Perut Zoro sakit. Sanji menendangnya di perut karena dia ketiduran waktu mereka saat mereka dihukum membersihkan kantin. Memangnya salah siapa mereka harus membersihkan kantin? Kalau Sanji tidak mulai menendangnya terlebih dulu saat itu mereka juga tidak akan dihukum kan?

"Oi Marimo! Bantu kek?!"

"Brisik ah lu alis keriting! Emang kita suruh bersih-bersih kantin sebulan salah sapa?"

"Ya elo lah! Pagi-pagi nongol aja di depan kelas gue!"

"Oi oi!? Gue kalo mau ke kelas gue juga lewatnya situ kali! Kelas 11 disitu semua goblok!"

"Pokoknya salah elo! Kalo lo debat lagi dan gak bantu, gue tendang selangkangan elo sampe ke Thriller Bark!"

"IYA IYA SALAH GUE SEMUANYA! ELU KAN SELALU BENER YA NJING!"

"GA USAH NGEGAS JUGA NJING!"

"TAUK AH!" Zoro menyabet sapu yang tadi tergeletak di sisinya dan ikut menyapu akhirnya.

"Ini kantin apa TPA sih?" Gumam Zoro sambil menyapu.

"Kalo yang makan di sini orang-orang di sekolah kita gimana ga jadi TPA ni kantin? Tiap hari kerjaannya perang makanan. Tuh kan, makanannya banyak banget yang ngga kemakan." Jawab Sanji sambil menyapu makanan-makanan yang berceceran di lantai kantin lalu berdecih. Ia sungguh tidak suka dengan kebiasaan orang-orang di sekolah ini perang makanan. Mereka tidak hanya membuang-buang makanan tapi kan juga kasihan pelaksana-pelaksana sekolah. Sanji tidak mengira mereka harus melewati neraka seperti ini setiap harinya.

Melihat hukumannya ini, Sanji yakin Fullbody sangat membencinya. Ini adalah hukuman terberat yang bisa diberikan seseorang kepada seorang Blackleg Sanji.

Frustasi, Sanji mengambil satu kotak rokok dari sakunya dan juga sebuah pematik api.

"Alis keriting"

"Hah?"

"Lu ngerokok?"

"Oh, ini? Iya. Apalagi kalo kudu ngadepin orang kayak elo." Tanggap Sanji sambil mencoba menyalakan pematik apinya.

"Oi masih di sekolah goblok!" Zoro mengingatkan Sanji. Tangannya maju mengambil sebilah rokok di antara bibir Sanji dan tanpa sengaja jemarinya menyentuh bibir Sanji.

"!"

Tiba-tiba Sanji sudah berada 10 langkah di belakang tempat dia berada tadi.

"Nga-Ngapain lo Marimo goblok!"

"Hah?! Lo mau tambah hukuman njing?"

"Serah gue njing!" Sanji mengambil satu batang rokok lagi dan menyelipkannya diantara bibirnya.

"Woi masih di sekolah goblok!" Zoro sekali lagi mengambil rokok dari bibir Sanji dan sekali lagi jarinya bersentuhan dengan bibir Sanji.

"WOI APAAN SIH MARIMO?!" Wajah Sanji memerah seperti tomat.

Zoro hanya bisa memandangi Sanji. Entah kenapa pemandangan di depannya itu, pemandangan Sanji dengan wajah merah padam membuat tenggorokannya kering.

Entah kenapa juga, tubuh Zoro seperti tertarik ke arah Sanji. Ia melangkah maju, satu langkah demi satu langkah mendekati pemuda pirang di depan matanya itu.

Sanji yang menyadari pergerakan makhluk hijau di depannya itu kembali mundur. Selangkah, dua langkah, tiga langkah...

Dug

Sial, punggungnya kini telah merepet dinding dan Zoro sudah berada tepat di depannya. Ingin rasanya dia menendang kepala hijau di depannya itu, tapi kakinya lemas. Tatapan Marimo itu terlalu intens hingga jantungnya kini berdebar. Terlebih lagi, kini kedua tangan Zoro teoat berada di kanan dan kiri kepala Sanji, mengapitnya, mencegahnya untuk bisa kabur ke samping.

