Taehyung mengelap keringatnya dengan sapu tangan dan menghela nafas panjang, setelah berhasil melakukan prosedur operasi kepada kepala keluarga Lee. Setidaknya rasa cemasnya sudah cukup berkurang walaupun sakit kepalanya kembali memburuk, sepertinya setelah ini ia akan segera pulang ke apartemen untuk beristirahat kembali.
"Hebat juga sahabatku ini!" seru Jimin menganggu waktu tenang Taehyung, lelaki bantet itu dengan rasa tidak bersalah menepuk pundak Taehyung keras dan menyodorkan soda dingin ke pipi sahabatnya. Taehyung mendengus kesal, lagi-lagi waktu istirahat sejenaknya di ganggu olwh sahabat menyebalkannya itu.
"Owh..tak usah cemberut begitu! ini aku bawakan onigiri dan teh hijau kesukaanmu, makanlah sebelum kau melanjutkan istirahatmu" cuit Jimin sambil melempar 2 onigiri dan teh kaleng yang dengan cepat di tangkap oleh Taehyung, sedangkan ia mendudukan dirinya di samping Taehyung sambil menikmati es kopinya. Taehyung lebar mengigit onigiri tersebut, kebetulan ia juga belum sempat makan siang sebelumnya dan tenaganya cukup terkuras habis. Cukup lama mereka berdua di liputi keheningan, hanya suara sayup Taehyung yang fokus menguyah makanannya dan Jimin yang menyeruput kopinya. Suasana tenang seperti ini cukup lama mereka tidak rasakan karena betapa banyak pekerjaan dan masalah pribadi yang mereka jalani, jadi Taehyung dan Jimin hanya menikmati situasi menenangkan ini tanpa banyak berpikir. Taehyung membuang sampah bekas onigirinya dan mulai membuka kaleng tehnya untuk minum "Ngomong-ngomong, kau bisa menggantikanku untuk menghandle rumah sakit sampai shift malam, Jim?Kepalaku masih terasa berputar jadi aku berpikir untuk beristirahat sampai shiftku besok malam..semua pekerjaan penting sudah ku selesaikan, kau hanya perlu berkeliling dan memastikan dokter magang sudah melakukan tugas mereka dengan baik" ujar Taehyung. Jimin mengangguk santai, tentu saja ia bersedia untuk membantu sahabatnya itu toh, sejak dulu Taehyung juga sering menggantikannya beberapa kali, selain itu wajah Taehyung memang masih terlihat memelas dan pucat.
"Aku akan mulai berkeliling setelah pemeriksaan rutin pasienku..mengenai dokter magang aku sudah menegaskan kepada mereka untuk bekerja dengan lebih gesit saat menangani pasien UGD, jadi aku akan melihat perkembangan mereka setelah berkeliling..kau tidak usah khwatir Tae, cukup jaga kesehatanmu dan cepat sembuh" Jimin menenangkan sahabatnya dan menepuk pundak Taehyung, juga memberikan obat sakit kepala kepadanya. Taehyung hanya tersenyum tipis, di saat banyak persoalan begini, ia masih bersyukur memiliki Jimin, seorang sahabat yang pengertian dan bisa di andalkan. Mungkin hari ini Taehyung bisa istirahat dengan lebih tenang tanpa di ganggu rasa cemas memikirkan keadaan di rumah sakit, seperti sebelumnya.
*
"Hmm.. akhirnya kau menemuiku juga, setelah..ah, 4 hari kau mengindariku terus, bukan begitu dokter Park?" tanya Jungkook dengan senyum sarkas. Jimin hanya menghela nafas kasar, sepertinya sifat arogan Jungkook masih belum reda juga, padahal anak itu lebih sering bersikap manis.
