Daerah Utara. Menempati 15 ribu hektar. Daerah yang masih terjaga kualitas udara, air, maupun tanah. Intensitas polusi yang rendah dan dikelilingi dengan bukit dan pegunungan menjadikannya sejuk dan diselimuti kabut. Dengan dikelilingi dan dipenuhi hutan tampak jelas jika banyak bagian daerah tersebut masih steril dan belum terjamah oleh tangan-tangan licik manusia.
Walau begitu besar, namun hanya ditempati oleh empat desa atau empat kota. Disebut desa karena populasi yang mendiami wilayah tersebut lebih sedikit dibanding kota. Desa tersebut adalah Oto, Shimo, Yu, dan Kumo. Dengan Desa Kumo menempati setengah dari wilayah daerah utara menjadikan desa itu paling berkuasa di daerah utara.
Daerah Utara kental akan tradisi dan kebudayaan. Pada zaman dahulu, nenek moyang Oto, Shimo, dan Yu adalah pelayan dari Kumo, namun sejak terjadi perpecahan antar klan akhirnya mereka berpisah dan membentuk desa masing-masing. Desa Oto ditempati Klan Fuma, desa Shimo ditempati Klan Yotsuki, dan desa Yu ditempati oleh Klan Chinoike. Menyisakan dua klan berpengaruh di Desa Kumo yaitu Klan Ootsuki dan Klan Hyuuga.
Sejak terjadinya perpecahan, hubungan antar desa menjadi tidak stabil hal ini menimbulkan perbedaan pendapat di Desa Kumo. Seiring berjalannya waktu muncul berbagai pendapat mengenai penyatuan kembali Daerah Utara menjadi satu kesatuan yang utuh. Hyuuga menginginkan agar Daerah Utara damai namun Ootsuki tidak menginginkannya. Ia lebih memilih membuka daerah Utara kepada daerah-daerah lain termasuk perkotaan untuk meningkatkan ekonomi.
Hingga terjadi peristiwa besar yaitu pembakaran hutan terlarang akibat kecerobohan turis asing yang mabuk dan membawa obor yang merugikan Daerah Utara. Sejak saat itu baik Hyuuga maupun Ootsuki setuju untuk menutup akses dari orang asing dan bersatu saling membantu satu-sama lain dengan Hyuuga menjadi penguasanya. Sebagai penguasa, Hyuuga menempati 4000 hektar Desa Kumo dan 3500 hektar ditempati oleh Ootsuki. Hal tersebut sudah berjalan sejak lama. Namun akhir-akhir ini Hyuuga berusaha membuka akses dengan menggaet klan lain yang disetujui oleh para Kepala Desa Daerah Utara. Hal ini dikarenakan seiring berkembangnya zaman, Daerah Utara mengalami berbagai kendala terlepas dari dana rutin pemerintah maupun sumber daya yang melimpah.
"Untuk itu mereka memilih Suna, huh?" gumam Sasuke sambil memandang pemandangan di luar jendela. Sejak keberangkatan mereka dari Konoha menuju Kumo, Itachi menjelaskan detail-detail dari Daerah Utara mengenai asal-usul, luas wilayah, dan perkembangan daerah tersebut.
Itachi mengerutkan dahi. "Apa kau tidak terkejut mengetahui calon istrimu putri seorang penguasa daerah?" walau ia tahu bahwa Uchiha terkenal selalu bersikap tenang dan menjaga mimik muka untuk tidak terbaca, bukankah Sasuke terlalu tidak terbaca sampai Uchiha pun tidak ada yang tahu jalan pikiran pria itu?
Itachi menghela napas dan memandang dokumen mengenai Hyuuga yang ia dapatkan dengan susah payah karena daerah itu yang tertutup dan banyak informasi rahasia yang tersembunyi. Mendapatkan data sekarang saja patut disyukuri. Namun adik congkak ini tidak menghargai usahanya, malah sibuk bergelut dengan pikiran sendiri.
Ia tidak tahu dari mana ketenangan itu berasal. Sejak mendapat surat mengejutkan itu, berbagai pelayan dan beberapa ahli didatangkan untuk memastikan bahwa logo dan cap yang tersemat di surat adalah asli berasal dari Hyuuga. Betapa mengejutkan ketika bahkan di logo memiliki kadar emas di dalamnya. Meskipun Uchiha juga merupakan keluarga mampu dan cukup terpandang, tidak serta-merta menghamburkan emas hanya untuk mencetak logo. Gila saja!
Bahkan hanya saat itulah ia melihat Uchiha yang selama ini terkenal dalam menjaga ekspresi mendadak kehilangan jati dirinya. Mikoto yang langsung pingsan di tempat, Fugaku yang berusaha menenangkan diri dengan meminum kopi namun tak menyadari tangannya gemetar hingga tumpah ke celana dan sweater yang dikenakan. Jangan lupakan Itachi yang sejak surat itu tiba hingga sekarang mengalami kerontokan. Walau tidak ditunjukkan kepada para pelayan, namun sepucuk surat itu cukup menggegerkan Uchiha. Tak terhitung berapa banyak kekayaan yang dimiliki Daerah Utara hingga membuat kegemparan terjadi. Namun di atas semua itu hanya Bungsu Uchiha yang masih menjaga ketenangannya. Itachi tidak tahu apakah tindakan Sasuke adalah berlagak tenang atau memang pria itu mampu mengendalikan diri. Satu hal yang pasti Hyuuga bagaikan badai yang menerjang Uchiha saat ini.
"Sepertinya kau tidak terkejut. Apa kau sudah menduga hal ini terjadi atau kau sengaja menyembunyikan dari Ayah dan Ibu?" tanya Itachi sangsi. Kedua iris arangnya mengamati lekat gerak-gerik Sasuke. Berusaha menguak isi pikiran pria itu.
"Merisaukan kejadian yang belum pasti tidak menyelesaikan masalah." Gumam Sasuke sambil menatap keluar jendela. Sejauh ini hanya hamparan rumput yang tersaji mengingat jarak tempuh Konoha-Kumo yang cukup jauh. "Dari awal wanita itu memang bukan wanita biasa."
Dahi Itachi berkedut. "Hei kau! Tidak usah berlagak filosofis! Jika bukan karena kau tamu spesial, sudah kurusaki wajah edgy dan emo menjijikkanmu itu!" seru Itachi kesal. Betapa menyebalkan adiknya yang pura-pura bahkan berlagak hebat di depannya itu.
Bukan maksud Sasuke ingin menunjukkan jika ia mampu mengendalikan situasi atau terlampau hebat hingga mampu menjaga ketenangan. Namun situasi seperti ini bukanlah hal aneh dalam hidupnya. Bahkan bagaikan makanan sehari-hari selama 8 tahun pemberontakan kepada Uchiha. Sejak ia kuliah, kerja paruh waktu, hingga berurusan dengan profesor, ahli, petinggi, bahkan orang buangan yang menjajakan minuman keras dan dunia malam kepadanya, banyak hal menantang bahkan di luar nalar yang ia alami hingga sekarang. Jadi, ia sudah terbiasa dengan peristiwa yang tiba-tiba terjadi dan tidak diduga maupun diprediksi oleh otaknya.
Terlepas bahwa ia seorang planner, yang suka merencanakan, ia juga seorang yang fleksibel, mampu beradaptasi dengan lingkungan. Sejak awal bertemu Hinata, ia merasa keganjilan dengan hawa keberadaan wanita itu. Seolah ada sesuatu yang sangat besar disembunyikan di balik senyum tulus dan kehangatan wanita itu. Meski ia setuju jika Hinata tampak seperti wanita biasa, kecurigaannya tetap muncul ketika fakta bahwa keluarga Hinata mengejar wanita itu. Jika orang biasa kabur dari perjodohan, keluarga bahkan tidak mampu mengejar apalagi Kumo dan Konoha yang memakan biaya. Hal itu menimbulkan tanda tanya ketika Hyuuga telah menemukan keberadaan wanita itu. Hal ini menegaskan seolah entitas wanita itu begitu bernilai dan sangat berarti hingga membuang banyak uang dan tenaga untuk menjemput.
Kedua, mengenai tingkah laku wanita itu. Walau berpakaian sederhana dan tampak lugu, table manner, cara bertutur kata, tersenyum, maupun berbicara tidak seperti orang biasa. Bukan maksudnya meragukan orang biasa tidak mampu menguasai kesopanan bahkan kesantunan yang sama, namun yang dilakukan Hinata jauh lebih dari itu. Seolah ia dididik begitu keras, panjang, memakan banyak waktu, hingga setiap tindakannya selalu teratur bahkan terjaga, tidak sekalipun kelepasan atau bertingkah tidak sopan. Membuktikan bahwa pendidikan tinggi itu telah terpatri hingga menyatu dalam darah wanita itu.
Melihat lingkungan wanita itu yang konservatif membuat Sasuke tidak heran dengan keluguan yang disuguhkan wanita itu. Hinata bahkan tidak menyadari bagaimana tindakannya mampu membuat para pria menahan diri untuk tidak menerkam wanita itu. Seperti bagaimana gigi rapi wanita itu menggigit bibir merah delima yang begitu menggoda tanpa wanita itu sadari atau bagaimana ketidaktahuan wanita itu dengan kebutuhan biologis pria. Seperti bagaimana wanita itu tidak mengenal tentang gairahnya sendiri. Dari tatapan kedua iris perak itu Sasuke menemukan keinginan, hasrat, nafsu di dalam tubuh wanita itu yang belum dipuaskan dan bagaimana wanita itu tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya sendiri.
Datangnya sepucuk surat seolah menjawab berbagai kecurigaan dan pertanyaan Sasuke. Meski telah menduga Hinata berasal dari keluarga berada, namun kemunculan surat itu cukup mengejutkannya. Ia tidak menyangka jika spekulasinya benar bahwa wanita itu bukanlah wanita biasa.
Baginya mengetahui Hyuuga dan Kumo bukanlah hal penting. Dibanding mencari tahu tentang musuh, ia lebih suka mencari tahu tentang kawan dari musuh. Desa Suna. Ia tahu jika Itachi akan merepotkan diri mencari tentang Hyuuga dan Kumo dengan berbagai koneksi, namun Sasuke tidak ingin merepotkan diri mencari hal yang begitu tertutup dan memiliki banyak rahasia. Dari awal ia telah menduga, jika spekulasinya benar bahwa Hinata adalah orang berada, maka spekulasi bahwa keluarga Hyuuga dan Daerah Utara adalah orang tertutup dan konservatif terjamin kebenarannya.
