.

The Interstellar Nation Army Become a Mercenary

Chapter 4

Mereka yg Terhubung Secara Genetika (Bagian 2)

.

Piña Point of View (POV)

Aku berhasil mendapatkan kembali kesadaranku. Namun, aku sama sekali tak memiliki petunjuk tentang situasiku saat ini. Sekarang sudah malam. Tapi bukankah sebelumnya kami…

Benar juga! Kami diserang oleh kawanan Gray Hound! Semua orang dikalahkan satu persatu, dan hanya aku dan Agnes yang masih tersisa.

Jika kami berdua berhasil selamat, harusnya dia ada di dekat sini.

Ketika aku hendak mencarinya, aku baru menyadari bahwa ada sesuatu tidak beres dengan tubuhku. Ja-jangan bilang...

"Ti-tidak mungkin…"

Mulai dari ujung siku sebelah kiri hingga ujung lutut sebelah kanan, keduanya benar-benar telah menghilang dari tubuhku. Di detik berikutnya, aku mulai menangis dengan pilu. Namun aku segera menahannya.

Mungkinkah Agnes yang telah merawatku? Aneh, aku tidak merasakan sakit sama sekali.

Ketika aku melemparkan pandanganku ke samping, sekilas aku dapat melihat sesosok pria yang tengah berjalan ke arahku.

Naruto POV

Aku mendesah lega ketika melihat gadis itu siuman, tangisannya keluar namun kemudian dia berhasil menekan hasratnya untuk terus menangis. Dia terlihat seperti gadis yang cukup berkepala dingin. Aku perlahan mendekatinya.

"Hai. Selamat malam. Tidak ada yang sakit, kan?"

Aku memberinya salam dengan santai. Lagipula dia tidak akan paham dengan apa yang aku ucapkan.

Poin pentingnya adalah mengajaknya bicara. Aku akan menyuruh Wise mengumpulkan dan menganalisis bahasa yang dia digunakan sesegera mungkin.

Piña POV

Aku tidak paham dengan kalimat yang diucapkan oleh pria asing ini.

Penampilannya juga aneh. Seluruh pakaiannya berwarna hitam tua dan beberapa bagian nampak halus. Saat aku melihat lebih dekat, kuperhatikan bahwa pakaian luarnya tidak memisahkan antara bagian atas dan bawah.

Bagaimana caranya dia mengenakan pakaian itu? Apakah langsung dijahit selagi dia mamakaikannya? Dan beberapa bagian anehnya memantulkan cahaya dari api unggun.

Apakah dia seorang musisi jalanan? Tidak, kelihatannya bukan. Penampilannya cukup muda. Sekitar 20 tahun, aku rasa.

"Siapa kau? Kenapa kau tidak berbicara dengan bahasa Kekaisaran?"

Naruto POV

"Jadi tidak ada yang sakit, yah? Syukurlah kalo begitu." Ucapku tulus kepada gadis itu.

"Malam ini tentunya menjadi tragedi yang memilukan bagimu, nona. Namun jangan sampai hal ini membuatmu menjadi hilang arah. Dalam kehidupan ini akan selalu ada sisi baik dan buruk. Dan hal-hal baik akan menyertaimu setelah kau melewati semuanya."

Aku memberinya nasihat soal kehidupan. Meskipun aku tau dia tidak akan bisa memahami perkataanku.

Piña POV

Kupikir awalnya aku salah dengar, namun sepertinya pria ini benar-benar berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Tapi bagaimana bisa? Seingatku, tidak ada satupun negara di benua ini yang tidak mengenali bahasa Kekaisaran.

Apakah dia berasal dari negara yang benar-benar jauh dari Kekaisaran? Yah, jika dilihat dari pakaiannya, ada kemungkinkan bahwa pria itu memang bukan berasal dari benua ini.

"Apakah anda yang merawat saya, tuan? Tapi bagaimana dengan yang lain?"

….

Naruto POV

"Oh yah, apakah kamu sedang lapar, nona? Aku punya makanan dan minuman disini."

Aku mengambil botol air mineral dan beberapa ransum dari ranselku dan menyerahkan padanya.

….

Piña POV

Sudah kuduga. Pria ini benar-benar tidak memahami bahasa yang kugunakan.

Dia memberiku barang yang mirip botol kaca transparan dan sebuah kotak berwarna silver

Aku belum pernah melihat kaca sejernih ini sebelumnya. Sejujurnya aku merasa haus, tapi sekarang bukan saatnya bagiku untuk memuaskan dahagaku.

"Di mana yang lain?"