"Oi, oi, Marimo lo kenapa?" Tanya Sanji gugup.

"Mata lo biru banget..." Jawab Zoro spontan, tak tahu sendiri kenapa dia menjawab seperti itu.

Hati Sanji berdetak makin kencang. Dia sungguh berharap alga laut itu tidak mendengarnya, apalagi dengan posisi mereka yang hanya dipisahkan beberapa centimeter itu.

Zoro sendiri tak jauh berbeda. Raut wajah gugup alis obat nyamuk itu membuat hatinya berderap lebih kencang dibanding saat dia bertanding di tingkat nasional. Mata biru alis keriting itu seperti lautan dalam yang menariknya untuk hanyut di dalamnya. Kulit putih bagai porselen, hidung mancung, dan bibir... bibir tipis yang menggoda...

"Umph!"

!!!

Otak Sanji blank.

Ia hanya bisa merasakan sensasi basah dan hangat di sekitar area bibirnya.

Bajingan itu menciumnya!

"Mmh... mphh... umhh..." Sanji mencoba mendorong tubuh di depannya itu sekuat tenaga. Tapi ciuman itu sepertinya telah menyerap seluruh kekuatan yang dia miliki, sehingga tangan Sanji hanya terlihat seperti menempel di dada bidang Zoro tanpa melakukan perlawanan.

Tak berapa lama lalu Zoro menarik bibirnya dari bibir Sanji.

"Marimo... umph!" Sanji membuka suaranya setelah ciuman singkat itu untuk memaki-maki Zoro. Namun sepertinya dia menyesali tindakannya itu, bibir Zoro malah kembali mencumbu bibirnya. Mengambil kesempatan mulut Sanji yang sedang terbuka, lidah Zoro menerobos masuk ke rongga mulut Sanji.

"Mmmmhh!!!" Zoro memperdalam ciumannya hingga Sanji mendesah pelan. Tangannya yang tadi digunakan untuk mencegah Sanji untuk tidak kabur kini terkunci diantara helaian-helaian rambut pirang Sanji. Zoro terus berusaha memperdalam ciumannya dengan Sanji, dalam hati berharap Sanji akan membalas ciumannya.

Sanji menjadi pihak yang dicium, pikirannya kosong. Ciuman dalam yang diberikan Zoro baru saja membuat jantungnya meledak. Dia hanya bisa diam, pasif, dan sesekali mendesah ketika Zoro memperdalam ciumannya.

Perlahan, Zoro menyudahi ciuman mereka itu, walaupun dia belum puas. Ciuman bisa menyebabkan dia lupa bernafas rupanya.

Duagh

"APA-APAAN MARIMO IJO JELEK?!" Sanji baru saja sadar dan telah selesai mengumpulkan kekuatannya kembali segera menendang Zoro telak di kepala. Wajahnya masih semerah kepiting rebus dan satu tangannya menutupi bibirnya, gerakan defensif berjaga-jaga agar tidak dicium lagi.

"LO... LO... AAAAAAAAAAAAA" Sanji segera berlari meninggalkan Zoro, kemungkinan besar pulang.

.

.

.

Zoro masih berdiri di tempat yang sama di tempat tadi dia mencium Sanji. Jarinya secara spontan menyentuh bibirnya yang beberapa detik yang lalu masih bersentuhan dengan bibir seseorang. Detak jantungnya mulai kembali ke kecepatan biasanya. Tapi dadanya terasa makin sesak.

Mata Zoro lalu dengan cepat mencoba mencari keberadaan Sanji. Tapi sepertinya Sanji sudah berlari terlalu jauh dibanding dengan jarak yang bisa dia lihat.

Sebagai satu usaha terakhir menemukan alis keriting itu,

"Oi! Alis keriting! Bersih-bersih kantinnya gimana?"