Dibanding Daerah Utara yang tertutup, Desa Suna justru begitu terbuka, bahkan sangat terbuka. Suna adalah salah satu daerah yang semula desa namun dapat mengembangkan desanya sendiri tanpa bantuan banyak daerah maupun orang lain. Desa Suna sendiri mampu membangun konstruksi maupun teknologi sejak perusahaan Suna mampu bergerak pesat hingga menjadi perusahaan multinasional yang digaungkan namanya seantero negeri. Jika dilihat dari berbagai pencapaian yang ditorehkan daerah itu, pantas jika Uchiha berhak merasa kecil. Namun Sasuke justru menyeringai. Bukankah itu berarti Hinata lebih memilih dirinya yang bukan apa-apa dibanding Suna yang memiliki segalanya? Bukankah itu berarti ia lebih mengungguli pria Sabaku itu?
Meski ia tahu bahwa ia akan berhadapan dengan klan yang berpengaruh, tidak seharusnya ia merasa senang dengan fakta Hinata lebih memilih dirinya dibanding pria yang lebih tajir. Bagaimanapun kali ini ia yang akan dinilai oleh keluarga itu. Ia tidak merasa harus mempersiapkan apa pun untuk menghadapinya. Ia cukup percaya dengan perundingan yang dilakukan oleh Hinata dan Tetua Hyuuga. Ia pun tidak merasa harus mempersiapkan ucapan atau pujian tentang dirinya agar terlihat lebih bernilai di hadapan Hyuuga. Saat ini ia hanya bisa diam, menunggu, dan mengamati.
Mobil berhenti, kaca mobil sopir dibuka. Seorang dengan kedua iris perak menyapa sopir yang membawa Itachi dan Sasuke. "Ada keperluan atau izin untuk melanjutkan perjalanan?"
Sopir Uchiha mengangguk. "Ya." Ia menyerahkan kartu undangan kepada penjaga. Setelah penjaga memeriksa, undangan dikembalikan.
"Selamat melanjutkan perjalanan."
Baik Itachi maupun Sasuke mampu mendengar helaan napas lega sopir mereka. Itachi mencebik. "Apakah kita sedang berada di medan perang sekarang? Bukankah kita diundang? Seharusnya mereka menyambut kita tanpa adanya pemeriksaan."
Yashiro, selaku sopir pribadi keluarga Uchiha hanya bisa tersenyum menanggapi emosi tuannya. "Saya harap juga begitu, Tuan."
Itachi menghela napas. "Berapa lama lagi kita sampai, Paman?"
Yashiro mengusap dahi. "Saya khawatir, bahwa kita saat ini memasuki gerbang ke-10, Tuan."
Itachi mengernyit. Ia tidak pernah mendengar gerbang-gerbang itu. "Jelaskan, Paman."
"Sejak surat dari Kumo datang dan pengiriman konfirmasi kehadiran, para sopir dan orang-orang yang sekiranya bertugas untuk mengawal mendapatkan beberapa aturan dan rambu-rambu jalan menuju Kumo, Tuan."
Sejak surat dari Kumo datang, tidak langsung membuat Uchiha mampu bergegas menuju Daerah Utara. Adanya administrasi seperti konfirmasi kehadiran dengan mencatat nama-nama orang yang akan masuk ke Daerah Utara, termasuk sopir atau pelayan yang sekiranya akan ikut bertugas di Uchiha, juga jumlah kendaraan yang akan dibawa. Setelah pengiriman administrasi, datang pula surat-surat termasuk kartu undangan dan beberapa petunjuk yang harus dilakukan di Daerah Utara. Mengingat daerah tersebut dikelilingi pegunungan dan bukit ataupun alam yang masih belum terjamah, beberapa peringatan dan perhatian khusus harus diperhatikan.
Saat ini keluarga Uchiha memutuskan hanya membawa dua mobil. Mobil pertama di depan yaitu mobil yang berisi seorang sopir, Fugaku, Mikoto, dan sekretaris Fugaku. Mobil kedua hanya berisi Sasuke, Itachi, dan Yashiro.
"Gerbang ke-10 menandakan bahwa kita telah memasuki daerah 20 km dari kediaman utama Klan Hyuuga." Tambah Yashiro menjelaskan.
"God…" keluh Itachi. Betapa jauhnya perjalanan mereka, jika seperti ini, sesampainya di tempat ia akan buruk rupa saking lelahnya. Aish, dari mana adik bangsatnya itu memungut wanita merepotkan ini. "Kau berhutang wine kepadaku, Suke."
"Aku tidak ingat memintamu untuk ikut, Itachi." Sasuke dapat merasakan geraman amarah dari Itachi, namun ia abaikan. Ia lebih memilih meregangkan badan semampunya akibat terlalu lama duduk di mobil. "Aku akan tidur lebih dahulu."
"Hei, kau!" seru Itachi yang tidak digubris Sasuke yang kini telah terlelap. Sialan. Mengapa ia harus repot-repot menemani Sasuke?! Lagi pula yang menikah bukan dirinya. Benar-benar. Jika ia bukan kakak yang baik hati, ia pastikan adiknya itu tertendang dari mobil saat ini juga. Bagaimana bisa pria congkak itu lebih memilih tidur padahal masa depan seluruh keluarga sedang dipertaruhkan di sini?! Itachi menghela napas kasar. Tenanglah, Itachi. Jangan biarkan tindakan Sasuke menguasai emosimu.
Itachi memutuskan melihat pemandangan di luar jendela. Betapa takjubnya ia melihat betapa terjaga dan asri Daerah Utara. Memasuki 20 km dari kediaman utama tampak padang rumput sejauh mata memandang. Dari kejauhan tampak pegunungan yang dipenuhi pohon hijau yang lebat ditambah langit hari itu yang begitu cerah hingga rasanya ia bisa melihat jelas setiap detail alam yang disuguhkan tanpa tertutup oleh asap maupun polusi.
"Yashiro, tidak perlu menggunakan AC, udara hari ini cukup bagus."
Yashiro mengangguk. "Baik, Tuan." AC dimatikan dan jendela perlahan terbuka, udara yang dipenuhi aroma tanah dan kehangatan akibat matahari yang bersinar di musim gugur kala itu menambah tenteram hati.
Melihat bagaimana Sasuke tertidur pulas dengan angin yang mengembuskan beberapa helai surai pria itu membuat Itachi menghela napas. Mungkin saat ini ia tidak perlu memusingkan tentang Sasuke. Ia membuka tas kerjanya, mengeluarkan tablet dan memulai pekerjaannya. Banyak hal di rumah sakit yang masih membutuhkan perhatiannya walau ia telah mengambil cuti beberapa hari.
Itachi tidak tahu apakah saat ini dirinya untung atau buntung karena walau ia terkesan menjadi budaknya Sasuke, namun ia merasa beruntung dapat menikmati alam yang masih begitu murni dan belum terjamah oleh kaki tangan manusia yang begitu rakus. Ia tidak tahu haruskah ia berterima kasih atau tidak atas keputusan Hyuuga untuk menutup dari orang asing.
Dalam lubuk hati, Itachi masih tidak percaya jika wanita lugu yang pemalu dan tampak seperti orang biasa dengan tidak memiliki latar belakang edukasi dari perguruan tinggi terkemuka mana pun ternyata seorang putri dari seorang kepala daerah yang cukup berpengaruh. Walau tak banyak orang berminat pergi ke Utara karena cuacanya yang keras saat menjelang musim dingin, namun tak dapat dipungkiri kehebatan desa itu yang mampu menjaga ketenteraman dan kedamaian penduduknya patut diacungi jempol. Melihat fakta yang tersaji sekarang, ia tak heran jika seorang Hinata Hyuuga berada dalam kalangan berada. Mengingat tutur kata, perilaku, dan gerak-gerik, bahkan pakaian wanita itu yang sopan dan rapi apalagi cukup tertutup seolah menegaskan fakta bahwa wanita itu bukan sembarang wanita biasa.
Itachi melirik Sasuke yang masih memejamkan mata. Entah dari mana pria itu bisa menemukan permata seindah itu di Konoha. Namun melihat tingkah Sasuke yang walau memang tidak cukup terkejut namun tetap seolah baru tahu fakta bahwa Hinata merupakan wanita dari golongan berada membuatnya ragu. Apa mungkin jika hubungan yang dikatakan telah terjalin selama satu tahun itu adalah kebenaran? Walau pria itu tampak tenang, namun reaksi pertama yang ditunjukkan pria itu ketika menerima surat sedikit mengganggunya. Seolah Sasuke tidak terlalu mengenal wanita itu. Lantas dari mana mereka bertemu? Dan apa yang sebenarnya terjadi selama setahun ini?
Itachi mengendikan bahu. Mengabaikan rangkaian pemikirannya dan memfokuskan diri terhadap pekerjaan. Ia tidak tahu sudah berapa gerbang yang terlewati namun perlahan matanya terasa lelah dan ia memutuskan untuk terpejam sejenak. Mengistirahatkan bahunya yang pegal dan kedua matanya yang berat akibat tidur terlalu larut.
"–chi."
"–Itachi."
"–an Itachi."
"–Tuan Itachi."
Itachi terbangun oleh suara. Ia mengerjapkan mata dan mengamati keadaan di sekitar. Ia dapat melihat bahwa mobil telah berhenti di sebuah tempat yang dikelilingi pepohonan rindang. Pintu di sampingnya telah terbuka, menampakkan Yashiro yang berdiri. Sepertinya pria paruh baya itu yang membangunkannya. Itachi melihat Sasuke yang telah beranjak dari mobil dan sedang berbincang dengan ibunya.
"Apa sudah sampai?" tanya Itachi parau, tampak jelas jika pria itu baru saja terbangun. Itachi keluar dari mobil dan meregangkan tubuhnya.
Yashiro menutup pintu mobil kemudian mengangguk. "Sudah Tuan. Setelah ini Tuan Ko akan membimbing perjalanan di kediaman Hyuuga."
Itachi tidak menyangka udara di sini lebih jernih bahkan seolah begitu suci dan tak ternoda. Dibanding udara yang sepanjang perjalanan ia hirup masih belum seberapa. Udara di sini begitu sejuk dan bersih, seolah menyucikan paru-parunya.
Itachi menatap sekeliling. Kediaman Hyuuga lebih besar daripada Uchiha. Walau tidak tingkat, namun dilihat dari bahan-bahan yang dipakai untuk membangun tersebut begitu mewah dan mahal. Dibanding bangunan Uchiha yang lebih modern, kediaman Hyuuga cenderung tradisional. Kaya akan ornamen kayu pilihan dan dipoles dengan apik. Dilihat dari luar saja walau tradisional, namun tampak jelas jika pemilik bangunan ini adalah orang terpandang.
Seorang pria paruh baya dengan potongan cepak menyambut kedatangan Uchiha. Diikuti beberapa asisten dengan setelan jas rapi. Orang-orang yang menyambut kedatangan Uchiha memiliki kedua iris perak persis seperti Hinata. Jika ketika di Konoha terasa asing, melihat banyaknya jumlah orang yang memiliki iris perak tampaknya di Daerah Utara khususnya Kumo iris perak begitu biasa dan tidak spesial.
