Previous
"Lezat!" Luhan bergumam dan menghabiskan sperma yang masih bersisa ditenggorokannya, selain ingin memberikan service pada suaminya dirinya juga ingin minum sperma suaminya yang dirinya ketahui dari internet bahwa sperma itu enak dan gurih
"Hah? Apa tidak salah?" Sehun terkejut karena dirinya menyangka jika Luhan akan merengek manja dan marah – marah karena spermanya tidak enak tapi semuanya diluar perkiraannya
"Iya, aku belajar dari internet yang mengatakan jika sperma itu gurih dan lezat. Kau mau mencobanya?"
"Kau belajar dari internet?" Sehun membulatkan matanya karena dugaannya tepat, tidak mungkin Luhan bisa semahir ini jika tidak belajar dari internet atau majalah dewasa yang akan memberikan banyak gambar untuk permainan sex seperti yang baru saja dipraktekkan Luhan padanya
"Hm, apa kau suka?" Luhan mengangguk antusias dan berharap Sehun menyukainya karena dirinya sudah belajar dengan susah payah dengan permen tangkai yang dibelinya sebagai contoh penis yang akan dipuaskannya
"Aku suka, tapi aku lebih menyukai Luhan apa adanya" Sehun tersenyum teduh pada istrinya, sedangkan Luhan semakin terdiam karena tidak bisa mengatakan apa – apa setelah mendengar jawaban sang suami. Dari pertama perjodohan ini, Sehun selalu mengatakan terserah pada Luhan, tunggu Luhan yang menyerahkan keperawanannya sendiri jika sudah bisa membalas cinta suaminya, dan sekarang Luhan yang apa adanya lebih menarik dimatanya walaupun Luhan apa adanya kurang tahu banyak tentang sex
"Hiks..." Luhan tanpa sadar menitikan air matanya karena sudah banyak menyusahkan suami tampannya, dan merutuk dirinya yang seharusnya dari awal perjodohan mendapat suami seperti Sehun yang baik dan tidak menuntut apapun padanya yang sangat egois dan bodoh
Sehun terkejut karena istrinya menjadi terisak dan menitikkan air matanya, dirinya merutuk mulutnya yang justru meminta Luhan menjadi dirinya sendiri dimana ketika istrinya sudah banyak belajar dari internet untuk memuaskannya.
"Hei, aku minta maaf jika aku salah bicara" membawa Luhan kedalam pelukannya adalah langkah yang tepat karena dirinya sangat sangat tidak suka melihat Luhannya menangis apalagi karena dirinya
Gelengan kepala adalah respon pertama Luhan walaupun masih terisak didalam pelukan suaminya, namun rasanya isakan Luhan semakin kuat beserta air mata yang semakin deras turun.
"Aduh Lu.. Jangan menangis. Nanti dikira aku memukulmu pula"
Luhan memeluk suaminya dengan sangat erat karena tidak bisa mengucapkan rasa syukur yang sangat besar pada suaminya.
"Kenapa jadi manja gini eoh?" Sehun mengusap sayang bahu dan punggung Luhan yang masih bergetar akibat menangis didalam pelukannya
"Sehun"
"Hm, ada apa sayang?"
"Terima kasih"
"Untuk?" Sehun bingung karena seharusnya dirinya yang berterima kasih karena Luhan sudah memberikan service padanya secara gratis tanpa diminta, dirinya memang laki – laki normal yang sangat bernafsu tetapi dirinya adalah tipe yang tidak bisa memaksakan kehendaknya pada pasangannya
"Terima kasih sudah sabar mau menunggu Luhan yang bodoh dan keras kepala ini menjadi Luhan yang dulu. Aku merasa seperti wanita bodoh yang mencampakkan suami tampannya, jika saja aku mengajukan cerai mungkin banyak janda kembang dan janda lapuk yang akan memintamu untuk menjadi pasangan mereka"
Sehun sadar kenapa Luhannya menangis seperti tadi, dirinya juga senang jika Luhan yang dulu sudah kembali tapi melihat Luhan sedih bukan hal yang disukainya.
