SetsunaZ1 Present

...

...

Naruto ©Masashi Kishimoto

Fate series ©Type-moon

Dan beberapa chara yang di pakai di dalam fic ini adalah milik Author mereka dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.

...

...

Summary :

Pertarungan datang silih berganti namun pasukanku tetap abadi. Ini bukan lagi sebuah kisah tentang seorang pemuda yang mencari arti dari keluarga dan bukan juga cerita seorang berandalan yang bertindak tanpa pikir panjang. Tapi, ini adalah sebuah kisah tentang darah, keringat dan air mata dalam menegakkan keadilan dan juga membuat dunia kembali aman.

...

...

#StayAtHome

...

...

Chapter 9

...

Haneda Internasional Airport.

29 Desember 2016

Seorang pemuda berambut hitam berjalan dengan santai menuju tempat Check-in pada bandara tersebut. Pemuda itu adalah Kaito yang mengenakan sebuah jaket berwarna hitam dan juga Syal yang melindungi tubuhnya dari hawa dingin di penghujung tahun. Kaito hanya menghela nafasnya lelah, Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan teman-temannya namun ini ia lakukan semata-mata untuk keselamatan mereka.

"Sayonara, Minna! Maafkan aku karena tidak bisa mengatakan selamat tinggal." Ujar Kaito dengan wajah yang sedikit sedih lalu mengenakan topi kupluk miliknya dan bersiap saat mendengar pengumuman penerbangan selanjutnya.

'Penerbangan Lintas Negara, Japan-Amerika dengan tujuan Tokyo-Las Vegas akan berangkat dalam 5 menit. Diharapkan para penumpang untuk bersiap di tempat duduk.'

Yup,Kaito akan pergi menuju Vegas dan menjalankan misinya seorang diri. Dirinya sudah memiliki tekadnya sendiri dan ia akan terus bertahan hidup apapun yang terjadi sampai teman-temannya datang. Karena itulah ia harus mengumpulkan semua bukti yang ada dan membongkar sindikat internasional ini.

Pemuda itu duduk di kursi penumpang yang menghadap ke luar jendela. Hari-hari yang damai sudah ia lewati selama tiga bulan terakhir dan sekarang ia harus kembali menjadi dirinya yang dulu. Menghirup nafas dalam-dalam lalu menbuangnya secara perlahan dan mulai menarik sebuah file dari dalam tas miliknya. File itu berisi informasi yang ia kumpulkan sendirian dan informasi itu ia dapatkan dari beberapa Informan yang merupakan kenalannya.

"Las Vegas, Kota yang berada di negara bagian Nevada ini di kuasai dua kelompok yang saling bermusuhan. The Immortal Sect yang mana merupakan organisasi boneka Crimson Moon dan juga Triad yang juga menguasai setengah Las Vegas. Dalam beberapa tahun terakhir, Kedua kelompok ini saling menjaga jarak dan batas kekuasaan masing-maskng namun beberapa bentrokan kecil sering terjadi antar anak buah..." Pemuda itu tersenyum melihatnya, Dua kelompok yang sangat besar dapat di manipulasi sedemikian rupa hingga menyebabkan perpecahan di dalamnya. Dan di situlah dirinya berperan, mengadu domba beberapa petinggi dan menjadikan mereka sebagai pion yang menari di atas telapak tangannya.

"Triad, Sebuah kelompok persaudaraan yang di bentuk etnis China dan pastinya berpusat di Pecinan. Kelompok yang menjunjung tinggi tali persaudaraan yang mana sangat mudah untuk di manipulasi."

Merasa cukup, Kaito menutup file itu dan menaruhnya kembali dan mulai memikirkan beberapa rencana agar ia tetap aman hingga ia terlelap menuju alam mimpi.

...

...

29 Desember 2016

Nerima, Japan.

Dihari yang sama, Nerima. Puluhan pemuda-pemudi sedang berlari dalam sebuah barisan panjang. Matahari berada tepat di atas kepala mereka namun angin dingin di penghujung tahun membuat mereka tetap merasakan hangat walaupun berada di tengah-tengah salju sekalipun. Uap keluar dari mulut mereka walaupun nafas mereka terengah-engah, Mereka semua tetap berlari di awasi empat orang dengan pakaian dinas ketentaraan.

"Bagaimana menurutmu, Letnan Nobunaga?" Merasa namanya dipanggil Letnan itu menolehkan kepalanya ke samping. Disampingnya ada seorang pria tegap dengan brewok yang menghiasi rahangnya yang kokoh, tubuh pria itu terlihat sangat ideal untuk ukuran seorang pria dan juga pandangan wajahnya selalu serius.

"Letnan Asuma? Yah, Pada awalnya aku terkejut saat mendapati surat dari Jendral Kotaro dengan perintah melatih anak-anak amatir ini. Belum lagi, misi yang tidak main-main karena mungkin saja keselamatan dunia berada di bahu mereka semua." Ujar Letnan wanita itu. Pupil mata yang berwarna merah terus melihat ke arah kelompok yang berada di bawah pengawasannya. Tak jarang, ia menghela nafasnya karena takjub melihat stamina perempuan dalam kelompok tersebut pasalnya mereka semua sudah berlari selama dua jam lamanya di bawah udara dingin tanpa ada tanda-tanda kelelahan.

"Reputasi mereka tidak bisa di anggap remeh. Walaupun mereka hanyalah sekelompok bocah ingusan tapi aku mengakui kehebatan mereka." Seorang Pria dengan wajah sangar dan juga bekas luka akibat tebasan senjata tajam di wajahnya datang dari belakang bersama seorang pria berambut merah maroon. Pria itu membawa empat buah cangkir besi di atas nampan, 3 cangkir berisi Kopi panas dan 1 cangkir berisi coklat panas, tentunya untuk Letnan Nobunaga.

"Letnan Leonidas dan juga Letnan Ibiki?" Melihat coklat panas itu, Letnan Nobunaga Langsung mengambilnya tanpa permisi dan melanjutkan kalimatnya. "Hmm.. Jika kalian sampai berfikir demikian berarti Jendral Kotaro tidak salah memilih mereka. Bahkan membuat Letnan Ibiki berkata demikian." Ujarnya lalu mulai menyeruput coklat panas dari cangkirnya.