"Aku masih dokter yang di tugaskan untuk memantau dan merawatmu di sini, jika kau lupa Jungkook" balas Jimin dengan sedikit ketus, ia sangat tidak menyukai ketegangan di antara mereka tetapi melihat sikap dan perilaku Jungkook membuatnya cukup jegah juga. Jungkook memalingkan wajahnya dari dokter Park, terlihat sekali ia masih merasa amat kesal akan keputusan dokter Park yang menolak memberinya informasi tentang keluarga Kim. Dokter Park hanya mengangkat bahunya acuh dan mulai membereskan alat pemeriksaan satu persatu termasuk laporan pemeriksaan, ia hanya menagani pasien di sini jadi tidak perlu terlalu perduli dengan apapun yang Jungkook pikiran atau rasakan. Cukup lama mereka terdiam dan menghindari kontak mata satu sama lain, sampai perkataan Jungkook menarik perhatian dokter Park.
"Bayi dalam kandungan Yoongi hyung mengalami masalah" lirih Jungkook, yang masih memalingkan wajahnya, ia memang masih kesal dengan dokter Park tetapi bagaimanapun Jungkook juga sadar lelaki brengsek itu masih ayah dari keponakan yang di kandung hyungnya itu, jadi dokter Park berhak tahu. Dokter Park menghentikan gerakan jarinya yang menulis laporan pemeriksaan dan mulai menatap wajah Jungkook.
"A-apa maksudmu?" tanya dokter Park terbata-bata, jujur saja jantungnya hampir jatuh ketika Jungkook mengatakan hal itu secara tiba-tiba. Perasaan cemas dan ketakutan mulai merayapi hatinya, begitu juga memori negatif berputar di kepala dokter Park.
"Kau dengar aku dokter Park! Kandungan Yoongi hyung mengalami masalah setelah dirinya jatuh dari tangga!" teriak Jungkook frustasi, ia memandang wajah terpaku dokter Park dengan sinis saat ini.
"Kau-Kau bohong! itu tidak mungkin... terakhir Yoongi bilang ia dan bayi kita baik-baik saja!" geram dokter Park berusaha menepis pikiran buruk dan perkataan Jungkook, ia masih belum bisa percaya dengan lelaki manis itu, ini pasti salah satu permainan Jungkook untuk membuatnya luluh dan membantu rencana liciknya. Jungkook menggeleng keras dan terkekeh sinis, ternyata Park Jimin bukan hanya lelaki brengsek tetapi dungu juga, sungguh malang nasib Yoongi hyung terikat dengan lelaki macam Jimin. Dokter Park mengepalkan tangannya erat, lelaki itu sangat murka sekarang, Jungkook benar-benar mempermainkannya dengan tertawa mengejek.
"Aku heran denganmu dokter Park..salah apa Yoongi hyung sampai kesialan ini menimpa dirinya? Memiliki bayi dari lelaki brengsek tak bertanggung jawab, pulang hanya untuk di tolak dan di asingkan oleh keluarganya sendiri, sekarang lelaki dungu itu berpikir kehidupan kekasihnya dan bayi mereka baik-baik saja dan ingin kembali bersama seakan tidak ada masalah terjadi?!pakai otakmu Park Jimin! Keluarga Min tidak pernah suka dengan bayi kalian!!bagi mereka bayi itu hanya anak haram yang membuat keluarga Min malu!" teriak Jungkook sinis, ia mengeluarkan semua hal yang selama ini di pendam dan menjadi stressnya akhir-akhir ini. Jungkook mengakui ia juga memanfaatkan keluarga Min demi bertahan di rumah sakit ini dan mencapai tujuannya tetapi ia tidak menapik kekejaman dari keluarga itu menekan Yoongi hyung terus-menerus. Jungkook pikir setelah ia mencapai tujuannya, Jimin bisa membawa pergi Yoongi hyung dari jerat keluarga Min, tetapi sungguh bodoh pemikirannya itu. Jimin sama sekali tidak sadar betapa fatal kesalahannya dan bahaya yang terus Yoongi hyung tanggung hanya karena ia ingin mempertahankan bayi dari lelaki brengsek itu. Kata-kata Jungkook bagaikan belati beracun yang menghujam jantung dokter Park, membuat lelaki itu terdiam seribu bahasa dan seolah tubuhnya amat lemas untuk menopang dirinya, peperangan batin antara menolak dan menerima kenyataan begitu hebat menghantam dirinya.