Sekali lagi, aku melebarkan pandanganku ke segala arah. Kemudian pandanganku terpaku oleh rekan-rekan seperjuanganku yang terbaring kaku di sisi lain dari ruang terbuka ini.

"Aaah!"

Ja-jadi semuanya benar-benar telah….

-A-aku ingin melihat mereka…. aku ingin melihat mereka!

Tanpa pikir panjang, aku berusaha merangkak menuju rekan-rekanku yang telah gugur. Namun pria yang ada di hadapanku ini membuat isyarat seolah menyuruhku untuk diam.

Naruto POV

Aku langsung menghentikan gadis itu saat itu juga. Jika tindakannya ini malah akan membuat lukanya kembali terbuka, kerja kerasku sebelumnya akan menjadi sia-sia.

Baiklah. Mari kita coba berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

….

Piña POV

Pria itu mulai bertingkah aneh.

Perlahan dia merentangkan kedua tangannya, duduk, berjalan tiga langkah ke arah rekan-rekanku, berhenti dan kemudian memalingkan wajahnya ke arahku.

Selagi aku masih kebingungan, dia kembali ke posisi sebelumnya dan mengulangi tindakannya lagi dan lagi.

Apakah dia mencoba untuk memberitahuku bahwa dia ingin membawaku ke tempat mereka? Jujur saja, aku benci disentuh oleh pria yang tidak kukenal, tapi aku benar-benar tidak punya pilihan lagi.

Kemudian, aku menganggukkan kepalaku sebagai tanda setuju.

….

Naruto POV

Bagus! Pesanku berhasil tersampaikan kepada gadis itu. Ternyata memang tidak ada yang mustahil selama kita mau mencoba.

Namun ini membuatku terasa seperti habis memainkan pantomim*, dan aku melakukannya sambil terus diam tanpa suara. Tidak ada aturan aku dilarang berbicara, sih. Jadi aku agak malu.

A/N*: Pantomim merupakan seni pertunjukan drama tanpa kata-kata yang dimainkan dengan gerak dan ekspresi wajah (biasanya diiringi oleh musik).

Piña POV

Pria itu mendekatiku dan mengangkatku. Ini pertama kalinya bagiku disentuh oleh seorang pria yang bukan bagian dari keluargaku.

Kami mulai berjalan ke arah rekan-rekanku.

"A-ahhh..."

Air mataku kembali tumpah.

Leher semua orang benar-benar telah terkoyak habis. Ini sama seperti saat kami disergap oleh kawanan monster buas kala itu. Bahkan Agnes juga…

"Hiks... hiks... hiks..."

Aemilie, Claritia, Ceres, Juno, Jyll, Dido, Bellona, Esilia dan Agnes...

Mereka semua sudah melayaniku semenjak aku masih kecil. Esilia bahkan adalah teman masa kecilku. Meskipun aku berusaha mati-matian untuk menahannya, tapi pada akhirnya tangisanku kembali pecah. Kali ini aku benar-benar menangis dengan suara yang agak keras.

Mungkin karena merasa iba, pria itu kemudian membawaku kembali ke tempat dimana terdapat sebuah selimut yang telah digelar dan lalu membaringkanku di sana.

Naruto POV

Hah... aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kuperbuat saat melihat gadis itu mulai menangis. Kurasa dia benar-benar terkejut melihat kematian teman-temannya. Yah, aku bisa memahami perasaan itu, sih.

Tapi aku juga harus kembali bekerja untuk menguburkan mereka. Kurasa aku akan menjelaskan hal ini kepada kepada gadis itu.

Piña POV

Setelah aku berhenti menangis, pria itu lalu mengambil sekop dan mulai memberikan isyarat. Jika dilihat dari gerakannya, aku menduga bahwa dia bermaksud untuk membuat lubang di atas tanah dan mengisinya kembali dengan tanah. Dia benar-benar tidak bicara kali ini.

Aku langsung memahami apa maksudnya. Tentunya dia bermaksud untuk memberikan pemakaman yang layak untuk teman-temanku.

"Tolong tunggu sebentar, tuan. Sangat disayangkan bahwa saya tidak bisa membantumu, namun saya harap saya bisa memberikan mereka kata-kata perpisahan..."

Pria itu mengangkat alisnya, seolah berkata jangan mengganggunya ketika bekerja.

"Saya bilang... saya ingin mengucapkan kata-kata perpisahan kepada mereka."

Pria itu lalu mengacungkan jarinya ke arahku, seolah mengatakan bahwa ini adalah giliranku untuk mengunakan bahasa isyarat.

Jadi begitu, jadi kami tidak akan bisa mengerti satu sama lain kecuali dengan bahasa isyarat. Ini sedikit merepotkan bagiku.