Priiiittt...

"Istirahat selama 5 menit!" Semua orang yang mendengar teriakan lantang itu berhenti dari lari mereka, tentunya dengan nafas terengah-engah. Berlari di luar ruangan dengan suhu 12°C membuat tekanan pada paru-paru mereka menjadi semakin berat tentunya karena perintah dari pembimbing mereka untuk berlari sampai mereka mengizinkan untuk berhenti.

"Kami akan melatih kalian selama 5 bulan dan mengasah kalian untuk menjadi lebih, lebih dan lebih baik lagi dari yang sekarang ini. Kalian akan mendapatkan bimbingan berupa simulasi tempur, simulasi penyelamatan sandra dan juga berbagai simulasi yang akan di ajarkan kepada kalian. Ada pertanyaan?" Pandangan Asuma teralihkan saat melihat seorang gadis mengangkat tangannya ke atas. Gadis yang memiliki para cantik dengan rambut blonde panjang hingga menyentuh bolong bokongnya.

"Izin bertanya Letnan! Anggota kami kurang 1 orang dan sampai saat ini dirinya belum hadir." Tanpa pikir panjang, Asuma mengeluarkan sebuah dokumen yang ada di sebuah papan. Dokumen itu berisi nama dan juga data dari orang-orang yang mengikuti pelatihan mereka.

"Baiklah, aku akan kembali menyebutkan nama kalian dari daftar ini."

"Yamashiro Akira, Perempuan, 20 tahun."

"Matsumoto Kei, Laki-laki, 20 tahun."

"Chihiro Rei, Perempuan, 19 tahun."

"Ryuichi Sano, Laki-laki, 20 tahun."

"Rokuyama Tanaka, Laki-laki, 21 tahun."

"Namiboku Isihige, Laki-laki 19 tahun."

"Yonemura Okura, Laki-laki, 19 tahun."

"Takeda Oribe, Perempuan, 19 tahun."

"Masamune Makabe, Laki-laki, 20 tahun."

"Osya Navarona Nikolya, Perempuan, 20 tahun."

"Fujiwara Rei, Laki-laki, 20 tahun."

"Momoko Usagi, perempuan, 21 tahun."

"Hijima Ryukki, Laki-laki, 20 tahun."

"Sakamura Hito, Laki-laki, 19 tahun."

"Katsumi Nakano, Perempuan, 20 tahun."

"Tachibana Kuro, Laki-laki, 19 tahun."

"Keichiro Lio, Laki-laki, 19 tahun."

"Shihiro Botan, perempuan, 20 tahun."

"Mizu Kitsuki, perempuan, 21 tahun."

"Haku Miyuki, Perempuan, 20 tahun."

"Himejima Fubuki, Perempuan, 20 tahun."

"Hyuku Omoi, Laki-laki 21 tahun."

"Yamamuro Takauji, Laki-laki, 19 tahun."

"Toshihiro Nemu, perempuan, 19 tahun."

"Toshihiro Ikuko, Laki-laki, 21 tahun."

"Toshiyuki Ban, Laki-laki, 20 tahun."

"Tsukiyono Ayumu, perempuan, 20 tahun."

"Ishihara Mei, Perempuan, 20 tahun."

"Kirigawa Yamazaki, Laki-laki, 19 tahun."

"Akigaya Muranashi, perempuan, 20 tahun."

Setelah membaca list yang berisi tiga puluh pemuda dan pemudi di dokumen tersebut, Asuma kembali membaik halaman dan membaca nama-nama yang tertera dari atas sampai bawah untuk kedua kalinya.

"Uzumaki Naruto, Laki-laki, 20 tahun."

"Uchiha Sasuke, Laki-laki, 20 tahun."

"Yamanaka Ino, Perempuan, 20 tahun."

"Nara Shimakaru, Laki-laki, 20 tahun."

"Akimichi Chouji, Laki-laki, 20 tahun."

"Hyuga Neji, Laki-laki, 21 tahun."

"Ten Ten, Perempuan, 21 tahun."

"Rock Lee, Laki-laki, 21 tahun."

"Aburame Shino, Laki-laki, 20 tahun."

"Hyuga Hinata, Perempuan, 20 tahun."

"Kiba Inuzuka, Laki-laki, 20 tahun."

"Akuta Hinako, Perempuan, 21 tahun."

"Fujimaru Ritsuka, Laki-laki, 20 tahun."

"Dan sebagai personel tembahan. Emiya Shirou, Laki-laki, 20 tahun."

Merasa tidak ada yang harus ia sebutkan lagi, Asuma menyerahkan list nama itu pada Letnan Ibiki disampingnya. Lis nama yang menjadi peserta pelarian yang atas usulan Jendral Kotaro.

"Hanya itu saja nama-nama yang di berikan oleh Jendral Kotaro pada kami untuk menjalani pelatihan. Aku harap tidak ada lagi pertanyaan ataupun protes dari kalian. Lalu, Mohon kerja sama dari kalian selama 5 bulan ini." Ucap Asuma dan seketika Pria itu mundur dari barisan depan dan seorang Pria yang memiliki wajah tegas dan juga sangar maju ke depan.

"Pasukan pelatihan ku ambil alih! Istirahat sudah selesai dan sekarang kita akan berlatih seni bela diri tangan kosong. Ada yang ingin menjadi sukarelawan?" tanya Pria itu dan belum ada yang mengajukan diri. Namun, beberapa detik kemudian seseorang mengangkat tangannya.

Seorang pemuda berambut hitam dengan mata biru mengajukan dirinya. Tubuh tegap tanpa banyak otot yang membebani pergerakan, bisa di bilang pemuda sangatlah sempurna.

"Kadet Takauji, Pak! Aku ingin mencoba bertarung dengan seorang Letnan dari JSDF." Ujar pemuda itu.

Sekarang semua orang sedang duduk di pinggiran lapangan setelah mendengar instruksi dari pelatih mereka. Kedua laki-laki itu sedang berhadapan, satu lawan satu.