"Aku kira kau bisa memahami Yoongi hyung...tapi.." lirih Jungkook sendu yang membuat dokter Park tersentak kembalo kenyataan dengan wajah pucat dan keringat dingin yang terus mengalir, ia secara spontan lalu berlari dari ruangan itu. Meninggalkan Jungkook sendiri termasuk tugas pemeriksaannya. Jungkook hanya bisa tersenyum nanar melihat reaksi dari Jimin yang berlari dari kenyataan dan seakan terus berdalih dari masalah yang membuat Yoongi hyung hancur.
"Apa salah dan dosa kita, Yoongi hyung??kenapa semua kebahagiaan seakan lenyap saat kita selangkah lagi untuk mencapainya?" gungam Jungkook tertawa miris dengan air mata yang terus membajiri pipi pucatnya.
*
Lari..lari sejauh mungkin, hanya itu yang memenuhi pikiran Jimin saat ini. Berlari hingga tubuhnya lelah dan kehilangan kesadaran, baginya itu lebih baik daripada menghadapi awan hitam yang membawa kembali keinginan mati dan putus asa tiada ujung, sama seperti dulu saat kenyataan menampar dirinya yang di paksa menikah dan kehilangan kekasih hatinya. Jimin tidak perduli dengan tatapan aneh yang di lontarkan orang-orang di rumah sakit yang memandangnya heran karena berlari begitu cepat seperti orang kesetanan. Nafas Jimin semakin lama semakin tipis dan jantungnya berdetak amat kencang tetapi ia tidak perduli, lebih baik dirinya pingsan saat ini juga daripada bayangan-bayangan kematian menghampiri dirinya.
"Park Jimin!! Apa yang-HEI!!" teriak Taehyung nyaring, ia kaget melihat sahabatnya yang bertingkah amat aneh, dengan sengaja mengejar dan menghantamkan dirinya hingga tubuh mereka berdua terguling di lantai lorong rumah sakit. seluruh mata memandang mereka dengan heran, tetapi orang-orang mulai mundur dan menjauh ketika Taehyung memandang tajam seolah mengisyaratkan untuk meninggalkan mereka berdua sendiri. Setelah lorong itu sepi, Taehyung menopang tubuh lemas dan wajah pucat sahabatnya, yang terus menerus menangis dengan nafas yang tidak beraturan.
"Tenanglah Jim..aku di sini..tarik-nafas lalu buang dengan pelan" bisik Taehyung sambil mengelus punggung sahabatnya lembut. Jimin mulai melakukan apa yang di katakan Taehyung tetapi perkataan Jungkook dan memori buruk terus menghantam dirinya, membuatnya makin panik dan tubuhnya terus bergetar hebat. Taehyung amat khwatir dan penuh pertanyaan saat ini, kenapa histeria dan gangguan kecemasan Jimin bisa kambuh lagi?terakhir sahabatnya seperti ini ketika malam ke 2 setelah pernikahan Jimin dengan Seulgi, saat itu sahabatnya juga datang ke apartemen dengan kondisi basah kuyup dan tubuh bergetar hebat serta tangisan yang tidak berhenti-henti, termasuk terus terisak ingin mati. Saat itu Taehyung hanya berasumsi Jimin mengalami pertengkaran di rumah tangganya karena Jimin juga tidak mengatakan apapun setelah dirinya lebih tenang dan pikirannya membaik, tetapi saat ini apa yang membuatnya sampai seperti ini. Jimin mulai memberontak dan hendak berlari kembali tetapi Taehyung menahannya dan menarik Jimin ke kantornya, Taehyung dengan cepat mencari obat penenang untuk meredakan histeria Jimin yang makin menjadi-jadi, nafas sahabatnya itu juga makin sesak dan tidak beraturan seakan ia di tenggelamkan dalam air. Taehyung dengan cepat menjejeli Jimin dengan obat dan meminumkan air agar obatnya tertelan. Jimin tentu saja terbatuk-batuk beberapa saat sebelum ia menjadi lebih tenang dan tubuhnya terasa lemas namun kesadarannya belum hilang. Taehyung menghela nafas lelah dan mendudukan dirinya di samping Jimin. Sungguh sakit kepalanya terasa hilang ketika melihat betapa panik dan histeria sahabatnya itu, padahal ia sudah akan bersiap untuk pulang, tetapi hal ini terjadi.
