunjunganku?"

"I-itu..."

"Mohon ditunggu yang mulia, saya sendiri yang akan melaporkannya!"

Sebelum prajurit memberikan alasan lainnya, terdengar sebuah suara dari langit. Naruto menautkan alis ketika melihat seorang pria tua berjenggot terbang melayang dengan sayap api di punggungnya.

Pria itu memiliki level 30, Naruto tidak menyangka akan menemui seseorang yang sekuat itu di lantai pertama. Pria tua perlahan mendarat, ia sengaja menguarkan tekanan kekuatan dari penindasan levelnya, namun keningnya berkerut ketika Naruto tidak bereaksi sedikit pun.

"Bisa kau menurunkan tekanan kekuatanmu, kau tahu kekasihku agak risih dengan auramu!"

Pria itu tertegun sesaat, ketika tubuhnya tiba-tiba merasa merinding di saat Naruto menyelesaikan kalimatnya.

"Rendahan sepertimu berani mencoba menekan diriku... heh!" Semenjak ia mendapatkan status Dark Power Naruto tidak bisa untuk menahan dirinya bertindak angkuh seperti ini, namun Naruto menyukai dirinya yang seperti ini.

"Kau memang ingin mati-?" Lanjut Naruto dengan sebuah senyuman jahat.

Seseorang yang memiliki level-11 berani mengancam jagoan level-30, ini pertama kali terjadi di menara, bahkan Yui pun dibuat tertegun olehnya.


Ya ampun update lagi... Author idaman mah ini! Andaikan ada yang berkomentar seperti itu, bakal giat aku-nya mah!

Terimakasih atas dukungan kalian, dan semoga harapan kalian terkabul untuk membaca cerita ini sampai tamat.

Untuk yang heran kenapa sih Naruto tidak merasa ditekan oleh seseorang level-30? ~ Jawabannya ialah 'Rising God'

Dan jika seandainya besok aku tidak dapat update cerita ini, mohon maaf ya~ anggap ini gantinya... hehehe!

Sekali lagi, Arigatou Gozaimasu!