"Ingat, aku tau kalian sudah terbiasa untuk bertarung karena kalian adalah pejuang di jalanan dan kalian juga memiliki ciri kalian sendiri. Disini kami akan mengajarkan kalian bagaimana cara agar meminimalisir serangan lawan. Baiklah, Takauji-kun coba serang!"

Takauji yang mengerti langsung menyerang dengan sebuah tinju lurus ke depan dengan tangan kanannya. Namun, pemuda itu menghentikan serangannya dan melontarkan sebuah uppercut dengan tangan kirinya.

Tap...

Semua orang terkejut kecuali para instruktur yang memang tau akan terjadi hal tersebut.

"Kalian mungkin terbiasa untuk menyerang tapi apa kalian terbiasa untuk bertahan dan menghindari serangan?" ucapnya dan kemudian melepaskan tangan Takauji yang sedari tadi ia cengkram.

"Nah, sekarang ayo kita serius. Serang aku dan coba kau bertahan dari serangan ku juga."

Takauji hanya menganggukan kepalanya dan menyerang dengan sebuah tinju lurus ke depan untuk kedua kalinya.

Tap... Srertt... Buagh...

Namun, seketika lengan Takauji di genggam dan tapak tangan menyerang lurus menuju dagunya membuat pemuda itu terpental dan jatuh dalam keadaan terlentang.

"Begitulah, kami tidak mengajarkan kalian melindungi diri kalian tapi kami mengajari kalian cara untuk bertahan hidup. Tadi adalah tapak tangan bisa kalian bayangkan bagaimana jika sebuah belati yang menyerang dagu dan rahang bawah Takauji-san? Yah, ada kemungkinan dia akan mati karena belati tersebut menembus tengkorak sampai otaknya."

Semua anggota Kitsune terdiam dan merenungkan apa yang dikatakan oleh instruktur yang ada di hadapan mereka saat ini. Ini bukan lagi misi yang mengutamakan kekuatan tinju tapi misi yang mengutamakan keselamatan diri dan juga nyawa masing-masing.

"Sekarang aku, Letnan Leonidas akan melatih kalian para pria untuk melindungi diri kalian. Dan, para wanita akan dilatih oleh Letnan Nobunaga yang ada disana." Para gadis itu langsung menolehkan wajah mereka pada seorang wanita yang memiliki rambut hitam panjang yang indah dan sedang tersenyum kecil melihat mereka semua.

"Lalu pelatihan atas senjata perlindungan diri akan di latih oleh Letnan Asuma dan sebagian akan melanjutkan pelatihan untuk menjadi Base info yang memobilisasi petugas lapangan yang dibimbing Letnan Ibiki. Kalian mengerti?" ucapan Letnan Leonidas di akhir katanya sedikit di keraskan.

"Siap, mengerti!"

"Kurang Keras! Kalian mengerti?"

"SIAP MENGERTI, PAK!"

...

...

McCarran International Airport

Las Vegas, Nevada, United States

Bandara, salah satu dari sekian banyak tempat umum di mana banyak orang berlalu lalang di dalam Hall bandara tersebut. Berada di dekat area metropolitan dan juga jantung negara bagian Nevada membuat bandara tersebut lumayan sibuk. Iklim di Nevada sedikit hangat di bandingkan negara bagian lainnya walaupun masih berada di suhu 23°C.

"Sekarang aku sudah sampai, mencari tempat untuk berteduh lalu mencari informasi." Ucap seorang pemuda yang sedang melepas syal nya karena udaranya lumayan hangat bagi orang yang terbiasa dengan panasnya iklim tropis di Indonesia. Pemuda itu berjalan keluar dan menuju sebuah taksi yang menawarkan jasa antar.

"Pak, Kau tau dimana tempat aku bisa menyewa rumah di sekitar sini?" Ujar Kaito, dan supir taxi itu sedikit mengerutkan dahinya karena bahasa inggris yang ia dengar dari pemuda itu tampak kacau.

"Where you come from?" Tanya supir itu dan Kaito menjawab kalau ia berasal dari Indonesia.

"Ahh... Kau sangat jauh dari rumah, nak. Masuklah! Aku juga bisa menggunakan bahasa Indonesia, silahkan duduk."

"Oh.. Oke." Kaito langsung masuk kedalam. Taxi tersebut dan pergi menjauh dari bandara. Dalam perjalanan menuju agen penyewaan rumah, supir itu selalu mengajak Kaito mengobrol dan ia ingin sekali pergi ke Indonesia yang terkenal akan pemandangannya yang indah. Perjalanan tersebut tidak terasa membosankan karena adanya lagu retro yang di putar dan juga obrolan ringan.

Di sebuah lampu merah mereka berhenti dan terdengar suara tawa dan juga jeritan dari gang kecil di samping jajaran gedung.

"Hmm... Siapa mereka, pak?" tanya Kaito saat melihat gerombolan orang-orang sedang mengahajar seorang pemuda dari etnis China di sebuah gang kecil.

"Mereka adalah anggota mafia yang bergerak di balik bayangan besar kota Las Vegas. Aku sarankan kau untuk tidak berurusan dengan mereka." Ucap supir itu namun sayangnya supir itu terlambat karena Kaito sudah turun terlebih dahulu dan menerjang kelompok pemuda yang memukuli orang China itu.

'Jika dia adalah anggota Triad maka aku memiliki kesempatan untuk mengendalikan Triad dari dalam bayangan.'

"Sialan! Beraninya kau!" Pemuda itu berteriak dan mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya namun Kaito tidak gentar sama sekali. Pemuda itu berusaha menusuk Kaito dengan tusukan lurus menuju perutnya namun tangan Kaito bergerak dengan cepat dan memelintir tangan pemuda tersebut lalu memutar tangannya hingga pisau yang di arahkan berada di leher orang di hadapannya.

"Let him go and i will let you go! Now!" Teman-teman pemuda itu langsung saja melepaskan pemuda China tersebut dan mendekat ke arah Kaito.

Buagh...

Kaito mengambil pisau lipat dari tangan pemuda itu dan membawa pemuda China itu pergi bersamanya dan langsung memasuki taxi yang menunggu mereka.

"Thanks dude, i will remember this. Thanks." Ujar pemuda China itu di dalam taxi dan di bangku supir, supir itu melihat ke arah spion belakang dengan pandangan cemas.

