"Tetsu, gàn má ne? [lu ngapain, sih?!] Nǐ zěnme huí shì? [lu tuh kenapa, sih?] Nǐ zhēn èr! [bener-bener lu ya!]. Cào nǐ mā!"
"Makanya kalau bertindak tuh mikir dulu. Apa karena udah lama nggak 'nge-charge' otakmu jadi berantakan, hah?!"
Kuroo Tetsurou tak tahu lagi mana yang lebih buruk: mengetahui dirinya ternyata selingkuhan padahal sudah sayang-sayangnya pada Yachi, tak sengaja membunuh seorang negosiator Phantom Hawks karena cemburu buta (padahal almarhum Kawanishi adalah pacar sahnya Yachi), fakta bahwa Phantom Hawks dan Itachiyama adalah rekan kerja yang saling mendukung, ketakutan bahwa matinya Kawanishi bisa menjadi genderang perang antara MNT dan Phantom Hawks, atau mendengarkan dua perempuan chuunihan memakinya tanpa henti sejak dua jam terakhir begitu ia membawa pulang mayat Kawanishi ke markas MNT di Yokohama.
"Zěn me bàn? [ya mau gimana?]" Ujar Kuroo putus asa. "Kawanishi-san udah keburu mati. Daripada kalian ngomel terus, coba tolong di edo tensei ini orang satu. Atau kita telpon Enma-ousama, kali aja nyawanya Kawanishi-san bisa di refund."
"Kuroo, bukan saat yang tepat untuk melawak." Lerai Nobuyuki kai, salah seorang anggota MNT yang masih mengurus bisnis di Yokohama.
Kenma memukul kepala Kuroo dengan botol plastik bekas. "Nǐ tā mā de qù sǐ ba [ke neraka aja sana lu bangsat]."
"Zūnfù, nǐ yǒu shén me 'ān pái ma? [zūnfù, Apakah Anda ada rencana?]" tanya Kuroo pada Nekomata.
"Fukunaga, beli tambang, ya!" ujar Nekomata. "Yamamoto, beli gentong kayu."
"Mau ditenggelamkan ke laut?!" Kuroo terbelalak kaget.
"Bukan mayatnya Kawanishi, tapi kau yang mau kutenggelamkan." jawab Nekomata kalem.
Kuroo memucat. "Nǐ de nǎozi jìn shuǐ a?!"
Nekomata tertawa terbahak-bahak. Mana bisa ia meninggalkan kesempatan membuat Kuroo semakin merana di saat keadaannya segenting ini?
"Tambang dan gentong kayu untuk memakamkan Kawanishi-san. Aku tahu dari barang bawaan pribadinya, kalau dia itu penyembah Hachiman. Seperti Fukurodani." jelas Yaku. "Ada tambang khusus dan gentong kayu dengan kertas segel untuk meletakkan abu mayatnya setelah di kremasi, lalu dimakamkan."
"Oh, seperti pemakamannya Konoha." balas Kuroo.
"Bicara soal Fukurodani, kudengar markas mereka diacak-acak Phantom Hawks." Fukunaga menyeletuk.
"Masih rebutan Hoshigaki Portland?" Yaku membalas.
Fukunaga menggeleng. "Tempat itu meledak. Semi automatic mencari Miya Atsumu dan berpikir pasti Fukurodani mengirimnya untuk menyabotase. Selain karena wakatsumu memang pintar menyusup dan merusak, dia kan keponakannya Bokuto."
"Masa bodoh. Yang jelas kita harus tahu mau kita apakan mayatnya Kawanishi." Kuroo mendengus frustasi.
"Kembalikan." Nekomata mengurut kening. "Tidak ada acara putar balik. Negosiator kita yang memulai peperangan."
"Kok aku?!" Kuroo menjerit tak terima.
"Mau sengaja atau tidak, kau memang membunuh Kawanishi." Nekomata melirik Kuroo. "Akan sulit berdamai dengan Phantom Hawks. Mau tidak mau kita yang harus tahan dihajar. Kita harus datang kesana, mengembalikannya dengan hormat."
"Masa mereka tidak bisa diajak negosiasi sama sekali?" Yaku menggumam resah. "Bisa, kan?"
"Bisa." Kuroo menopang dagu. "Kita bawakan kepalanya Bokuto atau wakatsumu."
Mendengar ucapan sang negosiator, para anggota MNT menegang.
"Oi, Kuroo! Bokuto-san itu sahabatmu, kan?" Seru Fukunaga.
"Bokuto adalah pimpinan Fukurodani, salah satu klan gokudo terkuat di Jepang. Dengan keadaan mereka yang sekarang, membunuh bos mereka akan menjatuhkan moral dan hanya akan menggiring anak buahnya menuju kehancuran. Wakatsumu sudah meledakkan gudang produksi mereka, dan juga statusnya sebagai penerus sah Kitashin akan menjadi pukulan telak bagi Inarizaki." jelas Kuroo lagi.
"Tapi..." Lev mencicit. "Kita dan Inarizaki serta Fukurodani kan teman."
"Bicara soal wakatsumu, kurasa bajingan kecil itu punya peran dalam matinya Kawanishi." Kuroo merogoh saku kemejanya, mengacungkan dua bungkus bekas permen love bomb. "Aku menemukan ini di sudut kasurnya Yacchan."
"Nggak usah berlagak membela diri gitu, ah." Yaku mendengus. "Kau itu kan fukutaichō-nya MNT. Mungkin aja kau yang memberinya makan."
"Hei, lihat dulu." Kuroo menegaskan. "Love bomb sour lime. Kita pernah jual tapi nggak laku karena terlalu asam. Yaku-jiě, memang siapa yang selalu pesan love bomb rasa sour lime kalau bukan wakatsumu?"
"Jangan karena dia musuhnya Phantom Hawks kau malah mau main backstabbing!" balas Yaku.
"Backstabbing?"
Kuroo bangkit dari kursinya dan menjegal kedua pundak Yaku. Laki-laki berambut hitam itu tampak marah sekali sampai wajahnya memerah dan urat-urat menyembul keluar dari pelipis dan lehernya. Keduanya saling dorong sampai akhirnya Kuroo menjejakkan punggung Yaku ke tembok.
"Miya Atsumu membuat pacarku knocked out karena kelebihan GHB, menidurinya pasti—secara dia buaya darat lihai, membuatku ditampar kenyataan bahwa akulah yang ternyata selingkuhan! Kurasa otak jahatnya merancang ini secara impromtu begitu tahu kalau Kawanishi adalah kepala pengawas Hoshigaki Portland, negosiator Phantom Hawks, dan dia mau membuatku membunuh orang yang dia inginkan untuk mati di depan Yacchan, dan kau mengatakan memburunya adalah tindakan backstabbing?!"
"Kuroo, tenanglah." lerai Nekomata.
"Aku memperlakukannya seperti seorang pangeran, lalu apa balas budinya? Dia menjerumuskanku dalam peperangan bodoh dengan dalih tidak sengaja!" Kuroo meraung frustasi. "Jangan karena kau menjadi teman tidur akhir pekannya kau bisa membelanya seperti itu, Yaku-jiě!"
"Kuroo!" Seru anggota MNT lain, yang berusaha melerai mereka.
"Apa karena kau ingin dia tetap memohon padamu untuk menggoyangnya atau mungkin kau lebih puas bercinta dengannya, makanya kau ingin kita tetap membina hubungan baik setelah dia menjebak kita seperti ini, hah?! Sekarang siapa yang otaknya berantakan karena kebanyakan di 'charge'?!" Kuroo melampiaskan segala kekesalannya pada Yaku.
"KUROOO!" Jerit Kenma.
Gadis berambut pirang semiran itu menarik dasi Kuroo dan menghadapkan wajahnya pada Lev yang cuma bisa mematung kebingungan. Semua orang di MNT tahu bahwa hubungan Yaku dan Atsumu cuma terjadi di atas ranjang, dan tidak seorangpun tega membiarkan Lev tahu soal ini. Yaku pun tidak ingin menyudahi hubungan tak sehat itu karena pada dasarnya ia dan Lev hanya saling suka, saling nyaman atas kehadiran masing-masing tanpa status yang pasti. Yaku tidak ingin dikekang oleh orang yang bukan siapa-siapa. Tapi melihat mata zamrud itu berkilauan karena bulir airmata kesedihan,Yaku runtuh seketika.
"Lev, aku... "
Lev hanya menyeka wajahnya tanpa berkata apa-apa. Kuroo mengumpat, tak sadar bahwa Lev ada disana. Kenma berlari menghampiri Lev, hendak menenangkannya namun pemuda itu keburu lari meninggalkan ruangan. Yaku menendang tulang kering Kuroo keras-keras sambil melemparkan tatapan dengki.