"Hei aku tetap akan memilihmu. Maka dari itu kita harus saling percaya satu sama lain Lu"
"Ngh.. Apakah kau ingin lanjut ke sesi berikutnya?" Luhan mendorong dada Sehun sehingga pelukan mereka terlepaskan begitu saja dan memandang suaminya dengan intens
"Tidak perlu sebaiknya kita istirahat saja Lu, karena besok adalah hari pertama untukmu bekerja dan aku tidak mau kau kelelahan" Sehun membawa Luhan kedalam gendongannya dan meletakkan istrinya dengan pelan – pelan diranjang serta dirinya ikut berbaring disamping istrinya
"Malam Hun" Luhan mencium bibir suaminya dengan penuh cinta
"Malam juga Lu, semoga mimpi yang indah" Sehun membalas ciuman Luhan dengan cintanya yang tidak pernah pudar walaupun Luhan lama menyadari akan cintanya
"Untuk apa mimpi indah jika yang ingin kumimpikan ada disampingku." Luhan memejamkan matanya dan membalas ucapan Luhan hanya dalam hati saja
..
..
..
#Sukinanda - #I-Love-You
..
..
..
Main Cast : HunHan
Other Cast : Bermunculan sesuai dengan cerita
..
..
..
"Nghh..." Luhan terbangun karena sinar mentari memasuki kamarnya melalui jendela, dan kemudian melihat jam beker yang tertata rapi dimeja samping tempat tidurnya. Dirinya kecepatan bangun dari biasanya, walaupun dirinya akan resmi bekerja mulai hari ini namun rasanya masih sangat kecepatan jika terbangun jam tujuh pagi sedangkan mereka berangkat kerja jam sembilan
Merasa bosan dan tidak bisa kembali tidur, Luhan memandang suaminya yang masih tertidur dengan lelap disampingnya. Dirinya berpikir bagaimana pria setampan Sehun yang sangat sempurna bisa menunggunya hanya untuk mendapatkan maaf darinya, seandainya jika dirinya jadi Sehun maka dirinya akan meninggalkan wanita yang bernama Luhan tersebut dan mencari yang sama cantiknya dengan Luhan atau mungkin bisa cari yang lebih cantik dari Luhan.
Dirinya merasa bersyukur pada Tuhan karena sudah memberikan orang yang tabah untuk menghadapi sikap keras kepalanya dan bersyukurnya lagi sang suami tidak mudah tergoda walaupun sang penggoda sudah memberikan gaya sensual yang sangat menggpda iman orang namun tidak untuk suaminya.
Luhan menyentuh hidung mancung Sehun kemudian turun kebibir sexy Sehun yang sudah dicobanya beberapa kali dan terakhir rahang tegas Sehun yang membuatnya semakin sempurna dan jantan sebagai seorang pria.
"Kenapa Lu?" Sehun bertanya walaupun matanya masih terpejam, namun usapan Luhan diwajah tampannya membuatnya cukup terganggu karena masih bermimpi indah dengan Luhannya
"Eh? Kau terganggu?" Luhan terkejut karena Sehun terbangun akibat ulahnya, salah tangan nakalnya yang ingin mengelus wajah tampan suaminya dan ingatkan Luhan nanti untuk memukul tangannya yang nakal karena sudah membangunkan suaminya sebelum waktunya
Sehun membuka matanya dan melihat Luhan yang ketakutan mungkin karena membangunkannya secara tidak sengaja "Tidak apa, jangan takut Lu" membawa Luhan kedalam pelukannya agar Luhannya percaya padanya
"Maaf aku sudah membangunkanmu sebelum waktunya" Luhan masuk kedalam pelukan Sehun dan merasa pelukan Sehun adalah pelukan terhangat yang pernah dia terima
"Hm, tidak masalah Lu. Bagaimana kau sudah siap menjadi seketarisku hari ini?" Sehun bertanya antusias sehingga rasa kantuknya hilang begitu saja mengingat Luhan akan selalu ada disekitarnya
"Tentu saja siap sajangnim" Luhan menjawab dengan mencoel dagu suaminya, dirinya senang karena bisa bersama suaminya dan jujur saja dirinya cukup bosan dirumah untuk menunggu suaminya belum lagi suaminya lembur sehingga pulang kemalaman
"Tapi kumohon satu hal padamu Lu" Sehun menatap mata Luhan dengan serius karena banyak hal yang pastinya membuat sang istri tidak suka
"Apa?" Luhan bingung karena Sehun jarang meminta sesuatu padanya seperti saat ini, dan apa pun yang dikatakan suaminya mungkin adalah hal yang baik unuk mereka bersama
"Nanti dikantor, jangan meledak – ledak ketika mengikuti rapat karena banyak yang lick dengan menggunakan trick seperti yang dilakukan Hyomin" Sehun sulit mengatakannya secara lembut dan berhati – hati dalam mengucapkannya agar Luhannya tidak tersinggung akibat insiden beberapa hari yang lalu
Luhan terdiam mendengarkannya, kemudian setelah suaminya selesai memberitahunya dirinya langsung membuang muka karena kesal dengan suaminya yang melarang. Jujur saja, istri mana yang tahan melihat suaminya digoda didepan matanya sendiri dan jikalau ada yang bisa melihatnya dengan perasaan santai maka bisa dipastikan sang istri tidak setia dengan suaminya.