"Kau melakukan kesalahan disini. Mereka tidak akan melepaskanmu begitu saja bahkan polisi di kota ini saja tidak ingin berurusan dengan mereka."

"memang kenapa?"

"Itu karena bos mereka. Nama mereka adalah Hidan dan Kakuzu. Hidan dulunya seorang pemimpin sebuah geng yang berhasil menyatukan Nevada dalam waktu kurang dari lima bulan, lalu Kakuzu adalah seorang pengusaha yang sangat hebat tersebar rumor di internet kalau Kakuzu adalah seorang penjual senjata ilegal tapi seketika rumor itu hilang bersama dengan pengelola akun tersebut."

"Hmm.. Kakuzu and Hidan? Relax brother, Kakak ku yang akan menangani masalah ini, kau hanya tunggal duduk santai saja." Ujar orang China itu.

"BY the way, nama ku Liu Chang, Nama mu?" Tanya Chang pada Kaito dan supir itu hanya diam saja mendengarkan.

"Namaku Sakamoto Kaito. Tunggu dulu, kakak mu? Siapa dia?" Tanya Kaito dan Chang menjawab pertanyaan itu dengan wajah yang sangat bangga.

Saudara Chang bernama Liu Chen, Chen adalah pemimpin dari kelompok Triad di Nevada ini. Kalau saja, Kakuzu dan Hidan tau kalau Kaito menyerang anak buah mereka maka Chen akan maju bersama pasukannya karena anak buah Kakuzu menyerang adik mereka yang notabenenya adalah Chang. Jadi, jalan yang keluar adalah damai karena kedua bagian itu sama-sama salah. Kecuali, Chang tidak menerima dan mengakui Kaito bagian dari Triad.

'Gocha! Seperti dugaanku dan lagi Ini adalah tangkapan yang besar. Tak ku sangka kalau dia adalah adik dari pemimpin Triad.'

Las Vegas Downtown

Di sebuah ruangan yang tidak di ketahui letak pastinya, tiga orang pemuda sedang berdiri dengan kepala terunduk menghadap pemimpin mereka, Hidan.

"Idiot! Lemah! Tiga orang tidak bisa menghadapi seorang pemuda?" Ucap Hidan dengan wajah yang sangat marah dan kemudian asbak rokok yang terbuat dari keramik mengenai pelipis pemuda di hadapannya sampai darah bercucuran.

"Cari dan temukan pemuda itu. Bawa kehadapanku! Hidup atau mati!" Ucap Hidan dan seketika semua orang di dalam ruangan itu pergi keluar. Beberapa bersiap mengambil senjata tajam dan juga pistol yang di lengkapi silencer dan beberapa di antara memberitahu teman-teman sesama anggota untuk memburu Kaito.

"You will die here, son of a Bitch!"

...

...

House Rent Agent

Saat ini Kaito sedang berada di agen penyewaan rumah. Cheng sudah di bawa taxi tadi menuju tempat kakaknya Chen.

"Do you stay here for one year?" Tanya reseprionis di hadapannya. Dan Kaito menjawab pertanyaan tersebut dengan seadanya walaupun bahasa inggris yang ia gunakan acak-acakan.

"Oke, wait a minute..." Reseprionis itu pergi dengan tergesa-gesa dan dapat Kaito lihat kalau ada keringat dingin di dahi reseprionis tersebut.

'Ada yang aneh.' Pikir pemuda itu. Benar saja, hawa di belakangnya menjadi dingin di ikuti dengan bulu kuduk yang berdiri merasakan hawa membunuh yang kental. Namun sekali lagi Kaito tetap saja Relax. Dihadapannya ia melihat sebuah lahar LED hang menampilkan banyak pemuda yang datang lengkap dengan beberapa senjata tajam dan juga pistol di tangan mereka.

'Satu, dua, tiga, empat... Hmm ada lebih dari delapan orang ditambah tiga orang yang tadi aku hajar di gang sempit. Benar kata Shikamaru kalau aku adalah Naruto ke dua.'

"Haaaaaa..." Kaito langsung berbalik dan menerjang pemuda yang tepat di belakangnya dan menganai bagian dadanya. Membuat orang yang menyerangnya terdorong ke belakang. Lagi, dari sampingnya sebuah pisau ingin menusuk bagian perutnya dan Kaito langsung menundukkan kaki kanannya dan berhasil mengelak.

"Haaaa.."

Buagh...

Kaki kirinya terangkat dan menghantam wajah orang itu hingga terjengkang kebelakang.

"Come on!" ujarnya dengan senyuman di wajah pemuda itu.

Melihat itu orang-orang tersebut tidak terima dan berlari menyerang Kaito. Senyum di wajah Kaito bertambah lebar dan juga kepalan tangannya bertambah erat sampai-sampai membuat jari-jarinya memutih.

"Haaa..."

Buagh...

Kaito menerjang pemuda di hadapannya sampai darah keluar dari sela-sela mulut pemuda itu. Membiarkan tubuh tersebut terkulai, Kaito berlari menuju tangga di belakangnya di ikuti tujuh orang dengan senjata tajam di tangan mereka.

Grep... Sret... Prank...

Langkah kaki Kaito terhenti saat bahunya tertangkap namun dengan cepat dirinya memutarkan tubuhnya dan berhasil menggapai sebuah vas bunga. Vas bunga itu ia hantamkan pada kepala musuhnya dan mengambil pecahan vas tersebut.

Jleb...

Darah mewarnai telapak tangannya saat pecahan vas tersebut menancap pada tenggorokan pemuda di depannya. Wajah Kaito tidak menampilkan wajah berduka melainkan sebuah senyum yang sangat lebar hingga dirinya tidak menyadari jika ada lima orang yang menatapnya dengan wajah penuh amarah saat melihat rekannya tewas.

"Haaa..."

Dua orang menerjang maju namun Kaito masih dapat menahannya menggunakan lengannya yang melindungi wajahnya dan memeluk seseorang di depannya. Gigi pemuda itu bergemelatuk saat mendapati punggungnya di serang terus menerus saat ia berusaha mendorong tubuh orang tersebut hingga sampai di pinggir teras pembatas dan melemparkannya ke bawah.