"Bèn dàn [dungu]!" teriaknya sambil berlari keluar ruangan.
"Morisuke, jangan dikejar!" ucap Nekomata.
"Tapi—"
"Jangan." Nekomata mengecam. Ia bersidekap, berpikir sejenak sebelum mencari kain untuk menutup jasad Kawanishi. "Fukunaga, Yaku, Kai. Kalian bertiga ikut aku mencari nokanshi dan menemui Phantom Hawks. Kuroo, Kenma, kalau sudah tenang ajak Lev bicara dengan Raja Neraka."
"Buat apa?" tanya Kuroo.
"Bawa kepalanya wakatsumu untuk Phantom Hawks." ujar Nekomata.
"Sonna—" Kuroo terperanjat.
"Tidak harus putus dari badannya." Nekomata terkekeh. "Pastikan nafasnya masih jalan saat kita mempresentasikannya di depan bayi elang Ushijima Wakatoshi-kun."
"Zūnfù..." Kenma menatap bingung.
"Jangan khawatir. Kita masih akan berteman dengan rubah-rubah Kobe." Nekomata menepuk sayang pipi Kenma. "Tapi kali ini, rubah kecil bandel itu harus diberi pelajaran."
Miya Atsumu terbangun di pagi hari akibat rasa nyeri menakutkan di panggulnya. Dengan pandangan yang masih buram berbayang, ia mendapati tangan yang dibebat perban kini tersemat di kepala seseorang. Rambutnya hitam dengan surai ikal tebal. Ada nafas halus di pelukannya, dan kedua lengan yang melingkar memeluk pinggang Atsumu. Rasa pusing mendadak berdentum-dentum di kepala Atsumu. Sial, berapa banyak fairy dust yang ia hisap selepas menciptakan riot di Hoshigaki Portland? Atsumu tidak ingat apa-apa lagi setelah minum dua botol vodka dan menghisap fairy dust, lalu memutuskan pergi beli rokok di vending machine dekat toilet laki-laki di Barnabas.
Ini kamar hotel yang sangat mewah. Atsumu beringsut telentang, berusaha mengumpulkan kesadarannya meski seluruh tubuhnya terasa remuk tak bertenaga. Siapa yang sudah mem'bungkus'nya? Atau jangan-jangan Miya Atsumu yang terkenal impulsif asal gesek kartu kredit lagi dan meniduri salah seorang insan gemas untuk melepas kebutuhan bersanggama? Atsumu tidak ingat juga. Ia merasakan nyeri tumpul di area panggulnya. Kakinya mati rasa, dan panik membuat Atsumu menggeliut di dalam duvet sampai tak mempedulikan seseorang di pelukannya yang mulai bangun karena pergerakan rusuhnya.
"Nnnnn..." Sosok itu mengangkat wajahnya dari pelukan Atsumu, lalu mengulas senyum manis yang timid. "Selamat pagi."
Tunggu.
Rambut hitam ikal tebal. Mata besar hitam. Dua tahi lalat berjajar di kening.
"Bloody hell..."
SRUK! SRUK!
JDUK!
SRUK! SRUK! SRUK!
Seakan seperti baru saja melihat setan, Atsumu mendadak kalang kabut. Ia mendorong Sakusa dari pelukannya dan beringsut menjauh dari kasur. Ia terguling jatuh dan keningnya terhantam nakas. Dengan pikiran berceceran dan rentetan rasa sakit akibat seluruh luka-luka dan sisa perbuatan Sakusa semalam, Atsumu memungut pakaiannya sambil mengumpat tak karuan.
"Hei, Miya. Aku tidak akan mencekikmu. Jangan pan—"
"HHOOEERRRGGHH! OHOK! OHOK!"
Sakusa mengerenyit bingung ketika Atsumu tiba-tiba muntah. Area kening yang tadi terantuk mulai membiru. Dari lubang hidungnya keluar darah. Pergerakannya yang sempoyongan menimbulkan spekulasi mungkin Atsumu mengalami cedera kepala, dan berusaha menghilangkan rasa sakitnya dengan banyak-banyak mengkonsumsi fairy dust. Pergerakan yang tiba-tiba pasti membuat luka di area kepalanya bergoncang dan mengakibatkannya seperti ini. Sakusa mendesah lelah. Ia merangkak turun dari ranjang dan mengenakkan celananya. Kedua tangannya terulur hendak membantu Atsumu untuk bangun namun si sulung Miya menepis, memukul dan menendanginya agar menjauh. Sakusa menarik kain atasan Atsumu dengan kasar sampai keduanya berdiri. Atsumu mendorong Sakusa menjauh dan berusaha pergi, namun kakinya masih tak bisa digerakkan dengan normal. Ia kembali jatuh tersungkur dengan wajah terbenam sebagian pada sisi ranjang.
"Bedebah. Bajingan laknat." umpatnya. "Kau memperkosaku... "
"Calm down, dude." Sakusa berusaha menenangkan Atsumu. "Jangan buru-buru. Kau masih terluka."
"Nggak usah sok baik!" Atsumu kembali menepis tangan Sakusa yang hendak memeriksa kepalanya. "Kau dan gerombolan elang terkutuk itu pasti mengejarku dan menyekapku, menghajarku, lalu kalian memperkosaku seperti gundik mainan!"
Sakusa bersidekap. "Miya, kau tidak ingat apa-apa soal semalam?"
"Apanya yang—ukh! Arrrgghhh!"
Sakusa dibuat bingung, tak tega melihat Atsumu mengerang kesakitan sambil mencengkram kepalanya sendiri. Tangannya mencari-cari sesuatu di seluruh saku pakaiannya dengan panik namun tak ada benda apapun yang dia cari. Obat, fairy dust, apapun yang bisa menghilangkan sakit kepalanya. Sakusa menarik Atsumu dan mengguncang-guncangkan kepala bersurai pirang itu dengan frustasi.
"You kissed me, you lured me, you sucked my dick so eagerly. We fucked like bunnies while you desperately keep calling me Omi." Sakusa mulai meracau. "Aku tak tahu bencana macam apa yang baru saja kau ciptakan kemarin tapi tolong diingat ya, Miya Atsumu. Aku memelukmu semalaman, memastikan kau tidur nyaman, bisa istirahat dengan leluasa dan lukamu tak terbuka lagi. Aku sendirian, tak bersenjata, tak bisa berkelahi sehandal dirimu, dan kau bilang aku memperkosamu?!"
Atsumu menggigil, entah karena luapan kesal Sakusa Kiyoomi atas perasaannya yang campur aduk atau karena sakau atau pengaruh rangkaian rasa sakit yang membuat syaraf-syarafnya ricuh.
"Aku ini laki-laki terhormat yang tidak akan tidur dengan sembarang orang! Kalau aku tidak setengah mati cinta dan tergila-gila padamu, mana sudi aku bermalam berbagi tubuh dengan bocah bangsat yang egois, self-centered, impulsif, tidak berotak serta tidak berhati nurani sepertimu, hah?! Asal kau tahu saja, kalau diluaran nanti nyawamu jadi mainannya Sang Takdir dan Sang Maut, kau pasti berpikir bahwa tidur denganku adalah satu-satunya cara untuk menjagamu tetap hidup dengan aman! Kau dengar aku, siluman rubah tak tahu diri?!"
Sakusa terengah-engah begitu menyelesaikan kalimatnya. Ia menatap wajah Atsumu yang masih tak karuan dengan pandangan iba, lalu menyeka darah yang mengotori hidung dan bibirnya.
"Ayo, kubantu kau mandi. Lalu kita sarapan, oke? Aku akan membawamu pulang. Kurasa kau punya cedera di kepalamu. Aku bisa memanggilkan dokter ke rumah untuk memeriksamu." tuturnya dengan lembut.
Atsumu tidak memberikan jawaban. Ia masih memberontak ketika Sakusa menggeretnya dengan paksa ke kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air hangat dan sabun. Pemuda pirang itu masih terdiam, separuh linglung, geram dan tak lagi bertenaga ketika Sakusa kembali melecuti pakaiannya dan memandikannya dengan lembut. Kucuran air hangat berbusa menyapa lembut kuning gading cerah kulit Atsumu. Sakusa dengan hati-hati melepaskan perban dan plester yang melekat di tubuh Atsumu, menggosok badannya dan membasuh rambutnya.
"Kau mengobati luka-lukamu sendiri?" Sakusa mengerenyit saat membersihkan rambut Atsumu.
Atsumu menunduk, enggan menjawab tapi suaranya terdengar tak lama kemudian. "Aku pergi ke rumah sakit kecil cuma untuk mencabut peluru dan menjahit beberapa luka."