"Maksudmu aku tidak boleh marah karena suamiku diganggu dengan kurang ajarnya? Lalu bagaimana jika pria tampan menggodaku apa kau tidak marah?"
Sehun menggengam tangan Luhan dan sedikit meremasnya seolah memberitahu perasaannya melalui remasan tersebut "Aku pasti cemburu, Lu kumohon. Aku bisa mengatasinya tapi kau jangan meledak – ledak karena itu akan membuat perusahaan kita semakin rendah dimata orang"
"Kita lihat saja nanti, sebaiknya kita siap – siap untuk berangkat dan sebelum menuju kantor kita sarapan diluar saja"
Luhan beranjak bangun dari kasur begitu juga dengan Sehun untuk mandi dan sebagainya, moment ini tidak akan terlupakan untuk keduanya karena sarapan untuk pertama kalinya diluar semenjak mereka berumah tangga. Dan juga hati Luhan sedang kesal karena akan menyaksikan bagaimana suaminya digoda didepannya sendiri sementara dirinya hanya akan diam.
Setelah siap – siap yang memakan waktu kurang lebih setengah jam, mereka langsung menuju kedai mie yang biasa menjadi kesukaan Sehun ketika sarapan.
"Bi, kami pesan dua ya" Sehun memesan pesanannya kemudian kembali duduk ditempat biasa bersama Luhan yang banyakan diam semenjak tadi pagi mereke ribut karena masalah sepele namun bagi istrinya itu masalah besar
"Lu, udah dong jangan cemberut terus. Kau tahu sendiri kan kalau punyaku tidak akan tegang dengan begituan" Sehun bingung sendiri bagaimana cara agar istrinya tidak ngambek seharian padanya padahal baru saja mereka baikan dan bercinta malah sudah bertengkar
"Iya aku tahu Sehunnie... tapi apa kau tahu perasaanku bagaiamana?" Luhan menggembungkan pipinya karena kesal walaupun tahu dengan jelas jika suami tampannya tidak akan terangsang dengan begituan
"Kalau untuk Hyomin ku akui dia memang menyukaiku, tapi jika dalam rapat biasanya mereka akan menggunakan wanita agar menarik perhatianku sehingga kerjasama berjalan dengan lancar. Jika kau masih meragukanku kau bisa bisa melihatnya sendiri dengan mata kepalamu Lu karena nanti pukul sepuluh akan ada rapat dengan Perusahaan Wang dari China"
Luhan menganggukkan kepalanya dan menyantap sarapannya yang baru saja datang bersama minum yang mereka pesan sebelumnya. Setelah selesai sarapan mereka langsung menuju kantor lebih tepatnya mereka bersantai didalam ruangan Sehun karena masih terlalu pagi untuk bekerja.