Suara tulang yang retak di sertai genangan darah dapat ia lihat dari ketinggian dan karenanya membuat empat orang yang tersisa berlari meninggalkan Kaito sendirian di gedung tersebut.

Dor... Dor... Dor... Dor...

Pemuda itu jatuh terduduk dan berlindung di balik teras pembatas saat mendengar empat letusan senjata api yang menggema di gedung tersebut. Disana terdapat puluhan orang dengan wajah khas orang-orang Asia timur yang sedang menatap sekitar dengan senjata api tipe Assault Rifle di tangan mereka.

"Kaito! It'me, Chang! Just Come out!"

Mendengar itu Kaito menaikkan kepalanya dan tersenyum kaku melihat Chang yang membawa anggota Triad. Sungguh dirinya sangat berterima kasih walaupun ia bisa menghabisi empat orang itu sendirian.

Skip Time...

Setelah Kaito, Chang, dan juga Triad mengurus mayat anggota gengster yang Hidan bawahi saat ini mereka sudah berada di sebuah gedung. Gedung pencakar langit yang menjadi markas Triad dan disinilah Kaito, bersama dengan Chang dan seorang Pria di samping Chang.

"Namaku adalah Chen dan kau pasti sudah tau siapa diriku dari adikku ini. Aku juga ingin mengatakan terima kasih karena sudah menolong adikku dan kami, Triad selalu menganggapmu sebagai bagian keluarga kami." Ujar Pria itu. Sekilas Chen memiliki perawakan seperti kebayakan orang timur dengan postur tubuh yang pendek dan juga mata yang sedikit sipit seperti kebayakan orang Asia timur dengan beberapa bekas luka di wajahnya.

"Ahh... Aku juga ingin mengucapkan terima kasih karena kalian sudah membantuku. Yah, mungkin aku akan kesulitan jika 'orang-orang itu' kembali membawa bantuan." Chen yang mendengarnya hanya tertawa kecil kemudian, wajah pria itu menjadi serius.

"Apa kau tau yang sudah kau lakukan?" Tanyanya.

"Ya aku tau, tapi aku sudah memikirkan rencana yang harus kita lakukan. Entah kau setuju atau tidak, setidaknya dengarkan tanpa adanya protes sampai aku menyelesaikan maksudku." Pandangan Kaito mengarah pada Chen dan dapat ia lihat jika Chen sudah siap mendengarkan rencana miliknya.

"Baiklah, pertama..."

Dan setelahnya percakapan itu dimulai.

...

...

25 Maret 2017

JSDF BASE, NERIMA, JAPAN

Sudah tiga bulan Naruto dan juga timnya mengikuti pelatihan yang diusulkan Jendral Kotaro sebagai atasan sementara mereka. Kelompok yang terdiri atas 44 orang dibagi menjadi beberapa bagian yang di latih sedemikian rupa sesuai dengan keahlian masing-masing yang tentunya sudah di saring atas pengamatan beberapa instruktur selama tiga bulan terakhir.

"Baiklah dengarkan! Selama tiga bulan ini kami sudah menyusun tim yang terdiri dari beberapa orang sesuai dengan kemampuan kalian. Kami sudah menyusun dan kalian harus mendengarkannya dengan sesama karena aku tidak akan mengulang untuk kedua kalinya." Ujar seorang Pria bernama Leonidas, seorang Letnan di dalam Kesatuan Japan Self Defend Force's.

"Penyerang taktis akan di isi Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke, Inuzuka Kiba, Rock Lee, Emiya Shirou, Tachibana Kuro, Yamamuro Takauji, Hyuku Omoi, Sishiro Botan, Haku Miyuki, dan juga Toshihiro Ikuko. Jika kalian merasa nama kalian terpanggil buatlah barusan baru di luar barisan kalian saat ini." Ucap Leonidas dengan suara yang lantang dan membuat orang-orang yang merasa namanya di panggil satu per satu keluar dari barisannya.

"Lalu untuk Team Support di isi Hyuga Neji, Fujimaru Ritsuka, Keichiro Lio, Akimichi Chouji, Toshiyuki Ban, Mizu Kitsuki, Toshihiro Nemu dan juga Kirigawa Yamazaki."

"Untuk Intel team yang akan berada di belakang layar akan di isi Nara Shikamaru, Aburame Shino, Akuta Hinako, Yamashiro Akira, Tsukiyono Ayumu dan Takeda Oribe."

"Lalu menurut penilaian dan juga kecepatan perakitan senjata membuat kami memutuskan untuk menempatkan Ryuichi Sano, Osya Navarona Nikolya, Chihiro Rei, Fujimaru Rei, dan juga Momoko Usagi akan masuk kedalam tim Weapon Mechanics."

"Yamanaka Ino, Hyuga Hinata, Ten Ten, Ishihara Mei, Akigaya Muranasi, dan juga Himejima Fubuki akan menjadi Medic untuk tim kalian."

"Matsumoto Kei, Rokuyama Tanaka, Namiboku Isihige dan juga Yonemura Okura. Kalian akan menjadi Sniper untuk tim kalian. Paham?"

"Yes Sir!"

"Bagus! Lalu untuk Masamune Makabe, Hijima Ryuuki, Sakamura Hito dan Katsumi Nakano. Kalian berempat akan masuk kedalam tim Back Up Support yang mana kalian harus selalu siap kapanpun tim kalian membutuhkan. Kenapa? Kalian adalah orang paling disiplin dan juga orang-orang yang selalu datang lebih cepat dari jadwal yang di berikan. Kuharap, tidak ada protes dari kalian dan juga silahkan lanjutkan pelatihan kalian bersama dengan tim baru kalian. Bubar!"

Semenjak saat itulah mereka semua menjalankan program latihan yang lebih terorganisir, sebagai contoh tim Back Up Support yang hanya beranggotakan empat orang yang dipaksa untuk tetap siaga bahkan selama mereka tertidur. Semua orang dilatih untuk siap kapanpun dan dimanapun bahkan untuk Hinako dan juga Ritsuka yang merupakan anggota satuan khusus dibuat kesulitan dengan jadwal pelatihan yang tergolong ekstrem.