"Perkenalkan, nama saya Ko. Asisten Tuan Hiashi Hyuuga." Setelah membungkuk hormat diikuti menjabat tangan masing-masing Uchiha, Ko melanjutkan. "Saya di sini akan memandu kalian memasuki kediaman utama, sebelum itu–"
Ko memberi tanda kepada asistennya yang kini berdiri di belakang Sasuke. "Saya diminta agar Tuan Sasuke Uchiha mengganti pakaiannya di ruang yang akan disediakan sementara itu keluarga Uchiha dapat mengikuti saya."
Mikoto mengernyit. "Mengapa? Apa ada sesuatu yang salah dengan pakaiannya?" tampak kekhawatiran terlukis jelas di kedua iris arang Mikoto.
"Apa pakaian kami salah?" tanya Itachi. Ada apa dengan keluarga ini? Semakin jauh ia mengetahui, semakin mencurigakan keluarga satu ini. sejak kapan acara penyambutan menyuruh tamu undangan untuk berganti pakaian, memangnya apa yang sedang kita lakukan? Bukankah hendak membahas tentang perjodohan?
"Tenanglah, Bu. Hanya mengganti pakaian." Ujar Sasuke singkat, berusaha menenangkan ibunya yang mulai khawatir.
Ko tersenyum. "Baik, silakan Tuan dan Nyonya. Ikuti saya." Ko berjalan lebih dahulu memasuki kediaman Hyuuga diikuti Mikoto, Fugaku, dan Itachi.
Setelah itu, salah satu asisten berujar kepada Sasuke. "Ikut saya, Tuan." Salah satu asisten menjadi pemandu dan asisten yang lain mengawal Sasuke dari belakang.
Walau pintu yang Sasuke masuki sama, namun sepertinya lorong yang ia lalui berbeda. Sepertinya tempat berganti pakaian berbeda dengan kediaman utama. Kondisi ini begitu aneh, namun ia berusaha menguasai diri. Setidaknya cukup Mikoto yang khawatir. Namun di sisi lain firasatnya mengatakan bahwa ia berada dalam bahaya. Namun hatinya berusaha menenangkan diri. Jangan panik, lagi pula jika kemungkinan terburuk terjadi, ia telah menghafal jalan untuk keluar.
Ia tidak tahu mengapa hanya dia yang diminta untuk berganti pakaian. Jika pakaiannya tidak pantas, bukankah setelannya sama dengan Itachi dan Fugaku? Mereka bahkan mengenakan jas dan kemeja dari merek yang sama. Jika masalahnya bukan karena jenis pakaian yang digunakan kemungkinan besar karena dia adalah orang yang hendak menikahi Hinata, untuk itu ada regulasi tertentu yang harus dipatuhi. Ia pun tidak tahu tentang regulasi ini karena walau ia memaksa mencari tahu pun, identitas Hyuuga terlalu tertutup. Satu-satunya cara adalah mengikuti alur ke mana para Hyuuga ini akan membawanya.
Tidak terasa ia telah sampai di sebuah ruangan dengan pintu geser dan berisi beberapa lemari. Pengawal tersebut berhenti di depan pintu, membukakan pintu untuk Sasuke. "Silakan menggunakan pakaian yang telah disediakan, Tuan."
Sasuke masuk ke ruangan. Ia membuka ketiga lemari dan tidak ada pakaian sekalipun kecuali sebuah yukata putih. Alarm bahaya di otaknya berdering. Ia paham bahwa kondisinya dalam bahaya sekarang. Bagaimana tidak? Yukata putih identik dengan orang yang hendak melakukan seppuku* akibat telah melakukan kejahatan. Meski begitu, ia tidak merasa bahwa ia melakukan kesalahan maupun kejahatan. Apa menikahi Hinata adalah tindakan keji? Meski begitu walau alarm bahaya berdering, ia tetap menanggalkan pakaian dan berganti dengan yukata putih. Walau begitu ada banyak pertanyaan yang kini bersarang di otaknya yang hanya bisa ditemukan dengan mengikuti permainan ini.
Setelah berganti pakaian, Sasuke kembali mengikuti penjaga. Mereka kini melewati lorong panjang. sayup-sayup Sasuke mendengar berbagai suara. Setelah sampai di pintu ujung lorong, asisten itu berhenti. "Maafkan kami Tuan tapi saya mohon Tuan bekerja sama."
Sasuke mengangguk. Ia telah siap jika saat ini para asisten itu hendak menyerangnya. Dalam otaknya, ia telah memproyeksikan berbagai tendangan maupun pukulan yang siap dilayangkan kepada para asisten itu jika mereka hendak menyerang Sasuke secara bersamaan. Namun yang ada justru sebaliknya. Sasuke mengerjapkan matanya berulang kali. Semuanya tampak gelap. Apa ini? Apa yang sedang terjadi? Apakah matanya buta mendadak? Mengapa semuanya gelap?
Di tengah kebingungan yang melanda, Sasuke tak menyadari kedua tangannya diborgol di belakang. "Jalan." Perintah asisten yang berada di belakangnya mendorong tubuh Sasuke.
Sasuke mengerutkan dahi. Bukankah asisten ini berlagak sopan di depannya? Mengapa sekarang memperlakukannya seperti penjahat? Tidak salah lagi, perhitungannya benar. Namun atas dasar apa? Ia bahkan tidak melakukan kesalahan, ia bahkan belum menikahi wanita itu. Mengapa ia diperlakukan seperti penjahat?
Setelah pintu terbuka, Sasuke melangkah dengan dorongan asisten yang mengawalnya. Sasuke merasakan ia menginjak rerumputan. Suara-suara di sekitarnya terdengar berisik. Entah ada berapa banyak orang di sana. ia tidak tahu pasti.
Setelah berjalan cukup jauh, pundak Sasuke ditekan, memaksa pria itu untuk bersimpuh. "Duduk." Ah, benar-benar. Emosinya telah memuncak sekarang. Ketika ia membuka mata, ia pastikan akan menghajar semua pengawal yang bertindak tidak sopan kepadanya.
Penutup matanya dilepas. Sinar masuk dengan cepat membuat kedua matanya perih, Sasuke mengerjapkan mata berulang kali. Menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk. Awalnya buram namun kini terlihat jelas. Jauh di depannya tampak 5 orang duduk di tempat yang lebih tinggi darinya. Di sebelah kanan tampak Hinata dengan kedua mata bengkak dan wajah khawatir bercampur rasa bersalah. Apakah usaha meyakinkan ayah wanita itu gagal? Di sebelah kiri tampak keluarga Uchiha yang terkejut bahkan kedua iris mereka membola, Sasuke yakin jika para kolega Uchiha melihat pasti terkejut mendapati Uchiha telah benar-benar kehilangan jati dirinya. Bahkan ayahnya Fugaku tak menutupi keterkejutannya.
Berseberangan dengan Sasuke tampak sosok pria paruh baya bersurai kecokelatan dengan kedua iris perak, persis seperti Hinata. Dugaan Sasuke pria itu adalah ayah Hinata sekaligus penguasa Daerah Utara. Dilihat dari bagaimana pria itu duduk di antara kelima orang yang berhadapan dengannya.
Belum sempat Sasuke hendak menyapa dengan memanggil ayah mertua, seorang menginterupsi dengan suara keras nan lantang. "Pengadilan tinggi Daerah Utara nomor 11928."
Hah? Pengadilan? Telinganya tidak salah dengar, kan? Apakah dugaannya bahwa ia benar-benar akan dihukum sungguh-sungguh terjadi?
"Sasuke Uchiha. Putra kedua dari keluarga Uchiha telah melakukan dosa besar kepada Klan Hyuuga."
Dosa? Dosa apa yang telah ia perbuat? Ia bahkan tidak merusak lahan atau bahkan bertemu dengan Hyuuga lain selain Hinata. Sejak kapan ia dituduh melakukan kejahatan begitu besar seperti itu? Belum sempat Sasuke menyela, seorang yang diduga pembawa acara hari itu melanjutkan dengan lantang.
"Ia telah menodai putri Hinata Hyuuga dengan tidak terhormat."
Apa?! Sejak kapan ia menodai Hinata? ia bahkan tidak menyentuh wanita itu! Oke, ia mengaku telah menyentuh di beberapa bagian, namun ia yakin jika sentuhan kecil itu tidak perlu sampai diadakan pengadilan seperti ini! Apa-apaan ini?! Kerutan di dahi semakin dalam. Tuduhan tak berdasar yang ditujukan membuatnya geram. Bagaimana bisa ia dituduh sebagai tersangka ketika ia sendiri tidak tahu apa yang telah ia lakukan selama ini?!
"Atas nama Pemimpin 5 Klan. Dengan ini, Sasuke Uchiha akan dijatuhi hukuman kebiri."
Sasuke menatap tidak percaya. Apa? Kebiri? Apa-apaan? Bukankah ia berniat untuk bertemu calon mertua? Mengapa jadi seperti ini?! Bagaimana nasib Uchiha kecilnya?!
Marriages with Benefits © Silent_JS
Naruto © Masashi Kishimoto
SasuHinaNeji
Rated M
Di tengah keramaian yang terjadi, suara lantang wanita memecah keramaian. "Dengan segala hormat, Tuan Hiashi Hyuuga! Apa yang telah Anda lakukan kepada anak saya?! Bukankah Anda yang mengundang keluarga Uchiha ke sini?!"
Seluruh orang yang menghadiri persidangan terdiam. Seluruh tatapan mengarah ke Mikoto. Wanita paruh baya itu menahan tangis dan sesak. Ia tidak terima anaknya diperlakukan tidak adil dan begitu dihina seperti ini. Selama ia hidup tidak pernah ada orang yang menghina keluarganya bahkan menghukum anaknya tanpa dasar. Sasuke jelas-jelas sedang dijebak! Ia yakin itu.
"Bu… tenanglah." Ujar Itachi ikut berdiri menenangkan Mikoto sambil menahan lengan dan mengusap pundak Mikoto.
Mikoto menyentak lengan Itachi. "Bagaimana bisa aku tenang ketika anakku dihina dan direndahkan seperti ini?! Bukankah kalian yang terlebih dahulu mengundang dengan maksud melakukan perjodohan?! Apa kalian semua sedang menjebak kami?!"
"Bu… tenanglah. Kita duduk dan bicarakan dengan baik-baik." Ujar Itachi kali ini merangkul pundak ibunya erat.
"Oh anakku… anakku yang malang… Sasuke…" tangis Mikoto pecah. Wanita itu tidak sanggup menopang tubuhnya atas beban yang kini dialami anaknya. "Sasuke…" jika tidak ada Itachi yang sigap menopang Mikoto, wanita paruh baya itu pasti telah terbentur lantai. Wanita itu kini kehilangan kesadarannya. Rasa syok yang ia alami terlampau besar hingga menyebabkan kehilangan kesadaran. Selanjutnya Mikoto dibawa oleh tim medis diikuti oleh Itachi.