"Kau tahu kau punya retak kecil di tengkorakmu?" Telunjuk jenjang Sakusa menekan lembut gumpalan darah kering yang melekat di bagian belakang kepala Atsumu, tepat di sisi bawah helai-helai potongan undercut Atsumu. Si sulung Miya merintih tanpa suara ketika bagian itu dibersihkan. "Kau tidak meminta dokternya mengobatinya?"
"..." Atsumu menggeleng.
"Mereka pasti akan tanya macam-macam, kenapa bocah usia 20 tahunan bisa punya luka tembak dan bekas-bekas luka lain." terka Sakusa.
Ia merunduk, menelusuri tungkai Atsumu dan mencuci telapak kakinya, dan juga menggosok lututnya. Pemuda pirang itu bersandar di ujung bathtub dengan rahang gemelutuk. Air sabun berendamnya mulai berubah warna menjadi merah pucat. Sakusa mengerenyit, merasa bersalah membiarkan dirinya lepas kendali dan berujung membuat Atsumu terluka lebih parah. Tangan besar Atsumu menahan tangan Sakusa yang bergerak membasuh selangkangannya.
"Aku cuma mau bersihin." ujarnya jujur.
Atsumu menahan nafas, menggeleng pelan. "Tidak usah. Aku saja."
Sakusa mundur, membiarkan Atsumu mengurus area privatnya. Ia merentangkan bathrobe dan membungkus Atsumu, menuntunnya untuk duduk di sofa panjang lalu menyeduh kopi menggunakan mesin yang ada di ujung ruangan. Sakusa kembali lagi untuk mengeringkan rambut Atsumu dengan hair dryer, bahkan memungut kembali pakaiannya dan mengeluarkan set setrika uap dari dalam lemari kamar hotel untuk membuatnya kembali rapi dan segar.
"Kau mau makan?"
Atsumu hanya terdiam melihat suguhan kopi panas berbau harum yang baru saja diletakkan Sakusa di hadapannya. Pemuda pirang itu lalu berpakaian, tidak melepaskan sedetikpun pandangan curiga pada sang oyabun Itachiyama. Apakah baik-baik saja membiarkan pertahanannya longgar begini? Laki-laki ini tidak tampak kuat secara fisik. Tetapi ia gembong yakuza kerah putih Jepang, sang puppet master yang mengendalikan dinamika politik dan ekonomi negara ini. Tentu saja dia berbahaya dalam genre yang lain.
"Aku menemukanmu giting di Barnabas. Hidungmu penuh serbuk glitter yang sudah berkerak." Sakusa membuka obrolan. Atsumu hanya duduk tanpa menjawab dengan pandangan skeptis.
"Kurasa kau tak ingat apa-apa soal kejadian semalam. Tak apa. Aku bisa menyimpan kenangan-kenangan bercinta kita seorang diri." Sakusa menyesap kopinya. "Apa kau ingat apa yang terjadi sebelum kau ke Barnabas, Miya?"
Atsumu mendengus tipis. "Kenapa juga kau peduli?"
"Tergantung konteks peduli itu seperti apa. Terakhir kali kita ketemu, kau menamparku dengan gepokan uang yang kutawarkan. Setelah itu tak ada interaksi lagi. Kalau keberadaanmu di Tokyo adalah untuk balas dendam lagi pada kami soal adik kembarmu padahal aku tidak memberikan perlawanan balik setelah kejadian itu, mungkin aku harus peduli."
Atsumu menggaruk sudut alisnya.
"Soal berkomplotnya kau dan Fukurodani, aku juga tidak akan ambil pusing." Sakusa menyeletuk. "Lakukan apapun yang kalian mau. Asal jangan ganggu aku dan anak buahku."
"Anak buahmu mengganggu pamanku."
"Siapa?"
"Elang-elang Yokohama brengsek itu."
Mata hitam Sakusa menatap Atsumu dengan pandangan iba. Ia mendekat, mengulurkan tangan hendak membelai wajah kesukaannya tersebut namun Atsumu menepisnya dengan kasar. Sakusa tertawa sinis, tawa rendah yang membuat Atsumu merasa seperti sedang dihina.
"Urusan antara Fukurodani dan Phantom Hawks soal Hoshigaki Portland bukan urusanku." ujar Sakusa. "Dan bukan urusanmu juga."
Atsumu berjengit.
"Kau berpikir bahwa karena Bokuto itu pamanmu, kau harus bertindak?" Sakusa menatap Atsumu. "Apakah Kita Shinsuke berbuat sesuatu untuk Fukurodani karena Bokuto adalah adik kembarnya?"
"Ayahku cuma rubah kolot yang senang memelihara adat tidak rasional." Atsumu membalas. "Bocah sekolahan yang taat sepertimu tahu apa?"
"Tidak tahu apa-apa."
"Bagus." Atsumu menukas tajam.
"Aku tidak tahu apa-apa soal orangtuaku. Aku hanya tahu nama dan wajah mereka saat aku kecil saja." ujar Sakusa. "Aku besar di luar negeri dengan orangtua angkat. Aku tidak pernah tahu apa yang dilakukan keluargaku sampai akhirnya kakak tertuaku yang menjadi oyabun Itachiyama dua generasi sebelumnya meninggal. Mereka memaksaku naik menjadi pimpinan karena Motoya adalah jaksa penuntut umum, posisinya beresiko. Kakakku tidak punya anak dan istrinya sudah tidak ingin lagi berurusan dengan kami. Kalau aku tak mau, Tsukasa-san akan meninggalkan Itachiyama karena ia merasa tak pantas jadi oyabun. Semua orang menyumpahinya karena berbuat bodoh, kapan lagi fukutaichōyang tidak berhubungan darah bisa naik tahta jadi oyabun? Tapi aku tahu, Tsukasa-san tidak peduli. Baginya, Itachiyama hanya milik keluarga Komori dan Sakusa. Dia melayani kami dengan tulus karena kami melindungi dan mensejahterakan dia dan keluarganya."
Hening.
"Aku iri padamu." kata Sakusa lagi. "Usia kita tak jauh beda. Kau dikelilingi keluargamu. Kau masih bisa mengenali mereka lebih lama dan lebih jauh. Orang-orang menyeganimu. Kau punya kemampuan fisik dan kharisma yang luar biasa. Kau juga calon penerus Inarizaki. Tapi kau menyia-nyiakan itu semua, memilih berkoar-koar tentang balas dendam dan melakukan kericuhan hanya karena kau bisa. Kau memilih melampiaskan semua perasaanmu hanya karena satu-dua hal tak sesuai dengan keinginanmu. Tidak bijak."
Mendengar penuturan Sakusa, pundak Atsumu mengendur.
"Apa kau pernah bertanya, kenapa ayahmu dipanggil Kobe no Enma-ousama?" tanya Sakusa. "Itu panggilan yang sangat menakutkan."
"Dia memang menakutkan saat sedang murka." Atsumu melengos malas.
"Awalnya aku berpikir begitu, ketika mempelajari tentangmu dan tentang Inarizaki setelah insiden kebakaran di Karakura." Sakusa menatap dalam-dalam mata Atsumu. "Kuil Arima, Matsuo, Kusumoto, Yanagihara, Araguma, Torikiri Inari Daimyojin." Sakusa mengacungkan satu persatu jari tangannya. "Inarizaki—khususnya keluarga Kita, dilindungi 6 kuil Inari di Kobe. Kita Shinsuke menjalankan ibadahnya dengan taat, mendalami ilmu berpedangnya dengan tekun. Ia menggunakan kekayaannya untuk mensejahterakan kuil serta kaum petani lokal. Semua orang memohon kepadanya; hal baik, hal buruk. Setiap ayunan pedangnya, setiap jatuh keputusannya, semua dianggap kekuatan dewa oleh orang-orang. Kita Shinsuke Sang Maha Berkehendak."
"Sejauh apa kau sudah stalking latar belakang keluargaku, kiwil maniak?" rutuk Atsumu.
"Kau yang menantangku mencari tahu. Tidak ingat?" Sakusa tertawa durjana.
Atsumu tak sanggup berkelit.
"Kita Shinsuke tahu dirinya kuat, pintar dan berkuasa. Tapi dia juga manusia. Ada kalanya, ia hilang kendali pada hati dan pikirannya, lalu memusnahkan segala hal dengan mudah. Seperti saat ia sedang sedih atau kecewa, misalkan. Lapisan emosi yang tak terselesaikan bisa terproyeksi menjadi perbuatan destruktif. Kita Shinsuke terkenal sebagai salah satu pimpinan yang bersikap pasif-agresif. Ia cenderung bersikap acuh di luar, meski di dalam dia pasti overthinking dan grudging. Tidak jarang, di masa mudanya ia menggunakan segala yang ia punya untuk hal-hal yang buruk. Membunuh orang yang sudah menjahatinya, menindas orang yang pernah menipunya, menghabisi orang-orang yang menghalangi jalannya. Julukan itu beredar sebagai wujud ketakutan orang-orang Kobe atas sosok Kita Shinsuke. Ia belajar meredam semua impuls temperamennya dengan cara menjalankan adat dan tradisi yang diajarkan di kuil Inari serta ilmu berpedang iaijutsu."