"Lu, duduk sini lahh" Luhan berdecak namun dengan patuh duduk dipangkuan suaminya yang sedang duduk disofa khusus untuk tamu
"Jangan cemberut dong, tidak lucu tahu. Baru saja baikkan dan bercinta disini masa sudah ribut lagi" Sehun mengelus pipi Luhan, dirinya merasa Luhan sangat lucu dan menggemaskan jika sedang merajuk atau cemburu seperti saat ini tapi dampak negatif yang diterimanya lebih besar dari rasa kagumnya dengan Luhan yang menggemaskan
"Hm, aku juga minta maaf sudah kekanakan. Tapi jika ada yang berani menggodamu sepeti Hyomin diluar rapat maka jangan salahkan aku jika aku menghajarnya"
Sehun hanya mengangguk, namun dirinya cukup kasihan pada siapa saja yang menggodanya seperti Hyomin karena akan diberikan sedikit ilmu karate dari istrinya yang tercinta "Aku akan mendukungmu serta aku akan membackingmu jika ada yang hendak melukaimu"
"Itu baru suamiku" Luhan tersenyum dan dengan gemasnya langsung mencubit pipi suaminya, mungkin bagi orang – orang yang hanya kagum dengan ketampanan suaminya tapi jika kita sudah dekat dengan Sehun maka bukan hanya kata tampan saja kita berikan tetapi lucu dan menggemaskan juga ada didalam diri suami sempurnanya
"Ahh.. sakit Lu" Sehun merasa kesakitan karena tangan nakal Luhan mencubit pipinya, tapi dirinya membiarkan hal tersebut dan yang terpenting baginya bisa melihat senyum manis Luhan serta istrinya tidak merajuk padanya lagi
Luhan melepaskan cubitannya pada pipi sexy suaminya dan mengelusnya dengan lembut "Kenapa kau tidak jadi artis atau model saja Hun?"
Sehun tertawa mendengar pertanyaan aneh Luhan walaupun sudah banyak yang bertanya seperti itu padanya, ya dirinya mengakui bahwa dirinya sangat tampan, sexy, dan mempesona serta memiliki tubuh yang proposional cocok untuk jadi model tetapi dirinya tidak memiliki niat untuk menjadi artis apalagi model.
"Apa kau mau kalau nanti fansku melemparmu dengan sampah?" Sehun bertanya sedangkan Luhan membulatkan matanya karena baru menyadari jika suaminya menjadi artis maka masalah besar akan datang padanya
Gelengan kepala adalah hal pertama yang diberikan Luhan sebagai respon dari perkataan suaminya, jujur saja dirinya ingin hidup dengan aman tanpa ada musuh ataupun hal – hal yang menyerupai musuh.
"Makanya, kalau jadi model bagaimana jika mereka menyuruhku untuk menjadi model dewasa dengan memamerkan tubuh?" Sehun bertanya dengan santai karena ingin melihat respon Luhan jika dirinya dijadikan sebagai model majalah dewasa
Mata Luhan membulat sempurna dan menggelengkan kepalanya dengan ribut "Tidak boleh, kau hanya milikku jadi hanya aku yang boleh melihat semua tubuhmu. Awas saja kau jika memamerkannya didepan orang lain akan kupastikan kau mati ditanganku sendiri, dan sudah berapa banyak orang melihat penismu Hah? Kalau kau ketahuan maka akan kupastikan penismu sudah kusunat sampai hilang"
Sehun tertawa mendengar nada kemarahan yang dilontarkan istrinya, niatnya hanya ingin menggoda tetapi Luhannya terlalu merespon ucapannya.
"Jangan tertawa, cepat jawab pertanyaanku sudah berapa banyak orang yang melihat penismu Sehun" Luhan kesal karena suaminya bukannya menjawab pertanyaannya malah tertawa keras, andai saja Sehun bukan suaminya sudah dia tendang dari
Mendengar nada kemarahan Luhan membuatnya terdiam dan langsung menjawab pertanyaan istrinya dengan menganggkat jarinya dengan menunjukkan jari telunjukknya yang menandakan baru satu orang saja yang sudah melihat penisnya dengan baik dan benar.
"Hah? Siapa dia, biar kuhajar" Luhan geram karena sudah ada orang yang melihat penis suaminya selain dirinya, dan hal itu membuatnya sangat marah dan jengkel dengan orang yang sudah berani melihat penis suaminya yang sudah menjadi benda kesayangannya ketika bercinta
"L... Luhan"
"Hah?" Luhan terkejut karena dirinya dikerjai oleh sang suami, dan dengan cepat Luhan menggerakkan kedua tangannya kepipi sang suami dan mencubitnya dengan cukup kuat karena hanya itu yang bisa dia jadikan sebagai korban kekesalannya. Jika dirinya meremas atau menendang selangkangan Sehun sama saja dia menyakiti benda kesayangannya
"AKH! AMPUN LU" Sehun tidak menyangka jika Luhan sangat sadis jika sudah marah, dan dirinya tidak bisa membanyangkan jika orang seperti Hyomin akan habis dihajar oleh istrinya, sedangkan dirinya yang sah sebagai suami saja disiksa seperti ini apalagi orang yang dibencinya
Dengan kesal Luhan menjauhkan tangannya dari pipi Sehun dan bersamaan dengan itu juga cubitannya terlepaskan. Dirinya merasa kasihan dengan sang suami, tetapi jika tidak diberi pelajaran maka suaminya akan sering mengerjainya seperti tadi.