Suasana pengadilan kembali hening. Tidak ada yang berucap maupun bersuara. Saat itu Hinata berdiri dari tempat duduknya. "Ayah! Biarkan aku–"
"Diam Hinata. Kau tidak memiliki tempat untuk berbicara di sini." Potong Hiashi. Pria itu seolah menganggap tidak terjadi apa-apa. Kedua iris perak itu menatap lurus. Tepat di kedua iris arang Sasuke yang menahan murka.
"Lanjutkan pengadilannya." Perintah Hiashi.
Ko mengangguk. Ia kembali melanjutkan dakwaan. "Sebelum kami meminta Saudara Sasuke Uchiha melakukan pengakuan, kami akan menayangkan rekaman pengakuan Hinata Hyuuga."
Sebuah layar dibentangkan dengan proyektor yang menyala. Di sana terdapat Hinata dan Hiashi yang berbincang di sebuah ruangan besar. Dengan Hinata yang bersimpuh di depan Hiashi. Sudut pandang kamera itu tampak jika baik Hinata maupun Hiashi tidak menyadari adanya kamera. Namun terlihat jelas jika di dalamnya terdapat Hiashi Hyuuga dan Hinata Hyuuga yang sedang bercengkerama.
"Dengan hormat, Ayah. Saya tidak bisa menikah dengan Klan Sabaku." Ujar Hinata dengan membungkukkan badan.
Hiashi menatap datar anaknya dari singgasana tempatnya duduk. "Mengapa? Setelah kau menghilang selama 2 minggu, hanya itu yang bisa kau katakan?"
Hening. Tidak ada yang bersuara. Video itu terus berjalan tanpa suara. Menghadirkan tanya apakah rekaman telah usai atau tidak. Tidak ada satu pun di pengadilan itu mencela atau bahkan berbicara. Bahkan suara napas pun tidak terdengar. Semua orang menantikan dialog yang akan berlanjut.
Detik berikutnya, suara lembut Hinata yang hati-hati memecah keheningan. "S-saya h-hamil."
Ctar!
Sasuke merasakan sarafnya lumpuh seketika. Apa yang wanita itu katakan? Hamil? Ia bahkan tak pernah bersanggama bahkan melihat wanita itu telanjang saja tidak pernah! Dan apa yang dikatakan? Hamil? Demi Dewa Jashin! Inikah alasan ia dihukum konyol hingga ibunya pingsan?! Jika tahu begitu seharusnya ia melakukannya sekalian di Konoha bersama wanita itu. Jika ia diberikan kesempatan untuk bernapas setelah ini, wanita bernama Hinata Hyuuga benar-benar harus dihukum dengan berat.
"Apa? Apa kau sedang bercanda?" tanya Hiashi tidak percaya. Melihat Hinata seolah kepalanya tumbuh menjadi dua.
Terdengar suara Hinata yang frustrasi. "S-saya me-melakukannya dengan pacar saya Sasuke Uchiha."
Oh, God. Inikah yang disebut Hinata cara untuk mendiskusikan dengan Tetua Hyuuga? Jika begini caranya, ia tidak mungkin membiarkan Hinata berbicara sendiri. Tuhan. Ia bahkan tidak tahu nasib apa yang akan menantinya.
"Begitu? Bukankah kau tidak pernah bertemu pria selain–"
"Saya melakukannya berkali-kali tanpa pengaman!"
Seluruh tamu di sidang diam seribu kata. Tidak menyangka mendengar hal itu dari mulut sang heiress. Sosok yang dikenal sangat menjaga tutur kata dan tingkah laku dengan mudahnya melakukan tindakan asusila bersama dengan seorang pria tanpa ikatan pernikahan. Selama ini sosok Hinata Hyuuga cukup sering dibicarakan sebagai menantu idaman yang tidak bisa diraih. Menantu idaman karena tingkah laku dan tutur kata yang sopan, lugu, dan tipe wanita penurut yang disukai tak hanya pria namun juga para mertua. Tidak bisa diraih karena hanya orang yang memiliki derajat yang sama mampu meminang wanita itu.
"Apa kau bilang?" tanya Hiashi dingin. Bahkan para tamu yang hadir dapat merasakan kaku dan dinginnya ucapan Hiashi hanya dengan melihat video. Bagaimana rahang pria itu mengeras diikuti dengan tatapan tajam yang menusuk.
"U-untuk itu aku harus menikahi Sasuke!" putus Hinata lantang.
Hinata. Wanita itu semakin menarik. Sasuke menahan seringainya. Sialan. Tidakkah wanita itu tahu apa yang sebenarnya diucapkan dengan wajah polos itu? Tidakkah wanita itu tahu bayangan seperti apa yang terbentuk di otaknya sekarang ini? Bagaimana kedua tubuh mereka saling beradu tanpa busana di atas kelambu yang berdecit akibat aktivitas intim mereka. Bagaimana wanita itu tidak berdaya di bawah sentuhan, cumbuan, kuasanya. Bagaimana wanita itu percaya kepada orang sepertinya yang memiliki gairah tinggi dan makhluk buas yang sewaktu-waktu bisa lepas kendali. Dengan mudahnya wanita itu berkata 'berkali-kali' dan 'tanpa pengaman'. Sebesar itukah wanita itu ingin disetubuhi dengan kasar dan liar olehnya? Brengsek. Benar-benar. Ia harus mati-matian menahan ereksinya ketika mendengar pembelaan polos wanita itu tanpa tahu bahaya yang menanti. Sasuke tidak sabar mengajari seperti apa gairah dan hubungan seksual yang diucapkan wanita itu dengan lugu.
Video berhenti diputar. Suasana kembali ramai. Banyak yang tidak menyangka, diam-diam menghina heiress Hyuuga namun tak sedikit yang bahkan melontar hinaan keras kepada Sasuke. Mengatakan pria itu iblis maupun jahanam yang pantas dihukum mati.
"Cukup!" seru Ko yang berdiri di belakang Hiashi Hyuuga. Para tamu yang hadir terdiam. Walau Ko adalah tangan kanan Hiashi, ucapan yang dilontarkan pria itu disebut sebagai perpanjangan dari ucapan Hiashi itu sendiri.
Dakwaan dilanjutkan. Pembaca yang juga merupakan seorang Hyuuga dilihat dari kedua iris perak kembali membacakan dakwaan. "Kepada Saudara Sasuke Uchiha, apakah benar Saudara melakukan hubungan intim dengan Hinata Hyuuga?"
Jeda sejenak. Tidak ada yang bersuara dan membuat keheningan yang menyesakkan mengisi pengadilan suci. Jantung Hinata bertalu-talu. Betapa ia sangat ingin melontarkan kesalahpahaman dan segera menemui Mikoto untuk segera meminta maaf. Betapa tindakannya begitu hina dan bodoh hingga mempermalukan keluarga yang hendak menolongnya. Namun sayang seribu sayang pergerakannya dibatasi. Seluruh penjaga Hyuuga telah mengelilinginya. Sekali bergerak dan ia akan dilumpuhkan.
"Iya." Jawab Sasuke.
Penonton kembali mengisi keheningan. Pengadilan dipenuhi oleh umpatan, celaan, hinaan, bahkan banyak sebagian dari mereka hendak melempar botol atau apa pun itu jika tidak dihadang oleh para penjaga Hyuuga. Kedua iris Hinata membola. Ia terkejut. Apa yang pria itu lakukan? Mengapa pria itu mengiyakan kebohongan yang telah ia ucapkan? Tanpa sadar Hinata berdiri dan berlari ke arah Sasuke namun dihadang oleh para penjaga Hyuuga.
Bruk!
Kedua pundak Hinata ditahan diikuti kedua tangan yang dicengkram. Wanita itu telah dilumpuhkan para penjaga Hyuuga sedetik setelah berusaha berdiri. Hinata menahan tangis yang hendak tumpah. Ini semua salahnya. Salahnya! Betapa dungunya ia tidak memikirkan jangka panjang dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Kesalahannya begitu besar hingga ia merasa harus menggantikan Sasuke saat ini juga.
"S-Sasuke, cu-cukup ini semua salahku! Aku yang salah!" teriak Hinata dalam rontanya akibat pergerakannya yang ditahan dan dikunci.
Byuur!
Sasuke mengejang. Tubuhnya merasakan guyuran air dingin dalam sekejap. Membuat seluruh tubuhnya kaku tak bergerak. Ia bahkan tidak mampu merasakan tubuhnya sendiri. Sasuke menunduk. Seolah dirinya telah ditampar dengan begitu kuat. Air dingin di musim gugur bukanlah hal yang baik. Membuat paru-parunya sesak dan sekujur tubuh kaku. Yukata yang dikenakan kini menempel erat, membentuk tubuh atletiknya. Pikirannya seolah lumpuh. Apa tadi? Apa yang terjadi saat ini?
Dakwaan dilanjutkan. "Apakah Saudara melakukan hubungan intim seperti yang telah dikatakan selama Hinata Hyuuga berada di Konoha?"
Ah. Ia ternyata berada dalam persidangan. Ya. Demi syarat konyol perusahaan, ia harus mengorbankan diri sejauh ini. "Iya."
Byuur!
"Gghh!" erang Sasuke. Giginya bergemeretak. Tubuhnya menggigil hebat. Semakin lama ia berada di sini, semakin ia merasa otaknya lumpuh. Ia bahkan tidak mampu merasakan kaki dan tangannya lagi. Seluruh tubuhnya mati rasa. Ia bahkan merasakan bagaimana tubuhnya bergetar karena hawa dingin yang menembus kulit dan menusuk tulang.
Jaksa bertanya sekali lagi. "Apakah Saudara mengakui secara sadar bahwa telah berhubungan tanpa pengaman?"
"Iya."
Byuur!
Hinata berteriak kencang. "Sasuke!" kedua air mata membasahi pipi. Mata yang bengkak akibat menangis semalaman diikuti kantung mata yang kian menjadi, membuat wajah kuyu Hyuuga tampak memprihatinkan. "Hentikan! Kau tidak bersalah!"
Neji berdeham. "Bawa Hinata ke dalam! Tidak ada yang boleh mengganggu pengadilan suci ini!" titah Neji mutlak. Walau ia tidak menyukai bagaimana para pengawal itu menyentuh tubuh Hinata, namun ia tidak bisa membiarkan penyiksaan terhadap pria jahanam di hadapannya terganggu. Ia harus memastikan bahwa pria ini mendapat hukuman sepantasnya.
"Lepas! Lepaskan aku!" ronta Hinata berusaha melepaskan diri dari penjaga yang semakin mengunci pergerakannya dan hendak menyeretnya keluar.