"Keluargamu punya gen kembar yang kuat." Sakusa melanjutkan. "Ayah dan pamanmu kembar identik. Di satu sisi, Bokuto Kotaro bahkan lebih parah. Ekstrovert, attention-seeker, impulsif, moody, pecandu baku hantam, kombinasi maut seorang pimpinan tiran. Sepasang pimpinan tiran dua klan yakuza paling kuat di Jepang yang ternyata masih berhubungan darah. Kau tahu apa yang paling menarik dari ini semua, Miya?"
Jeda yang sengaja dibuat Sakusa gagal membuat Atsumu bereaksi seperti yang ia inginkan.
"Keluargamu menciptakan tradisi memisahkan anak kembar dan membesarkannya secara terpisah, adalah karena kakek-nenekmu sadar bahwa sikap impulsif ayah dan pamanmu bisa membuat mereka membunuh satu sama lain suatu hari nanti. Mungkin ayahmu melakukan hal yang sama karena khawatir bisa jadi kaulah yang bakal membunuh kembaranmu sendiri karena berbagai alasan."
Atsumu menegakkan kepalanya, balas menatap Sakusa dengan pandangan mencemooh. Sakusa tanpa gentar mendekat hingga nafasnya menerpa wajah Atsumu. Telunjuknya lembut mengetuk-ngetuk kening si sulung Miya.
"Sikap impulsif dan temperamental itu menurun padamu juga secara genetik."
Meski sekilas, Sakusa melihat sudut mata Atsumu berkedut menahan amarah. Atsumu yang jengah dengan ucapan Sakusa memilih beranjak pergi meninggalkan kamar hotel tersebut. Tangannya meraih kenop pintu, namun keraguan singgah dalam benaknya sesaat.
"Oi, Omi-Omi."
"Hmm?" Sakusa yang tengah menghabiskan kopinya balas bergumam.
"Apa kata-katamu tadi sungguh-sungguh?"
"Yang mana? Soal keluargamu?" Sakusa mendenguskan tawa singkat. "Jangan bilang kau ti—"
"Bukan itu." potong Atsumu. "... soal... soal kau bilang kalau kau tergila-gila dan cinta setengah mati padaku?"
Atsumu menoleh, mendapati Sakusa hanya menatapnya dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapan wajahnya meneduh. Seulas senyum tipis terulas di bibirnya yang kecil dan terlampau jujur tersebut.
"Kau boleh membuktikannya kapan saja, Miya."
Miya Osamu tidak pernah suka julukan Raja Neraka dari Kobe disematkan pada ayahnya. Kita Shinsuke adalah single parent yang lembut, penuh perhatian dan mungkin sedikit bawel karena ia sering terlampau khawatir. Sosok ayah yang tak pernah malu mencium dan memeluk anak-anaknya meski si kembar Miya sudah berusia 22 tahun. Figur bapak yang mendedikasikan hidupnya untuk membahagiakan anak-anaknya. Julukan Raja Neraka dari Kobe terdengar seperti ejekan.
Tidak sampai hari ini.
Kuroo hanya memberi penjelasan singkat sebelum pasukan MNT menyerbu masuk. Kita Shinsuke hanya seorang diri bersenjatakan sebilah katana asli kualitas biasa yang mereka gunakan untuk latihan saja. Usianya 43 tahun, dan lawannya adalah sang fukutaichō Mighty Nekoma Tiger, Kuroo Tetsurou beserta puluhan anak buahnya yang besar, tinggi, kekar dan bersenjata lengkap. Kuroo sendiri adalah petarung jarak dekat handal yang kekuatannya setara dengan Bokuto. Penembak yang kompeten, namun sangat mematikan jika kapak menjadi senjatanya, serta belasan tahun lebih muda. Akaashi dan Osamu hanya bisa ternganga dengan raut wajah ngeri ketika Kita mengibaskan katana miliknya, menyingkirkan noda darah dan secuil daging tubuh manusia-manusia yang tadi ditebasnya. Potongan tubuh bergelimpangan dimana-mana. Konblok dan taman pekarangan depan rumah mereka dinodai oleh rona merah berbau tembaga dan rintihan sakaratul maut.
Hanya tiga kata yang diucapkan Kita sebelum pertempuran ini terjadi.
"Osamu, Keiji. Mundur."
ZRAAAT!
"UUAAARRRGGGHHH!"
Katana Kita tertanam di sela-sela konblok, menembus daun telinga Kuroo. Pria berambut hitam itu tumbang setelah Kita menghantam dagunya dengan gagang katana. Ia menjadi satu-satunya orang MNT yang selamat dari amukan Raja Neraka Kita Shinsuke, nomor dua kalau Lev yang sudah lari tunggang-langgang sejak awal mau dihitung. Tembakan peluru dihindarinya dengan gerakan tubuh, sesekali dihalaunya dengan tebasan katana. Tidak hanya handal berpedang, ia juga menyerang menggunakan pukulan dan tendangan melalui taktik cerdik. Tidak ada segores pun lecet dan wajahnya bahkan tetap datar tak berekspresi seakan-akan Kuroo dan prajuritnya cuma sekumpulan serangga yang mudah dibasmi.
Kekuatannya sangat tidak masuk akal!
"Sampaikan pada Nekomata- zūnfù, anak yang kalian panggil bayi rubah bandel itu adalah putraku. Dia punya nama, yakni Miya Atsumu. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk mendidiknya. Tapi—"
SRATT!
"UUAAARRRGGHH!"
Kuroo menjerit kesakitan ketika Kita mencabut pedangnya. Kakinya menapak kuat-kuat pada wajah Kuroo, lalu menengadahkan dagunya agar ia bisa memandang mata ambar sang pimpinan Inarizaki.
"—siapapun yang berani menyakiti anak-anakku, tidak akan pernah bernyawa lagi."
Kita berbalik dan melempar pedangnya begitu saja. Ia tidak lagi peduli ketika Kuroo lari terbirit-birit meninggalkan pekarangan rumahnya. Beberapa anak buah Inarizaki yang baru datang setelah kekacauan berakhir dibuat kalang kabut. Kita memungut haori yang tadi merosot dari pundaknya dan menyampirkannya asal ke sebelah bahu, berjalan melewati Akaashi dan Osamu dengan begitu dingin. Pundaknya menubruk Osamu yang langsung jatuh tersungkur karena ketakutan.
"Oyakata-sama, tidak apa-apa?" tanya Suna khawatir.
"Aku mau mandi. Sediakan aku teh setelah itu." jawabnya dingin.
Suna mengangguk, memilih mengikuti sang pimpinan memasuki rumah. Akaashi berjongkok menghampiri Osamu, membangunkannya dan menepuk-nepuk debu di bawahan suaminya.
"Samu?"
"72 orang." Aran berseru pada Akagi. "Tolong carikan nokanshi, kita harus kembalikan mereka sebelum oyakata-sama marah lagi."
"Hai!"
Wajah syok Osamu masih belum luluh. Akaashi yang khawatir memutar kepala si bungsu Miya dan mencium bibirnya.
"Hei, aku tahu kau takut. Tak apa. Dia ayahmu." Akaashi berujar lembut.
"72 orang." Osamu tertunduk. "Ayahku membunuh 72 orang sendirian."
"Iya."
"Otou-san membunuh mereka semua karena mereka mencari Tsumu." Osamu menggigil.
"Hei, sayang." Akaashi menggenggam kedua tangan Osamu dan menciumnya dengan lembut. "Ayo, masuk dulu."
"Tsumu kemana? Dia sudah 4 hari tidak pulang." Osamu bergumam. "Dia sudah biasa tidak pulang, tapi kali ini tidak ada kabar sama sekali."
"Sudahlah. Mungkin dia cuma sedang karaokean di Shin Okubo." Akaashi berusaha menenangkan.
"Keiji, tidakkah kau pikir ada yang aneh?" Osamu mengguncang-guncang bahu istrinya. "Tsumu tidak pulang 4 hari dan tidak mengabari apa-apa. Lalu tiba-tiba Kuroo-san datang mengancam ingin memenggal Tsumu atau Kocchan. Sebenarnya ada apa di Tokyo? Ada apa di Fukurodani? Ada apa dengan kerjaanmu?!"