24 Mei 2017

JSDF BASE, NERIMA, JAPAN

Tak terasa sudah lima bulan lamanya mereka berada di pangkalan JSDF di Nerima dan sekarang sudah tidak ada lagi tampang pemuda jalanan di wajah mereka semua melainkan wajah tegas seorang pasukan khusus negara yang siap dalam misi apapun. Mereka semua berbaris rapih dengan pakaian ketat di tubuh pemuda-pemudi itu, celana khusus pelatihan kemiliteran mereka kenakan tak lupa dengan sepatu boots yang menutupi kaki mereka. Mereka bukan lagu Kitsune! Code yang mereka terima dari Instruktur mereka adalah The Peace Keeper, Pasukan Khusus negara Jepang yang di sokong peralatan dari negara Amerika yang merupakan sekutu Jepang saat ini.

"Sekarang kalian semua sudah lulus dalam pelatihan selama lima bulan ini. Dan, dalam lima bulan ini sebenarnya aku mendapatkan sebuah catatan kecil dari Jendral Kotaro tentang anggota kalian yang tidak hadir."

Semua pemuda dan pemudi itu tampak terkejut saat mendengarnya. Surat itu adalah surat yang menjadi petunjuk bagi mereka dan juga jawaban mengapa 1 orang itu tidak datang yang mana orang itu tak lain adalah Ketua mereka. Semua orang tampak terkejut kecuali seorang pemuda berambut pirang yang memilih diam tanpa ekspresi.

"Namun, Jendral Kotaro memerintahkan kami untuk tidak langsung memberi tahu kepada kalian. Melainkan ia ingin melihat perkembangan kalian dalam sebuah game." Letnan itu berjalan ke hadapan mereka. Lalu dari belakang ada dua orang yang dapat di lihat memiliki pangkat kopral satu yang membawa troli berisi puluhan tas ransel standar militer.

"Di dalam ransel ini, ada ransum dan senjata yang harus kalian rakit sendiri. Oh ya, ada sebuah belati dan dua buah granat asap. Jendral ingin mengetahui berkembang kalian dalam sebuah game battleground survival dan kalian akan melawan lima puluh pasukan JSDF Fresh Graduate. Tak peduli kalian menang atau kalah tapi pastikan kalian mengerahkan semua kemampuan kalian dan jangan membuat kami, para instruktur kalian menjadi malu telah melatih kalian." Ujar Leonidas kemudian pria itu tersenyum begitu juga Asuma, Nobunaga, dan juga Ibiki di belakang pria itu.

"Baiklah kalian akan di terbangkan dari Nerima menuju Kuchinoerabu dan turun menggunakan parasut. Lalu agar menantang ransum yang kalian bawa hanya akan bertahan selama satu minggu dan Game ini akan berlangsung selama dua bulan, yah kalau kalian bisa lebih cepat maka lebih baik. Juga, senjata kalian tidak akan berfungsi di Weaponless Area." Mendengarnya semua orang diam tanpa ekspresi. Apakah mereka tidak di perbolekan memakai senjata di area tersebut? Pikiran semua orang sedang bertanya-tanya tentang apa itu Weaponless Area sebelum Letnan Leonidas mengeluarkan sebuah alat yang terlihat seperti sebuah Pad.

"Weaponless Area adalah standar pelatihan baru milik JSDF dan kalian yang akan menjadi kelinci percobaannya. Di seluruh pulau Kuchinoerabu sudah di pasang banyak ranjau yang dapat membuat senjata kalian tidak berfungsi. Ranjau tersebut akan mengirimkan sebuah gelombang yang akan membuat peluru berwarna kalian meledak di dalam selongsong senjata kalian dan tentunya membuat kalian melakukan pembongkaran untuk sementara waktu. Sekedar saran, gunakan tinju kalian ataupun belati yang sudah di gunakan jika kalian terpaksa masuk kedalam area itu."

"Pesan terakhir dari kami semua. Lakukan apapun yang kalian bisa dan nikmati pertempuran pertama kalian."

"BAIK PAK!"

"Sekarang ambil perlengkapan kalian, dan juga parasut yang sudah di sediakan. Pesawat kedua tim akan berangkat secara bersamaan. Naruto, Giliranmu."

"Baiklah dengarkan aku! Karena kita semua terdiri dari 44 orang , aku akan membagi kelompok ini menjadi dua. Kelompok pertama akan di pimpin Fujimaru-san dan juga Shirou yang terdiri dari 22 orang. Sisanya masuk kedalam timku. Kumohon kerja samanya dan dengarkan komando pemimpin kalian! Paham?"

"Paham!"

Sekarang setiap orang sudah siap dengan tas yang mereka bawa di punggung masing-masing. Sesuai peraturan mereka tidak diperbolehkan merakit senjata mereka di dalam pesawat dan dalam tiga puluh menit lagi mereka akan sampai di tempat tujuan.

Ketika menunggu sampai ketujuannya, Naruto menutup kedua matanya dan terhanyut mengingat pesan dari temannya sebelum dirinya disini selama lima bulan.

Flashback...

Saat itu Naruto sedang berada di rumah Kaito. Naruto membeli beberapa botol bir namun Kaito tidak ikut minum karena sudah menetapkan jalannya untuk berubah. Kakak angkatnya itu sedang duduk termenung memikirkan beberapa rencana yang akan ia lakukan bersama dengan timnya. Setelah beberapa saat, Kaito mulai angkat suara.

"Naruto, Aku ingin kau menjaga Hinako jika aku tidak ada disini." Untung saja, Naruto belum masuk dalam keadaan mabuk dan karenanya pemuda itu terkejut atas pernyataan Kaito. Asap di ruang tamu itu berhembus dari mulut Kaito dengan sebatang rokok di tangannya.

"Kau tau kan, Kalau aku dan juga Aneki-mu berjanji untuk bersama selamanya? Namun, kenyataan berkata lain. Setelah badai berlalu secercah harapan muncul untukku dan berjanjilah kepadaku kalau kau akan melindungi Hinako apapun yang akan terjadi."

"Satu pertanyaan, siapa Hinako?" tanya Naruto dan seketika Kaito menggeplak kepala Naruto sampai sadar.

"Kau tau kan? Sersan satuan khusus yang datang tempo hari? Itu nama aslinya."