"Sakit?" Luhan bertanya dengan nada dingin dan tidak ada niatnya sedikit pun untuk mengelus pipi suaminya agar sakitnya berkurang
"Hm, tentu saja" Sehun menjawab sambil mengelus pipinya yang dicubit tanpa perasaan oleh istrinya, walaupun Luhan sangat cantik tetapi tenaganya jangan diremehkan karena itu akan menyiksa diri sendiri jika sampai berurusan dengan Luhan sang primadona yang kejam
"Untung suami, kalau Ahjussi mesum maka siap – siap selangkanganmu kutendang tanpa ampun"
Luhan memberikan smirknya agar Sehun takut dan tidak menggodanya seperti tadi, jika memang sedang bercanda maka boleh bercanda tapi tadi dirinya sedang serius, marah dan berapi – api justru dikerjai.
"Hah? Kau tidak mungkin menyiksa suamimu kan Lu?" Sehun merasa sangat sulit menelan ludahnya mendengar istrinya akan menendang selangkangannya jika dirinya bukan seorang suami dari Xi Luhan yang kini sudah sah menjadi Oh Luhan atau kerap disapa Nyonya Oh
"Tergantung" Luhan menjawab santai dan bangkit dari duduknya dipangkuan sang suami, karena mereka sebentar lagi akan mulai bekerja dan ini pertama kali untuknya bekerja
"Tergantung apa?" Sehun berkeringat dingin dan merasa air conditioner diruangannya tidak menyala dengan suhu yang menyejukkan
"Tergantung hatiku ingin menyiksamu atau tidak" Luhan puas melihat wajah ketakutan suaminya, dan terkadang dia merasa suaminya unik punya wajah datar seperti tembok bisa juga memiliki ketakutan terhadapnya
"Hei, itu tidak lucu Lu aku suamimu" Sehun berbicara ambigu sementara Luhan mendekatkan wajahnya dengan wajah sang suami untuk saling beradu pandang, dan dari jarak sedekat itu dirinya bisa melihat dengan jelas kalau suaminya sangat ketakutan padanya
"Salah sendiri mengerjai istrinya yang sedang marah besar"
"Baiklah, aku tidak akan mengulanginya lagi" Sehun paham dan merasa lega karena jika sampai asetnya kena tendang oleh istrinya sendiri, maka masa depan mereka entah bagaimana
"Ayo antarkan aku keluar sekalian kenalakan aku pada orang yang akan mengajariku Sehun" Luhan merasa antusias untuk bekerja dan semoga hari pertamanya berjalan dengan lancar tanpa masalah
"Iya – Iya" Sehun beranjak dari duduknya dan keluar bersama Luhan menuju ruangan Jin yang dimana seketarisnya sudah bekerja diluar ruangan Hyungnya
"Maiyan" Sehun memanggil sang seketaris yang masih sibuk dengan kerjaannya, walaupun Maiyan cantik tapi dirinya tidak pernah melakukan hal tidak – tidak seperti yang dilakukan seketaris laknatnya Hyomin
"Sajangnim... Annyeong haseyo" Maiyan membungkuk hormat dan merasa terkejut karena adik atasannya yang langsung menemuinya, dirinya sudah tahu dari semalam bahwa dirinya mulai hari ini akan mengajari orang baru untuk Sehun Sajangnim namun yang tidak diduganya adalah bahwa Sehun Sajangnim yang langsung menemuinya untuk hal itu
"Hm, ini orang baru untuk seketarisku. Tolong ajari dia, dan nanti pukul sepuluh aku ada rapat dan Luhan harus menghadirinya bersamaku"
"Baik sajangnim"
Sehun menatap Luhan dan menganggukan kepala tanda bahwa Maiyan siap akan mengajarinya.
