(7) Leluhur Sihir Manusia
Saphirenya menatap datar. Naruto tidak menyangka dewa laknat yang menjadi gurunya tinggal dan menetap di puncak gunung tertinggi di dunia, gunung Himalaya. Duduk bersila sambil memposisikan tangan layaknya sedang bersemedi, Shiva tersenyum cerah di depan Naruto.
"Ho-ho Naruto! Kau datang menjengukku,"
Shiva bangkit, dan secepat kilat ia merangkul tubuh kekar Naruto, merengkuh pemuda itu dengan erat, Naruto hanya facepalm melihat tingkah dari Shiva. "Ada apa denganmu Shiva, tingkahmu semakin aneh saja."
Naruto mendorong Shiva, agar dewa tersebut melepaskan pelukannya. "Dan apa-apaan tempat ini, jangan katakan kau kembali diusir dan kembali memendam hasrat menggebumu di sini."
"Haha, sepertinya kau selalu mengerti penderitaanku, Naruto." Shiva tertawa lepas sebelum kembali duduk bersila di atas tebalnya tumpukan salju. "Sebenarnya, koleksi potret seksi Hera milikku ditemukan oleh istriku, di tengah situasi mengamuknya istriku, Hestia pun berkunjung dengan ratusan potret di tangannya, dan hasilnya aku resmi bercerai dengan istriku."
"Ya iya, aku paham. Dan bisakah kau berhenti menceritakannya, kau tahu aku jijik saat mendengar ceritamu itu." Naruto melontarkan serapahnya sebelum ikut duduk bersila di depan Shiva. Melihat badai salju semakin bertambah Naruto pun menjentikan jarinya, dan sebuah barier transparant muncul menutupi lima meter dari area tempat mereka duduk. "Begini, aku memiliki satu masalah yang hanya seorang ahli yang bisa menanganinya..."
"...hei Naruto, bisakah kau membuka barriermu dan membiarkan aku masuk."
Ucapan Naruto terpotong oleh teriakan, dan sepertinya suara itu berasal dari seorang anak kecil. Naruto dan Shiva langsung menoleh ke arah kanan, dan mendapati seorang gadis loli berpakaian gothic tengah memukul-mukul barrier transparant yang Naruto ciptakan. Melihat siapa yang datang Naruto hanya mendesah lelah, sedangkan Shiva nampak bersemangat melihat tamu keduanya. "Ophis!"
"Hahaha!" Shiva memukul-mukul tumpukkan salju setelah mendengar cerita Naruto, ia tertawa lepas sejadi-jadinya. Sedangkan Ophis menatap Naruto dengan ekspresi tak percaya, bagaimana ia akan percaya? Naruto, budak satu-satunya yang ia miliki jatuh cinta pada seorang gadis kecil, diantara semua loli kenapa harus gadis bernama Le Fay itu, kenapa tidak dia saja?
"...tapi ngomong-ngomong seleramu cukup aneh Naruto. Tidak heran sih, kau selalu bersama dengan Ophis, jadi tak heran jika kau jadi lolicon. Hahaha!" Naruto mendesah lelah ketika Shiva kembali tertawa, mengabaikan puncak gunung yang bergetar karena suara tertawanya.
"Berhentilah tertawa dewa bangsat!"
"Haha, oke-oke, tapi sumpah ini lucu banget! Namun yang paling mengejutkan kau meminta pendapatku tentang hal ini. Bagiku sih cinta itu tak memandang apapun, baik usia, atau ras itu tidak penting, perjuangkanlah cintamu itu Naruto!"
Naruto tersenyum mendengarnya, kepercayaan dirinya langsung melonjak setelah mendengar hal tersebut. "Jadi kau punya usul untukku mendekatinya?"
"Mmmph?" Shiva menggaruk kepalanya, bicara soal siasat untuk melakukan pendekatan ia pun juga jadi bingung. "...jujur sih aku pun tidak tahu menahu soal ini."
"Lalu gimana caramu mendekati istrimu dulu?"
"Oh itu mudah, dulu waktu aku muda sering berulah sih, dan ketika aku menyatakan cintaku pada seseorang pasti ujuang-ujungnya ditolak. Mendapati hal itu aku menculiknya, lalu menyekapnya dan memperkosanya tiap hari, hingga ia pun menyerah dan menjadi istriku." Shiva memandang langit seakan mengenang hal tersebut, sambil menyunggingkan senyum cerah di wajahnya.