"hoo... Jadi dengan kata lain, kau mulai mencintai gadis ceroboh itu?" Tanya Naruto yang sudah kembali sadar dan sekarang Kaito mulai serius dan mematikan rokok miliknya.

"Aku mendapatkan info dari seseorang yang menyatakan kalau Crimson Moon sedang berada di Las Vegas sejak lima bulan yang lalu. Aku akan pergi lebih dulu dan mencari kejelasan info tersebut ataupun jika info itu benar, Aku akan menyiapkan Safe House untuk kalian. Jika saja informasi itu benar adanya, Kumohon jaga Hinako dan jangan membuatnya bersedih." Ucap Kaito dan Naruto seketika meninju wajah pemuda itu. Tubuh Kaito terjengkang kebelakang dan tertindih tubuh Naruto yang menatapnya dengan mata memerah.

"Sialan!"

Buagh... Buagh... Buagh...

Naruto yang emosi terus meninju wajah Kaito tanpa henti hingga Naruto bosan karena Kaito hanya diam tanpa perlawanan.

"Cih... Aku tidak tau apa yang ada di dalam pikiranmu namun apa kau sudah tidak menganggap kami sebagai keluarga?"

"KARENA KALIAN ADALAH KELUARGAKU." Wajah Kaito terlihat sangat marah namun amarah itu terlihat berisi ketakutan di dalamnya. Menurunkan wajahnya dan menatap kesamping, Kaito berkata...

"Aku tidak bisa kehilangan kalian semua... Kalian semua adalah warisan yang Leaticia percayakan kepadaku. Jika aku tewas, kumohon jaga Hinako."

Flashback end...

"Tenang saja, aku akan menjaganya." Ucap Naruto dengan wajah menatap seorang gadis yang sedang berbicara dengan anggota timnya.

24 Mei 2017

Kuchinoerabu Island

Saat ini Naruto berserta anggota tim A sedang berada di selatan pulau Kuchinoerabu yang menjadi tempat pelatihan dadakan. Warga penghuni pulau di bawa menuju pulau terdekat dan pemerintah memberikan kompensasi atas gangguan tersebut.

Jika tim Naruto berada di bagian selatan maka tim yang di pimpin Shirou berada di bagian utara pulau. Tim B terdiri dari Shirou, Hinako, Lee, Neji dan beberapa anggota The Thirty. Untuk susunan tim Naruto sudah membaginya berdasarkan sebuah catatan yang di tinggalkan Kaito. Catatan tersebut berisi segala bentuk susunan tim beserta alasan yang membuat tim itu menjadi seimbang dalam penyusunan Strategi, Kerja sama tim, dan juga Penyerangan.

"Jadi, kita akan pergi dari selatan menuju Timur. Kenapa tidak menuju ke tengah pulau? Aku yakin kalian pasti berfikir demikian namun pasukan JSDF juga akan menuju kesana dan disana adalah Spot yang memiliki keuntungan dan juga kerugian. Kenapa? Bagian tengah pulau adalah sebuah gunung yang dapat membuatmu melihat hampir seluruh penjuru pulau. Namun itu juga memiliki kelemahan karena menjadi target empuk yang dapat di lihat dari kaki gunung. Belum lagi pepohonan yang menutupi pandangan bagi peserta yang mendapatkan set penembak tunduk dan jangan lupakan bom asap yang di berikan pada mereka."

Semuanya tersadarkan mendengar penjelasan Naruto. Kalau mereka melakukan serangan cepat dan langsung menyerbu secara membabi-buta maka ada kemungkinan mereka akan kalah karena kurangnya personil jadi mereka mengambil jarak aman dan bergerak menuju timur.

"Baik, semua personil periksa senjata!"

Cklek... Krek... Klik...

Setiap orang melepaskan Magazine dari tempatnya dan melihat peluru yang sudah terpasang tak memiliki kekurangan. Peluru yang di pakai adalah peluru yang berisi cat untuk menandai setiap orang yang terkena serangan.

Pemeriksaan senjata sudah selesai. Walaupun peluru yang di pakai adalah peluru yang berisi cat berwarna namun senjata yang di pakai adalah senjata asli. Semua orang mendapatkan senjata yang beragam mulai dari Assault Rifle, Sniper Rifle, Sub Machine Gun, ataupun Pistol yang sebelumnya masih berupa bagian-bagian yang terpisah.

Perjalanan mereka lanjutkan dan di bagi menjadi tiga tim yang menyisir area selatan dan bergerak menuju area timur melalui bagian Tenggara pulau. Tembok-tembok perumahan warga terlihat berjejer rapih walaupun begitu mereka tidak menurunkan kewaspadaan akan serangan musuh yang tiba-tiba.

Lain hal dengan Naruto saat ini Shirou dan yang lainnya sedang kontak senjata dengan lulusan JSDF. Game yang di buat untuk melihat sejauh mana perkembangan tim yang di rekomendasikan oleh seorang Jendral yang dk latih orang-orang Elite di kesatuan.

Desingan peluru terlontar dan puluhan selongsong kosong menyentuh tanah. Shirou dan anggota tim B turun 5 menit lebih awal dari pada tim Naruto yang ada di selatan. Saat tiba mereka merakit senjata dan menyiapkan semua yang di perlukan namun sayangnya seperti yang sudah di perkirakan Naruto kalau Tim JSDF akan turun di daerah hutan bagian timur tepat di kaki gunung.

Beberapa orang yang terkan peluru berwarna menghentikan serangan mereka dan menyingkir ke belakang barisan. Setidaknya mereka bisa bersantai semetara waktu.

Sungguh contoh teman yang tidak ada Akhlak.

Saat tim JSDF sibuk dengan kelompok yang Shirou pimpin, Kelompok Naruto mendengar suara tembakan yang berasal dari arah barat laut karena saat ini mereka berada di bagian tenggara pulau.

Tap...

Saat sedang dalam perjalanan Naruto menahan pergerakan Sasuke yang saat ini ada di sampingnya. Dengan sorot mata seakan sedang bertanya. Menghiraukan temannya, Naruto mengangkat kepalan tangannya ke atas dan membentuk sudut 90 derajat menandakan untuk menghentikan pergerakan.