"Sayang, sayang, Samu sayang tenanglah..." Akaashi mengelak. Ia merangkul pinggang Osamu dan memeluknya dengan lembut. "Things getting rocky in Tokyo, but we'll alright. Kocchan dan Tsumu pasti baik-baik saja."
"Tidak berkaitan lagi dengan Itachiyama?" Osamu merengut. Wajah khawatir dan sedihnya lucu sekali, membuat Akaashi jadi tak tega.
"Aku belum tahu. Tapi lebih baik kita masuk dulu. Tenangkan dirimu. Lalu kita bicarakan dengan otou-san soal Tsumu, oke?"
"Keiji, Tsumu itu kembaranku!" Osamu mendesak. "Aku nggak mau dia celaka!"
"Iya, sayang. Aku paham." Akaashi menuntun Osamu masuk ke dalam rumah, ke dalam kamarnya, dan mendudukkannya di sofa. "Aku janji akan mencari tahu untukmu. Oke?"
"Janji?" Osamu mengacungkan kelingkingnya.
Akaashi hampir kelepasan tertawa melihat tingkah manis Osamu. Ia menunduk dan mencium jari kelingking Osamu. "Janji."
DOR!
DOR! DOR!
DRAP! DRAP! DRAP! DRAP! DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!
DOR! DOR! DOR! DOR!
DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!
Atsumu tak henti merutuk, merapalkan segala macam sumpah dan makian benci meski nafasnya berantakan. Baru saja setengah hari dirinya damai tentram menjalani kehidupan, dua orang pria dengan setelan kantor memburunya seperti seekor rubah sungguhan di hutan belantara. Atsumu hanya sempat mengambil beberapa barang pribadinya di hotel sebelum memutuskan membekali dirinya dengan senjata yang kurang mencolok perhatian, dan sebilah Chinese cleaver dari toko kelontong menjadi pilihannya. Ibu-ibu penjualnya bilang bahwa pisau berat itu bisa menebas tulang paha babi dengan rapi tanpa hancur dan merekomendasikan sebuah warung ramen, lalu setelahnya Atsumu memilih pergi makan. Ramen yang tadi dipesannya tadi baru dimakan tiga suap ketika Atsumu merasakan gerak-gerik mencurigakan di sekitarnya. Ia buru-buru membayar dan berjalan keluar dengan tergesa-gesa, lalu lari secepat mungkin sebelum dua orang laki-laki itu bisa mengejarnya.
"Miya-san, ayo buat semua ini lebih mudah. Kami janji, kalau kau mau menyerahkan diri baik-baik kita bisa pergi makan siang sama-sama. Korai-kun yang traktir." gumam seorang pria tinggi besar dengan surai coklat ikal dan setelan jas tanpa dasi—celana bahan yang dikenakannya digulung hingga menggantung setengah betis.
"Kenapa aku?!" Hoshiumi Korai, lelaki pendek berambut putih cepak dengan mata besar beriris giok dan suara serak parau, membalas tak senang. "Sachiro brengsek."
"Siapa suruh punya duit nggak punya pacar? Belajar bahagian pacar orang dulu aja, sih." Laki-laki raksasa berambut coklat ikal itu; Hirugami Sachiro namanya, hanya terkekeh jahil.
"Mana punya pacar sih dia? Bentukannya kayak fuckboy gitu."
"Lho? Dia kan emang fuckboy. Pacarnya dimana-mana, kali. Macarin pacar orang juga mungkin."
Atsumu terjebak di sebuah gang, dengan Hoshiumi dan Hirugami menjaga di setiap sisinya. Hirugami Sachiro adalah sniper jarak pendek yang senang menggunakan senapan sound supressed. Seorang hitman yang efektif dan tak banyak basa-basi. Sementara Hoshiumi Korai adalah pria multifungsi: master wushu, master stalker, master engineer dan master mnemonic yang begitu terobsesi dengan uang dan seringkali kurang mujur dalam masalah percintaan.
DRAP! DRAP!
SYAAAT!
BUAK! BUAK! BUAK! BUAK! BUAK! BUAK! BUAK!
SRRAATTT! TRANG! TRANG! TRANG!
ZREB! BREEET! TRANG! TRANG!
SSRRAAAT!
Atsumu menangkis tembakan Sachiro dengan teknik berpedang modifikasinya, dan Hoshiumi memanfaatkan celah untuk memberi serangan jarak dekat. Ia mungkin lincah dan kuat, namun Atsumu menggunakan postur dan pisaunya untuk mengungguli serangan Hoshiumi. Pria itu menggerutu ketika menyadari jasnya menggantung tersobek akibat jurus amukan singa. Kalau saja ia terlambat menghindar, bisa-bisa dadanya tertebas.
"Siapa yang membayar Kamomedai Northwatch untuk mengejarku?" tanya Atsumu. Ia berganti kuda-kuda menyerang. "Phantom Hawks? Itachiyama? MNT? Raven?"
"Sachiro! Bajingan tengik ini merobek jasku!" omel Hoshiumi. "Ini burberry fall edition royal Edinburg, lho! Ditebas pakai golok babi pula!"
"Hoi, siapa peduli dengan jasmu! Jawab pertanyaanku!" raung Atsumu.
"Miya-san, mendingan udahan deh ngambeknya." Sachiro mendesah lelah. "Nanti kukasih tahu kalau kau mau ikut."
"Mana mau!" Atsumu melirik waspada. "Cara kalian membuntutiku sudah penuh dengan hawa membunuh. Kalian pikir aku bisa percaya semudah itu?"
"Bocah bau kencur begini bisa-bisanya jadi yakuza paling berbahaya di Jepang." Hoshiumi merenggangkan kedua pundaknya. "Aku mau nyantai aja hari ini padahal karena kerja denganmu. Tapi tampaknya aku harus agak serius."
"Perlu kubantu?" tanya Sachiro.
"Dia terlalu besar untuk kubopong sendiri. Mohon bantuannya untuk beres-beres." Hoshiumi menanggalkan jasnya yang sudah sobek, lalu menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. "Biar aku yang menumbangkannya."
Atsumu tahu bahwa kedua pria ini berbahaya. Mereka adalah pembunuh bayaran dari hitman mercenaries agency terkenal yakni Kamomedai Northwatch, yang dibayar entah oleh klan mana untuk menghabisinya. Hoshiumi merangsek maju lalu melompat. Atsumu mundur untuk menangkis serangannya tetapi tapak sepatu Hoshiumi lebih cepat mendarat di wajahnya. Saat masih di udara, pria itu menendang kepalanya hingga Atsumu terjengkang.
BUAK! BUAK! BUAK! BUAK!
DUK! DUK!
DRUAK! BUAK! BUAK! BUAK! BUAK!
DRAP! DRAP! DRAP!
DUK! DUK! DUK! BUAK! BUAK! BUAK! BUAK!
TTTRRRRAAANGGGG!
Pisau Atsumu terlempar, berkelontangan jauh dari jangkauannya. Hoshiumi terus menyerangnya, mendesaknya bertarung dengan tangan kosong. Atsumu merentangkan tendangannya tinggi-tinggi, menghajar dagu Hoshiumi sampai pria mungil itu terpental beberapa langkah.
DOR!
DOR! DOR! DOR!
Sachiro mengokang senapannya, berusaha menembaki Atsumu yang berlari sejauh mungkin dari mereka. Satu tembakannya menyerempet pinggang si Miya pirang dan ia tumbang seketika sambil memegangi sisi tubuhnya.
"UARRGHH!" Atsumu beringsut, memaksa dirinya bangun.
SYUUUUNG!
DOR! DOR! DOR!
"Ck." Sachiro mendecak kesal. "Korai-kun, bangun!"
Sachiro berlari menghampiri Hoshiumi dan menariknya hingga berdiri. Pria mungil itu terhuyung-huyung, lalu serta-merta menjambak kemeja Sachiro—menghindarkannya dari tembakan jarak jauh yang nyaris mengenainya. Atsumu berlari pincang-pincang. Tetesan darahnya berceceran. Hoshiumi dan Sachiro bersembunyi di balik bayang-bayang bangunan dan sesekali balas menembak oknum brengsek lain yang tampaknya berusaha menggagalkan misi dua talent dari Kamomedai Northwatch tersebut. Sachiro mereset ulang senapannya, melihat ke sudut-sudut jarak pandangnya mencoba mencari lokasi si penembak.
"Bedebah itu menghalau peluruku." ujarnya.
"Loom of faith." bisik Hoshiumi. "Ada seorang Patrichstein disini!"
"The all seeing eyes?" tanya Sachiro.
"Tidak kelihatan siapa. Yang jelas, ia ingin memperlambat kita menangkap Miya." Ujar Hoshiumi. "Aku nggak ingin 5 milyar Yen pergi begitu saja! Sachiro, kau urus si bedebah itu!"
"Hoi, Korai-kun!"