Dakwaan dilanjutkan seolah tidak peduli dengan rontaan wanita Hyuuga. "Apakah perkataanmu dapat dipertanggungjawabkan?"
Sasuke menatap Hinata yang sudah banjir air mata. Ah, apakah wanita itu sedang menangis sekarang? Sasuke merasakan otaknya yang mulai jernih kembali. Hawa dingin yang menusuk melumpuhkan namun juga menjernihkan otaknya dari pikiran liar tentang wanita itu. Entah Sasuke harus bersyukur atau tidak, namun berkat air dingin itulah ereksinya bisa tertahan dan kembali tertidur.
Sasuke menyeringai. "Tentu saja."
Byuur!
"Gghhhah!" Sasuke terengah-engah, ia merasakan tubuhnya dihunjam oleh seribu jarum. Perlahan pandangannya mengabur. Mati-matian ia berusaha menahan kesadarannya. Hawa dingin yang menusuk semakin lama semakin menyiksa dirinya. Meski pikirannya jernih dari Hyuuga namun tubuhnya seolah sudah tidak mampu menahan lebih lama lagi. Hawa dingin yang menusuk membuat tubuhnya bergetar hebat bahkan menggerakkan tikar yang didudukinya.
Hinata merasa lemas saat itu juga. Ia jatuh terduduk. Sudah tidak ada harapan lagi. Pria itu mengiyakan seluruh tuduhan palsu yang berasal dari kelakarnya yang tak tahu malu. Tuhan. Betapa berdosanya ia membuat Uchiha malu dan mencoreng nama baik keluarga yang menyambutnya dengan tangan terbuka. Bagaimana bisa ia membalas kebaikan pria itu dengan hinaan sekejam ini.
Hinata menoleh kepada Ayahnya dan berseru. Walau ia merasa tidak memiliki harapan, namun hanya ini satu-satunya yang ia pikirkan. "Ayah! Ini adalah salahku, Sa-Sasuke tidak–"
Hiashi menjawab tanpa menatap Hinata. "Diam Hinata. Jangan membela manusia hina ini."
Hinata merutuk. Ini semua karena idenya dan ucapannya yang spontan tanpa pikir panjang membuat orang lain tersiksa. Betapa sombong dirinya yang merasa mampu meluluhkan hati ayahnya membatalkan perjodohan dengan alasan tak berdasar seperti ini. Hinata mengepalkan kedua tangan. Apa tidak ada yang bisa ia lakukan? Apa tidak ada yang bisa ia perjuangkan? Apa tidak ada yang bisa membuatnya menolong Sasuke?! Frustrasi menghinggapi. Ia membenci dirinya yang lemah dan tak mampu menolong Sasuke. Sebanyak apa pun ia berusaha ayahnya tak ingin mendengar. Ia benci terhadap dirinya sendiri. Ketika hendak menerjang penjaga untuk menemui ayahnya, Hiashi memberikan tanda kepada para penjaga untuk undur diri. Para penjaga dan orang yang menghukum Sasuke mundur dari tempat dan tidak ada orang yang kini menjaganya.
Hiashi menghela napas. "Mengapa kau melakukan ini hanya untuk sebuah kebohongan?"
Sasuke mengerjapkan mata yang terasa berat. Mati-matian ia menahan diri agar dirinya tersadar. Otaknya seolah terputus. Apa yang dikatakan pria itu? Apakah pria itu bertanya kepadanya sekarang? Kebohongan? Apa maksud Hiashi? Apakah pria itu mengetahui hubungan palsunya dengan Hinata?
Hiashi melanjutkan. "Tabib telah memeriksa Hinata. Putriku tidak ternoda."
Para penonton kasak-kusuk. Beragam pertanyaan menghinggapi. Sebagian besar berasal dari kebingungan dan keheranan akan tingkah Hiashi yang mengadakan pengadilan dengan tuduhan palsu yang sangat mencoreng nama Hyuuga. Di sisi lain, Uchiha yang sedari tadi hanya diam dan menilai situasi tidak menyangka mendengar fakta dari Hiashi. Fugaku menghela napas kasar. Cukup sudah. Jika tahu anaknya akan dipermalukan seperti ini dari awal ia telah menyeret Sasuke dan membawanya kembali ke Konoha. Sesampainya di Konoha ia akan menghajar anak yang tidak tahu malu itu. Saat Fugaku hendak bangkit, Sasuke berkata.
"Saya ingin memastikan." Semua orang terdiam. Menunggu dan penasaran jawaban apa yang akan dilontarkan pria yang sedari tadi mengikuti dan mengiyakan tuduhan palsu itu.
"Saya ingin mengetahui seperti apa orang yang menjual putrinya demi harga dirinya sendiri."
Seluruh tamu yang hadir kembali ramai. Mereka terkejut mendengar jawaban congkak Sasuke. Di sisi lain Itachi tersenyum bangga. Bagus Sasuke-boy, lanjutkan ucapan sarkas yang hina itu. Tunjukkan bagaimana seorang Uchiha itu berprinsip.
"Apa yang kau katakan, Sasuke Uchiha?" tanya Neji dengan suara mengancam. Tanpa suruhan Hiashi, para penjaga telah menyiapkan tombak ke arah Sasuke.
Ingin rasanya Sasuke tertawa. Kali ini Hyuuga tidak lagi menguasainya, kini para manusia iris perak itu berada dalam genggamannya. Ah, betapa kini pikirannya terasa jernih. Melihat bagaimana wajah-wajah orang Utara yang terkejut, kesal, ditambah suasana yang kini memanas seolah menghangatkan tubuhnya yang kaku.
Sasuke meludah kemudian menyeringai lebar. "Apa kau menganggap dirimu lebih baik dari saya, Tuan Hiashi?"
Riuh rendah penonton menggegerkan pengadilan. Beragam kecaman dan pekik terkejut atas ucapan frontal yang diucapkan Sasuke mengejutkan banyak orang. Hinata tidak tahu apakah situasi kian memburuk atau membaik. Sejak ucapan sarkas itu dilontarkan, Hiashi tidak menampakkan ekspresi apa pun. Meski begitu ia takut jika karena ini hukuman Sasuke semakin diberatkan. Saat Hinata hendak menyela dan meluruskan kejadian, salah satu petinggi Daerah Utara menyela.
"Nona Hinata telah menyetujui tanpa ada ancaman dari siapa pun. Sudah menjadi tradisi Hyuuga untuk melakukan apa yang diucapkan." Pria paruh baya dengan surai, kumis, dan jenggot berwarna krem. Berbeda dengan para Hyuuga, pria itu memiliki mata ungu.
Berbeda dengan petinggi Utara yang mengenakan setelan formal, pria itu hanya mengenakan tunik coklat muda longgar yang dihiasi dengan garis-garis hijau dan khaki di sepanjang setiap ujungnya. Di dalam tunik tampak kerah kemeja berwarna teal dan celana hijau pucat. Penampilannya dipadukan dengan kacamata hitam besar berbentuk berlian.
"Apa kau yakin Hinata bahagia?" Sasuke menatap jengah tetua sok modis itu. Tradisi? Omong kosong. Semua itu hanya ego yang diciptakan para petinggi Daerah Utara untuk mendapatkan yang mereka inginkan. Ingin rasanya Sasuke meludah kembali atau bahkan mencibir mendengar ucapan memuakkan itu. Namun sensasi tombak yang semakin mendekati dan seolah dapat menghunusnya kapan saja membuatnya mengambil tindakan aman. Saat ini ia tidak sedang menunjukkan ego yang lebih baik, namun menggunakan kelicikannya untuk menaklukkan Hiashi Hyuuga. Saat ini. di tempat ini.
En Oyashiro, nama Tetua itu, menjawab. "Tentu saja bahagia. Sabaku Gaara adalah pemuda tampan dan berkarisma tidak mungkin bagi Hinata untuk tidak bahagia di hadapan pria yang memiliki segalanya."
"Bukankah itu berarti saat kalian sedang merendahkan Hinata?" Sasuke memerhatikan ekspresi Hiashi. Tidak lepas sedetik pun iris gelapnya dari wajah pria itu. Walau samar, ia melihat pupil pria itu bergetar.
Sasuke menambahkan, menatap lurus-lurus Hiashi. Menatap penuh keyakinan dan keteguhan bahwa tindakan Tetua adalah sebuah kesalahan besar "Apa kalian pernah bertanya keinginan wanita itu sendiri? Pada Hinata sendiri?"
Semua tamu yang hadir terdiam. Ucapan Sasuke seakan menusuk dan melukai harga diri mereka. "Bukankah saat ini kau sedang mempermalukan dirimu dan keluargamu?"
"Berhenti bicara penjahat! Kau sedang berada di persidangan!"
Sasuke mengabaikan protes. "Jika kau berada di posisiku, bukankah kau akan melakukan hal yang sama, Tuan Hiashi?"
"Berhenti." Ujar Hiashi lalu berdiri. "Istirahat selama 10 menit."
Penonton riuh rendah ada yang setuju ada yang tidak. Di sisi lain Sasuke terdiam dan menatap rumput. Kepalanya terasa sangat pusing sekarang. Ia merasakan seolah kepalanya dihantam batu. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Ia bahkan tidak yakin mampu mempertahankan kesadarannya hingga akhir persidangan.
Di sisi lain, Hiashi kembali ke ruangannya. Walau ia tidak ingin mengakui, sedikit banyak ucapan pria muda Uchiha itu membekas di benaknya. Bayangannya teringat bagaimana Hinata mematuhi segala ucapannya tanpa menolak seolah seperti anjing yang patuh kepada majikan. Apakah seperti itu cara membesarkan anak? Kedua iris perak itu memandang pigura seorang wanita yang tersenyum teduh. "Hitomi, apakah keputusanku salah?"
"Kau terlalu kaku, Hiashi." Tangan lemah Hitomi pasca melahirkan Hanabi terbayang kembali di benak pria paruh baya itu. Senyum tipis terlukis di wajah ayu Nyonya Hyuuga itu.
"Hitomi… aku tidak bisa hidup tanpamu." Ujar Hiashi lirih, untuk pertama kalinya air mata menetes dari pria yang terkenal akan berhati dingin dan kaku itu.
Hitomi tersenyum. "Jika saat itu kau bingung, ajaklah anakmu bicara. Bukankah dia mewarisi sifat kita berdua?"
Hiashi melihat keluar jendela. Dari ruangannya, ia bisa melihat proses pengadilan yang kini dihentikan sejenak. Dari jauh ia dapat melihat putri sulungnya berlari-lari dengan jaket tebal di rengkuhan ke arah pria Uchiha yang sewaktu-waktu bisa tumbang. Hiashi melihat bagaimana para pengawal mulai menarik paksa Hinata untuk kembali. Perdebatan terjadi di antara Hinata dan pengawal yang sudah dapat ia duga isi dari perdebatan itu.