"Shhhuuut... Dengarkan!"

Semua orang tiba-tiba terdiam dan mulai fokus pada indra pendengaran mereka masing-masing. Tidak ada yang aneh, hanya ada Suara-suara alam yang menyejukan hati dan pikiran.

"Danchou, ada suara tembakan dan dengan kerasnya suara tembakan ini dan hanya berlangsung sekitar 5 sampai 10 detik sekali, dapat ku perkirakan kalau itu adalah Assault Rifle dengan Magazine yang menampung 30 peluru atau lebih."

Semua orang terdiam saat mendengar perkataan yang keluar dari seorang gadis. Dia adalah Akira, walaupun kemampuan fisiknya hanyalah rata-rata namun Akira dapat menjadi support di base dalam sebuah misi. Pengamatan, tindakan cepat, dan juga tidak adanya keraguan dapat membuat sebuah misi berjalan lancar.

"Baiklah kalian tau apa yang harus di lakukan, bukan?" Mendengar ucapan Naruto tiga orang menurunkan senapan mereka dan mengeluarkan pistol juga sebuah pisau M7 di tangan kanan.

"Kei, Sano, Tanaka! Kalian tau apa yang harus kalian lakukan?" tanya Naruto sedangkan tiga orang laki-laki di hadapannya hanya tersenyum kemudian berlari kecil menuju arah tembakan.

"Masamune, Sasuke cari pohon yang paling tinggi dan support mereka bertiga. sekarang!" tanpa banyak basa-basi Sasuke dan Masamune segera pergi dan mencari pohon yang di maksud Naruto.

"Hinata, Hinako, Osya! Siapkan Smoke Bom dan ikuti aba-aba ku lalu sisanya..." Pandangan Naruto teralihkan pada sisa anggotanya 6 pemuda yang siap dengan senjata mereka dan juga 3 pemudi yang siap dengan Support Weapon yang mereka dapatkan. "... eksekusi tanpa ada kesalahan!"

Skjekekksksekk...

Suara tak jelas keluar dari Handy Talkie yang mereka bawa satu persatu. Alat itu berada di dada masing-masing orang yang sedang berjalan menuju arena perang.

'Kami sudah berada di belakang pasukan musuh, siap menyerang. Ganti.'

"Eksekusi dan saling melindungi satu sama lain."

Menyelesaikan percakapannya dan kemudian tiga buah Smoke Bom dilemparkan ke tengah-tengah unit musuh.

Sebenarnya strategi ini sangatlah sederhana, Naruto menyerang dari arah samping bersama anggotanya yang lain kemudian Kei, Sano, dan Tanaka menyerang dari arah belakang dan...

Dorr...

Sasuke beserta Masamune menggunakan Sniper untuk mengeksekusi musuh yang mencoba melarikan diri.

"Sniper! Hati-ha..." sebelum orang yang memperingati kelompoknya selesai berbicara, sebuah peluru dan suara kaca yang pecah menghantam punggungnya. Orang itu menjadi lesu dan menurunkan senjatanya dengan pandangan kecewa.

Kontak senjata terjadi tak sampai satu jam, namun orang-orang yang sudah gugur mencapai dua puluh orang dan yang berhasil meloloskan diri berjumlah sekitar tiga puluh orang atau lebih dan hanya tiga orang yang gugur dari kubu Naruto.

"Regroup!"

Sekarang kedua kelompok Kitsune sudah menjadi satu dan sebagai pemimpin, Naruto memerintahkan untuk beristirahat sementara waktu. Pemuda itu sedikit lesu karena kehilangan tiga anggotanya dan ia mengingat setiap perkataan Kaito beberapa bulan sebelumnya.

'Kita sudah bukan berhadapan dengan Preman, Berandalan, pemerkosa, dan para gangster yang suka cari masalah. Ini berada di level yang berbeda dari yang biasa kita hadapi. Kalian siap?'

Musuh kali ini bukanlah orang-orang yang sudah mereka hadapi sebelumnya. Tak kenal ampun, tak kenal rasa sakit, tak kenal teman ataupun Keluarga! Musuh yang menjadi perwujudan dari kerasnya dunia. Bajingan-bajingan yang lahir dari jalanan.

'Jika saja ini adalah misi perdana kami maka, Kei, Ryu dan Shin akan mati di tempat. Lalu musuh kami berjumlah ratusan atau bahkan lebih akan mengancam semua orang yang kamu cintai. Sial, sial, sial!'

...

...

TuBerCulosis

...

...

Hai hai... Setsuna desu~

Dalam Chapter ini kita akan melihat bagaimana tim Naruto beraksi di pulau antah Kuchinoerabu yang berada di ujung selatan kepulauan jepang.

Lalu Kaito akan memanipulasi Triad dan juga The Immortal Sect yang menjadi biang keladi di Las Vegas dan sedikit memberi tahu kalau di chapter depan akan menjadi chapter penutupan untuk Arc kedua ini dan akan istirahat selama dua minggu sampai 1 bulan untuk melakukan update kebut pada beberapa fic milikku.

Yah, sepertinya tidak ada yang harus aku bahas lagi kecuali 1 review yang menurutku sedikit berkesan.

"Lu yang buat Kushina ngentod disana sini"

Maksudku, ayolah ini hanyalah Fanfiksi yang 'Kami' sebagai Author buat semata-mata untuk mengisi waktu luang. Lalu apakah kalian tau jika Story ini terinspirasi dari kisah nyata temanku yang sekarang menjadi seorang TNI? Hidupnya hancur berantakan dan menjadi seorang berandalan, makan dari tempat sampah, tidur di emperan toko. Semua itu temanku lakukan semata-mata untuk mencari ketenangan sampai temanku bertemu seorang kuli tua yang bisa dibilang mengubah hidupnya.

"Gw gk mau sampe tua gini-gini aja, Tolong bantu gw ngambil Paket C" dan yah, Alhamdulillah setelah berjuang akhirnya aku bisa membantu temanku.

Yah, maaf kalau sedikit curhat. Stay At Home dan terus berkarya bagi kalian semua!

Hidup itu bagaikan Kopi Hitam!

Pahit dan Manisnya kalian yang buat!