Sachiro mengarahkan pucuk senapannya ke atas, berusaha merasakan hawa keberadaan si penembak. Beberapa kali ia mengincar sekumpulan titik, dan ia memastikan pada Hoshiumi bahwa total penyerang berjumlah 2 orang. Orang yang satu lagi tak sengaja dilihat Sachiro ketika mereka beradu tembak. Ia tidak membalas, tembakan dari orang pertama tampaknya dibuat sebagai pancingan agar Sachiro terpaksa melawannya.
SYUUUNG!
TRAKK!
Sachiro menggeram kesal ketika si oknum penembak berhasil mengenai senapannya, membuat ujung senjata api laras panjang itu membengkok dan patah terkena hantaman peluru. Pria jangkung itu memutuskan untuk melarikan diri saat sadar dirinya dikepung. Hoshiumi sudah tidak kelihatan atau terdengar lagi. Apakah masih bisa sejauh itu si Miya sulung kabur setelah tertembak? Sembari menyusun strategi dadakan, Sachiro dikejutkan oleh sosok lain yang berlari ke arahnya lalu tiba-tiba merunduk. Gerakannya terlalu cepat untuk dihindari sehingga Sachiro dibuat terjerembab karena tackling maut si oknum kedua. Belum sempat pandangannya pulih sebelum jatuh tadi, Sachiro mendapatkan pukulan bertubi-tubi di wajahnya sampai kesadarannya menipis. Si oknum pertama turun dari titik jaganya tempat ia beradu tembak dengan Sachiro.
"Sie sind nicht zu weit [mereka tak terlalu jauh]." gumam si oknum pertama. "11 uhr, schnell [jam 11, cepat]."
Si oknum kedua berlari menuju arah jam 11, dimana ia menemukan Miya Atsumu sudah separuh sadar bersimba darah. Wajahnya pucat dan ekspresinya kelu. Hoshiumi susah payah menggeretnya menuju bayang-bayang bangunan dan merogoh ponsel di kantongnya dengan terburu-buru. Menyadari dirinya diikuti namun bukan oleh Sachiro, Hoshiumi menarik sepucuk pistol dari holster yang dikenakannya dan menembak ke arah si oknum kedua yang malah balas menembak. Peluru mereka bertumbuk di udara dan saling terpental.
"Oi, brengsek. Siapapun yang membayarmu, aku nggak akan menyerah. Rubah pirang brengsek ini harga kepalanya 5 milyar Yen." ujar Hoshiumi.
DOR!
DOR! DOR! DOR!
DOR! DOR!
DOR! DOR! DOR!
DOR! DOR!
DOR! DOR! DOR! DOR!
Aksi baku tembak antara Hoshiumi dan si oknum kedua berlangsung beberapa lama. Mereka sama-sama menghindar, mengakali arah tembakan agar mengenai sasaran yang sayangnya gagal. Hoshiumi menggeledah Atsumu, berharap bisa mendapatkan pistol atau setidaknya laras peluru.
DOR!
DOR! DOR! DOR!
DOR!
"Urgh..."
Pria mungil berambut putih itu jatuh tersungkur sambil memegangi dadanya. Si oknum pertama yang menyusup dari arah titik buta Hoshiumi berhasil melancarkan satu tembakan menembus dadanya sementara si oknum kedua memang sengaja berperan mengalihkan perhatian Hoshiumi. Si oknum kedua berjalan cepat menghampiri Atsumu dan berjongkok, menggotongnya di pundak seperti karung.
"Ist er tot? [Sudah mati?]" tanya si oknum pertama yang menyelempangi senapan slingshot yang tadi digunakannya.
"Welcher? [yang mana?]" si oknum kedua mendesah lega saat menurunkan masker yang digunakannya sedari tadi untuk menutupi identitas.
"Knabe unser [bocah kita]." si oknum pertama menaikkan kacamata hitam yang dikenakannya ke atas kening.
Si oknum kedua menggesekkan sisi wajahnya ke sisi kepala Atsumu yang tengah di bopongnya, memeriksa asal saja. "Ariana Grande."
Si oknum pertama menaikkan sebelah alis seakan menodong jawaban rinci.
"Almost, but almost is never enough~"
Si oknum pertama memutar bola matanya dengan dramatis. "Addie, how many times I told you I won't get used to your eccentric riddle-joke?"
"Only Shion is allowed to call me Addie, Barney." Si oknum kedua menghujat si oknum pertama yakni Oliver Barnes karena memanggilnya dengan panggilan sayang dari kekasih si oknum kedua.
"... Mase-jin... Kyo-jin..."
Hoshiumi terbatuk. Sisa-sisa kesadarannya mengungkap siapa dua orang yang menggagalkan misinya dan Sachiro. Adriah Thomas dan Oliver Barnes dari Black Jackals. Klan itu memang memiliki sepasang hitman orang asing, dan mereka jarang sekali berinteraksi dengan yakuza lain. Apakah seseorang membayar mereka, atau Miya Atsumu punya masalah lain dengan Black Jackals?
"Ollie-boy." Adriah menggedikkan kepalanya ke arah Hoshiumi.
Lagi-lagi, Oliver menaikkan sebelah alis seakan menodong jawaban rinci dari Adriah yang seringkali bertingkah sok misterius. Melihat Hoshiumi yang bahkan sudah tak sadarkan diri akibat luka tembakan di dadanya tersebut, Oliver cuma menggedikkan bahu dan menepuk lengan Adriah, mengajaknya bergegas meninggalkan lokasi sambil membantu menggotong Atsumu.
"Otou-san, kumohon cari Tsumu!"
Kita menoleh ketika melihat Osamu merangsek masuk tanpa mengetuk pintu langsung ke ruang kerjanya, disusul Akaashi yang tampak gagal menenangkannya. Kejadian penyerbuan MNT itu baru lepas dua hari, dan Osamu terlampau khawatir sebab Atsumu tak mengangkat teleponnya. Osamu sudah bicara dengan banyak orang. Dengan Suna, dengan Akagi, dengan Aran, dengan Riseki dan dengan Ginjima, bahkan dengan Omimi. Tidak hanya petinggi, ia juga meminta anggota-anggota kroco untuk membantunya mencari Osamu, namun tidak satu pun dari mereka menyetujui. Seakan seperti jawaban template, semua orang menjawab dengan satu kalimat:
'Tanyakan pada oyakata-sama'.
Kita hanya memandang wajah putra bungsunya sejenak sebelum kembali berkutat pada layar laptop.
"Osamu, sebaiknya kau tidak mengganggu oyakata-sama saat beliau sedang kerja." tegur Suna halus.
"Diam kau!" hardik Osamu.
"Samu." Akaashi meraih tangan Osamu. "Tenanglah. Shinsuke-san pasti mencari Atsumu, kok."
"Kenapa aku harus mencarinya?"
Jawaban Kita membuat semua orang di ruangan itu menoleh.
"Atsumu adalah kembaranku. Dan anakmu." tegas Osamu. "Apa ada alasan lain untuk tidak mencarinya? Apa otou-san tidak khawatir dia celaka atau terluka? Atau bahkan diculik?"
"Memang benar kau adalah kembarannya. Tapi lahir bersama tidak menjamin kau benar-benar mengenalnya." Kita memutar tubuh dan kursi kerjanya hingga kini menatap Osamu. "Tapi memangnya kau tahu, bahwa kejadian Atsumu hilang berhari-hari saat kekacauan muncul itu bukan hanya sekali ini?"
Osamu terdiam dengan kening berkerut. "Hah?"
"Kakakmu, kembaranmu, Tsumu yang rewel dan cengeng itu sudah sering kabur dari rumah. Ketika proyeknya tidak beres, ketika ia merasa harta yang kuberikan tidak cukup untuknya, saat aku tidak cukup banyak menyanjung kinerjanya, ketika aku mendisiplinkan kelakuannya yang liar dan sembrono, ketika ia tak tahan kuhukum atas kelalaiannya... " Kita menganyam jemarinya dan menumpukannya diatas pangkuan dengan santai. "Kau pikir, berapa kali aku tidak kalang kabut mencarinya dan membereskan sisa-sisa amukannya di tempat lain? Kau pikir, berapa kali aku menghabiskan banyak waktu, tenaga, uang dan pasukan untuk menggeledah seantero Jepang cuma untuk mencari kembaranmu karena aku takut seseorang membacoknya karena salah paham atau tidak cukup pemaaf atas tingkah bandelnya?"