Ah, sudah berapa waktu ia lewatkan tanpa melihat bagaimana putrinya kini mampu berdiri di atas kaki sendiri? Bagaimana bisa ia buta akan putrinya yang kini tumbuh menjadi wanita yang mengagumkan dan mampu menemukan jati dirinya sendiri. Hiashi merasa tubuh dan matanya lelah. Ia telah melihat banyak hal di dunia yang singkat ini. Kedua iris peraknya menatap kedua tangan yang memiliki beberapa keriput. Betapa usia telah menggerogotinya.
Suara pintu terbuka. Diikuti pertanyaan dari sosok yang ia kenal tanpa perlu membalikkan badan. "Bukankah pria Uchiha hanya menawarkan dunia fana kepada Anda, Tuan Hiashi?"
Neji menambahkan. "Bukankah Anda tidak berpikir betapa ucapan pria itu begitu idealis dan tanpa dasar?"
Hiashi terkekeh lalu berdiri dan berbalik. Ia menatap hangat Neji kemudian menepuk lembut punggung pria muda itu. "Aku tidak menyadari bahwa aku telah setua ini."
Neji hendak memberi perlawanan namun ia urung setelah melihat ekspresi Hiashi. Tidak bisa begini. Bagaimanapun Uchiha brengsek itu harus dihukum! Apa pun yang terjadi! Ia tidak bisa membiarkan Hinata jatuh dengan begitu mudahnya kepada pria yang bahkan tidak sederajat dengan wanita itu. Neji mengepalkan kedua tangan. Saat ini ia tidak memiliki kekuatan di hadapan para penguasa. Ia harus memikirkan cara untuk merebut kembali Hinata untuk menjadi miliknya. Hanya miliknya seorang.
Hiashi kembali ke pengadilan. Para penjaga masih kukuh menghalangi jalan Hinata menemui Sasuke. Bahkan tak segan-segan melawan putri Hyuuga dengan kekuatan. Saat hendak mendorong Hinata sebagai upaya untuk menghalangi, suara lantang Hiashi menghentikan aktivitas yang berlangsung di pengadilan. "Apa yang kau lakukan pada putriku?"
Para tamu menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Hiashi telah kembali duduk di singgasananya. Tatapan dingin Hiashi menghentikan para pengawal yang menghalangi Hinata. Di bawah tatapan Hiashi, para pengawal merasa ciut dan merasa bagai seonggok sampah. Mereka mundur, memberikan akses bagi Hinata.
Tanpa basa-basi Hinata berlari ke arah Sasuke dan membalut tubuh pria itu dengan jaket tebal. "S-Sasuke… m-maaf… maafkan aku…" ujar Hinata panik ketika tak mendapati pria itu bergerak dari posisinya. Hinata mengeratkan jaket di sekeliling Sasuke. Berusaha memberikan kehangatan kepada pria itu.
Hinata berusaha menahan tangis. Ia telah banyak menangis dan tidak bisa berbuat apa pun bahkan untuk melindungi sosok yang menyelamatkannya. "S-sasuke…"
"Tenanglah." Suara parau Sasuke mengejutkan Hinata. kedua iris arang itu menatap Hinata dan menyeringai. "Kembalilah."
Detik berikutnya Hinata dibawa oleh para penjaga untuk kembali ke tempatnya. Hinata menunduk. Ia merasa tidak memiliki apa pun lagi. Jika… jika pengadilan ini benar-benar akan menghukum Sasuke hanya satu pilihan terakhir yang akan ia lakukan. Keluar dari keluarga Hyuuga adalah satu-satunya pilihan terakhir untuk menghentikan hukuman pria itu.
Sekembalinya Hinata, pengadilan kembali dilanjutkan. Kali ini pembaca dakwaan tak lagi bersuara. Saat ini Hiashi yang memimpin dan melanjutkan pengadilan. Pria itu menatap lurus ke arah Sasuke. Mencari keseriusan dan keteguhan jawaban yang akan dilontarkan pria muda itu kepadanya.
Hanya dengan pertanyaan ini yang akan menentukan nasib Sasuke Uchiha. Pertanyaan yang akan menentukan kepada siapa ia akan memasrahkan putrinya. "Apa yang bisa kau lakukan untuk membahagiakan Hinata?"
Hening
Tidak ada suara. Semua orang menanti jawaban Sasuke. Bahkan baik Fugaku maupun Itachi menantikan jawaban Sasuke. Apakah jawaban itu akan membawa Uchiha ke titik terang atau bahkan membuang Uchiha ke jurang tanpa dasar? Saat ini nama dan harga diri Uchiha ditaruhkan di sini.
"Memberikan dunia yang wanita itu inginkan. Itu saja."
Sasuke berganti pakaian. Sialan. Hanya untuk pernikahan palsu saja ia melakukan sejauh ini. Jika tahu akan begini, mungkin dari awal ia telah membatalkan rencana mereka. Sasuke menghela napas. Berpikir mengapa ia melakukan sejauh ini? Bukankah sangat bukan dirinya mencampuri orang lain?
"Kau pikir kau tahu hal yang bisa membahagiakanmu?"
Sasuke menghela napas lalu mengenakan tuksedonya. Lagi-lagi ia teringat dengan masa lalu. Ucapan ayahnya seolah menamparnya saat itu. Namun ia tidak bisa ragu lagi, kali ini ia harus menemukan kebahagiaannya sendiri. Mengikuti jejak dan menjadi anjing ayahnya bukanlah pilihan. Walau ia merasa permasalahan dengan wanita itu terlalu berlebihan dan membuang tenaga, tapi ia tak bisa untuk mundur. Entah. Ia juga tidak tahu. Ada sesuatu di dalam wanita itu yang mengganggunya. Keteduhan dan ketenangan wanita itu seolah membuatnya merasa lebih hidup. Entah mungkin karena saat ini Hinata Hyuuga adalah pilihan kartu terbaik atau memang keberadaan wanita itu memengaruhinya. Setidaknya ia akan mengamati lebih jauh lagi.
Saat keluar ia dikejutkan dengan keluarganya yang datang menghampiri. Ia lega melihat Mikoto yang telah tersadar dan Itachi yang senantiasa menopang ibunya itu. Belum sempat melihat Fugaku, ia merasakan pipinya menyengat. Fugaku menampar Sasuke keras hingga bibir pria itu sobek dan mengeluarkan darah.
Kemurkaan Fugaku tidak lagi disembunyikan. Sasuke bisa merasakan amarah yang meluap dari tubuh pria paruh baya itu. "Apakah selama ini aku mendidikmu menjadi pria dungu seperti ini?!"
Mikoto mencegah dan mengusap lengan Fugaku. "Tenanglah sayang. Berikan Sasuke ruang, ia telah melalui banyak hal."
Fugaku menoleh ke arah Mikoto dan membentak istrinya. Amarah sudah tidak lagi dikendalikan. "Diam Mikoto! Kau selalu membela anak-anakmu! Apa kau tidak sadar betapa keluarga kita dipermalukan di sini?!"
Situasi semakin tegang dan memanas. Tidak ada yang bersuara. Baik Mikoto yang baru saja pulih tak mampu menghadapi amukan suaminya. Ditambah Itachi yang merasa jika ia berbicara akan menjadi target amukan ayahnya selanjutnya.
Sasuke mendecih. Meludahkan darah dalam mulutnya. "Bukankah kau yang ingin bertemu dengan keluarga Hyuuga? Apa sekarang kau panik ketika tahu bahwa Hinata bukan dari kalangan biasa?"
Fugaku sudah bersiap menghajar Sasuke ketika Itachi menahan tangan Fugaku. "Hentikan, Yah. Kita tidak ingin mempermalukan keluarga kita lebih jauh lagi dengan membuat keributan di kediaman orang."
Fugaku berhenti. Ia merapikan jasnya. "Jika kau berbuat kesalahan lebih jauh lagi. Aku akan benar-benar menghapus namamu. Camkan itu."
Fugaku berjalan terlebih dahulu diikuti oleh Mikoto yang berusaha menenangkan amarah suaminya. Itachi menghela napas dan menatap adiknya lelah. "Bisakah kau menahan sifat congkakmu barang sedikit saja? Apa kau ingin memancing semua amarah orang yang ada di sini?"
Tanpa menunggu balasan Sasuke, Itachi pergi. Mengikuti kedua orang tuanya. Walau ia tahu jika Mikoto sangat ingin merengkuh Sasuke, namun itu hanya akan menambah amarah Fugaku dan melukai baik Mikoto maupun Sasuke tidak lagi terhindarkan. Entah mungkin selanjutnya Sasuke akan dibawa ke rumah sakit kali ini. Untuk itu Mikoto memasrahkannya memberi wejangan terakhir kepada Bungsu Uchiha.
Sasuke berdiri di depan ruangan ganti. Tubuhnya masih terasa kaku walau ia telah membersihkan diri dengan air hangat. Ditambah tamparan keras Fugaku yang menambah rasa sakit dalam tubuhnya. Ia butuh nikotin. Hanya rokoklah yang mampu menghangatkan tubuhnya sekarang. Setidaknya sebelum pertemuan antar keluarga dimulai, ia butuh asupan nikotin untuk menjernihkan kepala.
Sasuke mengikuti koridor. Kediaman Hyuuga sangat luas, ia bahkan tidak tahu ruang pertemuan kedua keluarga. Meski begitu tampilan halaman yang indah dengan berbagai tanaman dari balik jendela besar kaca cukup menghibur dan menenangkan hatinya. Ditambah suasana kediaman yang sepi, seolah menyembuhkan jiwa dan raganya yang sedari tadi dilukai. Ia memutuskan untuk keluar dengan maksud menikmati alam di sekitarnya.
"Le-lepaskan kak!" sayup-sayup Sasuke mendengar suara wanita yang meronta. Ia dengan cepat menyembunyikan diri dibalik tembok kayu. Berusaha menghilangkan hawa keberadaannya untuk tidak dikenali.
Sayup-sayup ia mendengar suara kain yang menggesek. Oh? Apakah Klan yang dikatakan terhormat melakukan tindakan asusila di alam terbuka seperti ini? Sasuke berusaha mengintip dan terkejut ketika mendapati sosok yang ia kenal. Saat ini calon istrinya sedang dipojokkan ke tembok dengan seorang pria yang memiliki iris identik dan bersurai coklat panjang. Apa yang sedang pria itu lakukan?
Pria itu hendak mencium Hinata namun wanita itu dengan cepat menghindar. "T-tidak bisa! Ki-kita saudara, Kak!" bibir pria itu kini mendarat di pipi Hinata.