"Hm, terima kasih Sajangnim" Luhan membungkuk hormat karena bagaimana pun Sehun adalah atasannya walaupun nyatanya dirinya adalah istri dari seorang sajangnim
Setelah kepergian Sehun, Luhan mendekati Maiyan untuk berkenalan karena jika tidak saling berkenalan maka rasanya janggal saja.
"Annyeong haseyo Luhan imnida, mohon bantuannya" Luhan memulainya karena dirinya adalah anak baru dan kebiasaan anak baru harus hormat pada yang lebih pengalaman darinya
"Annyeong haseyo, Maiyan imnida" Maiyan membungkuk hormat karena yang ada didepannya ini adalah istri dari Sehun sajangnim
"Bisakah kau mengajariku Maiyan?" Luhan bertanya karena dilihatnya bahwa tugas Maiyan cukup banyak dari kesibukannya dan kecepatannya dalam bekerja
"Bentar ya Nyonya Oh, saya selesaikan ini kemudian baru mengajari anda" Maiyan mengatakannya dengan sopan karena dalam mottonya adalah jadilah yang terbaik agar semua orang tidak akan merendahkanmu
"Saya tahu kamu ingin menujukkan rasa hormatmu, tapi jangan memanggil Luhan ketika jam kerja karena jabatan kita sama – sama bekerja disini" Luhan merasa janggal dipanggil Nonya padahal dirinya bekerja disini sebagai seketaris
"Ta.. Tapi" Maiyan bingung bagaimana dirinya harus memanggil Luhan, karena menurutnya sangat tidak sopan memanggil istri direkturnya dengan sebutan nama tanpa embel – embel
"Sudah patuhi saja Maiyan, aku tidak suka dipanggil seperti itu. Apa Sehun sajangnim kalian yang menyuruh untuk memanggilku seperti itu?" Luhan kesal dan jika iya Sehun yang menyuruhnya maka sampai dirumah tidak akan segan – segan menyiksa suami tampannya
"Bukan Lu" Maiyan menggelengkan kepalanya dengan cepat karena tidak ingin Sehun sajangnim berkelahi dengan istrinya karena dirinya apalagi hanya karena masalah kecil
"Bagus, panggil begitu saja" Luhan senang karena pada akhirnya Maiyan bisa memanggilnya dengan baik dan benar
Kemudian setelah perdebatan kecil tersebut, Maiyan mengajar Luhan hingga Luhan bisa menjadi seketaris sesuai dengan yang diajarkan oleh sahabat pertamanya diperusahaan tersebut.
"Lu, ayo kita harus rapat" Sehun memanggil Luhan secara langsung untuk mengajaknya rapat, karena istrinya yang mulai hari ini menjabat sebagai seketarisnya tidak tahu lokasi perusahaannya dengan baik dan hanya tahu ruangannya saja
"Baik sajangnim. Maiyan aku duluan dulu ya, Gomawo sudah mengajariku dengan baik" Luhan tidak menyangka jika belajar dengan Maiyan sudah memakan waktu satu jam padahal rasanya baru lima menit Maiyan mengajarkannya cara menjadi seketaris yang baik, mungkin cara Maiyan mengajarkan padanya seperti teman lama yang bergosip dengan temannya yang sudah lama tidak berjumpa
"Hm, sama – sama Lu. Fighting untuk hari pertamamu"
"Ne" Luhan berjalan dibelakang Sehun karena dirinya masih mengingat statusnya diperusahaan sebagai seketaris bukan sebagai istri dari Oh Sehun sang direktur
"Kenapa berjalan dibelakang, kau bisa berjalan disampingku Lu?" Sehun tidak suka karena berjalan dibelakangnya seperti pembantunya saja, mungkin bagi yang lain bukan masalah besar untuknya tapi ini adalah Luhan istrinya yang tercinta berjalan dibelakangnya
"Maaf lebih baik saya dibelakang saja sajangnim" Luhan ingin memukul suaminya tapi karena masih mengingat statusnya membuat niatnya jadi batal dan menjawab dengan baik
"Hah.." Sehun paham jika Luhannya tidak ingin dianggap sebagai Nyonya Oh ketika sedang bertugas menjadi seketarisnya, walaupun kesal tapi dirinya tidak bisa berbuat banyak
CLECK
"Direktur Oh, selamat pagi" seseorang yang berpakaian rapi menyambut kedatangan Sehun dengan riang dan berdiri untuk memberikan salam pada direktur mereka
"Hm, bisa kita mulai?" ucap Sehun setelah mereka bersalaman sebagai bentuk sopan santun dalam berbisnis
"Perkenalkan ini putriku, Wang Yi Ren. Apakah dia cantik direktur Oh?" sang lawan bisnis Sehun memperkenalkan putrinya sambil tertawa karena melihat reaksi Sehun yang seperti terpesona pada putrinya
"Hm, dia cantik tapi akan lebih cantik lagi jika memakai baju lebih sopan dan tertutup" Sehun beranjak kebangku kebesarannya jika adanya rapat sedangkan Luhan duduk disebelah kanan sang direktur. Dirinya tahu bagaimana Sehun ketika bekerja seperti barusan menyindir secara halus pada putri lawan bisnisnya
Sehun menjelaskan semua persentasi mengenai kerjasamanya dengan perusahaan Wang, semuanya fokus mendengarkan penjelasan Sehun kecuali Wang Yi Ren yang memasang pose menggoda ketika Sehun menatap kearah mereka.