Buagh!
Wajah Shiva langsung tenggelam ke tumpukkan salju, kepalanya tampak berasap setelah Ophis memukul bagian belakangnya. "Dasar dewa sinting. Jangan coba-coba menodai Narutoku!" Seru Ophis lalu kembali memukul-mukuli kepala Shiva.
"Sudah kuduga, datang kemari hanya membuang-buang waktu!" Naruto mendesah lelah, betapa bodohnya dirinya menaruh harapan besar pada Shiva yang ia kenal sebagai dewa terlaknat di dunia bodoh ini.
Deg!
Optis tersentak kaget saat sebuah pancaraan energi yang setara dengan seorang mou menyeruak dari arah Jepang, bukan besar dan kekuatan yang terkandung di energi tersebut yang membuat dia kaget melainkan ia mengenal seseorang yang mempunyai pancaran kekuatan ini.
"Le Fay-chan! Apa yang terjadi padanya?" Naruto terlihat cemas saat merasakan aura dari energi ini juga mengandung kekuatan kehidupan dari Le Fay, walaupun terasa sangat tipis tapi Naruto yakin bahwa aura Le Fay mulai lenyap terkikis oleh aura yang kuat tersebut.
"Jadi begitu," Ophir bergumam singkat setelah melihat raut gelisah Naruto, "...gadis yang bernama Le Fay ini apa dia memiliki aura yang mirip denganku, Naruto?"
Naruto mengangkat alisnya heran, Le Fay memang memiliki pancaran mana yang sama persis dengan dirinya dan Ophis, hal itulah yang menjadi daya tarik utama bagi Naruto pada gadis yang bernama Le Fay tersebut. "Benar. Sepertinya kau mengetahui sesuatu Ophis,"
"Hm. Dulu sekali ketika aku masih mengambil wujud seorang kakek tua, manusia pada masa itu berperang tiada hentinya, saling membunuh satu sama lain dan itu terjadi selama satu dekade." Ophis menggali ingatan lamanya, kemudian duduk senyaman mungkin di atas tubuh Shiva lalu menceritakan pengalaman hidupnya kembali.
"Suatu hari datanglah seorang wanita ke gua tempatku tinggal, dia mengetahui bahwa aku merupakan makhluk yang memiliki kekuatan sihir yang besar, kalau tidak salah namanya Morgan. Dia datang dan memohon kepadaku agar memberinya ilmu sihir untuk menghentikan perang yang berlangsung saat itu, aku tanpa berpikir panjang pun menyanggupinya asalkan dengan satu syarat, dia harus bersedia mengabdi kepadaku sebagai seorang pelayan," Ophis berdeham singkat merasa tenggorokannya kering.
"Wanita itu langsung setuju, setelah memberikan segel kutukan pada jiwanya, aku pun langsung memberikan 25 persen kekuatanku padanya. Dia memang berhasil memenangkan perang dengan mudah namun sebagai seorang pelayan dia sama sekali tidak memenuhi janjinya padaku, oleh sebab itu jiwa terus bereinkarnasi setelah kematiannya karena kutukan yang ku tanam pada jiwanya." Naruto mulai menemukan titik terang permasalahan yang dihadapi oleh Le Fay saat ini, jadi Le Fay termasuk keturunan dari wanita yang bernama Morgan ini.
"Setelah beberapa abad berlaku akhirnya jiwa Morgan ini bangkit kembali, sayangnya aku juga tidak perduli lagi dengan pelayan kecil itu. Dan karena kau menaruh hati pada Le Fay ini sebaiknya kau bertindak cepat Naruto, sebelum jiwa Morgan mengambil alih tubuh Le Fay dan dapat dipastikan saat itu Le Fay sudah dinyatakan tiada." Sambung Ophis kemudian, Naruto langsung bangkit setelah mendengar cerita Ophis, menyiapkan sihirnya untuk berteleportasi menuju ke tempat Lembab Fay.