Walau Neji tidak puas, namun setidaknya saat ini ia dapat merasakan kulit lembut wanita itu dalam sentuhannya. Ia tidak sabar ketika seluruh bagian tubuh wanita itu dijamah oleh bibirnya. "Kita hanya berbeda Ayah dan Ibu, Hinata." bisik seduktif Neji. Sebelah tangannya mengunci kedua tangan Hinata di atas kepala. Dengan begini ia bisa mengunci pergerakan wanita itu namun di sisi lain mampu melihat pemandangan menggiurkan di depan mata.
"Kita bisa menikah satu sama lain. Bukankah kau ingin kabur dari perjodohan, hm?"
Hinata menggeleng keras. Air mata telah berkumpul di pelupuk, ia tidak menyangka kakaknya akan melakukan hal seperti ini. Siapakah sosok yang berada di hadapannya? Mengapa tiba-tiba pria itu ingin menikahinya bahkan memaksanya seperti ini?
"A-aku t-tidak bisa… ki-kita tidak bisa, Kak…"
Sebelah tangan Neji mengusap lembut pipi Hinata. Ah, betapa ia sangat menginginkan wanita itu sekarang. Melihat bagaimana wanita itu peduli terhadap pria selain dirinya membuat darahnya mendidih. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia menginginkan wanita itu sekarang. Walau ia merasa rencananya belum tersusun dengan baik, namun melihat wanita itu yang kini sendiri tanpa pengawal memantik nafsunya.
"Kita bisa kawin lari. Tinggalkan Hyuuga dan hidup bersama, hm?" bibir Neji berusaha mendekat membuat sekujur tubuh Hinata gemetar. Di bawah tindakan agresif Neji, ia merasakan takut luar biasa. Saat ini kakak yang selama ini ia percayai dan kagumi menjadi liar dan agresif, hendak melakukan hubungan terlarang kepadanya. Ia takut. Mengetahui fakta bahwa pria itu mendamba dirinya membuat sekujur tubuhnya merinding. Apa yang salah? Apa yang terjadi pada kakaknya?
Hinata menatap Neji lurus-lurus. Menghimpun keberaniannya yang tersisa. "J-jangan sampai kau membuat aku membencimu, Kak Neji."
Neji bergidik. Ah, tatapan tajam ini. seolah memancing hewan buas dalam dirinya. Neji tidak sabar untuk menghancurkan tatapan itu dan menggantinya dengan tatapan penuh gairah. Di bawah kuasanya, ia tidak akan membiarkan wanita itu membuat perlawanan seperti ini. Tidak sekalipun.
"Tuan Neji? Anda dimana?"
Tch. Bedebah mengganggu. Neji melepaskan kurungannya. "Hati-hati Hinata. Ini belum berakhir." Neji pergi meninggalkan Hinata dan menemui sosok yang mencarinya. Saat ini Hinata beruntung karena ada seseorang yang menyela pembicaraan mereka.
Hinata menutup mulutnya. Menahan tangisan yang hendak keluar. belum cukup mentalnya dijungkir-balikkan oleh pengadilan Sasuke, kini ia dihadapkan oleh kerabat yang ingin menjalin hubungan terlarang dengannya. Hinata tidak tahu lagi. Ia merasakan dirinya begitu lelah. Apakah ini harga yang harus dibayar untuk kebebasannya? Apakah ia benar-benar tidak bisa hidup selayaknya manusia pada umumnya?
Pluk
Hinata menoleh dan terkejut mendapati Sasuke yang menyampirkan jasnya di kedua pundak Hinata. pria itu mengembuskan asap rokok dan menatap datar wanita yang tak lebih kacau darinya. "Hubungan terlarang, huh."
Hinata menunduk. Beragam emosi melingkupinya saat ini. Malu karena perbuatan tercela seorang Hyuuga terekspos namun juga sedih dan takut karena orang terdekatnya berubah menjadi seorang monster. "Apa kau menguping, T-Tuan S-Sasuke?"
Sasuke menyandar pada tembok. "Bukan salahku kalian berada di saat aku sedang merokok."
Hinata membuang muka. Ia merasa tidak pantas menghadapi Sasuke saat ini. Pria itu telah mengalami banyak siksaan hanya untuk mempertahankan kebohongan mereka yang akan berakhir hanya dalam waktu 2 tahun. "M-maaf…"
"Aku tahu alasanmu dulu bukan yang sebenarnya." Sasuke menatap kedua iris Hinata. "Mengapa kau ikut agen itu?"
Hinata menggigit bibir kemudian menghela napas. Sepertinya tidak ada satu pun yang bisa ia sembunyikan dari Sasuke Uchiha. "Ketika keluarga konglomerat bersatu, seorang wanita sebagai istri tentu saja harus patuh kepada suami. Seorang Hyuuga yang menjadi istri tidak boleh bekerja baik di luar maupun di dalam rumah tangga. Sudah menjadi tradisi sejak dulu."
Hinata menarik napas dalam-dalam. Hatinya terasa berat membayangkan dirinya yang terkekang. "Tidak boleh keluar sama sekali sebelum diperintahkan. Tidak boleh melakukan hal sebelum diizinkan, kami hanya diizinkan untuk berada di kamar untuk memuaskan suami dan memberikan keturunan."
Hinata tidak bisa menahan tangisnya. Ia merasa lelah sekarang. Beban mental yang ia rasakan sejak sebulan yang lalu hingga kini akhirnya mampu ia lepaskan. Ia lelah menjadi Hyuuga. Ia lelah menjadi manusia. Betapa ia sangat ingin melakukan hal yang ia senangi. Betapa ia ingin mengeksplorasi dunia lebih jauh lagi. Beban yang ia dapati sekarang menjadi Hyuuga, seorang wanita, hingga beban hubungan terlarang yang hendak dipaksakan begitu memberatkannya. Ia lelah. Lelah sekali.
Sasuke menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi Hinata dan membawa wanita itu ke dalam rengkuhannya. Membiarkan wanita itu mengeluarkan seluruh emosi yang terpendam selama ini. mendengar dan melihat langsung membuat Sasuke sadar atas beban dan penderitaan wanita itu. Mereka adalah dua manusia yang begitu berbeda, tinggal di lingkungan yang sangat berbeda, namun memiliki satu tujuan yang sama. Menjadi seorang manusia seutuhnya. Tidak dikendalikan maupun mengendalikan. Hidup dengan berdiri di atas kedua kaki sendiri.
"Kau manusia. Dan kau istriku."
Hinata tidak tahu betapa mendengar ucapan itu begitu menenangkan hatinya saat ini.
Alih-alih mendatangi tempat perjamuan, Sasuke dan Hinata duduk di beranda yang menghubungkan halaman dan bagian dalam rumah. Setelah aksi yang bagi Hinata memalukan yaitu menangis di hadapan Bungsu Uchiha, Hinata memutuskan untuk mengobati luka di sudut bibir pria itu. Hatinya terasa sakit ketika cobaan tak hentinya menimpa pria itu.
"M-maaf… m-maafkan aku… tidak seharusnya aku mengatakan itu…" ujar Hinata setelah membubuhi luka Sasuke dengan antiseptik.
Sasuke mendesis akibat rasa perih yang ia terima. "Itu adalah pilihanku."
Hinata membereskan kotak P3K sambil menunduk. Tak berani menatap Sasuke. "Tidak seharusnya aku mengatakan hal bodoh seperti itu. Ma-maaf… karena aku… karena ke-kebodohanku…"
Sasuke menghela napas kasar. Sampai kapan wanita itu akan merasa bersalah. Walau pengadilan tadi menyebalkan. Namun ia cukup senang dengan hiburan yang ia dapatkan. Tidak mengira jika kepala Daerah Utara akan takluk dengan ucapan sarkasmenya.
"A-aku begitu bodoh dan berpikir semuanya bisa selesai dengan berkata seperti itu." Racau Hinata frustrasi. Jika saja ia lebih pintar dalam memberi alasan, ini tidak akan terjadi. Sasuke tidak akan dihukum dan pria itu tidak akan dilukai oleh ayahnya sendiri.
Sasuke mengangkat wajah Hinata. "Lihat aku." kedua tangan hangat Sasuke merangkum wajah Hinata. memaksa wanita itu untuk melihat dirinya seorang.
Hinata menatap kedua iris arang Sasuke, namun rasa bersalah tak hentinya muncul melihat luka dan memar di pipi pria itu. "M-maaf… maafkan aku…"
"Diamlah."
Kedua air mata kembali menetes. "M-maaf… m-maafkan diriku yang tidak berguna."
"Hinata."
"M-maa–"
Hinata membelalakkan apa yang terjadi? Mengapa wajah Sasuke dekat sekali? Ia bahkan bisa melihat refleksi di kedua iris arang pria itu. A-apa yang terjadi? Lidah Hinata kelu, tak mampu berucap, seolah ada yang menahan agar bibirnya tidak berbicara. Bibirnya terasa dingin akibat benda kenyal yang menempel pada bibirnya saat ini. A-apa yang terjadi? Ketika Hinata merasakan gerakan kecil di bibirnya, ia baru menyadari. Saat ini, ketika dirinya begitu kacau dan tak menentu, Sasuke Uchiha menciumnya. Menempelkan bibir dingin pria itu kepada bibirnya yang hangat.
Apakah ini yang dinamakan ciuman? Apakah ini rasa dari sebuah ciuman? Ia tidak membayangkan ciuman pertamanya akan terasa dingin dan asin akibat air matanya sendiri serta berbau alkohol. Ia pikir jika ciuman pertama harus dilakukan oleh orang yang saling mencintai di bawah cahaya senja. Jika begitu, mengapa Sasuke menciumnya?
Sasuke melepaskan tautan di bibirnya. Ia menempelkan dahinya kepada dahi Hinata. Menghirup aroma lavender wanita itu dalam-dalam, memandang wajah teduh wanita yang tak pernah membuatnya bosan. Hanya dengan menghirup aroma wanita itu, ia dapat merasakan ketenangan dan kedamaian dalam hati dan jiwanya. Menenteramkan emosinya yang bergemuruh dan porak-poranda sejak persidangan dan perlakuan Fugaku.
"Akhirnya diam, hm?" bisik parau Sasuke membuat Hinata kembali sadar dari lamunan. Kedua iris peraknya menatap kedua iris arang yang menatapnya lekat.
Hinata mengerjapkan mata, membuat air mata yang tertampung membasahi kedua pipi. "A-apa S-Sasuke m-mencium s-saya?"
Jemari panjang mengusap lembut kedua pipi Hinata. "Ya. Aku menciummu, Hinata."
"M-mengapa?" Napas Hinata tercekat. Jawaban Sasuke membuatnya pening. Jantungnya berdetak kencang mendengar pengakuan Sasuke namun di sisi lain ia bingung.
Ia paham betul jika pria itu tidak mencintainya. Bahkan ia telah melukai pria itu dan mengapa pria itu membalas dengan afeksi yang seharusnya dicurahkan kepada orang terkasih dan jauh lebih berharga daripada dirinya? "B-bukankah s-saya–"
"Jika kau merasa bersalah–" Sasuke mendekat. Kedua bibir mereka berjarak kurang dari satu senti, ia bahkan dapat merasakan gesekan lembut bibir wanita itu. "–izinkan aku menciummu."