"Apa kalian sudah paham?" Sehun bertanya setelah selesai menjelaskan semua bentuk kerja sama mereka
"Hm, kau sangat pintar direktur Oh" sang lawan bisnis Sehun masih saja memuji Sehun entah untuk maksud apa, karena dari nada bicaranya terdengar bahwa sebenarnya bukan untuk berbisnis tetapi lebih condong untuk memperkenalkan putrinya pada Sehun
"Anda terlalu memuji"
"Baik kami terima kerjasamanya, tapi apa kau tidak tertarik dengan putriku Tuan Oh? Dia yang akan membantuku untuk berbisnis denganmu"
"Maaf saya tidak tertarik dengan putri anda karena saya sudah memiliki seseorang yang special untuk saya. Dan jika kerja sama ini hanya untuk memperkenalkan putri anda pada saya dan hanya untuk mengelabui saya melalui putri anda, maka saya dengan tegas menolak kerja sama ini"
Sehun beranjak dari ruang rapat tersebut diikuti Luhan dengan lirikan mata Sehun yang mengajak seketarisnya untuk segera keluar dari ruangan tersebut. Sesampainya diruangan sang direktur, Luhan bingung kenapa suaminya jadi emosian.
"Sajangnim, anda baik – baik saja?" Luhan bertanya karena sedari tadi Sehun hanya diam dan memasang wajah kesalnya
"Hm" hanya gumaman saja yang diberikan oleh Sehun dan hal itu membuat Luhan semakin khawatir dengan suaminya
"Kau kenapa Hun? Jangan pendam sendiri masalahmu" Luhan tidak bisa untuk tidak peduli dan menghilangkan rasa hormatnya pada sanga atasan yang merupakan suaminya sendiri
"Aku hanya emosi Lu, setiap ada rapat denganku. Maka semuanya akan sama seperti yang kau lihat tadi dimana partner bisnisku selalu mempromosikan putrinya padaku seolah aku tertarik dengan mereka dan jika aku tertarik maka akan menjadi keuntungan besar untuk mereka merampas seluruh kekayaanku melalui putrinya"
Luhan duduk dipangkuan sang suami dan merasa kasihan dengan suaminya yang selalu mendapat masalah jika rapat, tapi bagaimana pun banyak orang jahat berwajah malaikat untuk mengambil keuntungan bagi mereka.
"Jangan dipikirkan, kau bisa gila Sehun. Mending kau pikirkan masa depan kita"
"Hah?"
"Ya, masa depan kita dengan anak – anak kita. Apa kau sudah memiliki nama yang tepat untuk anak kita?" Luhan bertanya antusias sekaligus untuk menghilangkan pikiran suaminya yang masih tertuju pada masalah rapat barusan
"Hm, kita cari bersama Lu" Sehun membuka ponselnya dan mulai mencari nama yang tepat dari internet dan sesuai dengan aturan – aturan dari Korea dalam memberikan nama pada anaknya. Luhan juga antusias membantu suaminya untuk mencari nama anak mereka dibandingkan melihat suaminya seperti orang yang putus asa dalam menjalani hidup
~TBC~