Lidah Osamu kelu ketika Kita memberikan argumen tajam tersebut. Ia benar. Sejak mereka berpisah dan Osamu hidup damai di Kabusanji, ia tak tahu apa-apa soal kehidupan Atsumu. Pria pirang itu cuma bercerita betapa seru perkelahiannya, betapa seru balapannya, betapa seru teman-teman dan antek-antek barunya. Betapa serunya jadi yakuza. Meski ia menjenguk Osamu diam-diam seperti rutinitas harian mereka, Atsumu tidak pernah berkeluh kesah soal keburukan pekerjaannya. Tidak pernah ada cerita buruk untuk didengar Osamu.
"Aku tahu ini terdengar kejam, tetapi kali ini aku tidak akan mencari Atsumu." Kita menegaskan. "Kobe tetap rumahnya, Inarizaki tetap keluarganya. Kalau suatu saat nanti dia letih berulah, dia pasti pulang. Lagipula, sekarang dia adalah tsuguko. Kalau dalam tahap ini saja ia tidak bisa menyelesaikan perkara dengan baik, bagaimana kalau nanti dia jadi oyakata-sama? Bagaimana kalau nanti aku atau Kotaro sudah tidak ada lagi untuk menolong dan membelanya?"
"Otou-san!" Osamu menyergah. Matanya berkaca-kaca membayangkan kalau Kita atau Bokuto tidak ada lagi di dunia ini.
"Jangan khawatir." Kita menarik senyum tipis. "Dia itu anaknya Raja Neraka dari Kobe. Atsumu tak akan kalah semudah itu."
"Naa, Samu?" Akaashi tersenyum, kembali meraih tangan Osamu. "Kita pulang, yuk."
Akaashi menggandeng tangan Osamu, mengajaknya meninggalkan ruang kerja Kita tetapi Osamu tidak bergeming. Ia menepis tangan istrinya, menyeka wajahnya yang basah karena bulir airmata jatuh menuruni pipinya. Bayangkan bahwa Kita atau Bokuto tidak ada lagi memang membuatnya sedih. Namun yang lebih parah, Osamu jadi membayangkan bagaimana kalau Atsumu tidak ada lagi?
"...bagaimana..." Osamu menelan isakannya. "...kalau Atsumu tidak ada lagi? Akankah kau menyesal sudah diam dan membiarkan anakmu mati, naa, oyakata-sama?"
Kita menatap Osamu dengan pandangan heran. "Apa kau pikir Atsumu selemah itu?"
Osamu menggeleng kuat-kuat. "Atsumu itu kuat. Dia jauh lebih kuat dari aku. Jauh lebih pintar. Jauh lebih gesit. Hanya saja, meskipun dia seperti itu pasti akan ada yang lebih dari dia, kan?"
"Osamu—"
"Tsumu bahkan terbang langsung ke Tokyo dan menghajar orang yang sudah membakarku. Ia menolak berdamai dengan Itachiyama karena mereka menawari uang dan menganggap bahwa aku adalah double body dari Tsumu, dianggap tak penting karena aku tidak terlibat dalam urusan keluarga. Tsumu tidak peduli. Tsumu tetap membelaku karena aku adalah kembarannya. Tapi saat Tsumu dalam masalah, apakah aku cuma boleh diam menunggu adanya berkah dari Inari Okami, Hachiman, Bishamon atau dewa manapun yang kasihan pada Tsumu!?" Sela Osamu.
"Hei, siapa yang memberitahumu soal Itachiyama?" tanya Kita.
Osamu cuma memandang Suna yang langsung menunduk begitu manik ambar Kita Shinsuke menombaknya melalui tatapan tajam super galak.
"Berikan aku pasukan." Osamu berujar. "Biar aku yang akan cari Tsumu."
"Kau? Pasukan?" Kita mengerenyit. "Kenapa? Buat apa?"
"Mencari Tsumu." jawab Osamu polos.
"Percuma saja, Samu." balas Suna. "Kalaupun oyakata-sama memberimu pasukan, mereka takkan menurutimu. Kau sudah lihat sendiri, kan?"
"Kenapa?"
"Karena kau bukan yakuza. Tubuhmu tidak ditatto. Kau bukan rubah Kobe." kali ini Kita angkat bicara. "Kau itu anakku, Miya Osamu."
"Terus, apa—"
"Mana mau mereka menuruti ucapan biksu naif sepertimu? Apakah saat pasukanmu berkelahi kau akan membacakan Yamantaka mantra dan berharap semua orang jadi berserk?" balas Suna sarkas.
"Rin, kuharap kau bisa menjaga lidahmu." Akaashi menyeletuk. "Osamu jadi biksu sebagai latihan spritiual, bukan untuk jadi bahan olok-olok."
"Diam." Suna menghardik tipis. "Kau memang istrinya, tapi kami membesarkan Osamu sejak bayi. Dia pantas patuh pada keluarganya."
"Kalau begitu, aku akan jadi gokudo seperti kalian."ujar Osamu mantap. "Otou-san, izinkan aku bergabung dengan Inarizaki. Tatto aku detik ini juga! Kalau aku jadi bagian dari kalian juga, mereka pasti akan mendengarkan aku, kan?!"
Ucapan itu membuat Kita terkekeh lembut. Suna bahkan sudah tertawa terbahak-bahak. Osamu sendiri malah dibuat tak mengerti. Sebelah mana dari perkataannya yang terdengar lucu? Ini bukan acara lawak dan Osamu sudah terlalu getir untuk paham mengapa mereka berdua tertawa.
"Dengar, Osamu." Kita menghela nafas panjang, lalu menghampiri putra bungsunya. "Dinginkan kepalamu. Lapangkan hatimu. Hati sempit dan kepala panas hanya akan menghasilkan keputusan yang gegabah. Kau ingat, apa yang kukatakan pada Kuroo tadi?"
Osamu menggeleng bingung saat Kita meraih kedua pipinya.
"Siapapun yang berani menyakiti anak-anakku, tidak akan pernah bernyawa lagi." ucap Kita sambil meremas lembut lengan Osamu. "Dengarkan Keiji. Pulanglah. Aku akan mengabarimu secepatnya kalau kami mendengar berita tentang Atsumu."
Osamu mengangguk tipis. Ia berbalik dan menurut ketika Akaashi merangkul pinggangnya dan mengajaknya pulang. Di perjalanan, Osamu hanya bertopang dagu memandangi jendela mobil. Akaashi yang paham bahwa suasana hati Osamu sedang buruk, memilih menepi dan memarkirkan mobilnya di sebuah warung kecil.
"Aku lapar." Akaashi tersenyum tipis. "Ngemil dulu, ya?"
Si bungsu Miya mengangguk. Mereka keluar dari mobil dan duduk di warung tersebut. Menu makanannya sedikit dan tidak menarik meski pilihan bir dan minuman beralkohol lainnya lumayan variatif. Akaashi memesan 2 botol bir untuk mereka berdua.
"Kalau kau ingin makan sesuatu yang lain, akan kubuatkan." ujar si bapak pemilik warung. "Selama ada bahannya."
"Onigiri." ujar Osamu otomatis. "Boleh aku minta onigiri?"
"Tentu saja. Mau pakai apa?"
"Okaka."
Si pemilik warung membuatkan 3 kepal onigiri pesanan Osamu yang langsung di lahapnya tanpa sisa.
"Kombu."
Kembali 3 kepal onigiri terhidang untuknya. Osamu makan seperti kesurupan, dan Akaashi hanya memperhatikan bagaimana pipi si bungsu Miya menggembung karena penuh nasi. Tak lupa, ia menuang bir untuk Osamu barangkali nanti seret. Si pemilik warung tertawa, namun tetap membuatkan. Ia merasa senang ada orang yang sangat menghargai masakannya.
"Hei, berapa banyak kau mau makan onigiri, bocah besar?"
"Maafkan dia, ya. Kalau sedang badmood makannya banyak." Akaashi tertawa. "Kalau sudah kekenyangan dia nanti berhenti, kok."
"Takana!" Osamu menyodorkan piring kosong dengan semangat.
"Aku juga mau onigiri isi takana." Ujar Akaashi.
Osamu yang tidak berhenti makan onigiri membuatnya terlihat seperti sedang ikut kejuaraan makan banyak. Beberapa pelanggan yang awalnya acuh mendadak peduli, menjadikan Osamu sebagai bahan tontonan karena sang pemilik warung langsung membuatkan onigiri begitu ia menyebutkan isian apa yang ia mau.
"Salmon."
"Furikake."
"Tuna mayo."
"Tarako."
"Umeboshi."
"Osamu, stop!" Akaashi mencegah Osamu untuk terus memesan onigiri begitu melihat tumpukan piring bekas makan suaminya. "Sudah, jangan beri dia makan lagi."