Sasuke mencium bibir Hinata. Kali ini tidak hanya sekadar bersentuhan, namun juga merasakan. Bentuk, tekstur, dan rasa dari bibir wanita itu. Betapa bibir Hinata begitu indah, seksi, nan menggoda. Tidak terhitung berapa banyak ia membayangkan bibir wanita itu memuaskan dirinya dengan berbagai cara oleh sentuhan-sentuhan lugu dan amatir. Bagaimana bibir itu memuaskan batang, menyentuh kulit panas tubuh, maupun beradu dengan bibirnya. Mencari kenikmatan satu sama lain. Dan kini bibir wanita itu ada dalam kuasanya, mendominasi bahkan mengeksploitasi setiap inci bibir wanita itu.
"Ngghhh..." erang Hinata. Tubuhnya memanas akibat cumbuan liar Sasuke. Merasakan bagaimana bibir Sasuke mengeksploitasi membuat perutnya bergejolak. Rasa tidak nyaman namun di sisi lain gejolak muncul dalam dirinya. Gejolak tabu yang menginginkan lebih.
Bibir Hinata begitu lembut, hangat, dan juga lembap. Terasa manis namun juga memabukkan. Namun juga begitu sensitif yang menggairahkan. Bagaimana cumbuan Sasuke mampu membuat wanita itu melenguh dan mengerang dalam panasnya ciuman. Seolah pasrah dan menyerahkan diri dalam kuasa Bungsu Uchiha.
Tak tinggal diam, Sasuke menghisap setiap belah bibir wanita itu. Tak membiarkan satu pun tak terjamah oleh bibirnya. Gigi Sasuke tak bergerak, menggigit pelan bibir bawah wanita itu, memaksa untuk memberikan ruang agar mampu menjelajah semakin dalam. Sasuke dapat merasakan Hinata yang tidak berdaya. Wanita itu tak lagi memberikan penolakan, seolah pasrah akan dirinya yang perlahan namun pasti dimonopoli oleh Sasuke. Hal itu membuat Sasuke merangsek maju. Merangkul erat pinggang Hinata, menempel kedua tubuh mereka lekat. Tak memberikan jarak kecuali pakaian mereka. Ia dapat merasakan buah dada Hinata menempel lembut tubuhnya. Begitu menggoda dan merangsangnya.
Lidah Sasuke tak tinggal diam. Bergerilya dan berdansa, seolah mencari mangsa untuk didominasi, dinodai, dan dicabuli dengan bergairah. Lidah Hinata yang pasif hanya pasrah ketika pria itu dengan lihai memainkan lidah itu dengan lilitan-lilitan lincah nan menggoda. Seolah mengetahui semua titik sensitif wanita itu.
"Mmnghhh..."
Hinata yang tidak tahan atas sensasi sentuhan dan rangsangan Sasuke hanya bisa pasrah dan melenguh. Kedua tangannya mencengkeram kemeja bagian dada Sasuke. Menyalurkan kenikmatan akibat sentuhan liar nan nakal yang dilancarkan Sasuke. Pikirannya kosong seolah lumpuh. Kenikmatan ini begitu membutakan, menenggelamkannya ke daerah terlarang. Perasaan yang tidak diketahui muncul dalam benaknya. Perasaan untuk dinodai, didominasi, dan sesuatu yang begitu dosa untuk dirinya yang lugu.
"A-ah... Sasuh..." lenguh lembut Hinata seolah membangkitkan semangat dari dalam Sasuke untuk semakin mencumbu wanita itu. Ia memperdalam ciuman itu. Lidahnya bergerak semakin liar, cepat, brutal. Menyentuh setiap titik sensitif wanita itu. Membuat Hinata mengerang tak karuan.
"Nghgahhh...!"
Wanita itu kini benar-benar tidak mampu untuk melawan dan telah jatuh ke dalam pelukan Sasuke. Dengan cepat menurunkan kimono wanita itu. Menampakkan pundak dan tulang selangka putih bersih. Seolah menggodanya untuk menandai dan menodai kulit seputih salju itu. Perlahan jemarinya mengusap tulang selangka wanita itu perlahan. Merasakan halus kulit itu bersentuhan dengannya. Ia dapat merasakan Hinata berjengit dan gemetar saat jemari panjang nan ramping Sasuke yang dingin menyentuh kulit wanita itu yang hangat. Kedua paha Hinata saling menggesek rapat, merasa sebuah keganjilan dari pangkal paha yang berkedut.
Sasuke melepaskan ciumannya namun tak bergerak terlalu jauh dari Hinata. Ia dapat melihat kedua iris perak yang itu diselimuti oleh nafsu dan sorot mata seolah tidak mengetahui apa yang terjadi dan dialami oleh tubuh wanita itu sendiri. Bibir wanita itu kini membengkak dan basah oleh kedua saliva mereka yang saling bertaut, warna merah begitu kontras dengan kulit wanita itu membuat Sasuke terangsang untuk kembali menghisap kedua belah bibir plum itu.
"S-Sasu... k-kumohon..." pinta Hinata di sela-sela napas yang tidak beraturan. Melihat bagaimana wanita itu memohon membuatnya hilang akal. Betapa saat ini ia ingin merobek kimono wanita itu, memenuhi setiap inci dengan tanda kepemilikan, dan mengisi rahim wanita itu dengan spermanya berulang kali. Betapa kejantanannya saat ini haus untuk segera berada dalam liang hangat surgawi wanita itu. Berhasrat untuk bersarang di kewanitaan hangat dan ketat itu. Mengetahui bahwa Hinata yang masih baru akan dunia yang kental akan gairah dan nafsu membuatnya menegang. Menghasilkan fakta bahwa penisnya akan dicengkeram dan dihisap begitu kuat seolah tidak dibiarkan keluar oleh vagina perawan yang masih belum terjamah membuat tubuhnya panas akan gairah.
Namun saat ini ia harus mati-matian menahan hasratnya yang menggebu-gebu. Saat ini, wanita itu belum siap. Belum siap menerima curahan gairah dan hasrat yang membutakan dan hilang akal hingga rela untuk kesucian dicemari bahkan dinodai dengan dosa-dosa yang haus akan kenikmatan duniawi olehnya.
Sasuke menempelkan dahinya dengan Hinata. Menghirup dalam-dalam napas wanita itu yang begitu wangi, memabukkan, namun di saat bersamaan menenangkan gairahnya yang memuncak. "Ada apa, Nata?" Sasuke tidak menyangka suaranya terdengar begitu parau dan berat.
Kedua iris arang itu mencari-cari di kedua iris perak yang kini menatapnya. Kedua iris perak Hinata tak pernah membuatnya bosan. Begitu suci, jujur, dan lugu. Namun di saat bersamaan memancarkan sinar yang begitu indah dan menawan.
"Apa yang kau inginkan, Hinata?"
Hinata menggigit bibir. Mendengar suara Sasuke yang lebih parau dan berat membuatnya menggigil. Seolah memancing sesuatu di dalam dirinya. "A-apa c-ciuman p-pertama s-seperti ini?"
Hinata meneduhkan pandangan. Tak berani menatap netra arang yang kini gelap sempurna seolah hendak memangsanya. "R-rasanya b-begitu a-aneh."
Sasuke menarik napas cepat. Baru saja menenangkan diri dan kini wanita itu memancing dengan menggigit bibir dan mengajukan pertanyaan polos seperti itu. Jemari panjang Sasuke menyentuh bibir kenyal Hinata, berusaha melepaskan dari gigitan gugup wanita itu. "Jangan."
Ketika netra perak kembali beradu dengan netra arang, Sasuke berbisik. "Kau suka?"
Hinata berusaha memalingkan wajah namun saat ini kedua tangan Sasuke merangkum wajahnya. Menggigit bibir pun tidak bisa karena jemari pria itu senantiasa bertengger di bibirnya. Wajahnya memerah padam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ciuman itu begitu aneh dan terasa terbuka, ia tidak tahu apa yang dirasakannya. Namun ia tidak membencinya. Ia c-cukup me-me–
"Kak!"
Detik selanjutnya kedua sejoli yang sebelumnya tidak ingin berpisah walau ada hujan meteor segera memberikan jarak yang besar. Lebih tepatnya Hinata yang beringsut menjauh. Sedangkan Sasuke hanya bersedekap. Pria itu menoleh ke arah Hanabi yang mengacaukan keintimannya dengan Sulung Hyuuga sedangkan Hinata membelakangi Hanabi dan merapikan pakaiannya.
Hanabi menganalisis situasi. "Apa aku mengganggu?"
Sasuke menghela napas dan berdiri dari duduknya. "Sangat." Sasuke melirik Hinata yang diam-diam melirik Sasuke. Seolah khawatir pria itu akan mengatakan hal gila. "Sesuatu menarik baru saja akan terjadi." Melihat leher dan telinga wanita itu yang memerah membuatnya terkekeh.
Setelah Hinata merapikan pakaian dan berdiri dengan dibantu Sasuke, Hinata menghadap Hanabi. "Ada apa Hanabi?"
"Semua keluarga sudah menunggu. Pembahasan mengenai pernikahan akan segera dilakukan." Jelas Hanabi. Hinata segera menarik tangannya dari Sasuke dan berjalan mendahului Hanabi dengan kikuk.
"K-kalau be-begitu a-ayo." Hinata dengan cepat menghilang dari pandangan. Tampak jelas jika wanita itu terpengaruh oleh tindakan Sasuke. Sasuke menyeringai lebar. Betapa rasanya ia ingin tertawa kesetanan melihat tingkah malu wanita itu.
"Apa ada yang terjadi?" tanya Hanabi bingung.
Sasuke mengusap surai Hanabi kasar. "Terima kasih atas gangguannya, Adik Ipar." Sasuke berjalan diikuti Hanabi yang bersungut kesal.
"Siapa yang kau panggil adik ipar?!"
TBC
*Seppuku = ritual bunuh diri dengan menusukkan pedang ke perut dan mengeluarkan usus sebagai bentuk pemulihan nama baik setelah gagal melaksanakan tugas.
Oh iya, adakah yang tahu kenapa archive Indonesia SasuHina di FFn sepi? Padahal kalo di archive english cukup ramai bahkan cerita-cerita yang ada bagus-bagus dan masih terus update. Saya nggak tahu apakah karena author INA pada pindah lapak ke wattpad atau gimana, padahal dulu di FFn ramai dan banyak cerita yang bagus-bagus.
Semoga kissing scenenya memuaskan kalian. Suasana semakin memanas karena bentar lagi sampai kepada inti cerita. Sekian dari saya dan terima kasih!