"Apa yang terjadi kepadamu Jim?kenapa kau seperti ini lagi?" tanya Taehyung lirih. Jimin hanya memberikan tatapan sendu penuh rasa sakit kepadanya "A..aku..sel..lalu..mengacau-kan..semua" jawab Jimin terbata-bata masih di iringi isakan pilu dan tatapan kosong seolah dirinya di bawa pergi dari tubuhnya. Taehyung mengusap wajahnya kasar, ia sungguh bingung saat ini, apa yang harus di lakukan untuk membuat Jimin sadar kembali karena bila terus seperti ini, ia takut Jimin akan melakukan hal nekat seperti dulu.
"Baiklah..kau tunggu di sini sebentar oke? aku akan mencoba mencari taxi di luar rumah sakit, kita pulang ke apartemenku untuk sementara..kumohon tenangkan dirimu Jim" ujar Taehyung pelan mengusap punggung Jimin agar dirinya bisa tidur setidaknya untuk sementara selagi ia pergi. Setelah Jimin menutup matanya dengan cepat Taehyung mencari taxi dan meminta tolong suster untuk menopang Jimin sampai mereka pulang bersama.
*
Pagi hari, tatapan Jimin masih kosong menerawang ke segala arah. Semalaman Taehyung berusaha menjaga dirinya dan membuatnya tidur walau hanya beberapa detik, untungnya histeria Jimin tidak kambuh lagi, tetapi ia masih lambat dalam merespon pertanyaan yang di ajukan Taehyung. Jimin hanya berdiam diri duduk di kasur kamar tamu dan sesekali bergungam mengatakan dirinya tidak berguna dan hidupnya kacau, berulang-ulang. Makan malam dan sarapan juga tidak di sentuhnya sama sekali, seperti Jimin sedang menghukum dirinya sendiri karena sesuatu tetapi Taehyung tidak tahu apa itu. Ia sudah berusaha menghubungi Seulgi, mantan istrinya tetapi mendapatkan penolakan mentah-mentah dari wanita itu. Jika sudah begini Taehyung tidak punya pilihan lain selain menghubungi psikiater Han yang dulu sempat menagani Jimin saat histeria dan depressinya kambuh dulu, hanya saja ia harus berhati-hati jangan sampai keluarganya atau keluarga Park tahu karena mareka akan menarik dan mengurung Jimin di rumah sakit jiwa jika tahu masalah kejiwaan Jimin.
"Halo.. dokter Han, maaf menghubungi anda tiba-tiba..begini sepertinya histeria Park Jimin kembali kambuh sejak kemarin, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya karena ia terus menagis histeris dan terdiam kosong setiap kali aku berusaha menanyakan sesuatu, kira-kira apakah anda bisa menanganinya? setidaknya sampai Jimin kembali seperti biasa" mohon Taehyung dengan cemas, yang untungnya di setujui oleh psikiater Han. Taehyung menghela nafas lega sedikitnya beban sudah berkurang, saat ini yang perlu ia lakukan hanya memastikan Jimin untuk makan dan beristirahat karena sejak kemarin ia terus menolak makan dan juga tidur, hanya terdiam menatap kosong dan kadang bergungam tak jelas sambil menagis.
"Jim.. makanlah sedikit, kau terlihat sangat lemas" ujar Taehyung pelan sambil menyodorkan beberapa potong apel kepada Jimin yang masih menatap kosong dengan posisi duduk di atas ranjang. Merasa tidak mendapatkan respon, Taehyung pun dengan nekat menyuapi apel ke mulut Jimin yang sayangnya di tolak dan membuat sahabatnya itu kembali mengamuk dengan berteriak keras serta memukul kepalanya sendiri dengan brutal. Taehyung dengan refleks menyuntikkan kembali obat penenang untuk membuat Jimin kembali rilex dan tertidur. Kata-kata Jimin sebelum lelaki itu menutup matanya akibat pengaruh obat, cukup membuat Taehyung tegang.
"Tae..aku menyakiti Yoongi dan anakku sendiri" bisik Jimin pelan.
tbc