Semangkuk sup miso dihidangkan untuknya. Osamu menyesap kuah panas gurih itu sambil melenguh lega. Ia menatap mangkuknya dan tercenung. Sebetulnya Osamu tidak merasa begitu lapar. Tetapi semakin banyak ia memasukkan nasi ke dalam mulutnya, tubuhnya seakan menagih. Ia tetap makan seakan perutnya tak berdasar. Meskipun ia memang makan banyak, namun mana pernah ia makan sebanyak ini?
"Keiji?"
"Apa, sayang?"
Osamu menoleh. "Apa aku banyak makan karena aku stress?"
Akaashi menggedikkan bahunya. "Bisa jadi.
"Aku kesal. Marah. Sedih." Osamu menyesap supnya lagi. "Dadaku rasanya sakit memikirkan kalau Tsumu kenapa-kenapa."
"Tentu saja. Kau sayang padanya, kan?"
Osamu mengangguk.
"Aku akan membantumu mencarinya." ujar Akaashi.
"Tidak." Osamu mengerjapkan matanya. "Kekuatanmu saja tidak cukup."
"Meskipun aku ini the all seeing eyes, the unconquered?" tanya Akaashi retoris.
"Tidak akan ada artinya kalau bukan otou-san yang menyeretnya pulang. Di dunia ini, Tsumu paling takut dengan otou-san. Aku akan membuatnya berubah pikiran."
"Lantas kau mau apa? Shinsuke-san terkenal orang yang paling sulit dibujuk, lho. Rengekan pamanmu saja tidak mempan, Samu."
"Aku punya rencana."
"Kau mau mencoba merengek karena Shinsuke-san memanjakanmu?" Akaashi tersenyum jahil.
Osamu menghabiskan supnya dalam beberapa tegukan dan mendecak puas.
"Aku mau demo." kata Osamu. "Aku akan membuat seluruh anggota klan Inarizaki bekerja setengah mampus mencari Atsumu."
"Caranya?" Akaashi meneguk birnya.
"Dengan menjadi tsuguko."
Akaashi nyaris kena stroke mendengar penuturan gamblang Osamu. Bir yang tadi diminumnya sontak tersembur. Ia terbatuk-batuk singkat sambil menyeka bibirnya.
"Samu, sayangku..." Akaashi menatap dalam-dalam. "Ja—"
"Nggak bercanda." Osamu memotong. "Sekali lagi kau pikir aku melawak, pulang sana ke Tokyo. Urus saja Kocchan sama anak-anaknya, dan tidur sana sendirian di kamar lamamu yang mewah dan ada kolam air panasnya itu. Boleh balik ke Kobe lagi kalau aku sudah kangen. Aku nggak suka diolok-olok saat sedang serius."
"Jangan ngambek dulu, aku belum selesai ngomongnya." Akaashi yang gemas menarik pipi Osamu keras-keras. "Jangan mengada-ada. Kau tahu tidak, apa akibatnya kalau kau mencalonkan diri jadi tsuguko?"
"Cuma buat mencari Tsumu. Apa salahnya?" Osamu yang polos dan awam soal ilmu konspirasi kehidupan gokudo masih ngotot.
"Kalau kau mencalonkan diri jadi tsuguko dan diterima juga, kemungkinannya ada dua: kau bersaing dengan Atsumu sebagai penerus oyakata-sama atau dianggap mengkudeta posisinya sebagai tsuguko sah." Akaashi menjelaskan. "Kau bisa menciptakan perang saudara kalau begitu."
"Aku tetap mau Atsumu menjadi oyakata-sama. Aku tidak akan merebut posisinya." Osamu menghela nafas. "Aku harus apa?"
"Kita bisa pikirkan nanti." Akaashi tersenyum sambil menggenggam tangan Osamu. "Sabar, ya. Ayahmu pasti punya rencana."
"Keiji."
"Iya, sayang?"
"Apa jabatanmu di Fukurodani?" Tanya Osamu tiba-tiba. "Fukurokuju?"
Akaashi mendengus singkat, sedikit kesal tapi malah jadinya ingin tertawa karena kepolosan Osamu. Fukurokuju adalah nama salah satu dewa di mitologi Jepang. "Fukutaichō; bisa dibilang juga negosiator, wakil ketua."
"Tugasnya ngapain?"
"Uhmmmmm..." Akaashi tercenung sebentar, mencari kalimat yang sederhana agar bisa dipahami Osamu. "Singkatnya, fukutaichō bertindak seperti perdana mentri."
"Gimana caramu kerja jadi fukutaichō?" tanya Osamu lagi.
"Hei, ini nggak seperti main game yang kau bisa berhenti kalau kau bosan." Akaashi meyakinkan. "Tidak usah paksakan dirimu sendiri, Samu."
"Aku baru bisa tenang kalau bisa melihat, mendengar dan meyakini kalau Tsumu baik-baik saja." Osamu menatap Akaashi dengan wajah memelas. "Bimbing aku menjadi tsuguko fukutaichō!"
"Tidak ada istilah itu. Kami menyebut calon fukutaichō dengan sebutan yosai." Akaashi menggeleng. "Jadi yosai jauh lebih sulit ketimbang jadi tsuguko, jujur saja. Karena kami dituntut menjadi orang kepercayaan boss. Kami harus serba bisa dalam segala hal. Kau takkan punya cukup waktu sampai kompeten menjadi yosai saat kau berlomba waktu mencari Tsumu, cintaku."
"Jadi keputusanku mau jadi tsuguko sudah benar, toh?" Osamu bersikeras.
"Bahkan jika Atsumu pulang dan ternyata dia baik-baik saja?" tanya Akaashi sambil bersidekap.
Osamu mengangguk.
"Kau paham, setelah kau resmi menjadi tsuguko, kau tidak bisa putar balik?"
Osamu mengangguk lagi.
"Jadi, apapun yang terjadi kau akan menjadikan Atsumu sebagai oyakata-sama?" Akaashi menarik nafas lelah. "Bagaimana denganmu?"
"Aku..." Osamu terdiam sangat lama. "... aku akan tetap buka kedai onigiri, lalu melatih kenpo di hari biasa dan melatih iaijutsu dasar di akhir pekan. Aku akan berusaha hidup lebih bahagia dengan Keiji. Kalau Atsumu mau jadi oyakata-sama, silahkan. Tapi aku mau jadi orang pertama yang bisa diraihnya untuk segala hal; saat ia butuh bantuan, saat dia kangen rumah, saat dia hanya butuh teman ngobrol. "
Akaashi tersenyum. "Aku ini guru yang lumayan strict. Jangan kau pikir bimbinganku bakalan melemah hanya karena kau pasang wajah memelas atau pamer otot perut dan dada bidangmu, ya?"
Osamu membuang muka, lalu mengangguk pelan sekali. Akaashi memesan sebotol bir lagi, lalu mendentingkan botolnya pelan ke gelas bir Osamu.
"Untuk bergabungnya Miya Osamu sebagai anggota resmi Inarizaki. Kampai." Ucapnya.
"Belum resmi." ujar Osamu, enggan meneguk birnya.
"Kalau gitu, buat jadi resmi. Buktikan tekad dan kekuatanmu, Samu. Jangan beri mereka alasan untuk menolakmu." Akaashi bersandar di pundak Osamu. "Dan lagi, kau punya aku. Akan kuajarkan banyak life hack menjadi yakuza ala nyonya Miya Keiji."
Osamu tersenyum. Ia mengangkat gelasnya sambil memandang wajah cantik Akaashi yang selalu menatapnya dengan penuh cinta.
"Kampai." gumam Osamu sambil meneguk bir.
a/n
-nokanshi: mortician, ahli urus jenazah.
-yosai: secara harafiah dalam bahasa Jepang artinya benteng. Di fic ini, aku menganalogikan posisi fukutaichōsebagai perdana mentri, dan istilah benteng mengacu pada lambang benteng pada permainan catur.
- Yamantaka mantra: salah satu mantra untuk memuja dewa di ajaran Budha.
- Okaka: serpihan ikan cakalang kering yang dibasahi sedikit oleh kecap asin.
-Kombu: rumput laut (kelp), untuk isian onigiri biasanya kombu diiris tipis dan dimasak dengan bumbu.
-Takana: sejenis asinan daun mustard.
-Tarako: telur ikan pollock yang biasanya diasinkan.
- Loom of faith: teknik yang cuma bisa dilakukan lulusan Patrichstein. Detailnya dijelaskan di chapter berikutnya.
-Mase-jin: julukan Adriah Thomas dalam dunia pro-hitman, diambil dari kata Macedonia dan jin (orang). Jadi arti harafiahnya adalah 'orang Macedonia'. Adriah dijuluki begini karena ceritanya dia orang Macedonia.
- Kyo-jin: julukan Olliver Barnes dalam dunia pro-hitman, diambil dari kata kyojin (raksasa) karena postur tubuhnya yang bahkan lebih besar dan tebal dibanding Adriah.