Pria itu kemudian membuat ekspresi seolah menyiratkan bahwa dia paham dan mengangguk padaku. Apakah pesanku tersampaikan kepadanya? Dia sepertinya pria yang cukup cerdas.

Pria itu mengangkatku lagi dan kemudian berjalan ke arah teman-temanku. Setelah sampai di sana, dia lalu menatapku dan aku juga balik menatapnya.

Apakah dia akan mengizinkanku memberikan kata-kata perpisahan? Kami menghabiskan beberapa waktu dalam keheningan.

Pada akhirnya dia lalu membawaku kembali ke tempat semula.

Ini buruk! Pria ini sama sekali tidak memahami apa maksudku!

Yah, kalau dipikir lagi, mengharapkan dia mengerti hanya dengan isyarat sederhana mungkin memang terlalu berlebihan. Aku berpikir sejenak dan menunjuk ke arah sekop yang tergeletak di dekatnya. Kemudian aku memberi isyarat lagi. Dia mengambil sekop itu.

Aku terus memberi isyarat kepada pria itu selagi menirukan gerakan menggalih lubang. Di saat sama, dia mulai menggalih lagi sambil menatapku bingung.

Ini sulit bagiku untuk melakukannya dengan hanya mengandalkan satu tangan.

Aku menunjuk diriku lagi dan melebarkan kedua mataku menggunakan jari-jariku. Apakah kali ini berhasil?

Setelah berpikir sejenak, pria itu lalu mulai mengumpulkan kotak kayu yang sebelumnya dimuat di atap kereta kuda dan membawanya ke dekat titik pemakaman. Dia menumpuk satu demi satu kotak kayu dan membiarkanku duduk di atas.

Setelah sekitar satu jam, sebuah lubang yang cukup besar akhirnya selesai dibuat.

Pria itu kemungkinan besar sudah menggali lubang itu dari tiga jam yang lalu. Aku benar-benar tersentuh oleh kebaikannya.

Dengan hati-hati, dia lalu menurunkan mayat-mayat temanku untuk ditempatkan di dalam makam. Sejenak, dia terlihat seperti mengingat sesuatu dan kemudian pergi ke lokasi yang berbeda.

"I-itu kan...?"

Apa yang dia bawa adalah bagian tubuhku yang telah putus. Sepatu boot-nya sudah dilepas. Jujur, rasanya agak menyakitkan setelah melihat bagian tubuhku yang terpisah seperti ini.

Pria itu kemudian memberi isyarat kepadaku melalu kontak mata. Aku mengangguk setuju. Semua orang mungkin akan merasa lebih tenang jika bagian-bagian dari diriku juga ikut menyertai mereka.

Kemudian, pria itu kembali memberi isyarat kepadaku untuk mengisi lubang makam dengan tanah. Sebagai balasan, aku menganggukan kepalaku lagi sebagai tanda setuju.

Setelah mendapat respons dariku, pria itu lalu kembali melanjutkan tugasnya.

Sejujurnya, aku tidak bisa melihat teman-temanku dengan jelas dari posisiku saat ini. Haruskah aku meminta bantuannya sekali lagi?

Diluar dugaan, pria itu seperti dapat memahami perasaanku.

Dia mengangkatku kembali dan membawaku ke tempat dimana aku bisa melihat isi dari lubang makam itu dengan cukup jelas.

"Semuanya sudah melayaniku dengan baik selama ini. Loyalitas kalian yang tak tergoyahkan adalah kebanggaan bagiku seumur hidup. Beristirahatlah dengan damai. Semoga kita dapat bertemu lagi di alam sana..."

Setelah itu, aku memanggil pria itu kembali dan memintanya untuk melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda. Butuh waktu sekitar satu jam baginya untuk mengisi kembali lubang itu dengan tanah.

Sehabis itu, pria itu membawaku kembali ke atas selimut. Aku benar-benar harus menunjukan rasa terima kasihku atas semua kebaikannya. Aku duduk dan menghadap secara langsung ke arah dermawanku.

"Saya tidak bisa menemukan kata yang cocok untuk mengungkapkan rasa terima kasih saya yang begitu dalam atas jasamu, tuan. Anda telah menyelamatkan hidup saya dan mengizinkan teman-teman saya untuk beristirahat dalam keabadian. Terima kasih. Kebaikan ini, sungguh, saya akan membalas semua kebaikan anda suatu hari nanti..."

Tanpa sadar, aku mengeluarkan energi sihirku dan tubuhku mulai mengeluarkan cahaya sebagai tanda sumpahku kepada dewi.

...