"Tunggu Naruto!" Ophis berdiri menghadang Naruto, mengulurkan tangan kanannya lalu sebuah cahaya hitam sebesar bola sepak muncul di telapak tangan mungil tersebut. "Di dalam bola ini ada makhluk bernama Gogmagog yang kutemukan di celah dimensi. Berikan ini sebagai hadiah pada gadis itu! Pasti ia akan menyukai hadiah ini," Ophis berucap dengan wajah datarnya.
"Ya terimakasih Ophis," Naruto menerima bola hitam itu, ia merasakan sesosok makhluk yang lumayan kuat bersemayam di dalamnya. "Kalau begitu aku pergi, sampai bertemu lagi Ophis, Shiva!" Lingkaran sihir emas berputar di bawah kaki Naruto, menyemburkan api emas lalu Naruto menghilang di dalamnya.
Dimana aku?
Le Fay berdiri dengan kebingungan menatap sekitar, saat ini dia berdiri di sebuah tempat yang sejauh mata memandang hanya berlatarkan warna putih, tetapi meski begitu penglihatan Le Fay dapat melihat secara normal walaupun latar tempat itu tampak menyilaukan.
Apa aku sudah mati?
Le Fay ingat sebelum dia datang ke tempat ini setelah Kokabiel menusuk perutnya dengan sebuah tombak cahaya, rasanya amat menyakitkan sampai tubuhnya merasa terbakar saat itu juga. Sesaat yang lalu tim ekspedisi yang dikirim oleh kelompok gereja tengah menghadapi salah satu jendral dari fraksi malaikat jatuh yang bernama Kokabiel, masih ingat dengan jelas Kokabiel menceritakan bahwa sesungguhnya tuhan telah mati.
Kelompok yang terdiri dari tiga orang itu termasuk dirinya mengerahkan seluruh kekuatan untuk mengalahkan Kokabiel, bahkan setelah dibantu dengan gadis iblis bermarga Gregory bersama para pelayannya mereka belum bisa membunuh Kokabiel. Salah satu teman seperjuangannya tewas sebelum dirinya, satu lagi berhasil kabur dengan sihir teleportasi yang Le Fay kuasai, dan dirinya terbunuh setelah menyelematkan rekannya.
Itulah kemungkinan yang terjadi setelah Le Fay mendapat tusukan tepat di bagian perut. Le Fay terdiam di tempat itu, menatap kosong dengan pikiran terisi dengan berbagai macam kemungkinan jika ia telah mati, dapat dipastikan kakak yang selalu menjaga dirinya akan sedih dan kehilangan semangat hidup.
Dalam keheningan tiba-tiba ia tersenyum, saat mengingat wajah tampan yang menyebut dirinya sebagai Naruto Phenex, perasaan Le Fay menjadi hangat saat mengingat pertemuan singkat tersebut.
"Gra ahhhh..."
Kokabiel mengambil jarak saat gadis gereja yang barusan ia tusuk memekik kencang dengan suara berat, energi sihir dalam jumlah besar kemudian menyeruak hingga tubuh gadis tersebut bermandikan mana berwarna emas. Angin berhembus kencang saat pancaran mana itu kian meluap, tubuh kecil gadis gereja itu kemudian melayang sebelum cahaya emas meledak hingga menghancurkan lingkungan sekitar, terlihat barrier yang melindungi tempat itu pun hancur berkeping-keping.
Debu menutupi area sekitar setelah ledakan itu terjadi, dapat dipastikan akademi Kuoh lenyap menyisakan cekungan tanah. Ditengah kepungan debu itu, perlahan terlihat seorang gadis cantik bersurai pirang, mengenakan armor berwarna emas ramping yang menutupi tubuh bagian atas, terlihat seperti seorang knight jika dilihat sekilas.
Ia menatap datar kedepan, kemudian puluhan lingkaran sihir berbeda rune dan warna pun muncul mengelilingi dirinya, memunculkan puluhan makhluk yang langsung mengepung dan menyiapkan berbagai macam serangan ke arahnya. Walaupun wujud gadis berpenampilan knight tersebut amat mempesona, namun ia memiliki aura kehancuran yang dapat menggerogoti energi dunia ini.
Para makhluk yang baru saja muncul memiliki satu pemikiran, musnahkan sang gadis atau dunia dari dimensi utama ini akan musnah.
